Entah siapa yang membuat dan menyebarkannya. Lagi-lagi pesan hoax yang meresahkan beredar.
Isinya pesan hoax itu lagaknya sih memberitahu masyarakat agar berhati-hati ada perampokan modus baru. Jadi si pelaku dengan memakai kartu nama mengetuk kaca mobil, ketika kaca dibuka si pelaku menyilet pengendara dengan silet di balik kartu nama. Lalu si pelaku merampok.
(HOAX) : Modus Perampokan Dengan Pisau Kartu Nama
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 12/07/2016
Berita
Hasil Cek Fakta
Dalam pesan hoax itu disebutkan peristiwa ini sudah terjadi 6 kali di wilayah Jakarta Timur. Pesan yang menyebar itu ditegaskan hoax oleh Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo.
Kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (4/6), Andry menyampaikan sama sekali tidak ada peristiwa itu.
“Berita ini sudah beredar sekitar setahun yang lalu, dan kami sudah melakukan pengecekan baik di Polres maupun di Polsek jajaran namun untuk laporan terkait kejadian di atas nihil,” tegas Andry.
Andry mengingatkan agar masyarakat tak mudah percaya dengan pesan yang beredar. Kuncinya cek dan ricek.
(Analisis) :
– pertama, modus mengeluarkan silet dibalik kartu nama memang ada, tapi kayaknya silet yg digunakan adalah silet cutter atau silet cukur, bukan cardsharp seperti yg ditampilkan dalam gambar. Memang pisau lipat tsb bisa “menyamar” seperti kartu kredit/kartu nama, tapi bukan berarti bisa digunakan utk pura2 jadi kartu nama kemudian menyilet korban, krn utk merubah dr bentuk kartu menjadi pisau, harus melipat dan membutuhkan beberapa tahap, juga ada penguncinya, jd tidak mungkin dalam sekejap pura2 jadi kartu kemudian jd silet dan melukai korban.
– kedua, di situ disebutkan foto cardsharp tersebut adalah foto barang bukti pelaku. Bukan, itu bukan foto barang bukti, tapi foto demonstrasi atau foto pajangan produk utk ditempatkan di lapak penjual. Coba cek tokopedia atau bukalapak, banyak yg jual dan foto2nya menggunakan foto seperti yg tertera di posting tsb. Bagaiman mungkin foto “brosur” disebut barang bukti?
Saya cm pengen meluruskan supaya orang2 yg punya pisau lipat tsb utk keperluan utility tidak dianggap sebagai penjahat tukang nyilet. Menjadikan image negarif bagi pemiliknya.
Kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (4/6), Andry menyampaikan sama sekali tidak ada peristiwa itu.
“Berita ini sudah beredar sekitar setahun yang lalu, dan kami sudah melakukan pengecekan baik di Polres maupun di Polsek jajaran namun untuk laporan terkait kejadian di atas nihil,” tegas Andry.
Andry mengingatkan agar masyarakat tak mudah percaya dengan pesan yang beredar. Kuncinya cek dan ricek.
(Analisis) :
– pertama, modus mengeluarkan silet dibalik kartu nama memang ada, tapi kayaknya silet yg digunakan adalah silet cutter atau silet cukur, bukan cardsharp seperti yg ditampilkan dalam gambar. Memang pisau lipat tsb bisa “menyamar” seperti kartu kredit/kartu nama, tapi bukan berarti bisa digunakan utk pura2 jadi kartu nama kemudian menyilet korban, krn utk merubah dr bentuk kartu menjadi pisau, harus melipat dan membutuhkan beberapa tahap, juga ada penguncinya, jd tidak mungkin dalam sekejap pura2 jadi kartu kemudian jd silet dan melukai korban.
– kedua, di situ disebutkan foto cardsharp tersebut adalah foto barang bukti pelaku. Bukan, itu bukan foto barang bukti, tapi foto demonstrasi atau foto pajangan produk utk ditempatkan di lapak penjual. Coba cek tokopedia atau bukalapak, banyak yg jual dan foto2nya menggunakan foto seperti yg tertera di posting tsb. Bagaiman mungkin foto “brosur” disebut barang bukti?
Saya cm pengen meluruskan supaya orang2 yg punya pisau lipat tsb utk keperluan utility tidak dianggap sebagai penjahat tukang nyilet. Menjadikan image negarif bagi pemiliknya.
Rujukan
(DISINFORMASI) : Kaos Kaki Jokowi
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 12/07/2016
Berita
“Orang yang SUDAH TERBIASA SHALAT, dia TIDAK akan pakai kaos kaki lagi setelah wudhu.” < Apakah artinya Jonru YAKIN Pak Jokowi tidak terbiasa salat? Tahu dari mana dan atau siapa, bagaimana caranya?
“Artinya, secara normal seharusnya dia tidak pakai kaos kaki lagi setelah wudlu.” < Pejabat lain yang sebelumnya mendukung kubu yang didukung Jonru ada juga yang sholat memakai kaos kaki, silahkan dicari informasinya. Apakah Jonru pernah membahas mereka juga?
Apakah saya perlu menegur teman saya juga, padahal saya tahu ilmu agamanya lebih tinggi daripada saya? Apakah Jonru waras? Apakah…#ahsudahlah sebelum semakin melantur sebaiknya saya sudahi saja. Sekian dari saya, terimafitnah eh… terimakasih.
“Artinya, secara normal seharusnya dia tidak pakai kaos kaki lagi setelah wudlu.” < Pejabat lain yang sebelumnya mendukung kubu yang didukung Jonru ada juga yang sholat memakai kaos kaki, silahkan dicari informasinya. Apakah Jonru pernah membahas mereka juga?
Apakah saya perlu menegur teman saya juga, padahal saya tahu ilmu agamanya lebih tinggi daripada saya? Apakah Jonru waras? Apakah…#ahsudahlah sebelum semakin melantur sebaiknya saya sudahi saja. Sekian dari saya, terimafitnah eh… terimakasih.
Hasil Cek Fakta
Setelah sebelumnya Indonesian Hoax Busters membahas tentang Klaim dari pihak tak bertanggung jawab tentang pencitraan saat shalat Id, kali ini kami mengulas klaim lainnya tentang sholat dengan kaus kaki, entah pernyataan tersebut adalah murni karena ketidaktahuan pihak penyebar, atau memang disengaja untuk menggiring opini publik.
Begini kutipan pernyataannya:
“Lagi-lagi terbukti, Shalat di Padang cuma pencitraan. Bahkan shaf sengaja dimundurkan agar wartawan mudah memotret adegan shalatnya.
Dan ups… Ternyata dia shalat masih pakai kaos kaki. Ya sudah, positif thinking saja. Semoga sebelumnya sudah wudhu, dan kaos kaki dipakai lagi (walau ini bukan kebiasaan yang lazim)
NB: Jika Anda menuduh foto ini hoax, silahkan cek langsung ke sumber beritanya.”
Sumber pernyataan: https://web.facebook.com/jonru.page/photos/a.143624529728.103413.68286339728/10154426143544729/?type=3
Mengenai pernyataan penyebar berita yang menyatakan shaf sholat yang di geser mundur pada sholat Ied Presiden Jokowi di Padang kemarin adalah demi pencitraan, Indonesian Hoax Busters sudah membahas itu pada postingan ini :
https://web.facebook.com/IndoHoaxBuster/posts/1146089332123208
Isi pernyataan kedua adalah mengenai shalat dengan masih mengenakan kaos kaki. Apakah boleh bila shalat mengenakan kaos kaki?
Selama kaos kaki tersebut terbebas dari najis sebenarnya sah-sah saja sholat dengan masih mengenakan kaos kaki. Jangankan kaos kaki, bahkan sholat dengan mengenakan alas kaki pun pernah dilakukan oleh Nabi.
Piyungan Online yang notabene media yang kerap bersebrangan dengan Jokowi pun pernah mengangkat hadits-hadits tentang hal ini.
Bahkan founding father kita Bung Karno dan Roeslan Abdulgani pun pernah sholat dengan masih mengenakan kaos kaki ketika berkunjung ke Amerika Serikat tahun 1956.
Jadi sebenarnya sholat Id Presiden Jokowi di Padang kemarin adalah hal yang biasa-biasa saja tanpa tendensi apapun demi pencitraan.
Marilah #berinternetBijak #berinternetSehat #berinternetCerdas#beSmart#stophoax #stoppropaganda #stoppembodohanmassalbersama Indonesian Hoax Busters
Begini kutipan pernyataannya:
“Lagi-lagi terbukti, Shalat di Padang cuma pencitraan. Bahkan shaf sengaja dimundurkan agar wartawan mudah memotret adegan shalatnya.
Dan ups… Ternyata dia shalat masih pakai kaos kaki. Ya sudah, positif thinking saja. Semoga sebelumnya sudah wudhu, dan kaos kaki dipakai lagi (walau ini bukan kebiasaan yang lazim)
NB: Jika Anda menuduh foto ini hoax, silahkan cek langsung ke sumber beritanya.”
Sumber pernyataan: https://web.facebook.com/jonru.page/photos/a.143624529728.103413.68286339728/10154426143544729/?type=3
Mengenai pernyataan penyebar berita yang menyatakan shaf sholat yang di geser mundur pada sholat Ied Presiden Jokowi di Padang kemarin adalah demi pencitraan, Indonesian Hoax Busters sudah membahas itu pada postingan ini :
https://web.facebook.com/IndoHoaxBuster/posts/1146089332123208
Isi pernyataan kedua adalah mengenai shalat dengan masih mengenakan kaos kaki. Apakah boleh bila shalat mengenakan kaos kaki?
Selama kaos kaki tersebut terbebas dari najis sebenarnya sah-sah saja sholat dengan masih mengenakan kaos kaki. Jangankan kaos kaki, bahkan sholat dengan mengenakan alas kaki pun pernah dilakukan oleh Nabi.
Piyungan Online yang notabene media yang kerap bersebrangan dengan Jokowi pun pernah mengangkat hadits-hadits tentang hal ini.
Bahkan founding father kita Bung Karno dan Roeslan Abdulgani pun pernah sholat dengan masih mengenakan kaos kaki ketika berkunjung ke Amerika Serikat tahun 1956.
Jadi sebenarnya sholat Id Presiden Jokowi di Padang kemarin adalah hal yang biasa-biasa saja tanpa tendensi apapun demi pencitraan.
Marilah #berinternetBijak #berinternetSehat #berinternetCerdas#beSmart#stophoax #stoppropaganda #stoppembodohanmassalbersama Indonesian Hoax Busters
Rujukan
[ISU] Melahirkan Terkena Denda Rp 700 Ribu
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 12/07/2016
Berita
Susanti, warga Sulawesi Selatan didenda 700rb karena telah melahirkan di rumah. Ia yang tidak memiliki uang lebih memilih melahirkan dirumah dengan jasa dukun beranak. Namun pihak puskesmas setempat mengatakan bahwa setiap kelahiran harus dilakukan di puskesmas, dimana uangnya untuk menggaji para staf. Peraturan aneh ini pun memaksa Susanti meminjam uang ke tetangga untuk membayar denda.
Hasil Cek Fakta
Informasi di atas dapat dikategorikan isu. Mengingat terjadinya perubahan keterangan dari pihak Susanti beserta Suaminya, Suardi.
Awalnya, Suardi mengatakan dirinya dan Susanti dikenakan denda oleh pihak Puskesmas karena melahirkan di rumah. Namun Suardi menjelaskan, melahirkan di rumah karena alasan bidan Puskesmas terlambat datang ke rumahnya.
“Awalnya kami panggil bidan puskesmas kerumah, hanya saja bidan ini datangnya terlambat, sehingga istri saya keburu melahirkan dengan bantuan seorang dukun. Tidak lama kemudian bidannya datang,” kata Suardi, Rabu (18/5/2016).
Di lain pihak, bidan Puskesmas Cina, Asniati menjelaskan bahwa uang tersebut merupakan jasa baginya untuk dibagikan kepada petugas di Puskesmas. Menurutnya hal ini berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Puskesmas.
“Itu uang jasa dan itu sudah diatur dalam aturan puskesmas. Peraturan ini sudah berjalan sejak februari tahun 2016 lalu,” jelas Asniati.
Namun dalam pemberitaan Tribun News ada sedikit perbedaan, dimana dikatakan bidan Puskesmas mendatangi Suardi dan Susanti tiga hari setelah melahirkan. Dijelaskan juga Suardi membayar denda tersebut dengan menghutang kepada tetangganya.
Dua bulan kemudian, berdasarkan pemberitaan di Liputan 6, Suardi memberikan keterangan Susanti melahirkan pada bulan Mei sebelumnya dibantu oleh bidan desa bukan bidan Puskesmas. “Sempat dibantu dengan bidan desa, tapi waktu melahirkan hanya saya dan mertua saya berdua membantu proses kelahiran itu. Tapi, sekali lagi bukan lewat dukun,” paparnya, Kamis (14/7/2016).
Keterangan Suardi berbeda dengan Kepala Puskesmas Cina, Samanhudi yang membantah tudingan mengenakan denda terhadap Susianti karena melahirkan di rumah. Menurut dia, uang yang ditagihkan kepada Susianti adalah biaya untuk proses melahirkan di puskesmas. Besarannya juga hanya Rp 200 ribu.
“Semua sudah selesai. Kami hanya mengenakan biaya kepada warga tersebut sebesar Rp 200 ribu setelah proses melahirkan dilakukan di puskesmas. Dibanding warga ke bidan desa, itu biayanya Rp 400 Ribu,” tutur Sumanhudi.
Awalnya, Suardi mengatakan dirinya dan Susanti dikenakan denda oleh pihak Puskesmas karena melahirkan di rumah. Namun Suardi menjelaskan, melahirkan di rumah karena alasan bidan Puskesmas terlambat datang ke rumahnya.
“Awalnya kami panggil bidan puskesmas kerumah, hanya saja bidan ini datangnya terlambat, sehingga istri saya keburu melahirkan dengan bantuan seorang dukun. Tidak lama kemudian bidannya datang,” kata Suardi, Rabu (18/5/2016).
Di lain pihak, bidan Puskesmas Cina, Asniati menjelaskan bahwa uang tersebut merupakan jasa baginya untuk dibagikan kepada petugas di Puskesmas. Menurutnya hal ini berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Puskesmas.
“Itu uang jasa dan itu sudah diatur dalam aturan puskesmas. Peraturan ini sudah berjalan sejak februari tahun 2016 lalu,” jelas Asniati.
Namun dalam pemberitaan Tribun News ada sedikit perbedaan, dimana dikatakan bidan Puskesmas mendatangi Suardi dan Susanti tiga hari setelah melahirkan. Dijelaskan juga Suardi membayar denda tersebut dengan menghutang kepada tetangganya.
Dua bulan kemudian, berdasarkan pemberitaan di Liputan 6, Suardi memberikan keterangan Susanti melahirkan pada bulan Mei sebelumnya dibantu oleh bidan desa bukan bidan Puskesmas. “Sempat dibantu dengan bidan desa, tapi waktu melahirkan hanya saya dan mertua saya berdua membantu proses kelahiran itu. Tapi, sekali lagi bukan lewat dukun,” paparnya, Kamis (14/7/2016).
Keterangan Suardi berbeda dengan Kepala Puskesmas Cina, Samanhudi yang membantah tudingan mengenakan denda terhadap Susianti karena melahirkan di rumah. Menurut dia, uang yang ditagihkan kepada Susianti adalah biaya untuk proses melahirkan di puskesmas. Besarannya juga hanya Rp 200 ribu.
“Semua sudah selesai. Kami hanya mengenakan biaya kepada warga tersebut sebesar Rp 200 ribu setelah proses melahirkan dilakukan di puskesmas. Dibanding warga ke bidan desa, itu biayanya Rp 400 Ribu,” tutur Sumanhudi.
Rujukan
[DISINFORMASI] Ketidakjujuran Presiden Jokowi Perihal Silsilah Keluarganya
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 10/07/2016
Berita
“Jonru, kali ini Anda kurang kerjaan atau kehabisan bahan, ya? Kok masalah pribadi seperti ibu kandung Jokowi juga dibahas?”
Hei, begini teman: Jika ada pemimpin yang latar belakang keluarganya tidak jelas, menjadi pro dan kontra, dan selama ini terkesan seperti ditutup-tutupi, tak pernah diklarifikasi, tidakkah Anda melihat ada sesuatu yang aneh?
Jika silsilah keluarga Jokowi memang jelas, seharusnya dia dan keluarganya bisa dengan mudah menjelaskan, secara jujur dan terbuka sejelas-jelaskan.
Tapi faktanya kok seperti ditutup-tutupi? Ada apa di balik semua ini?
Ini soal KEJUJURAN seorang presiden. Jika untuk urusan silsilah keluarga saja dia tidak jujur, maka… ya sudahlah. Silahkan diteruskan.
Toh fakta pun selama ini sudah membuktikan bahwa banyak sekali bukti KETIDAKJUJURAN Jokowi, termasuk soal janji-janji kampanye yang tidak ditepati.
Jadi..
Anda masih menganggap urusan silsilah keluarga ini masalah pribadi semata?
Ayo mikir pake otak!”
Hei, begini teman: Jika ada pemimpin yang latar belakang keluarganya tidak jelas, menjadi pro dan kontra, dan selama ini terkesan seperti ditutup-tutupi, tak pernah diklarifikasi, tidakkah Anda melihat ada sesuatu yang aneh?
Jika silsilah keluarga Jokowi memang jelas, seharusnya dia dan keluarganya bisa dengan mudah menjelaskan, secara jujur dan terbuka sejelas-jelaskan.
Tapi faktanya kok seperti ditutup-tutupi? Ada apa di balik semua ini?
Ini soal KEJUJURAN seorang presiden. Jika untuk urusan silsilah keluarga saja dia tidak jujur, maka… ya sudahlah. Silahkan diteruskan.
Toh fakta pun selama ini sudah membuktikan bahwa banyak sekali bukti KETIDAKJUJURAN Jokowi, termasuk soal janji-janji kampanye yang tidak ditepati.
Jadi..
Anda masih menganggap urusan silsilah keluarga ini masalah pribadi semata?
Ayo mikir pake otak!”
Hasil Cek Fakta
Soal ini sudah jelas semenjak zaman Pilpres dahulu, saat itu (dan selalu diulang kembali) yang membuat tidak jelas adalah Jonru sendiri. Jonru berputar-putar pada saat dikonfrontir oleh Budi Sujatmiko dengan data yang jelas, alasannya: datanya kopian, minta aslinya, dia mau cek dulu, yang intinya berputar-putar, sebelum akhirnya memblokir kembali lawan diskusinya (EDIT: Budi Sujatmiko, sebelumnya saya tulis Budiman Sujatmiko).
@jonru: “Kok fotokopian? Aslinya mana? @budisujatmiko: Akta Nikah beliau gimana? ???? Cc. @kaesangp pic.twitter.com/jvSpzb0Rez” (selengkapnya di http://chirpstory.com/li/241887)
Jadi sebetulnya tidak tepat memberikan data yang valid sekalipun ke Jonru, karena dia punya kriteria tersendiri mengenai data yang menurut dia valid. Sekian dari saya, terimafitnah eh… terimakasih.
@jonru: “Kok fotokopian? Aslinya mana? @budisujatmiko: Akta Nikah beliau gimana? ???? Cc. @kaesangp pic.twitter.com/jvSpzb0Rez” (selengkapnya di http://chirpstory.com/li/241887)
Jadi sebetulnya tidak tepat memberikan data yang valid sekalipun ke Jonru, karena dia punya kriteria tersendiri mengenai data yang menurut dia valid. Sekian dari saya, terimafitnah eh… terimakasih.
Rujukan
Halaman: 8413/8473




