[Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia Sudah Borong Vaksin Covid-19 dari Cina Meski WHO Sebut Belum Ada Vaksin Resmi?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/07/2020
Berita
Akun Facebook Fayzmawon membagikan gambar tangkapan layar dan tautan artikel dari situs Swarakyat pada 22 Juli 2020. Artikel yang dimuat pada 21 Juli 2020 itu berjudul "WHO Sebut Belum Ada Vaksin Resmi Covid-19, Indonesia Malah Sudah Borong Vaksin Asal China".
Akun itu pun menambahkan kata "waspada" dalam unggahannya tersebut. Unggahan ini beredar setelah 2.400 vaksin Sinovac dari Cina didatangkan ke Indonesia untuk diuji klinis tahap ketiga pada Agustus 2020. Vaksin Covid-19 itu akan diujicobakan terhadap 1.620 sukarelawan.
Sejumlah warganet pun mempercayai narasi dalam judul artikel Swarakyat itu. Akun Kang Anam Tinamune misalnya, mengomentari unggahan akun Fayzmawon dengan berkata, “Jadi harus lebih teliti dan waspada niih.” Warganet lain, Fahrur Rozy, menulis, “Semua itu bisnis gan, kita dibodohi.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Fayzmawon.
Apa benar Indonesia sudah borong vaksin Covid-19 dari Cina meski WHO sebut belum ada vaksin resmi?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, judul artikel situs Swarakyat tersebut menyesatkan. Judul itu tidak sesuai dengan isi artikel. Dalam paragraf ke-6 artikel tersebut, dijelaskan bahwa vaksin Sinovac dari Cina itu didatangkan ke Indonesia untuk diuji coba fase ketiga.
Uji coba tersebut dilakukan oleh Sinovac Biotech Cina yang bekerja sama dengan PT Bio Farma. Dalam melakukan uji coba itu, Biofarma melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (FK Unpad) Bandung. Karena masih diuji coba, vaksin Sinovac ini belum resmi menjadi vaksin Covid-19.
Di sisi lain, Swarakyat bukan termasuk situs media kredibel karena hanya mengambil konten dari situs media lain tanpa menyebutkan sumbernya. Situs tersebut tidak mencantumkan penanggung jawab, susunan redaksi, serta alamat perusahaan.
Padahal, ketentuan terkait itu diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berbunyi "Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan."
Kedatangan vaksin Sinovac untuk diuji klinis
Produksi vaksin membutuhkan proses yang panjang. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat ( CDC ) menjelaskan ada enam tahap yang biasanya diperlukan dalam pengembangan vaksin, yakni eksplorasi, pra-klinis, pengembangan klinis, tinjauan peraturan dan persetujuan, produksi, dan kontrol kualitas.
Pengembangan klinis meliputi tiga fase. Selama fase I, sejumlah orang menerima vaksin percobaan. Pada fase II, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang yang memiliki karakteristik (seperti usia dan kesehatan fisik) yang mirip dengan orang yang menjadi sasaran vaksin baru.
Pada fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang serta diuji efikasi dan keamanannya. Pelibatan warga Indonesia dalam uji coba vaksin Sinovac termasuk dalam fase III ini. Selain Indonesia, Brasil dan Bangladesh juga berpartisipasi dalam uji klinis fase III vaksin Sinovac.
Selain Sinovac, vaksin Covid-19 lain juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS dan Inggris. Sama halnya dengan Sinovac, perusahaan-perusahaan itu menerapkan prosedur yang mengujicobakan vaksin buatannya kepada warga negara lain.
Di Australia misalnya, beberapa vaksin Covid-19 sedang diuji coba. Salah satunya adalah vaksin yang dikembangkan Clover Biopharmaceuticals yang berbasis di Cina. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di AS, Novavax, pun sudah memulai uji coba vaksinnya di Australia pada Mei 2020.
Diperkirakan, Novavax akan segera memperluas pengujiannya ke AS dan negara-negara lain. Uji coba skala besar pun akan dimulai di AS pada Agustus oleh kandidat vaksin yang dikeluarkan oleh Universitas Oxford. Uji coba vaksin ini didanai oleh pemerintah Inggris.
Di Indonesia, pendaftaran relawan uji klinis telah dibuka hingga 31 Agustus 2020, setelah tim riset uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac dari FK Unpad mengantongi izin dari Komite Etik Penelitian Unpad. Tim riset telah membuat sejumlah persyaratan bagi relawan yang berminat ikut uji klinis. Kriteria utamanya adalah kondisi sehat dan berusia 18-59 tahun. Selain mematuhi protokol kesehatan, relawan juga bersih dari riwayat terinfeksi Covid-19.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, judul artikel yang dimuat oleh situs Swarakyat, yakni "WHO Sebut Belum Ada Vaksin Resmi Covid-19, Indonesia Malah Sudah Borong Vaksin Asal China", menyesatkan. Judul ini tidak sesuai dengan isi artikel yang justru menjelaskan bahwa vaksin Sinovac dari Cina itu didatangkan ke Indonesia untuk diuji coba fase ketiga. Uji coba tersebut dilakukan oleh Sinovac Biotech Cina yang bekerja sama dengan PT Bio Farma.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://web.archive.org/web/20200729023124/
- https://www.facebook.com/photo.php?fbid=288497222220621&set=a.102042324199446&type=3&theater=
- https://www.swarakyat.com/2020/07/who-sebut-belum-ada-vaksin-resmi-covid.html
- https://www.cdc.gov/vaccines/basics/test-approve.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/914/fakta-atau-hoaks-benarkah-indonesia-satu-satunya-negara-yang-jadi-kelinci-percobaan-vaksin-covid-19-dari-cina
- https://tekno.tempo.co/read/1369851/izin-uji-klinis-vaksin-covid-19-sinovac-keluar-relawan-dibuka/full&view=ok
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tes PCR Tak Bisa Bedakan Terpapar dan Terinfeksi serta Virus Hidup dan Virus Mati?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/07/2020
Berita
Akun Facebook Moh Indro Cahyono mengunggah sebuah klaim yang menyebut tes PCR (polymerase chain reaction) tidak bisa membedakan terpapar dengan terinfeksi, sehat dengan sakit, serta virus hidup dengan virus mati. Klaim tersebut dibagikan pada 26 Juli 2020.
Berikut narasi lengkap yang diunggah oleh akun tersebut:
“PCR TIDAK bisa membedakan terpapar & terinfeksi, sehat atau sakit, virus hidup atau mati.PCR HANYA menjawab ada virus di tempat pengambilan sampel / organ.
Jika terpapar awal oleh virus hidup = BELUM SAKITJika terinfeksi oleh virus hidup = SAKITJika terinfeksi oleh virus mati = TIDAK SAKITJika terinfeksi ulang virus hidup setelah pernah kena = KEBAL
Bagaimana cara menentukan penyakit ? lihat saja SEHAT atau SAKIT.Tetap jaga kesehatanTetap waspada & jaga kebersihanTetap TIDAK NYEMBAH PCRTetap sembah Tuhan & JANGAN MENYEPELEKAN Tuhan”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Moh Indro Cahyono.
Benarkah tes PCR tidak bisa membedakan terpapar dengan terinfeksi, sehat dengan sakit, serta virus hidup dengan virus mati?
Hasil Cek Fakta
Klaim tes PCR tak bisa bedakan terpapar dengan terinfeksi
Untuk memverifikasi klaim ini, Tim CekFakta Tempo menghubungi Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Berry Juliandi. Menurut Berry, tes PCR bisa membedakan terpapar dengan terinfeksi virus sepanjang sampel yang diambil adalah sampel virus aktif yang berada di dalam sel, bukan sampel yang berada di permukaan sel atau jaringan. "Sehingga yang diisolasi saat pengambilan sampel sel adalah RNA virus aktif yang sudah menginfeksi sel," ujar Berry pada 29 Juli 2020.
Guru Besar Universitas Airlangga sekaligus Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation (PNF), Chairul Anwar Nidom, mengatakan tes PCR merupakan metode untuk melihat apakah dalam tubuh seseorang terdapat gejala virus atau bakteri, baik secara utuh maupun potongan atau inaktif. "Khusus untuk virus yang disebut diagnosa konfirmasi melalui PCR (hidup dan mati) serta kultur virus (hidup)," ujar Nidom saat dihubungi pada 29 Juli 2020.
Dilansir dari The Guardian, Andrew Preston, ahli biologi dan biokimia dari Universitas Bath, mengatakan bahwa tes PCR sangat efektif untuk mendeteksi virus, namun efektivitas itu tergantung pada seberapa tepat petugas medis mengambil sampel dari hidung dan bagian belakang tenggorokan pasien.
“Jika virus tidak terangkat pada swab, hasilnya akan negatif. Jadi, seberapa efektif swab diambil, serta jumlah virus yang terdapat pada lokasi pengambilan sampel, akan menentukan apakah virus terdeteksi dari orang yang terinfeksi,” kata Preston.
Klaim tes PCR tak bisa bedakan sehat dengan sakit
Menurut Berry, tes PCR memang tidak bisa membedakan apakah seseorang sedang sehat atau sakit karena tes PCR hanyalah salah satu alat bantu proses diagnosis. Seseorang dapat dinyatakan sakit bila memiliki gejala atau simtom. Namun, dalam kasus tanpa gejala pun, seseorang sebenarnya sudah bisa dikatakan "sakit" bila sel-sel tubuhnya telah mengalami kerusakan akibat infeksi virus.
Nidom juga menjelaskan bahwa sehat atau sakit adalah kriteria klinis. Tes PCR sendiri berfungsi untuk menunjukan ada atau tidaknya virus dalam tubuh seseorang. Jika terdapat virus, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yakni timbul sakit dan sudah pasti dapat menularkan virus atau tidak timbul sakit (orang tanpa gejala atau OTG) tapi tetap bisa menularkan virus.
Sakit atau pun tanpa gejala, menurut Nidom, merupakan hasil interaksi antara virus dengan kondisi tubuh. Virus bisa menimbulkan infeksi jika konsentrasinya mencapai jumlah minimal 10 pangkat 5-7. "Meskipun demikian, infeksi ini belum tentu menimbulkan sakit karena tergantung kondisi tubuh. Tapi orang yang membawa virus punya potensi besar untuk menularkannya kepada orang lain," ujar Nidom.
Klaim tes PCR tak bisa bedakan virus hidup dengan virus mati
Terkait klaim bahwa tes PCR tidak bisa membedakan virus hidup dengan virus mati, menurut Berry, juga tidak tepat. Pasalnya, virus sebenarnya bukan makhluk hidup karena tidak terdiri atas unit terkecil yang disebut sel. "Jadi, tes apa pun tidak akan mampu membedakan virus hidup dan mati karena mereka bukan makhluk hidup," katanya.
Namun, menurut Berry, tes PCR dapat membedakan virus mana yang mampu menginfeksi sel jika sampel virus didapatkan dari sel-sel tubuh manusia. "Ini artinya virus tersebut aktif atau 'hidup'," ujar Berry.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa tes PCR tidak bisa membedakan terpapar dengan terinfeksi, sehat dengan sakit, serta virus hidup dengan virus mati, menyesatkan. Tes PCR bisa membedakan terpapar dengan terinfeksi virus sepanjang sampel yang diambil adalah sampel virus aktif yang berada dalam sel. Tes PCR memang tidak bisa membedakan sehat dengan sakit karena tes PCR hanya alat bantu proses diagnosis. Seseorang dapat dinyatakan sakit bila memiliki gejala. Namun, dalam kasus tanpa gejala pun, seseorang sebenarnya sudah bisa dikatakan "sakit" bila sel-sel tubuhnya telah mengalami kerusakan akibat infeksi virus. Adapun terkait klaim bahwa tes PCR tidak bisa membedakan virus hidup dengan virus mati, juga tidak tepat.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[SALAH] Awas Hati-hati Apa Yang Disemprotkan FPI Adalah Virus Corona
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/07/2020
Berita
“AWAS HATI2 YANG DIMSEMPROTKAN FPI ADALAH VIRUS CORONA!!!!!”
Hasil Cek Fakta
Akun facebook bernama Maverick mengunggah sebuah foto dengan narasi “AWAS HATI2 YANG DIMSEMPROTKAN FPI ADALAH VIRUS CORONA!!!!!”. Dalam foto terlihat 2 anggota FPI tengah menyemprot cairan yang diklaim akun Maverick adalah virus corona.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari website milik FPI, foto tersebut merupakan foto Relawan HILMI-FPI (Hilal Merah Indonesia – Front Pembela Islam) Kota Makassar yang berlanjut melakukan penyemprotan cairan disinfektan ke sejumlah Masjid. (Ahad, 22/3/2020).
Hari ke-2 Ahad, 22 Maret 2020 kembali Relawan HILMI-FPI Kota Makassar melakukan Kegiatan penyemprotan disinfektan dan pembersihan Tempat Ibadah (Masjid) guna mencegah penyebaran Virus Corona.
Kali ini Penyemprotan dilakukan di 6 Masjid antara lain yaitu :
Masjid Al-Mutazam Minasa Upa
Masjid Al-Ikhlas BTN Minasa Upa
Masjid Permata Hijau Aroepala
Masjid Darul Mubarakah Rappokalling
Masjid Nurul Ittihad Urip Sumoharjo
Masjid Daaruttaubah BTN paropo.
Kegiatan ini dikomandoi oleh Ust. Ilham Al-Miqdad dimana dalam penyampaiannya berharap FPI tetap Istiqomah menjadi Pelayan Ummat dan Pembela Agama.
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari website milik FPI, foto tersebut merupakan foto Relawan HILMI-FPI (Hilal Merah Indonesia – Front Pembela Islam) Kota Makassar yang berlanjut melakukan penyemprotan cairan disinfektan ke sejumlah Masjid. (Ahad, 22/3/2020).
Hari ke-2 Ahad, 22 Maret 2020 kembali Relawan HILMI-FPI Kota Makassar melakukan Kegiatan penyemprotan disinfektan dan pembersihan Tempat Ibadah (Masjid) guna mencegah penyebaran Virus Corona.
Kali ini Penyemprotan dilakukan di 6 Masjid antara lain yaitu :
Masjid Al-Mutazam Minasa Upa
Masjid Al-Ikhlas BTN Minasa Upa
Masjid Permata Hijau Aroepala
Masjid Darul Mubarakah Rappokalling
Masjid Nurul Ittihad Urip Sumoharjo
Masjid Daaruttaubah BTN paropo.
Kegiatan ini dikomandoi oleh Ust. Ilham Al-Miqdad dimana dalam penyampaiannya berharap FPI tetap Istiqomah menjadi Pelayan Ummat dan Pembela Agama.
Kesimpulan
Bukan virus corona. Foto tersebut merupakan kegiatan Relawan HILMI-FPI (Hilal Merah Indonesia – Front Pembela Islam) Kota Makassar yang melakukan penyemprotan Disinfektan ke sejumlah Masjid. (Ahad, 22/3/2020).
Rujukan
[SALAH] “Kapal Kargo Pengangkut Kadrun tenggelam di Laut China Selatan”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/07/2020
Berita
Akun Yoga Howedes (fb.com/yoga.fratama.503) mengunggah sebuah gambar yang seolah merupakan artikel berjudul “Kapal Kargo Pengangkut Kadrun tenggelam di Laut China Selatan” yang dimuat di situs CNN pada Minggu, 27 Juli 2020 dan ditulis oleh Andre Nugraha.
Terdapat juga narasi sebagai berikut:
“Kapal Kargo dari Indonesia tujuan ke China dilaporkan tenggelam di Laut China Selatan pada Sabtu malam pukul 22:00 waktu setempat akibat kebocoran lambung Kapal. Kapal tersebut mengangkut Kadrun tujuan China dengan tujuan sebagai objek percobaan Vaksin Covid-19, dimana harga monyet di China sangat mahal sementara harga Kadrun bisa 10 kali lebih murah dari harga monyet. Sampai saat ini masih dalam penyelidikan Otoritas Tiongkok mengenai sebab kecelakaan fatal tersebut.”
Terdapat juga narasi sebagai berikut:
“Kapal Kargo dari Indonesia tujuan ke China dilaporkan tenggelam di Laut China Selatan pada Sabtu malam pukul 22:00 waktu setempat akibat kebocoran lambung Kapal. Kapal tersebut mengangkut Kadrun tujuan China dengan tujuan sebagai objek percobaan Vaksin Covid-19, dimana harga monyet di China sangat mahal sementara harga Kadrun bisa 10 kali lebih murah dari harga monyet. Sampai saat ini masih dalam penyelidikan Otoritas Tiongkok mengenai sebab kecelakaan fatal tersebut.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim adanya artikel berjudul “Kapal Kargo Pengangkut Kadrun tenggelam di Laut China Selatan” yang dimuat di situs CNN pada Minggu, 27 Juli 2020 dan ditulis oleh Andre Nugraha adalah klaim yang salah.
Faktanya, gambar itu hasil suntingan atau editan. Tidak ada artikel berita seperti itu di situs CNN Internatonal ataupun CNN Indonesia. Foto kapal yang digunakan adalah kapal yang menabrak karang Astrolabe (Astrolabe Reef) yang terletak di sekitar Selandia Baru pada Oktober 2011.
Medcom juga menelusuri nama Andre Nugraha yang disebut sebagai penulis artikel tersebut di CNN Internatonal. Hasilnya dari dua situs CNN.com dan CNNIndonesia.com, tidak ditemukan informasi tersebut.
Selain itu, hari Minggu bukanlah tanggal 27 Juli 2020, melainkan tanggal 26 Juli 2020.
Faktanya, gambar itu hasil suntingan atau editan. Tidak ada artikel berita seperti itu di situs CNN Internatonal ataupun CNN Indonesia. Foto kapal yang digunakan adalah kapal yang menabrak karang Astrolabe (Astrolabe Reef) yang terletak di sekitar Selandia Baru pada Oktober 2011.
Medcom juga menelusuri nama Andre Nugraha yang disebut sebagai penulis artikel tersebut di CNN Internatonal. Hasilnya dari dua situs CNN.com dan CNNIndonesia.com, tidak ditemukan informasi tersebut.
Selain itu, hari Minggu bukanlah tanggal 27 Juli 2020, melainkan tanggal 26 Juli 2020.
Kesimpulan
Gambar suntingan / editan. Tidak ada artikel berita seperti itu di situs CNN Internatonal ataupun CNN Indonesia. Foto kapal yang digunakan adalah kapal yang menabrak karang Astrolabe (Astrolabe Reef) yang terletak di sekitar Selandia Baru pada Oktober 2011.
Rujukan
Halaman: 7481/8695



