Mie Instan tidak bernutrisi Dan bahayanya MSG?
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 04/02/2016
Berita
Mengambil Kendali, Kesehatan di tangan anda.
Hasil Cek Fakta
Berita diatas tentu tidak benar adanya. Melansir dari salah satu media, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Alexander Sparringa menegaskan semua bahan makanan yang telah lulus uji BPOM adalah makanan yang aman untuk dikonsumsi, tidak terkecuali mie instan. Dan membantah semua poin yang dicetuskan YLKI.
Rujukan
Kereta Cepat yang Digarap China di Iran Lebih Murah dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 29/01/2016
Berita
Narasi ada di dalam foto, yakni “Biaya Proyek Kereta Api Cepat China Teheran-Isfahan Lebih Murah dari Jakarta-Bandung.” Selain itu, di dalam foto terdapat perbandingan harga antara proyek kereta api cepat di Teheran-Isfana dengan Jakarta-Bandung. Perbandingan harga itu ialah proyek di Iran mencapai US$2,73 miliar dan di Indonesia nilai proyeknya ialah US$5,5 miliar.
Hasil Cek Fakta
Perbedaan harga itu telah dijelaskan oleh Kedutaan Besar (Kedubes) China di Indonesia. Perbedaan itu, menurut Kedubes China, lantaran nilai total proyek di Iran bukan investasi total dari pembangunan dan juga bukan investasi total proyek. Selain itu, masih ada kontrak senilai US$2,7 miliar dengan Iran yang belum ditandatangani oleh pihak China Railway Engineering Corp (CERC), selaku pemangku proyek pembangunan kereta api cepat di Iran.
Rujukan
Pentingnya Literasi Media
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 29/01/2016
Berita
Berita yang ditampilkan di media, bahkan sekelas Kompas, Tempo, Republika, MetroTV, hingga TVOne, kadang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Itu pentingnya setiap warga, khususnya warga media sosial (medsos), memiliki kemampuan literasi media, yaitu kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi berita yang ditulis oleh media.
Hasil Cek Fakta
Error dalam pemberitaan sebabnya ada banyak. Mulai dari sumber data yang keliru, wartawan yang belum menguasai bidang yang hendak di beritakan, atau miskomunikasi antara wartawan dan narasumber. Itu yang tidak disengaja. Kalau yang sengaja seperti portal abal-abal, atau media yang partisan,memang tujuannya untuk framing demi kepentingan tertentu
Rujukan
Perihal Kode Etik Jurnalistik
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 29/01/2016
Berita
Tulisan dari Eko Juniarto, Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)
Hasil Cek Fakta
Di bawah ini adalah tulisan saya delapan tahun yang lalu tentang kode etik jurnalistik. Sembilan tahun yang lalu sudah disinyalir hanya 22 persen wartawan yang pernah membaca kode etik jurnalistik, dan makin ke sini sepertinya sudah di bawah 5 persen yang pernah membacanya. Contoh paling jelas adalah hard news/breaking news di televisi diambil dari Twitter atau media sosial lainnya. Investigative journalism sudah merupakan barang langka sekarang ini, yang meraja-lela sekarang adalah sensational journalism.
Rujukan
Halaman: 8309/8349

