• (HOAX) Kalau tidak ada Santoso, Muslim POSO Sudah Habis diBantai Kristen

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 25/07/2016

    Berita

    Warga Poso : Kalau Tidak Ada Santoso / Abu Wardah, Muslim POSO Sudah Habis Dibantai Kristen

    Ini dia pendapat warga Poso soal banyaknya umat Muslim Poso saat menghadiri pemakaman Santoso Abu Wardah” Ribuan masyarakat Poso menghadiri pemakaman saudara kami SANTOSO. Rahmat menulis, “Buat negara yang katanya penegak hukum,tengok dan rasakanlah penderitaan muslim Poso selama ini. Jika di zaman penjajahan, mereka yang berjuang mempertahankan indonesia disebut ekstrimis/teroris, kematian mereka dipuja masyarakat dan dilabeli syuhada/pahlawan.”

    “Mari kita cermati kejadian barusan di Poso, media/aparat meemberitakan mereka adalah teroris/ekstrimis. Dan apa yang terjadi di lapangan saat pemakaman? Ribuan masyarakat, dari anak-anak sampai tua renta mengiringi dan mengelukan serta mendoakan mereka,” ujar Rahmat.

    Ada apa sebenarnya dengan hukum di Poso?

    Ada apa dengan HAM di Poso selama ini?

    “Selesaikanlah ketimpangan hukum yang terjadi selama ini di Poso. Jangan terus dan terus meregenarasi dendam masyarakat Poso,” tambahnya.

    “Mari kita menganalisa dengan bijak, jangan asal nyeleneh ini itu tentang mereka, 16 tahun Poso kota kecil yang ramai dijual. ALLAHU AKBAR,” tutupnya

    Hasil Cek Fakta

    penyelamat muslim diposo adalah JK, Santoso dkk ini justru adalah provokator + teroris; mereka terus membakar amarah di daerah ini.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • (HASUT) ABSEN DI ACARA HARI ANAK NASIONAL, JOKOWI PILIH HADIRI SILATNAS RELAWAN

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 24/07/2016

    Berita

    Ketidakhadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2016 di Mataram, NTB, hari ini Sabtu (23/7), menimbulkan kekecewaan anak-anak yang datang dari berbagai provinsi.

    Padahal, kehadiran Joko Widodo dan Ibu Iriani diharapkan seperti seorang bapak dan ibu yang ikut berbahagia merayakan hari ulang tahun anaknya.

    Hal ini berbanding terbalik, dengan acara silatnas yang diadakan oleh para relawan Jokowi; acara yang akan dilaksanakan besok (Minngu 24/07/2016) rencananya akan dihadiri oleh Presiden Jokowi

    Acara Silatnas tersebut diselenggarakan bersama oleh Bara JP, Projo, Seknas Jokowi, Almisbat, Jokowi Mania, Solmet Jokowi, Arus Bawah Jokowi, Duta Jokowi, Kawan Jokowi, Jasmev, Komunitas Alumni Perguruan Tinggi, Sekber Jokowi, GRI, RKIH, Kabar Nawacita, EP For Jokowi, Gerak Indonesia, RPJB, JNIB, Kornas Jokowi, JPKP, Jaman, GK Center, Forkami.

    Presiden Jokowi tidak menghadiri acara Hari Anak Indonesia di Mataram tetapi memiliki rencana menghadiri acara silaturahmi relawan Jokowi

    Melihat hal tersebut, seolah mempertanyakan agenda penting bangsa ini kemana, hari anak nasional adalah hari dimana sosok presiden dianggap orang tua bagi anak anak bangsa ini, namun anak anak pun akhirnya dibuat kecewa karena sang Presiden tidak bisa menghadiri acara tersebut

    Akan menjadi ironis, ketika besok ternyata Presiden Jokowi menyempatkan menghadiri acara silatnas Relawan Jokowi; akan terlihat ironi dengan ketidakhadiran Presiden Jokowi pada acara hari anak Nasional

    Luar biasa, agenda penting mana yang kini menjadi prioritas pemimpin negeri ini?

    Hasil Cek Fakta

    Artikel yang dibuat oleh portal tersebut bertujuan untuk menghasut opini masyarakat agar berfikir jika Presiden Jokowi mengesampingkan bahkan tidak perduli terhadap anak-anak Indonesia. FAKTANYA, bahwa kedua acara tersebut tidak bertabrakan. Saat itu HAN justru bertepatan dengan acara lingkungan hidup di kabupaten Siak, Provinsi Riau untuk membahas tentang kebakaran hutan yang selama ini selalu terulang setiap tahun sejak 1980. Hal tersebut tentu menjadi prioritas utama dan alasan predisen tidak menghadiri HAN di Mataram, NTB.
    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [KLARIFIKASI] Aparat Dukcapil Bingung Rusun Kapuk Muara Mayoritas Diisi Pendatang Tionghoa dan Bermobil Mewah

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 16/07/2016

    Berita

    Sejatinya penghuni rumah susun (rusun) dikhususkan bagi mereka warga asli Jakarta yang memiliki kemampuan ekonomi rendah. Hal itu dikarenakan untuk mendukung beberapa program Pemprov DKI yang berhubungan dengan penataan kota Jakarta, yaitu pelebaran sungai atau pembersihan pemukiman di bawah kolong tol.

    Namun, berdasarkan penulusuruan SuaraJakarta.co, ternyata yang menempati rusun tersebut mayoritas adalah warga Keturunan Tionghoa asal Panipahan, Bagansiapiapi, Riau, yang menempati hingga 6 blok tersebut.

    “Kebanyakan asa Panipahan, Bagansiapiapi,”ungkap Sulaeman, Ketua RT 01/09, Kapuk Muara, sebagaimana dikutip dari laman kompas.com, Sabtu (13/6).

    status asal domisili tersebut diketahu setelah jajarann Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jakarta Utara, menggelar operasi pembinaan administrasi kependudukan di rusun tersebut. Saat memperlihatkan KTP yang dimliki, beberapa domisili warga memang tercatat berasal dari Bagansiapiapi, Riau.

    Rusun tersebut, seharusnya, diperuntukkan bagi warga Jakarta, korban gusuran kolong tol Penjaringan-Pejagalan, Jakarta Utara, 2004 lalu. Namun , sebagian besar warga yang direlokasi sudah tidak menempati rusun tersebut.

    Jejeran Mobil Mewah

    Tidak hanya yang menempati warga luar Jakarta, ternyata, rusun Kapuk Muara juga dijejali oleh penghuni bermobil mewah. Bahkan, Asisten Pemerintahan (Aspem) Kota Jakarta Utara, Rusdianto, mengaku tak habis pikir saat menginjak Kawasan Rusun Kapuk Muara yang berlokasi di Jalan SMP N 122, Penjaringan, Jakarta Utara, tersebut.

    “Bingung gue. Banyak ye mobil mewahnye. Ada Mercy dan Fortuner segala loh,” katanya sambil geleng-geleng kepala di Tenda Operasi Pembinaan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Rusun Kapuk Muara, sebagaimana dikutip dari laman tribbunnews.com, Sabtu (13/6).

    Saat didatangi Dukcapil, nampak Mobil Mercedez Benz putih berpintu dua masuk dan memarkirkan mobil tersebut ke halaman parkir, hingga menarik perhatian jajaran aparat tersebut yang datang.

    “Warga relokasi di sini emang punya mobil ya?,”candar Erik Polim Sinurat, selaku Kasudin Dukcapil Jakarta Utara.

    Seperti yang diketahui, dibangunnya rusunawa oleh Pemprov DKI Jakarta, diperuntukkan bagi warga miskin, korban relokasi atau pembongkaran bangunan, serta warga yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal. Namun, pandangan mata dan suasana di Rusun Kapuk Muara persis seperti Apartemen kelas menengah ke atas.

    Hasil Cek Fakta

    Dilansir dari kompas.com, Penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, ternyata banyak yang tidak memiliki KTP DKI. Bahkan mayoritas penghuni merupakan warga Tionghoa asal Bagansiapi-api, Riau.

    Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Ika Lestari Aji mengatakan, seharusnya rusun itu diperuntukkan bagi warga relokasi penggusuran kolong tol Penjagalan-Penjaringan serta warga korban kebakaran Kapuk yang memiliki KTP DKI.

    “Makanya ini kami benahi, kami lakukan pendataan kepada semua penghuni lagi. Kemarin kan sudah dievaluasi di Rusun Marunda, semuanya bertahap,” kata Ika, saat ditemui wartawan di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (14/6/2015).

    Pihaknya menargetkan, pendataan penghuni sudah rampung setelah Hari Raya Idul Fitri. Ia mengatakan, penghuni tidak bisa memindahtangankan unit rusun yang tersedia.

    Apabila penghuni sudah memiliki tempat tinggal yang lebih layak, maka ia wajib menyerahkan kembali unit rusun kepada Suku Dinas Perumahan dan Gedung Pemda Jakarta Utara. Penghuni tidak bisa menyewakan bahkan memperjualbelikan unit rusun yang ditinggalkan kepada pihak lain.

    “Ini kan inkubator. Jadi unit rusun yang ditinggal diberikan kepada warga lain terkena dampak penggusuran atau bencana, yang lebih membutuhkan,” kata mantan Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara itu.

    Status asal domisili penghuni Rusunawa Kapuk Muara diketahui setelah jajaran Suku Dinas (Sudin) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jakut menggelar operasi pembinaan administrasi kependudukan (Biduk) di rusun tersebut. Saat memperlihatkan KTP yang dimiliki, beberapa domisili warga memang tercatat berasal dari Bagansiapiapi, Riau.

    Beberapa warga mengaku telah menempati rusun tersebut sejak lama. Namun, ada juga warga yang baru pindah dan menetap di sana.”Kalau saya, awalnya ikut kakak. Tapi setelah kakak saya pindah, saya yang nerusin,” ungkap salah satu warga Blok A lantai III, Candra (21). Bahkan ada warga yang mengaku membeli langsung unit rusun melalui kerabatnya.

    Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (Rusun) Muara Baru dan Kapuk Muara (UPRS) Dinas Perumahan dan Gedung DKI Jakarta, Didih Hartaya, mengatakan, ada puluhan penghuni yang telah dikeluarkan dari rusun itu sejak Mei lalu.

    Didih mengatakan, sejak Mei hingga pertengahan Juli ini, sebanyak 80 penghuni telah diusir dari Rusun Kapuk Muara.

    Alasan para penghuni dikeluarkan karena melanggar sejumlah aturan, seperti belum memiliki KTP yang beralamat di rusun dan belum berkeluarga.

    “Masalah mereka pertama bujangan, terus mereka belum ber-KTP rusun, jadi warga luar. Pokonya kalau ketahuan warga luar, ya kami keluarkan,” ujar Didih kepada Kompas.com, Kamis (28/7/2016).

    Ia menjelaskan, bagi warga yang masih belum memiliki KTP yang beralamat di rusun, akan sangat terlihat bahwa mereka memang melakukan transaksi jual beli dengan penghuni rusun sebelumnya

    Menurut dia, surat perjanjian atau SP akan sama dengan identitas mereka di rusun.

    Begitu juga dengan penghuni yang belum berkeluarga.

    “Sebenarnya tidak bisa kalau normal (prosesnya) tidak punya SP mereka tidak bisa proses pindah ke rusun. Kan dulu ada permainan, sehingga SP belum atas namanya tapi dia pindah, dan KTP mereka belum tercatat KTP rusun,” ujar Didih.

    Sejumlah masalah terjadi di Rusun Kapuk Muara. Salah satunya banyaknya warga umum yang tinggal di Rusun Kapuk Muara, khusunya warga yang berasal dari Bagan Siapiapi, Riau.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [INFORMASI, EDUKASI] Film Pendek Berjudul ‘Hoax’

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 15/07/2016

    Berita

    Sebuah Film Pendek “Hoax” film ini menceritakan bagaimana usaha seseorang mencari keuntungan dari Hoax lewat akun Panen Follower/Click Bait, karena masih banyaknya Netizen yang kurang bijak dalam memilah Info dan Share berita Hoax menjadikan sebuah Peluang bagi penyebar Hoax untuk mendapatkan keuntungan.

    Film Pendek “Hoax” saat ini sedang Mengikuti ajang Festival ISFF 2016, Sebuah Festival Film Pendek Tahunan yang diadakan oleh sebuah Stasiun TV nasional.

    Link Untuk Menonton di PC : https://www.vidio.com/watch/395120-isff-2016-hoax-full-movie-jakarta

    Link Untuk Menonton di Seluler : https://m.vidio.com/watch/395120-isff-2016-hoax-full-movie-jakarta

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini