• Keliru, Dokter di Palembang Meninggal Karena Vaksin Covid-19 Mengandung Zat Beracun

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 25/01/2021

    Berita


     Klaim yang mengaitkan kematian seorang dokter asal Palembang, Sumatera Selatan, dengan vaksin Covid-19 yang mengandung zat beracun beredar di Facebook. Narasi itu dibagikan oleh akun Lois Lois pada 24 Januari 2021 dan telah mendapatkan lebih dari 200 reaksi serta dibagikan sebanyak 96 kali.
    Akun ini membagikan gambar tangkapan layar artikel dari Urban Id tentang kematian dokter asal Palembang usai disuntik vaksin Covid-19. Pada 22 Januari 2021, memang ada dokter asal Palembang, JF, 49 tahun, yang ditemukan tewas di dalam mobilnya, setelah sehari sebelumnya disuntik vaksin Covid-19.
    Akun Lois Lois kemudian menulis, "Vaksin FLU menyebabkan serangan jantung dan stroke!! Jadi..org yg sudah di vaksin Flu bisa dipastikan tidak bisa hidup lebih lama Krn kandungan zat beracun di dalamnya yg sangat mematikan! Memang umur di tangan Tuhan tapi Vaksin FLu mempercepat proses ' di panggil' Tuhan."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lois Lois yang berisi klaim keliru terkait kematian seorang dokter asal Palembang, Sumatera Selatan.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, penyebab kematian dokter asal Palembang pada 22 Januari tersebut bukanlah vaksin Covid-19 yang disuntikkan sehari sebelum dokter tersebut meninggal. Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan dokter berinisial JF ini meninggal karena serangan jantung.
    Dikutip dari Kompas.com, dokter forensik Rumah Sakit M. Hasan Bhayangkara Palembang, Indra Nasution, menjelaskan dugaan serangan jantung tersebut berdasarkan munculnya bintik merah pendarahan yang disebabkan oleh kekurangan oksigen di sekitar mata, wajah, tangan, dan dada.
    Menurut Indra, apabila meninggal karena vaksin dalam bentuk suntikan, seharusnya efek yang ditimbulkan terjadi dalam waktu singkat. "Korban divaksin Kamis (21 Januari), meninggal diperkirakan Jumat (22 Januari). Kalau disuntik, pasti reaksinya lebih cepat," kata Indra.
    Hal yang sama dituturkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi. Menurut Nadia, kematian seorang dokter berinisial JF di Palembang tersebut tidak ada hubungannya dengan vaksinasi Covid-19, yang saat ini baru dilakukan dengan vaksin Sinovac.
    "Laporan sementara, almarhum memang menerima vaksin pada Kamis dan ditemukan telah meninggal pada Jumat malam. Dari pemeriksaaan sementara, ditemukan tanda-tanda kekurangan oksigen, dan tanda ini tidak berhubungan dengan akibat vaksinasi," ujar Nadia saat dihubungi pada 24 Januari 2021.
    Klaim bahwa vaksin Covid-19 Sinovac mengandung zat beracun juga tidak berdasar. Sebelum vaksinasi, vaksin Sinovac telah menjalani uji klinis fase 3, di mana 1.620 relawan mendapat suntikan pertama dan 1.590 relawan diberi suntikan kedua. Dari penyuntikan ini, tidak ada kematian yang dilaporkan.
    Sejak vaksinasi dimulai pada 13 Januari, lebih dari 132 ribu tenaga kesehatan kelompok pertama telah menjalani vaksinasi Covid-19 hingga 23 Januari. Jumlah ini setara dengan 22 persen dari total 598.483 tenaga kesehatan yang akan divaksinasi di tahap pertama. Dari mereka yang telah divaksin, tidak ada pula kematian yang dilaporkan karena vaksin Covid-19 tersebut.
    Bahan vaksin Sinovac
    Vaksin Sinovac menggunakan partikel virus SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, yang telah dimatikan, atau genomnya telah dirusak. Sejumlah literatur menyebut metode yang dikenal dengan nama inactivated virus ini sudah lama digunakan, setidaknya sejak 1950-an.
    Vaksin Sinovac dikembangkan dengan menumbuhkan SARS-CoV-2 dalam jumlah yang besar di sel ginjal monyet. Kemudian, mereka menyiram virus itu dengan bahan kimia yang disebutbeta propiolactone. Senyawa ini menonaktifkan virus Corona yang terikat pada gennya. Virus Corona yang tidak aktif tidak akan bisa lagi bereplikasi. Tapi, protein mereka, termasuk protein Spike, tetap utuh.
    Peneliti kemudian mengambil virus yang tidak aktif itu dan mencampurkannya dengan sejumlah kecil senyawa berbasis aluminium yang disebutadjuvant. Adjuvantmerangsang sistem kekebalan untuk meningkatkan responnya terhadap vaksin. Karena virus Corona dalam vaksin sudah mati, mereka dapat disuntikkan ke lengan tanpa menyebabkan Covid-19. Begitu masuk ke dalam tubuh, beberapa virus yang tidak aktif ditelan oleh sejenis sel kekebalan yang disebut sel pembawa antigen.
    Vaksinasi Covid-19 bagi pengidap penyakit jantung
    Dilansir dari CNN Indonesia, vaksin Covid-19 sempat disebut tidak direkomendasikan bagi mereka yang memiliki penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan hipertensi. Vito A. Damay, anggota Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), mengatakan bahwa PERKI memberikan sejumlah rekomendasi terkait vaksinasi terhadap pasien dengan penyakit kardiovaskular.
    "Penyakit jantung ada banyak dan tidak semua penyakit jantung sama. Ada beberapa kondisi yang dinyatakan layak diberikan vaksin dan ada juga yang dikatakan tidak layak. Ada juga yang layak dipertimbangkan," kata Vito saat pada 25 Januari 2021.
    Berikut rekomendasi PERKI terkait penyakit kardiovaskular dan vaksinasi Covid-19:
    "Prinsipnya, safety first. Namun demikian, secara prinsip, kalau seseorang dalam kondisi stabil, punya penyakit jantung tapi orang itu kondisi baik, stabil, kami rekomendasikan harusnya bisa," katanya.
    Menurut dia, kondisi penyakit jantung pada tiap pasien berbeda. Misalnya, ada yang menderita penyakit jantung koroner dengan hipertensi, ada yang mengidap penyakit jantung koroner dengan lemah jantung, ada pula yang sudah pasang ring dan masih banyak lagi.
    Vito mengingatkan pasien penyakit jantung dan merasa stabil musti tetap mendapat pemeriksaan dari dokter. Dengan kata lain, sebelum vaksin, pasien dengan penyakit jantung harus mendapatkan rekomendasi dokter yang merawatnya.
    "Kondisi stabil memang layak vaksinasi tetapi kadang orang tidak sadar sebenarnya kondisi tubuhnya tidak stabil. Bahkan untuk orang yang merasa tidak memiliki masalah pada jantung, akhirnya ketahuan memiliki masalah jantung setelah terkena Covid-19," kata Vito.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa dokter asal Palembang tersebut meninggal karena vaksin Covid-19 mengandung zat beracun, keliru. Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa dokter berinisial JF tersebut meninggal karena serangan jantung. Vaksin Sinovac, vaksin yang saat ini digunakan dalam vaksinasi Covid-19 di Indonesia, pun tidak mengandung zat beracun dan telah disuntikkan kepada ribuan tenaga kesehatan. Hingga kini, tidak ada kematian yang dilaporkan karena vaksin tersebut.
    IKA NINGTYAS
    CATATAN REDAKSI: Artikel ini diubah pada 25Januari 2021 pukul 18.45 WIB karena terdapat penambahan bagian "Vaksinasi Covid-19 bagi pengidap penyakit jantung".
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “*#21# cara cek hp disadap”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/01/2021

    Berita

    Akun Duwik Puji Prasetia (fb.com/dwi.baron.754) pada 22 Januari 2021 mengunggah sebuah video ke grup CAH KENDAL RA ,, ( CKR ) dengan narasi sebagai berikut:

    “Ikutan yang lagi viral cek HP yang disadap semoga bermanfaat buat dulur-dulur silakan mencobanya lur”

    Di video yang berasal pengguna aplikasi SnackVideo bernama @Nyimassherly_ tersebut terdapat narasi “ikutan yang lagi viral cara cek hp disadap” dan “sempat deg-degkan awalnya” dan seseorang yang mengetikkan kode *#21#.

    smartphone disadap
    sadap

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa *#21# adalah cara cek hp disadap merupakan klaim yang keliru.

    Faktanya, tidak ada hubungannya dengan penyadapan. *#21# adalah fungsi untuk “call forwarding” atau pengalihan panggilan masuk.

    Klaim ini sendiri merupakan hoaks berulang. Klaim yang sama, misalnya pernah diperiksa faktanya dan dibuatkan artikel berjudul [HOAX] “Apabila ada salah satu yg DITERUSKAN, maka bisa dipastikan Nomor anda telah disadap!!!” yang dimuat pada 1 November 2017 di situs turnbackhoax.id.

    Selain itu, dilansir dari Liputan6, setelah ditelusuri, kombinasi *#21# sebenarnya digunakan untuk mengaktifkan call forwarding atau pengalihan panggilan. Jadi, fitur ini akan mengalihkan panggilan yang masuk ke nomor utama apabila tak dapat dihubungi.

    Saat dikonfirmasi terkait pesan ini, Pakar Keamanan dan Kriptografi Pratama Persadha juga menyebut kabar itu tidak benar. Menurutnya, fitur ini memang digunakan untuk mengalihkan panggilan masuk.

    “Call forwarding ini sebenarnya digunakan apabila telepon milik kita akan disambungkan ke saluran lain PSTN, mailbox, dan lain-lain,” tuturnya saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Rabu (21/2/2018) di Jakarta.

    Terkait kemungkinan fitur call forwarding yang aktif tanpa diketahui pengguna, menurut Pratama, besar kemungkinan hal itu memang pengaturan bawaan dari kartu SIM milik operator.

    Kesimpulan

    Tidak ada hubungannya dengan penyadapan. *#21# adalah fungsi untuk “call forwarding” atau pengalihan panggilan masuk.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Olimpiade Tokyo 2021 DIBATALKAN”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/01/2021

    Berita

    Akun Ed Hobrok (fb.com/ed.hobrok) pada 22 Januari 2020 mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:

    “Tokyo Olympics ‘are CANCELLED’: Japanese government ‘has privately concluded the Games cannot go ahead this summer’ after they were postponed from last year.
    طيب والله فرصة، ما نطالب بتنظيمها في مصر”

    Atau ila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi:

    “Olimpiade Tokyo ‘DIBATALKAN’: Pemerintah Jepang ‘secara pribadi menyimpulkan bahwa Olimpiade tidak dapat dilanjutkan musim panas ini’ setelah ditunda dari tahun lalu. Ya, dan Tuhan adalah kesempatan, kami tidak menuntut untuk mengaturnya di Mesir”

    Hasil Cek Fakta

    erdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Olimpiade Tokyo 2021 dibatalkan karena pemerintah Jepang menyimpulkan Olimpiade tidak dapat dilanjutkan musim panas ini setelah ditunda dari tahun 2020 adalah klaim yang keliru.

    Faktanya, informasi tersebut adalah informasi palsu. International Olympic Committee (IOC) dan Pemerintah Jepang sudah membantah informasi ini. IOC tidak membatalkan Olimpiade Tokyo 2021 dan ajang yang akan berlangsung di Jepang itu tetap berjalan sesuai rencana.

    Dilansir dari Medcom, IOC telah membuat pernyataan yang membantah klaim Pemerintah Jepang membatalkan Olimpiade Tokyo 2021 melalui akun Twitter resminya, twitter.com/iocmedia pada 22 Januari 2020.

    “Pada rapat Dewan Eksekutif IOC pada Juli tahun lalu, telah disepakati bahwa Upacara Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 akan diadakan pada 23 Juli tahun ini, dan program serta tempat penyelenggaraan Olimpiade dijadwalkan ulang sesuai dengan itu. Semua pihak yang terlibat adalah bekerja sama untuk mempersiapkan Olimpiade yang sukses musim panas ini, “bunyi pernyataan itu seperti yang dilaporkan oleh Medcom.

    IOC menambahkan bahwa tindakan pencegahan terhadap covid-19 akan diterapkan dan bahwa “IOC sepenuhnya berkonsentrasi dan berkomitmen untuk keberhasilan penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2021 tahun ini.”

    Selain itu, dilansir dari Kompas, Presiden dari International Organising Committee (IOC), Thomas Bach juga mengatakan hal serupa.

    “Tidak ada rencana B, tidak ada alasan apa pun untuk percaya bahwa Olimpiade Tokyo tidak akan dibuka pada 23 Juli di Stadion Olimpiade di Tokyo,” ujarnya kepada Kyodo News.

    Anggota Senior IOC, Dick Pound menyebut acara akan tetap dilakukan pada bulan Juli hanya saja tidak menyertakan keberadaan penonton di sekitar lokasi pertandingan.

    Sementara itu, Perdana Menteri Yoshihide Suga menegaskan, Olimpiade Tokyo yang sempat tertunda tidak akan kembali ditunda apalagi dibatalkan. Acara ini akan tetap digelar pada Juli 2021.

    “Saya bertekad menjadi tuan rumah pertandingan dengan aman dan terjamin di bulan Juli, bekerja sama dengan organisasi baik di dalam maupun luar negeri,” kata Suga, Jumat (22/1/2021).

    Wakil Ketua Sekretaris Kabinet, Manabu Sakai juga menyampaikan, Pemerintah Jepang tidak pernah berniat menunda Olimpade Tokyo hingga 2032 sebagaimana disebutkan dalam unggahan dan informasi yang beredar.

    Kesimpulan

    Informasi hoaks. International Olympic Committee (IOC) dan Pemerintah Jepang sudah membantah informasi ini. IOC tidak membatalkan Olimpiade Tokyo 2021 dan ajang yang akan berlangsung di Jepang itu tetap berjalan sesuai rencana.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Kartel Narkoba Lolos, Presiden Filipina Beri Peringatan pada Jokowi

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/01/2021

    Berita

    Presiden Fhilipina Rodrigo Duterte : “Bodoh sekali kalian ! Man Batak gembong narkoba Labuhanbatu dan sekitarnya saja bisa lolos dari tahanan kalian. Bagi saya, jangankan Man Batak, Man Keling Bangking Big Bos Narkoba Internasional saya tembak ditempat, 3 Walikota di negara saya, saya tembak mati karena terindikasi jaringan narkoba. Ribuan anggota Polisi dan Tentara di negara saya yang terlibat jaringan narkoba juga saya habisi nyawanya. Tuan Presiden Jokowi, sepertinya para anggota Polisi dan Tentara di negara anda sudah banyak terlibat sindikat narkoba. Mereka harus anda bersihkan dengan tegas dan keras tanpa ampun. Jika tidak, tidak beberapa lama lagi bangsa dan negara anda akan hancur-lebur dikuasai Kartel Narkoba Internasional. Mereka akan menguasai Jabatan di Pemerintahan dan Per-ekonomian. Mereka juga mendanai gerakan Teroris di negara anda. Bahaya besar sedang mengancam negara anda!”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar di media sosial Facebook, sebuah narasi berisi peringatan Presiden Filipina Rodrigo Duterte kepada Presiden Joko Widodo terkait ancaman kartel narkoba internasional. Akun Facebook Putera Bhineka ini mengklaim bahwa Duterte menyayangkan pemerintah Indonesia yang kehilangan gembong narkoba besar Labuhanbatu. Dalam narasi juga ditambahkan, bahwa kartel narkoba tersebut mendanai aksi terorisme di Indonesia dan akan menguasai pemerintahan dan perekonomian di Indonesia.

    Namun setelah dilakukan pengecekan fakta, narasi peringatan Presiden Filipina itu adalah hoaks. Dari pencarian artikel, tidak ditemukan pernyataan resmi dari pemerintah Filipina terkait kartel narkoba di Indonesia. Unggahan foto Presiden Filipina pun bukan foto yang bermaksud sebagai ancaman untuk menembak anggota kartel narkoba. Dilansir dari artikel globalnews, foto Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang sedang memegang senapan adalah saat menghadiri upacara pergantian komando Kapolri di dalam Camp Crame di kota Quezon, timur Manila, Filipina, 19 April 2018.

    Terkait dengan lolosnya gembong narkoba besar dari Labuhanbatu pun dibenarkan oleh Kapoldasu Irjen Pol Martuani Sormin. Hal ini dikarenakan lalainya anggota dalam penjagaan tersangka FP alias Man Batak.

    Jadi dapat disimpulkan, narasi yang menyatakan bahwa Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang memberi peringatan kepada Presiden Jokowi terkait lolosnya kartel narkoba dari Labuhanbatu adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Faktanya, klaim tersebut tidak benar. Tidak ada pernyataan resmi dari Presiden Filipina, Rodrigo Duterte kepada Presiden Jokowi, terkait lolosnya kartel narkoba besar dari Labuhanbatu.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini