• [SALAH] Foto “Pesinden 2024”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/07/2020

    Berita

    Akun Facebook Al Bial memposting foto dengan tulisan “PESINDEN 2024 NGAKUNYA SIH ASLI JAWA TAPI BO’ONG.” Bersama dengan postingan itu, akun tersebut menuliskan narasi postingan sebagai berikut: “Wong EDAN sih bebas... Mau jadi Onta kek... jadi Gudeg kek... Bebasssss......”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir dari liputan6.com, foto tersebut merupakan hasil suntingan dari foto Yuni Shara saat menggunakan kebaya. Foto Yuni Shara mengenakan kebaya tersebut diabadikan oleh fotografer kapanlagi.com Muhammad Rasyad.

    Diketahui pula, momen Yuni Shara mengenakan kebaya itu saat menghadiri cara Pagelaran Agung Keraton Sedunia di Hotel Borobudur pada 5 Desember 2013.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Liputan 6
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Seragam Tentara Cina yang Dicuci di Kelapa Gading?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 24/07/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan deretan puluhan seragam militer di sebuah gantungan baju beredar di media sosial. Seragam tersebut diklaim sebagai seragam tentara Cina yang sedang dicuci di sebuah penatu di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
    “Baju-baju komunis nih. Komunis tentara Cina nyuci di Kelapa Gading nih. Di laundry Kelapa Gading menerima pakaian seragam tentara Cina. Enggak tahu maksudnya apa ini tentara Cina nyuci baju di Kelapa Gading nih. Pasukannya udah banyak dia nih. Siap perang kayaknya nih. Banyak bajunya nyuci di laundry Kelapa Gading nih. Satu batalion kayaknya nih,” demikian narasi yang terdengar dalam video itu.
    Di Facebook, video berdurasi 1 menit 7 detik tersebut diunggah salah satunya oleh akun Ceu Edoh, yakni pada 21 Juli 2020. Akun ini pun menuliskan narasi, “Baju tentara china ape korea nih mohon penjelasan yang tau soal ini. Di cuci Laundry di Kelapa Gading....”
    Apa benar seragam militer dalam video tersebut merupakan seragam tentara Cina yang sedang dicuci di Kelapa Gading?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri beberapa emblem yang masih melekat pada seragam militer tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa emblem pada seragam militer itu identik dengan emblem pada seragam tentara Korea Selatan.
    Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
    Emblem seragam yang terlihat di video (kiri) sama dengan salah satu emblem militer Korea Selatan (kanan).
    Emblem seragam yang terlihat di video (kiri) sama dengan beberapa emblem militer Korea Selatan (kanan).
    Sejumlah emblem militer Korsel itu juga ditemukan dijual di situs jual-beli Ebay. Salah satu emblem yang berbentuk segitiga yang dijual diberi keterangan “ROK Republic of Korea Army 55th Homeland Reserve Division patch B”.
    Huruf yang dipakai dalam name tag seragam militer tersebut juga merupakan aksara Hangeul atau aksara Korea. Salah satuname tagyang terlihat dalam video itu, yang nama latinnya hanya tertulis "Kim", merupakan aksara Korea dari nama "Kim Se-kwang".
    Name tag yang terlihat dalam video dengan aksara Korea.
    Di Twitter, Teguh Santosa, dosen jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, juga memastikan bahwa seragam militer dalam video tersebut merupakan seragam tentara Korsel. "Sepengamatan saya, itu seragam bekas tentara Korsel," ujar pengampu mata kuliah Politik Asia Timur ini.
    Dalam cuitannya di Twitter, Teguh juga mengunggah gambar tangkapan layar video itu yang menunjukkan name tag dengan aksara Hangeul. "Ini salah satu indikasinya," ujar Teguh.
    Namun, pola kamuflase seragam tersebut identik dengan seragam militer Korsel terdahulu. Terhitung sejak 25 Agustus 2014, tentara Korsel telah mengganti motif kamuflase seragamnya, yakniwoodland, dengan pola kamuflase baru yang disebut pola granit.
    Dalam sejumlah pemberitaan sebelum Agustus 2014, ditemukan foto-foto militer Korsel yang masih menggunakan seragam dengan motif lama tersebut. Salah satu situs yang pernah memuatnya adalah The Korea Herald. Dalam artikelnya pada 9 April 2014, The Korea Herald memuat foto para tentara Korsel yang sedang berbaris yang mengenakan seragam dengan motif lama.
    Tempo pun menemukan bahwa motif kamuflase seragam tentara Cina sangat berbeda dengan pola kamuflase seragam dalam video di atas. Berikut foto seragam tentara Cina yang pernah dimuat oleh situs Army Recognition :
    Gambar tangkapan layar foto tentara Cina dengan seragamnya yang dimuat di situs Army Recognition.
    Dilansir dari berita di situs Korea, Zum.com, pada 20 April 2019, di tengah perdebatan soal larangan penjualan seragam militer oleh pemerintah, seragam tentara Korsel model lama sangat mudah ditemukan di Pasar Dongmyo di Jongno-gu, Seoul.
    "Seragam militer itu tahan lama dan memiliki banyak kantong sehingga banyak orang mencarinya sebagai pakaian kerja. Namun, karena Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa tindakan keras akan diambil terhadap mereka yang menjual seragam militer, kami juga dalam kondisi kontraksi," kata salah satu pedagang di pasar itu, Park Young-soo.
    Seragam militer bekas pun banyak ditemukan di Indonesia. Dilansir dari Vice.com, Pasar Senen merupakan salah satu sentra pakaian bekas di Indonesia. Setiap toko pakaian bekas di pasar ini punya spesialisasi baju bekas tertentu, termasuk seragam militer.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seragam militer dalam video di atas merupakan seragam tentara Cina yang sedang dicuci di Kelapa Gading, keliru. Seragam dalam video itu merupakan seragam lama/bekas tentara Korea Selatan. Hal ini terlihat dari emblem yang melekat pada seragam tersebut yang merupakan emblem militer Korsel serta aksara Korea yang tertulis pada name tag di seragam itu.
    ZAINAL ISHAQ | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Erdogan Minta Kursi yang Sama Besar dengan Paus Fransiskus Saat ke Vatikan?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 24/07/2020

    Berita


    Akun Facebook Yassir membagikan foto pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada 18 Juli 2020. Dalam foto itu, terdapat lingkaran merah yang merujuk pada seorang staf yang sedang mengangkat sebuah kursi berukuran kecil.
    Akun tersebut mengklaim bahwa semula kursi akan diduduki Erdogan berukuran lebih kecil dibandingkan kursi Paus. Ia pun menolak dan meminta kursi yang berukuran sama dengan kursi Paus.
    “Erdogan datang ke Vatikan menjumpai Baba (Pope) Vatikan. Kursi tamu yang akan diduduki Erdogan lebih kecil daripada kursi Pope (lihat lingkaran merah). Erdogan menolak, tak mau duduk. Dia mau kursi yang sama besar dengan Pope. Pengawal Pope berkata, 'Semua pemimpin dunia yang datang jumpa Pope duduk di kursi kecil itu'. Erdogan pun menjawab, 'Pemimpin negara di dunia boleh duduk di kursi itu, tapi tidak untuk pemimpin negara Turki," demikian narasi yang ditulis oleh akun Yassir.
    Unggahan ini viral dan telah dibagikan lebih dari 2 ribu kali dan dikomentari lebih dari 400 kali saat artikel ini dimuat.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yassir.
    Apa benar Presiden Turki Erdogan meminta kursi yang sama besar dengan Paus Fransiskus saat ke Vatikan?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, kunjungan Presiden Turki Erdogan ke Vatikan tersebut digelar pada 5 Februari 2018. Namun, klaim bahwa Erdogan diberi kursi yang berukuran lebih kecil ketimbang kursi Paus dan meminta kursi yang sama besar dengan milik Paus tidak sesuai fakta.
    Tempo telah membandingkan sejumlah video pemberitaan media asing yang ditayangkan di YouTube. Video-video itu menunjukkan bahwa, sejak kedatangannya ke ruangan Paus, Erdogan telah dipersilakan duduk di kursi yang berwarna dan berukuran sama dengan kursi Paus Fransiskus.
    Salah satu video tersebut adalah video yang ditayangkan oleh Ruptly, media yang berbasis di Rusia. Video berdurasi sekitar 3 menit ini merekam kunjungan Erdogan sejak kedatanganya ke ruangan Paus Fransiskus. Momen saat Erdogan dan Paus Fransiskus duduk berhadapan di kursi yang sama terlihat pada detik ke-46.
    Gambar tangkapan layar video yang diunggah oleh Ruptly.
    Video berdurasi lebih panjang, yakni sekitar 3,5 menit, diunggah oleh France24. Dalam video ini, terlihat jelas konteks bahwa kursi yang dipegang oleh staf Paus Fransiskus sebenarnya bukanlah kursi yang sebelumnya diberikan kepada Erdogan. Dalam menit 1:44, terlihat bahwa staf tersebut membawa kursi berukuran kecil itu ke samping kiri Paus.
    Gambar tangkapan layar video yang diunggah oleh France24 ketika kursi berukuran kecil dipindahkan ke sebelah kiri Paus Fransiskus.
    Dikutip dari situs Vatican News, pertemuan kedua tokoh itu dilakukan di Istana Apostolik Vatikan. Pertemuan tersebut dianggap bersejarah karena baru terjadi untuk pertama kalinya dalam 59 tahun Presiden Turki berkunjung ke Vatikan.
    Kantor Pers Holy See menjelaskan Paus Fransiskus dan Erdogan berdiskusi tentang hubungan bilateral kedua negara, kondisi komunitas Katolik, upaya penerimaan banyak pengungsi, dan tantangan terkait dengan situasi di Timur Tengah, khususnya status Yerusalem.
    "Mereka menyoroti kebutuhan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan melalui dialog dan negosiasi, dengan menghormati hak asasi manusia dan hukum internasional," demikian penjelasan dari Kantor Pers Holy See.
    Kursi kecil untuk penerjemah
    Dikutip dari organisasi cek fakta Turki, Teyit, prosedur yang sama diterapkan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengunjungi Paus Fransiskus di Vatikan. Kursi yang digunakan Putin dalam kunjungannya pada 2015 sama dengan Erdogan dan ada kursi lain yang lebih kecil di belakang staf Paus. Trump pun duduk di kursi yang sama saat mengunjungi Paus Fransiskus pada Mei 2017 dan ada seorang staf yang memegang kursi lain yang lebih kecil.
    Dua foto yang menunjukkan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump saat duduk di kursi yang sama dengan Presiden Turki Erdogan. Seorang staf juga tampak memindahkan kursi yang berukuran lebih kecil ke samping Paus Fransiskus. Sumber: Teyit
    Menurut laporan Teyit, kursi kecil itu diberikan bagi penerjemah. Pada Mei 2017, seorang penerjemah duduk di kursi kecil yang ditaruh di sebelah kiri Paus saat Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berkunjung. Begitu pula pada Juni 2017, kursi kecil itu diduduki oleh seorang penerjemah saat Kanselir Jerman Angela Merkel mengunjungi Paus.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta kursi yang sama besar dengan Paus Fransiskus saat ke Vatikan, keliru. Sejak awal, pihak Vatikan telah menyediakan kursi yang sama untuk Erdogan dan Paus Fransiskus. Kursi berukuran kecil yang sedang dibawa oleh seorang staf bukanlah kursi untuk Erdogan, melainkan kursi yang diletakkan di sebelah kiri Paus yang biasanya digunakan untuk penerjemah.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Pemilik E-KTP Dapat Kompensasi

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 24/07/2020

    Berita

    Semua masyarakat yang sudah mempunyai E-KTP mulai 27 maret berhak mendapat konpensasi sejumlah Rp.1.250,000,- untuk biaya #dirumahaja.
    Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi untuk tinggal di rumah
    Mulai hari selasa besok tanggal 24 Maret 2020, Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi Rp 350.000 per hari untuk tinggal di rumah

    Mulai rabu, tanggal 27 Maret 2020, Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi Rp 350.000 per hari untuk tinggal di rumah dalam rangka menghindari penyebaran COVID-19; Novel Coronavirus.

    Pelayanan ini dapat diakses oleh semua orang, tidak memandang satu status pekerjaan.

    Segera daftarkan NIK anda dan isi formulir dalam site dibawah ini:
    https://bit.ly/3dptRNa

    Bagi yang sudah memiliki E-KTP sudah bisa mengambil kompensasi Per Tgl 30 Agustus 2020 sebesar Rp. 600.000 untuk biaya # dirumah aja.
    Silakan cek apakah nama anda tercantum, dan cocokkan dengan NIK E-KTP anda melalui link berikut ini:
    https://s.id/ektp-covid19

    Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai *Rp 600.000,-* pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
    https://s.id/ektp-covid19

    Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai Rp 600.000,- pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
    https://s.id/ektp-covid19

    Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai Rp *600.000,-* pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
    https://s.id/ektp-covid19

    Semua Warga Negara Berhak mendapatkan RP 150.000 per hari untuk tinggal di rumah untuk menghindari penyebaran COVID-19; Novel Coronavirus. Mulai dari 20 Maret 2020. Pembayaran hibah Pemerintah Indonesia dapat diakses oleh semua orang, tidak termasuk satu status pekerjaan.

    Baca artikel lengkap di sini tentang cara mengajukan klaim:
    https://bit.ly/2vvme6X

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim pemilik e-KTP mendapat kompensasi Rp 1,25 juta, dengan membuka tautan formulir pendaftara yang tercantum dalam klaim tersebut.

    Setelah tautan tersebut dibuka, ternyata yang muncul bukan formulir pendaftaran untuk mendapat kompensasi, melainkan potongan gambar sebuah iklan. Dalam potongan gambar tersebut, terdapat tulisan "MIMPI!!!".

    Dari tautan yang tercantum dalam klaim menunjukan, klaim tersebut merupakan guyonan.

    Guyonan pun bisa masuk dalam kategori hoaks, hal ini diulas dalam artikel berjudul "Hati-hati Guyonan Juga Bisa Masuk Kategori Hoaks" yang dimuat situs liputan6.com, pada 15 Maret 2020.

    Dari penelusuran kami, klaim bahwa setiap pemilik KTP elektronik (KTP-el) mendapatkan uang kompensasi#DiRumahSajasebesar Rp680 ribu adalah salah. Faktanya ini informasi hoaks lama yang muncul dengan sedikit perubahan.

    Pada Senin 30 Maret 2020, kami dari tim Cek Fakta Medcom.id juga mendapat kabar hoaks senada. Kami telah mengkonfirmasi Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh.

    "Itu canda-canda. Lihat aja linknya," kata Zudan kepada Medcom.id, Minggu 29 Maret 2020.

    Kesimpulan

    Klaim pemilik e-KTP yang berdiam di rumah akan mendapat kompensasi tidak benar.

    Informasi ini masuk kategori hoaks jenis satire atau parodi. Satire merupakan konten berunsur parodi atau sarkasme yang dibuat untuk menyindir atau mengkritik pihak tertentu. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan, tetapi bisa mengecoh karena sebagian masyarakat menganggap informasi dalam satire sebagai kebenaran.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini