• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Covid-19 Hanya Flu Biasa dan Hasil Rekayasa untuk Cari Untung?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 29/05/2020

    Berita


    Akun Facebook Ais Umi Mizaz Terapy membagikan sebuah tulisan panjang yang berisi klaim bahwa Covid-19 hanyalah flu biasa yang ringan. Dalam tulisan yang diunggah pada 25 Mei 2020 itu, diklaim pula bahwa Covid-19 merupakan hasil rekayasa untuk mencari keuntungan. Penyembuhan Covid-19 pun diklaim tidak jauh berbeda dengan penyembuhan flu pada umumnya.
    Tulisan itu diawali dengan kalimat yang menyebut tenaga medis hanyalah korban penipuan. Pandemi Covid-19 pun dianggap sebagai rekayasa. "Mereka (tenaga medis) cuma korban penipuan, semua ini settingan, bohongan. Virus Covid-19 beneran ada dan seperti flu lainnya, tapi lebih ringan. Namun mudah menular karena sudah ditambahi asam amino 4x lipat."
    Dalam tulisan itu, terdapat pula klaim bahwa pasien Covid-19 di rumah sakit hanya diberi vitamin C dan E serta pereda sakit tenggorokan, mengkonsumsi buah-buahan pada pagi dan sore hari, banyak istirahat, serta diberi uap apabila sesak napas. "Bayangkan kalau cara penyembuhan ini bocor ke masyarakat, gagal lagi orang Yahudi memplokoto umat Islam."
    Tulisan ini pun memuat klaim bahwa Covid-19 sengaja diciptakan sebagai pengendali uang di seluruh dunia, seperti flu Spanyol yang menjadi senjata biologi pertama Amerika Serikat dalam Perang Dunia I. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 1.300 kali dan dikomentari lebih dari 700 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ais Umi Mizaz Terapy.
    Bagaimana kebenaran klaim-klaim dalam tulisan panjang tersebut?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mewawancarai sejumlah ahli dan menelusuri rujukan ilmiah dari berbagai situs kredibel.
    Klaim 1: Covid-19 hanya flu biasa yang ringan.
    Fakta:
    Stanford Children's Health menjelaskan bahwa SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 adalah virus Corona jenis baru yang belum diidentifikasi sebelumnya dan tidak sama dengan virus Corona yang menyebabkan penyakit ringan, seperti flu biasa. Meskipun berada dalam keluarga virus Corona, SARS-CoV-2 adalah virus baru yang menyerang manusia.
    Flu biasa memiliki gejala pilek dan sakit tenggorokan yang biasanya ringan dan berlangsung antara 1-2 minggu. Sedangkan Covid-19 memiliki gejala kesulitan bernafas, demam, dan batuk kering. Beberapa pasien mengalami pneumonia dan memerlukan rawat inap. Jika pneumonia bertambah parah, bisa berakibat fatal. Sejak awal Januari hingga 27 Mei 2020, kasus kematian akibat Covid-19 secara global telah mencapai 352.459 orang.
    Sumber: Reuters dan Worldometers
    Klaim 2: Wabah ini settingan dengan kode flu burung tidak jadi menyerang Indonesia.
    Fakta:
    Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus kematian akibat flu burung terbanyak di dunia. Menurut WHO pada 2012, dari 349 kematian akibat flu burung di seluruh dunia sejak 2003, 155 di antaranya terjadi di Indonesia. Sejak 2003, terdapat 186 kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia dan hampir 80 persen berakhir dengan kematian. Jadi, klaim bahwa flu burung tidak menyerang Indonesia adalah klaim yang keliru.
    Sumber: BBC
    Klaim 3: Semua pasien penyakit berat yang mati dibilang karena Covid-19, agar masyarakat semakin takut.
    Fakta:
    Kasus meninggal yang diumumkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, setiap hari pukul 15.00 WIB adalah kasus yang menimpa pasien yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia adalah 6,1 persen. Hingga 29 Mei 2020 pukul 09.30, mereka yang meninggal karena Covid-19 mencapai 1.496 orang.
    Sebelumnya, Yuri menyebut penyakit penyerta yang paling banyak menyertai kasus kematian Covid-19 adalah hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan seperti asma, dan penyakit paru obstruktif yang sudah menahun. Mereka yang memiliki penyakit penyerta memang berisiko tinggi terinfeksi Covid-19. Jadi, klaim di atas menyesatkan.
    Sumber: Situs resmi Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Covid-19
    Klaim 4: Flu Spanyol adalah senjata biologi pertama Amerika dalam Perang Dunia I.
    Fakta:
    Asal-muasal virus Flu Spanyol memang masih menjadi perdebatan, tapi tidak satu pun bukti yang merujuk virus tersebut sebagai senjata biologi Amerika. Di Negeri Paman Sam sendiri, pandemi Flu Spanyol pada 1918 diperkirakan telah menewaskan hampir 700 ribu orang. Menurut Frank Macfarlane Burnet, ahli virologi Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari influenza, pandemi flu ini bermula di Camp Funston dan Haskell County, Kansas. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia, lalu menyebar ke Cina, Jepang, dan Asia Tenggara.
    Beberapa ahli epidemiologi Amerika menyimpulkan virus flu ini dibawa oleh buruh Cina dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Prancis selama Perang Dunia I. Alasan utamanya, mereka terbiasa hidup berdekatan dengan burung dan babi. Namun, argumen tersebut dibantah Edwin Jordan, editor Journal of Infectious Disease, dengan menyebut bahwa wabah flu di Cina tidak menyebar dan berbahaya. Jordan juga tidak sepakat dengan teori yang menyebut India atau Prancis sebagai asal virus mengingat virus flu di kedua negara tersebut hanya bersifat endemik.
    Sumber: Tempo dan Historia
    Klaim 4: Hari ini dibuat lagi Covid-19, tujuannya juga sama, perkara riba.
    Fakta:
    Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, adalah virus buatan buatan. Menurut artikel di Nature pada 17 Maret 2020, penelitian terhadap struktur genetik SARS-CoV-2 menunjukkan bahwa tidak ada manipulasi laboratorium. Para ilmuwan memiliki dua penjelasan tentang asal-usul virus tersebut, yakni seleksi alam pada inang hewan atau seleksi alam pada manusia setelah virus melompat dari hewan. "Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan hasil konstruksi laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja."
    Sumber: Tempo
    Klaim 5: Tenaga medis mati, dokter mati, dibilang karena Covid-19.
    Fakta:
    Pada pertengahan April 2020, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan tenaga medis yang meninggal akibat Covid-19 mencapai 24 orang. Sementara itu, yang terpapar virus tersebut sebanyak 80 petugas kesehatan. Para tenaga medis terpapar Covid-19 lantaran keterbatasan alat pelindung diri (APD). Bukan hanya itu, tenaga medis memang sering menggunakan APD, namun tidak sesuai standar. Kemudian, pada 8 Mei 2020, jumlah dokter yang meninggal bertambah menjadi 31 dokter, terdiri dari 25 dokter dan enam dokter gigi.
    Sumber: Liputan6.com dan Merdeka.com

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Covid-19 hanyalah flu biasa yang ringan dan hasil rekayasa untuk mencari keuntungan adalah klaim yang keliru. Covid-19 berbeda dengan flu biasa. Penyakit ini disebabkan oleh virus Corona baru, SARS-CoV-2. Tidak ada pula bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus Corona penyebab Covid-19 adalah virus buatan untuk tujuan komersial.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekf akta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] PBB Tak Beri Bantuan Covid-19 Bagi Negara Yang Tidak Legalkan Aborsi

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 29/05/2020

    Berita

    Salah satu dokumen Pemerintahan Ekuador tertulis perlu meningkatkan kesadaran tentang “akses yang aman dan legal untuk aborsi”, dalam permohonan bantuan sebesar USD46,4 juta kepada Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Kantor ini sebagai pimpinan tanggap darurat internasional PBB terhadap virus Corona. Dokumen itu akhirnya digambarkan oleh artikel-artikel online sebagai syarat bantuan PBB. FAKTANYA, PBB tetap memberikan bantuan kemanusiaan kepada setiap negara dan tanpa syarat.

    [NARASI]:

    (Terjemahan)

    “PBB Menolak Mengirimkan Bantuan Coronavirus ke Negara Pro-Life, Kecuali Melegalkan Aborsi”

    LifeNews menuliskan bahwa PBB menggunakan alasan bantuan coronavirus untuk menekan Ekuador agar melegalkan pembunuhan bayi yang belum lahir dalam aborsi, kata para pemimpin pro-kehidupan di negara itu bulan ini.

    Kantor Berita Katolik melaporkan Kementerian Hubungan Luar Negeri dan Mobilitas Manusia Ekuador baru-baru ini meminta bantuan USD46,4 juta kepada Rencana Tanggap Kemanusiaan PBB untuk COVID-19.

    Di dalam “paket” bantuan itu, bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak-anak serta layanan kesehatan seksual dan reproduksi lainnya selama pandemi, termasuk aborsi, menurut laporan itu.

    “Ketakutan (kami) adalah bahwa otoritas tertinggi kami di Ekuador bahkan akan mempertimbangkan untuk menerima bantuan sebesar USD46 juta dengan imbalan ribuan nyawa anak yang belum lahir,” kata Martha Villafuerte dari Jaringan Keluarga Guayaquil yang pro-kehidupan mengatakan kepada ACI Prensa.”

    ======

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak akan memberikan bantuan Covid-19 bagi negara-negara yang tidak melegalkan aborsi.

    Artikel itu diterbitkan oleh portal media LifeNews berjudul “UN Refuses to Send Coronavirus Funds to Pro-Life Nation Unless It Legalizes Abortions” pada 18 Mei 2020.

    Berdasarkan penelusuran, dilansir dari merdeka.com, berita tentang PBB yang menolak memberikan bantuan pada negara-negara yang tidak melegalkan aborsi adalah hoaks. Dalam artikel AFP Fact Check berjudul “UN falsely accused of demanding Ecuador ‘legalize’ abortions to get COVID-19 aid” pada 23 Mei 2020, dijelaskan bahwa ada kekeliruan pemahaman di dalam berita tersebut.

    AFP Fact Check menjelaskan bahwa artikel LifeNews merujuk pada 30 April. Saat itu Kementerian Hubungan Luar Negeri Ekuador meminta permohonan bantuan sebesar USD46,4 juta kepada Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Kantor ini sebagai pimpinan tanggap darurat internasional PBB terhadap virus Corona.

    Kemudian Ekuador memiliki Aplikasi untuk menjelaskan tentang bidang-bidang yang dibutuhkan, termasuk keamanan makanan, kesehatan, perumahan dan pendidikan.

    Ada pula dokumen pemerintah yang bertujuan menjaga “kesinambungan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak-anak serta layanan kesehatan seksual dan reproduksi lainnya selama pandemi.”

    Dalam dokumen itu pula, tertulis perlu meningkatkan kesadaran tentang “akses yang aman dan legal untuk aborsi”. Dokumen itu akhirnya digambarkan oleh artikel-artikel online sebagai syarat bantuan PBB.

    “Setiap saran bahwa kita menggunakan alasan pandemi COVID-19 sebagai peluang untuk mempromosikan aborsi adalah tidak benar,” Zoe Paxton, juru bicara OCHA di New York, mengatakan kepada AFP melalui email.

    “Sementara kami mendukung layanan kesehatan yang mencegah jutaan wanita meninggal selama kehamilan dan persalinan dan melindungi orang dari infeksi menular seksual, termasuk HIV, kami tidak berusaha untuk mengesampingkan hukum nasional apa pun.”

    Untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19 di “negara-negara yang rapuh,” badan PBB tersebut mengajukan banding USD6,7 miliar untuk Rencana Tanggap Kemanusiaan Global. Dana itu kemudian didistribusikan ke berbagai negara sesuai dengan berbagai kebutuhan kemanusiaan mereka, termasuk bantuan USD46,4 juta untuk Ekuador.

    Adapun tindak aborsi di Ekuador hanya sah ketika kehamilan sang ibu merupakan ancaman bagi kehidupan atau kesehatan dirinya sendiri, atau ketika sang ibu merupakan korban pemerkosaan.

    Juru Bicara PBB di Ekuador, Mario Naranjo, mengatakan kepada AFP bahwa “Rencana itu hanya bertujuan untuk menerapkan hukum nasional, yang memungkinkan aborsi aman dalam dua keadaan yang secara jelas ditentukan dalam hukum pidana Ekuador.

    “Bantuan kemanusiaan diberikan tanpa syarat.”

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto Kaesang Mengenakan Kaos Logo Palu Arit

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 29/05/2020

    Berita

    Pelintiran daur ulang. Foto hasil SUNTINGAN (editan), di foto aslinya TIDAK ada logo Palu Arit di kaos yang dikenakan.

    NARASI

    * “Betul kata orang dulu……
    Buah kalau jatuy tax kan jauh pohonya….” (di post).



    * “Ndok Jangan Buka Aib keluarga
    Nda enak sama Yang Lain” (di dalam foto).

    ======
    Kaesang pki

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN


    (1) First Draft News: “Konten yang dimanipulasi

    Ketika informasi atau gambar yang asli dimanipulasi untuk menipu”

    Selengkapnya di http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S.


    * SUMBER membagikan foto hasil suntingan.

    * SUMBER menambahkan narasi yang salah sehingga menimbulkan kesimpulan keliru.

    ======

    (2) Salah satu sumber foto asli,


    * detikHot @ 11 Mar 2018: “Dua anak Jokowi dikenal memiliki usaha kuliner. Gibran Rakubuming Raka dengan bisnis martabak bernama Markobar, sedangkan Kaesang Pangarep dengan bisnis pisang nuget bernama Sang Pisang.”

    Selengkapnya di “Berbisnis, 2 Anak Jokowi Makin Mandiri” https://bit.ly/3gtx9QY / https://archive.md/ywAxW (arsip cadangan).

    ======

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Di Italia, ketika gereja dibuka kembali, hampir semua jemaatnya sudah meninggal karena COVID”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 29/05/2020

    Berita

    Bukan di Italia. Gereja itu adalah Salem Baptist Church di Amerika Serikat. Video adalah kejutan untuk pastor Salem Baptist Church, Larry, berupa foto-foto jemaat yang dipasang di setiap kursi gereja saat ibadah Paskah pada 12 April 2020. Foto-foto itu merupakan pengganti di saat jemaat tidak bisa berkumpul di gereja karena pandemi COVID-19.

    Akun Ps. Dodik Andri A (fb.com/176749102774651) mengunggah sebuah video dengan narasi:

    “Video diatas adalah kisah yang sebenarnya yg sedang terjadi di Italia. Ketika gereja dibuka kembali, ternyata hampir semua jemaatnya sudah berada dalam kerajaan sorga. Meninggal karena COVID. Mereka harus sudah mulai memikirkan penjangkauan the next generation.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa video yang diunggah oleh sumber klaim adalah video kejadian di Italia ketika gereja dibuka kembali, hampir semua jemaatnya meninggal karena COVID-19 adalah klaim yang salah.

    Bukan di Italia. Gereja itu adalah Salem Baptist Church yang berlokasi di Lake, Mississippi, Amerika Serikat.

    Video itu pun direkam saat pastor Salem Baptist Church, Larry, menerima kejutan berupa foto-foto jemaat yang dipasang di setiap kursi gereja saat ibadah Paskah pada 12 April 2020. Foto-foto itu merupakan pengganti di saat jemaat tidak bisa berkumpul di gereja karena pandemi COVID-19.

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video unggahan akun Facebook Asbond S. Manurung itu menjadi beberapa gambar dengan tool InVID. Kemudian, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Google. Hasilnya, Tempo terhubung dengan akun yang pertama kali mengunggah video itu pada 12 April 2020, yakni akun Salem Baptist Church.

    Akun milik sebuah gereja ini memberikan keterangan pada video unggahannya itu, bahwa video tersebut direkam oleh T&T Creative Media saat umat Salem Baptist Church memberikan kejutan kepada Brother (sebutan bagi pastor dalam Gereja Baptis) Larry dalam rangka Paskah pada 12 April 2020. Kejutan yang dimaksud adalah foto-foto jemaat yang terpasang di kursi gereja.

    “To our Salem family: we want to share with you the video of us surprising Bro. Larry with all your pictures for the Easter service. It was such a special, moving time. You can tell by this video how much he loves you all. This video is exclusively managed by T&T Creative Media. For licensing / permission to use please contact licensing@tt-creative.com,” demikian narasi yang diunggah oleh akun Salem Baptist Church.

    Video unggahan akun Salem Baptist Church ini telah ditonton lebih dari 2,3 juta kali dan dibagikan lebih dari 30 ribu kali. Video itu pun mendapatkan lebih dari 4 ribu komentar yang sebagian besar berasal dari akun milik jemaat Salem Baptist Church. Dari komentar-komentar itu, Tempo mendapatkan petunjuk bahwa jemaat tidak bisa mengikuti ibadah Paskah di gereja di tengah pandemi Covid-19. Sebagai gantinya, para jemaat memasang foto di setiap kursi gereja.

    “Ini persis seperti yang saya rasakan, kita semua akan terlihat seperti ketika kita sampai di surga. Hanya dengan kagum. Bro. Larry memimpin umatnya tidak seperti yang lain. Kami mencintaimu Bro. Larry dan rindu beribadah dengan keluarga gereja kami! Tidak sabar untuk kembali ke gereja kami,” demikian komentar dari salah satu akun milik jemaat Salem Baptist Church, Diane Moody Savell.

    Tempo juga memperoleh petunjuk pada unggahan akun Salem Baptist Church sebelumnya yang memuat foto Brother Larry sedang berdiri di tengah gereja dengan foto para jemaat di setiap kursinya. “Terima kasih kepada semua umat Salem atas foto-foto Anda yang membuat ibadah Paskah kami begitu istimewa. Bro. Larry gembira melihat semua wajah Anda yang tersenyum!”

    Di tengah pandemi Covid-19, Salem Baptist Church memang tetap memberikan ibadah Paskah secara online bagi jemaatnya melalui Facebook. Dalam video yang diunggah akun Salem Baptist Church, terlihat sejumlah umat yang membuka ibadah Paskah itu dengan menyanyikan lagu-lagu rohani.

    Selain itu, Salem Baptist Church bukan berlokasi di Italia, melainkan di Amerika Serikat. Di akun Salem Baptist Church, tertulis bahwa gereja ini beralamat di 2380 Salem Road, Lake, Mississippi, Amerika Serikat. Saat dicek dengan Google Maps, memang benar gereja ini berada di Lake, Mississippi, Amerika Serikat.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini