• [SALAH] “RS wisma atlet lampu Kamar menyala semua Petanda Fuul pasien Corona”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/09/2020

    Berita

    Akun Sihong Hong (fb.com/sihong.hong.96) mengunggah sebuah gambar tangkapan layar dengan narasi sebagai berikut:

    “WASPADA LAH Petanda Fuul pasien Corona…”

    Di gambar yang ia unggah, tampak semua lampu Wisma Atlet menyala dan terdapat narasi “RS Wisma Atlet lampu Kamar nyala semua….kurangi keluar rumah kalau ngga penting banget……mencekaam….”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat penuh pasien COVID-19 ditandai dengan menyalanya semua lampu adalah klaim yang salah.

    Faktanya, Koordinator RSD Wisma Atlet Kemayoran Kolonel Stefanus Dony memastikan nyalanya lampu-lampu di Wisma Atlet bukan berarti semua tower terisi penuh oleh pasien Covid-19. Nyalanya lampu di seluruh tower, merupakan bentuk kesiapan Wisma Atlet.

    Dilansir dari Kompas.tv, Dony menegaskan hingga saat ini daya tampung Rumah Sakit Wisma Atlet untuk pasien Covid-19 masih memadai. Menurutnya, seluruh lampu di tower Wisma Atlet dinyalakan sebagai langkah perawatan sistem kelistrikan gedung dan bukti kesiapan Wisma Atlet.

    “Ya memang nyala malam itu. Kita nyalakan untuk memberi suasana terang, ini kan rumah sakit, kalau gelap kan orang kesannya mengerikan. Ini memberi rasa tenang kepada mereka (pasien), tujuannya untuk itu,” ujar Stefanus Kamis (10/9/2020).

    “Bukan berarti penuh, jadi memang nyala hanya sekitar 60% yang saya sampaikan tadi 60% yang dihuni,” terang dia.

    Selain itu, dilansir dari detik.com, Kepala Penerangan Kogabwilhan-I Kolonel Marinir Aris Mudian menjelaskan nyalanya lampu-lampu di Wisma Atlet itu bukan berarti semua tower terisi pasien COVID-19. Nyalanya lampu di seluruh tower, kata dia, merupakan bentuk kesiapan Wisma Atlet.

    Aris menjelaskan, dari tujuh tower yang ada di Wisma Atlet, hanya dua yang saat ini digunakan untuk menangani COVID-19. Satu tower untuk menangani pasien COVID-19 dan satu tower lagi untuk observasi.

    “Yang aktif untuk pasien itu di Tower 7. Tower 7 untuk pasien dan Tower 6 untuk observasi,” jelasnya.

    Lebih lanjut Aris mengungkapkan, satu tower di Wisma Atlet menampung 2.500 orang. Sementara itu, saat ini ada 1.637 pasien yang dirawat di RSD Wisma Atlet. Dari 1.637 yang dirawat, 1.635 di antaranya merupakan pasien positif COVID-19. Sedangkan dua lainnya merupakan pasien suspek.

    “Untuk satu tower itu kan bisa lebih-kurang 2.500 orang sampai saat ini masih nampung,” kata Aris.

    Untuk diketahui, sejak dibuka pada 23 Maret 2020 lalu hingga sekarang, RSD Wisma Atlet telah merawat 14.265 pasien terkait COVID-19. Dari jumlah tersebut, 12.128 orang telah dinyatakan sembuh, 270 dirujuk ke RS lain, dan pasien yang meninggal sebanyak 5 orang.

    Kesimpulan

    Koordinator RSD Wisma Atlet Kemayoran Kolonel Stefanus Dony memastikan nyalanya lampu-lampu di Wisma Atlet bukan berarti semua tower terisi penuh oleh pasien Covid-19. Nyalanya lampu di seluruh tower, merupakan bentuk kesiapan Wisma Atlet.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Artikel “Seorang Ayah Ini Sebrangkan Anak Nya di Sungai Agar Bisa Pinjam Hp Temen Nya Untuk Sekolah Online”

    Sumber: laman daring
    Tanggal publish: 11/09/2020

    Berita

    Laman detikinfo[dot]xyz menerbitkan artikel dengan judul “Karna Tak Punya HP Seorang Ayah Ini Sebrangkan Anak Nya di Sungai Agar Bisa Pinjam Hp Temen Nya Untuk Sekolah Online” pada tanggal 9 September 2020. Pada foto artikel tersebut terdapat seorang pria membungkus anaknya dengan plastik dan menyeberang sungai.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa konten tersebut keliru. Diketahui bahwa artikel itu merupakan lansiran dari laman palingseru.com dengan judul “Agar Bisa Sekolah, Pria ini Sebrangkan Anak Anaknya di Sungai Dengan Memasukannya ke Dalam Plastik” yang tayang pada 25 Juni 2019.

    Pada artikel tersebut memberitakan peristiwa seorang seorang pria menyediakan jasa untuk menyeberangkan anak-anak di desanya agar dapat sekolah dengan cara membungkus mereka menggunakan plastik di seberang sungai. Dalam artikel juga disebutkan peristiwa terjadi di desa Huoi Ha, Provinsi Dien Bien, Vietnam. Tidak disebutkan bahwa pria tersebut bukan ayah dari anak yang diseberangkan dan tujuan penyeberangannya bukan untuk meminjam ponsel.

    Peristiwa tersebut juga diberitakan oleh brilio.net dengan judul “Aksi pria bantu anak-anak seberangi sungai saat ke sekolah ini unik” yang tayang pada tanggal 25 Juni 2019.

    Kesimpulan

    Judul dan isi artikel salah. Peristiwa sebenarnya ialah seorang pria menyediakan jasa untuk menyeberangkan anak-anak desanya menggunakan plastik agar dapat sekolah di seberang sungai pada tahun 2019. Bukan untuk pinjam ponsel temannya untuk sekolah daring.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Qari Pelantun Ayat Alquran di Video Ini dari Papua?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/09/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan seorang pria sedang melantunkan ayat-ayat Alquran beredar di media sosial. Menurut klaim yang tertera dalam video tersebut, pria itu merupakan qari internasional pemilik suara tertinggi dan napas terpanjang di dunia yang berasal dari Papua.
    Di Facebook, video tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Kursiah Cia, yakni pada 20 Agustus 2020. Hingga artikel ini dimuat, video berdurasi 5 menit 16 detik tersebut telah direspons lebih dari 4.300 kali, dikomentari sebanyak 360 kali, dan dibagikan lebih dari 8.300 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Kursiah Cia.
    Apa benar qari dalam video di atas berasal dari Papua?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Kemudian, gambar-gambar tersebut ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan fakta bahwa qari dalam video tersebut bukan berasal dari Papua, melainkan dari Tanzania, Afrika Timur.
    Video yang sama, tanpa tulisan "Qori Internasional Asal dari Papua Pemilik Suara Tertinggi dan Nafas Terpanjang di Dunia", pernah diunggah oleh kanal YouTube Kashi Foundation pada 7 Maret 2020 dengan judul "Surah al Balad Qari Eidi Shaban || Qari Edi Shaban from Africa || Beautiful recitation of Quran".
    Video ini diberi keterangan dalam bahasa Urdu yang jika diterjemahkan berarti: "Qari Eidi Shaban Tanzania Afrika (Pembaca Terbaik Nafas Terpanjang) Madrasah Riaz-ul-Quran wa Al-Tajweed pemilik nafas panjang. Pakistan, Pathan, Pashtun, Punjabi, Sindhi Balochi, dan Seraiki, tapi juga pangeran favorit semua orang dan milik dunia."
    Video dari peristiwa yang sama, namun denganangleyang sedikit berbeda, juga pernah diunggah oleh kanal YouTube Quran Show TV pada 12 Mei 2020. Video tersebut berjudul "Surah Duha Qari Eidi Shaban from Africa | Best Recitation of The Holy Quran Tilawat Qari Edi Shaban".
    Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Quran Show TV.
    Kesamaan terlihat dari warna baju, serban, dan peci yang dikenakan oleh qari tersebut, susunanmicyang digunakan, sertabackdrop di bagian belakang yang berwarna biru dengan tulisan merah, hijau, dan putih dalam bahasa Bengali, bahasa yang digunakan di Bangladesh dan India.
    Jauh sebelumnya, yakni pada 24 Desember 2019, video dengananglelain pernah diunggah oleh kanal YouTube terverifikasi yang berbasis di Bangladesh, CTG Islamic TV. Video ini diberi judul “Qari Eidi Shaban From Africa | Best Recitation of The Holy Quran Tilawat Qari Edi Shaban”.
    Dilansir dari situs media Bangladesh Dailynayadiganta.com, pada 21 Desember 2019, Kompleks Talimul Quran Chittagong, Bangladesh, memang menyelenggarakan Konferensi Quran Internasional. Maulana Hafeez Muhammad Tayyab, ketua kompleks, memimpin konferensi itu.
    Kompetisi siswa dari berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan madrasah digelar dari pukul 8 pagi waktu setempat hingga zuhur. Dari zuhur hingga isya, ulama lokal dan internasional mengaji. Dari isya hingga acara berakhir, ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan suara merdu dari qari internasional terkenal, termasuk qari Tanzania Rezai Ayub dan Eidi Shaban, qari India Tayyab Jamal, dan Qari Mesir Muhammad Ahmed Abdul Hafiz Ad Durunki.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa qari pelantun ayat-ayat Alquran dalam video di atas berasal dari Papua, keliru. Qari dalam video tersebut adalah Eidi Shaban, asal Tanzania, Afrika Timur.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Gereja Ini Dibangun dari Tulang Umat Islam yang Menolak Dikristenkan?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/09/2020

    Berita


    Unggahan yang berisi klaim bahwa Gereja Capela dos Ossos di Portugal dibangun dari tulang-tulang umat Islam beredar di media sosial. Menurut unggahan tersebut, umat Islam yang tulang-tulangnya dipakai untuk membangun gereja itu adalah mereka yang menolak untuk dikristenkan.
    "Gereja Capela dos Ossos di Kota Evora, Portugis, yang dibangun sepenuhnya oleh seorang biarawan Fransiskan seluruhnya dari tulang-tulang kaum muslim Andalusia yang terbunuh dan dikuburkan di kuburan massal di dekat tempat lokasi gereja," demikian narasi dalam unggahan tersebut.
    Menurut unggahan itu pula, di gereja ini, terdapat dua mayat kering yang digantung di dinding, yang salah satunya merupakan mayat anak muslim yang dicekik kemudian dikeringkan. "Capella dos Osos juga mengoleksi sekitar 5 ribu kerangka manusia muslim Moor yang menolak memeluk agama Kristen setelah kejatuhan Andalusia."
    Unggahan ini disertai dengan dua foto. Foto pertama memperlihatkan sebuah dinding yang dipenuhi dengan tulang dan tengkorak. Sementara foto kedua menunjukkan sebuah ruangan dengan tembok yang dipenuhi tulang dan tengkorak, di mana di bagian tengah ruangan itu terpasang sebuah salib.
    Di Facebook, klaim beserta foto-foto itu diunggah salah satunya oleh akun Puhai Aceh pada 7 Agustus 2020. Di bagian awal, akun ini menulis, "Sebagai umat muslim, wajib tahu sejarah ini.. Betapa biadabnya mereka.. Tapi yang di tuduh radikal/teroris adalah Islam.."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Puhai Aceh.
    Apa benar Gereja Capela dos Ossos di Portugal dibangun dari tulang-tulang umat Islam yang menolak dikristenkan?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital kedua foto tersebut denganreverse image toolGoogle, Yandex, dan TinEye. Hasilnya, ditemukan bahwa dua foto itu diambil dari dua Capela dos Ossos yang berbeda, yakni yang berlokasi di Evora dan di Faro, Portugal.
    Foto pertama, yang memperlihatkan sebuah dinding yang dipenuhi dengan tulang dan tengkorak, merupakan foto milik fotografer yang bernama Steve Allen. Foto itu bisa ditemukan di sejumlah situs stok foto, seperti Shutter Stock dan iStock Photo. Di dua situs itu, foto tersebut diunggah pada 2017.
    Dalam keterangannya, tertulis bahwa foto itu memang merupakan foto Capela dos Ossos, salah satu monumen paling terkenal di Evora, Portugal. Kapel yang berukuran kecil ini terletak di sebelah pintu masuk Gereja San Francisco. Kapel tersebut diberi nama demikian karena dinding interiornya ditutupi dengan tengkorak dan tulang manusia.
    Gambar tangkapan layar situs Shutter Stock yang memuat foto Capela dos Ossos milik Steve Allen.
    Dikutip dari Live Science, kapel yang merupakan bagian dari Gereja San Francisco ini dilapisi dengan lebih dari 5 ribu tengkorak yang ditambah dengan berbagai macam tulang manusia lainnya. Pada abad ke-16, tidak ada lagi lahan yang tersisa di lokasi pemakaman milik gereja. Karena itu, para biarawan dari ordo Fransiskan di gereja tersebut menggali makam-makam tua yang sudah lama rusak serta mengawetkan dan merekatkan tengkorak serta tulang dari makam itu ke osuarium.
    Dilansir dari Kompas.com, para biarawan menata ribuan tengkorak tersebut untuk pelayanan doa arwah bagi umat saat peringatan hari kebangkitan. Selain itu, tulang-tulang tersebut menjadi pengingat bagi yang orang-orang masih hidup terhadap kematian. Sebuah tulisan tentang kematian tertulis di pintu masuk kapel tersebut, "Nos ossos que aqui estamos, pelos vossos esperamo" yang artinya kurang lebih "Tulang belulang kami berada di sini, menunggu milikmu".
    Adapun foto kedua, yang menunjukkan sebuah ruangan dengan tembok yang dipenuhi tulang dan tengkorak, di mana di bagian tengah ruangan itu terpasang sebuah salib, juga merupakan foto Capela dos Ossos, namun yang terletak di Faro, Portugal. Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Fortheloveofwanderlust.com dalam artikelnya yang berjudul "Mengunjungi Kapel Tulang di Faro, Portugal".
    Kapel ini merupakan bagian dari gereja yang lebih besar, yakni Nossa Senhora do Carmo. Gereja ini selesai dibangun pada 1700-an, sementara Capela dos Ossos selesai dibangun pada 1816. Kapel tersebut dibangun dari tulang lebih dari 1.000 biarawan, dan dihiasi dengan lebih dari 1.200 tengkorak yang ditempatkan secara simetris di seluruh kapel.
    Gambar tangkapan layar artikel di situs Fortheloveofwanderlust.com yang memuat foto Capela dos Ossos di Faro, Portugal.
    Di atas pintu kapel, terdapat tulisan yang berbunyi "Para aqui a considerar que a este estado has-de chegar" yang artinya kurang lebih "Berhenti dan anggaplah bahwa keadaan ini akan menimpa kita semua". Pada abad ke-18, ketika kapel ini dibangun, penempatan tulang dan tengkorak di dinding tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap para biarawan.
    Penjelasan yang serupa terdapat dalam buku "Lonely Planet Best of Portugal". Dalam buku ini, tertulis bahwa Capela dos Ossos di Faro dibangun di belakang sebuah gereja yang bernama Nossa Senhora do Carmo. Gereja itu selesai dibangun pada 1719. "Capela dos Ossos dibangun pada abad ke-19, dipenuhi dengan tulang dan tengkorak lebih dari 1.000 biarawan sebagai pengingat ketidakkekalan duniawi."

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa gereja dalam foto itu, Capela dos Ossos, dibangun dari tulang-tulang umat Islam yang menolak dikristenkan, keliru. Foto-foto yang menyertai klaim itu merupakan foto dari dua Capela dos Ossos yang berbeda, yakni yang berlokasi di Evora dan di Faro, Portugal. Namun, keduanya tidak dibangun dari tulang umat Islam di Andalusia yang menolak dikristenkan. Tulang-tulang di Capela dos Ossos di Evora berasal dari makam-makam tua di Gereja San Francisco. Sementara Capela dos Ossos di Faro dibangun dari tulang lebih dari 1.000 biarawan.
    IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini