• [SALAH] Pesan Berantai Berisi Informasi Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 Tahap Kedua

    Sumber: WhatsApp
    Tanggal publish: 22/02/2021

    Berita

    Beredar di aplikasi percakapan Whatsapp pesan berantai informasi soal vaksinasi covid-19 tahap kedua. Pesan berantai itu ramai disebarkan sejak tengah pekan ini.

    Dalam pesan berantai tersebut terdapat informasi untuk mendaftar program vaksinasi covid-19 tahap kedua melalui website pedulilindungi.id. Berikut isi pesan berantai tersebut selengkapnya:

    Bagi yg punya ortu di rumah dan perlu vaksin ...ini sdh mulai buka pendaftaran ya

    1. Masuk google chrome

    2. Ketik pedulilindungi.id

    3. Untuk daftar klik garis 3 pojok kanan

    4. Klik login/register5. Klik buat akun peduli lindungi

    6. Masukan nama lengkap dan no tlp

    7. Login masukan nama lengkap dan no KTP

    Bagi lansia kalau daftar imunisasi covid gratis pemerintah daftar di pedulilindungi .Buka aplikasi pedulilindungi daftar dg no ktp.Besok mulai dibuka untuk lansia

    https://pedulilindungi.id/"

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan menghubungi Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi. Ia menjelaskan pesan berantai tersebut tidak benar.

    "Pesan berantai yang beredar bukan rilis resmi dari Kemenkominfo maupun Kemenkes. Semua yang menjadi sasaran vaksinasi covid-19 tahap kedua ini sudah didaftarkan oleh institusi masing-masing," ujar dr Nadia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (19/2/2021).

    "Sementara untuk lansia datanya kami ambil dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan ini masih dalam proses. Vaksin sendiri masih dalam proses distribusi," katanya menambahkan.

    Terkait jadwal vaksinasi covid-19 tahap kedua dr. Nadia pun menjelaskan informasinya,

    "Untuk pelaksanaan masing-masing daerah akan dilakukan setelah vaksinnya tiba. Yang jelas tidak usah mendaftar atau menunggu SMS. Di pesan berantai tersebut dijelaskan pendaftaran dilakukan semua pada hari yang sama dan itu salah."

    Selain itu sebelumnya Liputan6.com pernah menulis artikel berjudul "Vaksinasi COVID-19 Tahap 2: Petugas Pelayanan Publik dan Lansia Tak Perlu Tunggu SMS" yang tayang 17 Februari 2021. Berikut isinya:

    "Liputan6.com, Jakarta - Vaksinasi COVID-19 tahap kedua, yang dimulai hari ini, 17 Februari 2021, target penerima vaksin yang menyasar petugas pelayanan publik dan lansia kini tak lagi perlu menunggu SMS pendaftaran dan registrasi.

    Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menerangkan, daftar penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua sudah terekam pada sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Untuk jumlah sasaran vaksinasi tahap kedua, ada 21,5 juta lansia dan 16,9 juta petugas pelayanan publik.

    "Kami sampaikan cara metode pemberian vaksinasi tahap kedua. Penerima vaksinasi tidak perlu lagi melakukan pendaftaran sendiri dan menunggu SMS pendaftaran," terang Nadia saat dialog 'Vaksinasi Tahap Kedua di Depan Mata' pada Selasa, 16 Februari 2021.

    "Karena pendaftaran sebagian besar sudah kita lakukan sebelumnya dan masuk sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Nanti penerima vaksinasi tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan. Lalu menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK)."

    Para petugas pelayanan publik yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19 antara lain guru, pedagang pasar, pekerja sarana transportasi umum, dan TNI/Polri.

    Pendaftaran sasaran vaksinasi tahap kedua bagi petugas pelayanan publik dan lansia sudah didaftarkan melalui institusinya. Data vaksinasi ini pun diperoleh melalui BPJS Kesehatan dan Dukcapil (kependudukan dan catatan sipil) daerah, sehingga penerima vaksinasi cukup datang ke lokasi penyuntikkan.

    "Kami melakukan vaksinasi massal, dalam hal ini per institusi/klaster. Misal, buat pedagang pasar tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan, di sini berarti lokasinya di pasarnya langsung. Tidak perlu lagi ke fasilitas kesehatan," tambah Nadia.

    Ketika penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua ternyata namanya belum masuk daftar saat datang ke lokasi penyuntikkan dapat menunjukkan identitas kepada tim vaksinator.

    "Kalau (nama) tidak ada di dalam daftar masih bisa melakukan secara manual. Tentunya, menunjukkan bukti bahwa orang yang bersangkutan adalah sasaran penerima vaksinasi. Misal, dia adalah pedagang pasar ya tunjukkan identitas diri bahwa mereka adalah pedagang pasar," ujar Nadia."

    Kesimpulan

    Pesan berantai berisi informasi pendaftaran vaksinasi covid-19 tahap kedua adalah tidak benar.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Saldo OVO Gratis dari Bot Telegram

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 22/02/2021

    Berita

    “Join .ben oleh saldo via ovo lur”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Moh Khoirul Anam memposting sebuah tautan yang mengarah ke sebuah akun bot Telegam yang dapat memberikan saldo OVO secara gratis. Postingan tersebut diposting pada 18 Februari 2021.

    Berdasarkan dari artikel periksa fakta liputan6.com, Harumi Supit selaku Head of Corporate Communication OVO menjelaskan bahwa klaim tersebut adalah tidak benar. Pihak OVO tidak pernah menyelenggarakan program pesan berhadiah ataupun menjanjikan hadiah apapun kepada pengguna, ia juga menyebutkan keamanan dan data pengguna merupakan hal yang sangat penting dan menjadi prioritas, Harumi juga mengimbau bagi masyarakat untuk tidak pernah membagikan kode OTP (One-Time Password) dan Security Code kepada pihak manapun termasuk petugas layanan pelanggan sekalipun.

    “Segala informasi resmi mengenai OVO selalu disampaikan melalui akun resmi sosial media kami yang sudah bercentang biru atau terverifikasi. Kami akan terus menjamin bahwa setiap data pelanggan dilindungi demi memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh pengguna OVO.” Kata Harumi Supit.

    Melihat dari penjelasan tersebut, klaim bot Telegram dapat memberikan saldo OVO gratis adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten Palsu/Fabricated Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).

    Informasi yang salah. Pihak OVO tidak pernah mengadakan program pesan berhadiah atau menjanjikan hadiah apapun kepada pengguna.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Pernyataan Mahathir Mohammad tentang Pelajar Indonesia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 21/02/2021

    Berita

    Ini kata paman tetangga sebelah lho…

    “PELAN-PELAN anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains. Umurnya habis untuk ayat-ayat dan daoa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirkan akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuji pemerintah dan mendirikan negara syariah sebagai solusinya..” ( Mahatir Muhammad )”.

    Hasil Cek Fakta

    Akun facebook Satrio Wudho mengunggah gambar yang berisikan klaim pernyataann mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad tentang pelajar Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains akibat terlalu banyak mempelajari agama.

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim serupa juga pernah dibahas sebelumnya dalam artikel Turnbackhoax.id pada November 2020 lalu. Tidak ditemukan pernyataan Mahathir Mohammad terkait anak Indonesia akan tertinggal dalam sains karena sibuk mempelajari agama, namun ditemukan jejak digital terkait kritik Mahathir Mohammad terhadap sistem pendidikan di negaranya, Malaysia.

    Kritikan tersebut disampaikan Mahathir Mohammad dalam acara makan malam tahunan almamater Sultan Abdul Hamid Collage (SAHC). Saat itu, Mahathir mengatakan bahwa pendidikan Malaysia akan diperbaiki dengan mengurangi fokus pada pelajaran agama. Sistem pendidikan yang terlalu terfokus pada pelajaran agama akan membuat siswa tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan.

    Menurut Mahathir, sistem pendidikan Malaysia banyak menghasilkan cendikiawan agama atau ulama. Tapi, ketika terlalu banyak ulama, mereka selalu berbeda pendapat satu sama lain, dan menyesatkan pengikutnya. Karena itu, Mahathir ingin kurikulum sekolah diubah. Mahathir juga menekankan pentingnya kemahiran dalam bahasa Inggris.

    Dengan demikian, klaim pernyataan Mahathir Mohammad seperti pada gambar yang diunggah oleh akun Facebook Satrio Wudho adalah tidak benar dan termasuk dalam konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta).

    Tidak ditemukan bukti valid terkait dengan pernyataan Mahathir Mohammad tentang pelajar Indonesia akan tertinggal dalam Penguasaan sains akibat terlalu banyak mempelajari agama, melainkan kritikan Mahathir tentang sistem pendidikan di negaranya, Malaysia.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto Shinta Hudiarto Menyamar Menjadi Muslim dengan Memakai Mukena

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 21/02/2021

    Berita

    “Buzzerp GAR ITB
    Malu sama agama sendiri 🤣

    Orang seperti inilah yg merusak kedamaian beragama di Indonesia”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah unggahan di media sosial Facebook yang menampilkan foto wanita nasrani, yang memakai mukena untuk menyamar sebagai seorang muslim. Wanita ini disebutkan bernama Shinta Hudiarto, yang kemudian diketahui merupakan juru bicara dari Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institut Teknologi Bandung (GAR ITB).

    Namun setelah dilakukan penelusuran, jubir GAR ITB ini diketahui memang beragama Islam. Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, Shinta mengklarifikasi bahwa dirinya adalah seorang muslim. Bahkan Shinta telah melakukan umroh pada tahun 2018 lalu.

    Foto dengan menggunakan mukena yang beredar pun diketahui memang foto Shinta yang diambil dari akun Instagram pribadinya. Jadi tidak ada hubungannya dengan maksud untuk menyamar. Sedangkan foto dirinya dengan bingkai bernuansa natal merupakan hasil editan. Dalam foto asli dari akun Instagram Shinta, foto dengan bingkai bernuansa natal tersebut tidak ada.

    Shinta Hudiarto sendiri mendapat banyak kecaman dari masyarakat sejak komunitas GAR ITB, dimana dirinya adalah seorang jubir disana, dituduh melakukan pelaporan Din Syamsuddin atas tindakan radikalisme.

    Melansir dari artikel Tempo.co, Shinta mengatakan bahwa tuduhan kepada GAR ITB adalah keliru. Kenyataannya, GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin bukan atas tuduhan tindakan radikalisme, namun karena dugaan kasus pelanggaran disiplin ASN oleh Din Syamsuddin.

    Dari hasil penelusuran dapat disimpulkan bahwa unggahan yang menyebutkan bahwa Shinta Hudiarto memakai mukena untuk menyamar sebagai seorang muslim adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Klaim tersebut salah. Faktanya Shinta Hudiarto adalah seorang wanita muslim. Dirinya mengaku bahwa foto menggunakan mukena adalah benar foto dirinya yang diambil dari akun Instagram pribadi Shinta.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini