Keliru, Video yang Diklaim Berisi Pesan Terakhir Bupati Situbondo yang Meninggal Akibat Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 01/12/2020
Berita
KLAIM
Video yang diklaim sebagai video pesan terakhir Bupati Situbondo Dadang Wigiarto sebelum meninggal karena Covid-19 pada 26 November 2020 beredar di Facebook. Video ini memperlihatkan seorang pasien laki-laki yang sedang terbaring di rumah sakit dan memakai ventilator. Dalam video itu, pria tersebut berpesan agar masyarakat tetap waspada terhadap Covid-19 dan selalu menerapkan protokol kesehatan.
Isi lengkap pesan yang diucapkan pria tersebut adalah sebagai berikut: "Guys, jaga kesehatan. Jangan disepelekan, tapi juga jangan takut. Ingat, Covid-19 itu ada. Aku wis (sudah) tiga hari isolasi di RS dr. Oen. Jangan disepelekan, cuci tangan, pakai masker, rasane ora (rasanya tidak) enak.”
Salah satu akun yang membagikan video beserta klaim tersebut adalah akun Yanto Yan, tepatnya pada 27 November 2020. Akun ini menulis, “Innalilahi wainnallillahi rojiun... Inilah pesan terakhir BELIAU.. Bupati Situbondo.. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.. Agar kita tetap waspada tentang pandemi Corona covid 19... Ati" ya guys... Mohon maaf...” Hingga artikel ini dimuat, unggahan ini telah mendapatkan lebih dari 100 reaksi.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yanto Yan.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantool InVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa pasien dalam video tersebut bukan Bupati Situbondo Dadang Wigiarto.
Video yang identik dengan durasi yang lebih panjang, yakni 41 detik, pernah diunggah oleh kanal YouTube Firman Arifin pada 26 November 2020 dengan judul “Pesan Daniel Sebelum Meninggal Karena Covid-19”. Menurut keterangan video ini, pria dalam video itu bernama Daniel Kurniawan. Sebelum meninggal akibat Covid-19, Daniel berpesan lewat video agar masyarakat tidak menyepelekan Covid-19 dan selalu menerapkan protokol kesehatan.
Di kolom komentar, pemilik akun YouTube yang bernama Henry Wibowo1 menyebut bahwa pasien dalam video itu adalah sahabatnya yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah, dan bekerja sebagai pembawa acara. “Yg divideo ini temen baik saya, org solo Ig. @danielkurniawan.mc temen saya ini jg meninggal minghu kemaren. RIP mas danielkurniawan,” demikian komentar yang ditulis oleh akun Henry Wibowo1.
Tempo kemudian menelusuri pemberitaan terkait meninggalnya Bupati Situbondo Dadang Wigiarto. Dilansir dari Kompas.com, Dadang meninggal pada 26 November 2020 setelah dirawat selama tiga hari di RSUD dr. Abdoer Rahem, Situbondo, Jawa Timur. Nama rumah sakit ini berbeda dengan nama rumah sakit yang disebut oleh pria dalam video yang beredar.
Dalam video itu, pria tersebut mengatakan bahwa ia dirawat di RS dr. Oen. Berdasarkan penelusuran Tempo, RS dr. Oen berada di Solo, Jawa Tengah. Hal ini sesuai dengan komentar pada unggahan video kanal YouTube Firman Arifin, bahwa pria dalam video tersebut bertempat tinggal di Solo.
Pemerintah Kabupaten Situbondo pun, lewat akun Instagram resminya, @situbondokab, pada 27 November 2020, telah menyatakan bahwa pria dalam video yang beredar itu bukan Bupati Situbondo Dadang Wigiarto. "Info yang telah beredar tersebut adalah hoaks! Untuk seluruh masyarakat Situbondo, kita harus tetap waspada terhadap infor yang tidak benar, dan selalu patuhi protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19. Stay safe untuk seluruh masyarakat Kabupaten Situbondo.”
Bantahan pemerintah Kabupaten Situbondo juga pernah dimuat oleh situs Nusadaily.com. Sekretaris Daerah Kabupaten Situbondo, Syaifullah, menekankan agar masyarakat tidak menyebarluaskan video hoaks yang bisa merugikan keluarga Dadang. “Hoax, itu bukan Bapak (Dadang). Pihak keluarga lagi berduka, tolong untuk masyarakat tidak menyebar luaskan video itu,” kata pria yang kini ditunjuk sebagai Plh Bupati Situbondo itu.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video pesan terakhir Bupati Situbondo Dadang Wigiarto yang meninggal karena Covid-19, keliru. Sebelum meninggal pada 26 November 2020, Dadang menjalani perawatan di RSUD dr. Abdoer Rahim, Situbondo, Jawa Timur. Sementara pasien dalam video tersebut menjalani perawatan di RS dr. Oen, Solo, Jawa Tengah. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Situbondo telah menyatakan bahwa pria dalam video tersebut bukan Dadang.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[SALAH] Nike Bagi-Bagi Ribuan Sepatu dan Masker
Sumber: WhatsAppTanggal publish: 30/11/2020
Berita
Beredar informasi di WhatsApp Group yang menyebut salah satu perusahaan sepatu ternama, Nike, merayakan ulang tahun. Informasi itu mengklaim Nike membagikan ribuan sepatu dan masker secara gratis.
Klaim Nike bagi-bagi sepatu ini beredar pada Minggu (29/11/2020) pagi WIB. Klaim yang beredar itu juga membagikan sebuah link untuk mendapatkan sepatu secara gratis.
Berikut narasinya:
"WOW!
šPerayaan ulang tahun Nikeš
Nike menawarkan 3100 Sepatu, T-shirt dan Masker Gratis untuk semua orang
Menerima instruksi:
1. Masing-masing hanya dapat berpartisipasi sekali
2. Kuantitas terbatas, pertama datang pertama kali
3. Kegiatan Kesejahteraan tidak memerlukan biaya apapun
Dapatkan milikmu di sini GRATIS https://svip005.top/j/?c=nk"
Klaim Nike bagi-bagi sepatu ini beredar pada Minggu (29/11/2020) pagi WIB. Klaim yang beredar itu juga membagikan sebuah link untuk mendapatkan sepatu secara gratis.
Berikut narasinya:
"WOW!
šPerayaan ulang tahun Nikeš
Nike menawarkan 3100 Sepatu, T-shirt dan Masker Gratis untuk semua orang
Menerima instruksi:
1. Masing-masing hanya dapat berpartisipasi sekali
2. Kuantitas terbatas, pertama datang pertama kali
3. Kegiatan Kesejahteraan tidak memerlukan biaya apapun
Dapatkan milikmu di sini GRATIS https://svip005.top/j/?c=nk"
Hasil Cek Fakta
Untuk memastikan kebenaran klaim tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menghubungi Sports Marketing PT Nike Indonesia, Rawindra Ditya. Dia membantah Nike membuat program tersebut.
"Tidak ada (program) yang kami buat seperti itu. Yang pasti, itu bukan dari Nike," kata Rawindra Ditya membalas pertanyaan Cek Fakta Liputan6.com melalui pesan singkat.
Selanjutnya, Cek Fakta Liputan6.com juga menelusuri klaim Nike bagi-bagi sepatu melalui mesin pencari, Google Search. Hasil penelusuran mengarahkan ke situs Cyber Print dengan artikel berjudul: "FAKE NIKE WEBSITE STEALS DATA AND IS MASSIVELY SHARED THROUGH WHATSAPP".
Disebutkan dalam artikel tersebut, klaim yang menyebut Nike bagi-bagi sepatu untuk merayakan ulang tahun sudah ada sejak awal tahun 2018. Cyber Print juga menyebut klaim ini akan mencuri data pribadi orang yang mengklik tautan yang tercantum.
Aksi pencurian data ini akan menyebabkan reputasi seseorang menjadi rusak karena bisa digunakan untuk tindak kejahatan. Terlebih domain yang digunakan tidak mengarah ke situs asli Nike, yakni https://www.nike.com.
Biasanya, menurut artikel di Cyber Print, klaim Nike bagi-bagi sepatu di hari ulang tahun akan menggunakan domain hxxp: // www [dot] xn - ike-h5y [dot] com / gratis-schoenen /. Domain itu akan mengarahkan Anda untuk mengisi data pribadi yang bisa dicuri.
"Tidak ada (program) yang kami buat seperti itu. Yang pasti, itu bukan dari Nike," kata Rawindra Ditya membalas pertanyaan Cek Fakta Liputan6.com melalui pesan singkat.
Selanjutnya, Cek Fakta Liputan6.com juga menelusuri klaim Nike bagi-bagi sepatu melalui mesin pencari, Google Search. Hasil penelusuran mengarahkan ke situs Cyber Print dengan artikel berjudul: "FAKE NIKE WEBSITE STEALS DATA AND IS MASSIVELY SHARED THROUGH WHATSAPP".
Disebutkan dalam artikel tersebut, klaim yang menyebut Nike bagi-bagi sepatu untuk merayakan ulang tahun sudah ada sejak awal tahun 2018. Cyber Print juga menyebut klaim ini akan mencuri data pribadi orang yang mengklik tautan yang tercantum.
Aksi pencurian data ini akan menyebabkan reputasi seseorang menjadi rusak karena bisa digunakan untuk tindak kejahatan. Terlebih domain yang digunakan tidak mengarah ke situs asli Nike, yakni https://www.nike.com.
Biasanya, menurut artikel di Cyber Print, klaim Nike bagi-bagi sepatu di hari ulang tahun akan menggunakan domain hxxp: // www [dot] xn - ike-h5y [dot] com / gratis-schoenen /. Domain itu akan mengarahkan Anda untuk mengisi data pribadi yang bisa dicuri.
Kesimpulan
Klaim yang menyebut Nike bagi-bagi ribuan sepatu dan masker adalah informasi yang hoaks. Sebab, pihak Nike Indonesia tidak membuat program seperti itu.
Rujukan
[SALAH] Video Erdogan Tolak Jabat Tangan Macron karena Karikatur Nabi Muhammad SAW
Sumber: FacebookTanggal publish: 30/11/2020
Berita
Sebuah video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW beredar di media sosial. Video tersebut diunggah akun Facebook Syamsuri pada 28 November 2020
Dalam video berdurasi 8 detik itu, tampak Erdogan menjabat tangan Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di sebuah pertemuan. Kedua pemimpin negara itu berdiri di sebelah kanan Erdogan.
Sedangkan Macron, yang berada di sebelah kiri tidak disalami oleh Erdogan. Video tersebut kemudian dikaitkan dengan sikap Erdogan yang menolak menjabat tangan Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.
"Kali ini Si macron di Cuekin abis sama presiden Turki Erdogan gara² masalah karikatur nabi waktu itu," tulis akun Facebook Syamsuri.
Video yang disebarkan akun Facebook Syamsuri telah 166 kali ditayangkan dan mendapat 6 komentar warganet.
Dalam video berdurasi 8 detik itu, tampak Erdogan menjabat tangan Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di sebuah pertemuan. Kedua pemimpin negara itu berdiri di sebelah kanan Erdogan.
Sedangkan Macron, yang berada di sebelah kiri tidak disalami oleh Erdogan. Video tersebut kemudian dikaitkan dengan sikap Erdogan yang menolak menjabat tangan Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.
"Kali ini Si macron di Cuekin abis sama presiden Turki Erdogan gara² masalah karikatur nabi waktu itu," tulis akun Facebook Syamsuri.
Video yang disebarkan akun Facebook Syamsuri telah 166 kali ditayangkan dan mendapat 6 komentar warganet.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.
Penelusuran dilakukan menggunakan situs berbagi video YouTube dengan memasukkan kata kunci "erdogan meet putin, merkel, and macron".
Hasilnya terdapat cuplikan video serupa yang diunggah Channel YouTube Ruptly pada 27 Oktober 2018 lalu. Video berdurasi 2 jam 17 menit itu berjudul "LIVE: Erdogan, Putin, Macron, Merkel give statement following Syria summit".
"Turkish President Recep Tayyip Erdogan, Russian President Vladimir Putin, French President Emmanuel Macron and German Chancellor Angela Merkel give a joint press statement after a summit to discuss the ongoing situation in Syria, in Istanbul on Saturday, October 27.
The summit, which is the first of its kind, takes place after Russia and Turkey reached a deal on September 17 to create a demilitarised buffer zone around the region of Idlib, which is home to 3.5 million people, in an attempt to prevent further fighting in the last major militant-held bastion in the country.
The four leaders are expected to extensively discuss the ceasefire, as well as an effective implementation of a political settlement in accordance with United Nations Security Council Resolution 2254, which was established in December 2015," tulis Channel YouTube Ruptly.
Gambar Erdogan yang hanya bersalaman dengan Merkel dan Putin terlihat pada 2:15:47. Namun jika video itu diteruskan maka tampak Erdogan memegang tangan Macron saat sesi foto bersama. Momen tersebut bisa dilihat pada 2:16:16.
Liputan6.com juga menemukan artikel yang menjelaskan mengenai pertemuan empat pemimpin negara tersebut. Adalah artikel berjudul "Turki Gelar KTT dengan Rusia, Jerman, Prancis Bahas Suriah" yang dimuat situs cnnindonesia.com pada 28 Oktober 2018.
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman menggelar konferensi tingkat tinggi di Istanbul pada Sabtu untuk mencari solusi politik atas perang saudara di Suriah, termasuk untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan gencatan senjata yang sedang terancam di Idlib, wilayah terakhir yang dikuasai pemberontak.
Dilansir dari AFP, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk duduk bersama membicarakan konflik Suriah yang telah menewaskan 360.000 orang sejak 2011.
"Seluruh mata dunia tertuju pada kami hari ini... Saya berharap kami bisa bertindak dengan pemahaman yang tulus dan konstruktif, dan tidak gagal memenuhi harapan orang-orang," kata Erdogan dalam sambutannya.
Konferensi tingkat tinggi ini digelar sehari setelah terbunuhnya tujuh warga sipil oleh pasukan pemerintah Suriah dalam pertempuran di barat laut provinsi Idlib. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia, jumlah korban itu tertinggi sejak gencatan senjata disepakati pada bulan lalu.
Rusia yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Turki yang mendukung pemberontak telah bersepakat menciptakan zona penyangga di sekitar Idlib, namun kekerasan semakin meningkat secara dramatis menjelang pertemuan para pemimpin negara tersebut.
Ini menjadi konferensi tingkat tinggi pertama yang melibatkan Jerman dan Prancis. Sebelumnya, Turki dan Rusia beberapa kali menggelar pertemuan dengan Iran yang selalu dicurigai oleh para pemimpin Barat.
Erdogan menggelar pertemuan singkat dengan Merkel, Putin, dan Macron sebelum KTT dimulai. Para pemimpin ini diharapkan membuat kesepakatan bersama menjelang konferensi pers yang digelar secara terpisah.
Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan pada Jumat bahwa tujuan utama KTT adalah untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang akan diambil untuk sebuah solusi politik, dan untuk menentukan peta jalan.
Kepada kantor berita Turki, Anadolu, Kalin mengatakan penekanan utamanya adalah pembentukan komisi yang akan membuat konstitusi Suriah pascaperang, yang dipandang sebagai sebuah batu pijakan untuk menggelar pemilihan umum di negeri tersebut.
Sebelumnya, Damaskus telah menolak proposal pembentukan sebuah komite untuk membuat konstitusi baru yang digagas PBB.
Penelusuran dilakukan menggunakan situs berbagi video YouTube dengan memasukkan kata kunci "erdogan meet putin, merkel, and macron".
Hasilnya terdapat cuplikan video serupa yang diunggah Channel YouTube Ruptly pada 27 Oktober 2018 lalu. Video berdurasi 2 jam 17 menit itu berjudul "LIVE: Erdogan, Putin, Macron, Merkel give statement following Syria summit".
"Turkish President Recep Tayyip Erdogan, Russian President Vladimir Putin, French President Emmanuel Macron and German Chancellor Angela Merkel give a joint press statement after a summit to discuss the ongoing situation in Syria, in Istanbul on Saturday, October 27.
The summit, which is the first of its kind, takes place after Russia and Turkey reached a deal on September 17 to create a demilitarised buffer zone around the region of Idlib, which is home to 3.5 million people, in an attempt to prevent further fighting in the last major militant-held bastion in the country.
The four leaders are expected to extensively discuss the ceasefire, as well as an effective implementation of a political settlement in accordance with United Nations Security Council Resolution 2254, which was established in December 2015," tulis Channel YouTube Ruptly.
Gambar Erdogan yang hanya bersalaman dengan Merkel dan Putin terlihat pada 2:15:47. Namun jika video itu diteruskan maka tampak Erdogan memegang tangan Macron saat sesi foto bersama. Momen tersebut bisa dilihat pada 2:16:16.
Liputan6.com juga menemukan artikel yang menjelaskan mengenai pertemuan empat pemimpin negara tersebut. Adalah artikel berjudul "Turki Gelar KTT dengan Rusia, Jerman, Prancis Bahas Suriah" yang dimuat situs cnnindonesia.com pada 28 Oktober 2018.
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman menggelar konferensi tingkat tinggi di Istanbul pada Sabtu untuk mencari solusi politik atas perang saudara di Suriah, termasuk untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan gencatan senjata yang sedang terancam di Idlib, wilayah terakhir yang dikuasai pemberontak.
Dilansir dari AFP, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk duduk bersama membicarakan konflik Suriah yang telah menewaskan 360.000 orang sejak 2011.
"Seluruh mata dunia tertuju pada kami hari ini... Saya berharap kami bisa bertindak dengan pemahaman yang tulus dan konstruktif, dan tidak gagal memenuhi harapan orang-orang," kata Erdogan dalam sambutannya.
Konferensi tingkat tinggi ini digelar sehari setelah terbunuhnya tujuh warga sipil oleh pasukan pemerintah Suriah dalam pertempuran di barat laut provinsi Idlib. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia, jumlah korban itu tertinggi sejak gencatan senjata disepakati pada bulan lalu.
Rusia yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Turki yang mendukung pemberontak telah bersepakat menciptakan zona penyangga di sekitar Idlib, namun kekerasan semakin meningkat secara dramatis menjelang pertemuan para pemimpin negara tersebut.
Ini menjadi konferensi tingkat tinggi pertama yang melibatkan Jerman dan Prancis. Sebelumnya, Turki dan Rusia beberapa kali menggelar pertemuan dengan Iran yang selalu dicurigai oleh para pemimpin Barat.
Erdogan menggelar pertemuan singkat dengan Merkel, Putin, dan Macron sebelum KTT dimulai. Para pemimpin ini diharapkan membuat kesepakatan bersama menjelang konferensi pers yang digelar secara terpisah.
Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan pada Jumat bahwa tujuan utama KTT adalah untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang akan diambil untuk sebuah solusi politik, dan untuk menentukan peta jalan.
Kepada kantor berita Turki, Anadolu, Kalin mengatakan penekanan utamanya adalah pembentukan komisi yang akan membuat konstitusi Suriah pascaperang, yang dipandang sebagai sebuah batu pijakan untuk menggelar pemilihan umum di negeri tersebut.
Sebelumnya, Damaskus telah menolak proposal pembentukan sebuah komite untuk membuat konstitusi baru yang digagas PBB.
Kesimpulan
Video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW ternyata tidak benar.
Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri tidak utuh. Video aslinya memperlihatkan Erdogan tetap menjabat tangan Macron saat sesi foto bersama.
Video tersebut juga tidak ada kaitannya dengan isu karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat ulang oleh Charlie Hebdo. Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri masuk kategori palsu.
Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri tidak utuh. Video aslinya memperlihatkan Erdogan tetap menjabat tangan Macron saat sesi foto bersama.
Video tersebut juga tidak ada kaitannya dengan isu karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat ulang oleh Charlie Hebdo. Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri masuk kategori palsu.
Rujukan
- https://www.cnnindonesia.com/internasional/20181028000746-120-342014/turki-gelar-ktt-dengan-rusia-jerman-prancis-bahas-suriah
- https://www.youtube.com/watch?v=emLu8gpV-fE
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4420361/cek-fakta-tidak-benar-video-erdogan-tolak-jabat-tangan-macron-karena-karikatur-nabi-muhammad-saw
[SALAH] Facebook Menghapus Status āPresiden Terpilihā di Akun Facebook Joe Biden
Sumber: twitter.comTanggal publish: 30/11/2020
Berita
Akun Twitter @ChuckCallesto (Chuck Callesto) menyebarluaskan informasi bahwa Facebook secara sengaja telah mengubah status di halaman Facebook Joe Biden dari āPresiden Terpilihā menjadi Politisi. Cuitan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 7,435 kali. Selain itu, terdapat 20,175 orang yang telah menyukai, diikuti dengan 1,100 orang memberikan komentar.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelurusan lebih lanjut, dilihat dari halaman Facebook Joe Biden yang diarsip pada 7 November 2020, tertuliskan bahwa Joe Biden memang teridentifikasi sebagai āPolitisiā, bukan āPresiden Terpilihā. Status tersebut masih terus bertahan hingga saat ini.
Selain itu, dilansir dari situs berita USA Today, pengubahan status dari laman Facebook pribadi Joe Biden diatur oleh administrator dari tim Biden sendiri, bukan tim Facebook. Klaim ini didukug oleh USA Today yang pernah membahas hal serupa perihal Trump, dengan artikel yang berjudul āFact check: Trumpās campaign page has control over his designation as āpolitical candidateāā.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat di situs Politi Fact dengan judul artikel āNo, Facebook didnāt remove āPresidentā from Trumpās Facebook pageā dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @ChuckCallesto tersebut dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan, sebab akun tersebut telah menyebarkan informasi yang salah mengenai pengubahan status Joe Biden di Facebook.
Selain itu, dilansir dari situs berita USA Today, pengubahan status dari laman Facebook pribadi Joe Biden diatur oleh administrator dari tim Biden sendiri, bukan tim Facebook. Klaim ini didukug oleh USA Today yang pernah membahas hal serupa perihal Trump, dengan artikel yang berjudul āFact check: Trumpās campaign page has control over his designation as āpolitical candidateāā.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat di situs Politi Fact dengan judul artikel āNo, Facebook didnāt remove āPresidentā from Trumpās Facebook pageā dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @ChuckCallesto tersebut dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan, sebab akun tersebut telah menyebarkan informasi yang salah mengenai pengubahan status Joe Biden di Facebook.
Rujukan
- https://web.archive.org/web/20201107163456if_/
- https://www.facebook.com/joebiden/
- https://www.facebook.com/joebiden/
- https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2020/11/28/fact-check-facebook-didnt-remove-president-elect-joe-biden-page/6442326002/
- https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2020/11/18/fact-check-donald-trumps-campaign-controls-facebook-page-description/6295417002/
- https://www.politifact.com/factchecks/2020/nov/13/facebook-posts/no-facebook-didnt-remove-president-trumps-facebook/
Halaman: 7034/8542

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3310138/original/076590800_1606629791-Hoaks_Nike_bagi-bagi_sepatu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309743/original/007430500_1606559040-Erdogan1.jpg)
