Kami dari Direktorat Jendral Pajak (DJP) Kabupaten Pati menghimbau untuk segera melakukan pembayaran melalui Virtual Account Transfer agar menghindari denda telat bayar.
Dimohon segera Transfer sebelum jam 12.00 WIB
Apabila anda menggunakan:
Rekening BNI
No. Virtual Account : 9880080099874982
Atasnama : LENTE RIBOK
Rekening Madiri
No. Virtual Account : 13191219625
Atasnama : JEMIMAH SIGIRO
Dimohon untuk transfer sebelum jam 12.00 WIB. Terimakasih.
Hormat kami,
Direktorat Jenderal Pajak
[SALAH] Imbauan DJP Pati Perihal Pembayaran Pajak Virtual ke Rekening Pribadi
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 28/09/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah imbauan melalui pesan berantai Whatsapp oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kabupaten Pati perihal pembayaran pajak melalui virtual account atau nomor identifikasi pelanggan. Menurut narasi yang beredar, untuk masyarakat yang ingin melakukan pembayaran pajak bisa mentransfer uang ke nomor rekening yang sudah dicantumkan.
Menanggapi pesan tersebut, pihak DJP kabupaten Pati pun langsung angkat bicara. Melansir dari media sosial Instagram @pajakpati, dinyatakan bahwa pihak DJP kabupaten Pati tidak pernah mengeluarkan imbauan seperti yang tengah beredar.
Berikut klarifikasi lengkap oleh DJP kabupaten Pati:
Waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pajak.
Pembayaran pajak langsung masuk ke kas negara melalui ATM, internet banking, mesin EDC, mobile banking atau loket Bank/Pos persepsi, bukan melalui rekening personal.
Jika #KawanPajak mendapat pesan seperti ini silahkan menghubungi kring pajak di 1500200 atau KPP #KawanPajak terdaftar.
#PajakKitaUntukKita
===
Menanggapi pesan tersebut, pihak DJP kabupaten Pati pun langsung angkat bicara. Melansir dari media sosial Instagram @pajakpati, dinyatakan bahwa pihak DJP kabupaten Pati tidak pernah mengeluarkan imbauan seperti yang tengah beredar.
Berikut klarifikasi lengkap oleh DJP kabupaten Pati:
Waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pajak.
Pembayaran pajak langsung masuk ke kas negara melalui ATM, internet banking, mesin EDC, mobile banking atau loket Bank/Pos persepsi, bukan melalui rekening personal.
Jika #KawanPajak mendapat pesan seperti ini silahkan menghubungi kring pajak di 1500200 atau KPP #KawanPajak terdaftar.
#PajakKitaUntukKita
===
Kesimpulan
Informasi palsu. Direktorat Jendral Pajak (DJP) kabupaten Pati menegaskan pesan tersebut adalah hoaks. Masyarakat pun diimbau waspada, terhadap segala bentuk pesan yang mengatasnamakan DJP kabupaten Pati.
Rujukan
[SALAH] “Pembuatan group WhatsApp ‘INFO WILAYAH PENULARAN COVID-19’ dan pembagian VAKSIN”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 28/09/2020
Berita
Sebuah pesan berisi ajakan undangan masuk grup Whatsapp untuk mendapatkan informasi terkait wilayah pemularan Covid-19 dan pembagian vaksin Covid-19 beredar di aplikasi berbagi pesan Whatsapp.
Adapun narasi lengkap pesan yang beredar tersebut adalah sebagai berikut:
“Ini mau buat group Whatsapp “INFO WILAYAH PENULARAN COVID-19” dan pembagian VAKSIN bagi yg terjangkit COVID kami akan berikan obat nya. Kode verifikasi akan dikirim ke nomor WhatsApp calon anggota demi keamanan group. Nanti ada SMS masuk di nomor nya yang berisi kode verifikasi keamanan langsung infokan kodenya kesini”
Adapun narasi lengkap pesan yang beredar tersebut adalah sebagai berikut:
“Ini mau buat group Whatsapp “INFO WILAYAH PENULARAN COVID-19” dan pembagian VAKSIN bagi yg terjangkit COVID kami akan berikan obat nya. Kode verifikasi akan dikirim ke nomor WhatsApp calon anggota demi keamanan group. Nanti ada SMS masuk di nomor nya yang berisi kode verifikasi keamanan langsung infokan kodenya kesini”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya ajakan undangan masuk grup Whatsapp untuk mendapatkan informasi terkait wilayah pemularan Covid-19 dan pembagian vaksin Covid-19 melalui aplikasi berbagi pesan Whatsapp adalah klaim yang salah.
Faktanya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pesan tersebut hoaks alias tidak benar. Menurut Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, pesan tersebut terindikasi pada aktivitas penipuan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui akun Twitter menanggapi informasi yang beredar tersebut. BNPB menyatakan informasi tersebut bukan dari BNPB dan mengimbau agar masyarakat waspada.
“Halo, terima kasih atas laporannya dan mimin informasikan bahwa informasi tersebut bukan dari BNPB. Mohon tetap waspada terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ikuti & pantau informasi resmi hanya melalui media sosial dan laman resmi K/L terkait, Terima kasih.” tulis akun @BNPB_Indonesia pada Senin, (21/9/2020)
Sementara itu, Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (24/9/2020), juga menyatakan informasi itu tidak benar. Menurut Agus, pesan tersebut terindikasi pada aktivitas penipuan.
“Tidak ada (informasi semcam itu dari pemerintah. Masukin member ke WA grup setahu saya tidak perlusecurity code. Biasanya yang minta security code itu kemungkinan penipuan. WA kita bisa dibajak,” ujar Agus.
Senada dengan Agus, Direktur Jenderal P2P Kemenkes Achmad Yurianto juga mengimbau agar masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah.
“Ikuti berita resmi pemerintah,” kata Yuri, saat dihubungi Kompas.com secara terpisah, Selasa (22/9/2020)
Faktanya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pesan tersebut hoaks alias tidak benar. Menurut Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, pesan tersebut terindikasi pada aktivitas penipuan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui akun Twitter menanggapi informasi yang beredar tersebut. BNPB menyatakan informasi tersebut bukan dari BNPB dan mengimbau agar masyarakat waspada.
“Halo, terima kasih atas laporannya dan mimin informasikan bahwa informasi tersebut bukan dari BNPB. Mohon tetap waspada terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ikuti & pantau informasi resmi hanya melalui media sosial dan laman resmi K/L terkait, Terima kasih.” tulis akun @BNPB_Indonesia pada Senin, (21/9/2020)
Sementara itu, Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (24/9/2020), juga menyatakan informasi itu tidak benar. Menurut Agus, pesan tersebut terindikasi pada aktivitas penipuan.
“Tidak ada (informasi semcam itu dari pemerintah. Masukin member ke WA grup setahu saya tidak perlusecurity code. Biasanya yang minta security code itu kemungkinan penipuan. WA kita bisa dibajak,” ujar Agus.
Senada dengan Agus, Direktur Jenderal P2P Kemenkes Achmad Yurianto juga mengimbau agar masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah.
“Ikuti berita resmi pemerintah,” kata Yuri, saat dihubungi Kompas.com secara terpisah, Selasa (22/9/2020)
Kesimpulan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pesan tersebut hoaks alias tidak benar. Menurut Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, pesan tersebut terindikasi pada aktivitas penipuan.
Rujukan
[SALAH] Dua Orang Pria Meninggal Dunia Akibat Kekerasan Polisi Saat Aksi Protes Anti-Vaksin dan Anti-Masker di London
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/09/2020
Berita
“Reports of two deaths at Saturday anti-fascism rally, unconfirmed. 2 men were beaten unconscious by the fascist police.”
Dapat diartikan menjadi:
“Laporan soal dua kasus korban meninggal dunia saat aksi protes anti-fasisme hari Sabtu yang lalu, belum dikonfirmasi. 2 orang pria dipukuli hingga tidak sadarkan diri oleh polisi fasis.”
Dapat diartikan menjadi:
“Laporan soal dua kasus korban meninggal dunia saat aksi protes anti-fasisme hari Sabtu yang lalu, belum dikonfirmasi. 2 orang pria dipukuli hingga tidak sadarkan diri oleh polisi fasis.”
Hasil Cek Fakta
Pengguna Facebook Vanessa Beeley mengunggah sebuah video dan dua buah foto (20/9) disertai dengan caption yang menyatakan bahwa ada dua kasus korban meninggal dunia dalam aksi protes anti-vaksin dan anti-masker yang berlangsung di Trafalgar Square, London, 19 September 2020 waktu setempat. Pada kedua foto yang diunggah, terlihat beberapa orang polisi tengah mengerubungi seorang pria dengan pakaian berwarna biru yang tengah ditangkap dan tengkurap di jalan.
Berdasarkan hasil penelusuran, kedua foto yang diunggah oleh Vanessa Beeley merupakan foto dari satu orang yang sama, namun diambil dari sudut yang berbeda. Selain itu, terdapat video yang berasal dari sumber lain yang menunjukkan bahwa pria yang ditangkap sempat terlibat adu mulut dengan beberapa orang polisi sebelum akhirnya ditangkap.
Dalam video tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada pukulan yang dilayangkan oleh polisi kepada pria tersebut. Pihak Kepolisian London melalui akun Twitter resmi dan situs web resminya juga menyatakan bahwa tidak ada kasus korban meninggal dunia yang terjadi dalam aksi protes tersebut.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul “Fact check: Two Men Were Not Beaten to Death by Police at a London Anti-Vaccine and Coronavirus Protest” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, foto yang disebarluaskan oleh pengguna Facebook Vanessa Beeley tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah/False Content, karena menurut laporan resmi dari Kepolisian London, tidak ada kasus korban meninggal dunia yang terjadi dalam aksi protes anti-vaksi dan anti-masker di Trafalgar Square, London.
Berdasarkan hasil penelusuran, kedua foto yang diunggah oleh Vanessa Beeley merupakan foto dari satu orang yang sama, namun diambil dari sudut yang berbeda. Selain itu, terdapat video yang berasal dari sumber lain yang menunjukkan bahwa pria yang ditangkap sempat terlibat adu mulut dengan beberapa orang polisi sebelum akhirnya ditangkap.
Dalam video tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada pukulan yang dilayangkan oleh polisi kepada pria tersebut. Pihak Kepolisian London melalui akun Twitter resmi dan situs web resminya juga menyatakan bahwa tidak ada kasus korban meninggal dunia yang terjadi dalam aksi protes tersebut.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul “Fact check: Two Men Were Not Beaten to Death by Police at a London Anti-Vaccine and Coronavirus Protest” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, foto yang disebarluaskan oleh pengguna Facebook Vanessa Beeley tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah/False Content, karena menurut laporan resmi dari Kepolisian London, tidak ada kasus korban meninggal dunia yang terjadi dalam aksi protes anti-vaksi dan anti-masker di Trafalgar Square, London.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Informasi yang salah. Faktanya, tidak ada korban meninggal dari aksi protes yang terjadi. Dua foto yang menunjukkan dua pria ditangkap oleh polisi merupakan foto dari satu orang yang sama, namun diambil dari sudut yang berbeda.
Informasi yang salah. Faktanya, tidak ada korban meninggal dari aksi protes yang terjadi. Dua foto yang menunjukkan dua pria ditangkap oleh polisi merupakan foto dari satu orang yang sama, namun diambil dari sudut yang berbeda.
Rujukan
- https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-protest/fact-check-two-men-were-not-beaten-to-death-by-police-at-a-london-anti-vaccine-and-coronavirus-protest-idUSKCN26G15B
- https://www.facebook.com/radoslawkaliszuk/videos/1772828922872202
- https://twitter.com/MetPoliceEvents/status/1307638595868594176
- http://news.met.police.uk/news/statement-protest-in-trafalgar-square-410977
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Aa Gym Sebut Perjuangan Rakyat Tahan Diri di Rumah Dikhianati Rezim?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 28/09/2020
Berita
Sebuah tulisan panjang yang berjudul “Perjuangan Kita Nahan Diri Di Rumah pun Dikhianati oleh Rezim” beredar di Facebook. Tulisan ini diklaim ditulis oleh pendakwah Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Tulisan itu menyebar pasca peristiwa penusukan Syekh Ali Jaber. Menurut polisi, orang tua mengatakan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa.
Dalam tulisan itu, disebut bahwa pernyataan dan kebijakan pemerintah selama 10 tahun terakhir selalu menyayat hati umat Islam. Menurut tulisan itu, agama Islam, Al-quran, hingga nabi dihina, tapi pelaku tidak juga dihukum. "Malah sering kali membuat pernyataan palsu, bahwa si penghina tersebut orang yang tidak waras."
Tulisan itu juga menyinggung soal penutupan masjid di tengah pandemi Covid-19. "Ibadah berjamaah selama bulan Ramadan hampir tidak pernah terisi di masjid-masjid. Setelah Ramadan sudah mau usai, mereka malah mengadakan konser besar-besaran. Ke mana hati dan perasaan mereka?" demikian narasi dalam tulisan itu.
Di Facebook, tulisan ini dibagikan salah satunya oleh akun Haris Sigutang, yakni pada 25 September 2020. Sebelum tulisan itu, akun tersebut membubuhkan narasi, "Tak menduga Aa Gym yang lembut pun akhirnya berteriak!"
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Haris Sigutang.
Apa benar tulisan panjang yang berjudul "Perjuangan Kita Nahan Diri di Rumah pun Dikhianati oleh Rezim" tersebut ditulis oleh Aa Gym?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, tulisan berjudul "Perjuangan Kita Nahan Diri di Rumah pun Dikhianati oleh Rezim" yang diklaim sebagai tulisan Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym tersebut telah beredar sejak Mei 2020. Namun, Aa Gym telah memastikan bahwa tulisan itu bukanlah tulisannya.
Klarifikasi itu disampaikan Aa Gym melalui akun Instagram miliknya, @aagym, pada 25 Mei 2020. Dalam unggahannya, AA Gym membagikan gambar tangkapan layar pesan WhatsApp yang berisi tulisan panjang tersebut yang telah diberi stempel "Hoax" berwarna merah.
Aa Gym pun menuliskan keterangan, “KLARIFIKASI - PESAN WHATSAPP KH. ABDULLAH GYMNASTIAR YANG TERSEBAR. Sahabat sekalian, pesan yang tersebar di atas ini bukan tulisan atau materi tausiah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram AA Gym.
Ketika tulisan ini kembali beredar pada September 2020, Aa Gym kembali memberikan klarifikasi di akun Instagram dan Twitter miliknya dengan isi yang sama, yakni bahwa tulisan tersebut bukanlah tulisannya atau materi tausiah yang pernah ia sampaikan.
Pernyataan tentang pengkhianatan terhadap perjuangan bersama melawan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, memang pernah diutarakan Aa Gym pada 20 Mei 2020. Namun, Aa Gym tidak menyebut pengkhianatan itu dilakukan oleh rezim seperti yang tertulis dalam tulisan yang beredar.
Dilansir dari Detik.com, Aa Gym, prihatin dengan masyarakat yang masih memenuhi bandara maupun pusat perbelanjaan menjelang Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Aa Gym menyebut mereka seolah mengkhianati perjuangan bersama melawan virus Corona.
"Bagi kita yang sudah hampir tiga bulan berada di rumah, melihat kerumunan di airport (bandara), di pasar-pasar, dan di jalan-jalan, seakan-akan perjuangan dan pengorbanan kita terkhianati oleh mereka," kata Aa Gym.
Terutama, kata Aa Gym, bagi para dokter dan perawat yang mempertaruhkan nyawa, aparat yang siang-malam menjaga, lembaga pendidikan yang tutup, dan masjid maupun tempat ibadah yang menjadi sepi. Ia pun berpesan agar masyarakat lainnya tidak menirunya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa tulisan panjang yang berjudul "Perjuangan Kita Nahan Diri di Rumah pun Dikhianati oleh Rezim" ditulis oleh Aa Gym, keliru. Aa Gym telah menyatakan bahwa tulisan itu bukanlah tulisannya atau materi tausiah yang pernah ia sampaikan.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/syekh-ali-jaber
- https://archive.ph/sy0q0
- https://www.tempo.co/tag/abdullah-gymnastiar
- https://www.instagram.com/p/CAmxT3YJrKH/
- https://bit.ly/30duhkS
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5022183/soal-kerumunan-di-bandara-dan-pasar-aa-gym-perjuangan-kita-terkhianati
- https://www.tempo.co/tag/aa-gym
Halaman: 7181/8530




