Akun Facebook Secretman atau @gilae.gilae.980 mengunggah scrennshot atau tangkapan layar yang bergambar wajah Wakil Presiden (Wapres), Ma’ruf Amin. Dalam tangkapan layar tersebut terdapat tulisan yang berbunyi sebagai berikut:
“KALO URUSAN NIPU RAKYAT JOKOWI AHLINYA SAYA JUGA DIAJARINYA SEKARANG SUDAH LANCAR,” unggahnya, Selasa (7/7).
[SALAH] Foto Wapres Ma’ruf dengan Narasi Dirinya Diajari Nipu oleh Presiden Jokowi
Sumber: facebook.comTanggal publish: 10/07/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, diketahui bahwa unggahan akun Facebook Secretman adalah salah atau keliru.
Diketahui foto Wapres Ma’ruf tersebut adalah karya dari Jurnalis CNN Indonesia, Christie Stefanie. Foto karya Christie ini dimuat dalam artikel cnnindonesia.com dengan judul “Ketua MUI Tak Setuju Penghayat Kepercayaan Tercantum di KTP”. Dalam artikel ini pun tak ditemukan kalimat seperti yang terdapat dalam tangkpan layar yang diklaim akun Facebook Secretman.
Selain itu, ketika diketikan narasi yang terdapat dalam tangkapan layar pada mesin pencari, faktanya tidak ditemukan pemberitaannya dari media daring.
Dengan begitu, berdasarkan kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft, unggahan akun Facebook Secretman dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Diketahui foto Wapres Ma’ruf tersebut adalah karya dari Jurnalis CNN Indonesia, Christie Stefanie. Foto karya Christie ini dimuat dalam artikel cnnindonesia.com dengan judul “Ketua MUI Tak Setuju Penghayat Kepercayaan Tercantum di KTP”. Dalam artikel ini pun tak ditemukan kalimat seperti yang terdapat dalam tangkpan layar yang diklaim akun Facebook Secretman.
Selain itu, ketika diketikan narasi yang terdapat dalam tangkapan layar pada mesin pencari, faktanya tidak ditemukan pemberitaannya dari media daring.
Dengan begitu, berdasarkan kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft, unggahan akun Facebook Secretman dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Unggahan tangkapan layar dengan foto Wapres, Ma’ruf Amin dan narasi yang berbunyi “KALO URUSAN NIPU RAKYAT JOKOWI AHLINYA SAYA JUGA DIAJARINYA SEKARANG SUDAH LANCAR” adalah tidak benar. Aslinya foto Wapres Ma’ruf dalam tangkapan layar adalah karya Jurnalis CNN Indonesia, Christie Stefanie yang ditayangkan pada artikel berjudul “Ketua MUI Tak Setuju Penghayat Kepercayaan Tercantum di KTP”.
Rujukan
- http1.
- https://archive.fo/bQS1q 2.
- https://www.facebook.com/groups/188153661264485/permalink/3094501543963001/?_rdc=1&_rdr 3.
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171115155715-20-255829/ketua-mui-tak-setuju-penghayat-kepercayaan-tercantum-di-ktp 4.
- https://turnbackhoax.id/2020/02/18/salah-maruf-amin-kalo-urusan-nipu-rakyat-jokowi-ahlinya-saya-juga-diajarinya-sekarang-sudah-ahli 5.
- https://www.vivanews.com/viva-fakta/37323-postingan-foto-ma-ruf-dan-nipu-rakyat-jokowi-ahlinya-faktanya 6.
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/8N00EerN-wapres-ma-ruf-amin-sebut-jokowi-ahli-menipu-rakyat-ini-faktanya
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Erdogan Sebut Jika Jokowi Tak Terjun ke Politik Maka Penjahatlah yang Akan Mengisinya?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 10/07/2020
Berita
Gambar berisi kutipan yang berbunyi “Jika Joko Widodo tidak terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya” beredar di media sosial. Di bawah kutipan tersebut, terdapat tulisan "Recep Tayyip Erdogan". Terdapat pula tulisan "Presiden Turki" dan foto Erdogan di gambar itu.
Di Facebook, gambar tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Bayes Dika pada 3 Juli 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Bayes Dika di halaman Dukung Prabowo_Sandiaga Presiden RI 2019_2024 ini telah dikomentari sebanyak 54 komentar.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Bayes Dika.
Apa benar Erdogan mengatakan "Jika Jokowi tidak terjun ke politik, maka penjahatlah yang akan mengisinya"?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto Erdogan dalam gambar unggahan akun Bayes Dika tersebut denganreverse image toolSource, TinEye, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu telah beredar di internet sejak 2014.
Foto Erdogan tersebut pernah dimuat oleh situs Yunani, Kathimerini.gr, pada 12 Desember 2014. Situs lain yang pernah memuat foto itu adalah Armedia.am, yakni pada 17 April 2017. Adapun situs Indonesia yang pernah memuat foto tersebut adalah Okezone.com, yakni pada 23 Desember 2019. Foto ini merupakan foto milik kantor berita Reuters.
Terkait kutipan dalam gambar unggahan akun Bayes Dika, kutipan tersebut berasal dari pernyataan Erdogan yang telah diubah. Pernyataan asli Erdogan itu salah satunya pernah dimuat oleh situs Rilis ID, tepatnya dalam rubrik Nukilan, pada 4 November 2018.
Pernyataan asli Erdogan berbunyi: “Jika orang baik tidak terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya.” Dalam pernyataannya itu, Erdogan tidak menyinggung soal Jokowi.
Kutipan Erdogan tersebut juga ditemukan dalam unggahan halaman Facebook Sahabat Erdogan pada 20 November 2017. Kutipan ini terdapat dalam gambar dengan foto Erdogan yang sama dengan foto dalam gambar unggahan akun Bayes Dika.
Gambar unggahan halaman Sahabat Erdogan itu pun pernah dimuat oleh situs Kabar Serasan, dalam artikel di rubrik editorialnya, pada 6 Juli 2018. Artikel tersebut berjudul "Orang Baik Sebaiknya Berpolitik?".
Menurut artikel itu, penggalan kalimat tersebut berasal dari pelopor politik asal Jerman, Friedrich Naumann. Naumann pernah mengatakan, "Ketika orang-orang baik menjaga jarak dari politik, tak perlu heran jika politik menjadi tidak baik."
Kutipan itu pun melegenda dan sering dikutip oleh para politikus dunia untuk mengajak orang-orang baik terjun ke dunia politik, bukan malah menjauhinya. Salah satu di antaranya adalah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Untuk memverifikasi informasi tersebut, Tempo menelusuri pernyataan Naumann itu dengan mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan bahwa kutipan tersebut memang berasal dari Naumann. Salah satu situs yang pernah menulis artikel tentang kutipan itu adalah situs resmi Friedrich Naumann Foundation (FNF).
Artikel yang dimuat pada 8 November 2017 ini berjudul “Menjadi Orang Baik dan Literasi dalam Berpolitik”. Artikel tersebut diawali dengan sebuah kutipan dari Naumann yang berbunyi: "Ketika orang-orang baik menjaga jarak dari politik, tak perlu heran jika politik menjadi tidak baik."
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan "Jika Jokowi tidak terjun ke politik, maka penjahatlah yang akan mengisinya" keliru. Kutipan itu bersumber dari pernyataan Erdogan yang telah diubah. Kutipan aslinya berbunyi: “Jika orang baik tidak terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya.”
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tidak Ada Kematian yang Murni Disebabkan oleh Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 10/07/2020
Berita
Akun Facebook Sony H. Waluyo membagikan sebuah tulisan panjang yang menyinggung keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menarik negaranya sebagai anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam tulisan itu, terdapat pula tudingan bahwa WHO hanya menciptakan ketakutan tanpa memberikan bukti adanya kematian yang murni disebabkan oleh penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, Covid-19.
Tulisan yang dibagikan pada 8 Juli 2020 ini juga berisi sejumlah klaim terkait Covid-19, mulai dari adanya kekeliruan tes Covid-19 dengan antibodi dan tidak perlunya menunggu vaksin Covid-19 karena selama ini pasien Covid-19 berhasil sembuh tanpa vaksin.
Untuk mendukung narasi-narasi dalam tulisannya, akun Sony H. Waluyo menyertakan sejumlah gambar tangkapan layar artikel berita. Klaim bahwa tidak ada kematian yang murni disebabkan oleh Covid-19 misalnya, dikutip dari dokter Stoian Alexov di situs Zaidpub.com. Selain itu, terdapat artikel yang memuat pernyataan Trump serta juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto.
Gambar tangkapan layar sebagian isi tulisan panjang (kiri) dan gambar-gambar tangkapan layar (kanan) yang diunggah oleh akun Facebook Sony H. Waluyo.
Bagaimana kebenaran klaim-klaim terkait Covid-19 dalam tulisan akun Sony H. Waluyo tersebut?
Hasil Cek Fakta
Klaim 1: Telah banyak kritikan yang mengatakan bahwa data korban tidak valid dan murni sebab selalu ada penyakit lain yang menyertai/komplikasi. Narasi ini dilengkapi dengan gambar tangkapan layar artikel dari situs Zaidpub.com berisi pernyataan dokter Stoian Alenov bahwa tidak ada kematian di Eropa yang murni disebabkan oleh Covid-19.
Fakta:
Hingga 10 Juli 2020 pukul 14.00 WIB, tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 3.417 orang dari total kasus sebanyak 70.736 orang. Jumlah kematian yang diumumkan oleh pemerintah pusat tersebut adalah kasus yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 sesuai hasil tespolymerase chain reaction(PCR).
Covid-19 memang memperburuk kondisi kesehatan pasien yang memiliki penyakit penyerta, sehingga menyebabkan kematian lebih dini. Namun, meski tingkat kematian Covid-19 lebih tinggi terjadi pada mereka yang memiliki penyakit penyerta, ditemukan juga pasien yang meninggal tanpa penyakit penyerta.
Dikutip dari Detik.com, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Rita Rogayah, mengatakan ada 76 pasien Covid-19 yang meninggal dari sebanyak 205 pasien positif Covid-19 di rumah sakitnya pada April 2020. Dari jumlah pasien yang meninggal itu, 65 pasien (86 persen) memiliki penyakit penyerta, sementara 11 pasien (14 persen) lainnya tanpa penyakit penyakit.
Kemudian, di Surabaya, Jawa Timur, hingga 15 Juni 2020, terdapat 328 pasien positif Covid-19 yang meninggal. Sebanyak 300 orang di antaranya memiliki penyakit penyerta, sementara 28 orang lainnya tidak mempunyai penyakit bawaan alias meninggal murni karena Covid-19.
Pernyataan dokter Stoian Alenov di situs Zaidpub.com pun telah dibantah oleh organisasi pemeriksa fakta Lead Stories. Menurut temuan mereka, sekitar 44.600 orang di Inggris meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru tersebut.
Sumber: Kemenkes, Detik.com, IDN Times, dan Lead Stories
Klaim 2: Dokter Andrew Kaufman menyatakan sampel uji Covid-19 tidak dimurnikan sehingga ada kekeliruan identifikasi antara virus dengan exosome yang adalah materi genetik antibodi. Inilah mengapa tes Covid-19 sering merujuk pada antibodi reaktif sebagai acuan untuk deteksi infeksi virus. Tentu saja hasilnya menjadi sering meleset sebab antibodi reaktif dapat timbul karena berbagai sebab dan bukan hanya karena oleh Covid-19.
Fakta:
Uji antibodi di Indonesia dengan rapid test tidak digunakan untuk mendeteksi Covid-19, melainkan hanya untuk penapisan atau screening. Untuk mendeteksi Covid-19, tes yang digunakan di banyak negara, termasuk yang direkomendasikan oleh WHO, adalah tes PCR.
Tes PCR tidak mendeteksi virus melalui antibodi, melainkan melalui potongan-potongan materi genetik virus yang terdapat pada lendir, air liur, dan sel-sel di bagian paling belakang rongga hidung. Setelah sampel dikumpulkan, suatu bahan kimia dipakai untuk menghilangkan materi-materi lain sehingga hanya menyisakan materi genetik virus yang disebut RNA.
Lalu, enzim ditambahkan ke dalam sampel melalui proses kimia untuk menyalin RNA menjadi DNA, yang kemudian dapat diproses di dalam mesin dan disalin berulang kali. Dengan salinan DNA yang cukup, para ilmuwan kemudian dapat menerapkantag fluorescentpada sampel yang mengikat potongan spesifik bahan genetik untuk mendeteksi adanya SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.
Meski memiliki akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes antibodi (rapid test), tes PCR tetap memiliki potensi negatif palsu. Namun, potensi ini bukan diakibatkan seperti klaim di atas. Negatif palsu bisa terjadi karena tiga hal. Pertama, jika infeksi yang terjadi pada seseorang yang dites masih terlalu dini atau malah terlambat sehingga tidak terdapat virus dalam jumlah yang cukup di sel mereka. Kedua, jika layanan kesehatan tidak mengumpulkan jumlah sampel yang cukup, misalnya swab kurang. Ketiga, jika jarak waktu antara pengambilan sampel dan tes terlalu lama, yang membuat RNA virus terurai.
Sumber: Live Science dan The Conversation
Klaim 3: Takut, khawatir, dan stres juga dialami para nakes sehingga tidak leluasa menangani pasien dengan akibat justru pasien yang perlu pertolongan dengan segera tidak tertangani. Sering kali kemudian hasil uji lab mendapati mereka yang meninggal tak tertolong ternyata negatif Covid-19 namun dimakamkan dengan protokol Covid-19 dan terlanjur diberitakan sebagai korban Covid-19.
Fakta:
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo menegaskan penerapan protokol pemakaman Covid-19 juga harus dilakukan pada pasien dalam pengawasan (PDP), untuk menghindari adanya penularan akibat salah penangangan. "Selama belum ada kepastian tes dari dinas kesehatan di daerah, maka pasien itu tetap diberikan status pasien Covid," ujar Doni pada 20 April 2020.
Doni mengatakan tak ingin ada kejadian yang terulang, di mana pasien suspek yang meninggal dimakamkan biasa, kemudian belakangan diketahui hasil tes pasien tersebut positif Covid-19. Karena itu, perlakuan bagi PDP akan sama dengan pasien positif hingga hasil tes lab keluar. Nantinya, Kementerian Kesehatan yang bakal mengumumkan pasien tersebut dinyatakan positif atau negatif.
"Untuk menghindari agar tidak terjadi lagi pasien yang meninggal non-Covid-19 atau Covid-19 salah dalam melakukan analisis atau mengambil keputusan," kata Doni. Hal ini, menurut Doni, juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai banyaknya pemakaman tertutup dengan protokol Covid-19. Mereka memang tak seluruhnya sudah dinyatakan positif, namun bisa jadi PDP yang meninggal sebelum hasil tesnya keluar atau bahkan belum dites.
Sumber: Tempo
Klaim 4: Fakta di lapangan menyatakan dengan gamblang bahwa semua orang di seluruh dunia selama ini yang didiagnosa terinfeksi jelas berhasil sembuh tanpa vaksin. Dari cara kerja vaksin sebenarnya juga sangat jelas dan gamblang bahwa vaksin juga bukan obat melainkan virus yang dilemahkan untuk memicu antibodi. Ini artinya sangat jelas bahwa antibodilah yang tetap menjadi ujung tombak untuk menangani virus, baik pada orang yang divaksin ataupun tidak.
Fakta:
Hadirnya vaksin telah mencegah setidaknya 10 juta kematian pada 2010-2015. Jutaan orang di seluruh dunia pun terlindungi dari penderitaan dan kecacatan yang terkait dengan penyakit seperti pneumonia, diare, batuk rejan, campak, dan polio. Program imunisasi yang berhasil juga memungkinkan prioritas nasional, seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat bertahan.
Dikutip dari CDC, vaksin memberikan kekebalan pada tubuh untuk melawan penyakit tertentu. Sistem kekebalan mengenali virus atau kuman yang masuk ke dalam tubuh sebagai "penyerbu asing" (disebut antigen), dan tubuh menghasilkan protein yang disebut antibodi untuk melawannya.
Saat seorang anak terinfeksi untuk pertama kalinya oleh antigen spesifik (misalnya virus campak), sistem kekebalan bakal menghasilkan antibodi yang dirancang untuk melawannya. Namun, sistem kekebalan biasanya tidak bekerja cukup cepat untuk mencegah antigen yang menyebabkan penyakit, sehingga si anak akan tetap sakit. Namun, sistem kekebalan “mengingat” antigen itu. Jika masuk ke tubuh lagi, bahkan setelah bertahun-tahun, sistem kekebalan dapa
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi dalam tulisan yang diunggah oleh akun Sony H. Waluyo menyesatkan. Klaim bahwa tidak ada kematian yang murni disebabkan oleh Covid-19 pun tidak akurat karena ditemukan sejumlah pasien Covid-19 yang meninggal yang tidak memiliki penyakit penyerta.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/LMwQ0
- https://www.kemkes.go.id/article/view/20012900002/Kesiapsiagaan-menghadapi-Infeksi-Novel-Coronavirus.html
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5045877/14-persen-meninggal-tanpa-penyakit-penyerta-masih-ragukan-bahaya-corona
- https://jatim.idntimes.com/news/jatim/fitria-madia/tanpa-komorbid-28-pasien-meninggal-di-surabaya-murni-karena-covid/2
- https://leadstories.com/hoax-alert/2020/07/fact-check-doctors-claim-that-no-one-has-died-from-the-coronavirus-is-not-true.html
- https://www.livescience.com/covid19-coronavirus-tests-false-negatives.html
- https://theconversation.com/coronavirus-tests-are-pretty-accurate-but-far-from-perfect-136671
- https://nasional.tempo.co/read/1333549/protokol-pemakaman-jenazah-pdp-sama-dengan-pasien-covid-19/full&view=ok
- https://www.who.int/publications/10-year-review/vaccines/en/
- https://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/howvpd.htm
[SALAH] Foto “Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/07/2020
Berita
Beredar foto makam yang diklaim adalah makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Salah satu yang membagikan adalah akun Yanti Yanti (fb.com/100044527606603). Akun ini membagikan unggahan dari akun MamahNya Mia (fb.com/mamanya.mia.589) yang mengunggah foto makam tersebut dengan narasi:
“Subhanallah.. Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi.
Yang menuliskan Aamiin Lalu Bagikan Foto Ini, semoga terkabul Doanya, Dikaruniai Banyak Keberuntungan dan Rizqi berlimpah Berkah, bisa ke sini berziarah. Aamiin yaa Robbal Alamiin”
“Subhanallah.. Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi.
Yang menuliskan Aamiin Lalu Bagikan Foto Ini, semoga terkabul Doanya, Dikaruniai Banyak Keberuntungan dan Rizqi berlimpah Berkah, bisa ke sini berziarah. Aamiin yaa Robbal Alamiin”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP Indonesia, klaim bahwa ada foto makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi adalah klaim yang salah.
Faktanya, makam di foto yang diunggah oleh sumber klaim bukan Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Foto itu misalnya pernah dimuat di artikel berjudul “DİYARBAKIR – SUR İÇİNDE . KALE İÇİNDE HAZRETİ SÜLEYMAN CAMİİNDEDİR.” yang dimuat di situs Evliyalar.net, pada tanggal 25 September 2014. Terjemahan judul artikel itu adalah: “Di Sur, Diyarbakir, di dalam Masjid Suleyman”.
Tulisan putih berbahasa Turki di foto itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn Halid (semoga Allah meridainya).”
Tulisan di lempengan logam di kuburan itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn-i Halid (semoga Allah meridainya)
Tahun wafat: 639.”
Foto yang sama juga pernah dimuat dalam laporan tahun 2019 berjudul “Sancak ‘çalınmasın’ diye Antep’e gönderilmiş” tentang kuburan di Masjid Hazrat Suleiman di Diyarbakir oleh media lokal, Guneydogu Ekspres.
Faktanya, makam di foto yang diunggah oleh sumber klaim bukan Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Foto itu misalnya pernah dimuat di artikel berjudul “DİYARBAKIR – SUR İÇİNDE . KALE İÇİNDE HAZRETİ SÜLEYMAN CAMİİNDEDİR.” yang dimuat di situs Evliyalar.net, pada tanggal 25 September 2014. Terjemahan judul artikel itu adalah: “Di Sur, Diyarbakir, di dalam Masjid Suleyman”.
Tulisan putih berbahasa Turki di foto itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn Halid (semoga Allah meridainya).”
Tulisan di lempengan logam di kuburan itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn-i Halid (semoga Allah meridainya)
Tahun wafat: 639.”
Foto yang sama juga pernah dimuat dalam laporan tahun 2019 berjudul “Sancak ‘çalınmasın’ diye Antep’e gönderilmiş” tentang kuburan di Masjid Hazrat Suleiman di Diyarbakir oleh media lokal, Guneydogu Ekspres.
Kesimpulan
Bukan makam Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/foto-ini-telah-beredar-dalam-laporan-tentang-kuburan-sahabat-nabi-muhammad-di-turki
- http://www.evliyalar.net/hz-suleyman-ibn-halid-r-a/
- https://www.guneydoguekspres.com/guncel/sancak-calinmasin-diye-antepe-gonderilmis-h6493.html
- https://www.google.com/maps/place/Hazrat+Suleiman+Mosque/@37.9148237,40.2388004,15z/data=!4m5!3m4!1s0x0:0xbddd47048a6064a9!8m2!3d37.9148237!4d40.2388004
Halaman: 7357/8519



