• Konsumsi Temulawak dan Kunyit Bikin Tubuh Rentan Corona COVID-19, Fakta atau Hoaks?

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 24/07/2020

    Berita

    *HINDARI KUNYIT DAN TEMULAWAK SEMENTARA WAKTU*
    Apakah temulawak dan kunyit meningkatkan ekspresi enzim ACE2

    Hasil Cek Fakta

    Liputan6.com, Jakarta - Jamu, minuman kaya akan kandungan rempah ini tengah dimanfaatkan konsumsinya oleh publik sebagai upaya preventif infeksi corona COVID-19. Namun, sudah beberapa hari sejak beredar informasi di media sosial terkait ajakan menghindari konsumsi jamu temulawak dan kunit.

    Imbauan ini menyebutkan bahwa dua bahan tersebut malah menjadikan tubuh rentan terpapar virus yang sudah berstatus pandemi tersebut.

    "(Masyarakat) Jadi takut mengonsumsi jamu empon-empon yang mengandung temulawak dan kunyit, maupun suplemen herbal berisi senyawa aktif Curcumin," kata Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Inggrid Tania lewat keterangan resmi yang diterima Liputan6.com, Kamis (19/3/2020).

    Karenanya, Inggrid berupaya membeberkan poin-poin penting terkait informasi tersebut. Ia menjelaskan, berbagai penelitian, terutama penelitian in-vitro dan praklinis, di dunia menunjukkan bahwa Curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur, dan antioksidan.
    "Salah satu manfaat Curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator," sambungnya.

    Penelitian terakhir terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit corona COVID-19 menunjukkan, reseptor virus tersebut adalah enzim bernama ACE2 yang terdapat pada sel inang, yakni sel manusia, terutama sel alveolus dalam paru.

    Namun, pintu masuk virus SARS-CoV-2 tak hanya bergantung pada ikatan protein spike virus dengan reseptor pada sel inang (ACE2), tapi juga priming protein spike oleh protease sel inang.

    Secara fungsional, ada dua bentuk ACE2, yakni fixed, menempel pada permukaan sel, dan soluble, bentuk bebas dalam darah. ACE2 bentuk soluble diproyeksikan jadi salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2 melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

    Penelitian bio-informatika yang dipublikasikan Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebut bahwa Curcumin merupakan salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2.

    "Maka diharapkan Curcumin (kandungan di temulawak dan kunyit) mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed pada permukaan sel inang," paparnya.

    Kesimpulan

    Inggrid menambahkan, adapun kepustakaan jurnal acuan pesan yang beredar di berbagai media sosial dengan Xue-Fen Pang sebagai Peneliti Utama, berisi penelitian yang sebatas menyimpulkan Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel miokardium hewan tikus.

    "Sebagai catatan khusus, Peneliti Utama tersebut pernah memiliki riwayat retracted article atau ditariknya publikasi artikel dari jurnal atas dasar diragukan integritas dari hasil penelitian," katanya.

    Berdasarkan penelitian yang sudah dijabarkan di atas, ia mengatakan, penarikan kesimpulan kandungan tersebut pada tubuh manusia terlalu dini.

    "Sehingga, larangan konsumsi jamu temulawak dan kunyit, serta suplemen Curcumin dengan alasan menimbulkan kerentanan terhadap COVID-19 merupakan larangan tidak rasional karena belum ada satu pun penelitian yang mengkonfirmasi dampak buruk temulawak, kunyit, maupun Curcumin terhadap COVID-19," imbuhnya.

    dr. Inggrid mengatakan, jamu yang mengandung temulawak dan kunyit sendiri sudah dikonsumsi masyarakat Indonesi

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “BIADAB BANGET PERLAKUAN MEREKA SAMA JENAZAH MUSLIM ‼️‼️‼️”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 24/07/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui Whatsapp video yang diklaim sebagai tindakan petugas Gugus Tugas Covid-19 yang tidak memandikan dan mengkafani jenazah. Dalam narasi disebutkan bahwa jenazah meninggal karena serangan jantung dan kondisi saat akan dimakamkan masih memakai baju dan sarung.

    Berikut kutipan narasinya:

    “BIADAB BANGET PERLAKUAN MEREKA SAMA JENAZAH MUSLIM ‼️‼️‼️
    😡😡😡
    • • • • • •

    Gugus tugas Covid-19 menyatakan Jenazah sdh dimandikan dan dikafani dan segera dimakamkan sesuai prosedur Covid-19

    Keluarga tidak terima karena Almarhum meninggal akibat serangan jantung. Peti dibuka paksa oleh pihak keluarga ternyata keadaan jenazah belum dikafani, kondisi masih memakai Baju dan Sarung seperti saat diantar ke RS

    ( Kejadian di Madura )”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa kejadian dalam video bukan terjadi di Madura, melainkan di Kabupaten Pasuruan. Selain itu, penyebabnya bukan lantaran jenazah tidak dimandikan dan masih menggunakan pakaian saat dibawa ke rumah sakit.

    Peristiwa dalam video bermula saat tim medis memakamkan pasien laki-laki berinisial AR (29) di TPU Desa Rowogempol, pukul 11.30 WIB. Seratusan warga desa yang dimotori keluarga pasien mengepung dan merebut peti jenazah.

    "Warga sangat banyak, para petugas diancam," kata Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan Anang Saiful Wijaya.

    Anang menjelaskan, setelah direbut, peti jenazah dibawa ke rumah kemudian disalati di masjid. Saat itu, posisi peti masih tertutup sesuai protokol.

    "Setelah disalati peti jenazah dibawa ke TPU untuk dimakamkan diantar ratusan warga," terang Anang.

    Hal tidak terduga terjadi saat prosesi pemakaman. Warga membongkar peti dan memakamkan jenazah seperti pada umumnya. Pihak keluarga pasien yang menguburkan. Sedangkan peti di buang warga. Petugas tidak berkutik.

    "Saat dimakamkan pukul 11.00 tadi, hasil swab-nya belum keluar. Hasil swab-nya keluar pukul 13.00 WIB dan pasien tersebut terkonfirmasi positif Covid-19," sesal Anang.

    Anang kemudian membeberkan riwayat pasien. Pasien tersebut dibawa berobat ke RSUD Grati, dengan keluhan sakit sesak napas, Selasa (14/7). Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien tersebut sudah mengeluh sesak napas selama 14 hari.

    Setelah menjalani pengobatan sampai Rabu siang, kondisi pasien mulai membaik. Namun, hasil foto torax menunjukkan AR mengalami pneumonia dan hasil rapid test reaktif. "Sehingga tim dokter pun melakukan tes swab," jelas Anang.

    Malam hari, kondisi kesehatannya menurun dan sesak napasnya kambuh. Pasien tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05.00 WIB tadi.

    Karena hasil swab-nya belum turun, keluarganya tidak berkenan dimakamkan dengan protokol COVID-19. Namun setelah berunding keluarganya mengizinkan asal pemulasaraannya di RSUD R Soedarsono Kota Pasuruan.

    "Namun saat akan dimakamkan, terjadilah insiden warga merebut jenazah siang tadi," pungkas Anang.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten yang tersebar melalui pesan berantai Whatsapp tersebut menyesatkan. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Wanita Bercadar Ini Warga Palestina yang Ikut Perang?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 23/07/2020

    Berita


    Sebuah foto yang memperlihatkan beberapa wanita bercadar hitam yang mengangkat senjata beredar di media sosial. Para wanita itu juga mengenakan rompi loreng. Para wanita dalam foto tersebut diklaim warga Palestina yang ikut berperang.
    Di Facebook, foto itu diunggah salah satunya oleh akun Fhiraa, yakni pada 19 Juli 2020. Akun ini menuliskan narasi, "Wanita bercadar di palestina sibuk berperang sedangkan wanita bercadar di indonesia sibuk selfie dengan caption Istiqomah tanpa batas. Astaghfirullah.”
    Hingga artikel ini dimuat, foto tersebut telah dibagikan lebih dari 4.400 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Fhiraa.
    Apa benar wanita bercadar dalam foto tersebut merupakan wanita Palestina yang ikut berperang?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto unggahan akun Fhiraa denganreverse image tool Source. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut pernah dimuat situs Mosnad.com pada 14 Oktober 2015 dengan judul "Taiz merayakan revolusi 14 Oktober".
    Situs Yemennewsgate.net juga pernah memuat foto itu pada tanggal yang sama, yakni 14 Oktober 2015, dalam artikelnya yang berjudul “Parade khidmat Perlawanan Rakyat Taiz pada peringatan ulang tahun Oktober”.
    Artikel itu menceritakan parade militer yang digelar oleh Perlawanan Rakyat Taiz di Yaman dalam rangka peringatan Revolusi 14 Oktober. Sejumlah Brigade Al-Jaid dan Perlawanan berpartisipasi dalam parade militer itu, termasuk batalion pasukan khusus wanita yang lulus minggu lalu.
    Upacara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Sheikh Hammoud al-Mikhlafi, pemimpin Perlawanan Rakyat Taiz.Parade militer ini mengejutkan semua orang yang menyaksikannya dalam hal mobilisasi dan organisasi, terlepas dari pengepungan yang dilakukan terhadap Taiz oleh milisi Houthi dan Saleh pada 14 Oktober 2015.
    Parade militer ini juga diberitakan oleh Sky News Arabia. Sky News Arabia menulis, terlepas dari pengepungan oleh milisi Houthi, Perlawanan Rakyat dan Dewan Militer Taiz menyelenggarakan parade militer yang meriah pada hari peringatan Revolusi 14 Oktober melawan pendudukan Inggris di Yaman Selatan.
    Ratusan warga menghadiri parade militer yang digelar di Jalan Jamal di Taiz itu. Dalam pidatonya di parade tersebut, Kepala Dewan Militer Taiz, Brigadir Jenderal Sadiq Ali Sarhan, mengatakan bahwa "kepemimpinan politik bertekad menghancurkan pengepungan, membebaskan Taiz dan semua provinsi dari milisi kudeta pemberontak, dan mencapai impian negara yang beradab."
    Dilansir dari Anydayguide.com, 14 Oktober merupakan hari libur nasional yang penting di Yaman yang disebut Hari Pembebasan. Pada hari tersebut, warga Yaman memperingati pemberontakan melawan Inggris di Yaman selatan yang akhirnya mengarah pada kemerdekaan Yaman Selatan.
    Yaman Selatan menjadi protektorat Inggris pada 1869. Hal ini dikenal sebagai Protektorat Aden. Sementara Yaman Utara, saat itu, adalah bagian dari Kekaisaran Ottoman. Setelah Perang Dunia I, Yaman Utara memperoleh kemerdekaan, sedangkan Yaman Selatan tetap di bawah kendali Inggris.
    Bangkitnya nasionalisme Arab pada 1960-an mendorong kelompok nasionalis Yaman Selatan untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Pada 14 Oktober 1963, Front Pembebasan Nasional dan Front Pembebasan Pendudukan Yaman Selatan memulai perjuangan bersenjata melawan kontrol Inggris atas wilayahnya. Hal ini dikenal sebagai Aden Emergency. Pemberontakan ini berlangsung selama 4 tahun.
    Pada 30 November 1967, Yaman Selatan akhirnya mendapatkan kemerdekaan dari Inggris. Ketika Yaman Utara dan Yaman Selatan dipersatukan menjadi satu negara, Republik Yaman, 14 Oktober ditetapkan sebagai hari libur nasional. Hari Pembebasan ini biasanya dirayakan dengan pidato resmi, unjuk rasa, dan parade di seluruh negeri.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa wanita bercadar yang mengangkat senjata dalam foto di atas merupakan warga Palestina yang ikut berperang, keliru. Wanita bercadar dalam foto tersebut adalah prajurit batalion pasukan khusus wanita Yaman dalam parade militer yang memperingati Revolusi 14 Oktober di Taiz, Yaman, pada 2015.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Operasi Usus yang Berisi Mi Instan yang Tak Bisa Dicerna?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 23/07/2020

    Berita


    Video yang diklaim sebagai video operasi usus yang berisi mi instan beredar di media sosial. Menurut klaim itu, mi instan tersebut tak bisa dicerna sehingga harus dikeluarkan dengan cara dioperasi. Di Facebook, video ini dibagikan salah satunya oleh akun Wajah Informasi, yakni pada 27 Juni 2020.
    Dalam video berdurasi tiga menit itu, terlihat dua tenaga medis yang sedang mengeluarkan benda menyerupai mi dari usus seorang pasien. Di bagian akhir video, tertulis narasi bahwa video ini diambil oleh dokter Harish Shukla dari Rumah Sakit Apollo, India.
    "Beliau mengungkapkan bahwa sistem pencernaan atau usus kita tidak bisa mencerna secara cepat makanan sejenis mi atau spaghetti. Ini adalah salah satu operasi penyumbatan mi atau spaghetti di dalam usus. Semoga kita bijak dalam makan mie. Salam Sehat!" demikian narasi di bagian akhir video tersebut.
    Hingga artikel ini dibuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 6.300 kali dan dikomentari lebih dari 600 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Wajah Informasi.
    Apa benar video di atas merupakan video operasi usus yang berisi mi instan yang tak bisa dicerna?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula mencari jejak digital video di atas dengan memasukkan kata kunci "video operasi usus karena makan mi instan" di mesin perambah Google. Hasilnya, ditemukan sejumlah situs yang memuat gambar tangkapan layar video tersebut.
    Situs Detik.com misalnya, pernah memuat gambar tangkapan layar video itu pada 26 Oktober 2017 dalam artikelnya yang berjudul "Isu Hoax Banyak Makan Mi Sebabkan Penyumbatan Usus". Detik.com menulis, menurut penelusuran oleh Indonesian Hoaxes, video tersebut telah beredar sejak 2013.
    Namun, video itu diberi keterangan bahwa aktivitas dalam video tersebut merupakan operasi pengangkatan cacing parasit. "Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan bahwa video itu bukanlah video operasi penyumbatan mi atau spaghetti, melainkan operasi diangkatnya intestinal parasite (parasit usus)," demikian penjelasan dari Indonesian Hoaxes.
    Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengatakan mi dan sejenisnya merupakan bahan makanan yang mengandung tepung, lemak, dan protein. Karena itu, mi tentu akan hancur bila dicerna.
    Hanya saja, seseorang tidak disarankan mengkonsumsi mi terlalu sering. Pasalnya, menurut pakar gizi teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Made Astawan, gizi yang terkandung dalam mi tidak sempurna.
    Organisasi cek fakta India, Alt News, pun pernah memverifikasi video tersebut yang juga beredar di India. Berdasarkan penelusuran Alt News, video itu pernah diunggah pada 24 Agustus 2015 oleh seorang dokter India, Paresh Ruparel, di kanal YouTube-nya. Video itu diberi keterangan, "Beberapa cacing gelang di usus kecil, operasi pembedahan dilakukan".
    Alt News pun menghubungi Ruparel, yang merupakan dokter bedah umum. Dia mengatakan, "Ini jelas bukan mi, tidak mungkin, ini terlalu utuh. Setelah masuk ke perut, mi akan berubah menjadi cair karena getah lambung. Ini adalah cacing gelang yang umum ditemukan dalam sistem pencernaan manusia. Video ini, dan yang serupa lainnya, telah banyak beredar di media sosial, tapi klaim itu tidak benar."
    Dilansir dari The Quint, saat dihubungi pada 26 Juli 2018, seorang juru bicara Rumah Sakit Apollo membantah bahwa salah satu dokter mereka membuat video semacam itu. Faktanya, tidak ada dokter bernama Harish Shukla yang bekerja di rumah sakit tersebut.
    Hal ini juga ditemukan oleh Jawa Pos. Dalam laporannya pada 23 Oktober 2017, Jawa Pos menemukan bahwa tidak ada nama Harish Shukla dalam database dokter di situs resmi Rumah Sakit Apollo. Untuk memastikannya, Jawa Pos pun menghubungi layanan pelanggan Rumah Sakit Apollo. Petugas layanan itu menyatakan bahwa tidak ada dokter di rumah sakitnya yang bernama Harish Shukla.
    Dikutip dari CNN Indonesia, ahli gizi dari IPB, Hardinsyah, mengatakan mi instan bukanlah makanan yang berbahaya. Menurut dia, mi instan yang sudah memiliki label Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) aman dikonsumsi. Ia pun menampik anggapan bahwa bahan pengawet yang terdapat dalam mi instan tidak aman. "Selagi dikemas dan ada izin Badan POM-nya, tidak lebih batas kadaluarsanya, itu berarti aman," kata Hardinsyah.
    Anggapan bahwa mi instan sulit dicerna dan akan mengembang di usus juga tidak dibenarkan oleh Hardinsyah. Menurut dia, jika hal tersebut benar adanya, badan akan terasa lemas setelah makan mi. "Buktinya, setelah makan, Anda merasa berstamina kan. Berarti dicerna oleh tubuh," ujarnya. "Kalau setelah makan lemas, organ tubuh pasti ada yang tidak benar, insulin tidak berguna dengan baik atau makanan tidak dicerna dengan baik."
    Hardinsyah justru mengatakan yang seringkali membuat mi menjadi tidak sehat dikonsumsi adalah cara penyajian dan konsumsinya. Orang sering menganggap makan mi cukup untuk memenuhi asupan makanan setiap hari karena membuat perut cukup kenyang. Tapi, Hardinsyah menegaskan, mengandalkan mi instan sebagai satu-satunya sumber makanan tidak dibenarkan.
    Tubuh masih butuh asupan nutrisi lain untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang setiap hari. "Panduan gizi seimbang itu berarti, nikmatilah aneka ragam makanan setiap hari. Sumber karbohidrat sudah dari mi, berarti harus ditambah sayur, serat, dan protein.Tapi, ini bukan untuk mengajarkan setiap hari makan mi. Itu juga tidak sehat," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video operasi usus yang berisi mi instan yang tak bisa dicerna keliru. Video itu merupakan video operasi pengangkatan cacing yang ditemukan di usus. Harish Shukla, yang diklaim sebagai dokter di Rumah Sakit Apollo, India, yang merekam video itu, juga tidak ada di database dokter rumah sakit tersebut. Sejumlah ahli pun mengatakan mi instan, setelah masuk ke perut, akan tercerna oleh getah lambung.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini