[Fakta atau Hoaks] Benarkah Kapuspen TNI Sebut Mahasiswa Bisa Minta Didampingi Kodam Saat Demo?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/06/2020
Berita
Sebuah gambar berisi sebuah tulisan yang berjudul "Maklumat TNI Untuk Rakyat Indonesia" beredar di media sosial. Tulisan itu diklaim bersumber dari Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi. Di bagian awal, terdapat narasi bahwa mahasiswa bisa meminta didampingi oleh Komando Daerah Militer (Kodam) saat menggelar demonstrasi.
"MAHASISWA bisa minta BANTUAN ke KODAM jika ingin didampingi saat gelar UNJUK RASA. Kewenangan itu sudah bukan lagi milik PANGLIMA TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. KAMI DILATIH .... Untuk BERPERANG. Untuk melumpuhkan LAWAN. Untuk membunuh LAWAN. tapi Kami punya hati nurani. Kami TIDAK DILATIH ..... Untuk membunuh RAKYAT. Untuk membunuh MAHASISWA. KAMI ADA karena .... Kami menjaga RAKYAT. Kami menjaga NKRI. TNI adalah anak kandung RAKYAT. RAKYAT adalah ibu kandung TNI. BRAVO TNI," demikian narasi dalam tulisan itu.
Di Facebook, salah satu akun yang membagikan gambar tersebut adalah akun Dody Yeschan. Akun ini mengunggah gambar itu ke grup NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada 24 Juni 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 200 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Dody Yeschan.
Apa benar Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi menyebut bahwa mahasiswa bisa meminta didampingi Kodam saat berdemonstrasi?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci "mahasiswa boleh minta pengawalan TNI untuk unjuk rasa" di mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan sebuah artikel cek fakta di situs Turnbackhoax.id yang pernah memverifikasi klaim itu pada 5 Oktober 2019.
Menurut pemeriksaan fakta Turnbackhoax.id, pernyataan Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi terkait pengawalan demonstrasi oleh TNI pernah dimuat di situs CNN Indonesia pada 26 September 2019 dalam artikelnya yang berjudul "Mahasiswa Minta Dikawal Demo ke Mabes, TNI Arahkan ke Kodam". Namun, cara penyampaian atau kesimpulan dalam gambar di atas keliru sehingga mengarah ke tafsir yang salah.
Berikut isi lengkap berita di CNN Indonesia:
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen Sisriadi mengatakan bahwa pendampingan mahasiswa dalam berdemonstrasi dilakukan di level komando daerah militer (kodam) dan hanya jika dalam kondisi dibutuhkan oleh Polri. Dia menyebut kewenangan itu sudah bukan lagi milik Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.
"Kewenangan Panglima dalam pengendalian operasi sudah dibagi habis ke satuan bawah. Mereka seharusnya minta ke tingkat pangdam. Panglima kan sudah dibagi habis kewenangannya," kata Sisriadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (25/9).
Meski demikian, Sisriadi menyatakan kewenangan Panglima TNI tidak termasuk kewenangan untuk mengizinkan dan memberikan pengawalan demonstran, karena berdasarkan UU No. 9/89, pengawalan demonstrasi adalah kewenangan Polri.
Dia lalu menjelaskan bahwa TNI bisa ikut membantu mengamankan aksi demonstrasi jika memang dibutuhkan. Nantinya, itu akan diserahkan di level kodam di daerah yang bersangkutan.
"TNI membantu polisi jika memang tenaga polisi tidak cukup. Prosedurnya begitu. Dan itu sudah pada level di lapangan, dan bukan pada Panglima TNI lagi," ujarnya.
Sisriadi juga menyatakan bukan berarti TNI ingin ikut dalam kegiatan yang bersifat politik. "Urusannya diserahkan komandan di bawah dan mereka punya prosedur masing-masing dan itu kan tugas perbantuan," kata Sisriadi.
Ihwal unjuk rasa mahasiswa yang dilakukan di dekat Mabes TNI, Sisriadi tidak ingin bicara banyak. Dia mengatakan bahwa mahasiswa sudah melakukan itu dengan tertib.
Dia menjelaskan bahwa Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sedang tidak berada di Jakarta hingga beberapa hari ke depan. Karenanya, keinginan mahasiswa untuk bertemu Hadi tidak akan bisa tercapai.
"Sedang di Palangkaraya mengecek pembuatan titik hujan. Kemarin kan Riau berhasil. Jambi berhasil. Jadi beliau melihat sekarang di Kalteng, nanti lanjut di Kalbar," ucap Sisriadi.
Ratusan mahasiswa berkumpul di dekat Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Rabu (25/9). Mereka meminta TNI untuk ikut serta dalam aksi di depan Gedung DPR/MPR selanjutnya.
Kapolsek Cipayung, Jakarta Timur Kompol Abdul Rasyid mengatakan mahasiswa itu berasal dari Bandung dan Jakarta. "Meminta dari pihak TNI ke Panglima TNI turun bersama-sama dengan mahasiswa ini untuk melakukan aksi damai [selanjutnya] di Gedung DPR/MPR, supaya pengamanan juga jangan cuma dari kepolisian," tutur Abdul saat dihubungi, Rabu (25/9).
Ratusan mahasiswa itu berkumpul sejak sore hari. Hingga pukul 19.30 WIB, mereka belum mau membubarkan diri. Abdul mengatakan para mahasiswa tetap ingin bertemu dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.
"Keinginan mereka mau ketemu Panglima TNI, tapi belum ada fasilitas dari dalam (Mabes TNI). Sudah negosiasi dengan Mabes TNI tapi mereka tetap mau ketemu hari ini," tutur Abdul.
Sementara dikutip dari arsip berita Tempo pada 25 September 2019, Kapuspen TNI Mayor Jenderal Sisriadi mengatakan mahasiswa tak berunjuk rasa di depan Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Menurut Sisriadi, pengunjuk rasa berada cukup jauh yaitu sekitar 500 meter dari depan Mabes TNI.
Sisradi menuturkan dirinya sempat berada di kemacetan di jalan menuju tempat kerjanya tersebut. "Saya enggak lihat ada orang rame-rame demo, tapi memang macet. Ya kan karena jalannya sempit juga," ujar dia saat dihubungi, Rabu, 25 September 2019.
Meski begitu, Sisriadi mengetahui adanya sejumlah mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di jalanan arah Mabes TNI. "Kata orang ya 500 meter dari Mabes TNI. Tapi itu artinya mereka pintar, di peraturan kan memang tidak boleh berdemo di depan Mabes TNI," kata Sisradi.
Sebelumnya, massa yang mengaku sebagai mahasiswa dari sejumlah universitas di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat, menggelar aksi di dekat Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Mereka berharap bisa beraudiensi dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Sisradi pun angkat bicara. TNI tak akan ikut-ikutan dalam aksi demonstrasi tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim dalam gambar berjudul "Maklumat TNI Untuk Rakyat Indonesia" di atas, bahwa Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi menyebut bahwa mahasiswa bisa meminta didampingi Kodam saat berdemonstrasi, menyesatkan. Pernyataan Sisriadi itu diucapkan dalam konteks adanya permintaan pendampingan dari demonstran yang mengaku sebagai mahasiswa dari sejumlah universitas di Bandung dan Jakarta yang berkumpul di dekat Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Sisriadi merespons permintaan itu dengan mengatakan bahwa pendampingan mahasiswa dalam berdemonstrasi dilakukan di level Kodam dan hanya jika dalam kondisi dibutuhkan oleh Polri.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Demo di Amerika Saat Pandemi Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/06/2020
Berita
Sebuah video aerial yang memperlihatkan jutaan orang yang sedang memadati jalan dan jembatan di sebuah kota beredar di media sosial. Sebagian besar massa menggunakan pakaian hitam. Beberapa di antaranya membawa bendera. Video itu diklaim sebagai video demontrasi di Amerika Serikat saat pandemi Covid-19.
Di Facebook, salah satu akun yang membagikan video dan klaim itu adalah akun Alexandra, yakni pada 6 Juni 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Jika dalam satu minggu mayat bergelimpangan di Amerika, berarti benar virus Corona itu ganas dan nyata. Tapi, apabila tidak terjadi apa-apa, berarti silahkan pikirkan sendiri."
Dalam unggahannya, akun ini juga mencantumkan #ChinaVirusKonspirasi. Tagar itu merujuk pada narasi bahwa Covid-19 adalah konspirasi Cina. Narasi ini juga ditegaskan kembali oleh akun itu pada kolom komentar. “Mari kita sadar pelan-pelan, akan terbuka tabir hoaks ChinaVirus yang lagi booming saat sekarang ini.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Alexandra.
Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal, yakni:
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Kemudian, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan petunjuk dari video yang dimuat oleh media Inggris, Daily Mail, yang identik dengan video unggahan akun Alexandra.
Daily Mail mengunggah video tersebut pada artikel yang berjudul "Biggest crowd 'since of death of Ayatollah Khomeini in 1989': Millions flood Iranian city Ahvaz for funeral of slain general Soleimani - as protesters vow 'hard revenge' after US drone execution". Artikel ini terbit pada 5 Januari 2020.
Artikel itu menjelaskan bahwa ada sekitar satu juta pelayat yang mengiringi pawai pemakaman komandan militer Qasem Soleimani. Soleimani adalah Kepala Pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran yang tewas dalam serangan pesawat tanpa awak milik Amerika.
Setelah pawai pemakaman besar-besaran di Baghdad, Irak, Soleimani diterbangkan ke Kota Ahvaz di Iran barat daya, sebuah kota yang menjadi fokus pertempuran selama perang berdarah pada 1980-88 antara Irak dan Iran di mana sang jenderal menjadi terkenal. Dia kemudian dibawa ke sebuah kota di timur laut Mashhad.
Bagian awal dan akhir video Daily Mail itu menampakkan suasana pelayat saat melewati gedung-gedung dan jembatan yang membelah sebuah sungai di Iran. Bentuk jembatan tersebut identik dengan jembatan dalam video unggahan akun Alexandra. Video itu diambil saat prosesi di Ahvaz, Iran.
Arsitektur gedung dalam video unggahan akun Alexandra (kiri) yang identik dengan arsitektur gedung dalam video Daily Mail (kanan).
Tempo pun membandingkan video tersebut dengan video yang dipublikasikan oleh The Telegraph yang bersumber dari Iran Press. Video ini juga mengambil peristiwa pawai pemakaman itu dari udara, yang memperlihatkan jembatan di atas sebuah sungai yang dilewati oleh para pelayat.
The Telegraph memberikan keterangan yang sama dengan Daily Mail, bahwa video itu adalah video salah satu bagian dari prosesi pemakaman Soleimani. Prosesi pertama dimulai di Ahvaz. Setelah itu, jenazah Soleimani dibawa ke kuil Imam Reza di Masyhad.
Lewat pencarian dengan kata kunci “Bridge in Ahvaz” di Google Maps, Tempo juga menemukan bahwa video tersebut direkam di atas Jembatan Naderi yang membelah Sungai Karun. Kesamaan bentuk jembatan ini dengan jembatan dalam video itu terlihat pada tiang-tiang lampu yang saling berhadapan dan tiang-tiang penyangga.
Gambar tangkapan layar jembatan dalam video Alexandra (kiri) dan gambar tangkapan layar jembatan dalam video The Telegraph (kanan).
Gambar tangkapan layar Jembatan Naderi di Google Maps.
Lewat pencarian di Google Maps tersebut, diketahui pula bahwa nama gedung yang dilewati pelayat di bagian awal video adalah Emam Ali Medical Center. Gedung ini terletak di Jalan Salman Farsi, Ahvaz. Hal itu terlihat dari arsitektur gedung bagian atas. Dengan demikian, pawai pemakamam Soleimani itu berlokasi di sepanjang jalan Salman Farsi, Iran, bukan di Amerika.
Klaim Covid-19 adalah konspirasi Cina
Tim CekFakta Tempo telah berulangkali mempublikasikan artikel cek fakta yang menemukan bahwa sejauh ini tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan Covid-19 hanyalah konspirasi Cina.
Menurut artikel di Nature pada 17 Maret 2020, penelitian terhadap struktur genetik SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, juga menunjukkan bahwa tidak ada manipulasi laboratorium pada virus tersebut. Para ilmuwan memiliki dua penjelasan tentang asal usul virus ini, yakni seleksi alam pada inang hewan atau seleksi alam pada manusia setelah virus melompat dari hewan. "Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan hasil konstruksi laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja."
Berikut beberapa artikel cek fakta terkait usal-usul Covid-19 yang diklaim sebagai konspirasi:
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video demonstrasi di Amerika saat pandemi Covid-19 keliru. Video itu merupakan video pawai pemakaman Qasem Soleimani, kepala pasukan elit Iran, Quds. Video itu diambil saat pawai di Kota Ahvaz, Iran, pada 5 Januari 2020, sebelum Covid-19 menyebar ke negara-negara di luar Cina. Tudingan bahwa Covid-19 adalah konspirasi Cina pun sampai hari ini tidak bisa dibuktikan.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.dailymail.co.uk/news/article-7853307/Slain-general-Soleimanis-coffin-paraded-streets-furious-chants-death-America.html
- https://www.youtube.com/watch?v=RH0HfYhA-Ic
- https://s.id/l3cVm
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/774/fakta-atau-hoaks-benarkah-klaim-judy-mikovits-soal-virus-corona-dalam-film-dokumenter-plandemic
[SALAH] Video “Remaja Ini Terkena Tiktok Syndrome”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/06/2020
Berita
“Astaghfirullah, Remaja Ini Terkena Tiktok Syndrome, Ga Bisa Kontrol Gerakan Badannya Karena Banyakan Main Tiktok”.
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan video yang sebagian isinya berasal dari video PARODI dan menambahkan narasi yang TIDAK berkaitan yang menimbulkan kesimpulan keliru.
suara.com: “Baru-baru ini publik sosial media dihebohkan dengan seorang pemuda yang mengaku terkena TikTok syndrome. Setelah ditelusuri, ternyata pengakuan tersebut merupakan konten sindiran yang sengaja dibuat oleh pemuda itu di Instagram.”MOJOK.CO: “Kalau ada orang yang bilang sindrom begini memang ada, mungkin mereka lagi ngomongin tourette syndrome, sindrom yang penderitanya sering melakukan gerakan repetisi dan suara-suara yang tidak diinginkan. Gerakan tersebut dilakukan di luar kontrol otak, mirip refleks yang agak aneh. Tapi sekali lagi, gerakan repitisi penderita tourette itu bukan jogetan TikTok ya. Kocak lah wey.”
Menurut Sindrom Tourette atau penyakit Tourette adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa mengontrolnya. Penyakit ini diwariskan secara turun-temurun dan sering kali dikaitkan dengan pengeluaran ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan (koprolalia). Namun, gejala ini hanya ada pada beberapa orang yang mengidap sindrom Tourette.[1] Sindrom Tourette bukan lagi merupakan kondisi yang langka, tetapi tidak selalu diidentifikasi secara tepat karena sebagian besar sindrom Tourette merupakan sindrom yang ringan dan tic yang dikeluarkan berkurang ketika anak beranjak dewasa. Antara 0,4% hingga 3,8% anak yang berusia antara 5 hingga 18 tahun mungkin mengidap sindrom Tourette.[2] Sindrom Tourette yang ekstrem pada orang dewasa jarang ditemui, dan sindrom ini tidak memengaruhi kecerdasan atau harapan hidup.
suara.com: “Baru-baru ini publik sosial media dihebohkan dengan seorang pemuda yang mengaku terkena TikTok syndrome. Setelah ditelusuri, ternyata pengakuan tersebut merupakan konten sindiran yang sengaja dibuat oleh pemuda itu di Instagram.”MOJOK.CO: “Kalau ada orang yang bilang sindrom begini memang ada, mungkin mereka lagi ngomongin tourette syndrome, sindrom yang penderitanya sering melakukan gerakan repetisi dan suara-suara yang tidak diinginkan. Gerakan tersebut dilakukan di luar kontrol otak, mirip refleks yang agak aneh. Tapi sekali lagi, gerakan repitisi penderita tourette itu bukan jogetan TikTok ya. Kocak lah wey.”
Menurut Sindrom Tourette atau penyakit Tourette adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa mengontrolnya. Penyakit ini diwariskan secara turun-temurun dan sering kali dikaitkan dengan pengeluaran ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan (koprolalia). Namun, gejala ini hanya ada pada beberapa orang yang mengidap sindrom Tourette.[1] Sindrom Tourette bukan lagi merupakan kondisi yang langka, tetapi tidak selalu diidentifikasi secara tepat karena sebagian besar sindrom Tourette merupakan sindrom yang ringan dan tic yang dikeluarkan berkurang ketika anak beranjak dewasa. Antara 0,4% hingga 3,8% anak yang berusia antara 5 hingga 18 tahun mungkin mengidap sindrom Tourette.[2] Sindrom Tourette yang ekstrem pada orang dewasa jarang ditemui, dan sindrom ini tidak memengaruhi kecerdasan atau harapan hidup.
Kesimpulan
BUKAN “Tiktok Syndrome”, sebagian isi video berasal dari video PARODI. Untuk referensi, berkaitan juga dengan Sindrom Tourette.
Rujukan
- httpfirstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. @kesarnst (instagram.com/kesarnst),
- https://bit.ly/2A9sUtN /
- https://archive.md/bThC0 (arsip cadangan). suara.com: “Heboh Pengakuan Penderita TikTok Syndrome, Ini Faktanya”
- https://bit.ly/2ZkKiV4 /
- https://archive.md/qNgQ4 (arsip cadangan). mojok.co: “Video TikTok Sindrom Bukan Contoh Berita Hoax tapi Parodi. Gini lho Cara Bedainnya…”
- https://bit.ly/3dwTVVC /
- https://archive.md/c4sa9 (arsip cadangan). webmd.com: “Sindrom Tourette”
- https://bit.ly/3fY2RVq (Google Translate) /
- https://bit.ly/2BHg2vd (arsip cadangan). Wikipedia: “Sindrom Tourette”
- https://bit.ly/2ZdfmWC /
- https://archive.md/zQK9G (arsip cadangan). youtube.com: “The 2nd Grade Teacher with Tourette Syndrome | The Oprah Winfrey Show | Oprah Winfrey Network”
- https://bit.ly/384KImg /
- https://archive.md/WLxVQ (arsip cadangan). youtube.com: “Hallmark – Front of the Class”
- https://bit.ly/2NuYsxg /
- https://archive.md/wPur8 (arsip cadangan). youtube.com: “Front of the Class – Trailer”
- https://bit.ly/2CE9kqe /
- https://archive.md/yjmkO (arsip cadangan).
[SALAH] Pesta Homo Seksual di Italia Sebelum Covid-19 Mewabah
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/06/2020
Berita
“SANGAT MENGERIKAN DAN MENJIJIKAN
Inilah Pesta terakhir yang dibuat di Italy.
Kenapa wabah Corona menyerang Italy dengan begitu dahsyat ?
Kenapa Allah terbalikkan bumi dizaman nabi Luth ?”
Inilah Pesta terakhir yang dibuat di Italy.
Kenapa wabah Corona menyerang Italy dengan begitu dahsyat ?
Kenapa Allah terbalikkan bumi dizaman nabi Luth ?”
Hasil Cek Fakta
Akun facebook bernama Dara Puspita mengunggah sebuah video berdurasi sekitar 1 menit dengan narasi yang menyebutkan bahwa dalam video tersebut merupakan pesta terakhir yang dibuat Italy sebelum wabah corona menghantan negara itu dengan dahsyat. video itu pun dikaitkan dengan zaman nabi luth dimana video tersebut diklaim festival homo seksual.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari factcheck.afp.com AFP melakukan pencarian gambar terbalik menggunakan tool InVid-WeVerify. Kemudian menemukan cuitan di bulan Februari 2020 yang mengklaim video itu menunjukkan Karnaval Bahia, karnaval tahunan yang diselenggarakan di negara bagian Bahia di Brazil.
Biro AFP di Rio de Janeiro mengonfirmasi bahwa musik yang terdengar di video itu adalah lagu karnaval yang populer di Brazil, yakni “Minha pequena Eva,” yang artinya “Eva saya yang kecil”.
Melalui zooming pada versi video dengan kualitas yang lebih tinggi, terlihat tulisan “Crocodilo” di bagian belakang rompi warna-warni yang dikenakan banyak dari para pengunjung acara itu.
AFP memasukkan kata kunci “carnaval bahia crocodilo” di Google dan menemukan “Bloco Crocodilo”. Hal itu merupakan salah satu dari puluhan pesta jalanan yang diselenggarakan dalam acara tahunan Karnaval Bahia, yang juga dikenal sebagai Carnaval de Salvador mengikuti nama ibukota negara bagian itu.
“Tahun ini adalah tahun Piala Dunia, ini adalah karnaval!” ujar wanita yang berbicara pada pengunjung pada detik ke-19 di video.
AFP memasukkan kata kunci “carnaval bahia crocodilo” di Google dan menemukan “Bloco Crocodilo”.
AFP juga melakukan penelusuran lebih lanjut di Twitter dengan kata kunci “bloco crocodilo” dengan rentang waktu dari 2018 tahun Piala Dunia paling akhir dan menemukan cuitan yang diunggah oleh seorang reporter lokal bernama Alan Alves pada tanggal 11 Februari 2018.
“Kerumunan orang di Bloco Crocodilo, yang dipimpin oleh Daniela Mercury, sedang bersiap-siap untuk pembukaan parade di Barra,” kata keterangan itu. disamping itu, rompi “Crocodilo” yang terlihat dalam setelan 2018 identik dengan rompi yang sama dalam video yang beredar luas.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari factcheck.afp.com AFP melakukan pencarian gambar terbalik menggunakan tool InVid-WeVerify. Kemudian menemukan cuitan di bulan Februari 2020 yang mengklaim video itu menunjukkan Karnaval Bahia, karnaval tahunan yang diselenggarakan di negara bagian Bahia di Brazil.
Biro AFP di Rio de Janeiro mengonfirmasi bahwa musik yang terdengar di video itu adalah lagu karnaval yang populer di Brazil, yakni “Minha pequena Eva,” yang artinya “Eva saya yang kecil”.
Melalui zooming pada versi video dengan kualitas yang lebih tinggi, terlihat tulisan “Crocodilo” di bagian belakang rompi warna-warni yang dikenakan banyak dari para pengunjung acara itu.
AFP memasukkan kata kunci “carnaval bahia crocodilo” di Google dan menemukan “Bloco Crocodilo”. Hal itu merupakan salah satu dari puluhan pesta jalanan yang diselenggarakan dalam acara tahunan Karnaval Bahia, yang juga dikenal sebagai Carnaval de Salvador mengikuti nama ibukota negara bagian itu.
“Tahun ini adalah tahun Piala Dunia, ini adalah karnaval!” ujar wanita yang berbicara pada pengunjung pada detik ke-19 di video.
AFP memasukkan kata kunci “carnaval bahia crocodilo” di Google dan menemukan “Bloco Crocodilo”.
AFP juga melakukan penelusuran lebih lanjut di Twitter dengan kata kunci “bloco crocodilo” dengan rentang waktu dari 2018 tahun Piala Dunia paling akhir dan menemukan cuitan yang diunggah oleh seorang reporter lokal bernama Alan Alves pada tanggal 11 Februari 2018.
“Kerumunan orang di Bloco Crocodilo, yang dipimpin oleh Daniela Mercury, sedang bersiap-siap untuk pembukaan parade di Barra,” kata keterangan itu. disamping itu, rompi “Crocodilo” yang terlihat dalam setelan 2018 identik dengan rompi yang sama dalam video yang beredar luas.
Kesimpulan
Bukan di Italia. Festival tersebut adalah acara karnaval yang diselenggarakan di Brazil pada bulan Februari 2018, sekitar dua tahun sebelum Italia mencatat kasus COVID-19 pertama.
Rujukan
Halaman: 7387/8518






