[Fakta atau Hoaks] Benarkah Thermo Gun Bisa Rusak Struktur Otak Manusia?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 21/07/2020
Berita
Video pendek yang berisi potongan wawancara Helmy Yahya dengan ahli ekonomi Ichsanuddin Noorsy tentang klaim bahwa termometer tembak atau thermo gun bisa merusak struktur otak manusia beredar di YouTube. Video tersebut diunggah salah satunya oleh kanal KlikLembaran, yakni pada 19 Juli 2020.
Dalam video berdurasi satu menit itu, Ichsanudin menyatakan penolakannya terhadap pemakaian thermo gun untuk pemeriksaan suhu tubuh. Ia mengklaim bahwa thermo gun seharusnya dipakai untuk memeriksa kabel panas, bukan untuk mengecek suhu tubuh seseorang.
“Lasernya dipakai untuk memeriksa kabel panas, bukan untuk memeriksa temperatur manusia. Dan kita menerima. Dan mereka menjual alat dengan mahal. Kita dibodohi, kepala kita ditembak laser, kita tidak tahu dampak kerusakan pada struktur otak. Kalau saya tidak mau,” katanya.
Selama pandemi Covid-19, thermogan memang digunakan secara luas untuk mengetahui suhu tubuh seseorang tanpa terjadinya kontak fisik.
Gambar tangkapan layar video unggahan kanal YouTube KlikLembaran.
Namun, benarkah thermo gun bisa merusak struktur otak manusia?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, thermo gun untuk mengecek suhu tubuh bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari suatu benda, bukan mengeluarkan radiasi apalagi laser sebagaimana yang diklaim oleh Ichsanuddin Noorsy. Selama ini, thermo gun dengan laser hanya digunakan untuk keperluan pengukuran temperatur pada industri, bukan medis.
“Thermo gun tidak mengeluarkan radiasi apapun. Fungsinyareceiveratau detektor radiasi, bukantransmitter atau pemancar radiasi,” ujar Ketua Departemen Fisika Kedokteran Klaster Medical Technology IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prasandhya Astagiri Yusuf, saat dihubungi pada 21 Juli 2020.
Thermo gun untuk penapis suhu tubuh, kata Prasandya, memiliki mekanisme dan fungsi kerja yang berbeda dengan termometer untuk memeriksa kabel panas industri. Untuk industri, digunakan spektrum temperatur yang lebih lebar, misalnya -50 sampai 300 derajat Celcius, sehingga resolusinya biasanya sebesar 0,5 derajat celsius. Adapun temperatur medis menggunakan resolusi yang lebih kecil, yakni 0,1 derajat Celsius.
Departemen Fisika Kedokteran Klaster Medical Technology IMERI secara khusus menerbitkan penjelasan ilmiah soal thermo gun di situs resminya pada 21 Juli 2020.
Secara teknis, cara kerja thermo gun suhu tubuh pun berbeda dengan cara kerja termometer raksa atau digital yang menggunakan prinsip rambatan panas secara konduksi. Termometer tembak menggunakan prinsip rambatan panas melalui radiasi. Dalam prinsip ilmu fisika kedokteran, setiap benda dengan temperatur lebih besar dari 0 Kelvin akan memancarkan radiasi elektromagnetik atau sering disebut radiasi benda hitam (Hukum Wien).
Kelvin (K) adalah satuan baku untuk temperatur dengan konversi 0 derajat Celcius setara dengan 273 K. Kisaran suhu tubuh manusia normal, yakni 36-37,5 derajat Celcius, berada di dalam pancaran spektrum inframerah jika dilihat dari jangkauan radiasi elektromagnetik. Energi radiasi dari permukaan tubuh ditangkap, kemudian diubah menjadi energi listrik dan ditampilkan dalam angka digital temperatur derajat Celcius pada thermogun.
Prinsip teknologi serupa juga digunakan di kamera termal untuk pengecekan temperatur di bandara sertathermal gogglesdi dunia militer untuk mendeteksi keberadaan seseorang di kondisi yang gelap.
Termometer inframerah yang tersedia di pasaran umumnya bekerja untuk mendeteksi temperatur gendang telinga (termometer telinga) atau temperatur dahi (termometer dahi). Penggunaan dahi untuk pengukuran temperatur, kata Prasandya, memang paling optimal dan reliabel untuk menggambarkan suhu tubuh sebenarnya. Termometer dahi juga lebih cocok untuk skrining gejala demam Covid-19 karena hanya perlu “ditembak” ke arah dahi tanpa perlu bersentuhan secara langsung dengan kulit.
Ini berbeda dengan termometer telinga. Meskipun hasilnya lebih akurat, pengukuran temperatur dengan termometer ini mensyaratkan kontak langsung dengan kulit seseorang sehingga kurang cocok untuk skrining gejala demam Covid-19.
“Sama saja seperti termometer air raksa yang penggunaannya perlu dipasang di ketiak, mulut, atau rektum. Apakah bisa jika diukur di tempat lainnya atau misal digenggam di tangan? Jawabannya bisa saja, namun tidak menggambarkan temperatur tubuh yang sesungguhnya,” kata Prasandya.
Termometer tembak mendeteksi temperatur arteri temporal pada dahi untuk mengestimasi suhu tubuh seseorang. Yang perlu diperhatikan, akurasi pengukuran temperatur bergantung pada jarak dan sudut thermo gun terhadap objek yang diukur sehingga terkadang mempengaruhi hasil pengukuran yang bisa berubah-ubah.
Sementara laser (light amplification by stimulated emission of radiationatau amplifikasi cahaya melalui pancaran terstimulasi) biasanya ditemui pada pointer untuk presentasi, pembaca atau penulis CD dan DVD, serta pemotong jaringan pada prosedur pembedahan. Energinya disesuaikan dengan fungsi, semakin besar akan semakin destruktif.
Beberapa thermo gun industri mungkin saja dilengkapi dengan laser berenergi rendah, tapi fungsinya sebagai penunjuk (pointer) untuk ketepatan arah sehingga tidak ada kaitan langsung dengan fungsi pengukuran temperatur. Apakah laser tersebut berbahaya untuk otak manusia? Sama halnya dengan laser pointer, laser ini tidak memiliki efek bahaya bagi otak. Tapi hindari menembakkannya ke arah mata secara langsung karena dapat merusak retina.
Dinyatakan aman oleh FDA Amerika Serikat
Penggunaan termometer tembak sebagai pengukuran suhu tubuh di tengah pandemi Covid-19 telah dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Penggunaan termometer tembak tanpa kontak fisik dapat membantu penapisan sebagai upaya mengurangi risiko penyebaran Covid-19. Selain itu, termometer tembak mudah digunakan, dibersihkan, dan didisinfeksi serta dapat mengukur suhu tubuh dengan cepat.
Meski begitu, ditekankan bahwa orang yang menggunakan termometer ini harus secara ketat mengikuti pedoman cara penggunaan maupun rekomendasi dari pabrik, seperti jarak pengukuran yang benar.
Sementara menurut Ketua Departemen Fisika Kedokteran Klaster Medical Technology IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prasandhya Astagiri Yusuf, setiap thermo gun idealnya harus divalidasi dan dikalibrasi oleh perusahan tersertifikasi. Hal ini untuk mencegah merek palsu yang beredar serta menjaga kualitas akurasi hasilnya. “Tapi paling mudahnya bisacross-checkdengan hasil termometer raksa atau digital konduktif, apakah ada perbedaan signifikan dari pembacaan hasil. Harus diuji juga berkali-kali untuk melihat reliabilitasnya,” kata Prasandhya.
Menurut Prasandya, pengukuran temperatur tubuh dengan thermo gun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita Covid-19 atau tidak, karena pasien Covid-19 bisa saja tidak memiliki gejala demam. “Kami berharap penggunaan thermo gun secara luas di tempat-tempat publik, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik, disertai dengan SOP yang jelas," ujarnya.
Klaim serupa pernah beredar di Afrika Timur hingga Argentina
Klaim yang dilontarkan oleh Ichsanuddin Noorsy tersebut pernah beredar sebelumnya di sejumlah negara di Afrika Timur serta Argentina. Organisasi pemeriksa fakta setempat, PesaCheck, mendokumentasikan sebuah cuitan di Twitter pada 13 Juli 2020 yang berisi klaim bahwa thermo gun membunuh sel neuron dan dapat menyebabkan kerusakan otak. Cuitan itu pun menuliskan peringatan agar termometer tidak langsung ditembakkan ke kepala, tapi ke bagian tubuh lain seperti tangan atau jari.
Ngumbau Kitheka, dokter dari Rumah Sakit Kenyatta, menjelaskan bahwa termometer tembak tidak memancarkan energi atau radiasi. Sebaliknya, tubuh manusialah yang memancarkan radiasi inframerah yang kemudian diserap oleh termometer tembak. Alat ini kemudian menginterpretasikan suhu tubuh seseorang. “Manusia memancarkan panas dalam bentuk radiasi termal asalkan suhu lingkungan di atas nol mutlak,” katanya.
Hal itu juga ditegaskan oleh Leonard Mabele, dosen di Universitas Strathmore. Menurut dia, termometer inframerah non-kontak bekerja dengan sensor inframerah pasif yang mengukur emisi inframerah suatu objek. Sensor pada thermo gun kemudian mengartikan emisi inframerah dari tubuh sebagai suhu, dan mencerminkan ini sebagai nilai numerik. “Sinar yang dipancarkan oleh thermo gun digunakan untuk membantu pengukuran secara akurat titik-titik pada suatu objek,” katanya.
International Fact-Checking Network ( IFCN ) pun telah mendokumentasikan sejumlah klaim keliru tentang bahaya termometer tembak tersebut yang beredar di Amerika Latin, seperti di Lithuania, Meksiko, da
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa termometer tembak atau thermo gun mengeluarkan laser yang dapat merusak struktur otak manusia adalah klaim yang keliru. Thermo gun untuk mengecek suhu tubuh bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari suatu benda, bukan mengeluarkan radiasi apalagi laser. Selama ini, thermo gun dengan laser hanya digunakan untuk keperluan pengukuran temperatur pada industri, bukan medis.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/ngYas
- https://fk.ui.ac.id/berita/penjelasan-ilmiah-fkui-terkait-keamanan-penggunaan-termometer-tembak-thermogun-inframerah-pada-masa-adaptasi-kebiasaan-baru-pandemi-covid-19.html
- https://pesacheck.org/false-infrared-thermometers-are-not-harmful-to-brain-cells-ef846913354f
- https://www.poynter.org/fact-checking/2020/infrared-thermometers-wont-blind-you-damage-your-neurons-nor-affect-your-meditation/
[SALAH] “Takut Dibunuh, Ahli Virus China Kabur ke AS: Saya Bersaksi Covid-19 Hasil Persekongkolan Jahat”
Sumber: ArtikelTanggal publish: 21/07/2020
Berita
Beredar artikel berjudul “Takut Dibunuh, Ahli Virus China Kabur ke AS: Saya Bersaksi Covid-19 Hasil Persekongkolan Jahat”, salah satunya dimuat di situs beritaviral-lagi[dot]blogspot.com pada 17 Juli 2020.
Berikut kutipan artikel tersebut;
“Li-Meng Yan, dokter China yang berspesialisasi dalam virologi dan imunologi di Hong Kong School of Public Health, melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) sejak 28 April lalu. Ahli virus ini menuduh pemerintah negaranya menutup-nutupi virus corona baru penyebab Covid-19. Beberapa jam sebelum dia naik pesawat Cathay Pacific 28 April ke Amerika Serikat, dokter terkemuka ini telah merencanakan pelariannya, mengemas tasnya dan menyelinap melewati sensor dan kamera video di kampusnya di Hong Kong.
Dia saat itu sudah membawa paspor dan dompetnya dan akan meninggalkan semua orang yang dicintainya. Jika dia tertangkap, dia tahu dia bisa dijebloskan ke penjara, atau, lebih buruk lagi, menjadikan dirinya salah satu dari “orang yang hilang”.
Yan mengatakan kepada Fox News dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa dia percaya pemerintah China tahu tentang virus corona jauh sebelum mengklaim itu. Dia mengatakan atasannya, yang terkenal sebagai beberapa ahli top di lapangan, juga mengabaikan penelitian yang dia lakukan pada awal pandemi yang dia percaya bisa menyelamatkan nyawa manusia.
Hingga saat ini virus corona masih menjadi misteri, pasalnya kabar apakah virus itu dibentuk dari alam atau buatan manusia hingga kini belum terjawab. Namun banyak sebagian ahli berpendapat bahwa virus ini buatan manusia.“
Berikut kutipan artikel tersebut;
“Li-Meng Yan, dokter China yang berspesialisasi dalam virologi dan imunologi di Hong Kong School of Public Health, melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) sejak 28 April lalu. Ahli virus ini menuduh pemerintah negaranya menutup-nutupi virus corona baru penyebab Covid-19. Beberapa jam sebelum dia naik pesawat Cathay Pacific 28 April ke Amerika Serikat, dokter terkemuka ini telah merencanakan pelariannya, mengemas tasnya dan menyelinap melewati sensor dan kamera video di kampusnya di Hong Kong.
Dia saat itu sudah membawa paspor dan dompetnya dan akan meninggalkan semua orang yang dicintainya. Jika dia tertangkap, dia tahu dia bisa dijebloskan ke penjara, atau, lebih buruk lagi, menjadikan dirinya salah satu dari “orang yang hilang”.
Yan mengatakan kepada Fox News dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa dia percaya pemerintah China tahu tentang virus corona jauh sebelum mengklaim itu. Dia mengatakan atasannya, yang terkenal sebagai beberapa ahli top di lapangan, juga mengabaikan penelitian yang dia lakukan pada awal pandemi yang dia percaya bisa menyelamatkan nyawa manusia.
Hingga saat ini virus corona masih menjadi misteri, pasalnya kabar apakah virus itu dibentuk dari alam atau buatan manusia hingga kini belum terjawab. Namun banyak sebagian ahli berpendapat bahwa virus ini buatan manusia.“
Hasil Cek Fakta
Berdasar hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo dan Liputan6, klaim bahwa ahli virus Cina Li Meng Yan menyebut bahwa Covid-19 merupakan hasil persekongkolan jahat adalah klaim yang keliru.
Li Meng Yan hanya menyebut bahwa Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19 sebelum akhirnya diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Universitas Hong Kong (HKU) membantah klaim tersebut. HKU menyatakan isi wawancara Li dengan Fox News tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci yang ada.
Artikel di situs beritaviral-lagi[dot]blogspot.com tersebut bersumber dari wawancara eksklusif Fox News dengan Li Meng Yan yang terbit pada 10 Juli 2020. Wawancara tersebut dimuat dalam artikel Fox News yang berjudul “Exclusive: Chinese virologist accuses Beijing of coronavirus cover-up, flees Hong Kong: ‘I know how they treat whistleblowers’“.
Namun, setelah artikel itu diperiksa secara menyeluruh, ditemukan bahwa Li tidak menyebut Covid-19 sebagai hasil persekongkolan jahat. Bahkan, dalam artikel yang dimuat oleh situs di atas, juga tidak tercantum pernyataan Li seperti yang dikutip dalam judul artikel tersebut, bahwa Covid-19 merupakan hasil persekongkolan jahat.
Li hanya mengatakan kepada Fox News bahwa dia percaya Cina tahu tentang virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, jauh sebelum mengakui munculnya virus tersebut. Li juga mengatakan bahwa atasannya mengabaikan penelitian yang ia lakukan yang ia yakini bisa menyelamatkan nyawa.
Fox News pun memuat video wawancaranya dengan Li itu dengan judul “Coronavirus Whistleblower: Exclusive Fox News Interview”. Video berdurasi 13 menit 42 detik tersebut diberi keterangan bahwa Li, ahli virologi dari Hong Kong, mengatakan kepada Fox News dalam sebuah wawancara eksklusif tentang penelitian awal yang dilakukan terkait Covid-19.
Pernyataan Li di Fox News yang menyebut Cina telah mengetahui Covid-19 sebelum diumumkan secara resmi itu pun ramai dikutip oleh sejumlah media di Indonesia.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Li menuturkan bahwa Cina sudah lama tahu akan adanya virus Corona Covid-19 sebelum diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Li sendiri merupakan ilmuwan Cina asal Hong Kong yang kini disebut Fox News ‘melarikan diri’ ke Amerika Serikat.
Dalam wawancara tersebut, Li menyebut Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19, bahkan mengabaikan penelitian yang dilakukannya di awal pandemi, yang ia percayai bisa menyelamatkan nyawa. Padahal, mereka memiliki kewajiban untuk memberi tahu dunia mengingat statusnya sebagai laboratorium rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khusus untuk virus influenza dan pandemi.
“Pemerintah China menolak membiarkan para ahli di luar negeri, termasuk yang di Hong Kong, melakukan penelitian di Cina,” kata Li dalam wawancara Fox News. “Jadi, aku menghubungi teman-temanku (peneliti Cina lain) untuk menggali informasi.”
Dilansir dari Kompas.com, pada 31 Desember 2019, teman Li memberitahu dirinya mengenai kemungkinan transmisi antar manusia, jauh sebelum WHO dan Beijing mengakuinya. Li pun segera memberitahukannya kepada atasannya. Tapi, menurut Li, dia “hanya menggangguk” dan memintanya untuk terus bekerja.
Pada 9 Januari 2020, WHO merilis pernyataan, berdasarkan laporan otoritas Cina, virus ini menyebabkan gejala yang sangat parah pada sejumlah pasien. Namun, badan kesehatan di bawah PBB itu menyatakan virusnya belum menular antar manusia. “Sedikit sekali informasi yang diterima untuk menentukan risiko klaster,” ujar WHO.
Mendengar pernyataan itu, Li mengungkapkan bahwa temannya yang biasanya terbuka soal penyakit itu mendadak diam. Meski sumbernya menerangkan transmisi antar manusia terus meningkat, pengawas Li hanya memintanya untuk “diam dan berhati-hati”. “Dia memperingatkan saya, ‘Jangan injak garis merah. Kita bisa terlibat masalah dan hilang nantinya’,” katanya mengingat ucapan atasannya.
Namun, dilansir dari Liputan6.com, Universitas Hong Kong (HKU) membantah klaim Li tersebut. HKU mengkonfirmasi bahwa Li adalah mahasiswa pascadoktoralnya yang telah meninggalkan kampus. “Kami mencatat bahwa isi laporan berita tersebut tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci seperti yang kita pahami,” demikian penjelasan HKU.
HKU juga mengklarifikasi bahwa Li belum melakukan penelitian tentang topik tersebut di kampus dari Desember 2019 hingga Januari 2020. “Kami selanjutnya mengamati bahwa apa yang mungkin ditekankannya dalam wawancara yang dilaporkan tidak memiliki dasar ilmiah tapi menyerupai desas-desus.”
HKU pun membantah klaim Li bahwa ia menemukan adanya potensi penularan dari manusia ke manusia, namun tidak digubris oleh pejabat setempat. Menurut pernyataan HKU, salah satu profesornya, Yuen Kwok Yung, justru memberi tahu Menteri Kesehatan Hong Kong Sophia Chan Siu Chee tentang wabah di Wuhan dan mencatat potensi pandemi serta kemiripannya dengan SARS, yang mana menular antar manusia.
Sumber Covid-19
Dilansir dari organisasi cek fakta AS, Fact Check, setelah virus Corona Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan pada akhir Desember 2019, memang tersebar berbagai rumor palsu tentang misteri asal-usul virus. Salah satunya adalah bahwa virus Corona Covid-19 merupakan senjata biologi yang bocor dari laboratorium di Wuhan. Namun, seluruh versi teori ini tidak memiliki pijakan bukti dan penjelasan secara sains.
Bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan menular ke manusia dari hewan yang belum teridentifikasi, seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada jenis virus Corona lain. SARS-CoV pada 2002-2003 misalnya, diperkirakan berasal dari kelelawar dan menyebar ke manusia melalui musang. Pada 2012, muncul pula MERS-CoV yang kemungkinan berasal dari kelelawar, dan menyebar ke manusia melalui unta.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Maret 2020, hasil studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute, California, AS, pun telah membantah rumor bahwa virus Corona Covid-19 sengaja dibuat atau produk rekayasa laboratorium. Menurut studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, virus Corona Covid-19 adalah buah dari proses evolusi alami.
Andersen menjelaskan, sejak awal pandemi Covid-19, para peneliti telah menguliti asal-usul SARS-CoV-2 tersebut dengan menganalisis data urutan genomnya. “Dengan membandingkan data urutan genom jenis-jenis virus Corona yang sudah diketahui, kami dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami,” ujarnya.
Li Meng Yan hanya menyebut bahwa Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19 sebelum akhirnya diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Universitas Hong Kong (HKU) membantah klaim tersebut. HKU menyatakan isi wawancara Li dengan Fox News tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci yang ada.
Artikel di situs beritaviral-lagi[dot]blogspot.com tersebut bersumber dari wawancara eksklusif Fox News dengan Li Meng Yan yang terbit pada 10 Juli 2020. Wawancara tersebut dimuat dalam artikel Fox News yang berjudul “Exclusive: Chinese virologist accuses Beijing of coronavirus cover-up, flees Hong Kong: ‘I know how they treat whistleblowers’“.
Namun, setelah artikel itu diperiksa secara menyeluruh, ditemukan bahwa Li tidak menyebut Covid-19 sebagai hasil persekongkolan jahat. Bahkan, dalam artikel yang dimuat oleh situs di atas, juga tidak tercantum pernyataan Li seperti yang dikutip dalam judul artikel tersebut, bahwa Covid-19 merupakan hasil persekongkolan jahat.
Li hanya mengatakan kepada Fox News bahwa dia percaya Cina tahu tentang virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, jauh sebelum mengakui munculnya virus tersebut. Li juga mengatakan bahwa atasannya mengabaikan penelitian yang ia lakukan yang ia yakini bisa menyelamatkan nyawa.
Fox News pun memuat video wawancaranya dengan Li itu dengan judul “Coronavirus Whistleblower: Exclusive Fox News Interview”. Video berdurasi 13 menit 42 detik tersebut diberi keterangan bahwa Li, ahli virologi dari Hong Kong, mengatakan kepada Fox News dalam sebuah wawancara eksklusif tentang penelitian awal yang dilakukan terkait Covid-19.
Pernyataan Li di Fox News yang menyebut Cina telah mengetahui Covid-19 sebelum diumumkan secara resmi itu pun ramai dikutip oleh sejumlah media di Indonesia.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Li menuturkan bahwa Cina sudah lama tahu akan adanya virus Corona Covid-19 sebelum diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Li sendiri merupakan ilmuwan Cina asal Hong Kong yang kini disebut Fox News ‘melarikan diri’ ke Amerika Serikat.
Dalam wawancara tersebut, Li menyebut Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19, bahkan mengabaikan penelitian yang dilakukannya di awal pandemi, yang ia percayai bisa menyelamatkan nyawa. Padahal, mereka memiliki kewajiban untuk memberi tahu dunia mengingat statusnya sebagai laboratorium rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khusus untuk virus influenza dan pandemi.
“Pemerintah China menolak membiarkan para ahli di luar negeri, termasuk yang di Hong Kong, melakukan penelitian di Cina,” kata Li dalam wawancara Fox News. “Jadi, aku menghubungi teman-temanku (peneliti Cina lain) untuk menggali informasi.”
Dilansir dari Kompas.com, pada 31 Desember 2019, teman Li memberitahu dirinya mengenai kemungkinan transmisi antar manusia, jauh sebelum WHO dan Beijing mengakuinya. Li pun segera memberitahukannya kepada atasannya. Tapi, menurut Li, dia “hanya menggangguk” dan memintanya untuk terus bekerja.
Pada 9 Januari 2020, WHO merilis pernyataan, berdasarkan laporan otoritas Cina, virus ini menyebabkan gejala yang sangat parah pada sejumlah pasien. Namun, badan kesehatan di bawah PBB itu menyatakan virusnya belum menular antar manusia. “Sedikit sekali informasi yang diterima untuk menentukan risiko klaster,” ujar WHO.
Mendengar pernyataan itu, Li mengungkapkan bahwa temannya yang biasanya terbuka soal penyakit itu mendadak diam. Meski sumbernya menerangkan transmisi antar manusia terus meningkat, pengawas Li hanya memintanya untuk “diam dan berhati-hati”. “Dia memperingatkan saya, ‘Jangan injak garis merah. Kita bisa terlibat masalah dan hilang nantinya’,” katanya mengingat ucapan atasannya.
Namun, dilansir dari Liputan6.com, Universitas Hong Kong (HKU) membantah klaim Li tersebut. HKU mengkonfirmasi bahwa Li adalah mahasiswa pascadoktoralnya yang telah meninggalkan kampus. “Kami mencatat bahwa isi laporan berita tersebut tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci seperti yang kita pahami,” demikian penjelasan HKU.
HKU juga mengklarifikasi bahwa Li belum melakukan penelitian tentang topik tersebut di kampus dari Desember 2019 hingga Januari 2020. “Kami selanjutnya mengamati bahwa apa yang mungkin ditekankannya dalam wawancara yang dilaporkan tidak memiliki dasar ilmiah tapi menyerupai desas-desus.”
HKU pun membantah klaim Li bahwa ia menemukan adanya potensi penularan dari manusia ke manusia, namun tidak digubris oleh pejabat setempat. Menurut pernyataan HKU, salah satu profesornya, Yuen Kwok Yung, justru memberi tahu Menteri Kesehatan Hong Kong Sophia Chan Siu Chee tentang wabah di Wuhan dan mencatat potensi pandemi serta kemiripannya dengan SARS, yang mana menular antar manusia.
Sumber Covid-19
Dilansir dari organisasi cek fakta AS, Fact Check, setelah virus Corona Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan pada akhir Desember 2019, memang tersebar berbagai rumor palsu tentang misteri asal-usul virus. Salah satunya adalah bahwa virus Corona Covid-19 merupakan senjata biologi yang bocor dari laboratorium di Wuhan. Namun, seluruh versi teori ini tidak memiliki pijakan bukti dan penjelasan secara sains.
Bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan menular ke manusia dari hewan yang belum teridentifikasi, seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada jenis virus Corona lain. SARS-CoV pada 2002-2003 misalnya, diperkirakan berasal dari kelelawar dan menyebar ke manusia melalui musang. Pada 2012, muncul pula MERS-CoV yang kemungkinan berasal dari kelelawar, dan menyebar ke manusia melalui unta.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Maret 2020, hasil studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute, California, AS, pun telah membantah rumor bahwa virus Corona Covid-19 sengaja dibuat atau produk rekayasa laboratorium. Menurut studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, virus Corona Covid-19 adalah buah dari proses evolusi alami.
Andersen menjelaskan, sejak awal pandemi Covid-19, para peneliti telah menguliti asal-usul SARS-CoV-2 tersebut dengan menganalisis data urutan genomnya. “Dengan membandingkan data urutan genom jenis-jenis virus Corona yang sudah diketahui, kami dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami,” ujarnya.
Kesimpulan
Li Meng Yan hanya menyebut bahwa Cina menutup-nutupi keberadaan Covid-19 sebelum akhirnya diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Universitas Hong Kong (HKU) membantah klaim tersebut. HKU menyatakan isi wawancara Li dengan Fox News tidak sesuai dengan fakta-fakta kunci yang ada.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/897/fakta-atau-hoaks-benarkah-ahli-virus-cina-klaim-covid-19-hasil-persekongkolan-jahat
- https://www.foxnews.com/world/chinese-virologist-coronavirus-cover-up-flee-hong-kong-whistleblower
- https://video.foxnews.com/v/6170706702001#sp=show-clips
- https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200713131727-37-172222/china-sudah-lama-tahu-soal-infeksi-virus-corona-covid-19
- https://www.kompas.com/global/read/2020/07/13/112028270/pakar-virologi-ini-tuding-china-sengaja-menutupi-wabah-virus-corona?page=all
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4306046/cek-fakta-ahli-virus-china-sebut-covid-19-hasil-persekongkolan-jahat-benarkah
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/751/fakta-atau-hoaks-benarkah-peneliti-cina-ini-sebut-virus-corona-hanya-satu-dari-1-500-virus-yang-tersimpan-di-lab-wuhan
[SALAH] Kaesang: “Bapak Saya dengan Kesederhaan Bisa Nipu Rakyat Indonesia Kenapa Saya Tidak?”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/07/2020
Berita
“Bapak Saya dengan Kesederhaan Bisa Nipu Rakyat Indonesia Kenapa Saya Tidak?,” kutipan yang atas nama dan foto dari putra Presiden Joko Widodo atau Jokowi yakni Kaesang Pangarep yang diunggah akun Facebook Andre Satya atau @andre.satya.75248 pada Minggu, (19/7).
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Andre Satya atau @andre.satya.75248 mengunggah foto putra dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi yakni Kaesang Pangarep yang mengenakan kemeja putih dengan celana pendek berwarna merah yang ditambahkan kutipan sebagai berikut:
“Bapak Saya dengan Kesederhaan Bisa Nipu Rakyat Indonesia Kenapa Saya Tidak?”.
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan akun Facebook Andre Satya diketahui salah atau keliru.
Aslinya foto Kaesang yang diunggah akun Facebook Andre Satya adalah milik pribadi Kaesang. Kaesang mengunggah foto tersebut pada akun Instagram miliknya yakni @kaesangp pada Jumat, (24/4). Keterangan dalam foto Kaesang itu adalah “Atas kemeja, bawahan celana pendek dan pake srandal. OOTD ngantor jaman now,” tulis @kaesangp.
Unggahan akun Instagram Kaesang ini pun turut diberitakan oleh beberapa media daring.
Artinya dalam foto Kaesang tersebut, dirinya tidak ada membahas seperti yang diklaim akun Facebook Andre Satya.
Berdasarkan kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft, unggahan akun Facebook Andre Satya dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
“Bapak Saya dengan Kesederhaan Bisa Nipu Rakyat Indonesia Kenapa Saya Tidak?”.
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan akun Facebook Andre Satya diketahui salah atau keliru.
Aslinya foto Kaesang yang diunggah akun Facebook Andre Satya adalah milik pribadi Kaesang. Kaesang mengunggah foto tersebut pada akun Instagram miliknya yakni @kaesangp pada Jumat, (24/4). Keterangan dalam foto Kaesang itu adalah “Atas kemeja, bawahan celana pendek dan pake srandal. OOTD ngantor jaman now,” tulis @kaesangp.
Unggahan akun Instagram Kaesang ini pun turut diberitakan oleh beberapa media daring.
Artinya dalam foto Kaesang tersebut, dirinya tidak ada membahas seperti yang diklaim akun Facebook Andre Satya.
Berdasarkan kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft, unggahan akun Facebook Andre Satya dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Foto Kaesang dengan kutipan “Bapak Saya dengan Kesederhaan Bisa Nipu Rakyat Indonesia Kenapa Saya Tidak?” yang diunggah akun Facebook Andre Satya adalah tidak benar dan tidak ditemukan pada media daring. Faktanya, foto Kaesang itu pernah diunggah akun Instagram @kaesangp pada Jumat, (24/4) dengan keterangan “Atas kemeja, bawahan celana pendek dan pake srandal. OOTD ngantor jaman now”.
Rujukan
- http1.
- https://archive.fo/FlLdf 2.
- https://www.facebook.com/photo.php?fbid=154591012945526&set=p.154591012945526&type=3&_rdc=1&_rdr 3.
- https://www.instagram.com/p/B_W8Hz7Jp0l 4.
- https://www.merdeka.com/artis/potret-gaya-ngantor-zaman-now-ala-kaesang-pangarep-warganet-ngakak.html 5.
- https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4237906/gaya-wfh-kaesang-pangarep-yang-bikin-geleng-kepala
[SALAH] “Indomie Rasa Saksang Babi”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/07/2020
Berita
Akun Falah Ipay (fb.com/falah.ipay.9) mengunggah sebuah foto salah satu produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, yaitu Indomie yang seolah adalah varian “Rasa Saksang Babi”
Unggah ini disertai narasi “Indomie seleraku Rasa babi emmm endull”
Bumbu indomie haram
Unggah ini disertai narasi “Indomie seleraku Rasa babi emmm endull”
Bumbu indomie haram
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa ada foto produk Indomie Rasa Saksang Babi adalah klaim sayang salah.
Faktanya, foto itu adalah foto suntingan atau editan. Pada foto asli, varian rasa Indomie itu adalah Rasa Soto Medan.
Salah satunya, diunggah di situs jual beli Tokopedia oleh akun KEDAI HARIAN ETEK dengan judul “INDOMIE RASA SOTO MEDAN”. Foto tersebut identik dengan foto yang sudah diedit, terutama pada bagian latar belakang dan tanggal kedaluwarsa produk di foto tersebut yang itu 28 01 20.
Pihak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk juga menegaskan bahwa klaim itu hoax, karena Indofood hanya memproduksi produk halal.
Lewat akun media sosialnya, pihak Indomie juga menegaskan, komitmennya bahwa seluruh produk Indomie halal dan aman dikonsumsi.
“Hai Indomielovers!
Kami berkomitmen bahwa seluruh produk Indomie sudah mendapatkan sertifikasi HALAL dari MUI agar aman dan halal dikonsumsi, jadi kamu ngga perlu khawatir. Kami selalu memastikan keamanan & kehalalan produk Indomie selalu terjaga, demi kenyamanan kamu.” tulis Indomie, Senin, 20 Juli 2020.
Faktanya, foto itu adalah foto suntingan atau editan. Pada foto asli, varian rasa Indomie itu adalah Rasa Soto Medan.
Salah satunya, diunggah di situs jual beli Tokopedia oleh akun KEDAI HARIAN ETEK dengan judul “INDOMIE RASA SOTO MEDAN”. Foto tersebut identik dengan foto yang sudah diedit, terutama pada bagian latar belakang dan tanggal kedaluwarsa produk di foto tersebut yang itu 28 01 20.
Pihak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk juga menegaskan bahwa klaim itu hoax, karena Indofood hanya memproduksi produk halal.
Lewat akun media sosialnya, pihak Indomie juga menegaskan, komitmennya bahwa seluruh produk Indomie halal dan aman dikonsumsi.
“Hai Indomielovers!
Kami berkomitmen bahwa seluruh produk Indomie sudah mendapatkan sertifikasi HALAL dari MUI agar aman dan halal dikonsumsi, jadi kamu ngga perlu khawatir. Kami selalu memastikan keamanan & kehalalan produk Indomie selalu terjaga, demi kenyamanan kamu.” tulis Indomie, Senin, 20 Juli 2020.
Kesimpulan
Foto suntingan / editan. Pada foto asli, varian rasa Indomie itu adalah Rasa Soto Medan. Pihak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk juga menegaskan bahwa klaim itu hoax, karena Indofood hanya memproduksi produk halal.
Rujukan
- https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4310523/foto-indomie-rasa-saksang-babi-ternyata-hoax-indofood-hanya-memproduksi-produk-halal
- https://www.tokopedia.com/kedaiharianetek/indomie-rasa-soto-medan
- https://www.instagram.com/p/CC3oh6hFbGq/
- https://twitter.com/Indomielovers/status/1285204115631423489
- https://www.facebook.com/Indomie/photos/a.10152591995536501/10157937268801501/?type=3&theater
- http://www.indomie.co.id/Product/Category/10
Halaman: 7336/8523



