[SALAH] Mengonsumsi Labu Kuning Dapat Menyembuhkan Covid-19
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 22/09/2021
Berita
Beredar pesan berantai melalui WhatsApp yang menyatakan bahwa konsumsi labu kuning dapat menyembuhkan penyakit Covid-19. Dalam pesan tersebut juga dipaparkan pengalaman beberapa orang yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah mengonsumsi labu kuning secara rutin.
Hasil Cek Fakta
Melansir dari detikHealth, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt menegaskan bahwa belum ada penelitian yang berhasil membuktikan bahwa konsumsi labu kuning dapat menyembuhkan penyakit Covid-19. Prof. Zullies juga menjelaskan bahwa meskipun labu kuning memang memiliki banyak antioksidan dan vitamin yang bermanfaat bagi kesehatan, manfaat tersebut tidak secara khusus ditujukan untuk menyembuhkan Covid-19.
Lebih lanjut, melansir dari Halodoc, beberapa manfaat labu kuning bagi kesehatan yang telah terbukti secara klinis antara lain untuk mencegah penyakit kronis, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata, menurunkan resiko kanker, dan menyehatkan jantung.
Narasi serupa juga pernah beredar pada bulan Juli 2021. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Labu Kuning Kukus Dapat Sembuhkan Covid-19” yang diunggah pada 19 Juli 2021.
Dengan demikian, pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Lebih lanjut, melansir dari Halodoc, beberapa manfaat labu kuning bagi kesehatan yang telah terbukti secara klinis antara lain untuk mencegah penyakit kronis, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata, menurunkan resiko kanker, dan menyehatkan jantung.
Narasi serupa juga pernah beredar pada bulan Juli 2021. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Labu Kuning Kukus Dapat Sembuhkan Covid-19” yang diunggah pada 19 Juli 2021.
Dengan demikian, pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Faktanya, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa mengonsumsi labu kuning dapat menyembuhkan Covid-19.
Faktanya, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa mengonsumsi labu kuning dapat menyembuhkan Covid-19.
Rujukan
[SALAH] “7 September 2021 suku Dayak usir Rencana bangun ibu kota negara pindah ke Kalimantan”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/09/2021
Berita
Akun Facebook Wahyuni (fb.com/100069149205026) pada 10 September 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasi “Alhamsulillah” yang kemudia diubah menjadi “Alhamdulillah Suku dayak udah mulai bergerak” lalu “Alhamdulillah Suku dayak udah mulai bergerak mengusir Warga asing!!”
Di gambar yang ia unggah terdapat narasi: “Nyahok Rencana China bangun ibu kota dapat PERLAWANAN”, ”Hari ini 7 September 2021 suku Dayak usir Rencana bangun ibu kota negara pindah ke Kalimantan. rencana kodok gagal total krn seluruh Kalimantan akan di jaga Suku dayak usir ASENG 2!!!!”, “Semua konsep jokowi ditentang rakyat”
Ibu kota pindah ke kalimantan
Di gambar yang ia unggah terdapat narasi: “Nyahok Rencana China bangun ibu kota dapat PERLAWANAN”, ”Hari ini 7 September 2021 suku Dayak usir Rencana bangun ibu kota negara pindah ke Kalimantan. rencana kodok gagal total krn seluruh Kalimantan akan di jaga Suku dayak usir ASENG 2!!!!”, “Semua konsep jokowi ditentang rakyat”
Ibu kota pindah ke kalimantan
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa pada 7 September 2021 suku Dayak mengusir rencana pembangunan ibu kota negara yang akan dipindah ke Kalimantan merupakan klaim yang menyesatkan.
Faktanya, bukan usir rencana pembangunan Ibu Kota Negara ke Kalimantan. Foto yang ada di gambar tersebut sebenarnya adalah warga yang mengusir tenaga kerja asing pada September 2020 terkait sengketa penambangan emas di Desa Nanga Kelampai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Dikutip dari Liputan6, dari hasil penelusuran yang dilakukan dengan memasukkan kata kunci “suku dayak usir rencana pembangunan ibu kota negara”, tidak ditemukan informasi valid mengenai kabar tersebut.
Sementara itu dikutip dari JawaPos, foto yang disertakan di gambar tersebut itu identik dengan video berita berjudul “Ratusan Warga di Kalimantan Barat Usir Tenaga Kerja Asing – iNews Pagi 19/09”.
Dilansir dari Okezone, karena diduga melanggar kesepakatan untuk tidak beroperasi sementara waktu, perusahaan tambang emas milik asing di Desa Nanga Kelampai Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, diserbu ratusan warga pada Jumat, 18 September 2020 lalu.
Sebelumnya warga mendesak perusahaan berhenti beroperasi karena mereka merasa tak pernah mendapatkan hak atas pengeloaan tanah oleh perusahaan asal China tersebut.
Pantauan di lokasi, massa membawa kayu serta besi ketika beraksi. Massa semakin mengamuk karena managemen perusahaan tak bisa ditemui. Mereka pun mengusir tenaga kerja asing (TKA) dari lokasi.
Faktanya, bukan usir rencana pembangunan Ibu Kota Negara ke Kalimantan. Foto yang ada di gambar tersebut sebenarnya adalah warga yang mengusir tenaga kerja asing pada September 2020 terkait sengketa penambangan emas di Desa Nanga Kelampai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Dikutip dari Liputan6, dari hasil penelusuran yang dilakukan dengan memasukkan kata kunci “suku dayak usir rencana pembangunan ibu kota negara”, tidak ditemukan informasi valid mengenai kabar tersebut.
Sementara itu dikutip dari JawaPos, foto yang disertakan di gambar tersebut itu identik dengan video berita berjudul “Ratusan Warga di Kalimantan Barat Usir Tenaga Kerja Asing – iNews Pagi 19/09”.
Dilansir dari Okezone, karena diduga melanggar kesepakatan untuk tidak beroperasi sementara waktu, perusahaan tambang emas milik asing di Desa Nanga Kelampai Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, diserbu ratusan warga pada Jumat, 18 September 2020 lalu.
Sebelumnya warga mendesak perusahaan berhenti beroperasi karena mereka merasa tak pernah mendapatkan hak atas pengeloaan tanah oleh perusahaan asal China tersebut.
Pantauan di lokasi, massa membawa kayu serta besi ketika beraksi. Massa semakin mengamuk karena managemen perusahaan tak bisa ditemui. Mereka pun mengusir tenaga kerja asing (TKA) dari lokasi.
Kesimpulan
BUKAN usir rencana pembangunan Ibu Kota Negara ke Kalimantan. Foto yang ada di gambar tersebut sebenarnya adalah warga yang mengusir tenaga kerja asing pada September 2020 terkait sengketa penambangan emas di Desa Nanga Kelampai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Rujukan
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4655676/cek-fakta-hoaks-kabar-suku-dayak-usir-rencana-bangun-ibu-kota-negara-di-kalimantan
- https://www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/15/09/2021/hoax-warga-dayak-gagalkan-pemindahan-ibu-kota-negara
- https://www.youtube.com/watch?v=Um4NQ8ukQW4
- https://news.okezone.com/read/2020/09/20/340/2280710/ratusan-warga-usir-tka-dari-tempat-penambangan-emas-di-ketapang
[SALAH] Video Umat Nasrani Diikat di Afganistan
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/09/2021
Berita
Akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” (https://www.facebook.com/clara.nwachukwu.31) mengunggah sebuah video yang menunjukkan beberapa orang diikat di dalam plastik. Unggahan tersebut juga disertai dengan narasi yang menyatakan bahwa orang-orang dalam video tersebut adalah umat Nasrani di Afganistan.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video umat Nasrani yang diikat di Afganistan, melainkan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu. Video serupa telah diunggah oleh laman Facebook “Lo Que La Prensa Corrupta No Transmite” pada 28 Mei 2021.
Video serupa juga pernah beredar dengan narasi yang menyatakan bahwa video tersebut merupakan video penanganan Covid-19 di Indonesia. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Video “pengurusan Covid di Indon” yang diunggah pada 24 Juli 2021 lalu.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Video serupa juga pernah beredar dengan narasi yang menyatakan bahwa video tersebut merupakan video penanganan Covid-19 di Indonesia. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Video “pengurusan Covid di Indon” yang diunggah pada 24 Juli 2021 lalu.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Bukan video di Afganistan. Video tersebut merupakan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu.
Bukan video di Afganistan. Video tersebut merupakan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu.
Rujukan
Keliru, Cina Tak Lagi Gunakan Sinovac dan Indonesia telah Ditipu
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 21/09/2021
Berita
Narasi dengan klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu menggunakan vaksin tersebut, beredar sejak Juli 2021. Klaim itu beredar setelah otoritas Cina membolehkan penggunaan vaksin Pfizer/Biontech pada Juli lalu.
Tempo menemukan sejumlah narasi yang menyebut, rakyat Indonesia hanya menjadi percobaan Cina dengan vaksin Sinovac yang mereka produksi. Narasi lain menganggap penggunaan vaksin Sinovac hanyalah bisnis belaka.
“Vaksin Sinovacnya buat Indonesia saja, gak papa. Setelah divaksin, rakyat pada mati juga. Yang penting dapat uang, karena cuma Indonesia yang blon2 pemerintahnya gampang dikibulin,” demikian salah satu narasi yang ditulis warganet, 23 Juli lalu.
Beberapa narasi tersebut bisa ditemukan di unggahan ini dan ini
Tangkapan layar unggahan dengan klaim Cina tak lagi gunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu
Hasil Cek Fakta
Pada Juli lalu, otoritas Cina memang sedang mengkaji penggunaan vaksin Pfizer/Biontech. Namun suntikan vaksin jenis mRNA itu, hanya sebagai booster (dosis ketiga) terhadap warga yang telah menerima dosis vaksin lengkap. Belakangan, penggunaan vaksin Pfizer ditunda.
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP) 15 Juli 2021, pemerintah Cina mempertimbangkan untuk menggunakan vaksin booster dari Pfizer setelah merebaknya varian Delta. Penggunaan vaksin ini tinggal menunggu persetujuan regulator obat setempat, National Medical Products Administration. Apabila disetujui, vaksin Pfizer akan didistribusikan oleh perusahaan farmasi, Fosun Pharma sebagai pemegang hak eksklusif di Tiongkok.
Namun hingga berita ini diturunkan, otoritas Cina belum memberikan persetujuan untuk penggunaan Pfizer /Biontech sebagai vaksin booster.
Menurut The Wall Street Journal (WSJ) yang dikutip dari Taiwan News, pejabat kesehatan China khawatir jika vaksin Pfizer disetujui, itu akan mengikis kepercayaan pada vaksin domestik China yang diproduksi oleh Sinopharm dan Sinovac. Sementara vaksin Cina telah terbukti memiliki kemanjuran, Sinopharm 79% dan Sinovac 51%.
Laporan itu menunjukkan bahwa penundaan itu juga akan memberi perusahaan China lebih banyak waktu untuk menyelesaikan vaksin mRNA mereka sendiri. Akademi Ilmu Kedokteran Militer China bekerja sama dengan dua perusahaan obat swasta China untuk mengembangkan vaksin mRNA.
Militer China, Suzhou Abogen Biosciences Co, dan Yunnan Walvax Biotechnology Co sedang melakukan uji klinis tahap akhir di China dan Meksiko untuk kandidat vaksinnya, kata sumber kepada The WSJ. Mereka juga telah melobi pemerintah China untuk mempercepat persetujuan.
Tetap Gunakan Vaksin Domestik
Klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan vaksin domestik mereka juga tidak benar. Selama ini Cina menggunakan sejumlah vaksin yang dikembangkan di dalam negeri, termasuk produk dari Sinopharm, Sinovac, Zhifei, serta vaksin dosis tunggal oleh CanSino. Mereka juga telah memberikan persetujuan penggunaan darurat untuk vaksin oleh Institute of Medical Biology dari Chinese Academy of Medical Science dan Kangtai Biologicals.
Dikutip dari Fortune edisi 16 September, Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan bahwa negara tersebut telah sepenuhnya memvaksinasi 1 miliar dari 1,41 miliar warganya terhadap COVID-19, sebuah tonggak utama dalam kampanye vaksinasi di negara terpadat di dunia. Sebagian besar mereka mengandalkan vaksin dari pembuat vaksin swasta, Sinovac dan perusahaan farmasi milik negara Sinopharm.
Di luar Cina, Indonesia bukan negara satu-satunya yang menggunakan vaksin Sinovac. Menurut situs Track Vaccine, vaksin Sinovac telah mendapatkan persetujuan penggunaan darurat sedikitnya di 40 negara, termasuk oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu menggunakan vaksin tersebut, adalah keliru. Rencana Cina menggunakan vaksin Pfizer/Biontech adalah sebagai vaksin booster kepada warga yang telah mendapatkan dosis lengkap (dua suntikan). Namun rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat. Cina selama ini menggunakan vaksin yang diproduksi di dalam negeri, termasuk Sinovac, untuk warganya. Hingga pekan kedua September, Cina telah memvaksin 1 miliar penduduknya, dari jumlah total 1,41 miliar warga.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-sinovac
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=101475932222903&set=basw.AbrDASPiiWjnKslIKtnly2V9XT5PLEt0kvJz5oAqHf2IjxU8bNK5IAeLGRrD1HG-e_ThBC4cmTm8ZDW2LtcU3dZGCLZqLqyykpUz1VPN77XvOw72FVfq_7EVRhRZunRU-n-qxjkbqpKWPILBZaOayR99U4K85UYliNQ3mIBCFPk6axXHPUQ_xhimtPrHDl9OLQY&opaqueCursor=Abq5xi-R67g3arGcDtmmjH-GYe6WdcT6u1aKEhQBZ1kTR4CsdOMw9o00e1vDkCYXELlszrWbZOl9XEh6Gyt7D7fmSnzhgQg68WmVnyPaPFpJUoWlExvZFM70oczyM7EzW1HNC64babuhQgw59Ua1nZIu-0QrhfS9ZAs8E-q5BSpgD_6UmIKXuBHZEZukMf55stzECVPwU-d4H53N8xw11Sul81AbKooY157URhQ9uxJPZcMDuFlkcMf-TgXDLOcieU97BafTGyIhYC2OHrPy76YqcLl5gdpCZ_asYGc9jKVi64lYYWu1KvmZC4y4MEaWLyC2BgNb-jAAP-sS9Pd9Wrxx_B-tS-IKIxPZBwkvvt6sb0prbFZQla-bZG3J-h8WgHY3Uk69li_ypcvtIPe6Sd32LvZuAYR4m9hinbXzddtHLW2qJE3tMWvLfspySjDazVdMfGVX3SKa3lOgkeTJvo1XR8u0A4XT5cy81huCiMZZsmkvQ0tp3Qx0hoQrEN0jB0kMZ84J_jJfI3W6FwyysUFahP-ZW5vNyoDg4bRcfA_nsPIhEd_5KtsgZbpOsc9932dEj5tdTIIeSRPBoVWvhEf044fysU9w2eS-oS5cEhYwXWJ7C7ul2sSUwJeaGk8ARD1D8OYreMWr76IrBWYAvO6XZSVec9xCRcNbwxma0PdPDEUAuCW-ZetdD9akzSCX8pHC2t8uGFpb91Cf2YjZEMOFRCo2Mom70LEx_6daZjQTAU_i09NvHiaASLL8J8pu8Mbxy5B-Zza9D53yrgDEDCIY4h4iyu_duByZjB4E6LtmiA
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=977706576358492&set=basw.AbooAcjj5OGXB2qiryOXrOU9ym1EnIM1CY_wKmp4ZhQb2ZFIQRgg0XuKObLXJIYyUbxnqtSut3Zk3YueE6kWwk9DHj79GbjXqs6i4z-0gcGb5WQ-mSo4zFzW2gAdT_A3Ni1fnQFOgqlgl42QaE1VGrd6xkqNpN_ng1J79G72p622iwcmfQqkNAPi2Fu5xPSX200&opaqueCursor=AbqoDftkzdImrE-u6OxSBUtsvWiqVbnncYPbHbXIm6Qrvd5v-IEBjVfxta8CfQBGFTeZOdAyLB8U6L9QhakS3cqGoic7yusMkoBwhCOIrDZW9pRfApsS2l0ErnwNo9-LYRY9obntBNirC4pk053REHefhC2Wat9rcvKr3ss5yDWo_mFCbrklhF_NaCd-F0kZgt-P_hBK0GI1B_UQQen3Zb3BvfgRtKugQb0pLYEfXxnp016SJsjlOwqem8monObWnW_4QFqE4kpN4vQdP7KkJx8Dyronzk6e3mZFJkIEBTcCwGfvRuZbQSTSJX9MabrSQmtmj5Anpt7fmjYpcm7HcAMBn-rO1fN-awtVzOHHMMYvZmGVbsoRB3AHMsOEPZFMj1Wl6wV7IVE6NakvPKnF4y3-aZ4Y3YJub2YCYeUL3i20gofMdpXndKKxkfZmCM4q5mamFevWpsJ3AHOmKQEQSOQlxlTfZqtt5KEGWhBLi11RPR5LjSQdddSaa4QyhF5tiCORUu59kR1UcSuAdaDLIojag12K6PryeNlrzviP2b4l4z7_SXXRYl6aA1K_oStxkakc4r6KbGjlfPJ3krGOs-7-i0umaffXG7NZZ0gk7dufqzTDvbAoOTBw1wJ
Halaman: 6617/8687



