• [SALAH] Foto Kemunculan Es Besar dari Atap Rumah di Texas

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 01/03/2021

    Berita

    “To the people making joke memes about our freezing weather and our incompetent state leaders in Texas, please remember people are dying and suffering. This is my nephew’s classmate’s house.”

    “Kepada orang-orang bercanda tentang cuaca yang membeku dan para pemimpin negara bagian kami yang tidak kompeten di Texas, harap ingat bahwa orang-orang sedang sekarat dan menderita. Ini rumah teman sekelas keponakanku.”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Twitter Bag Snob® (@BagSnob) menggunggah cuitan berupa narasi dengan foto atap rumah yang membeku yang diklaim terjadi di Texas. Unggahan tersebut mendapatkan atensi sebanyak 10 retweet dan 26 like.

    Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan foto yang sama dengan cuitan tersebut pada beberapa artikel pada situs yang diunggah sebelum bencana badai salju terjadi di Texas tahun 2021. Sebuah artikel yang ditulis Dave “Wheels” Wheeler tahun 2018 pada situs stasiun radio Big Frog 104 menyebutkan bahwa foto atap rumah yang membeku tersebut terjadi di Watertown, New York bersumber dari Reddit. Selain itu, foto yang sama juga ditemukan pada sebuah artikel milik perusahaan layanan restorasi bernama Thompson Building Associates pada 28 Desember 2019 dengan judul “Preventing Broken Water Pipes This Winter”.

    Dari berbagai fakta di atas, cuitan akun Twitter Bag Snob® (@BagSnob) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)

    Faktanya, foto tersebut ditemukan di beberapa blog yang mempostingnya sebelum tahun 2021 dan tidak terkait dengan bencana salju yang melanda Texas baru-baru ini.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Bayi Ikan Hiu Berwajah Manusia, Seperti Kasus Manusia Durhaka yang Terkutuk..”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/03/2021

    Berita

    “Bayi Ikan Hiu Berwajah Manusia, Seperti Kasus Manusia Durhaka yang Terkutuk..”
    Ular besar

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Palingseru mengunggah sebuah tautan artikel berjudul “Bayi Ikan Hiu Berwajah Manusia ini Bikin Heboh warga di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur” dengan disertai narasi yang menyebutkan bahwa bayi ikan hiu tersebut seperti manusia durhaka yang terkutuk. Unggahan tersebut mendapatkan atensi sebanyak 374 reaksi, 16 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 5 kali.

    Berdasarkan hasil penelusuran, kondisi bayi hiu tersebut mengalami kelainan genetis. Mengutip dari Kompas, peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Fahmi, M. Phil menjelaskan bahwa kelainan tersebut dapat terjadi karena mutasi gen atau kelainan pada saat perkembangan embrionya.

    “Jika dilihat dari warna siripnya, ini termasuk hiu sirip hitam. Tapi untuk pastinya tentu harus dilihat langsung induknya atau anak hiu yang normal. Kelainan genetis kadang memang terjadi pada anakan hiu, walau kasusnya termasuk jarang. Ada banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan kelainan genetis pada bayi hiu. Seperti manusia, bisa dari kualitas telur atau sperma pada masa pembuahannya, bisa karena mutasi gen atau kelainan pada saat perkembangan embrionya. Bisa juga karena faktor lain yang belum diketahui. Ada banyak kemungkinannya,” jelasnya.

    Selain itu, mengutip dari Bisnis, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur memaparkan bahwa bayi hiu yang menyerupai manusia merupakan bayi hiu yang berbentuk janin sehingga belum berkembang. Spesies hiu tersebut termasuk ke dalam daftar merah kategori rentan menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Oleh sebab itu, kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara juga mengimbau kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip hiu.

    “Untuk itu saya mengimbau kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip hiu dan nelayan untuk menghentikan eksploitasi ikan hiu, supaya sumberdaya perairan dapat terus dimanfaatkan secara lestari,” ungkapnya.

    Informasi serupa terkait kelainan genetis pada hewan sebelumnya pernah dibahas dalam beberapa artikel Turn Back Hoax yang berjudul “[SALAH] “Ular yang bertanduk”dan [SALAH] “Bayi ikan Hiu Mirip DAJJAL”.

    Dari berbagai fakta di atas, unggahan akun Facebook Palingseru dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)

    Faktanya, menurut peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Fahmi, M.Phil menjelaskan bahwa ikan hiu yang diklaim berwajah manusia itu disebabkan karena adanya kelainan genesis.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Gambar artikel berjudul “Kecewa Dengan Biden, Warga Amerika Ingin Dipimpin Oleh Jokowi”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/03/2021

    Berita

    Akun Facebook Dukung Jokowi 3 Periode (fb.com/Jokowi3Period) pada 28 Februari 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar artikel berjudul “Kecewa Dengan Biden, Warga Amerika Ingin Dipimpin Oleh Jokowi” dengan narasi sebagai berikut:

    “Disaat para kadrun sangat membenci Pak Jokowi ternyata diluar negeri sana banyak orang yang mendambakan Pak Jokowi. Subhanallah, inilah karomah Waliyullah semakin banyak dibenci semakin banyak pula dipuja. Semakin yakin 3 Periode!”

    Selain judul artikel, terdapat foto Presiden Joko Widodo (Jokowi), foto Presiden Joe Biden dan tulisan “Reporter : Non Koresponden”, “Editor: Eka Yudha Saputra” serta “Senin, 29 Februari 2021 12:00 WIB”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya gambar artikel berjudul “Kecewa Dengan Biden, Warga Amerika Ingin Dipimpin Oleh Jokowi” merupakan klaim yang keliru.

    Faktanya, gambar itu merupakan gambar editan dari artikel asli yang berjudul “Joe Biden Dikritik karena Tidak Hukum MBS Terkait Pembunuhan Jamal Khashoggi” yang dimuat di situs Tempo pada Minggu, 28 Februari 2021 pukul 16:00 WIB.

    Dilansir dari Medcom, selain tidak ada informasi resmi dan valid mengenai hal itu, jika diteliti lagi, artikel itu diklaim dimuat pada Senin 29 Februari 2021 pukul 12.00 WIB. Seperti yang diketahui, Februari 2021 hanya sampai pada tanggal 28.

    Kemudian tangkapan layar itu mirip dengan artikel yang dimuat Tempo.co pada Minggu 28 Februari 2021 pukul 16.00 WIB. Artikel itu berjudul “Joe Biden Dikritik karena Tidak Hukum MBS Terkait Pembunuhan Jamal Khashoggi”. Kemiripan itu dapat dilihat dari keterangan nama reporter, yakni Non Koresponden dan editor, yakni Eka Yudha Saputra. Kemudian dari foto Biden yang dimuat pada artikel tersebut.

    Selain mengedit judul dan tanggal, sumber klaim juga mengedit foto yang dimuat di artikel itu dengan cara memasukkan foto Presiden Jokowi yang aslinya merupakan foto Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato secara virtual dalam Sidang Majelis Umum PBB, Rabu (24/9/2020) pagi waktu Indonesia atau Selasa (23/9/2020) malam waktu New York, Amerika Serikat yang salah satunya dimuat di artikel berjudul “Lengkap, Isi Pidato Presiden Jokowi Saat Sidang Umum PBB” yang tayang pada 23 September 2020 di situs Kompas.

    Kesimpulan

    Gambar EDITAN dari artikel asli yang berjudul “Joe Biden Dikritik karena Tidak Hukum MBS Terkait Pembunuhan Jamal Khashoggi” yang dimuat di situs Tempo pada Minggu, 28 Februari 2021 pukul 16:00 WIB.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Anosmia Bukan Gejala Khas Virus dan Bisa Diobati dengan Mecobalamin

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/03/2021

    Berita


    Unggahan yang berisi klaim bahwa anosmia bukan gejala khas virus dan bisa diobati dengan mecobalamin beredar di Instagram pada 17 Februari 2021. Klaim itu dilengkapi dengan foto obat mecobalamin.
    "Anosmia Bukan Gejala khas Virus. Memangnya dari dulu gak pernah ada yg merasakan gejala ini?? Jangan mau di takut2i otak dengkul! Minum aja Mecobalamin. 5 cap setiap 1 jam sampai diare ringan," demikian narasi di bagian awal unggahan tersebut.
    Kemudian, unggahan itu menyinggung soal Covid-19. "Covid19 cuma kurang vitamin dosis tinggi dan mineral elektrolit. Tidak ada virus ganas! Obat penyebab bergejala berat dan kematian!"
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim keliru terkait anosmia dan obat mecobalamin.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mewawancarai dokter spesialis penyakit dalam, Sally Aman Nasution. Menurut Sally, para peneliti telah mengumpulkan data berbagai gejala Covid-19 selama pandemi terjadi dalam setahun terakhir. Lewat pengumpulan data ini, para peneliti menemukan bahwa Covid-19 memunculkan bermacam-macam gejala, tidak hanya pneumonia.
    “Di awal pandemi, gejala yang diketahui adalah pneumonia, karena penderita mengalami gangguan paru-paru dan saluran pernapasan. Ternyata sekarang makin bermacam-macam, atau disebut penyakit seribu wajah. Ada yang demam, ada yang tidak. Ada yang batuk kering, ternyata tidak semua mengalami batuk. Termasuk diare, ternyata mereka yang positif juga ada yang diare,” kata Sally saat dihubungi pada 1 Maret 2021.
    Menurut Sally, anosmia atau kehilangan penciuman juga menjadi salah satu gejala yang muncul pada mereka yang positif Covid-19. Di tengah pandemi seperti ini, kata dia, setiap orang yang mengalami anosmia harus waspada terinfeksi Covid-19, sebab setiap orang memiliki risiko yang sama.
    “Sebelum pandemi, anosmia memang bisa terjadi karena penyebab lain. Tapi, karena saat ini pandemi, kita harus waspada,” ujarnya. Namun, menurut Sally, mecobalamin bukan obat untuk anosmia. Di dunia medis, mecobalamin lebih sering digunakan sebagai obat penyakit saraf tepi. “Jadi, tidak ada kaitannya dengan anosmia.”
    Arsip berita Tempo pada 23 Januari 2021 juga melaporkan kehilangan kemampuan untuk mencium bau atau anosmia adalah salah satu gejala Covid-19. Untuk membantu mengembalikan indera penciuman, dokter spesialis paru Sylvia Sagita Siahaan menyarankan pasian untuk melakukan rehabilitasi penciuman.
    "Yang paling baik rehabilitasi penciuman, misalnya mencium sesuatu seperti minyak kayu putih. Jadi, kita rangsang saraf lagi, saraf-sarafnya untuk bisa beregenerasi supaya anosmianya menjadi perbaikan," ujar Sylvia saat dihubungi pada 23 Januari 2021.
    Peneliti anosmia sekaligus direktur rinologi di Massachusetts Eye and Ear, Eric Holbrook, juga mengatakan pasien dapat mencoba pelatihan aroma, yakni menemukan bau yang kuat dan menghirupnya sambil berfokus pada seperti apa aroma itu seharusnya. Pasien bisa mengumpulkan beberapa aroma yang kuat, seperti kayu manis, mint, jeruk, cengkih, dan wewangian mawar.
    Menurut dokter spesialis penyakit menular di Universitas Northeast Ohio, Richard Watkins, anosmia terjadi sebagai efek samping virus yang berkembang, biak di hidung dan tenggorokan. Virus dapat menyebabkan peradangan dan pembengkakan di saluran hidung sehingga tersumbat, juga menurunkan kemampuan indera. Tapi, mengapa gejala ini tak kunjung hilang pada beberapa orang, belum sepenuhnya bisa dipahami para ahli.
    "Reseptor virus telah ditemukan di lapisan khusus rongga hidung yang berisi saraf penciuman, yang pertama kali mendeteksi bau di udara. Meskipun reseptor ini belum ditemukan pada saraf itu sendiri, kerusakan di sekitarnya kemungkinan besar menyebabkan hilangnya bau," tutur Holbrook.
    Anosmia biasanya akan membutuhkan waktu untuk hilang, bisa berbulan-bulan, dan umumnya berbeda-beda antar pasien. Para peneliti menemukan sekitar 15 persen pasien Covid-19 belum bisa memulihkan indera perasa dan penciuman 60 hari setelah terinfeksi, sementara hampir 5 persen berada dalam situasi yang sama hingga enam bulan kemudian.
    Sylvia mengatakan para dokter yang menangani Covid-19 akan bekerja sama dengan spesialis THT dalam kasus anosmia. Penanganannya bisa tergantung derajat kerusakan saraf yang diakibatkan virus. "Kami bekerja sama dengan dokter THT karena saluran napas atas memang dipegang THT juga. Biasanya memang tergantung derajat kerusakan karena yang dirusak sarafnya," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa anosmia bukan gejala khas virus dan bisa diobati dengan mecobalamin, keliru. Anosmia adalah salah satu gejala Covid-19. Di tengah pandemi seperti ini, setiap orang yang mengalami anosmia harus waspada terinfeksi Covid-19. Selain itu, mecobalamin bukan obat untuk anosmia. Di dunia medis, mecobalamin lebih sering digunakan sebagai obat penyakit saraf tepi.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini