• [SALAH] “Setelah tahu orang-orang Uyghur tidak tertular corona orang-orang di china berebut mendapatkan Alquran”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 11/03/2020

    Berita

    “Setelah mereka tahu orang-orang Uyghur dan suku-suku di Sinchiang yang mayoritas muslim tidak tertular corona. Kini orang-orang di china berebut-rebut untuk mendapatkan Alquran dan mulai belajar membacanya dan belajar mengerti artinya.

    Subhanallah”.

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan video lama, sebelumnya pernah diunggah pada tahun 2013. SUMBER menambahkan narasi yang tidak sesuai dengan fakta sehingga membangun kesimpulan pelintiran.

    Salah satu situs yang sebelumnya memuat video, gospelprime.com.br: “Penyelundupan Alkitab di Tiongkok direkam dalam video.
    7 tahun yang lalu masuk 19 Maret 2013 Oleh Jarbas Aragon”
    Alt News: “Media sosial penuh dengan informasi yang salah seputar virus corona baru. Alt News telah membantah beberapa klaim semacam itu dalam beberapa minggu terakhir. Sebuah video sekarang viral di media sosial dengan klaim bahwa dalam terang epidemi, Cina memungkinkan umat Islam untuk membaca Quran yang sebelumnya dilarang.”

    Kesimpulan

    Video lama, TIDAK berkaitan dengan COVID-19. Yang diperebutkan adalah Alkitab, BUKAN Al-Qur’an.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “SUKU DAYAK DUKUNG AHOK FULL UNTUK CEO IKN, SUKU LAIN GMN??”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 10/03/2020

    Berita

    Beredar postingan yang menyebutkan bahwa Suku Dayak memberikan dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk menjadi Kepala Badan Otoritas Ibu Kota Negara (IKN). Pada postingan itu disertakan foto Ahok tengah mengikuti prosesi adat. Berikut kutipan narasinya:

    “SUKU DAYAK DUKUNG AHOK FULL UNTUK CEO IKN, SUKU LAIN GMN??????”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa foto dan klaim narasi pada postingan tidak terkait. Dua foto yang disematkan pada postingan berasal dari peristiwa diangkatnya Ahok dan Istri, Puput Nastiti Devi menjadi warga kehormatan dan mendapat gelar dari masyarakat Persekutuan Adat Dayak Kalimantan Timur di Hotel Mesra Internasional, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Sabtu (13/7/2019).

    Foto pertama diambil dari laman berita tribunnews.com pada kanal tribunimage yang tayang di bulan 14 Juli 2019. Sedangkan, foto kedua diambil dari pemberitaan berjudul ‘Ahok dan Puput Dapat Gelar Kehormatan dari Masyarakat Dayak di Kaltim’ di detik.com yang tayang pada tanggal 13 Juli 2019.

    Berikut kutipan pemberitaan mengenai pemberian gelar kehormatan kepada Ahok dan Puput:

    […] Samarinda - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok dan Puput Nastiti Devi berkunjung ke Samarinda, Kalimantan Timur. Keduanya mendapat gelar dari masyarakat Dayak.

    Ahok dan Puput berkunjung ke Samarinda sejak Jumat (12/7). Ahok didaulat menjadi warga kehormatan masyarakat Dayak Kenyah yang bermukim di desa budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara.

    Pada Sabtu (13/7/2019) pagi, giliran masyarakat Persekutuan adat Dayak Kalimantan Timur yang memberi penghargaan. Selain warga kehormatan, Ahok juga diberi gelar Asang Lalung yang artinya tokoh muda, teguh, perkasa, dan pemberani.

    Tidak hanya Ahok, Dewan Adat Dayak Kaltim juga memberikan gelar untuk Puput Nastiti Devi dengan gelar Idang Bulan yang artinya cahaya purnama. Prosesi pemberian gelar berlangsung sangat sederhana oleh para tokoh adat Dayak Kalimantan Timur di Hotel Mesra Internasional dan disaksikan sejumlah tokoh dayak seperti Ketua PDKT Syaharie Jaang, yang juga Wali Kota Samarinda.

    Dalam sambutannya, Ahok mengatakan gelar itu merupakan tanggung jawab yang cukup besar. Dia senang menjadi bagian dari masyarakat Dayak yang sangat terbuka dan mau menerima semua orang dari berbagai kalangan.

    "Kaltim memiliki sumber daya alam yang cukup besar sehingga saat ini kita harus berfikir bagaimana memanfaatkan sumber daya alam ini untuk kesejahteraan anak cucu ke depan," kata Ahok.

    Ahok juga menjawab pertanyaan sejumlah warga soal kiat ketegasannya menyelesaikan persoalan di Jakarta saat menjadi gubernur. Ahok mengatakan para pemimpin harus melayani masyarakat, bukan meminta dilayani.

    "Sewaktu saya memimpin Jakarta, saya selalu bangun pagi pukul 06.00 WITa dan berangkat pagi pukul 07.00 WITa, karena saya tahu ada warga saya yang menunggu saya sejak pukul 05.30 WITa. Di situ saya berdialog dengan mereka tanpa batasan, jika ada masalah saya selesaikan di situ," ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Persekutuan Dayak Kaltim Syaharie Jaang mengatakan kehadiran Ahok di Kota Samarinda diharapkan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan warga Dayak dengan para pengambil kebijakan di pusat. Syaharie Jaang mengatakan masyarakat Dayak yang ada di perbatasan sempat mengeluh tentang minimnya infrastruktur di kawasan pedalaman Kaltim yang lebih dekat dengan negara tetangga Malaysia.

    "Kami masyarakat Dayak sangat berharap dengan kehadiran BTP yang dikenal dengan Presiden Jokowi bisa menyampaikan persoalan masyarakat Kaltim di sini, sehingga kami bisa mendapatkan pemerataan pembangunan yang sama dengan daerah lain," kata Syaharie Jaang.

    Apalagi dengan adanya wacana pemindahan ibukota negara di Kaltim, Syaharie Jaang berharap BTP bisa ikut memperjuangkan Kaltim sebagai Ibu kota negara.

    "Beliau sudah menjadi warga kehormatan masyarakat Dayak Kaltim, kami berharap beliau bisa membantu kami mengusulkan kepada Pak Presiden agar Ibu kota negara bisa di Kalimantan Timur sehingga pemerataan pembangunan bisa dirasakan kami masyarakat Dayak di perbatasan Kaltim," kata Syaharie Jaang.

    Sementara itu, usai menerima penghargaan dari masyarakat Dayak Kaltim, Ahok juga melakukan agenda keagamaan di sejumlah gereja di Kota Samarinda. […]

    Kesimpulan

    Berdasarkan hal tersebut, maka antara narasi dan foto tidak memiliki keterikatan. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk kategori False Connection atau Koneksi yang Salah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “Perilaku Polisi India Terhadap Wanita yang Membawa Anak”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 10/03/2020

    Berita

    Bukan polisi India, tetapi polisi Nepal, peristiwa tersebut di daerah Bhaisepati, Lalitpur,Nepal pada 27 Februari 2020

    [NARASI] Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak

    Hasil Cek Fakta

    [PENJELASAN]

    Fanspage Status Lucu 2019 pada tanggal 29 Februari 2020 pukul 22:24 WIB mengunggah video polisi sedang memukul wanita sambil menggendong anak kecil dengan menggunakan tongkat dan mendorongnya sampai tersungkur yang oleh fanspage Status Lucu 2019 dikatakan kejadian itu dilakukan oleh polisi India, dengan narasi sebagai berikut “Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak”. Postingan inipun mendapatkan 544 tanggapan, 253 komentar dan 5.651 share saat periksa fakta ini dibuat.

    Setelah ditelusuri, peristiwa tersebut bukan terjadi di India, tetapi di Bhaisepati, Lalitpur,Nepal pada 27 Februari 2020 yang dilakukan oleh Inspektur polisi di Sektor Kepolisian Metropolitan Bungmati.

    Menurut polisi, insiden itu terjadi pada hari Kamis di kediaman Bhainsepati Hem Khatri, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Nepal, di mana sekelompok wanita telah berkumpul untuk memprotes, “menuntut keadilan” untuk seorang wanita, yang diidentifikasi sebagai Mala Shah, yang telah menuduh bahwa dia menjalin hubungan dengan Khatri. Shah mulai memprotes setelah Khatri diduga memutuskan kontak dengannya, menurut Inspektur Senior Tek Prasad Rai, kepala Polisi Lalitpur. Hema Shrestha, wanita yang terlihat dipukuli, ada di sana untuk mendukung Shah dalam protesnya.

    Dilansir dari radiokantipur.com “Investigasi telah dimulai pada Inspektur Poudel setelah menikam Hema Shrestha, seorang peserta dalam tim yang mengepung rumah Rathi Hem Khatri, seorang pensiunan asisten Tentara Nepal di Bhansapati.

    Inspektur Poudel kemarin diduga melobi Shrestha, yang menyebut dirinya ekspedisi, selama perselisihan antara Khatri dan seorang wanita bernama Mala Shah.

    Video Inspektur Poudel yang memanas di Shrestha yang menggendong bayi itu beredar di media sosial.

    Mengikuti arahan dari Markas Besar Kepolisian, Kampus Polisi Metropolitan, Lalitpur, telah membentuk komite investigasi beranggotakan tiga orang yang dipimpin oleh SP Durga Singh”.

    Sedangkan laporan dari onlinekhabar.com polisi tersebut sudah dipindahkan dari Polisi Metropolitan Bhaisepati.
    “Kepala Polisi Metropolitan Range, Lalitpur, SSP Tek Prasad Rai, menginformasikan bahwa Paudel telah dipindahkan ke Jawalakhel setelah insiden tersebut. Inspektur Sujit Ojha yang baru diangkat telah ditunjuk untuk Lingkaran Polisi Metropolitan, Bhaisepati”.

    KESIMPULAN
    Benar kejadian dalam video tersebut seorang polisi memukul seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil yang sedang melakukan protes.
    Kejadian bukan di India tetapi di Nepal.

    Rujukan

  • [BERITA] “Hoaks Imbauan Anak NU Dilarang Sekolah di Muhammadiyah”

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 10/03/2020

    Berita

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto menyatakan gambar dan pernyataan yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan alias hoaks.

    Beredar gambar yang diklaim sebagi pernyataan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Selain pernyataan, gambar itu juga menampilkan foto Haedar Nashir.

    Isinya seolah-olah imbauan kepada warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak menyekolahkan anaknya di Sekolah Muhammadiyah. Berikut isi tulisan di gambar tersebut:

    “Imbauan kepada warga NU, untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Muhammadiyah karena kami ingini menjaga kondusivitas dan aset milik kami. Tolong warga NU tepo seliro dan tahu diri — Prof Dr Haidar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.”

    =============================================

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Melalui akun jejaring sosial Twitter miliknya, @HaedarNs, Haedar Nashir membantah pernyataan dan foto itu. Menurut dia, foto dan pernyataan itu adalah hoaks alias bohong. Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu tidak tahu menahu dan tidak memproduksi gambar tersebut.

    Haedar menegaskan selama ini lembaga milik Muhammadiyah di berbagai bidang diperuntukkan semua kelompok dan golomgan masyarakat.

    “Gambar dan statement yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan (hoax). Selama ini hadirnya lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial Muhammadiyah untuk semua kelompok dan golongan, tidak terbatas pada suku, agama, dan kelompok tertentu.” tulis Haedar Nashir di tweetnya yang diunggah pada 6 Maret 2020.

    Sebelumnya, himbauan itu juga diklaim seolah berasal dari Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto.

    Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan WhatsApp, mengirimkan gambar berisi klarifikasi mengenai imbauan tersebut. Ia juga menyebut bahwa gambar yang berisi imbauan tersebut adalah hoaks.

    Berikut isi klarifikasinya:
    Sehubungan dengan beredarnya foto atau quotes design yang mencatut nama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah tentang “Himbauan Bagi Warga NU”yang telah tersebar, maka dengan ini saya dan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah beserta keluarga Muhammadiyah memberikan KLARIFIKASI sebagai berikut:

    1 .Bahwa terkait himbauan tersebut sebagaimana yang telah terlihat dan tersebar di media sosial, bukan merupakan perkataan ataupun kutipan statement dari Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.
    2.Bahwa dalam menjalankan roda organisasi, kami sangat mendepankan dialog dan tabayyun serta toleransi terhadap setiap perbedaan pandangan ataupun pendapat antar kaIangan.
    3.Bahwa sebagaimana anonim kutipan yang telah tersebar atas nama Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto memiliki latar belakang pendidikan disekolah NU sehingga foto atau quotes design yang beredarjelas sangat ngawur.
    4.Bahwa Muhammadiyah, khususnya Pemuda Muhammadiyah menyadari, baik Muhammadiyah atau NU merupakan ormas yang selalu bergandengantangan memajukan bangsa, termasuk di sektor pendidikan sehingga sikap saling menghormati dan menjaga marwah masing-masing senantiasa di rawat dan dijaga.
    5.Terkait permasalahan di Kota Yogyakarta antara NU dan Muhammadiyah, saya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah meminta pihak Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY untuk menjaga langkah toleransi dan menjaga hubungan silaturahmi dalam dakwah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini