• [SALAH] Akun Twitter Badan Intel Negara “@BadanIntelegent”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita

    Telah beredar di media sosial Twitter sebuah akun yang mengatasnamakan BIN atau Badan Intelijen Negara.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, akun tersebut adalah akun palsu dan bukan resmi dikelola oleh BIN RI.

    Pada akun Twitter resmi BIN RI ditegaskan bahwa BIN hanya memiliki satu akun Twitter dan saat ini sudah terverifikasi resmi dengan tanda centang biru, akun resmi milik BIN RI saat ini adalah @binofficial_ri.

    Dengan demikian informasi terkait Akun yang beredar di Twitter dengan nama Badan Intel Negara atau @badanintelegent tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten tiruan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Kutipan yang Diklaim Berasal dari Gus Mus tentang Warga Keturunan Arab

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita


    Sebuah poster yang berisi foto pengasuh Pondok Pesantren Raidlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, Kiai Haji Mustofa Bisri atau Gus Mus yang disertai dengan kutipan yang menyerang warga keturunan Arab beredar di media sosial. Kutipan itu berisi peringatan agar warga keturunan Arab tidak mengklaim sebagai pihak yang pertama mengajarkan Islam di Indonesia, karena ada Wali Songo yang telah lebih dulu membimbing umat Islam di Indonesia.
    Berikut isi kutipan dalam poster tersebut:
    “Jadi warga keturunan Arab, jangan klaim bahwa kalianlah yg pertama mengajari kami berislam, karena ada Wali Songo yang telah lebih dulu membimbing kami, bahkan 3 diantaranya dari Cina. Biarkan kami beragama Islam melakukan hablumminallah dan hablumminnas dengan cerdas, bukan teriak takbir, tapi kelakuan kafir.
    Kami akan ikuti akhlak Rasulullah sebagai pedagang yang menghidupi jutaan manusia. Itulah yang dilakukan orang Cina. Jangan tularkan kepada kami kebiasaan perang, biarkan kami terbiasa menjadi pedagang, tetapi bukan dagangan agama, menjual surga.”
    Di Facebook, poster tersebut diunggah salah satunya oleh akun Gendeng War Slawer, tepatnya pada 3 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah mendapatkan 33 reaksi dan 48 komentar serta dibagikan sebanyak 96 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Gendeng War Slawer.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri sumber kutipan tersebut dengan memasukkan kata kunci “Gus Mus kritik warga keturunan Arab” di mesin perambah Google. Hasilnya, ditemukan bahwa kutipan itu bukan bersumber dari Gus Mus.
    Pada 1 Desember 2020, lewat akun Instagram-nya, @s.kakung, Gus Mus telah mengklarifikasi kutipan yang mencatut namanya tersebut. Dalam unggahannya, Gus Mus mencantumkan tautan yang mengarah pada sebuah tulisan panjang di Facebook yang menjadi sumber dari kutipan yang mencatut namanya itu.
    Tulisan ini berupa surat terbuka bagi warga keturunan Arab di Indonesia. Surat tersebut ditulis di Sidoarjo, Jawa Timur, dan diunggah oleh akun Facebook Iyyas Subiakto pada 19 November 2020. Namun, surat itu sama sekali tidak menyebut nama Gus Mus.
    Dalam unggahannya di Instagram, Gus Mus pun menulis sebagai berikut:
    "Banyak orang yang kalau menemu atau mendapatkan sesuatu (dari WA atau medsos) yang 'menarik hati'nya, langsung dishare, tanpa tabayyun kepada yang mengiriminya.
    Aku sendiri (dan anak-anakku) capek mengklarifikasi bila ada tulisan atau ujaran yang mengatasnamakan diriku. Kecuali mereka yang sudah hafal 'bahasa'ku, banyak yang justru tabayyun menanyakan kepadaku atau anak-anakku. Kok tidak sejak awal bertanya atau tabayun kepada yang mengirim atau pihak dari mana mereka mendapatkannya.
    Seperti baru-baru ini, aku kebanjiran pertanyaan tentang adanya 'surat' yang 'ditandatangani oleh KH. MUSTOFA BISRI' yang ternyata itu bermula dari postingan orang Sidoarjo di Facebook. Lalu entah dengan alasan apa, ada yang mencantumkan namaku disitu (dan kelupaan menghapus tulisan Sidoarjo-nya)."
    Putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, juga telah mengklarifikasi kutipan tentang warga keturunan Arab tersebut. Dilansir dari Suara.com, dalam sebuah utas yang diunggah pada 1 Desember 2020, Ienas bercerita bahwa sebuah tulisan berjudul "Saudaraku Keturunan Arab" ramai beredar di grup-grup pesan singkat. Tulisan itu ditutup dengan tulisan "Sidoarjo, 19 November 2020" dan nama Gus Mus.
    Ienas menegaskan bahwa tulisan itu bukan tulisan Gus Mus. Menurut dia, gaya penulisan dan bahasa yang digunakan dalam tulisan tersebut sangat berbeda dengan tulisan Gus Mus. "Dari segi penulisan, gaya bahasa, dan seterusnya, sudah jelas sekali itu BUKAN tulisan Abah. Ditambah di bagian penutup ada keterangan 'Sidoarjo, 19 Nov 2020'. Entah siapa yang kemudian menambahkan kata: Gus Mus," katanya.
    Ienas berpesan, jika menemukan pesan di grup-grup pesan singkat yang mengatasnamakan Gus Mus dan dibumbui dengan kata "Viralkan!" atau "Sebarkan!", masyarakat perlu menginformasikan kepada penyebar pesan tersebut bahwa pesan itu bukan tulisan Gus Mus. Ia juga meminta agar pesan-pesan semacam itu berhenti disebarkan dan tidak membawa-bawa nama Gus Mus.
    Terakhir, Ienas mengingatkan bahwa Gus Mus memiliki media sosial yang dikelola secara mandiri. Selain itu, ada platform lainnya yang dikelola oleh anak-anak Gus Mus, yakni akun YouTube Gusmus Channel dan Mata Air Radio. Jika tulisan yang beredar tidak memiliki logo lembaga-lembaga itu, kata Ienas, bisa dipastikan bahwa tulisan itu palsu.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa poster dengan kutipan yang berisi peringatan bagi warga keturunan Arab di Indonesia di atas bersumber dari Gus Mus, keliru. Kutipan tersebut bersumber dari sebuah tulisan panjang yang pernah diunggah oleh akun Facebook Iyyas Subiakto pada 19 November 2020. Gus Mus dan putrinya, Ienas Tsuroiya, pun telah menyatakan bahwa tulisan itu bukan tulisan Gus Mus.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Foto yang Disebut Jenazah Anggota FPI yang Ditembak Sedang Tersenyum

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita


    Foto seorang pria yang sedang tersenyum yang diklaim sebagai foto jenazah salah satu anggota Font Pembela Islam ( FPI ) yang ditembak polisi di Tol Cikampek beredar di media sosial. Foto itu salah satunya terdapat dalam artikel yang dimuat oleh situs Sominews.xyz pda 8 Desember 2020 dengan judul "Merinding, Beredar Foto Jenazah Anggota FPI Tersenyum Indah Saat Meninggal". Menurut artikel itu, jenazah tersebut bernama Muhammad Suci Khadafi Poetra.
    Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Ramdhan, yakni pada 10 Desember 2020. Akun ini menulis bahwa foto itu berasal dari akun Twitter @kopipahitgitulo. "Wajah jenazah Muhammad Suci terlihat tersenyum dengan mata tertutup. Para syuhada itu langsung diangkat malaikat ke surga, Insya Allah,” demikian narasi yang ditulis oleh akun tersebut yang mengutip dari akun @kopipahitgitulo.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ramdhan.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “jenazah anggota FPI tersenyum” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa pria yang tersenyum dalam foto tersebut bukan salah satu anggota FPI yang tewas ditembak polisi di Tol Cikampek pada 7 Desember 2020. Bahkan, pria dalam foto tersebut kini masih hidup dan telah membuat klarifikasi.
    Video klarifikasi pria dalam foto itu pernah diunggah salah satunya oleh kanal YouTube Berita Amatir pada 9 Desember 2020 dengan judul “Hoak jenazah FPI senyum,orangnya masih hidup tuh”. Dalam video ini, pria tersebut berkata, "Itu gambar kemarin. Itu pas waktu acara habib (pemimpin FPI Rizieq Shihab) datang (dari Arab Saudi) itu, terus dikirim ke pembela ulama habib."
    Video klarifikasi itu juga pernah diunggah oleh politikus dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli di akun Twitter-nya, @GunRomli, pada 9 Desember 2020. “Beredar HOAX di medsos dan portal berita abal-abal: 'Selain Tersenyum, Jenazah Anggota FPI Berbau Harum, PA 212: Syahid' HOAX HOAX HOAX! foto yg diviralkan masih hidup!” katanya.
    Sejumlah organisasi pemeriksa fakta pun telah memverifikasi klaim beserta foto itu dan menyatakannya sebagai hoaks. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) misalnya, dalam situsnya, Turnbackhoax.id, menjelaskan bahwa foto tersebut bukan foto salah satu jenazah anggota FPI pengawal Rizieq Shihab yang tewas pada 7 Desember 2020. "Pria yang tersenyum di foto tersebut saat ini masih hidup dan sudah memberikan klarifikasi melalui video."
    Selain itu, klaim beserta foto tersebut telah dibantah oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Menurut polisi, foto tersebut bukan foto salah satu jenazah anggota FPI yang tewas. “Kayaknya wajah itu bukan wajah di antara tersangka yang sudah diotopsi,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian pada 9 Desember 2020.
    Meskipun begitu, salah satu anggota FPI yang tewas ditembak polisi di Tol Cikampek memang bernama Muhammad Suci Khadavi, 21 tahun. Menurut arsip berita Tempo, selain Suci, lima anggota FPI lainnya yang juga tewas ditembak pada 7 Desember 2020 itu adalah Muhammad Reza (20 tahun), Andi Oktiawan (33 tahun), Faiz Ahmad Syukur (22 tahun), Ahmad Sofiyan alias Ambon (26 tahun), dan Lutfi Hakim (25 tahun).
    Penembakan anggota FPI di Tol Cikampek
    Berdasarkan arsip berita Tempo, penembakan anggota FPI hingga tewas di Tol Cikampek terjadi pada 7 Desember 2020 dini hari. Peristiwa ini menjadi sorotan berbagai pihak. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bahkan langsung membentuk tim khusus untuk menyelidiki peristiwa yang diklaim polisi dilakukan dengan cara terukur itu.
    Pada 7 Desember siang, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mohammad Fadil Imran mengumumkan bahwa pihaknya memang menembak mati enam anggota FPI. Menurut dia, insiden itu berawal saat polisi melakukan pengintaian terhadap para pengikut pemimpin FPI Rizieq Shihab tersebut sekitar pukul 00.30 WIB.
    Sesampainya di Tol Cikampek Kilometer 50, kata Fadil, mobil penyidik dipepet dan diserang dengan senjata api dan senjata tajam oleh anggota FPI. Dengan alasan membela diri, Fadil mengatakan bahwa anggotanya yang berjumlah enam orang melakukan penembakan, hingga mengakibatkan enam dari 10 orang anggota FPI tewas. Sementara empat orang lainnya melarikan diri.
    Sekretaris Umum FPI Munarman menjelaskan kronologi versi mereka terkait penghadangan anggota FPI di Tol Cikampek tersebut. Ia mengatakan bahwa peristiwa itu bermula ketika Rizieq Shihab berencana berangkat dari Sentul, Jawa Barat, ke tempat pengajian keluarga inti pada 6 Desember malam, sekitar pukul 22.30-23.00 WIB. "Pengajian subuh keluarga inti, jadi tidak melibatkan pihak mana pun juga," kata Munarman.
    Munarman mengatakan Rizieq berangkat bersama keluarganya. Ada empat mobil yang mengawal yang berisi Laskar FPI. Namun, di perjalanan, sekitar pukul 00.30 WIB, Munarman mengatakan bahwa ada mobil yang menguntit mereka. Mobil itu bahkan memotong jalur rombongan dua mobil pengawal tersebut.
    "Para pengawal tentu saja bereaksi untuk melindungi Imam Besar Habib Rizieq Shihab, itu reaksi normal karena mereka bertugas mengawal. Yang patut diberitahukan bahwa fitnah besar bahwa laskar kita bawa senjata api dan temaka menembak, fitnah itu," kata Munarman.
    Setelah itu, menurut dia, terjadi penembakan terhadap seorang anggota Laskar FPI. Salah satu mobil pengawal Rizieq yang berisi enam orang pun diketahui FPI hilang tak ada kabar. Munarman menyatakan sempat menugaskan anggota FPI lain mencari ke lokasi yang sama. Namun, tak ada hal yang didapat. Mereka bahkan mencari ke rumah sakit sekitar karena menduga ada yang terluka setelah adanya kabar soal tembakan saat penghadangan.
    Keterangan dari Polda Metro Jaya, kata Munarman, menegaskan kondisi terakhir para anggota FPI tersebut yang ternyata sudah tewas. "Kami sebelum ada pengumuman dari Polda, itu pun dapatnya dari televisi, sebelum dengarkan pernyataan dari pihak Polda, kami masih anggap keenamnya dalam status hilang," kata Munarman.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas merupakan foto jenazah salah satu anggota FPI yang ditembak polisi di Tol Cikampek, Muhammad Suci Khadavi, sedang tersenyum, keliru. Muhammad Suci Khadavi memang merupakan salah satu anggota FPI yang ditembak hingga tewas di Tol Cikampek pada 7 Desember 2020. Namun, pria dalam foto tersebut bukan Suci, melainkan pria lain yang kini masih hidup dan telah membuat video klarifikasi. Foto tersebut diambil saat pria itu menyambut kedatangan pemimpin FPI Rizieq Shihab dari Arab Saudi.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Debat Pilkada Solo: Gibran Sebut Setiap Kelurahan Punya Gamelan, Ini Faktanya!

    Sumber: Debat Pilkada 2020
    Tanggal publish: 09/12/2020

    Berita

    Pada acara Debat Pilkada Kota Solo Putaran Kedua pada Kamis (3/12/2020), pasangan calon nomor urut 01, Gibran Rakabuming Raka - Teguh Prakosa mengatakan setiap kelurahan di Kota Bengawan ini mempunyai gamelan.

    Kata Gibran, gamelan tersebut digunakan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sebagai bentuk media memperkenalkan budaya ke anak muda.

    "Hampir semua kelurahan gamelan slendro pelog. Kita ingin anak muda memainkan itu. Itu nanti yang akan memerangi kejelakan-kejelekan dan tindakan-tindakan intoleransi di Kota Solo," terang Gibran.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran tim cek fakta Solopos.com, Pemerintah Kota Solo memang memberikan hibah gamelan slendro pelog ke 26 kelurahan dari total 54 kelurahan yang ada di Solo.

    Pemberian hibah ini sudah dilakukan oleh Pemkot Solo sejak 2014 lalu. Menurut Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, hibah gamelan slendro pelog ke setiap kelurahan diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masyarkat. Terutama untuk anak muda atau pun pelajar yang ingin belajar lebih banyak lagi mengenai gamelan ini.

    Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Solo Sis Ismiyati juga membenarkan hal tersebut. IA mengatakan nantinya bantuan seperangkat gamelan akan diserahkan kepada 54 kelurahan di Kota Solo.

    Rujukan