• [SALAH] Politisi India: “Urin dan Kotoran Sapi Jadi Obat Virus Corona”

    Sumber: portal
    Tanggal publish: 12/03/2020

    Berita

    Pernyataan salah satu politisi India, Suman Haripriya dari partai BJP MLA yang mengklaim bahwa dia percaya gau-mutra (urin sapi) dan gobar (kotoran sapi) dapat digunakan untuk mengobati virus corona beredar beberapa hari terakhir. 

    “Sapi adalah aset untuk obat-obatan bagi beberapa penyakit termasuk kanker juga telah ditemukan. Di rumah sakit Ayurvedic di Gujarat, pasien kanker diizinkan hidup dengan sapi. Kotoran sapi diterapkan pada pasien kanker di sana. Mereka diberikan Panchamrit yang dibuat dari urin sapi,”

    Salah satu situs yang memuat pernyataan ini adalah demokrasi[dot]co.id yang mengutip dari Gulf News.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, menemukan bahwa pernyataan politikus India, Suman Haripriya, tersebut memang pernah dimuat oleh Gulf News, surat kabar berbahasa Inggris yang terbit di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 3 Maret 2020. Klaim itu terdapat dalam artikel yang berjudul “Cow urine, cow dung can be used to treat coronavirus: Indian politician”.

    Namun, klaim yang diucapkan oleh Suman, bahwa urin dan kotoran sapi bisa menjadi obat bagi Covid-19 adalah klaim yang keliru. Menurut Health Analytic Asia, platform kolaborasi berita kesehatan yang dibuat oleh para jurnalis dan dokter di India, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

    Pernyataan serupa memang beberapa kali dilontarkan oleh sejumlah politikus. Namun, para dokter telah mengkonfirmasi bahwa kotoran serta urin sapi tidak mengandung obat dan belum pernah diresepkan sebagai obat. Kotoran dan urin sapi pun tidak dapat menyembuhkan Covid-19 karena belum ada satu pun ilmuwan yang membuat pernyataan semacam itu.

    Dalam wawancara dengan India Today, Menteri Kesehatan India, Harsh Vardhan, mengatakan bahwa klaim semacam itu yang dari seseorang yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tidak perlu didukung. “Saya tidak akan mendukung pernyataan semacam itu dan akan mendorong orang mengikuti langkah sederhana untuk mencegah penyebaran virus,” katanya.

    Bantahan lain terhadap klaim itu juga dilontarkan oleh organisasi pemeriksa fakta India, News Checker. Penelitian yang dipublikasikan oleh Pusat Informasi Bioteknologi Nasional India tentang manfaat dan penggunaan obat dari kotoran dan urin sapi tidak menyebutkan bahwa kotoran dan urin sapi dapat menyembuhkan Covid-19.

    Dalam situs resminya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada obat atau vaksin untuk mencegah ataupun menyembuhkan Covid-19.

    Demikian pula di situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak tercantum bahwa urin dan kotoran sapi bisa menyembuhkan Covid-19. WHO pun menegaskan, hingga kini, belum ada vaksin dan antivirus khusus untuk mencegah atau mengobati Covid-2019.

    Menurut WHO, mereka yang terinfeksi virus Corona harus mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala. Adapun orang dengan penyakit serius yang terkena Covid-19 harus dirawat di rumah sakit. Sebagian besar pasien pulih berkat perawatan suportif. Vaksin dan obat untuk Covid-19 sedang diteliti. WHO tengah mengkoordinasikan upaya pengembangan vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati Covid-19.

    WHO juga menyatakan, klaim bahwa pengobatan tradisional atau rumahan dapat mengurangi gejala Covid-19, belum bisa dibuktikan. WHO tidak merekomendasikan pengobatan mandiri dengan obat apapun, termasuk antibiotik, untuk Covid-19.

    Menurut WHO, cara paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari Covid-19 adalah dengan rajin membersihkan tangan, menutupi batuk dengan siku atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter (3 kaki) dari orang yang mengalami batuk atau bersin.

    Kesimpulan

    Menurut Health Analytic Asia, platform kolaborasi berita kesehatan yang dibuat oleh para jurnalis dan dokter di India, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada obat atau vaksin untuk mencegah ataupun menyembuhkan Covid-19.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Corona mengganas sudah 25 pasien di Bali wafat”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 12/03/2020

    Berita

    “Kita sedih serangan virus Corona mengganas sudah 25 pasien di Bali wafat.. Fak. Farmasi Univ. Ibnu Chaldun akan mlkkn kampanye pencegahan serangan virus Corona di 5 wilayah DKI. Kampanye pertama di Johar Baru 28 Maret 2020. Saat ini sdg koordinasi di DKI.”

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan artikel dengan judul “Pasien Corona Kasus 25 Meninggal Dunia di RSUP Sanglah Bali” menjadi “sudah 25 pasien di Bali wafat”. Penyebutan pasien URUTAN ke 25 menjadi pasien SEBANYAK 25 menimbulkan kesimpulan yang salah.

    detikNews: “Pasien positif virus Corona kasus 25 ternyata meninggal di Bali. Warga negara asing perempuan berusia 53 tahun itu sempat dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar.

    WNA ini baru empat hari lalu masuk wilayah Indonesia. Dia juga memiliki komplikasi penyakit, yaitu hipertensi, hipertiroid, diabetes, dan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).”

    Kesimpulan

    BUKAN “25 pasien”, judul artikel yang dibagikan: “Kasus 25”. Pasien URUTAN ke 25, BUKAN pasien SEBANYAK 25.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Bentuk virus corona setelah diperbesar 2600x”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 12/03/2020

    Berita

    Akun Ashari Helmy (fb.com/ashari.helmy) membagikan sebuah video Youtube yang berisi video berdurasi 2 menit 1 detik dan berjudul dalam bahasa Arab, yang terjemahan bahasa Indonesianya adalah: “Lihat wabah virus corona setelah diperbesar 2.600 kali dan bagaimana cara membasminya.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, faktanya foto di video itu ukan bentuk virus corona. Foto di video itu sebenarnya menunjukkan tampilan kumbang kecil yang berasal dari keluarga besar Curculionoidea.

    Pencarian gambar terbalik di Google menggunakan gambar makhluk di foto itu menemukan bahwa foto itu pertama kali diunggah pada tanggal 26 Februari 2020 oleh akun Twitter website berbahasa Arab, eheliosworld.com.

    Cuitan berbahasa Inggris pada foto itu jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya: “Kumbang kecil berasal dari keluarga besar Curculionoidea. Kumbang jenis ini sangat kecil, berukuran lebih kecil dari 6 milimeter (4 inci) dan bersifat herbivora, gemar memakan tepung, gandum, barley dan sereal sarapan.”

    Kumbang bukan termasuk jenis virus. Menurut artikel Encyclopaedia Britannica, kumbang kecil adalah sejenis serangga dari keluarga Curculionidae.

    Video dari situs foto Shutterstock, menampilkan seekor kumbang yang mirip seperti di unggahan yang menyesatkan. Keterangan kedua video Shutterstock tersebut, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, artinya: “Kumbang tropis dari Amazon Ekuador, tampilan dekat.”

    Kesimpulan

    Bukan bentuk virus corona. Foto di video itu sebenarnya menunjukkan tampilan kumbang kecil yang berasal dari keluarga besar Curculionoidea.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Info Terkini : kudus sudah ada 2 org pasien Virus corona”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 12/03/2020

    Berita

    Beredar informasi melalui aplikasi percakapan Whatsapp yang berisi klaim sebagai berikut:

    “Info Terkini : kudus sudah ada 2 org pasien Virus corona… Skrg di rawat di Ruang Isolasi RSUD kudus… Mohon tmn2 jauhi tempat keramaian sperti Cafe… & Mall. TKI dari korsel Suami -Istri . Orng Besito -Gebog.NB. Sumber Berita dari slh satu pegawai RS.”

    Kudus meledak covid19
    Kota kudus
    Kudus zona merah COVID - 19

    Hasil Cek Fakta

    Hasil pemeriksaan warga Kudus berinisial A, yang dirawat di ruang isolasi RSUD Dr Loekmonohadi Kudus dinyatakan negatif virus corona.

    Direktur RSUD Loekmonohadi Kudus (tengah) dr Abdul Aziz Achyar memberi keterangan hasil uji laboratoris pasien yang sebelumnya dinyatakan Suspect COVID-19 di RSUD Loekmonohadi, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (9/3/2020).

    Dokter Aziz menyatakan berdasar hasil uji laboratoris Balitbangkes Kemenkes RI menyatakan bahwa pasien yang sebelumnya diduga suspect COVID-19 sepulang dari Korea Selatan pada 28 Februari 2020 dan sempat dirawat di ruang isolasi selama sepekan itu negatif Corona sehingga diperbolehkan pulang.

    Plt Bupati Kabupaten Kudus, HM Hartopo menjelaskan, ‎telah mendapatkan hasil pemeriksaan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Jakarta pada hari Rabu (11/3/2020) kemarin.

    “Dari sampel lendir yang dikirimkan ke Litbangkes Jakarta, hasilnya pasien negatif dari virus corona,” jelas dia, saat Jumpa Pers, Kamis (12/3/2020).

    Dia menjelaskan, pasien pada Kamis ini, sudah bisa keluar dari ruang isolasi dan kembali pulang ke rumahnya.
    Pihaknya juga tidak akan mengenakan tarif kepada pasien karena semua biaya akan ditanggung negara.

    “Pasien sekarang sudah bisa pulang, tidak perlu khawatir. Kemungkinan peradangan paru yang terjadi tersebut karena bronchitis, bukan virus corona,” ujar dia.

    Pihaknya tetap melakukan antisipasi agar warga masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri dan mengalami sakit batuk serta demam dapat memeriksakan kesehatannya.

    Kesimpulan

    Direktur RSUD Loekmonohadi Kudus dr Abdul Aziz Achyar menyatakan berdasar hasil uji laboratoris Balitbangkes Kemenkes RI menyatakan bahwa pasien itu negatif Corona sehingga diperbolehkan pulang.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini