• Negaraku Sudah Dimakar! (Foto Mobil Avanza Putih Dengan Plat Asing)

    Sumber: https://www.facebook.com/
    Tanggal publish: 22/12/2016

    Berita

    NEGARAKU SUDAH DIMAKAR !
    Bukan cuma orang ASING boleh memiliki asset di Indonesia dan orang ASING boleh menjalankan aktifitas intelijennya dgn nama ORMAS Tetapi Orang ASING pun boleh mengendarai mobilnya dengan PLAT NOMOR NEGARA nya di JAKARTA….
    MASIH ADAKAH NEGARAKU ATAU SUDAH DI MAKAR KEMARIN?

    Hasil Cek Fakta

    Penggunaan plat nomor asing di Indonesia kadang dilakukan oleh para penyuka modifikasi mobil dan hal ini jelas melanggar aturan yang baku.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Bahaya Tanaman Penyebab Leukimia

    Sumber: https://www.facebook.com/
    Tanggal publish: 22/12/2016

    Berita

    terdapat postingan dalam sosial media dengan isi menjelaskan bahwa terdapat tanaman yang bernama tanaman dolar yang dapat menyebabkan penyakit leukimia.

    Hasil Cek Fakta

    Berikut adalah cuplikan dari laman situs detik.com mengenai hal ini:

    “Selain di Indonesia, kabar ini juga heboh di negara tetangga dan isunya sudah ada sejak Desember 2015 lalu. Bahkan karena hebohnya media The Malaysian Insider ikut membahas pesan berantai tanpa kejelasan sumber ini. Artikel soal pohon dolar dimuat 21 Desember 2015 lalu. Mereka menulis pendapat Dekan Fakultas Pertanian Universitas Putra Malaysia (UPM) Prof Ghizan Saleh yang mengatakan tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan adanya hubungan antara tanaman dan kanker.

    Tanaman jenis ini menurut Ghizan Saleh tidak pernah terbukti menyebabkan kanker atau leukimia, meskipun memang ada bagian yang beracun bila ditelan. Racun ini bisa menyebabkan iritasi dan gatal-gatal.

    ‘Perlu penelitian lebih ilmiah tentang efek yang sebenarnya dari tanaman ini, tetapi untuk sekarang saya bisa mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa hal itu dapat menyebabkan kanker atau leukemia,’ ucap Ghizan.”

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • (HOAX): Kapolri dan Wakapolri Mengenakan Topi Sinterklas

    Sumber: www.facebook.com
    Tanggal publish: 22/12/2016

    Berita

    Berita Fitnah dan Hoax memang bisa menyerang siapa saja kalangan masyarakat, tak terkecuali Kapolri Tito Karnavian dan Wakapolri Syafruddin. akun facebook Wulan Margono adalah yang menyebarkan status diserta foto Kapolri dan Wakapolri yang memakai topi Sinterklas, topi yang identik dengan perayaan hari natal umat Kristen.

    dalam postingannya tersebut, akun itu juga mambahkan caption dengantulisan “cieeeeee…..semoga gak da paksaan ya jendral murni dari hati, bkn perintah atasan. berikut adalah bukti screen shootnya :

    Hasil Cek Fakta

    Foto tersebut ternyata merupakan hasil olah digital orang yang tidak bertanggung jawab, ditambah dengan caption yang memprovokasi. setelah ditelusuri foto itu diambil dari detik.com dengan judul berita yang sama.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • (EDUKASI): Panduan Bersosial Media Secara Sehat

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/12/2016

    Berita

    Di era media sosial seperti ini, tautan berita atau tulisan (post/status) yang diberikan (di-share) seseorang bisa menjadi tolok ukur kecerdasan orang itu. Tentu saja dengan sedikit perkecualian.

    Jika orang itu bukan saudara bukan teman, cukup di-unfriend saja, jika ia kakak kandung anda yang kebetulan juga seorang fundamentalis garis keras, cukup di-mute atau di-unfollow.

    Anda tidak harus menanggapi tautan itu. Dengan mendiamkan anda bisa jadi lebih bahagia. Hubungan keluarga tidak rusak, akal sehat terjaga, dan yang paling penting anda tidak terpapar polusi kedunguan.

    Namun pasti suatu saat, akan tiba masa di mana anda mesti berjihad melawan kedunguan. Saat-saat di mana kebodohan sudah paripurna, dan mendiamkan bukanlah pilihan.

    Yaitu ketika orang-orang yang anda sayang, orang-orang yang anda cintai, atau bahkan mantan orang-orang yang pernah anda kasihi, menjadi korban berita dusta. Itu adalah saat yang paling tepat bagi anda untuk bersuara. Bertindak untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

    Berikut ada beberapa cara agar anda bisa menyelamatkan orang-orang yang anda kasihi. Mengajak mereka untuk sehat dalam bersosial media. Agar tidak menyebarkan berita provokatif yang belum terverifikasi kebenarannya, supaya tidak ikut menyebarkan status-status kebencian yang tidak bisa dibuktikan fakta-faktanya.

    Dengan memberikan panduan ini, setidaknya, anda menyelamatkan satu manusia dari barisan kebodohan.



    1. Verifikasi

    M. Said Budairy, ombusman legendaris majalah Pantau itu, pernah berkata, “Verifikasi merupakan syarat kerja wartawan profesional.” Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam buku mereka yang berjudul 9 Elemen Jurnalisme, berkata bahwa esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

    Tanpa verifikasi, kerja media yang secara objektif berkejaran dengan waktu akan serampangan. Kelengkapan, otentitas, akurasi informasi dipertaruhkan. Jika ada media, atau pesohor Facebook, yang berulang kali menuliskan berita bohong, kabar dusta, pantaskah ia dipercaya?

    Oh, kita bisa saja berkata bahwa blog Piyungan itu bukan media jurnalistik, atau pesohor Facebook itu bukan jurnalis. Nah, kalau sudah begini, kita kembalikan saja, jika mereka bukan siapa-siapa kenapa kita mesti percaya? Dan mengapa anda membagi tautan berita/status orang itu?

    Sebuah media yang kerap menulis berita bohong tidak pantas dipercaya. Seseorang yang kerap menyebarkan berita dusta, lantas menghapusnya tanpa pemberitahuan dan permintaan maaf, selayaknya tidak lagi diberikan kesempatan bicara. Lantas bagaimana jika ia tetap saja bicara? Ya tidak perlu didengarkan lagi.

    Hasil Cek Fakta

    2. Reputasi dan Integritas

    M. Said Budairy juga berkata, “Landasan moral profesi mengharuskan wartawan menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.” Bukan untuk menebak-nebak mana yang benar mana yang salah. Verifikasi berfungsi sebagai filter, ia akan menghilangkan bias opini dari fakta, juga menyelamatkan seseorang dari penyebaran kebohongan.

    Jika verifikasi ini bisa dilakukan, niscaya anda bisa menjadi seseorang yang berpendapat tanpa takut apa yang anda katakan berasal dari kebohongan. Disiplin melakukan verifikasi (jika anda tidak suka kata ini bisa diganti tabayyun) bisa membuat penulis menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan tulisan yang baik dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.

    Dan pada akhirnya, media atau individu yang biasa berpendapat dengan disiplin verifikasi yang ketat akan memiliki reputasi yang baik dan integritas yang dapat dipercaya. Jika anda masih ngotot membagikan tulisan dari situs yang berulang kali menyebarkan berita bohong, atau seseorang yang kerap berdusta, anda barangkali butuh psikolog untuk menguji kualitas kewarasan.



    3. Proporsional dan Komprehensif

    Andreas Harsono, jurnalis dan aktivis hak asasi manusia, mengatakan dalam resensi 9 elemen Jurnalisme, suratkabar (dalam hal ini portal berita online) seringkali menyajikan berita yang tak proporsional, dengan judul bombastis dan sensional yang kadang tidak sesuai dengan konten berita. Penekanannya pada aspek yang emosional. Sehingga bisa saja seseorang menulis judul yang aneh untuk mengejar klik dan hit dari pemberitaan yang ia tulis.

    Lantas bagaimana memahami kualitas berita proporsional dan komprehensif?

    Dengan cara melihat bagaimana media itu bekerja, apakah mereka kerap menuliskan judul berita yang berbeda dengan isi berita? Apakah berita itu kerap menggunakan kata-kata seperti ASTAGA? BUJUBUNENG? EBUSYET? Atau yang lebih agamis seperti Astaghfirullah, Subhanallah, dan sejenisnya. Judul yang demikian menggiring opini pembaca bahkan sebelum beritanya kelar dipahami. Dari pengalaman yang sudah-sudah, media yang menggunakan judul seperti ini bahkan tidak becus dalam masalah ejaan, apalagi masalah verifikasi.

    Nah, itulah beberapa cara bersosial media secara sehat. Susah memang, lebih mudah menyebarkan berita tanpa verifikasi, atau berkelit “Ah, saya cuma berbagi,” ketika ketahuan beritanya bohong. Tapi saya yakin anda, seperti sedikit orang waras di dunia, tidak ingin jadi keledai yang membuat kebodohan berulang-ulang. Cukuplah itu dipanggul oleh orang-orang yang merasa cukup masuk sorga dengan menyebarkan berita bohong.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini