Apakah berita himbauan dari mantan Menkes ibu Nila Moeloek benar?
Tips kesehatan menghadapi covid-19 dari mantan menteri kesehatan moeloek
Ini ada Artikel dari ibu Nila Muluk ( mantan menkes) copas dr group sebelah ....
Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat. Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari,.paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. Insyaa Allah bermanfaat 🙏
Jangan lupa habis pegang uang cuci tangan, karna banyak yang tertular itu sebenernya bukan dari interaksi, melainkan dari uang. Di italia 70% orang2 tertular dari uang, padahal mereka sudah safety pakai masker dll, tapi mereka gak pada sadar ternyata mereka tertular dari uang. Virus corona itu kan nyebar bukan terbang melalui udara, tapi nempel di barang, ya salah satu yang paling ringkih ya uang, uang kan kotor dari tangan siapa aja. Jadi rajin2 lah cuci tangan pakai sabun, dan selalu bawa hand sanitizer dimana pun. Ingatkan juga pembantu rumah tangga kita.
Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan dilindungi dimanapun kita berada, Amin 🙏🏻🙏🏻
Cek Fakta: Pesan Mencegah Covid-19 Diklaim dari Eks Menkes Nila F Moeloek, Ini Faktanya
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Cek fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran eks Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengirim pesan berisi pencegahan virus corona. Penelusuran dilakukan dengan menghubungi Nila F Moeloek.
Kepada Liputan6.com, Nila memastikan bahwa pesan tersebut bukan berasal dari dirinya.
"Itu Hoax," ungkap Nila kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2020).
Penelusuran kemudian dilakukan dengan menggunakan situs pencari google dengan memasukkan kata kunci "Nila F Moeloek corona". Hasilnya terdapat artikel berjudul "Nila Moeloek Bantah Pernah Buat Pesan Jemur Uang Cegah Corona" yang ditayangkan situs tempo.co pada Selasa (17/3/2020).
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, membantah telah menuliskan sebuah pesan cara memutus mata rantai penularan virus Corona atau Covid-19 dengan menjemur uang.
Pesan yang beredar di media sosial itu berbunyi:
"Ini ada usulan dari ibu Nila Muluk...Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat.
Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari, paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. In Syaa Allah bermanfaat ."
Saat dikonfirmasi, Nila mengatakan tidak pernah menuliskan pesan seperti yang beredar. "Hoaks. Terima kasih. Saya enggak buat itu," kata Nila kepada Tempo, Senin, 16 Maret 2020.
Kabar hoaks terkait Covid-19 belakangan marak di sejumlah platform media sosial. Pada Senin, 9 Maret 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengumumkan terdapat 177 hoaks hingga Minggu, 8 Maret 2020.
Dari 177 kasus yang ditemukan pada Ahad, 8 Maret 2020, lima di antaranya tengah dibawa ke ranah hukum. Kelima kasus tersebut yakni dua kasus tengah ditangani oleh Polda Kalimantan Timur, dua kasus lainnya di Kalimantan Barat, dan satu di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kepada Liputan6.com, Nila memastikan bahwa pesan tersebut bukan berasal dari dirinya.
"Itu Hoax," ungkap Nila kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2020).
Penelusuran kemudian dilakukan dengan menggunakan situs pencari google dengan memasukkan kata kunci "Nila F Moeloek corona". Hasilnya terdapat artikel berjudul "Nila Moeloek Bantah Pernah Buat Pesan Jemur Uang Cegah Corona" yang ditayangkan situs tempo.co pada Selasa (17/3/2020).
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, membantah telah menuliskan sebuah pesan cara memutus mata rantai penularan virus Corona atau Covid-19 dengan menjemur uang.
Pesan yang beredar di media sosial itu berbunyi:
"Ini ada usulan dari ibu Nila Muluk...Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat.
Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari, paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. In Syaa Allah bermanfaat ."
Saat dikonfirmasi, Nila mengatakan tidak pernah menuliskan pesan seperti yang beredar. "Hoaks. Terima kasih. Saya enggak buat itu," kata Nila kepada Tempo, Senin, 16 Maret 2020.
Kabar hoaks terkait Covid-19 belakangan marak di sejumlah platform media sosial. Pada Senin, 9 Maret 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengumumkan terdapat 177 hoaks hingga Minggu, 8 Maret 2020.
Dari 177 kasus yang ditemukan pada Ahad, 8 Maret 2020, lima di antaranya tengah dibawa ke ranah hukum. Kelima kasus tersebut yakni dua kasus tengah ditangani oleh Polda Kalimantan Timur, dua kasus lainnya di Kalimantan Barat, dan satu di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kesimpulan
Pesan berisi pencegahan Covid-19 dengan cara menjemur uang ternyata bukan berasal dari mantan Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek. Pesan tersebut diduga berasal dari sumber yang tidak terverifikasi.
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Ibuprofen menambah jangka hidup virus covid-19
Intinya jgn minum obat yg kandungannya ibuprofen untuk menghilangkan demam atau rasa sakit bisa meningkatkan jumlah covid19
Intinya jgn minum obat yg kandungannya ibuprofen untuk menghilangkan demam atau rasa sakit bisa meningkatkan jumlah covid19
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari Poynter, perdebatan mengenai penggunaan obat pereda rasa nyeri, ibuprofen, pada pasien COVID-19 berawal ketika Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran mencuit di Twitter mengenai obat tersebut pada 14 Maret 2020 lalu. Menurut dia, obat anti-inflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk gejala.
Pendapat Veran tersebut merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Nasional Perancis untuk Keselamatan Obat pada 2019. Penelitian itu menyatakan bahwa ibuprofen dapat menyebabkan komplikasi terhadap semua pasien penyakit menular.
Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Spanyol maupun Austria melaporkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan ibuprofen bisa memperburuk pasien COVID-19. Bahkan, Austria menyebut bahwa klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19" sebagai hoaks.
Pada 17 Maret 2020, WHO angkat bicara terkait klaim tersebut. Menurut juru bicara WHO, Christian Lindmeier, meskipun tidak ada bukti yang menghubungkan ibuprofen dengan komplikasi terhadap pasien COVID-19, ia merekomendasikan untuk memilih alternatif lain, seperti asetaminofen, sembari para ilmuwan menyelidiki masalah tersebut.
Dua hari kemudian, yakni pada 19 Maret 2020, WHO menegaskan pernyataannya mengenai klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19". Melalui akun Twitter resminya, WHO menyatakan bahwa, berdasarkan informasi yang tersedia sejauh ini, WHO tidak merekomendasikan untuk menentang penggunaan ibuprofen.
"Kami juga berkonsultasi dengan para dokter yang merawat pasien COVID-19 dan tidak menemukan laporan tentang efek negatif ibuprofen, di luar efek samping yang diketahui yang membatasi penggunaannya pada populasi tertentu. WHO juga tidak menemukan data berbasis klinis atau populasi yang dipublikasikan tentang topik ini," demikian pernyataan WHO.
Situs media asing BuzzFeed News memberitakan pernyataan WHO tersebut sekaligus menambahkan pendapat dari sejumlah ahli. Menurut para ahli yang diwawancarai, kekhawatiran mengenai pemberian ibuprofen dan obat serupa yang disebut sebagai obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) terhadap pasien COVID-19 tidak berdasar.
"Saya tidak berpikir membuat rekomendasi untuk menghindari kategori obat ini, yang sangat bermanfaat, bijaksana pada saat ini," ujar Daniel Solomon, profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter spesialis reumatologi di Brigham and Women's Hospital kepada BuzzFeed News.
Michele Barry, Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Stanford University, mengatakan, "Tidak melalui tahap ulasan oleh teman sejawat (peer reviewed). Tidak berdasarkan bukti." Adapun David Juurlink, kepala divisi farmakologi klinis di University of Toronto, menyebutnya "sangat spekulatif".
Pendapat Veran tersebut merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Nasional Perancis untuk Keselamatan Obat pada 2019. Penelitian itu menyatakan bahwa ibuprofen dapat menyebabkan komplikasi terhadap semua pasien penyakit menular.
Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Spanyol maupun Austria melaporkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan ibuprofen bisa memperburuk pasien COVID-19. Bahkan, Austria menyebut bahwa klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19" sebagai hoaks.
Pada 17 Maret 2020, WHO angkat bicara terkait klaim tersebut. Menurut juru bicara WHO, Christian Lindmeier, meskipun tidak ada bukti yang menghubungkan ibuprofen dengan komplikasi terhadap pasien COVID-19, ia merekomendasikan untuk memilih alternatif lain, seperti asetaminofen, sembari para ilmuwan menyelidiki masalah tersebut.
Dua hari kemudian, yakni pada 19 Maret 2020, WHO menegaskan pernyataannya mengenai klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19". Melalui akun Twitter resminya, WHO menyatakan bahwa, berdasarkan informasi yang tersedia sejauh ini, WHO tidak merekomendasikan untuk menentang penggunaan ibuprofen.
"Kami juga berkonsultasi dengan para dokter yang merawat pasien COVID-19 dan tidak menemukan laporan tentang efek negatif ibuprofen, di luar efek samping yang diketahui yang membatasi penggunaannya pada populasi tertentu. WHO juga tidak menemukan data berbasis klinis atau populasi yang dipublikasikan tentang topik ini," demikian pernyataan WHO.
Situs media asing BuzzFeed News memberitakan pernyataan WHO tersebut sekaligus menambahkan pendapat dari sejumlah ahli. Menurut para ahli yang diwawancarai, kekhawatiran mengenai pemberian ibuprofen dan obat serupa yang disebut sebagai obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) terhadap pasien COVID-19 tidak berdasar.
"Saya tidak berpikir membuat rekomendasi untuk menghindari kategori obat ini, yang sangat bermanfaat, bijaksana pada saat ini," ujar Daniel Solomon, profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter spesialis reumatologi di Brigham and Women's Hospital kepada BuzzFeed News.
Michele Barry, Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Stanford University, mengatakan, "Tidak melalui tahap ulasan oleh teman sejawat (peer reviewed). Tidak berdasarkan bukti." Adapun David Juurlink, kepala divisi farmakologi klinis di University of Toronto, menyebutnya "sangat spekulatif".
Kesimpulan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama? Senin, 23 Maret 2020 18:29 WIB
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Pesan berantai yang berisi narasi bahwa obat ibuprofen bisa membuat virus Corona COVID-19 hidup lebih lama beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Sabtu, 21 Maret 2020. Informasi itu diklaim berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam pesan berantai itu, juga disebutkan sejumlah merk obat yang mengandung ibuprofen.
Berikut narasi utuh pesan berantai yang beredar tersebut:
Info tambahan, dari WHO.
Jika ada gejala sakit terkena
- Batuk
- Pilek
- Panas tinggi
“ jangan “minum obat yg mengandung “ ibuprofen”
Ini akan menambah hidup virus corona convid 19
Pertolongan pertama yang dilakukan adalah
Minum obat flu n demam yg mengandung
“ paracetamol”
Di Indonesia obat2 tersebut terdapat pada obat sbb:
- Panadol
- Paramex
- Neozep
Berikut beberapa obat2 yg mengand
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Pesan berantai yang berisi narasi bahwa obat ibuprofen bisa membuat virus Corona COVID-19 hidup lebih lama beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Sabtu, 21 Maret 2020. Informasi itu diklaim berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam pesan berantai itu, juga disebutkan sejumlah merk obat yang mengandung ibuprofen.
Berikut narasi utuh pesan berantai yang beredar tersebut:
Info tambahan, dari WHO.
Jika ada gejala sakit terkena
- Batuk
- Pilek
- Panas tinggi
“ jangan “minum obat yg mengandung “ ibuprofen”
Ini akan menambah hidup virus corona convid 19
Pertolongan pertama yang dilakukan adalah
Minum obat flu n demam yg mengandung
“ paracetamol”
Di Indonesia obat2 tersebut terdapat pada obat sbb:
- Panadol
- Paramex
- Neozep
Berikut beberapa obat2 yg mengand
Rujukan
[SALAH] Kutipan Kim Bok Dong Sebelum Dibunuh oleh Aktifis China
Sumber: facebook.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
“BILA NEGERI MU TAK INGIN HANCUR, JANGAN PERNAH KAU BERIKAN KEPERCAYAAN KEPADA SIAPAPUN BERMATA SIPIT YANG SUARA YANG SUARA BICARANYA KERAS, KARENA SETIAP UCAPANNYA ADALAH KEBOHONGAN DAN ISI FIKIRANNYA PENUH PENGKHIANATAN”, KIM BOK-DONG PAHLAWAN KOREA SEBELUM DIBUNUH AKTIFIS CHINA,” kutipan yang terdapat dalam foto seorang perempuan, diunggah oleh akun Facebook Tony Andhika atau @tony.andhika.1, Rabu (1/7).
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Tony Andhika atau @tony.andhika.1 mengunggah sebuah foto perempuan yang di dalamnya terdapat kutipan bernada rasis dengan inti narasi bahwa jangan memberikan kepercayaan kepada mereka yang bermata sipit dan suaranya keras. Alasannya, setiap ucapan mereka adalah kebohongan dan isi pikirannya penuh pengkhianatan.
Kutipan tersebut dikabarkan berasal dari pahlawan Korea, Kim Bok-dong sebelum dibunuh oleh aktifis China.
Setelah melakukan penelusuran melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook Tony Andhika yang terdiri dari gambar dan kutipan adalah salah atau keliru.
Sebelumnya, unggahan yang termasuk ke dalam hoaks yang dibagikan oleh akun Facebook Tony Andhika sudah diperiksa faktanya oleh situs turnbackhoax.id pada tahun 2017.
Diketahui foto perempuan dalam unggahan akun Facebook Tony Andhika ialah Kim Bok-dong. “Kim Bok Dong adalah seorang wanita korea yang semasa perang dunia kedua dipaksa menjadi wanita penghibur bagi militer Jepang. Jadi, konflik yg dia alami adalah dengan Jepang, bukan dengan China, dan konflik yg dihadapi adalah kekerasan seksual, bukan masalah kekuasaan/kepemimpinan seperti yang ingin dikesankan oleh meme tersebut. Apalagi bangsa korea sendiri juga tergolong bergenetika mata sipit,” tulis turnbackhoax.id.
Selain itu, Kim Bok-dong meninggal bukan karena dibunuh aktifis China atau sebelum hoaksnya muncul pada tahun 2017, tetapi Ia meninggal pada 28 Januari 2019 di Severance Hospital, Seoul, Korea Selatan.
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Tony Andhika menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan dengan arti penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu.
Kutipan tersebut dikabarkan berasal dari pahlawan Korea, Kim Bok-dong sebelum dibunuh oleh aktifis China.
Setelah melakukan penelusuran melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook Tony Andhika yang terdiri dari gambar dan kutipan adalah salah atau keliru.
Sebelumnya, unggahan yang termasuk ke dalam hoaks yang dibagikan oleh akun Facebook Tony Andhika sudah diperiksa faktanya oleh situs turnbackhoax.id pada tahun 2017.
Diketahui foto perempuan dalam unggahan akun Facebook Tony Andhika ialah Kim Bok-dong. “Kim Bok Dong adalah seorang wanita korea yang semasa perang dunia kedua dipaksa menjadi wanita penghibur bagi militer Jepang. Jadi, konflik yg dia alami adalah dengan Jepang, bukan dengan China, dan konflik yg dihadapi adalah kekerasan seksual, bukan masalah kekuasaan/kepemimpinan seperti yang ingin dikesankan oleh meme tersebut. Apalagi bangsa korea sendiri juga tergolong bergenetika mata sipit,” tulis turnbackhoax.id.
Selain itu, Kim Bok-dong meninggal bukan karena dibunuh aktifis China atau sebelum hoaksnya muncul pada tahun 2017, tetapi Ia meninggal pada 28 Januari 2019 di Severance Hospital, Seoul, Korea Selatan.
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Tony Andhika menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan dengan arti penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu.
Kesimpulan
Tidak ditemukan di pemberitaan media daring kutipan Kim Bok-dong yang bernada rasis, sebelum dirinya meninggal yang diunggah oleh akun Facebook Tony Andhika. Diketahui hoaks kutipan Kim Bok-dong tersebut pernah muncul di tahun 2017, sementara Ia meninggal pada Januari 2019.
Rujukan
- https://archive.fo/FgarC 2.
- https://www.facebook.com/tony.andhika.1/posts/1346768612188476?_rdc=1&_rdr
- https://turnbackhoax.id/2017/04/15/hoax-hasut-beredar-meme-perempuan-korea-dibunuh-oleh-aktivis-cina
- https://news.wqcs.org/post/activist-and-former-sex-slave-kim-bok-dong-dies-92-still-fighting-reparations
- https://www.liputan6.com/global/read/3886378/kisah-eks-korban-budak-seks-jepang-melawan-hingga-ajal-menjemput
[SALAH] “zodiak baru dari NASA_ Ophiuchus: 30 November – 17 Desember”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Akun Poetrawansjah Sjabirin (fb.com/poetrawansjah.sjabirin) mengunggah sebuah gambar dengan narasi “zodiak baru dari NASA_”. Di gambar yang terdapat daftar zodiak itu, terdapat zodiak dengan nama “Ophiuchus”, yang ada di antara tanggal 30 November – 17 Desember.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP Indonesia, klaim bahwa NASA merilis zodiak baru yaitu “Ophiuchus”, yang ada di antara tanggal 30 November – 17 Desember adalah klaim yang salah.
Melalui akun Twitternya, NASA membantah klaim itu. NASA menyatakan mereka belum merilis rasi bintang baru. NASA mempelajari astronomi, bukan astrologi. NASA tidak mengubah tanda zodiak. Klaim itu adalah hoaks yang telah dibagikan ribuan kali di media daring setidaknya sejak tahun 2011.
“We see your comments about a zodiac story that re-emerges every few years. No, we did not change the zodiac.” atau yang jika diterjemahkan: “Kami melihat komentar Anda tentang kisah zodiak yang muncul kembali setiap beberapa tahun. Tidak, kami tidak mengubah zodiak.” tulis NASA.
NASA sebelumnya telah mengklarifikasi kesimpangsiuran mengenai “Ophiuchus” di artikel blog bulan September 2016. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, klarifikasi itu berbunyi: “Di sini di NASA, kami mempelajari astronomi, bukan astrologi. Kami tidak mengubah tanda zodiak. Astronomi adalah studi ilmiah tentang segala sesuatu di luar angkasa. Astrologi, sementara itu, adalah sesuatu yang lain. Itu adalah keyakinan bahwa posisi bintang dan planet dapat memengaruhi hal ihwal manusia. Astrologi tidak dianggap sebagai sains.”
NASA mengatakan orang-orang Babilonia memilih 12 rasi bintang di zodiak dan menetapkan setiap zodiak pada bulan tertentu dalam kalender 12 bulan mereka. “Menurut cerita kuno bangsa Babilonia sendiri, ada 13 rasi bintang di zodiak. Jadi mereka memilih satu, Ophiuchus, untuk keluar,” tambah NASA.
Badan antariksa itu menjelaskan meskipun Ophiuchus dihilangkan oleh orang Babilonia demi “pencocokan yang rapi dengan kalender 12 bulan mereka”, bagaimanapun juga Ophiuchus selaras dengan matahari selama sekitar 18 hari setiap tahun.
Misinformasi tentang zodiak ke-13 telah beredar online setidaknya sejak tahun 2011, seperti dilansir oleh BBC.
Melalui akun Twitternya, NASA membantah klaim itu. NASA menyatakan mereka belum merilis rasi bintang baru. NASA mempelajari astronomi, bukan astrologi. NASA tidak mengubah tanda zodiak. Klaim itu adalah hoaks yang telah dibagikan ribuan kali di media daring setidaknya sejak tahun 2011.
“We see your comments about a zodiac story that re-emerges every few years. No, we did not change the zodiac.” atau yang jika diterjemahkan: “Kami melihat komentar Anda tentang kisah zodiak yang muncul kembali setiap beberapa tahun. Tidak, kami tidak mengubah zodiak.” tulis NASA.
NASA sebelumnya telah mengklarifikasi kesimpangsiuran mengenai “Ophiuchus” di artikel blog bulan September 2016. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, klarifikasi itu berbunyi: “Di sini di NASA, kami mempelajari astronomi, bukan astrologi. Kami tidak mengubah tanda zodiak. Astronomi adalah studi ilmiah tentang segala sesuatu di luar angkasa. Astrologi, sementara itu, adalah sesuatu yang lain. Itu adalah keyakinan bahwa posisi bintang dan planet dapat memengaruhi hal ihwal manusia. Astrologi tidak dianggap sebagai sains.”
NASA mengatakan orang-orang Babilonia memilih 12 rasi bintang di zodiak dan menetapkan setiap zodiak pada bulan tertentu dalam kalender 12 bulan mereka. “Menurut cerita kuno bangsa Babilonia sendiri, ada 13 rasi bintang di zodiak. Jadi mereka memilih satu, Ophiuchus, untuk keluar,” tambah NASA.
Badan antariksa itu menjelaskan meskipun Ophiuchus dihilangkan oleh orang Babilonia demi “pencocokan yang rapi dengan kalender 12 bulan mereka”, bagaimanapun juga Ophiuchus selaras dengan matahari selama sekitar 18 hari setiap tahun.
Misinformasi tentang zodiak ke-13 telah beredar online setidaknya sejak tahun 2011, seperti dilansir oleh BBC.
Kesimpulan
Hoaks Lama Bersemi Kembali. NASA menyatakan mereka belum merilis rasi bintang baru. NASA mempelajari astronomi, bukan astrologi. NASA tidak mengubah tanda zodiak. Klaim itu adalah hoaks yang telah dibagikan ribuan kali di media daring setidaknya sejak tahun 2011.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/hoaks-lama-muncul-kembali-di-media-daring-tentang-nasa-yang-merilis-zodiak-ke-13-ophiuchus
- https://twitter.com/NASA/status/1283918088723935234
- https://spaceplace.nasa.gov/starfinder2/en/
- https://nasa.tumblr.com/post/150688852794/zodiac?linkId=94146490
- https://www.bbc.com/news/magazine-12207811
Halaman: 7324/8524

