[SALAH] Website Portal Vaksin Covid-19 “corporate-realty.co”
Sumber: Tangkapan LayarTanggal publish: 06/04/2021
Berita
“Welcome Portal Vaksin Covid19”
Hasil Cek Fakta
a penerimaan vaksin Covid-19. Setelah ditelusuri, website tersebut palsu dan merupakan teknik phishing yang membuat orang lain memberikan data pribadi ke link, form, atau website tidak resmi yang tidak jelas tujuannya sehingga dapat di salahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Berdasarkan SK nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang petunjuk teknik pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19. Alur dari penerimaan vaksin adalah dengan menerima pemberitahuan melalui SMS dari PEDULICOVID dan melakukan registrasi ulang untuk mememilih tempat dan jadwal layanan melalui SMS 1199, UMB *119#, aplikasi dan website pedulilindungi.id, atau melalui Babinsa/Babinkamtibmas setempat. Data penerima vaksin yang telah terverifikasi, jadwal vaksinasi hingga jenis vaksin yang diberikan terdata pada aplikasi Pcare yang dapat diakses melalui browser maupun menggunakan aplikasi. Pengecekan data penerima vaksin dapat di akses oleh tim medis melalui website P-care.
Melihat dari penjelasan tersebut, website portal vaksin Covid-19 adalah tidak benar dan merupakan website palsu sehingga termasuk dalam kategori Konten Palsu/Fabricated Content.
Berdasarkan SK nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang petunjuk teknik pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19. Alur dari penerimaan vaksin adalah dengan menerima pemberitahuan melalui SMS dari PEDULICOVID dan melakukan registrasi ulang untuk mememilih tempat dan jadwal layanan melalui SMS 1199, UMB *119#, aplikasi dan website pedulilindungi.id, atau melalui Babinsa/Babinkamtibmas setempat. Data penerima vaksin yang telah terverifikasi, jadwal vaksinasi hingga jenis vaksin yang diberikan terdata pada aplikasi Pcare yang dapat diakses melalui browser maupun menggunakan aplikasi. Pengecekan data penerima vaksin dapat di akses oleh tim medis melalui website P-care.
Melihat dari penjelasan tersebut, website portal vaksin Covid-19 adalah tidak benar dan merupakan website palsu sehingga termasuk dalam kategori Konten Palsu/Fabricated Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Website tersebut palsu dan merupakan teknik phishing untuk mendapatkan data pribadi orang lain. Penerima vaksin akan menerima SMS dari PEDULICOVID untuk melakukan registrasi ulang untuk melakukan vaksinasi, dan menentukan jadwal vaksinasi yang terdata pada P-care. Pengecekan status penerima vaksin dapat diperiksa pada situs pedulilindungi.id yang dikhususkan untuk nakes.
Website tersebut palsu dan merupakan teknik phishing untuk mendapatkan data pribadi orang lain. Penerima vaksin akan menerima SMS dari PEDULICOVID untuk melakukan registrasi ulang untuk melakukan vaksinasi, dan menentukan jadwal vaksinasi yang terdata pada P-care. Pengecekan status penerima vaksin dapat diperiksa pada situs pedulilindungi.id yang dikhususkan untuk nakes.
Rujukan
- https://pedulilindungi.id
- https://covid19.go.id/storage/app/media/Regulasi/2021/Januari/Final%20SK%20Dirjen%20Juknis%20Vaksinasi%20COVID-19%2002022021.pdf
- https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20210121/0536820/pencatatan-vaksinasi-covid-19-melalui-aplikasi-pcare-kemenkes-instruksikan-dinkes-segera-input-data/
- https://www.suara.com/news/2019/07/28/122806/jangan-sembarangan-unggah-data-ktp-dan-kk-ke-medsos-ini-akibatnya?page=all
- https://domainbigdata.com/corporate-realty.co
[SALAH] Makanan Kaleng dari Thailand Menularkan Virus AIDS
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 06/04/2021
Berita
“InnaLillahi wa Inna Illaihi roji’un
Assalammu’alaikum Wr Wb
Breaking News : Meneruskan info dr Ibu Dubes KBRI KL
Tolong beritahu adek2, suami, isteri dan semua teman2 Perhatian ; Mulai saat ini jangan makan makanan kaleng ,terutama buah2an , khususnya produksi Thailand. Karena di negara itu ada kira2 200 orang pengidap aids kerja di pabrik kalengan, dan mereka masukkan darah mereka ke dalam kalengan2 itu , dan saat ini masalah tersebut telah diketahui DepKes Thailand sehingga kaleng2an tersebut telah banyak di sita ttpi lebih banyak yg sdh terlajur diekspor. Contoh ; Lecy , Rambutan , Lengkeng , Mangga Puding dll. Setelah terima ini cepat kirim ke saudar2 n teman2 semua. Agar tidak konsumsi kalengan apapun…… Demi keselamatan kita semua. Info dr ibu dubes KBRI
(Rita Toisuta Arifson Kementrian Kesehatan RI)
Simak Beritanya :https://health.liputan6.hb/read/678535 {semoga bermanfaat}. Mohon bantu share ya..????????
[ ????WARNING????
Tolong disebar luas kan
….”
Makanan kalengan thailand
Assalammu’alaikum Wr Wb
Breaking News : Meneruskan info dr Ibu Dubes KBRI KL
Tolong beritahu adek2, suami, isteri dan semua teman2 Perhatian ; Mulai saat ini jangan makan makanan kaleng ,terutama buah2an , khususnya produksi Thailand. Karena di negara itu ada kira2 200 orang pengidap aids kerja di pabrik kalengan, dan mereka masukkan darah mereka ke dalam kalengan2 itu , dan saat ini masalah tersebut telah diketahui DepKes Thailand sehingga kaleng2an tersebut telah banyak di sita ttpi lebih banyak yg sdh terlajur diekspor. Contoh ; Lecy , Rambutan , Lengkeng , Mangga Puding dll. Setelah terima ini cepat kirim ke saudar2 n teman2 semua. Agar tidak konsumsi kalengan apapun…… Demi keselamatan kita semua. Info dr ibu dubes KBRI
(Rita Toisuta Arifson Kementrian Kesehatan RI)
Simak Beritanya :https://health.liputan6.hb/read/678535 {semoga bermanfaat}. Mohon bantu share ya..????????
[ ????WARNING????
Tolong disebar luas kan
….”
Makanan kalengan thailand
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah pesan berantai dari Whatsapp yang mengklaim bahwa beberapa jenis makanan asal Thailand telah tercemar virus AIDS. Pesan ini juga menyatakan bahwa informasi ini dibagikan oleh Kedubes RI melalui Kemententrian Kesehatan, Rita Toisuta Arifson.
Namun setelah dilakukan pengecekan fakta, ternyata diketahui bahwa informasi ini merupakan hoaks lama sejak tahun 2013, yang kembali beredar. Jika melihat narasi hoaks, terdapat tautan berita dari media Liputan6. Namun, setelah ditelusuri, tautan tersebut tidak ditemukan atau diubah dari tautan aslinya.
Melansir dari media Liputan6, awalnya tautan asli berisi bantahan terhadap klaim makanan kaleng Thailand dapat menyebarkan virus AIDS. Namun, pembuat hoaks mengubah tautan asli menjadi tautan palsu yang tidak ditemukan.
Pihak BPOM pun telah memberikan klarifikasi resmi mereka pada tahun 2014 terkait berita ini.
“Sehubungan dengan adanya pemberitaan di berbagai media sosial mengenai produk makanan kaleng impor asal Thailand yang mengandung darah dan virus HIV, Badan POM memandang perlu memberikan penjelasan sebagai berikut:
Badan POM melakukan evaluasi terhadap keamanan, mutu, dan gizi produk pangan impor sebelum diedarkan di wilayah Indonesia (pre-market evaluation).
Badan POM secara rutin melakukan pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di wilayah Indonesia (post-market control).
Badan POM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang diberitakan tersebut, termasuk kandungan darah dan virus HIV dalam makanan kaleng, apalagi virus HIV tidak mampu bertahan hidup di luar host (tubuh manusia). Jadi pemberitaan tersebut adalah HOAX yang menyesatkan.
Dr. Roy dari BPOM juga memberikan tanggapannya. Dr. Roy mengatakan bahwa BPOM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang disebutkan dalam pesan berantai tersebut, termasuk kandungan darah dan virus HIV. Selain itu menurutnya, virus HIV tidak akan mampu bertahan hidup jika sudah keluar dari host atau tubuh manusia.
“Virus AIDS tidak bisa bertahan di luar hostnya, yakni tubuh manusia. Darah juga kalau keluar dari tubuh kan akan kering. Apalagi makanan kaleng melalui proses sterilisasi.”
Melalui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pesan berantai yang menyatakan bahwa beberapa makanan terutama makanan kaleng dari Thailand dapat menyebarkan virus AIDS adalah hoaks kategori misleading content atai konten menyesatkan.
Namun setelah dilakukan pengecekan fakta, ternyata diketahui bahwa informasi ini merupakan hoaks lama sejak tahun 2013, yang kembali beredar. Jika melihat narasi hoaks, terdapat tautan berita dari media Liputan6. Namun, setelah ditelusuri, tautan tersebut tidak ditemukan atau diubah dari tautan aslinya.
Melansir dari media Liputan6, awalnya tautan asli berisi bantahan terhadap klaim makanan kaleng Thailand dapat menyebarkan virus AIDS. Namun, pembuat hoaks mengubah tautan asli menjadi tautan palsu yang tidak ditemukan.
Pihak BPOM pun telah memberikan klarifikasi resmi mereka pada tahun 2014 terkait berita ini.
“Sehubungan dengan adanya pemberitaan di berbagai media sosial mengenai produk makanan kaleng impor asal Thailand yang mengandung darah dan virus HIV, Badan POM memandang perlu memberikan penjelasan sebagai berikut:
Badan POM melakukan evaluasi terhadap keamanan, mutu, dan gizi produk pangan impor sebelum diedarkan di wilayah Indonesia (pre-market evaluation).
Badan POM secara rutin melakukan pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di wilayah Indonesia (post-market control).
Badan POM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang diberitakan tersebut, termasuk kandungan darah dan virus HIV dalam makanan kaleng, apalagi virus HIV tidak mampu bertahan hidup di luar host (tubuh manusia). Jadi pemberitaan tersebut adalah HOAX yang menyesatkan.
Dr. Roy dari BPOM juga memberikan tanggapannya. Dr. Roy mengatakan bahwa BPOM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang disebutkan dalam pesan berantai tersebut, termasuk kandungan darah dan virus HIV. Selain itu menurutnya, virus HIV tidak akan mampu bertahan hidup jika sudah keluar dari host atau tubuh manusia.
“Virus AIDS tidak bisa bertahan di luar hostnya, yakni tubuh manusia. Darah juga kalau keluar dari tubuh kan akan kering. Apalagi makanan kaleng melalui proses sterilisasi.”
Melalui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pesan berantai yang menyatakan bahwa beberapa makanan terutama makanan kaleng dari Thailand dapat menyebarkan virus AIDS adalah hoaks kategori misleading content atai konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Faktanya informasi itu merupakan hoaks. BPOM sendiri telah memeriksa dan memberikan konfirmasi terkait kebenaran informasi. Informasi ini sudah dipastikan merupakan hoaks sejak tahun 2014.
Faktanya informasi itu merupakan hoaks. BPOM sendiri telah memeriksa dan memberikan konfirmasi terkait kebenaran informasi. Informasi ini sudah dipastikan merupakan hoaks sejak tahun 2014.
Rujukan
- https://m.liputan6.com/health/read/2933885/hoaks-berita-tentang-makanan-kaleng-berbahaya-dari-thailand
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2601046/beredar-kabar-virus-aids-di-makanan-kalengan-bpom-itu-hoax
- https://turnbackhoax.id/2016/11/21/hoax-makanan-kalengan-dari-thailand-mengandung-virus-aids/
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/0kp49Vqk-cek-fakta-waspada-produk-makanan-impor-dari-thailand-terpapar-aids-ini-fakta
Keliru, Klaim Bom Gereja Katedral Makassar Diledakkan dengan Remote Jarak Jauh
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 05/04/2021
Berita
Gambar tangkapan layar sebuah pesan WhatsApp yang berisi klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh beredar di Facebook. Menurut pesan itu, pengeboman di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021 tersebut persis dengan pengeboman yang terjadi di Surabaya pada 2018 silam.
"Sandiwara rezim PKI dg mengorbankan org Islam persis yg terjd di Surabaya Tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh. PKI ingin memframing PD publik bhw Islam teroris. Hati2 jika ada seseorang yg menyuruh kita minta kirimkan barang ke gereja. Bisa didlm barangnya terisi bom kendali jarak jauh jd itu strategi PKI utk menghancurkan islam," demikian bunyi pesan itu.
Akun ini membagikan gambar tersebut pada 28 Maret 2021. Akun itu menulis, "Benarkah? Tanya..." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 500 reaksi dan 189 komentar serta dibagikan lebih dari 200 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai pemberitaan terkait dari media-media kredibel. Dilansir dari Kompas.com, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono telah membantah informasi yang mengklaim bom di Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh. "Enggak benar pernyataan tersebut," kata Argo pada 4 April 2021.
Polisi memastikan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Terdapat dua pelaku yang melakukan aksi ini. Mereka melancarkan aksinya dengan mengendarai motor bernomor polisi DT 5984 MD dan berusaha merangsek ke halaman gereja. Namun, keduanya dicegat oleh petugas keamanan di gerbang gereja. "Pelaku sempat dicegah oleh security gereja tersebut tapi kemudian terjadilah ledakan itu," ujar Argo.
Dikutip dari Detik.com, Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom panci. Dilansir dari Koran Tempo, Kepala Polda Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Merdisyam menjelaskan bom yang digunakan pelaku memiliki daya ledak tinggi. Bom itu disimpan di dalam wadah panci. Polisi juga menemukan paku-paku yang bertebaran di tengah jalan.
Menurut Listyo, pelaku merupakan bagian dari jaringan yang juga melakukan pengeboman Gereja Katedral Jolo, Filipina, pada 2018. Keduanya adalah bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Sulawesi Selatan. Mereka merupakan bagian dari 20 anggota JAD Sulawesi Selatan yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) dalam dua bulan terakhir.
Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami-istri di Gereja Katedral Makassar itu adalah upaya balas dendam atas tewasnya mentor mereka pada 6 Januari 2021. "Dia ingin mewujudkan itu, rencana serang sejak Januari diwujudkan oleh dia ini," kata Wawan pada 3 April 2021.
Pada 6 Januari lalu, terjadi penangkapan terhadap 20 anggota JAD. Dua orang di antaranya tewas tertembak. Mereka adalah Moh Rizaldy dan Sanjai Ajis. Menurut Wawan, Rizaldy merupakan mentor dari pasangan suami-istri yang melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Rizaldy juga yang menikahkan keduanya enam bulan lalu. Setelah kedua orang itu tewas, para pengikutnya mengancam bakal menyerang.
Bom Surabaya
Setelah terjadinya ledakan bom di gereja Surabaya pada 13 Mei 2018, beredar klaim bahwa bom-bom tersebut dikontrol dari jarak jauh. Tiga gereja itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna.
Namun, menurut Kepala Divisi Humas Polri saat itu, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, rumor ini keliru. Dilansir dari Suara.com, Setyo menyatakan bahwa pelaku, Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswati, secara sadar mengajak keempat anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja tersebut.
"Bagaimana mungkin pelaku tak sadar saat melakukan aksinya? Bomnya kan diikat di badan semua. Pelaku semuanya melakukan itu secara sadar dan sudah disiapkan," kata Setyo pada 18 Mei 2018. Sebagai penguat, Setyo mengungkap keterangan ketua RT di lingkungan rumah keluarga Dita soal keganjilan perilaku dua anak Dita sehari sebelum aksi bom Surabaya.
"Ada keterangan Pak RT yang mengatakan, satu hari sebelum kejadian, yakni Sabtu (12 Mei 2018), malam Minggu, dia melihat dua anak pelaku salat di musala. Kedua anak itu terlihat saling menangisi. Ada apa itu? Kemungkinan besar mereka tahu besoknya akan melakukan amaliah (teror)," kata Setyo.
Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, juga telah menjelaskan jenis bom yang digunakan oleh Dita dan keluarganya. Dilansir dari Detik.com, jenis bom tersebut berbeda-beda. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa oleh kedua anak Dita di dalam tas.
Bom yang meledak di GKI Diponegoro, yang dibawa oleh istri Dita, disematkan di ikat pinggangnya. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna, yang berdaya eksplosif tinggi, dibawa oleh Dita dengan mobil. "Yang dengan (Toyota) Avanza di Arjuna itu menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan, setelah itu ditabrak. Ini ledakan terbesar dari tiga (lokasi)," ujar Tito.
Bom Medan oleh pelaku berjaket ojol
Usai meledaknya bom di Polrestabes Medan pada 13 November 2019, beredar pula klaim bahwa bom tersebut merupakan paket yang dikirim dengan jasa ojek online (ojol). "Info bukan bom bunuh diri, tapi driver Gojek dapat orderan barang ke polrestabes. Sampai sana, barang yang dibawa meledak. Jadi, driver Gojek yang jadi korban," demikian isi pesan berantai di WhatsApp ketika itu.
Tim CekFakta Tempo telah memverifikasi klaim tersebut pada 14 November 2019, dan menyatakannya keliru. Polri memastikan bahwa ledakan di Polrestabes Medan itu adalah aksi bom bunuh diri oleh pria bernama Rabbial Muslim, warga Sei Putih Barat, Medan Petisah.
Usai kejadian bom Medan ini, polisi menangkap istri Rabbial yang berinisial DA. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri saat itu, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, mengatakan bahwa DA diduga terpapar paham radikalisme terlebih dulu sebelum sang suami. DA rutin berkomunikasi dengan seorang narapidana teroris berinisial I yang sedang berada tahanan. DA juga rutin mengunjungi I. Bahkan, keduanya sudah berencana untuk melakukan aksi di Bali.
Selain itu, dikutip dari Detik.com, berdasarkan pengusutan Satuan Tugas (Satgas) Grab di Medan, Rabbial adalah mantan pengemudi ojol Grab. Menurut Ketua Garda Regional Sumatera Utara, Joko Pitoyo, Rabbial sudah putus mitra dengan Grab sejak November 2018. "Di Gojek, beliau tidak pernah terdaftar," kata Joko pada 13 November 2019.
Sementara menurut Dedi, Rabbial datang ke Polrestabes Medan bukan untuk mengantar barang. Dia berujar bahwa petugas yang berjaga di pos pengamanan Polrestabes Medan sempat memeriksa Rabbial. "Petugas tanyakan apa keperluannya, pelaku mengaku akan membuat SKCK," katanya.
Saat itu, petugas juga menggeledah tas yang dibawa Rabbial, tapi hanya menemukan sebuah buku. Rabbial pun diminta melepas jaket, tapi ia malah bergeser ke arah kerumunan orang. Bom itu, kata Dedi, meledak 30-40 meter dari pos pengamanan. Ketika itu, Rabbial belum sampai di tempat pembuatan SKCK.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh, keliru. Polisi telah membantah klaim itu, dan menyatakan bahwa bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Bom itu berjenis bom panci. Terkait bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada 2018 silam, bom yang digunakan juga tidak dikontrol dari jarak jauh. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa di dalam tas. Bom yang meledak di GKI Diponegoro disematkan di ikat pinggang. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna dibawa dengan mobil yang kemudian ditabrakkan.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/bom-gereja-katedral-makassar
- https://archive.fo/lmwga
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/04/04/125700865/-hoaks-bom-di-makassar-dikendalikan-remote-?page=all
- https://news.detik.com/berita/d-5511608/jenis-bom-bunuh-diri-di-depan-katedral-makassar-bom-panci
- https://koran.tempo.co/read/berita-utama/463419/serangan-bom-panci-pada-minggu-palma
- https://nasional.tempo.co/read/1448822/bin-bom-bunuh-diri-di-makassar-direncanakan-sejak-januari/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/bom-di-gereja-surabaya
- https://www.suara.com/news/2018/05/18/163019/sehari-jelang-bom-gereja-surabaya-anak-dita-menangis-di-musala
- https://www.tempo.co/tag/bom-surabaya
- https://news.detik.com/berita/d-4018560/jenis-bom-di-3-gereja-surabaya-bom-mobil-hingga-ikat-pinggang
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/478/fakta-atau-hoaks-benarkah-bom-yang-meledak-di-medan-adalah-paket-yang-dikirim-dengan-jasa-ojol
- https://www.tempo.co/tag/bom-medan
Sesat, Artikel yang Sebut Cina Bohong soal Asal-usul Virus Corona
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 05/04/2021
Berita
Klaim bahwa Cina berbohong tentang asal-usul virus Corona beredar di Facebook. Klaim itu terdapat dalam artikel yang dimuat oleh situs Kabarterkini.sehatalajsr.com yang berjudul "China Tidak Bisa Berbohong Lagi, WHO Akhirnya Bongkar Asal Usul Virus Corona yang Sebenarnya, Benarkah Dunia Sudah Dibohongi Selama Ini?".
Artikel itu berisi penjelasan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan peternakan satwa liar di Cina yang menjadi sumber pandemi Covid-19. Informasi tersebut diklaim berasal dari situs Intisari Grid, yang mengutip situs sains luar negeri Live Science pada 18 Maret 2021.
"Menurut Peter Daszak, ahli ekologi penyakit di tim WHO yang melakukan investigasi ke China, di sekitar provinsi Yunna di China selatan terdapat banyak peternakan satwa liar. Menurutnya, peternak satwa liar tersebut kemungkinan besar memasok hewan ke pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, tempat kasus pertama Covid-19 di temukan."
Gambar tangkapan layar artikel yang beredar di Facebook yang memuat judul yang menyesatkan tentang pemerintah Cina dan asal-usul virus Corona.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, artikel yang dipublikasikan oleh Kabarterkini.sehatalajsr.com tersebut memang berasal dari artikel Intisari Grid yang diterbitkan pada 19 Maret 2021. Namun, artikel itu tidak memuat secara lengkap artikel Intisari Grid. Artikel tersebut hanya berisi sekitar sepertiga dari isi artikel yang dimuat Intisari.
Judul artikel Intisari Grid (Grup Kompas) pun tidak sesuai dengan isi berita di situs Kompas.com yang menjadi sumber artikel tersebut. Berita Kompas.com yang dimaksud adalah berita yang berjudul "Dari Mana Covid-19 Berasal, WHO Ungkap Hasil Investigasinya" yang terbit pada 18 Maret 2021.
Berita Kompas.com ini tidak menyebut adanya kebohongan yang dilakukan oleh Cina. Berita itu menjelaskan temuan WHO, bahwa kemungkinan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, berasal dari peternakan hewan yang banyak berdiri di Cina.
Di Intisari Grid, artikel tersebut disajikan dalam tiga halaman. Kabarterkini.sehatalajsr.com hanya mengutip isi artikel Intisari Grid yang terdapat di halaman pertama. Penjelasan yang tidak dimuat oleh situs itu antara lain sebagai berikut:
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, artikel yang berjudul "China Tidak Bisa Berbohong Lagi, WHO Akhirnya Bongkar Asal Usul Virus Corona yang Sebenarnya, Benarkah Dunia Sudah Dibohongi Selama Ini?" menyesatkan. Artikel ini memang diambil dari Intisari Grid, namun hanya sebagian kecil dan tidak menyeluruh, sehingga kurang memberikan informasi yang jelas. Artikel Intisari Grid pun berasal dari berita Kompas.com yang berjudul "Dari Mana Covid-19 Berasal, WHO Ungkap Hasil Investigasinya". Namun, dalam berita ini, tidak ada penjelasan bahwa Cina melakukan kebohongan. Sumber virus Corona penyebab Covid-19 masih ditelusuri oleh WHO.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/cina
- https://archive.is/sQQEF
- https://www.tempo.co/tag/who
- https://intisari.grid.id/read/032608687/china-tidak-bisa-berbohong-lagiwho-akhirnya-bongkarasal-usul-virus-corona-yang-sebenarnya-benarkah-dunia-sudah-dibohongi-selama-ini?page=3
- https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/18/192900023/dari-mana-covid-19-berasal-who-ungkap-hasil-investigasinya?page=all
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
Halaman: 6779/8568



