[BENAR] DITUDING MENCULIK DAN BERAT SEBELAH PADA KASUS PT. RUM, KAPOLRES SUKOHARJO BERI KLARIFIKASI
Sumber: Media DaringTanggal publish: 08/03/2018
Berita
Kapolres Sukoharjo AKBP, Iwan Saktiadi : “Tidak ada istilah diculik. Kita saat melakukan penangkapan menemui keluarganya. Kalau mahasiswa mengatakan diculik mohon ditelisik kembali kata diculik asalnya dari mana. Apa logika mereka, kami datang jelas dengan surat perintah tugas,”.
Hasil Cek Fakta
Penyidik Satreskrim Polres Sukoharjo menjelaskan terkait penangkapan tiga orang yang diduga merusak fasilitas pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo sudah sesuai dengan prosedur. Melalui AKBP Iwan Saktiadi, ditegaskan tidak ada penculikan pada aktivis dan warga yang diduga terlibat aksi anarkistis di PT. RUM beberapa waktu lalu. Tidak ada istilah diculik dalam penangkapan yang dilakukan oleh Polres Sukoharjo. Tindakan polisi juga didasari oleh bukti dan kelengkapan administrasi. Penangkapan paksa dilakukan dengan disertai identitas, bukti-bukti, dan surat perintah penangkapan berikut surat penahanan.
Rujukan
[EDUKASI] 7 Tips Menyaring Hoax di Media Sosial
Sumber:Tanggal publish: 07/03/2018
Berita
Menghindari hoaks di media sosial pada dasarnya cukup mudah. Ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan agar tidak terjebak hoax di media sosial. Apa saja hal itu? Yuk, simak pembahasan berikut! 7 Tips Ampuh Menyaring Hoax di Media Sosial!
1. Siapa yang Membagikannya
2. Baca Judulnya
3. Baca Narasi Postingannya
4. Lihat Alamat URL-nya
5. Lihat Nama Penulis dan Susunan Tim Redaksinya
6. Isi Artikel dalam Portal yang Dibagikan Tidak Sejalan dengan Narasi Postingan dan Judulnya
7. Sumber Tulisan Tidak Jelas
Selengkapnya di bagian REFERENSI.
1. Siapa yang Membagikannya
2. Baca Judulnya
3. Baca Narasi Postingannya
4. Lihat Alamat URL-nya
5. Lihat Nama Penulis dan Susunan Tim Redaksinya
6. Isi Artikel dalam Portal yang Dibagikan Tidak Sejalan dengan Narasi Postingan dan Judulnya
7. Sumber Tulisan Tidak Jelas
Selengkapnya di bagian REFERENSI.
Hasil Cek Fakta
Rujukan
[BENAR] Klarifikasi Polri Tentang Larangan Penggunaan GPS Saat Mengemudi
Sumber:Tanggal publish: 07/03/2018
Berita
Beberapa waktu lalu, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra menyatakan pengemudi yang berkendara dengan mengakses aplikasi Global Positioning System (GPS) bisa ditindak. Pernyataan itu beredar sehingga masyarakat memahaminya bahwa penggunaan GPS dilarang oleh Polri. Untuk meluruskan pemahaman itu, dilansir dari detik.com, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, penindakan yang dimaksud (oleh Dirlantas Polda Metro) ialah pengemudi yang aktif mengakses GPS sehingga hanya mengemudi dengan satu tangan. Setyo menambahkan, polisi menilai penggunaan GPS berbahaya saat berkendara jika pengendara tiba-tiba berhenti tanpa menepi di jalan.
“Ya berhenti dulu, minggir, jangan tiba-tiba berhenti di tengah jalan atau sambil berkendara membuka aplikasi. Jadi dengan adanya teknologi jangan malah kita kembali tanpa aturan,” tegas dia.
“Ya berhenti dulu, minggir, jangan tiba-tiba berhenti di tengah jalan atau sambil berkendara membuka aplikasi. Jadi dengan adanya teknologi jangan malah kita kembali tanpa aturan,” tegas dia.
Hasil Cek Fakta
Rujukan
“Kader PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari dan Rieke Dyah Pitaloka Terkait PKI”
Sumber: Media daringTanggal publish: 07/03/2018
Berita
Pernyataan Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen menuding PDIP menampung kader PKI dan Eva Kusuma Sundari serta Rieke Dyah Pitaloka terkait PKI. Selengkapnya dapat dilihat pada bagian Referensi.
Hasil Cek Fakta
Bantahan Eva Kusuma Sundari:
“Saya lahir tahun 1965, ibu bapak saya PNS, guru SMA zaman segitu. Saya jadi PNS 11 tahun, kok bisa (dikaitkan) PKI-PKI. Enggak mungkin banget, itu asal bunyi. Saya lulusan terbaik P4 tingkat nasional tahun ’89, 17 terbaik,” tutur, Eva, Rabu (7/2).
Bantahan Rieke Dyah Pitaloka:
“Saya lahir tahun 1974. Saya enggak kenal Kivlan Zen. Mungkin Kivlan lebih tahu saya, daripada diri saya sendiri?” kata Rieke.
“Saya lahir tahun 1965, ibu bapak saya PNS, guru SMA zaman segitu. Saya jadi PNS 11 tahun, kok bisa (dikaitkan) PKI-PKI. Enggak mungkin banget, itu asal bunyi. Saya lulusan terbaik P4 tingkat nasional tahun ’89, 17 terbaik,” tutur, Eva, Rabu (7/2).
Bantahan Rieke Dyah Pitaloka:
“Saya lahir tahun 1974. Saya enggak kenal Kivlan Zen. Mungkin Kivlan lebih tahu saya, daripada diri saya sendiri?” kata Rieke.
Kesimpulan
Pernyataan Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen menuding PDIP menampung kader PKI dan Eva Kusuma Sundari serta Rieke Dyah Pitaloka terkait PKI, tidak disertai data dan fakta yang jelas. Rieke telah membantah tudingan tersebut dan Eva pun menantang agar Kivlan melaporkan tuduhannya ini melalui jalur hukum. Eva anggota Komisi III dan Rieke yang juga anggota Komisi VI DPR RI menyatakan tuduhan Kivlan adalah tidak benar (hoax).
Rujukan
Halaman: 8120/8387




