• Keliru, Klaim Polri Sebut Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar Eks Intel yang Dipecat

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/04/2021

    Berita


    Gambar yang berisi tangkapan layar artikel yang berjudul "Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat" beredar di Facebook. Artikel yang terbit pada 29 Maret 2021 pukul 17.05 ini dilengkapi dengan foto Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono. Dalam artikel itu, tercantum pula logo media Kompas.com.
    Selain artikel tersebut, gambar itu berisi dua foto pria. Pria pertama terlihat berjenggot dan mengenakan serban serta pakaian coklat. Sementara pria kedua tampak memegang kertas yang bertuliskan "Nama: Bernard Silalahi, Tempat/Tgl Lahir: Medan 25 Desember 1988, Agama: Protestan, Pekerjaan: Exs. Intel Polres Makassar".
    Akun ini membagikan gambar tersebut pada 31 Maret 2021. Akun itu juga menulis, “Pelakunya, mantan polisi, agama kristen protestan. Allah telah menunjukan yang benar. Alhamdulillah..” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 93 reaksi dan 76 komentar serta dibagikan sebanyak 115 kali.
    Gambar yang berisi artikel hasil suntingan yang memuat klaim keliru terkait pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar.

    Hasil Cek Fakta


    Terkait Tangkapan Layar Artikel
    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dalam indeks berita Kompas.com pada 29 Maret 2021, tidak terdapat artikel dengan judul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”. Tidak ditemukan pula artikel yang dimuat pada pukul 17.05 seperti yang terlihat dalam tangkapan layar tersebut.
    Artikel yang dimuat Kompas.com pada 29 Maret 2021 pukul 17.00-17.30 berjudul sebagai berikut:
    Dengan demikian, tangkapan layar artikel dalam gambar di atas merupakan hasil suntingan. Di media-media lain pun, tidak ditemukan informasi bahwa Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono pernah menyatakan hal semacam itu.
    Terkait foto pria yang memegang kertas
    Untuk melacak jejak digital foto tersebut, Tim CekFakta Tempo menggunakanreverse image tool Source. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa foto pria yang memegang kertas itu merupakan pelaku penyerangan ulama Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung pada September 2020 lalu.
    Foto yang identik pernah dimuat oleh media Riaunews.com pada 17 September 2020 dalam artikelnya yang berjudul “Polisi sebut penusuk Syekh Ali Jaber pemain tunggal, tidak disuruh”. Namun, dalam foto tersebut, tulisan yang tercantum adalah sebagai berikut:
    "N: ALPIN ANDRI BIN M RUDIKASUS: PENUSUKAN SYEH ALI JABERTGL: 13-09-2020"
    Tulisan itu pun merupakan tulisan tangan, bukan hasil cetakan seperti yang digunakan dalam gambar yang beredar. Dengan demikian, foto yang terdapat dalam gambar yang beredar tersebut adalah hasil suntingan.
    Pelaku Aksi Bom di Gereja Katedral Makassar
    Berdasarkan arsip berita Tempo, Polri menyebut bahwa pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah pasangan suami-istri. "Betul, pelaku pasangan suami-istri, baru menikah enam bulan," ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono pada 29 Maret 2021.
    Pasangan suami-istri itu, L dan YSF alias D, melakukan aksi bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral di Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad pagi, 28 Maret 2021. Akibat ledakan bom itu, 20 petugas keamanan dan jemaah gereja luka-luka.
    L dan YSF diketahui merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah ( JAD ) yang diduga terlibat dalam pengeboman di Jolo, Filipina Selatan, pada 2019. Beberapa hari usai kejadian, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap terduga perakit bom di Gereja Katedral Makassar.
    "Atas inisial W, pelaku otak perakit bom sudah kami amankan," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 31 Maret 2021. W adalah satu dari 13 orang di Makassar yang ditangkap oleh Densus 88. Mereka disebut-sebut memiliki keterkaitan atas peristiwa bom bunuh diri. Namun, Sigit tak membeberkan secara rinci mengenai waktu dan lokasi penangkapan.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono menyebut pelaku bom Gereja Katedral Makassar adalah eks anggota intel yang dipecat, keliru. Kompas.com tidak pernah memuat artikel dengan judul “Argo Yuwono: Salah satu pelaku Bom Gereja Katedral Makassar, adalah eks anggota intel yang telah di pecat”. Tidak ditemukan pula informasi bahwa Argo pernah menyatakan hal semacam itu. Foto pria yang memegang kertas, yang terdapat dalam gambar tersebut, juga merupakan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, bukan aksi bom Gereja Katedral Makassar.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “vaksin di Drive thrue banyak yg dibohongin Begini SDM kita”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 02/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah postingan pada akun Twitter @Dharma_tc
    NARASI: “Coba lihat yg vaksin di Drive thrue banyak yg yg dibohongin masa cuma jarum aja yg disuntik dia ngak tekan obat suntik ya banyak yg ketipu …..

    Hasil Cek Fakta

    TIDAK berkaitan dengan Indonesia. Lokasi peristiwa adalah di Brazil, berdasarkan bahasa yang digunakan dan situs yang sebelumnya pada bulan Februari lalu membagikan video yang identik.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Ini bukan foto Capt. Czi. Pierre Tendean. Ini foto Wawan Wanisar…”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 02/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah foto yang diunggah oleh akun aktor Tio Pakusadewo @pksdw yang menyatakan bahwa foto tersebut adalah foto mendiang aktor Wawan Wanisar yang meninggal dunia pada 29 Maret yang baru lalu, dengan teks:
    “Ini bukan foto Capt. Czi. Pierre Tendean. Ini foto seorang Aktor Indonesia yang memerankan karakter Capt. Pierre dalam film G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Almarhum Aktor hebat ink bernama populer Wawan Wanisar. Kawan seprofesi yang saya hormati. Hari ini beliau duluan pulang ke Rahmatulloh. Wawan penuh dedikasi dan bekerja. Disiplin. Selamat jalan Abang Capten. Jumpa nanti di Jannah. Insya Allah. Bismillahirrahmanirochim. Innalillahi wa innailaihi raji’uun.”
    Tautan/Sumber: https://www.instagram.com/p/CNASr3Eh9tJ/?igshid=9gi94bdkmpyq

    Tidak hanya Tio, aktor Deddy Mizwar juga memasang foto kolase mendiang Wawan Wanisar dengan foto Capt. Czi. Pierre Tendean dalam cuitan yang mengabarkan berpulangnya sang aktor:
    “Innalilahi wainna ilaihi rojiun… Satu lagi aktor film dan sinetron kembali kepangkuan Illahi, hari ini 29 Maret 2021…”
    Tautan/Sumber:
    https://t.co/QtONqSF8zr
    https://twitter.com/Deddy…/status/1376502242790895626…

    Foto pada cuitan tersebut kemudian menjadi rujukan beberapa media yang mengabarkan berita berpulangnya aktor Wawan Wanisar, seolah foto Kapten Czi. Pierre Tendean adalah foto mendiang Wawan Wanisar di masa muda, di antaranya:
    Kompas TV
    Tautan/Sumber: https://www.kompas.tv/…/profil-wawan-wanisar-aktor…
    OkeZone
    Tautan/Sumber: https://celebrity.okezone.com/…/aktor-senior-wawan…

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim Tio yang menyatakan foto yang dia unggah di akun IGnya adalah foto mendiang Wawan Wanisar muda saat memerankan karakter Capt. Czi. Pierre Tendean, merupakan klaim yang salah.

    Sudah diketahui sejak lama bahwa foto tersebut adalah foto asli dari Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Tendean. Foto tersebut bisa ditemukan dalam buku biografi resminya “Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi”. Kontributor buku ini adalah orang-orang dekat Pierre yang masih hidup, termasuk sahabat Pierre Brigjen TNI Efendi Ritonga, dan adik bungsunya, Rooswidiati Tendean. Foto tersebut bahkan digunakan sebagai sampul biografi.

    Kisah tentang foto itu sendiri bisa dilihat pada Facebook Page biografi resmi Kapten Czi. Pierre Tendean:
    “Rasanya belum banyak yang mengetahui bahwa keluarga Tendean baru menerima foto ini justru setelah kejadian tragedi 1 Oktober 1965. Sebuah studio foto yang beralamat di Bandung yang mengirim foto ini ke rumah orang tua Pierre Tendean di Jalan Imam Bonjol No 172 Semarang , sudah rapi dalam pigura dan berukuran besar 20×25. Negatif asli film tidak disertakan dalam pengiriman. Sehingga untuk pencetakan ulang selanjutnya, Jusuf Razak, adik ipar Pierre, merepro foto besar yang sampai ke Semarang tsb dengan kamera keluarga. Negatif repro itu lah yang kemudian dipakai berkali kali.

    Repro foto ini yang diserahkan keluarga sebagai salah satu memorabilia peninggalan Pierre Tendean untuk mengisi lemari display yang didedikasikan untuk pahlawan muda itu di kamar baju berdarah Museum Pancasila Sakti Lubang Buaya. Foto ini juga yang dijadikan hiasan meja di kamar sang ajudan dalam cuplikan film Pengkhianatan G30S/PKI besutan sutradara Arifin C Noer. Baik Ibu Mitzi dan Ibu Roos menggantung foto saudara terkasih mereka ini dalam ukuran besar di rumah masing-masing.
    “Fotokan aku di sini, aku akan perbesar dan kirim untuk Ibu di Semarang”
    Seru Pierre Tendean kepada fotografer peliput kegiatan Menko Hankam Kasab, Jenderal Nasution, atasannya.
    Demikian kisah yang kami dengar dari penuturan Ibu Mitzi mengenai latar belakang pengambilan foto. Pierre Tendean sedang berdinas sebagai salah satu ajudan yang mengawal Jenderal Nasution dalam satu upacara besar yang mensyaratkan pemakaian PDU (Pakaian Dinas Upacara) I seperti yang dikenakannya dalam foto.

    Menurut penelusuran melalui riset literatur dan video sejarah oleh Tim Penulis dengan sesama rekan peminat sejarah 65 (thank you Isnaya Denaswari), ada 3 upacara besar selama kurun masa jabatan Pierre Tendean sebagai ajudan, April – September 1965, yang mungkin dihadiri Menko Hankam Kasab :
    1. Perayaan Ulang Tahun Kodam Siliwangi di Bandung pada 20 Mei 1975
    2. Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-20 17 Agustus di Jakarta, dan
    3. Upacara Penganugrahan Sam Karya Nugraha oleh Presiden PYM Soekarno kepada Kodam Siliwangi di Bandung tanggal 28 Agustus 1965.
    Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6, Jenderal Nas, menyebut dirinya hadir menyaksikan parade militer keberhasilan aksi-aksi Kodam Siliwangi, seperti penangkapan Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, Soumokil , dll pada akhir Agustus 1965 di Bandung. Reuters merekam semarak parade ini dalam video bertanggal 30 Agustus 1965.

    Pak Nas tidak pernah menulis dirinya hadir saat HUT Siliwangi 1965. Secara khusus beliau menulis pula “saya ambil jalan paling safe” untuk acara 17 Agustus 1965, oleh sebab telah dibisiki Intel bahwa nyawanya dalam ancaman tembakan mati bila pada hari itu terjadi sesuatu pada Presiden Sukarno.
    Jadi sepertinya foto ini diambil pada akhir Agustus 1965 di Bandung, saat Pierre mengawal Pak Nas dalam undangan parade militer kegemilangan Siliwangi. Sebuah foto yang ia niatkan sebagai kado untuk sang Ibu, hanya datang terlambat, hadir saat dirinya sudah tiada.
    Foto diwarnai oleh Hendra Adjie. Terimakasih banyak.

    #pierretendean
    #pierreandriestendean“

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Noy Husain (Relawan MAFINDO)
    BUKAN foto mendiang aktor Wawan Wanisar, melainkan foto Kapten Czi. Pierre Tendean yang sebenarnya.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Pembukaan Misa Minggu Palma di Vatikan dengan Lagu Berbahasa Indonesia dan Janur Kuning Indonesia

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 02/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah video berantai di WhatsApp yang menunjukkan pembukaan Misa Minggu Palma di Vatikan yang memainkan lagu berbahasa Indonesia. Video berdurasi 4 menit 45 detik tersebut juga disertai dengan pesan yang menyatakan bahwa selain menggunakan lagu pengiring berbahasa Indonesia, Misa Minggu Palma di Vatikan juga menggunakan janur kuning sebagai pengganti daun palma.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut merupakan hasil editan dari potongan video siaran langsung yang diunggah oleh akun YouTube Vatican News pada 28 Maret 2021. Video berjudul “March 28 2021 Celebration of Palm Sunday-Angelus prayer Pope Francis” tersebut menunjukkan bahwa lagu yang dimainkan bukan merupakan lagu berbahasa Indonesia, melainkan berbahasa Latin. Lebih lanjut, staf Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID) Markus Solo SVD menegaskan bahwa hiasan daun yang digunakan dalam misa merupakan seni merangkai daun yang telah lama menjadi tradisi.

    Dengan demikian, narasi yang beredar melalui pesan WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi/Manipulated Content.

    Kesimpulan

    Video hasil editan. Video siaran langsung yang diunggah oleh akun YouTube Vatican News menunjukkan bahwa lagu yang dimainkan bukan merupakan lagu berbahasa Indonesia, melainkan berbahasa Latin. Lebih lanjut, hiasan daun yang digunakan dalam misa merupakan seni merangkai daun yang telah lama menjadi tradisi.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini