*Press Release berkaitan berita TNI memberikan latihan ala militer kepada FPI di wilayah Lebak*
Sebagaimana diketahui bahwa di media sosial telah berkembang tentang adanya berita tentang TNI memberikan latihan ala mikiter di wilayah Lebak Banten.
Bersama ini perlu disampaikan bahwa seluruh kegiatan latihan tersebut bukanlah latihan militer tetapi latihan Bela Negara.
Khusus untuk Latihan Bela Negara yang dilakukan oleh Kodim Lebak tidak melalui prosedur yang berlaku di lingkungan TNI. Latihan bela negara harus memperoleh persetujuan secara hirarkis, dimana Dandim seharusnya berlapor terlebih dahulu kepada Danrem dan selanjutnya kepada Pangdam. Dengan adanya kesalahan Prosedur tersebut maka akan ada proses lebih lanjut yang akan diberikan kepada Dansat Kowil yang bersangkutan.
Terlepas dari itu semua perlu kiranya masyarakat pahami bahwa tujuan dari kegiatan Bela Negara pada dasarnya adalah untuk meningkatkan rasa cinta tanah air kepada Bangsa dan Negara.
otentifikasi by Pendam III Siliwangi
[KLARIFIKAS] Latihan Bela Negara TNI Kepada FPI
Sumber:Tanggal publish: 08/01/2016
Berita
Hasil Cek Fakta
Rujukan
Sajadah Digunakan untuk Alas Menari
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 04/01/2016
Berita
Tolong siapa yg tahu…..hoax or beneran….
tags: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=388711121712742&id=100017215714469&sfnsn=mo
tags: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=388711121712742&id=100017215714469&sfnsn=mo
Hasil Cek Fakta
Perihal sajadah yang dijadikan alas menari pada acara menyambut HUT Kemenag ke-70 telah diklarifikasi pihak Kanwil Kemenag DKI Jakarta. Kakanwil Kemenag DKI Abdurrahman meminta maaf atas insiden menari dengan alas sajadah.”Pertama kita mohon maaf pada umat Islam, bahwa kejadian itu di luar kesengajaan tidak ada maksud kita untuk menjadikan sejadah alas untuk menari,” katanya.
Ia juga memastikan kalau alas yang dipakai untuk menari itu bukan sajadah dari masjid.”Tapi sajadah itu yang bisa kita pergunakan untuk kegiatan agama di aula seperti buka puasa bersama kegiatan lain,” kata Abdurrahman.
“Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Dari lubuk hati saya selaku kantor wilayah DKI Jakarta memohon maaf. Tidak ada niat kita menjadikan sejadah sebagai alas. Sekali lagi itu kealpaan, ketelodoran, mudah-mudahan pertama dan untuk terakhir,” tutupnya.
Ia juga memastikan kalau alas yang dipakai untuk menari itu bukan sajadah dari masjid.”Tapi sajadah itu yang bisa kita pergunakan untuk kegiatan agama di aula seperti buka puasa bersama kegiatan lain,” kata Abdurrahman.
“Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Dari lubuk hati saya selaku kantor wilayah DKI Jakarta memohon maaf. Tidak ada niat kita menjadikan sejadah sebagai alas. Sekali lagi itu kealpaan, ketelodoran, mudah-mudahan pertama dan untuk terakhir,” tutupnya.
Rujukan
Standar Ganda Kristen
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 27/12/2015
Berita
KRISTEN SELALU MENGKRITISI YANG BERBAU ARAB, TAPI DENGAN DALIH YANG SAMA KRISTEN TIDAK TAU MALU DENGAN STRATEGI LICIK NYA MEMPRODUKSI KAOS-KAOS KRISTENISASI BERTULISKAN ARAB
Hasil Cek Fakta
Di Arab juga terdapat umat Kristen yang berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Dan gambar yang tertera bukan usaha Kristenisasi, tapi itu adalah kaligrafi dari sebuah doa umat Kristen di Arab.
Rujukan
Ular Raksasa di Pedalaman Kalimantan
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 24/12/2015
Berita
An aerial photograph that appears to show a gigantic snake swimming along the remote waterway has emerged, sparking great concern among local communities.
But it is not clear whether the photograph is genuine, or a clever piece of photo-editing. Some suggested the ‘snake’ was in fact a log or a speed boat and others complained the colour of the river in the photo was too dark.
The most common theory is that the photo has been manipulated on a computer.
The image has even stumped the New Straits Times newspaper in Kuala Lumpur, which suggested readers decide for themselves.
However, on the banks of the river, villagers are convinced of the massive serpent’s existence and have even given it a name, Nabau, after an ancient sea serpent which can transform itself into the shapes of different animals.
Earlier this month scientists unearthed the fossil of a snake that was longer than a bus, as heavy as a small car and which could swallow an animal the size of a cow.
The 45ft long monster – named Titanoboa – was so big that it lived on a diet of crocodiles and giant turtles, squeezing them to death and devouring them whole.
But it is not clear whether the photograph is genuine, or a clever piece of photo-editing. Some suggested the ‘snake’ was in fact a log or a speed boat and others complained the colour of the river in the photo was too dark.
The most common theory is that the photo has been manipulated on a computer.
The image has even stumped the New Straits Times newspaper in Kuala Lumpur, which suggested readers decide for themselves.
However, on the banks of the river, villagers are convinced of the massive serpent’s existence and have even given it a name, Nabau, after an ancient sea serpent which can transform itself into the shapes of different animals.
Earlier this month scientists unearthed the fossil of a snake that was longer than a bus, as heavy as a small car and which could swallow an animal the size of a cow.
The 45ft long monster – named Titanoboa – was so big that it lived on a diet of crocodiles and giant turtles, squeezing them to death and devouring them whole.
Hasil Cek Fakta
Foto tersebut dengan cepat beredar di internet dengan kehebohan yang luar biasa. Namun akhirnya terbongkar bahwa itu merupakan hasil rekayasa photoshop. Gambar sungai dengan kerimbunan hutan di sekelilingnya ternyata diambil di sebuah website dari Kongo, Afrika.
Rujukan
Halaman: 8312/8349



