[Fakta atau Hoaks] Benarkah Dua Pemuda Ini Ditangkap di Sukabumi Karena Robek Alquran dan Gunting Sajadah?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 05/10/2020
Berita
Foto dan video yang memperlihatkan penangkapan dua pemuda beredar di Facebook. Foto dan video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa kedua pemuda tersebut ditangkap Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat, karena tepergok merobek Alquran dan menggunting sajadah.
Dalam video yang beredar itu, setelah ditangkap, dua pemuda yang merupakan saudara kembar ini dihajar dan diikat oleh warga. Sebagian warga lain berusaha menghalangi aksi main hakim sendiri tersebut. Kedua pemuda itu pun kemudian diamankan oleh polisi.
Salah satu akun yang membagikan foto dan video tersebut adalah akun Key Karmia, yakni pada 1 Oktober 2020. Akun ini pun menulis narasi sebagai berikut:
“Malam ini, terjadi di Kampung Susukan Bojong Parungkuda, Sukabumi, Jabar. Mereka mencari Ustad, kemudian ditanya keperluannya,malah ngotot dan ngajak berantem. Dua anak muda tersebut, kemudian beraksi merobek² Al-Qur'an, Kitab dan menggunting sajadah. Dengan sigap santri disana bertindak, tak lama kemudian santri dan warga setempat datang, keduanya habis di hakimi warga setempat !! RAPAT KAN BARISAN,JAGA ULAMA !!”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Key Karmia.
Apa benar dua pemuda di video itu ditangkap oleh warga di Sukabumi karena telah merobek Alquran dan menggunting sajadah ?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto dua pemuda tersebut denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa dua pemuda tersebut ditangkap dan dihakimi oleh warga yang salah paham. Mereka bermaksud mencari ustaz untuk melakukan rukiah terhadap keluarganya. Dua pemuda ini pun tidak merobek Alquran maupun menggunting sajadah.
Salah satu media yang memuat foto dua pemuda itu adalah Radarsukabumi.com, yakni pada 1 Oktober 2020, dalam beritanya yang berjudul "Hoak, Dua Pemuda Sukabumi Dituduh Bunuh Ustaz, Ini Fakta Sebenarnya". Jawapos.com juga memuat foto dua pemuda tersebut pada 3 Oktober 2020 dalam beritanya yang berjudul "Hoax Perobekan Alquran di Sukabumi".
Menurut kedua berita itu, pemuda kembar bernama Yaman dan Yamin, 26 tahun, tersebut berniat untuk berobat ke salah satu tokoh agama di Kampung Susukan, Desa Bojongkokosan, Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat. Mereka diantar oleh Dudi Supriyadi, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat. Namun, ustaz yang dicari oleh kedua pemuda itu tidak berada di rumah.
Dudi lantas bertanya lebih detail soal maksud Yaman dan Yamin. Karena curiga dengan gelagat keduanya, Dudi membawa mereka keluar rumah. Apalagi, keduanya mendadak berkata-kata kasar. Salah satu dari mereka pun tiba-tiba berusaha kabur sehingga memancing kemarahan masyarakat sekitar. Ketua RW setempat kemudian menghubungi Polsek Parungkuda.
Menurut Dudi, dikutip dari Detik.com, setelah mengetahui bahwa ustaz yang kedua pria itu cari tidak berada di rumah, terjadi dialog antara mereka. Namun, kedua pria tersebut kemudian melontarkan kata-kata kasar. "Pemikiran saya berubah, ini tamu kok seperti ini bahasanya. Saya tanya, 'Dari mana?'. Dia jawab, 'Dari Warungceri'. Ketika saya tanya lagi, dia jawab, 'Cicing sia.' (diam kamu)," ujarnya.
Dudi pun mengajak kedua pria itu keluar dari rumah ustaz tersebut. Ternyata, di luar, sudah berkumpul para pemuda kampung. Saat ditanya oleh para pemuda itu, kedua pria tersebut kembali melontarkan kalimat yang sama dengan nada membentak. "Para pemuda tersulut emosinya, pelaku berjalan meninggalkan lokasi, diikuti. Si pelaku lari, terjadi kejar-kejaran sampai terjadi pemukulan," kata Dudi.
Dilansir dari Jawapos.com, Kapolres Sukabumi Ajun Komisaris Besar Lukman Syarif pun menyatakan bahwa informasi yang menyebut kedua pemuda itu melakukan penusukan atau merobek Alquran dan menggunting sajadah tidak benar. "Wah, hoax itu, enggak benar. Tidak ada penusukan atau perobekan Alquran. Keduanya tidak membawa senjata tajam," ujar Lukman.
Warga setempat pun telah mengklarifikasi bahwa tidak ada penusukan atau perusakan seperti isu yang beredar di media sosial. Menurut Lukman, kedua pemuda tersebut hanya ingin berobat kepada salah satu ustaz di sana. Namun, ustaz yang dicari tidak berada di tempat.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa dua pemuda dalam video di atas ditangkap oleh warga Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat, karena telah merobek Alquran dan menggunting sajadah, keliru. Keduanya mendatangi Kampung Susukan, Desa Bojongkokosan, Parungkuda, Sukabumi, untuk mencari ustaz yang bisa melakukan rukiah. Namun, terjadi kesalahpahaman sehingga dua pemuda itu dihakimi warga. Dua pemuda ini pun tidak terbukti merobek Alquran maupun menggunting sajadah. Keduanya tidak membawa senjata tajam.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/sukabumi
- https://archive.ph/flWaS
- https://www.tempo.co/tag/sajadah
- https://radarsukabumi.com/berita-utama/hoak-dua-pemuda-sukabumi-dituduh-bunuh-ustaz-ini-fakta-sebenarnya/ %20
- https:/www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/03/10/2020/hoax-perobekan-alquran-di-sukabumi/
- https://www.tempo.co/tag/jawa-barat
- https://news.detik.com/berita/d-5195022/kembar-di-sukabumi-dikeroyok-saat-cari-ustaz-gegara-bilang-cicing-sia
- https://www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/03/10/2020/hoax-perobekan-alquran-di-sukabumi/
- https://www.tempo.co/tag/alquran
[SALAH] “Tjiptaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 04/10/2020
Berita
Akun Siti Aisah Bawazier (fb.com/sitiaisah.bawazier) mengunggah sebuah gambar tangkapan layar artikel berita berjudul “Tjiptaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani” dengan narasi sebagai berikut:
“”Semua akan saling bongkar pada waktunya..”
“”Semua akan saling bongkar pada waktunya..”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya artikel berjudul “Tjiptaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani” adalah klaim yang salah.
Faktanya, judul artikel di gambar itu dipotong dari judul artikel asli yaitu “[CEK FAKTA] Ribka Tjibtaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani”. Artikel ini sebenarnya berisi hasil periksa fakta terkait Ribka Tjibtaning yang bersumber dari akun Instagram @turnbackhoaxid pada 16 Juni 2020.
Berikut isi artikel yang dimuat di situs swarakyat[dot]com pada 18 Juni 2020 tersebut:
“Belum lama ini beredar di media sosial Facebook sebuah unggahan foto salah satu anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuang, Ribka Tjiptaning. Foto tersebut diunggah oleh pemilik akun Facebook Dian Limaran dengan menyertakan sebuah narasi yang berbunyi sebagai berikut.
“Saya PKI. Jokowi tak berani Gebuk saya, karena ibunya ketum Gerwani PKI,” tulis akun Facebook Dian Limaran.
Unggahan foto beserta narasi sangat penjang yang ia bagikan dalam sebuah grup dengan nama ‘Anies Sandi Menuju RI-1’. Pada narasi postingan foto itu, disebutkan bahwa Jokowi dan silsilah keluarganya merupakan simpatisan dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mengutip keterangan unggahan dari laman Instagram Mafindo @turnbackhoaxid oleh Mantra Sukabumi, Ribka Tjiptaning tidak pernah menyatakan “Saya PKI” melainkan hanya menulis kalimat “Aku Bangga Jadi Anak PKI” pada judul bukunya di tahun 2002 silam.
Seperti kita ketahui, sejarah PKI sendiri telah berakhir setelah Gerakan 30 September 1965, yang kemudian disusul dengan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI. Dalam Ketetapan MPRS Nomr 25 Tahun 1966 pun sudah jelas tercantum bahwa PKI telah dibubarkan. Sehingga, sejak saat itu, tidak ada lagi aktivitas PKI di Indonesia. Selain itu, jika melihat kelahiran Ribka yang lahir pada 1 Juli 1959, maka tepat pada tahun 1965, Ribka baru menginjak usia 6 tahun.
Adapun, asal-usul keluarga Jokowi pernah ditulis bersama oleh Wawan Mas’udi (dosen UGM) dan Ramdhon (dosen UNS) dalam buku “Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana” yang diluncurkan pada Desember 2018 bukan buku “jokowi undercover” yang dilarang pemerintah ya. Dalam buku tersebut diketahui bahwa kakek Jokowi dari jalur ayah, Lamidi Wiryomiharjo, merupakan Kepala Desa di Desa Krajan, Karanganyar, yang menjabat sejak 1950 hingga 1980-an. Pada masa orde baru, jika ada orang yang memiliki sangkut paut dengan PKI tidak mungkin terpilih menjadi Kepala Desa.
Kemudian ibunya Sudjiatmi lahir pada 15 Februari 1943 di Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Sudjiatmi menikah dengan Widjiatno Notomihardjo pada 1959. Pasangan ini lalu pindah dari Boyolali ke Srambatan, Solo bagian utara. Pada 21 Juni 1961, lahir anak pertama mereka, Joko Widodo.
Dengan demikian, klaim Ribka Tjiptaning yang mengatakan “Saya PKI. Jokowi tak berani Gebuk saya, karena ibunya ketum Gerwani PKI” adalah Misleading Conten.”
Faktanya, judul artikel di gambar itu dipotong dari judul artikel asli yaitu “[CEK FAKTA] Ribka Tjibtaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani”. Artikel ini sebenarnya berisi hasil periksa fakta terkait Ribka Tjibtaning yang bersumber dari akun Instagram @turnbackhoaxid pada 16 Juni 2020.
Berikut isi artikel yang dimuat di situs swarakyat[dot]com pada 18 Juni 2020 tersebut:
“Belum lama ini beredar di media sosial Facebook sebuah unggahan foto salah satu anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuang, Ribka Tjiptaning. Foto tersebut diunggah oleh pemilik akun Facebook Dian Limaran dengan menyertakan sebuah narasi yang berbunyi sebagai berikut.
“Saya PKI. Jokowi tak berani Gebuk saya, karena ibunya ketum Gerwani PKI,” tulis akun Facebook Dian Limaran.
Unggahan foto beserta narasi sangat penjang yang ia bagikan dalam sebuah grup dengan nama ‘Anies Sandi Menuju RI-1’. Pada narasi postingan foto itu, disebutkan bahwa Jokowi dan silsilah keluarganya merupakan simpatisan dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mengutip keterangan unggahan dari laman Instagram Mafindo @turnbackhoaxid oleh Mantra Sukabumi, Ribka Tjiptaning tidak pernah menyatakan “Saya PKI” melainkan hanya menulis kalimat “Aku Bangga Jadi Anak PKI” pada judul bukunya di tahun 2002 silam.
Seperti kita ketahui, sejarah PKI sendiri telah berakhir setelah Gerakan 30 September 1965, yang kemudian disusul dengan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI. Dalam Ketetapan MPRS Nomr 25 Tahun 1966 pun sudah jelas tercantum bahwa PKI telah dibubarkan. Sehingga, sejak saat itu, tidak ada lagi aktivitas PKI di Indonesia. Selain itu, jika melihat kelahiran Ribka yang lahir pada 1 Juli 1959, maka tepat pada tahun 1965, Ribka baru menginjak usia 6 tahun.
Adapun, asal-usul keluarga Jokowi pernah ditulis bersama oleh Wawan Mas’udi (dosen UGM) dan Ramdhon (dosen UNS) dalam buku “Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana” yang diluncurkan pada Desember 2018 bukan buku “jokowi undercover” yang dilarang pemerintah ya. Dalam buku tersebut diketahui bahwa kakek Jokowi dari jalur ayah, Lamidi Wiryomiharjo, merupakan Kepala Desa di Desa Krajan, Karanganyar, yang menjabat sejak 1950 hingga 1980-an. Pada masa orde baru, jika ada orang yang memiliki sangkut paut dengan PKI tidak mungkin terpilih menjadi Kepala Desa.
Kemudian ibunya Sudjiatmi lahir pada 15 Februari 1943 di Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Sudjiatmi menikah dengan Widjiatno Notomihardjo pada 1959. Pasangan ini lalu pindah dari Boyolali ke Srambatan, Solo bagian utara. Pada 21 Juni 1961, lahir anak pertama mereka, Joko Widodo.
Dengan demikian, klaim Ribka Tjiptaning yang mengatakan “Saya PKI. Jokowi tak berani Gebuk saya, karena ibunya ketum Gerwani PKI” adalah Misleading Conten.”
Kesimpulan
Judul artikel di gambar itu dipotong dari judul artikel asli yaitu “[CEK FAKTA] Ribka Tjibtaning: Jokowi Tak Berani Gebuk Saya Karena Ibunya Ketum Gerwani”. Artikel ini sebenarnya berisi hasil periksa fakta terkait Ribka Tjibtaning yang bersumber dari akun Instagram @turnbackhoaxid pada 16 Juni 2020.
Rujukan
[SALAH] “Positif Corona, Kondisi Donald Trump Kritis dalam 24 Jam Terakhir. Kok sama kayak di film The Simpson”
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 04/10/2020
Berita
Akun Soraya Al Fatih (fb.com/eva.juhayati.33) mengunggah sebuah gambar tangkapan artikel berjudul “Kelelahan, Trump Diinfus dengan ‘Antibodi Poliklonal’ untuk Melawan Covid-19” dengan narasi sebagai berikut:
“Positif Corona, Kondisi Donald Trump Kritis dalam 24 Jam Terakhir. Kok sama kayak di film The Simpson?”
“Positif Corona, Kondisi Donald Trump Kritis dalam 24 Jam Terakhir. Kok sama kayak di film The Simpson?”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, gambar kartun karakter Donald Trump yang tengah terbaring di peti mati yang diklaim berasal dari film kartun The Simpsons adalah klaim yang keliru.
Faktanya, gambar kartun karakter Donald Trump yang tengah terbaring di peti mati itu bukan berasal dari film kartun The Simpsons. Gambar itu pertama kali muncul di utas di situs kontroversial 4chan. Penciptanya tidak diketahui.
Dilansir dari Liputan6, meski terbukti palsu, sejak tahun 2017 banyak pengguna media online yang tampaknya masih ingin mempercayai teori konspirasi tersebut.
Berdasarkan artikel berjudul “Fact Check: ‘The Simpsons’ Never Killed off Donald Trump” yang dimuat di situs distractify.com, disebutkan bahwa The Simpsons tidak memprediksi kematian Trump.
Gambar yang diedarkan itu palsu. Meskipun watermark bertuliskan nama The Huffington Post, gambar Trump di peti mati tidak berasal dari pengumpul berita.
Menurut video dari saluran YouTube Meksiko populer “Badabun,” gambar yang tampak asli pertama kali muncul di utas di situs kontroversial 4chan. Penciptanya tidak diketahui.
Faktanya, gambar kartun karakter Donald Trump yang tengah terbaring di peti mati itu bukan berasal dari film kartun The Simpsons. Gambar itu pertama kali muncul di utas di situs kontroversial 4chan. Penciptanya tidak diketahui.
Dilansir dari Liputan6, meski terbukti palsu, sejak tahun 2017 banyak pengguna media online yang tampaknya masih ingin mempercayai teori konspirasi tersebut.
Berdasarkan artikel berjudul “Fact Check: ‘The Simpsons’ Never Killed off Donald Trump” yang dimuat di situs distractify.com, disebutkan bahwa The Simpsons tidak memprediksi kematian Trump.
Gambar yang diedarkan itu palsu. Meskipun watermark bertuliskan nama The Huffington Post, gambar Trump di peti mati tidak berasal dari pengumpul berita.
Menurut video dari saluran YouTube Meksiko populer “Badabun,” gambar yang tampak asli pertama kali muncul di utas di situs kontroversial 4chan. Penciptanya tidak diketahui.
Kesimpulan
Gambar kartun karakter Donald Trump yang tengah terbaring di peti mati itu bukan berasal dari film kartun The Simpsons. Gambar itu pertama kali muncul di utas di situs kontroversial 4chan. Penciptanya tidak diketahui.
Rujukan
- httpREFERENSI
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4341864/cek-fakta-tidak-benar-kartun-the-simpsons-ramal-kematian-donald-trump-pada-27-agustus-2020?source=search
- https://www.snopes.com/fact-check/simpsons-predict-trumps-death/
- https://www.distractify.com/p/when-does-trump-die-in-the-simpsons
- https://metro.co.uk/2020/08/27/simpsons-has-not-predicted-donald-trumps-death-despite-viral-twitter-claims-13189201/
- https://www.youtube.com/watch?v=rzX31JCPGuI&feature=emb_title
[SALAH] Presiden Jokowi Larang Sweeping Atribut PKI
Sumber: facebook.comTanggal publish: 04/10/2020
Berita
“Pantesan PKI makin subur subur subur”
NARASI DALAM GAMBAR:
“Telepon Kapolri & Panglima TNI, Jokowi Minta Tak Ada Sweeping PKI”
NARASI DALAM GAMBAR:
“Telepon Kapolri & Panglima TNI, Jokowi Minta Tak Ada Sweeping PKI”
Hasil Cek Fakta
Pengguna Facebook Syechbuddien mengunggah foto dalam laman Facebook Majalengka Discussion (1/10) yang menunjukkan judul berita bahwa Presiden Jokowi melarang aparat kepolisian maupun TNI untuk melakukan sweeping atribut PKI.
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi ini telah beredar sejak tahun 2016 dan telah diklarifikasi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, bahwa sebenarnya Presiden Jokowi hanya melarang aksi berlebihan saat sweeping atribut PKI, serta meminta aparat untuk tetap memperhatikan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat saat melakukan sweeping.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs Tempo dengan judul “[Fakta atau Hoax] Benarkah Presiden Jokowi Melarang Sweeping Atribut PKI?” dan mengkategorikannya sebagai sesat.
Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh pengguna Facebook Syechbuddien dalam laman Facebook Majalengka Discussion dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi ini telah beredar sejak tahun 2016 dan telah diklarifikasi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, bahwa sebenarnya Presiden Jokowi hanya melarang aksi berlebihan saat sweeping atribut PKI, serta meminta aparat untuk tetap memperhatikan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat saat melakukan sweeping.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs Tempo dengan judul “[Fakta atau Hoax] Benarkah Presiden Jokowi Melarang Sweeping Atribut PKI?” dan mengkategorikannya sebagai sesat.
Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh pengguna Facebook Syechbuddien dalam laman Facebook Majalengka Discussion dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Informasi yang salah. Faktanya, Presiden Jokowi hanya melarang aksi berlebihan saat sweeping atribut PKI, serta meminta aparat untuk tetap memperhatikan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat saat melakukan sweeping.
Informasi yang salah. Faktanya, Presiden Jokowi hanya melarang aksi berlebihan saat sweeping atribut PKI, serta meminta aparat untuk tetap memperhatikan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat saat melakukan sweeping.
Rujukan
Halaman: 7165/8530



