PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN
Menetapkan: KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN KEDARURATAN KEUANGAN NEGARA
KESATU: Menetapkan bahwa Dana SBI (080264) -24 SD sebagai:
Dana Bantuan unutk dipergunakan Pembangunan dan Mensejahterakan Rakyat.
KEDUA: Menetapkan Kedaruratan Keuangan Negara Indonesia, yang wajib ditangani secepatnya. Selambat lambatnya pada Tanggal 31 Maret 2021 (diharapkan Seluruh Bank Terkait untuk bekerja sama demi kelancaran Pencairan Dana SBI tersebut diatas).
KETIGA: Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
[SALAH] Surat “KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN KEDARURATAN KEUANGAN NEGARA”
Sumber: Tangkapan LayarTanggal publish: 04/04/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah kertas surat “KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN KEDARURATAN KEUANGAN NEGARA”. Adapun terlihat pada kertas surat tersebut narasi yang menyebutkan bahwa Presiden RI Joko Widodo memutuskan tentang penetapan kedaruratan keuangan negara pada tanggal 17 Maret 2021.
Namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa surat tersebut merupakan surat palsu. Kementerian Sekretariat Negara melalui Instagram resminya @kemensetneg.ri menegaskan bahwa surat tersebut tidak benar alias HOAKS. Oleh sebabnya, masyarakat diimbau waspada dan bijak dalam menyikapi segala bentuk informasi.
Berikut klarifikasi lengkap oleh Kementerian Sekretariat Negara:
“Hai #SobatSetneg, terkait beredarnya berita/informasi terkait dengan telah diterbitkannya Keppres Tentang Penetapan Kedaruratan Keuangan Negara, pada tanggal 17 Maret 2021, kami nyatakan bahwa berita/informasi tersebut tidak benar (hoaks).
Kami mengimbau agar masyarakat dapat secara bijaksana menyikapi berita/informasi tersebut.
Biro Hubungan Masyarakat Kemensetneg”
Berdasar pada seluruh referensi, surat “KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN KEDARURATAN KEUANGAN NEGARA” merupakan hoaks dengan kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
===
Namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa surat tersebut merupakan surat palsu. Kementerian Sekretariat Negara melalui Instagram resminya @kemensetneg.ri menegaskan bahwa surat tersebut tidak benar alias HOAKS. Oleh sebabnya, masyarakat diimbau waspada dan bijak dalam menyikapi segala bentuk informasi.
Berikut klarifikasi lengkap oleh Kementerian Sekretariat Negara:
“Hai #SobatSetneg, terkait beredarnya berita/informasi terkait dengan telah diterbitkannya Keppres Tentang Penetapan Kedaruratan Keuangan Negara, pada tanggal 17 Maret 2021, kami nyatakan bahwa berita/informasi tersebut tidak benar (hoaks).
Kami mengimbau agar masyarakat dapat secara bijaksana menyikapi berita/informasi tersebut.
Biro Hubungan Masyarakat Kemensetneg”
Berdasar pada seluruh referensi, surat “KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN KEDARURATAN KEUANGAN NEGARA” merupakan hoaks dengan kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
===
Kesimpulan
Kementerian Sekretariat Negara melalui akun media sosial resminya menegaskan surat tersebut adalah palsu alias HOAKS.
Rujukan
[SALAH] “Laboratorium biologi China di Wuhan dimiliki oleh Glaxosmithkline”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 04/04/2021
Berita
"Pembunuh siang hari … Topeng mulai rontok! “Laboratorium biologi China di Wuhan dimiliki oleh Glaxosmithkline, yang (secara tidak sengaja) memiliki Pfizer!” (Orang yang membuat vaksin melawan virus yang (secara tidak sengaja) dimulai di Laboratorium Biologi Wuhan dan yang (secara tidak sengaja) didanai oleh Dr. Fauci, yang (secara tidak sengaja) mempromosikan vaksin tersebut! “GlaxoSmithKline (secara tidak sengaja) dikelola oleh divisi keuangan Black Rock, yang (secara tidak sengaja mengelola keuangan Perusahaan Open Foundation (Soros Foundation), yang (secara tidak sengaja) mengelola AXA Prancis! “Soros (secara tidak sengaja) memiliki perusahaan Jerman Winterthur, yang (secara tidak sengaja) membangun laboratorium China di Wuhan dan dibeli oleh Allianz Jerman, yang (secara kebetulan) memiliki Vanguard sebagai pemegang saham, yang (secara kebetulan) adalah pemegang saham Black Rock, yang (secara kebetulan) mengontrol bank sentral dan mengelola sekitar sepertiga dari modal investasi global. “Black Rock” juga (secara kebetulan) merupakan pemegang saham utama MICROSOFT, yang dimiliki oleh Bill Gates, yang (secara kebetulan) adalah pemegang saham Pfizer (yang ingat? Menjual vaksin ajaib) dan secara kebetulan) sekarang menjadi sponsor pertama dari ‘WHO! Sekarang Anda mengerti bagaimana kelelawar mati yang dijual di pasar basah di China telah menginfeksi SELURUH PLANET! salin dan bagikan dengan cepat ….”
Hasil Cek Fakta
Dari Myth Detector: “Unggahan yang disebarluaskan itu disinformatif: 1) Tak satu pun dari perusahaan yang terdaftar memiliki Institut Virologi Wuhan – dikelola oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China. 2) Glaxo, BlackRock, dan Bill Gates semuanya adalah mitra, tetapi bukan pemilik Pfizer. 3) Klaim bahwa Fauci diduga memberikan hibah ke laboratorium Wuhan pada tahun 2015 adalah disinformatif. EcoHealth Alliance memang mendapatkan hibah untuk mempelajari keluarga virus korona dan Institut Virologi Wuhan adalah salah satu mitranya, tetapi fakta ini dimanipulasi.”
Dari Reuters: “Tetapi GlaxoSmithKline (GSK), sebuah perusahaan farmasi Inggris, tidak memiliki Pfizer atau Institut Virologi Wuhan. Institut ini adalah bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) (di sini ), yang pada gilirannya diatur oleh Dewan Negara Republik Rakyat China (di sini ). Pada 2019, seorang anggota CAS menulis surat terbuka yang menyatakan bahwa itu tidak dijalankan atau dibiayai secara independen dari pemerintah China (di sini ). “CAS tidak pernah mencari atau mencapai otonomi keuangan”, tulis perwakilan tersebut dalam jurnal sains Nature.”
Dari Liputan6.com: “Faktanya USAtoday menjelaskan bahwa tidak ada laboratorium biologi Wuhan. Di sana hanya ada Wuhan Institute of Virology, Chinese Academy of Science (CAS) yang mempelajari soal virologi. Institut ini dikontrol oleh Dewan Negara China, salah satu badan Pemerintah Utama di negara tersebut.”
Dari Institut Virologi Wuhan: “Pendahulu dari Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok adalah Institut Mikrobiologi Wuhan, yang disiapkan untuk dibangun pada tahun 1956, didirikan bersama oleh akademisi virologi terkenal Gao Shangyin dan akademisi mikrobiologi terkenal Chen Huagui dan sekelompok ilmuwan generasi tua, secara resmi diumumkan akan didirikan pada tahun 1958, terutama terlibat dalam penelitian virus pertanian dan mikroba lingkungan. Pada awal tahun 1961, institut cabang Wuhan dan institut cabang Guangzhou bergabung untuk mendirikan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok Cabang Zhongnan, Laboratorium Penelitian Mikrobiologi Wuhan kemudian diubah namanya menjadi Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Pada Oktober 1962, namanya diubah lagi menjadi Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China. Pada tahun 1966, institut cabang lokal Akademi Ilmu Pengetahuan China dibatalkan. Pada tahun 1970, Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China ditempatkan di bawah kepemimpinan Provinsi Hubei, berganti nama menjadi Institut Mikrobiologi Provinsi Hubei. Pada tahun 1978 menjelang penyelenggaraan Konferensi Sains dan Teknologi Nasional, ia kembali ke Akademi Ilmu Pengetahuan China, yang dikenal sebagai Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China.”
Artikel periksa fakta yang sebelumnya di turnbackhoax.id: “Klaim tersebut salah. Faktanya perusahaa farmasi Pfizer dan laboratorium virologi di Wuhan, dimiliki oleh pihak-pihak yang berbeda.”
Dari Reuters: “Tetapi GlaxoSmithKline (GSK), sebuah perusahaan farmasi Inggris, tidak memiliki Pfizer atau Institut Virologi Wuhan. Institut ini adalah bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) (di sini ), yang pada gilirannya diatur oleh Dewan Negara Republik Rakyat China (di sini ). Pada 2019, seorang anggota CAS menulis surat terbuka yang menyatakan bahwa itu tidak dijalankan atau dibiayai secara independen dari pemerintah China (di sini ). “CAS tidak pernah mencari atau mencapai otonomi keuangan”, tulis perwakilan tersebut dalam jurnal sains Nature.”
Dari Liputan6.com: “Faktanya USAtoday menjelaskan bahwa tidak ada laboratorium biologi Wuhan. Di sana hanya ada Wuhan Institute of Virology, Chinese Academy of Science (CAS) yang mempelajari soal virologi. Institut ini dikontrol oleh Dewan Negara China, salah satu badan Pemerintah Utama di negara tersebut.”
Dari Institut Virologi Wuhan: “Pendahulu dari Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok adalah Institut Mikrobiologi Wuhan, yang disiapkan untuk dibangun pada tahun 1956, didirikan bersama oleh akademisi virologi terkenal Gao Shangyin dan akademisi mikrobiologi terkenal Chen Huagui dan sekelompok ilmuwan generasi tua, secara resmi diumumkan akan didirikan pada tahun 1958, terutama terlibat dalam penelitian virus pertanian dan mikroba lingkungan. Pada awal tahun 1961, institut cabang Wuhan dan institut cabang Guangzhou bergabung untuk mendirikan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok Cabang Zhongnan, Laboratorium Penelitian Mikrobiologi Wuhan kemudian diubah namanya menjadi Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Pada Oktober 1962, namanya diubah lagi menjadi Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China. Pada tahun 1966, institut cabang lokal Akademi Ilmu Pengetahuan China dibatalkan. Pada tahun 1970, Institut Mikrobiologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China ditempatkan di bawah kepemimpinan Provinsi Hubei, berganti nama menjadi Institut Mikrobiologi Provinsi Hubei. Pada tahun 1978 menjelang penyelenggaraan Konferensi Sains dan Teknologi Nasional, ia kembali ke Akademi Ilmu Pengetahuan China, yang dikenal sebagai Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China.”
Artikel periksa fakta yang sebelumnya di turnbackhoax.id: “Klaim tersebut salah. Faktanya perusahaa farmasi Pfizer dan laboratorium virologi di Wuhan, dimiliki oleh pihak-pihak yang berbeda.”
Kesimpulan
Hoaks daur ulang, versi terjemahan dari informasi salah yang sebelumnya beredar dengan Bahasa Inggris. BUKAN dimiliki oleh GlaxoSmithKline (GSK), Institut Virologi Wuhan dikelola oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Science – CAS).
Rujukan
- http[1] firstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. [2] mythdetector.ge: “Siapa yang Dimiliki Institut Virologi Wuhan dan Apakah Terhubung dengan George Soros dan Bill Gates?”,
- https://bit.ly/31O1XWJ (Google Translate) /
- https://archive.st/ls1k (arsip cadangan). reuters.com: “Periksa fakta: Institut Virologi Wuhan tidak dimiliki oleh GlaxoSmithKline” [3] reuters.com: “Periksa fakta: Institut Virologi Wuhan tidak dimiliki oleh GlaxoSmithKline”, cetak PDF hasil terjemahan Google Translate Chrome extension /
- https://archive.md/HqXdw (arsip cadangan dalam bahasa asli, English). [4] liputan6.com: “Cek Fakta: Tidak Benar Klaim Ada Hubungan Laboratorium Wuhan dengan Pfizer”,
- https://bit.ly/2PrwtTQ /
- https://archive.md/RyQf6 (arsip cadangan). english.whiov.cas.cn: “Tentang WIV” [5] english.whiov.cas.cn: “Tentang WIV”, cetak PDF hasil terjemahan Google Translate Chrome extension /
- https://archive.md/c90qj (arsip cadangan dalam bahasa asli, English). [6] turnbackhoax.id: “[SALAH] GlaxoSmithKline (GSK) Pemilik Pfizer dan Laboratorium Virologi di Wuhan”,
- https://bit.ly/3sQ730x /
- https://archive.md/1rbCF (arsip cadangan).
[SALAH] “Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, mantan polisi, agama kristen protestan”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 03/04/2021
Berita
Akun Facebook Raffiq Umar Bawazier (fb.com/raffiqumar.bawazier.9) pada 31 Maret 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:
“Pelakunya, mantan polisi, agama kristen protestan.
Allah telah menunjukan yang benar.
Alhamdulillah..”
Gambar itu berisi tangkapan layar artikel yang seolah berjudul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”. Artikel yang seolah terbit pada 29 Maret 2021 pukul 17.05 ini dilengkapi dengan foto Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono. Dalam artikel itu, tercantum pula logo media Kompas.com.
Selain artikel tersebut, gambar itu berisi dua foto pria. Pria pertama terlihat berjenggot dan mengenakan serban serta pakaian coklat. Sementara pria kedua tampak memegang kertas yang bertuliskan “Nama: Bernard Silalahi, Tempat/Tgl Lahir: Medan 25 Desember 1988, Agama: Protestan, Pekerjaan: Exs. Intel Polres Makassar”.
“Pelakunya, mantan polisi, agama kristen protestan.
Allah telah menunjukan yang benar.
Alhamdulillah..”
Gambar itu berisi tangkapan layar artikel yang seolah berjudul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”. Artikel yang seolah terbit pada 29 Maret 2021 pukul 17.05 ini dilengkapi dengan foto Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono. Dalam artikel itu, tercantum pula logo media Kompas.com.
Selain artikel tersebut, gambar itu berisi dua foto pria. Pria pertama terlihat berjenggot dan mengenakan serban serta pakaian coklat. Sementara pria kedua tampak memegang kertas yang bertuliskan “Nama: Bernard Silalahi, Tempat/Tgl Lahir: Medan 25 Desember 1988, Agama: Protestan, Pekerjaan: Exs. Intel Polres Makassar”.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya gambar artikel Kompas.com berjudul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat” dan foto pria yang diklaim sebagai pelaku yang mantan polisi, beragama kristen protestan merupakan konten yang dimanipulasi.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar editan. Kompas.com tidak pernah memuat artikel dengan judul seperti di klaim tersebut. Foto pria yang memegang kertas, yang terdapat dalam gambar tersebut, juga merupakan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, bukan aksi bom Gereja Katedral Makassar.
1. Tangkapan layar artikel.
Berdasarkan penelusuran terhadap indeks berita Kompas.com pada 29 Maret 2021 pukul 17:05 WIB, tidak terdapat artikel dengan judul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”.
Hanya 2 artikel yang berjudul “Ada Pagar Pembatas antara Rumah Hotma Sitompoel dan Desiree Tarigan” dan “5 Gunung di Swiss yang Bisa Dikunjungi dengan Cable Car” yang diterbitkan oleh Kompas.com pada pukul 17:05 WIB.
2. Foto pria yang memegang kertas.
Dilansir dari Tempo, untuk melacak jejak digital foto tersebut, Tim CekFakta Tempo menggunakan reverse image tool Source. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa foto pria yang memegang kertas itu merupakan pelaku penyerangan ulama Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung pada September 2020 lalu. Foto yang identik pernah dimuat oleh media Riaunews.com pada 17 September 2020 dalam artikelnya yang berjudul “Polisi sebut penusuk Syekh Ali Jaber pemain tunggal, tidak disuruh”.
Namun, dalam foto tersebut, tulisan yang tercantum adalah sebagai berikut:
“N: ALPIN ANDRI BIN M RUDI
KASUS: PENUSUKAN SYEH ALI JABER
TGL: 13-09-2020″
Tulisan itu pun merupakan tulisan tangan, bukan hasil cetakan seperti yang digunakan dalam gambar yang beredar. Dengan demikian, foto yang terdapat dalam gambar yang beredar tersebut adalah hasil suntingan.
3. Pelaku Aksi Bom di Gereja Katedral Makassar
Sementara itu, dilansir dari Tempo, Polri menyebut bahwa pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah pasangan suami-istri.
“Betul, pelaku pasangan suami-istri, baru menikah enam bulan,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono pada 29 Maret 2021.
Pasangan suami-istri itu, L dan YSF alias D, melakukan aksi bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral di Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad pagi, 28 Maret 2021. Akibat ledakan bom itu, 20 petugas keamanan dan jemaah gereja luka-luka. L dan YSF diketahui merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga terlibat dalam pengeboman di Jolo, Filipina Selatan, pada 2019.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar editan. Kompas.com tidak pernah memuat artikel dengan judul seperti di klaim tersebut. Foto pria yang memegang kertas, yang terdapat dalam gambar tersebut, juga merupakan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, bukan aksi bom Gereja Katedral Makassar.
1. Tangkapan layar artikel.
Berdasarkan penelusuran terhadap indeks berita Kompas.com pada 29 Maret 2021 pukul 17:05 WIB, tidak terdapat artikel dengan judul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”.
Hanya 2 artikel yang berjudul “Ada Pagar Pembatas antara Rumah Hotma Sitompoel dan Desiree Tarigan” dan “5 Gunung di Swiss yang Bisa Dikunjungi dengan Cable Car” yang diterbitkan oleh Kompas.com pada pukul 17:05 WIB.
2. Foto pria yang memegang kertas.
Dilansir dari Tempo, untuk melacak jejak digital foto tersebut, Tim CekFakta Tempo menggunakan reverse image tool Source. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa foto pria yang memegang kertas itu merupakan pelaku penyerangan ulama Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung pada September 2020 lalu. Foto yang identik pernah dimuat oleh media Riaunews.com pada 17 September 2020 dalam artikelnya yang berjudul “Polisi sebut penusuk Syekh Ali Jaber pemain tunggal, tidak disuruh”.
Namun, dalam foto tersebut, tulisan yang tercantum adalah sebagai berikut:
“N: ALPIN ANDRI BIN M RUDI
KASUS: PENUSUKAN SYEH ALI JABER
TGL: 13-09-2020″
Tulisan itu pun merupakan tulisan tangan, bukan hasil cetakan seperti yang digunakan dalam gambar yang beredar. Dengan demikian, foto yang terdapat dalam gambar yang beredar tersebut adalah hasil suntingan.
3. Pelaku Aksi Bom di Gereja Katedral Makassar
Sementara itu, dilansir dari Tempo, Polri menyebut bahwa pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah pasangan suami-istri.
“Betul, pelaku pasangan suami-istri, baru menikah enam bulan,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono pada 29 Maret 2021.
Pasangan suami-istri itu, L dan YSF alias D, melakukan aksi bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral di Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad pagi, 28 Maret 2021. Akibat ledakan bom itu, 20 petugas keamanan dan jemaah gereja luka-luka. L dan YSF diketahui merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga terlibat dalam pengeboman di Jolo, Filipina Selatan, pada 2019.
Kesimpulan
Gambar EDITAN. Kompas.com tidak pernah memuat artikel dengan judul seperti di klaim tersebut. Foto pria yang memegang kertas, yang terdapat dalam gambar tersebut, juga merupakan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, bukan aksi bom Gereja Katedral Makassar.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1314/keliru-klaim-polri-sebut-pelaku-bom-gereja-katedral-makassar-eks-intel-yang-dipecat
- https://indeks.kompas.com/?site=all&date=2021-03-29&page=8
- https://riaunews.com/2020/09/polisi-sebut-penusuk-syekh-ali-jaber-pemain-tunggal-tidak-disuruh/
- https://nasional.tempo.co/read/1447085/pelaku-bom-bunuh-diri-di-katedral-makassar-adalah-suami-istri
[SALAH] “sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 03/04/2021
Berita
Akun Faceboook Abdul Ghoni (fb.com/100061716917873) pada 30 Maret 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar percakapan ke grup Islam World News dengan narasi sebagai berikut:
“Benarkah?.. Tanya…..”
Di gambar tersebut terdapat narasi: “Sandiwara rezim PKI dg mengorbankan org Islam persis yg terjd di Surabaya Tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh. PKI ingin memframing PD publik bhw Islam teroris. Hati2 jika ada seseorang yg menyuruh kita minta kirimkan barang ke gereja. Bisa didlm barangnya terisi bom kendali jarak jauh jd strategi PKI utk menghancurkan islam”
“Benarkah?.. Tanya…..”
Di gambar tersebut terdapat narasi: “Sandiwara rezim PKI dg mengorbankan org Islam persis yg terjd di Surabaya Tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh. PKI ingin memframing PD publik bhw Islam teroris. Hati2 jika ada seseorang yg menyuruh kita minta kirimkan barang ke gereja. Bisa didlm barangnya terisi bom kendali jarak jauh jd strategi PKI utk menghancurkan islam”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa ledakan bom di Gereja Katedral Makassar dikendalikan dari jarak jauh sama persis dengan peristiwa bom di Surabaya merupakan klaim yang menyesatkan.
Faktanya, bom yang meledak di Surabaya pada 2018 dan Gereja Katedral Makassar pada 2021 dipastikan adalah bom bunuh diri. Bukan bom yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control.
Dilansir dari JawaPos, Polisi telah mengidentifikasi bahwa peledak yang dibawa pelaku bom di Surabaya berbentuk ikat pinggang, bukan paket barang. Jelas praktiknya adalah bom bunuh diri.
Contohnya, saat pelaku meledakkan diri di area parkir GKI Diponegoro pada 13 Mei 2018. Saat itu polisi menemukan satu bom aktif yang masih menempel di paha salah seorang anak. Tim penjinak bahan peledak (jihandak) langsung melepaskan bom tersebut dari paha anak pelaku yang tewas.
Sementara itu, dilansir dari Medcom.id, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang terlibat dalam serangan di Filipina beberapa waktu lalu. Listyo Sigit menjelaskan, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar berinisial L. Pelaku yang mengakibatkan 19 orang (sebelumnya ditulis 20) itu merupakan atau terkait dengan terduga teroris yang beberapa waktu lalu ditangkap di Kota Makassar, tepatnya di Villa Mutiara.
“Bersangkutan merupakan kelompok dari beberapa pelaku yang beberapa waktu lalu, telah kita amankan,” katanya, di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021.
Ia juga mengatakan bahwa pelaku merupakan bagian dari jaringan yang juga melakukan penyerangan gereja di Jolo, Filipina pada 2018 lalu. Bahkan pihaknya telah mencocokkan data-data dari pelaku dan kaitannya dengan jaringan tersebut. Sigit membeberkan jenis bom yang digunakan pelaku bom bunuh diri. Ia menyebut ledakan yang menyebabkan 19 orang terluka itu berasal dari jenis bom panci.
“Ledakan yang terjadi suicide boom dengan menggunakan jenis bom panci,” kata Listyo, 28 Maret 2021.
Ledakan asal bom panci itu bersifat high explosive. Akibatnya, membuat tubuh pelaku tercerai berai di lokasi kejadian. Tak hanya itu, sejumlah kendaraan dan kaca hotel di sekitar lokasi ledakan pun pecah.
Faktanya, bom yang meledak di Surabaya pada 2018 dan Gereja Katedral Makassar pada 2021 dipastikan adalah bom bunuh diri. Bukan bom yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control.
Dilansir dari JawaPos, Polisi telah mengidentifikasi bahwa peledak yang dibawa pelaku bom di Surabaya berbentuk ikat pinggang, bukan paket barang. Jelas praktiknya adalah bom bunuh diri.
Contohnya, saat pelaku meledakkan diri di area parkir GKI Diponegoro pada 13 Mei 2018. Saat itu polisi menemukan satu bom aktif yang masih menempel di paha salah seorang anak. Tim penjinak bahan peledak (jihandak) langsung melepaskan bom tersebut dari paha anak pelaku yang tewas.
Sementara itu, dilansir dari Medcom.id, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang terlibat dalam serangan di Filipina beberapa waktu lalu. Listyo Sigit menjelaskan, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar berinisial L. Pelaku yang mengakibatkan 19 orang (sebelumnya ditulis 20) itu merupakan atau terkait dengan terduga teroris yang beberapa waktu lalu ditangkap di Kota Makassar, tepatnya di Villa Mutiara.
“Bersangkutan merupakan kelompok dari beberapa pelaku yang beberapa waktu lalu, telah kita amankan,” katanya, di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021.
Ia juga mengatakan bahwa pelaku merupakan bagian dari jaringan yang juga melakukan penyerangan gereja di Jolo, Filipina pada 2018 lalu. Bahkan pihaknya telah mencocokkan data-data dari pelaku dan kaitannya dengan jaringan tersebut. Sigit membeberkan jenis bom yang digunakan pelaku bom bunuh diri. Ia menyebut ledakan yang menyebabkan 19 orang terluka itu berasal dari jenis bom panci.
“Ledakan yang terjadi suicide boom dengan menggunakan jenis bom panci,” kata Listyo, 28 Maret 2021.
Ledakan asal bom panci itu bersifat high explosive. Akibatnya, membuat tubuh pelaku tercerai berai di lokasi kejadian. Tak hanya itu, sejumlah kendaraan dan kaca hotel di sekitar lokasi ledakan pun pecah.
Kesimpulan
Bom yang meledak di Surabaya pada 2018 dan Gereja Katedral Makassar pada 2021 dipastikan adalah bom bunuh diri. Bukan bom yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control.
Rujukan
- https://www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/02/04/2021/hoax-bom-bunuh-diri-katedral-makassar-dikendalikan-dari-jarak-jauh/
- https://www.jawapos.com/jpg-today/22/12/2018/bom-surabaya-fenomena-baru-aksi-terorisme/
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/xkEyQM7k-cek-fakta-bom-gereja-di-makassar-dikendalikan-jarak-jauh-oleh-pki-ini-faktanya
- https://www.medcom.id/nasional/daerah/PNgYQ50k-kapolri-pelaku-bom-bunuh-diri-di-makassar-bagian-jad
Halaman: 6781/8568



