“Begitu Saudi Arabiya Menambah Kuota Haji Tahun Ini 10 Ribu Seat, Cari Duit Subsidinya 300 Milyar Sudah Pontang Panting. Kepala BPKH Sebut Uang BPKH Menipis. Bagaimana Mau Cari Duit 441 Trilyun Memindahkan Ibukota Negara?
Oh Mama Oh Papa…
Semoga DPR RI Baru Menolaknya. Amin”.
[SALAH] “Kepala BPKH Sebut Uang BPKH Menipis”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 02/05/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
Anggito Abimanyu mengklarifikasi tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang menyebut keuangan BPKH “menipis”. “Dana BPKH berkecukupan dan aman”, selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Rujukan
[SALAH] “Menag nya Saja Bilang mesti DIRANGKUL”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 01/05/2019
Berita
“73 Tahun Merdeka 7 Presiden Memerintah NKRI Belum Pernah Film Homo Lulus Sensor. Baru di Era Ini…
Paham Kalian Mengapa Para Ulama yg Lurus Turun Gunung Saat Pemilu Kemarin…?
Omong Kosong Homo Tdk Dilegalkan. Menag nya Saja Bilang mesti DIRANGKUL…
Ya Allah Rusaknya Zaman ini”.
Paham Kalian Mengapa Para Ulama yg Lurus Turun Gunung Saat Pemilu Kemarin…?
Omong Kosong Homo Tdk Dilegalkan. Menag nya Saja Bilang mesti DIRANGKUL…
Ya Allah Rusaknya Zaman ini”.
Hasil Cek Fakta
Konteks “merangkul” dari pernyataan Menag adalah MENGAJAK untuk kembali ke jalan yang benar, dan tidak ada “homo dilegalkan” seperti klaim oleh SUMBER. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Rujukan
[SALAH] 3 Anak Meninggal Korban Cokelat “Mermaid” di RSUD Kapal Badung, Bali
Sumber: facebook.comTanggal publish: 30/04/2019
Berita
Mohon maaf, kami membantu utk share info dari dokter Dwija yg dinas di RSUD Kapal. Coklat ini beracun.. Barusan kejadian 3 anak meninggal setelah makan coklat ini.. 3orang yg lain dirujuk ke rs juga akhirnya meninggal.. Mohon diperhatikan anak² khususnya yg senang camilan belanja makanan spt ini diperhatikan.. Terima kasih????????????????
Mohon share ke grup lainnya. suksma????????
Mohon share ke grup lainnya. suksma????????
Hasil Cek Fakta
Setelah dilakukan penelusuran, informasi tentang telah meninggalnya tiga orang anak di Kabupaten Badung, Bali tidak benar. Direktur Utama RSD Mangusada Badung, dr. Nyoman Gunarta, menyatakan informasi tersebut tidak benar. Gunarta juga memastikan bahwa tidak ada tenaga medis bernama Dwija di RSD Mangusada. “Informasi itu hoaks. Tidak ada dokter di RSD Mangusada bernama Dokter Dwija,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya, tidak ada di Rumah Sakit Daerah Mangusada yang merawat tiga anak lalu meninggal seperti isi dalam kabar tersebut. “Tidak ada jenazah anak-anak yang meninggal atau dititipkan di RSD Mangusada. Selain itu yang perlu kami tegaskan juga tidak ada nama rumah sakit RSUD Kapal,” ujarnya.
Gunarta berharap, masyarakat kini harus jeli dan berhati-hari menerima informasi. Lantaran banyak sekali berita hoaks yang muncul di media sosial.
“Nama kami kini RSD Mangusada, Bukan Rumah Sakit Kapal, Jadi sudah jelas itu tidak benar,” jelasnya.
Dari paparan Gunarta itu dapat dikatakan bahwa kejadian keracunan pada tiga orang anak hingga meninggal di Badung, Bali tidak benar. Adapun, peristiwa terkait cokelat “Mermaid” memakan korban sebenarnya terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah.
Kepala Loka POM Buleleng, Made Ery Bahara Hartana menyatakan, kasus dugaan keracunan Mermaid itu memang benar terjadi. Hanya saja kasusnya ada di Pekalongan, Jawa Tengah. Meski demikian ia mengaku mendapat mandat dari pemerintah pusat untuk melakukan penelusuran peredaran cokelat tersebut.
“Kalau cokelatnya itu produksinya di Tangerang, kejadiannya di Pekalongan, Semarang, uji sampelnya sudah diambil BPOM Semarang, hanya saja hasilnya belum keluar karena baru saja. BPOM seluruh Indonesia memang diwanti-wanti waspada dan melakukan penelusuran penyebarannya,” kata Ery.
Selain itu, menurutnya, tidak ada di Rumah Sakit Daerah Mangusada yang merawat tiga anak lalu meninggal seperti isi dalam kabar tersebut. “Tidak ada jenazah anak-anak yang meninggal atau dititipkan di RSD Mangusada. Selain itu yang perlu kami tegaskan juga tidak ada nama rumah sakit RSUD Kapal,” ujarnya.
Gunarta berharap, masyarakat kini harus jeli dan berhati-hari menerima informasi. Lantaran banyak sekali berita hoaks yang muncul di media sosial.
“Nama kami kini RSD Mangusada, Bukan Rumah Sakit Kapal, Jadi sudah jelas itu tidak benar,” jelasnya.
Dari paparan Gunarta itu dapat dikatakan bahwa kejadian keracunan pada tiga orang anak hingga meninggal di Badung, Bali tidak benar. Adapun, peristiwa terkait cokelat “Mermaid” memakan korban sebenarnya terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah.
Kepala Loka POM Buleleng, Made Ery Bahara Hartana menyatakan, kasus dugaan keracunan Mermaid itu memang benar terjadi. Hanya saja kasusnya ada di Pekalongan, Jawa Tengah. Meski demikian ia mengaku mendapat mandat dari pemerintah pusat untuk melakukan penelusuran peredaran cokelat tersebut.
“Kalau cokelatnya itu produksinya di Tangerang, kejadiannya di Pekalongan, Semarang, uji sampelnya sudah diambil BPOM Semarang, hanya saja hasilnya belum keluar karena baru saja. BPOM seluruh Indonesia memang diwanti-wanti waspada dan melakukan penelusuran penyebarannya,” kata Ery.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/883423851990151/
- https://turnbackhoax.id/2019/04/30/salah-3-anak-meninggal-korban-cokelat-mermaid-di-rsud-kapal-badung-bali/
- http://bali.tribunnews.com/2019/04/29/informasi-cokelat-beracun-hebohkan-warga-badung-dirut-rsud-mangusada-itu-hoax?page=all
- https://www.nusabali.com/berita/51336/rsd-mangusada-sebut-cokelat-beracun-hoax
- https://www.nusabali.com/berita/51370/loka-pom-buleleng-lakukan-penyisiran
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/880951008904102/
- https://turnbackhoax.id/2019/04/26/benar-coklat-mermaid-memakan-korban/
[SALAH] Percakapan Yunarto Wijaya, Amankan Suara Pilpres
Sumber: twitter.comTanggal publish: 30/04/2019
Berita
Percakapan Yunarto Wijaya dengan seseorang yang ia panggil “Jendral” :
“Jendral” : mas toto gmn survei aman kan
Yunarto Wijaya : siap Jendral..angka sdh diamankan….sesuai arahan….86’
“Jendral” : mas toto gmn survei aman kan
Yunarto Wijaya : siap Jendral..angka sdh diamankan….sesuai arahan….86’
Hasil Cek Fakta
Melansir dari detik.com, Yunarto menuturkan teror dan tersebarnya chat palsu berisi seolah-olah percakapan dirinya dengan seseorang yang disebut jenderal itu, terjadi 3 hari sebelum hari pencoblosan atau 14 April 2019. Keesokannya, dia membuat laporan ke Bareskrim, namun masih perlu melampirkan bukti-bukti.
“Sebenarnya sudah terjadi 3 hari sebelum pemilu dan yang paling mengganggu adalah nomor telepon saya diumbar ke mana-mana, lalu juga dengan beberapa fitnah terkait dengan chat palsu. Seakan akan saya membuat survei, berkomunikasi dengan orang yang saya nggak ngerti maksudnya siapa, tapi ada kalimat ‘Siap 86, jenderal. Sudah diamankan’, sesuatu seperti itulah,” ujarnya.
“Sebenarnya sudah terjadi 3 hari sebelum pemilu dan yang paling mengganggu adalah nomor telepon saya diumbar ke mana-mana, lalu juga dengan beberapa fitnah terkait dengan chat palsu. Seakan akan saya membuat survei, berkomunikasi dengan orang yang saya nggak ngerti maksudnya siapa, tapi ada kalimat ‘Siap 86, jenderal. Sudah diamankan’, sesuatu seperti itulah,” ujarnya.
Rujukan
Halaman: 7788/8480





