“Naudzubillah minzalik.
Mereka berencana mengadakan konsert party BugiL disuatu pantai di bulan Ramadhan malah terjadilah bencana,.
Hanya dengan Allah kirimkan Satu ekor IKAN saja,. Mereka semua hampir habis dilahap oleh ikan tersebut.
SEMOGA MENJADI SATU AJARAN BUAT DIRI QT SENDIRI. AMINN..
Allah akan menghinakan jika perbuatan hina yg di lakukanya.
Allah akan mengangkat derajat seseorang dengan perbuatan baik dan ketaatanya.
…. Perbuatan hina akan mati dengan hina dan sia sia…
( insya allah.. Kita bisa memanfaatkan umur yg di berikan allah kpda kita untuk selalu taat dan kebaikan di jalan yg di ridhoinya. Aamiin….”
(HOAX) Peserta Pesta Bugil Di Pantai Dimakan Piranha
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 30/06/2016
Berita
Hasil Cek Fakta
Pada postingan klaim tersebut ditampilkan beberapa cuplikan kerumunan orang di tepi pantai yang tengah diserang seekor ikan piranha ganas. Pembuat postingan itu mengklaim kalau gambar tersebut merupakan dokumentasi dari kegiatan pesta bugil di sebuah pantai saat bulan Ramadan. Sayangnya, pembuat postingan tidak menyebutkan nama dan lokasi pantai tersebut.
Berdasarkan penelusuran melalui pencarian gambar, ternyata gambar tersebut bukanlah berasal dari peristiwa yang nyata. Gambar tersebut merupakan cuplikan dari film berjudul “Piranha 3D” yang telah beredar sejak tahun 2012. Di dalam film tersebut memang mengisahkan mengenai keganasan ikan piranha yang menyerang manusia.
Selain itu, klaim pembuat posting kalau ikan piranha yang menyerang orang di pesta bugil itu hanya satu saja merupakan kesalahan fatal. Sebab, ikan piranha bukanlah ikan yang menyerang mangsa secara individu. Ikan tersebut selalu menyerang mangsa secara bergerombol.
Ikan itu memiliki naluri bergerak dalam gerombolan. Jadi, klaim pembuat posting sudah dapat dipastikan terpatahkan. Berikut penjelasan dari situs smithsonian.com mengenai pergerakan ikan piranha secara naluri selalu bergerombol:
[…] Piranhas run in packs for safety, not strength
Part of piranhas’ fierce reputation stems from the fact that they often swim in packs or shoals. Red-bellied piranhas are particularly known as pack hunters. Though it might seem an advantageous hunting technique—more fish could theoretically take down a larger foe—the behavior actually stems from fear.
Piranhas aren’t apex predators—they’re prey to caimans, birds, river dolphins, and other large pescatarian fish. So traveling in shoals has the effect of protecting the inner fish from attack. Further, shoals tend to have a hierarchy of larger, older fish towards the center and younger fish on the outer edges, suggesting that safety might be the true motivation.
In 2005, researchers looked at shoal formation in captive red-bellied piranhas and found that the fish both breathed easier in larger shoals and responded more calmly to simulated predator attacks. The researchers also observed wild piranhas forming larger shoals in shallow waters where they might be more vulnerable.[…]
Adapun, ikan piranha tidak sembarangan menyerang manusia atau hewan lainnya yang masuk ke daerahnya. Ikan yang aslinya berasal dari Sungai Amazon itu hanya menyerang mangsa yang kiranya dianggap makanan. Biasanya, hewan yang diserang oleh piranha merupakan hewan yang sudah lemah fisiknya.
Jadi, tidak benar bila klaim piranha langsung menyerang manusia secara membabi buta. Berikut penjelasan singkat mengenai tabiat piranha dari salah seorang pemelihara ikan tersebut dari situs dw.com:
[…] Piranhas are very conservative. They don’t like change – including when it comes to food.
In the wild, they are the Amazon’s health police. They eat sick or injured fish, and as such, prevent illnesses from spreading. They are not gourmet diners.
Dari penjelasan itu maka dapat simpulkan bahwa kabar yang disebarkan melalui media sosial itu merupakan berita hoax.[…]
Berdasarkan penelusuran melalui pencarian gambar, ternyata gambar tersebut bukanlah berasal dari peristiwa yang nyata. Gambar tersebut merupakan cuplikan dari film berjudul “Piranha 3D” yang telah beredar sejak tahun 2012. Di dalam film tersebut memang mengisahkan mengenai keganasan ikan piranha yang menyerang manusia.
Selain itu, klaim pembuat posting kalau ikan piranha yang menyerang orang di pesta bugil itu hanya satu saja merupakan kesalahan fatal. Sebab, ikan piranha bukanlah ikan yang menyerang mangsa secara individu. Ikan tersebut selalu menyerang mangsa secara bergerombol.
Ikan itu memiliki naluri bergerak dalam gerombolan. Jadi, klaim pembuat posting sudah dapat dipastikan terpatahkan. Berikut penjelasan dari situs smithsonian.com mengenai pergerakan ikan piranha secara naluri selalu bergerombol:
[…] Piranhas run in packs for safety, not strength
Part of piranhas’ fierce reputation stems from the fact that they often swim in packs or shoals. Red-bellied piranhas are particularly known as pack hunters. Though it might seem an advantageous hunting technique—more fish could theoretically take down a larger foe—the behavior actually stems from fear.
Piranhas aren’t apex predators—they’re prey to caimans, birds, river dolphins, and other large pescatarian fish. So traveling in shoals has the effect of protecting the inner fish from attack. Further, shoals tend to have a hierarchy of larger, older fish towards the center and younger fish on the outer edges, suggesting that safety might be the true motivation.
In 2005, researchers looked at shoal formation in captive red-bellied piranhas and found that the fish both breathed easier in larger shoals and responded more calmly to simulated predator attacks. The researchers also observed wild piranhas forming larger shoals in shallow waters where they might be more vulnerable.[…]
Adapun, ikan piranha tidak sembarangan menyerang manusia atau hewan lainnya yang masuk ke daerahnya. Ikan yang aslinya berasal dari Sungai Amazon itu hanya menyerang mangsa yang kiranya dianggap makanan. Biasanya, hewan yang diserang oleh piranha merupakan hewan yang sudah lemah fisiknya.
Jadi, tidak benar bila klaim piranha langsung menyerang manusia secara membabi buta. Berikut penjelasan singkat mengenai tabiat piranha dari salah seorang pemelihara ikan tersebut dari situs dw.com:
[…] Piranhas are very conservative. They don’t like change – including when it comes to food.
In the wild, they are the Amazon’s health police. They eat sick or injured fish, and as such, prevent illnesses from spreading. They are not gourmet diners.
Dari penjelasan itu maka dapat simpulkan bahwa kabar yang disebarkan melalui media sosial itu merupakan berita hoax.[…]
Rujukan
[HOAX] Jamaah di Mekkah Yang Makan Sembarangan di Siang Ramadan
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 29/06/2016
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari bersamadakwah.net, Sehari yang lalu media sosial dibuat kaget dengan beredarnya foto sebagian jamaah di Mekkah yang makan ‘sembarangan’ di siang Ramadhan.
“Siang hari Ramadan di Pelataran Masjidil Haram beberapa jamaah dan pekerja terlihat bebas menyantap makanan dan warung tetap saja buka melayani pelanggan tanpa khawatir terjadi sweeping .”
Begitu pernyataan seorang tokoh melalui media sosial. Kontan saja, tidak sedikit warga jejaring sosial yang membaginya. Hal tersebut dipicu adanya aksi sweeping yang dilakukan oleh satpol PP terhadap Saeni (53), warga Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Banten, pada Rabu (8/6) lalu.
“Lalu Serang mencontoh siapa?” demikian respon pengguna media sosial lain.
Apakah Masjidil Haram sebegitu ‘bebas’ tanpa rambu-rambu penghormatan terhadap orang yang berpuasa?
Penulis mencoba untuk cek dan ricek kebenaran tersebut dengan menghubungi muslim Indonesia yang sedang ada di Masjidil Haram, Mekah, Saudi Arabia.
“Tidak (tidak ada warung buka dan melayani pelanggan). Di Mekah, (warung makan) buka setelah Maghrib atau Isya,” kata Fahmi Alkautsar kepada penulis, Senin (13/6).
Fahmi yang berprofesi sebagai penerjemah khutbah Jum’at para masyayikh di Masjidil Haram dari bahasa Arab ke bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu mengatakan hal tersebut adalah tuduhan belaka.
“Kabar tersebut fitnah. Nggak benar. Foto-foto itu gambar lama, bukan bulan Ramadhan,” lanjut Fahmi sudah lama berada di Mekah.
Setali tiga uang dengan Fahmi, Ahmad Musyaddad yang juga berprofesi sebagai penerjemah di sana mengatakan bahwa kabar tentang pekerja bebas menyantap makan di siang Ramadhan itu tidak benar.
“Tidak benar. Di sini hai’ah amar ma’ruf dan nahi munkar sangat ketat. Mengawasi hal-hal yang tidak syar’i. Apatah lagi pelanggaran yang dilakukan secara terbuka. Jangankan bulan Ramadhan, di luar Ramadhan saja jika sudah saatnya azan semua toko tutup rapat,” kata Musyaddad di hari yang sama.
“Siang hari Ramadan di Pelataran Masjidil Haram beberapa jamaah dan pekerja terlihat bebas menyantap makanan dan warung tetap saja buka melayani pelanggan tanpa khawatir terjadi sweeping .”
Begitu pernyataan seorang tokoh melalui media sosial. Kontan saja, tidak sedikit warga jejaring sosial yang membaginya. Hal tersebut dipicu adanya aksi sweeping yang dilakukan oleh satpol PP terhadap Saeni (53), warga Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Banten, pada Rabu (8/6) lalu.
“Lalu Serang mencontoh siapa?” demikian respon pengguna media sosial lain.
Apakah Masjidil Haram sebegitu ‘bebas’ tanpa rambu-rambu penghormatan terhadap orang yang berpuasa?
Penulis mencoba untuk cek dan ricek kebenaran tersebut dengan menghubungi muslim Indonesia yang sedang ada di Masjidil Haram, Mekah, Saudi Arabia.
“Tidak (tidak ada warung buka dan melayani pelanggan). Di Mekah, (warung makan) buka setelah Maghrib atau Isya,” kata Fahmi Alkautsar kepada penulis, Senin (13/6).
Fahmi yang berprofesi sebagai penerjemah khutbah Jum’at para masyayikh di Masjidil Haram dari bahasa Arab ke bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu mengatakan hal tersebut adalah tuduhan belaka.
“Kabar tersebut fitnah. Nggak benar. Foto-foto itu gambar lama, bukan bulan Ramadhan,” lanjut Fahmi sudah lama berada di Mekah.
Setali tiga uang dengan Fahmi, Ahmad Musyaddad yang juga berprofesi sebagai penerjemah di sana mengatakan bahwa kabar tentang pekerja bebas menyantap makan di siang Ramadhan itu tidak benar.
“Tidak benar. Di sini hai’ah amar ma’ruf dan nahi munkar sangat ketat. Mengawasi hal-hal yang tidak syar’i. Apatah lagi pelanggaran yang dilakukan secara terbuka. Jangankan bulan Ramadhan, di luar Ramadhan saja jika sudah saatnya azan semua toko tutup rapat,” kata Musyaddad di hari yang sama.
Rujukan
[HOAX] Taharrush, Budaya Pemerkosaan Massal Kuno Ala Bangsa Arab Menyebar ke Eropa
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 28/06/2016
Berita
Metode pemerkosaan “Taharrush” mulai diperkenalkan oleh para imigran arab di Eropa
Invasi imigran timur tengah secara besar-besaran ke Eropa membawa sebuah tradisi arab bernama “Taharrush Gamea” yg cukup mengagetkan bagi bangsa Eropa dan belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Taharrush merupakan sebuah tradisi permainan kuno bangsa arab dimana seorang perempuan ditelanjangi dan diperkosa ramai-ramai (ala gangbang). Perempuan yg diperkosa tersebut dikerumuni banyak pria yg membentuk formasi lingkaran, sehingga tidak ada orang yang bisa menolong karena terhalang oleh kerumunan.
Dengan metode formasi Taharrush ini, mustahil ada wanita yg tidak bisa diperkosa, dan mustahil ada wanita yg bisa diselamatkan dari pemerkosaan. Karena metode Taharrush ini sudah dikembangkan ribuan tahun efektifitasnya oleh bangsa arab kuno dan kini metode klasik tersebut mulai dibangkitkan lagi di Eropa oleh para imigran.
Dalam budaya arab kuno, memperkosa wanita bukanlah suatu tindak kriminal tingkat tinggi, bahkan pemerkosaan malah dijadikan sebagai suatu jenis permainan bernama Taharrush ini.
Di era arab modern sekalipun, hukuman bagi pemerkosa sangat sulit diterapkan, karena aturan di arab yg mensyaratkan 4 saksi. Jadi bila pemerkosaan dilakukan di ruangan kosong misalnya, mustahil bisa dituntut karena tidak adanya saksi. Begitupula dalam sebuah pemerkosaan berkelompok mustahil juga para pelakunya mau bersaksi melawan rekannya, yg pada akhirnya akan menyebabkan tuntutan pemerkosaan tetap gagal di jalur hukum.
Aturan bangsa arab yg menguntungkan pemerkosa ini disebabkan karena dalam budaya arab terkandung faham “misogyny” yaitu faham yg menganggap perempuan derajatnya lebih rendah daripada pria, dan wanita bisa dianggap seperti budak yg pantas dihukum. Sehingga dalam faham misogyny, seorang pria sangat boleh & sangat berhak memperkosa wanita.
Faham misogyny dalam budaya arab kuno yg dibawa para imigran ini ini tentu sangat mengagetkan bagi bangsa eropa yg menganut faham emansipasi wanita.
Dalam budaya arab kuno, perempuan wajib hukumnya menggunakan busana tertutup. Sehingga perempuan berbusana minim yg banyak berkeliaran di Eropa dianggap sangat boleh & sangat pantas dihukum dengan cara diperkosa. Pemerkosaan secara perseorangan maupun berkelompok (Taharrush) dianggap sebagai “penghukuman” bagi wanita-wanita yg tidak mengenakan busana tertutup.
Dalam video ini terdapat cuplikan video Taharrush yg terjadi di eropa dan juga wanita-wanita korban perkosaan ala Taharrush. Juga ada kesaksian dari reporter wanita cantik yg sempat jadi korban Taharrush
Invasi imigran timur tengah secara besar-besaran ke Eropa membawa sebuah tradisi arab bernama “Taharrush Gamea” yg cukup mengagetkan bagi bangsa Eropa dan belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Taharrush merupakan sebuah tradisi permainan kuno bangsa arab dimana seorang perempuan ditelanjangi dan diperkosa ramai-ramai (ala gangbang). Perempuan yg diperkosa tersebut dikerumuni banyak pria yg membentuk formasi lingkaran, sehingga tidak ada orang yang bisa menolong karena terhalang oleh kerumunan.
Dengan metode formasi Taharrush ini, mustahil ada wanita yg tidak bisa diperkosa, dan mustahil ada wanita yg bisa diselamatkan dari pemerkosaan. Karena metode Taharrush ini sudah dikembangkan ribuan tahun efektifitasnya oleh bangsa arab kuno dan kini metode klasik tersebut mulai dibangkitkan lagi di Eropa oleh para imigran.
Dalam budaya arab kuno, memperkosa wanita bukanlah suatu tindak kriminal tingkat tinggi, bahkan pemerkosaan malah dijadikan sebagai suatu jenis permainan bernama Taharrush ini.
Di era arab modern sekalipun, hukuman bagi pemerkosa sangat sulit diterapkan, karena aturan di arab yg mensyaratkan 4 saksi. Jadi bila pemerkosaan dilakukan di ruangan kosong misalnya, mustahil bisa dituntut karena tidak adanya saksi. Begitupula dalam sebuah pemerkosaan berkelompok mustahil juga para pelakunya mau bersaksi melawan rekannya, yg pada akhirnya akan menyebabkan tuntutan pemerkosaan tetap gagal di jalur hukum.
Aturan bangsa arab yg menguntungkan pemerkosa ini disebabkan karena dalam budaya arab terkandung faham “misogyny” yaitu faham yg menganggap perempuan derajatnya lebih rendah daripada pria, dan wanita bisa dianggap seperti budak yg pantas dihukum. Sehingga dalam faham misogyny, seorang pria sangat boleh & sangat berhak memperkosa wanita.
Faham misogyny dalam budaya arab kuno yg dibawa para imigran ini ini tentu sangat mengagetkan bagi bangsa eropa yg menganut faham emansipasi wanita.
Dalam budaya arab kuno, perempuan wajib hukumnya menggunakan busana tertutup. Sehingga perempuan berbusana minim yg banyak berkeliaran di Eropa dianggap sangat boleh & sangat pantas dihukum dengan cara diperkosa. Pemerkosaan secara perseorangan maupun berkelompok (Taharrush) dianggap sebagai “penghukuman” bagi wanita-wanita yg tidak mengenakan busana tertutup.
Dalam video ini terdapat cuplikan video Taharrush yg terjadi di eropa dan juga wanita-wanita korban perkosaan ala Taharrush. Juga ada kesaksian dari reporter wanita cantik yg sempat jadi korban Taharrush
Hasil Cek Fakta
Taharrush itu adalah bahasa frase Arab yang baru populer untuk perbuatan oknum pemerkosaan massal.
Kalau di negara bahasa Inggris, juga terjadi, dan disebut Gang-Rape. Di Indonesia, disebut perkosaan massal. Di Jerman namanya Gruppenvergewaltigung. Di Prancis namanya tournantes.
Tidak ada dari sejarah Arab yang menyebutkan budaya perkosaan massal menjadi tradisi, baik sebelum atau sesudah peradaban Islam menyebar di daerah Arab.
Kalau di negara bahasa Inggris, juga terjadi, dan disebut Gang-Rape. Di Indonesia, disebut perkosaan massal. Di Jerman namanya Gruppenvergewaltigung. Di Prancis namanya tournantes.
Tidak ada dari sejarah Arab yang menyebutkan budaya perkosaan massal menjadi tradisi, baik sebelum atau sesudah peradaban Islam menyebar di daerah Arab.
Rujukan
[HOAX] Tentara Myanmar Paksa Orang Etnis Rohingya Untuk Makan Saat Sedang Berpuasa di Bulan Ramadan
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 26/06/2016
Hasil Cek Fakta
Seminggu ini ramai kembali penyebaran berita bahwa etnis Rohingya di Myanmar kembali disiksa oleh kaum Buddhist, dan dipaksa untuk makan saat sedang berpuasa di bulan Ramadhan.
Foto yang digunakan adalah benar di Myanmar / Burma, namun bukan penyiksaan / pemaksaan makan oleh kaum Buddhist. Mereka tahanan di penjara lokal yang kabarnya lebih kejam dari penjara Abu Ghraib di Iraq.
Pelanggaran HAM di Myanmar masih terus terjadi atas minoritas Rakhine – Rohingya karena dianggap bukan penduduk asli melainkan imigran gelap dari Bangladesh.
Menurut survivor dari penjara yg kebetulan Etnis Rohingya memberi kesaksian bahwa ada usaha converting paksa dari kepercayaan / agama Islam ke Buddha oleh tentara/penjaga di sana. Tapi sayang tidak ditemukan bukti otentik yang bisa kami angkat untuk dijadikan klaim.
Bahkan menurut LA Times, ada camp konsentrasi khusus etnis Rohingya yang dikendalikan oleh kaum Buddha Militan. “About 100,000 Rohingyas have been forced into internment camps ridden with disease and malnutrition in the western state of Rakhine, deprived of outside assistance since the government expelled foreign aid groups in 2014.
Dan ada di salah satu penyebar berita misinformasi tersebut yang menyebutkan bahwa dunia dan media barat hanya diam. Tentu tidak, seperti halnya reaksi dunia terhadap genosida NAZI pada kaum Yahudi, kejadian di Rohingya pun menggerakkan banyak media barat dan penggiat HAM, tapi tetap terbentur kebijakan yang berlaku di Myanmar itu sendiri, karena bagaimanapun Myanmar adalah negara berdaulat yang tidak bisa sembarangan dicampuri urusannya oleh negara lain.
Foto yang digunakan adalah benar di Myanmar / Burma, namun bukan penyiksaan / pemaksaan makan oleh kaum Buddhist. Mereka tahanan di penjara lokal yang kabarnya lebih kejam dari penjara Abu Ghraib di Iraq.
Pelanggaran HAM di Myanmar masih terus terjadi atas minoritas Rakhine – Rohingya karena dianggap bukan penduduk asli melainkan imigran gelap dari Bangladesh.
Menurut survivor dari penjara yg kebetulan Etnis Rohingya memberi kesaksian bahwa ada usaha converting paksa dari kepercayaan / agama Islam ke Buddha oleh tentara/penjaga di sana. Tapi sayang tidak ditemukan bukti otentik yang bisa kami angkat untuk dijadikan klaim.
Bahkan menurut LA Times, ada camp konsentrasi khusus etnis Rohingya yang dikendalikan oleh kaum Buddha Militan. “About 100,000 Rohingyas have been forced into internment camps ridden with disease and malnutrition in the western state of Rakhine, deprived of outside assistance since the government expelled foreign aid groups in 2014.
Dan ada di salah satu penyebar berita misinformasi tersebut yang menyebutkan bahwa dunia dan media barat hanya diam. Tentu tidak, seperti halnya reaksi dunia terhadap genosida NAZI pada kaum Yahudi, kejadian di Rohingya pun menggerakkan banyak media barat dan penggiat HAM, tapi tetap terbentur kebijakan yang berlaku di Myanmar itu sendiri, karena bagaimanapun Myanmar adalah negara berdaulat yang tidak bisa sembarangan dicampuri urusannya oleh negara lain.
Rujukan
Halaman: 8416/8472





