[SALAH] Program Mudik Sehat PSBB 2020 Oleh Big Bird
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 19/05/2020
Berita
Direktur Bluebird Group Adrianto Djokosoetono mengatakan, pihaknya membantah bahwa brosur tersebut berasal dari perusahaannya. PT Bluebird TBk dengan ini menginformasikan bahwa kami mendukung kebijakan pemerintah dalam melarang implementasi mudik sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mencegah penyebaran covid-19.
Hasil Cek Fakta
Beredar pada pesan berantai sebuah poster berlogo perusahaan transportasi bus Big Bird. Dalam poster itu berisi program Mudik Sehat PSBB 2020 dengan beberapa rincian biaya serta rute.
Untuk biaya perjalanan mudik sehat dibanderol mulai dari Rp650.000 (one way)
berlaku untuk tujuan daerah Jawa Tengah dan sekitarnya dengan rute Tangerang – Jakarta – Semarang – Yogyakarta. Sedangkan harga Rp850.000 berlaku untuk tujuan Jawa Timur dengan rute Tangerang – Jakarta – Surabaya.
Arus mudik hanya dilayani mulai tanggal 19 Mei sampai dengan 23 Mei 2020. Sedangkan untuk arus balik dilayani pada 26 Mei sampai dengan 2 Juni 2020.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari cnbcindonesia.com
Direktur Blue Bird, Adrianto Djokosoetono mengatakan, informasi yang beredar di media sosial mengenai program mudik yang mengatasnamakan Blue Bird tidak benar.
“Saya harus klarifikasi dulu. Tidak ada program ini dari perusahaan. Saya akan melakukan penelusuran,” kata Andre, saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (19/5/2020).
Selain itu, manajemen perusahaan taksi berlogo burung biru terbang ini menegaskan tetap mendukung kebijakan pemerintah dalam melarang implementasi mudik sebagai bentuk komitemen perusahaan dalam mencegah penyebaran COVID-19.
“Komunikasi di luar hal tersebut bukan merupakan komunikasi resmi dari perusahaan,” tutur Investor Relation Blue Bird, Michael Tene.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam keterangannya mengatakan Pihak Blue Bird menjalankan ketentuan terkait PSBB dan pelarangan mudik sehingga tidak ada rencana menjalankan program ‘Mudik Sehat PSBB 2020’ tersebut,” ucap Yusri.
Yusri menjelaskan berdasarkan keterangan pihak Blue Bird informasi sebelaran tersebut disebarkan oleh karyawan mereka. Namun hingga kini pihak Blue Bird, lanjutnya, masih menelusuri karyawan yang pertama memposting informasi tersebut.
Lebih lanjut, Yusri memastikan pihak Blue Bird akan melakukan audit internal terkait kejadian ini.
“Pihak Blue Bird/ Big Bird akan melakukan audit internal untuk menelusuri pihak-pihak internal mereka yang menyebarkan informasi program ‘Mudik Sehat PSBB 2020’ tersebut dan akan melaporkan hasil audit internal ke Pihak Ditlantas PMJ,” imbuhnya.
Untuk biaya perjalanan mudik sehat dibanderol mulai dari Rp650.000 (one way)
berlaku untuk tujuan daerah Jawa Tengah dan sekitarnya dengan rute Tangerang – Jakarta – Semarang – Yogyakarta. Sedangkan harga Rp850.000 berlaku untuk tujuan Jawa Timur dengan rute Tangerang – Jakarta – Surabaya.
Arus mudik hanya dilayani mulai tanggal 19 Mei sampai dengan 23 Mei 2020. Sedangkan untuk arus balik dilayani pada 26 Mei sampai dengan 2 Juni 2020.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari cnbcindonesia.com
Direktur Blue Bird, Adrianto Djokosoetono mengatakan, informasi yang beredar di media sosial mengenai program mudik yang mengatasnamakan Blue Bird tidak benar.
“Saya harus klarifikasi dulu. Tidak ada program ini dari perusahaan. Saya akan melakukan penelusuran,” kata Andre, saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (19/5/2020).
Selain itu, manajemen perusahaan taksi berlogo burung biru terbang ini menegaskan tetap mendukung kebijakan pemerintah dalam melarang implementasi mudik sebagai bentuk komitemen perusahaan dalam mencegah penyebaran COVID-19.
“Komunikasi di luar hal tersebut bukan merupakan komunikasi resmi dari perusahaan,” tutur Investor Relation Blue Bird, Michael Tene.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam keterangannya mengatakan Pihak Blue Bird menjalankan ketentuan terkait PSBB dan pelarangan mudik sehingga tidak ada rencana menjalankan program ‘Mudik Sehat PSBB 2020’ tersebut,” ucap Yusri.
Yusri menjelaskan berdasarkan keterangan pihak Blue Bird informasi sebelaran tersebut disebarkan oleh karyawan mereka. Namun hingga kini pihak Blue Bird, lanjutnya, masih menelusuri karyawan yang pertama memposting informasi tersebut.
Lebih lanjut, Yusri memastikan pihak Blue Bird akan melakukan audit internal terkait kejadian ini.
“Pihak Blue Bird/ Big Bird akan melakukan audit internal untuk menelusuri pihak-pihak internal mereka yang menyebarkan informasi program ‘Mudik Sehat PSBB 2020’ tersebut dan akan melaporkan hasil audit internal ke Pihak Ditlantas PMJ,” imbuhnya.
Rujukan
Tak Akan Ada Lagi Penutupan Pasar di Surabaya, Mengapa?
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 19/05/2020
Berita
Setelah ditemukan salah satu pedagang Pasar Genteng Baru Surabaya positif Corona, puluhan pedagang akhirnya rapid test. Meski begitu, pasar belum ditutup.
Hasil Cek Fakta
Liputan6.com, Surabaya Tidak akan ada lagi penutupan pasar tradisional selama masa pandemi Corona Covid-19 di Surabaya. Kebijakan ini dibikin setelah Pemkot Surabaya mengevaluasi penutupan pasar tradisional. Meskipun demikian, operasional di pasar tradisional tetap mengacu pada protokol kesehatan.
Pertimbangan utama dari tidak ada penutupan pasar tradisional adalah persoalan pedagang. Jika pasar ditutup, maka pedagang akan berusaha mencari tempat lain untuk berjualan dan berpotensi menimbulkan masalah di tempat lain.
“Jadi, lebih baik pedagang tetap berjualan di pasar tradisional itu, namun kami atur dengan protokol kesehatan,” ujar Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya, seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (17/5/2020).
HomeSurabaya
Tak Akan Ada Lagi Penutupan Pasar di Surabaya, Mengapa?
Liputan6.comLiputan6.com
17 Mei 2020, 16:00 WIB
200
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Pasar Genteng Surabaya (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Liputan6.com, Surabaya Tidak akan ada lagi penutupan pasar tradisional selama masa pandemi Corona Covid-19 di Surabaya. Kebijakan ini dibikin setelah Pemkot Surabaya mengevaluasi penutupan pasar tradisional. Meskipun demikian, operasional di pasar tradisional tetap mengacu pada protokol kesehatan.
Pertimbangan utama dari tidak ada penutupan pasar tradisional adalah persoalan pedagang. Jika pasar ditutup, maka pedagang akan berusaha mencari tempat lain untuk berjualan dan berpotensi menimbulkan masalah di tempat lain.
“Jadi, lebih baik pedagang tetap berjualan di pasar tradisional itu, namun kami atur dengan protokol kesehatan,” ujar Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya, seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (17/5/2020).
BACA JUGA
Pemkot Surabaya Gencar Gelar Rapid Test di Pasar Tradisional
Penelusuran Tim Tracing Jatim Terkait Persebaran COVID-19 di Pasar Keputran Surabaya
Pasar Kupang Gunung Surabaya Kembali Buka Mulai 17 Mei 2020
Protokol kesehatan yang dimaksud meliputi, para pedagang di pasar tradisional harus mengenakan alat pelindung diri, minimal memakai masker, kaca mata, dan sarung tangan serta menyediakan cairan pembersih tangan. Selain itu, perlu pembatasan kerumunan dengan cara meminta warga mempercepat urusan di pasar serta pembatasan jarak antar pedagang dan pengunjung.
Terkait pedagang yang kedapatan sakit akan langsung ditangani dan tempat dagangnya ditutup sementara. Untuk orang-orang berisiko tinggi tertular Corona Covid-19, seperti warga lansia dan warga dengan penyakit bawaan diminta meminimalkan kunjungan ke pasar.
“Dengan penerapan seperti ini di pasar tradisional, maka diharapkan perekonomian dan pemutusan rantai penyebaran Corona Covid-19 di Surabaya bisa sama-sama jalan,” ucapnya.
Pertimbangan utama dari tidak ada penutupan pasar tradisional adalah persoalan pedagang. Jika pasar ditutup, maka pedagang akan berusaha mencari tempat lain untuk berjualan dan berpotensi menimbulkan masalah di tempat lain.
“Jadi, lebih baik pedagang tetap berjualan di pasar tradisional itu, namun kami atur dengan protokol kesehatan,” ujar Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya, seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (17/5/2020).
HomeSurabaya
Tak Akan Ada Lagi Penutupan Pasar di Surabaya, Mengapa?
Liputan6.comLiputan6.com
17 Mei 2020, 16:00 WIB
200
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Pasar Genteng Surabaya (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Liputan6.com, Surabaya Tidak akan ada lagi penutupan pasar tradisional selama masa pandemi Corona Covid-19 di Surabaya. Kebijakan ini dibikin setelah Pemkot Surabaya mengevaluasi penutupan pasar tradisional. Meskipun demikian, operasional di pasar tradisional tetap mengacu pada protokol kesehatan.
Pertimbangan utama dari tidak ada penutupan pasar tradisional adalah persoalan pedagang. Jika pasar ditutup, maka pedagang akan berusaha mencari tempat lain untuk berjualan dan berpotensi menimbulkan masalah di tempat lain.
“Jadi, lebih baik pedagang tetap berjualan di pasar tradisional itu, namun kami atur dengan protokol kesehatan,” ujar Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya, seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (17/5/2020).
BACA JUGA
Pemkot Surabaya Gencar Gelar Rapid Test di Pasar Tradisional
Penelusuran Tim Tracing Jatim Terkait Persebaran COVID-19 di Pasar Keputran Surabaya
Pasar Kupang Gunung Surabaya Kembali Buka Mulai 17 Mei 2020
Protokol kesehatan yang dimaksud meliputi, para pedagang di pasar tradisional harus mengenakan alat pelindung diri, minimal memakai masker, kaca mata, dan sarung tangan serta menyediakan cairan pembersih tangan. Selain itu, perlu pembatasan kerumunan dengan cara meminta warga mempercepat urusan di pasar serta pembatasan jarak antar pedagang dan pengunjung.
Terkait pedagang yang kedapatan sakit akan langsung ditangani dan tempat dagangnya ditutup sementara. Untuk orang-orang berisiko tinggi tertular Corona Covid-19, seperti warga lansia dan warga dengan penyakit bawaan diminta meminimalkan kunjungan ke pasar.
“Dengan penerapan seperti ini di pasar tradisional, maka diharapkan perekonomian dan pemutusan rantai penyebaran Corona Covid-19 di Surabaya bisa sama-sama jalan,” ucapnya.
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Muncul Serangan Tawon Pembunuh di Tengah Pandemi Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 19/05/2020
Berita
Pesan berantai yang berisi narasi bahwa muncul serangan tawon pembunuh di tengah pandemi Covid-19 beredar di WhatsApp pada Senin, 18 Mei 2020. Pesan itu disertai dengan video pendek yang memperlihatkan bahwa tawon beracun tersebut sudah muncul di Jakarta.
Dalam pesan berantai tersebut, disebutkan pula bahwa tawon pembunuh itu lebih mematikan ketimbang virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Menurut pesan berantai ini, tawon beracun itu telah menyerang India, Cina, serta Turki, dan saat ini sedang menuju Iran.
"Belum lagi habis Covid-19, kini Allah hantar lagi satu bala yang amat dasyat sekali. Kalau Covid1-9 kita boleh keluar di jalan untuk mencari makan. Tapi dengan musibah yang baru ini adalah lebih bahaya lagi dari Covid-19. Tidak boleh tinggal di luar (gigitan lebah pembunuh di katakan insect ini menyerang India, China, Turki dan sekarang menuju Iran). Kalau Covid-19 siapa yang terjangkit bisa mendapat perawatan di RS, ada yang hidup dan segelintir yang mati. Tapi gigitan lebah ini bila dia serang manusia terus akan menyebabkan kematian segera di tempat itu juga. Ini ada video2 dan gambar di bawah ini," demikian narasi dalam pesan berantai itu.
Adapun dalam video pendek berlogo Opini.id yang menyertai pesan berantai tersebut, terdapat tulisan bahwa jenis tawon pembunuh itu adalah tawonVespa affinis. Tawon tersebut pernah membunuh warga Klaten, Jawa Tengah, lalu kini muncul di Jakarta, tepatnya di wilayah Jakarta Timur.
Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp tentang serangan tawon pembunuh.
Apa benar tawonVespa affinismenyerang sejumlah negara serta mulai muncul di Indonesia saat pandemi Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memasukkan kata kunci "tawon Vespa affinis" dalam kotak pencarian di situs media Opini.id. Hasilnya, ditemukan bahwa Opini.id memang pernah mempublikasikan video itu dengan judul “Tawon Pembunuh Muncul Di Jakarta”. Namun, video itu dipublikasikan pada 4 Juli 2019, bukan pada Mei 2020 seperti yang diklaim dalam pesan berantai di atas.
Menurut keterangan video itu, sengatan tawonVespa affinistersebut menyebabkan kematian tujuh orang di Klaten, Jawa Tengah. Kemudian, tawon itu ditemukan di Jakarta. Peneliti biologi LIPI, Rosichon Ubaidillah, mengatakan tawonVespa affinismemang kerap ditemui di wilayah sub-tropis, termasuk Jakarta. "Vespa affinispenyebarannya cukup luas, hampir sub-tropis Asia bisa ditemukan, termasuk Jawa. Sangat mungkin ditemukan di Jakarta," katanya.
Dikutip dari Kompas.com, peristiwa meninggalnya warga Klaten karena sengatan tawonVespa affinistersebut terjadi pada 2017 (dua orang) dan 2018 (lima orang). Pemadam Kebakaran Klaten pun telah memusnahkan ratusan sarang tawonVespa affinisdi wilayahnya. Sebanyak 217 sarang dimusnahkan pada 2017 dan 207 sarang pada 2018.
Sementara itu, kemunculan tawonVespa affinisdi Jakarta terjadi pada 1 Juli 2019. Dilansir dari Trubus.id, sarang tawon pembunuh ini ditemukan di sebuah pohon di Jalan Cilingup Indah, Duren Sawit, Jakarta Timur. Sarang tawon dengan diameter 60 sentimeter tersebut kemudian diamankan oleh petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.
Adapun laporan terbaru menyebutkan bahwa tawon ini kembali menewaskan satu orang di Klaten pada 24 April 2020, yakni Poniman Sukarto, 85 tahun, warga Dusun Balong, Desa Beteng, Kecamatan Jatinom, Klaten. Dikutip dari Detik.com, Poniman disengat tawonVespa affinissaat mencari rumput. Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Soeradji Tirtonegoro, namun nyawanya tidak tertolong.
Benarkah saat ini menyerang India, Cina, Turki, dan Iran?
Lewat pencarian pemberitaan situs-situs media di Google, Tempo tidak menemukan adanya kasus serangan tawon dengan genus Vespa di India, Cina, Turki, maupun Iran baru-baru ini. Dilansir dari CNN, serangan tawon jenisVespa mandarinia, atau dikenal pula sebagai tawon raksasa dunia, pernah terjadi di Cina pada 2013 yang menyebabkan puluhan orang tewas dan sekitar 1.500 orang terluka. Tawon jenis ini memang ditemukan di seluruh wilayah Asia timur dan tenggara, seperti Cina, Korea, Jepang, India, dan Nepal.
Dikutip dari penelitian pada 2020 yang berjudul "The Diversity of Hornets in the Genus Vespa (Hymenoptera: Vespidae; Vespinae), Their Importance and Interceptions in the United States", tawon bergenus Vespa, termasukVespa affinisdanVespa mandarinia, adalah tawon predator yang berukuran besar asli Eropa dan Asia. Mereka memangsa beragam serangga, namun beberapa di antaranya hanya menjadi predator lebah madu.
Sarang tawon Vespa pun dapat memiliki ukuran yang sangat besar dengan lebih dari seribu tawon di dalamnya. Namun, biasanya, sarang tawon Vespa hanya memiliki ukuran yang cukup untuk ratusan tawon. Sarang ini melekat di cabang-cabang pohon atau semak-semak, di bawah atap atau tanah, tergantung pada spesiesnya. Dilansir dari situs Animal Diversity, terdapat 128 spesies tawon bergenus Vespa.
Pada 2019, dikutip dari National Geographic, tawonVespa mandariniaditemukan bermigrasi ke Amerika bagian utara. Tawon ini terlihat pertama kali di Kanada pada September 2019, kemudian di Washington, Amerika Serikat, tiga bulan kemudian. Saat ini, tawonVespa mandariniadikhawatirkan menghancurkan populasi lebah madu dan mengancam pasokan makanan AS.
Meskipun begitu, dilansir dari CGTN, para ahli menyatakan tawon tersebut tidak mungkin menyerang manusia kecuali diprovokasi. "Anda tidak perlu khawatir tentang itu," kata Floyd Shockley, manajer koleksi entomologi di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian. "Lebih banyak orang mati karena sengatan lebah madu di AS daripada orang mati karena lebih ini secara global setiap tahunnya."
Selain itu, dikutip dari LA Times, sengatan lebah raksasa Asia tidak mungkin membunuh manusia secara langsung. Di Jepang, menurut Susan Cobey, pembiak lebah di Universitas Washington, sekitar 50 orang meninggal setiap tahunnya akibat sengatan lebah, namun hal itu kemungkinan disebabkan oleh alergi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), rata-rata 62 orang meninggal setiap tahunnya di AS akibat sengatan lebah atau tawon.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa muncul serangan tawon pembunuh di sejumlah negara, termasuk Indonesia, saat pandemi virus Corona Covid-19 menyesatkan. Video yang digunakan untuk melengkapi klaim itu merupakan video peristiwa pada 2017, 2018, dan Juli 2019, sebelum munculnya virus Corona Covid-19 di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Selain itu, baru-baru ini, tidak ditemukan laporan adanya kasus serangan tawon dengan genus Vespa di India, Cina, Turki, maupun Iran.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://opini.id/sosial/watch-13224/tawon-pembunuh-muncul-di-jakarta
- https://regional.kompas.com/read/2019/01/11/15250781/berbahaya-sengatan-tawon-vespa-sebabkan-7-orang-meninggal-di-klaten
- https://news.trubus.id/baca/29646/tawon-pembunuh-jenis-vespa-affinis-muncul-di-jakarta
- https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4990689/sarang-tawon-vespa-yang-tewaskan-kakek-di-klaten-dimusnahkan/2
- https://edition.cnn.com/2013/10/03/world/asia/hornet-attack-china/index.html
- https://academic.oup.com/isd/article/4/3/2/5834678
- https://animaldiversity.org/accounts/Vespa/classification/
- https://www.nationalgeographic.com/animals/2020/05/asian-giant-hornets-arrive-united-states/
- https://newsus.cgtn.com/news/2020-05-13/-Should-you-be-scared-of-of-the-Asian-giant-hornet--QrUqOsy1NK/index.html
- https://www.latimes.com/science/story/2020-05-06/murder-hornets-theyre-probably-not-as-bad-as-you-think
[SALAH] Golden Swalayan Jadi Klaster Baru Covid-19, Warga Wajib Lapor RT Jika Ingin Berkunjung
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 19/05/2020
Berita
Masyarakat Kota Kediri dikejutkan dengan beredarnya informasi perihal adanya klaster baru persebaran virus corona atau Covid-19 yakni pusat perbelanjaan Golden Swalayan. Menurut narasi yang beredar, warga diminta wajib lapor terlebih dahulu kepada RT di wilayahnya masing-masing apabila ingin berkunjung ke Golden Swalayan. Untuk menambah rasa percaya public, pesan tersebut bahkan mencatut nama Humas Pemerintah Kota Kediri.
Hasil Cek Fakta
Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut, belakangan diketahui bahwa narasi yang terdapat dalam pesan tersebut adalah palsu. Melansir dari suara.com, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri, Fauzan Adima dengan tegas menyatakan bahwa pesan tersebut adalah tidak benar alias hoaks.
“Berita yang beredar tersebut hoaks dari orang yang tidak bertanggungjawab dan berusaha memecah belah. Kami tidak pernah mengeluarkan himbauan seperti itu,” pungkasnya.
Lanjut Fauzan menjelaskan, bahwa sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri memang sempat melakukan sampling Rapid Test di Golden Swalayan dan hasilnya reaktif. Namun untuk memastikan hal tersebut, Dinkes Kota Kediri akhirnya melakukan test ulang sehari setelahnya dan mendapati hasilnya non reaktif.
“Tadi pagi kami Rapid Test yang kedua hasilnya non reaktif. Jadi masyarakat jangan tergesa-gesa menyimpulkan, karena metodologi test virus corona ini memang harus bertahap,” jelasnya.
“Berita yang beredar tersebut hoaks dari orang yang tidak bertanggungjawab dan berusaha memecah belah. Kami tidak pernah mengeluarkan himbauan seperti itu,” pungkasnya.
Lanjut Fauzan menjelaskan, bahwa sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri memang sempat melakukan sampling Rapid Test di Golden Swalayan dan hasilnya reaktif. Namun untuk memastikan hal tersebut, Dinkes Kota Kediri akhirnya melakukan test ulang sehari setelahnya dan mendapati hasilnya non reaktif.
“Tadi pagi kami Rapid Test yang kedua hasilnya non reaktif. Jadi masyarakat jangan tergesa-gesa menyimpulkan, karena metodologi test virus corona ini memang harus bertahap,” jelasnya.
Kesimpulan
Melalui pesan berantai Whatsapp pusat perbelanjaan Golden Swalayan, Kediri disebut sebagai klaster baru persebaran virus corona atau Covid-19. Oleh sebab itu warga diminta wajib lapor kepada Ketua RT di wilayahnya masing-masing apabila hendak berkunjung ke Golden Swalayan. Pasca beredarnya pesan yang menggegerkan warga tersebut, pihak Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri pun akhirnya angkat bicara, dengan menyatakan bahwa pesan tersebut adalah palsu alias hoaks.
Rujukan
- https://jatim.suara.com/read/2020/05/19/152300/heboh-pengunjung-swalayan-modern-wajib-lapor-rt-pemkot-kediri-itu-hoaks
- https://www.bangsaonline.com/berita/74427/%E2%80%8Bberita-yang-mencatut-humas-pemkot-kediri-terkait-klaster-golden-swalayan-dipastikan-hoaks
- https://jatim.tribunnews.com/2020/05/19/hoax-imbauan-humas-pemkot-kediri-ke-warga-agar-lapor-rt-seusai-dari-golden-swalayan-kabar-tak-jelas
- https://duta.co/hoax-viral-pesan-atas-namakan-humas-pemkot-kediri-kasus-golden-swalayan
Halaman: 7452/8507

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3112006/original/082234900_1587807272-25_april_2020-3_ok.jpg)

