Akun Julinar Sinaga (fb.com/sehelaila) mengunggah sebuah video dengan narasi:
“*FKPPI dari Bandung sudah berkumpul di Monas, siap siaga segala kemungkinan terjadi apabila RUU HIP di-syahkan oleh DPR.*
*Revolusi jihad mati syahid atau hidup mulia, bela negara dari ancaman Komunisme..!*”
[SALAH] Video “FKPPI dari Bandung sudah berkumpul di Monas, siap siaga apabila RUU HIP di-syahkan oleh DPR”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 24/06/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa anggota Forum Keluarga Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri (FKPPI) dari Bandung sudah berkumpul di Monas, siap siaga segala kemungkinan terjadi apabila RUU HIP disahhkan oleh DPR adalah klaim yang salah.
Faktanya, video tersebut merupakan peristiwa lama. Kegiatan di video itu adalah kegiatan apel akbar FKPPI se-Indonesia di Monas pada 9 Desember 2017.
Medcom.id mengkonfirmasi langsung video itu kepada Ketua FKPPI Jawa Barat Yana Mulyana. Ia menegaskan video tersebut dibuat beberapa tahun lalu.
“Itu mah kegiatan apel akbar FKPPI se-Indonesia di Monas, sekitar 2 tahun lalu. Kebetulan kontingen dari Jabar yang terbesar mengirim anggotanya,” kata Yana yang juga Wakil Wali Kota Bandung ini kepada Medcom.id, Selasa 23 Juni 2020.
Medcom.id juga menelusuri mesin pencari terkait momen FKPPI melakukan apel akbar di Monas. Hasilnya, tidak ditemukan informasi valid bahwa FKPPI melakukan apel akbar dalam beberapa hari terakhir atau selama masa pandemi.
Justru apel akbar FKPPI di Monas tercatat pada Sabtu 9 Desember 2017. Disebutkan bahwa sebanyak 10 ribu kader bela negara FKPPI melakukan apel kebangsaan di lapangan Monas, Jakarta pada Sabtu pagi tersebut.
“Presiden Joko Widodo menjadi inspektur upacara dalam apel tersebut,” tulis Medcom.id dalam laporannya mengutip tayangan Metro TV pada Sabtu 9 Desember 2017. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi diangkat sebagai anggota kehormatan FKPPI. Pasalnya, Jokowi dianggap berkomitmen dalam menjaga ideologi Pancasila sebagai tombak kekuatan negara.
“Memutuskan dan menetapkan, Ir. H. Joko Widodo menjadi anggota kehormatan keluarga besar FKPPI. Dukungan bantuan sebagai anggota kehormatan FKPPI sangatlah diharapkan dalam pengembangan dan memajukan organisasi,” kata Sekretaris Jenderal FKPPI Bahriyoen Sucipto seperti dilansir Medcom.id, Sabtu 9 Desember 2017.
Faktanya, video tersebut merupakan peristiwa lama. Kegiatan di video itu adalah kegiatan apel akbar FKPPI se-Indonesia di Monas pada 9 Desember 2017.
Medcom.id mengkonfirmasi langsung video itu kepada Ketua FKPPI Jawa Barat Yana Mulyana. Ia menegaskan video tersebut dibuat beberapa tahun lalu.
“Itu mah kegiatan apel akbar FKPPI se-Indonesia di Monas, sekitar 2 tahun lalu. Kebetulan kontingen dari Jabar yang terbesar mengirim anggotanya,” kata Yana yang juga Wakil Wali Kota Bandung ini kepada Medcom.id, Selasa 23 Juni 2020.
Medcom.id juga menelusuri mesin pencari terkait momen FKPPI melakukan apel akbar di Monas. Hasilnya, tidak ditemukan informasi valid bahwa FKPPI melakukan apel akbar dalam beberapa hari terakhir atau selama masa pandemi.
Justru apel akbar FKPPI di Monas tercatat pada Sabtu 9 Desember 2017. Disebutkan bahwa sebanyak 10 ribu kader bela negara FKPPI melakukan apel kebangsaan di lapangan Monas, Jakarta pada Sabtu pagi tersebut.
“Presiden Joko Widodo menjadi inspektur upacara dalam apel tersebut,” tulis Medcom.id dalam laporannya mengutip tayangan Metro TV pada Sabtu 9 Desember 2017. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi diangkat sebagai anggota kehormatan FKPPI. Pasalnya, Jokowi dianggap berkomitmen dalam menjaga ideologi Pancasila sebagai tombak kekuatan negara.
“Memutuskan dan menetapkan, Ir. H. Joko Widodo menjadi anggota kehormatan keluarga besar FKPPI. Dukungan bantuan sebagai anggota kehormatan FKPPI sangatlah diharapkan dalam pengembangan dan memajukan organisasi,” kata Sekretaris Jenderal FKPPI Bahriyoen Sucipto seperti dilansir Medcom.id, Sabtu 9 Desember 2017.
Kesimpulan
Video Desember 2017. Kegiatan di video itu adalah kegiatan apel akbar FKPPI se-Indonesia di Monas pada 9 Desember 2017.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/ybDlJdpb-video-ormas-fkppi-kumpul-di-monas-siap-siaga-menentang-pengesahan-ruu-hip
- https://video.medcom.id/headline-news/GbmJa5Pk-10-ribu-kader-fkppi-ikuti-apel-kebangsaan-di-monas
- https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/1bV4qlPK-jokowi-diangkat-jadi-anggota-kehormatan-fkppi
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Banjir di Singapura pada 23 Juni 2020?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 24/06/2020
Berita
Foto yang memperlihatkan jalanan di sebuah kota yang terendam banjir beredar di media sosial. Dalam foto itu, terlihat pula deretan mobil yang terparkir di jalanan yang hampir seluruh bodinya tertutup air. Foto tersebut pun diklaim sebagai foto banjir di Singapura.
Foto ini beredar pasca banjir bandang yang melanda beberapa wilayah Singapura pada 23 Juni 2020. Sebelumnya, memang terjadi hujan lebat di beberapa daerah di Singapura, seperti Changi, Bedok, Jurong, dan Bukit Timah.
Di Facebook, foto tersebut diunggah salah satunya oleh akun M. Leha Solekhah. Akun ini juga menulis narasi, "Cukup heran klu singapore bisa bnjir kyk gini,,, Bedok." Hingga kini, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 1.000 kali.
Adapun di Twitter, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun @ivansiregar18. Akun ini menuliskan narasi, "Singapore Banjir." Hingga artikel ini dimuat, cuitan itu telah di-retweet lebih dari 700 kali dan disukai lebih dari 1.700 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook M. Leha Solekhah (kiri) dan akun Twitter @ivansiregar18 (kanan).
Apa benar foto tersebut adalah foto banjir di Singapura pada 23 Juni 2020?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri asal-usul foto tersebut denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa foto-foto itu telah beredar sejak 22 Mei 2020, sebelum terjadinya banjir di Singapura pada 23 Juni 2020. Foto itu merupakan foto banjir yang terjadi di Guangzhou, Guangdong, Cina.
Salah satu akun di Twitter, @redwallpusher, pernah mengunggah foto tersebut pada 22 Mei 2020. Akun ini juga membagikan tiga foto lain yang memperlihatkan banjir di Guangzhou saat itu. Akun itu pun memberikan keterangan, "Guangzhou today."
Sebuah akun di Weibo, situs microblogging Cina yang serupa dengan Twitter, juga pernah membagikan foto tersebut pada 23 Mei 2020. Akun yang bernama Alur Garis Emas itu pun mengunggah dua foto lain yang memperlihatkan kondisi Guangzhou. Akun ini menuliskan narasi, "Semua jenis ikan ada di jalan."
Dilansir dari situs Qq.com, pada 22 Mei pagi, hujan badai terjadi di Guangzhou, Dongguan, dan sejumlah wilayah lain. Hujan badai yang menyebabkan banjir ini menelan empat korban jiwa. Tanah longsor juga terjadi di Distrik Huangpu yang membuat empat rumah rusak. Banyak kendaraan yang terperangkap di Terowongan Kaiyuan Avenue.
Dikutip dari situs Sionins.com, pada 21 Mei malam, Guangzhou Meteorolocigal Observatory telah mengeluarkan peringatan bahwa akan terjadi hujan badai di daerah perkotaan pada 22 Mei pagi. Curah hujan yang terjadi pada pukul 20.20 hingga 07.25 itu mencapai 92,3 milimeter.
Akibat hujan lebat itu, jalan dan terowongan di Distrik Zengcheng dan Distrik Huangpu di Guangzhou terendam banjir. PICC P&C Guangzhou pun telah menerima lebih dari 3 ribu laporan asuransi mobil terkait dengan hujan badai tersebut. Sementara Ping An Property & Casualty Guangdong telah menerima sebanyak 81.199 laporan mobil yang tergenang.
Banjir di Singapura pada 23 Juni 2020
Dilansir dari Straitstimes.com, pada 23 Juni 2020 pagi, terjadi banjir bandang di Singapura. Beberapa lokasi yang terkena banjir tersebut adalah Jurong Town Hall Road, Opera Estate, persimpangan Bedok North Avenue 4-Upper Changi Road, dan New Upper Changi Road. Sebatang pohon juga dilaporkan tumbang di Bukit Timah Expressway yang menuju ke Pan-Island Expressway dekat pintu keluar Dairy Farm Road.
Curah hujan tertinggi, yakni sekitar 108,8 milimeter, tercatat di Bedok Selatan antara pukul 07.10 dan 0.05. Curah hujan ini melebihi setengah curah hujan bulanan rata-rata Singapura pada Juni. Antara pukul 07.15 dan 08.35, volume hujan disebut setara dengan sekitar 880 kolam ukuran Olimpiade yang jatuh. Banjir bandang pertama dilaporkan terjadi pada pukul 08.30 pagi dan surut dalam 10-20 menit.
Berdasarkan arsip berita Tempo, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) sekitar pukul 06.30 pagi telah memperingatkan bahwa hujan sedang hingga deras akan terjadi di sejumlah besar wilayah Singapura. "PUB (Dewan Utilitas Publik) mengatakan banjir bandang dapat terjadi jika hujan deras," tulis NEA di Twitter.
Pada pukul 11.00, NEA menyatakan bahwa hujan diperkirakan akan terus berlanjut di berbagai wilayah Singapura hingga siang hari. Dikutip dari Channel News Asia, terlihat kendaraan serta warga yang melewati banjir setinggi lutut. Di Upper Changi Road, dekat stasiun pemadam kebakaran Changi, sebuah ambulans dan truk terlihat melaju melewati banjir.
Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) mengatakan bahwa petugas stasiun pemadam kebakaran Changi mendapati sejumlah kendaraan berhenti di depan stasiun mereka karena banjir. "Lima belas petugas pemadam kebakaran segera memberikan bantuan kepada pengemudi, penumpang, dan pejalan kaki yang terdampar," kata SCDF. Petugas pemadam juga memindahkan dua kendaraan dari daerah yang terdampak.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah foto banjir di Singapura pada 23 Juni 2020 keliru. Foto itu merupakan foto banjir di Guangzhou, Guangdong, Cina, pada 22 Mei 2020. Meskipun begitu, di Singapura, memang terjadi banjir bandang pada 23 Juni 2020.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/WyvUq
- http://archive.ph/kFWDC
- https://twitter.com/redwallpusher/status/1263669384230268928
- https://www.weibo.com/2092902070/J3epZdiqy?type=comment#_rnd1592974682992
- https://xw.qq.com/partner/standard/20200524A04JSV/20200524A04JSV00?ADTAG=standard&pgv_ref=standard
- http://xw.sinoins.com/2020-05/22/content_344964.htm
- https://www.straitstimes.com/singapore/flash-floods-after-heavy-rainfall-on-tuesday-morning
- https://dunia.tempo.co/read/1357182/hujan-deras-singapura-dilanda-banjir-bandang/full&view=ok
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mencium Cuka Bisa Deteksi Covid-19 Tanpa Perlu Rapid Test?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 24/06/2020
Berita
Klaim bahwa mencium cuka bisa mendeteksi infeksi virus Corona Covid-19 beredar di media sosial. Klaim itu terdapat dalam sebuah tautan artikel dari blog Media Viral Indonesia yang berjudul "Tak Perlu Ikutan Rapid Tes, Mencium Cuka Bisa Deteksi Apakah Kita Terkena Virus Atau Tidak, Begini Caranya".
Artikel yang dipublikasikan pada 19 Juni 2020 itu mengutip unggahan akun Facebook US Army Garrison Daegu. Sejak 3 April, Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) di pangkalan militer Daegu, Korea Selatan, menerapkan tes mencium cuka bagi para pendatang untuk mendeteksi apakah mereka terpapar Covid-19. Hal ini dilakukan karena adanya penelitian bahwa beberapa pasien Covid-19 kehilangan indra penciumannya.
Salah satu akun di Facebook yang membagikan tautan artikel tersebut adalah akun Penyejuk Hati, yakni pada 19 Juni 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 2.300 kali, dikomentari lebih dari 250 kali, dan direspons lebih dari 4.700 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Penyejuk Hati.
Artikel ini akan berisi pemeriksaan fakta terhadap dua hal, yakni:
Hasil Cek Fakta
Klaim pertama
Untuk memeriksa klaim pertama, Tim CekFakta Tempo menelusuri sumber yang digunakan oleh blog Berita Viral Indonesia itu, yakni unggahan akun Facebook US Army Garrison Daegu. Hasilnya, memang benar bahwa Tentara Angkatan Darat AS di Garnisun Daegu, Korea Selatan, menerapkan tes mencium cuka. Hal ini diumumkan pada 3 April 2020.
Menurut unggahan akun US Army Garrison Daegu, mereka melakukan tes penciuman di gerbang masuk Kamp Walker, Carroll, dan Henry untuk membantu mendeteksi personil atau tamu yang mungkin terinfeksi Covid-19. Unggahan tersebut juga menyertakan sebuah foto saat seorang pengemudi dites penciuman di Gerbang 2 Kamp Henry.
Situs media Newsweek pun pernah memuat informasi itu, yakni pada 5 April 2020. Tujuan tes penciuamn ini adalah untuk mengidentifikasi pendatang yang mungkin terpapar Covid-19 dengan gejala hilangnya indra penciuman. Menurut juru bicara US Forces Korea (USFK), tes penciuman itu merupakan tambahan dalam prosedur pemantauan Covid-19 yang meliputi pemeriksaan suhu tubuh dan pengisian kuesioner penilaian tentang kondisi kesehatan.
Dengan demikian, informasi bahwa Tentara Angkatan Darat AS di Garnisun Daegu, Korea Selatan, memberlakukan tes mencium cuka untuk mendeteksi Covid-19 benar adanya.
Klaim kedua
Meskipun tes mencium cuka diterapkan oleh Tentara Angkatan Darat AS di Korea Selatan, apa benar mencium cuka bisa mendeteksi Covid-19? Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, sejauh ini, tidak ada penelitian yang bisa membuktikan apakah metode tersebut efektif dalam mendeteksi infeksi virus Corona Covid-19. Menurut laporan Newsweek, tes mencium cuka itu adalah inisiatif Garnisun Daegu dan tidak diketahui apakah garnisun lain mengadopsi kebijakan serupa.
British Association of Otorhinolaryngology (ENT UK) memang pernah menyebut hilangnya kemampuan indra penciuman atau anosmia sebagai salah satu gejala pasien Covid-19. Sekitar 30 persen orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Korea Selatan mengalami anosmia, terutama pada mereka yang mengalami gejala ringan.
Soal hilangnya kemampuan indra penciuman pada pasien Covid-19 ini juga pernah disinggung dalam sebuah studi yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Madicine pada 11 Mei 2020. Studi itu menyebut, dari 18.401 responden yang menjalani tes Covid-19, proporsi responden yang melaporkan hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa lebih tinggi mereka yang hasil tesnya positif (4.668 dari 7.178 responden atau 65,03 persen) ketimbang mereka yang hasil tesnya negatif (2.436 dari 11.223 responden atau 21,71 persen).
Meskipun begitu, tidak semua kasus hilangnya kemampuan indra penciuman ini berkorelasi dengan Covid-19. Dilansir dari National Geographic, Direktur Pusat Bau dan Rasa Universitas Florida di Gainesville, Steven Munger, menjelaskan bahwa hingga 40 persen orang dengan infeksi virus lain, seperti influenza atau flu biasa, juga kehilangan kemampuan indra penciuman untuk sementara waktu. Kondisi ini juga umum terjadi pada penderita alergi.
Gangguan penciuman yang berkepanjangan, yang mempengaruhi 3-20 persen dari populasi umum, lebih banyak diderita oleh orang tua. Namun, hilangnya penciuman juga bisa disebabkan oleh trauma kepala yang parah, penyakit neurodegeneratif, atau polip hidung yang menghalangi aliran udara dan harus diangkat melalui pembedahan. "Mengapa bau mendapat begitu banyak perhatian?" tanya Munger. “Orang-orang takut, dan kami berusaha memahami penyakit ini. Kami berusaha meraih berbagai hal untuk membantu kami mengenali Covid-19 sedini mungkin. "
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS ( CDC ) memang telah memasukkan hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa dalam daftar gejala yang bisa muncul pada penderita Covid-19, di antara gejala lain seperti demam, batuk, sulit bernapas, kelelahan, sakit otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung berair, mual atau muntah, dan diare. Namun, menurut CDC, gejala-gejala ini tidak selalu dimiliki oleh semua penderita Covid-19.
Pengujian Covid-19 yang akurat
Untuk benar-benar memastikan apakah seseorang yang memiliki gejala-gejala di atas, termasuk kehilangan penciuman, terinfeksi Covid-19, mereka harus menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) yang telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) selama pandemi Covid-19.
Dilansir dari Livescience.com, tes PCR bekerja dengan mendeteksi bahan genetik spesifik dalam virus tersebut. Tergantung pada jenis PCR yang dipakai, petugas kesehatan mengambil sampel air liur dari bagian belakang tenggorokan, sampel cairan dari saluran pernapasan bawah, atau sampel tinja.
Saat sampel tiba di laboratorium, peneliti akan mengekstrak asam nukleat yang menyimpan genom virus. Kemudian, peneliti dapat memperkuat bagian genom tertentu dengan teknik yang dikenal sebagai transkripsi terbalik PCR. Hal ini akan memberikan peneliti sebuah sampel yang lebih besar yang dapat mereka cocokkan dengan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.
Terkait rapid test atau uji cepat, belum direkomendasikan karena akurasinya rendah. Menurut Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Berry Juliandi, kepada Tim CekFakta Tempo pada 26 Mei 2020, akurasi rapid test rendah karena sangat bergantung pada jumlah antibodi yang dikeluarkan tubuh saat terjadinya infeksi SARS-CoV-2. Apabila antibodi yang dikeluarkan sedikit, yang dipengaruhi oleh genetika seseorang, hasil rapid test bisa menjadi negatif.
Faktor kedua, rendahnya antibodi sangat bergantung pada durasi waktu sejak seseorang pertama kali terinfeksi. Seseorang yang baru terinfeksi, antibodinya masih rendah. “Sehingga, saat rapid test, hasilnya negatif. Padahal, sebenarnya, dia sudah positif Covid-19,” kata Berry.
Karena itu, waktu terbaik untuk melakukan rapid test minimal pada hari ke-7 setelah terinfeksi dan seterusnya, saat jumlah antibodi cukup banyak. Namun, kendalanya, tidak diketahui kapan seseorang mulai terinfeksi SARS-CoV-2. Sehingga, menurut Berry, rapid test lebih tepat digunakan hanya sebagai penapisan atau skrining orang-orang yang pernah terinfeksi.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, judul artikel di blog Media Viral Indonesia, yakni "Tak Perlu Ikutan Rapid Tes, Mencium Cuka Bisa Deteksi Apakah Kita Terkena Virus Atau Tidak, Begini Caranya", menyesatkan. Tidak mampunya seseorang mencium cuka bukan berarti orang tersebut terinfeksi Covid-19. Ada sejumlah faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan indra penciuman. Untuk memastikan positif atau tidaknya seseorang menderita Covid-19, harus dilakukan tes PCR.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://media-viral-indonesia.blogspot.com/2020/06/tak-perlu-ikutan-rapid-tes-mencium-cuka.html?fbclid=IwAR1S8ZFqRK5DjdIAIySTEdcsg_ujesfV5lcP8N5JCGU7YiJYr7IQfAJmvas
- https://web.archive.org/web/20200624052217/
- https://www.facebook.com/penyejukhattii/posts/474127426759874?_rdc=1&_rdr
- https://www.facebook.com/USAGDaegu/photos/a.310204301795/10158203377866796/?type=3&theater
- https://www.newsweek.com/smell-test-us-military-base-south-korea-apple-vinegar-screening-1496183
- https://www.newsweek.com/smell-test-us-military-base-south-korea-apple-vinegar-screening-1496183
- https://www.nature.com/articles/s41591-020-0916-2
- https://www.nationalgeographic.com/science/2020/04/lost-your-sense-of-smell-it-may-not-be-coronavirus/
- https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/symptoms.html
- https://www.livescience.com/how-coronavirus-tests-work.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/796/fakta-atau-hoaks-benarkah-tes-pcr-tak-bisa-tunjukkan-jenis-virus-corona-covid-19
[SALAH] Video “Hukuman mati bagi koruptor uang negara di Korea Utara”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/06/2020
Berita
Akun Nur Budi (fb.com/nur.budi.39566) mengunggah sebuah video dengan narasi “Mantappp ……”
Di video yang ia unggah, terdapat narasi “Hukuman mati bagi koruptor uang negara di Korea Utara. di bawah ada kandang buaya” dan “Presiden Korea Utara menggandeng pejabatnya yang terlibat korupsi”
Dalam video itu, Kim Jong Un dan pria tersebut terlihat melangkah bersama untuk melewati sebuah pembatas. Sesaat setelah melompati pembatas itu, tanah di bawah pria tersebut terbuka, dan pria itu masuk ke dalam lubang yang tak lama kemudian tertutup.
Di video yang ia unggah, terdapat narasi “Hukuman mati bagi koruptor uang negara di Korea Utara. di bawah ada kandang buaya” dan “Presiden Korea Utara menggandeng pejabatnya yang terlibat korupsi”
Dalam video itu, Kim Jong Un dan pria tersebut terlihat melangkah bersama untuk melewati sebuah pembatas. Sesaat setelah melompati pembatas itu, tanah di bawah pria tersebut terbuka, dan pria itu masuk ke dalam lubang yang tak lama kemudian tertutup.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, bahwa ada video eksekusi mati koruptor uang negara di Korea Utara oleh Presiden Korea Utara Kim Jong Un dengan cara memasukkan koruptor ke lubang kandang buaya adalah klaim yang salah.
Klaim dan video tersebut adalah Hoaks Lama Beredar Kembali. Pada September 2019, klaim ini sudah pernah dibuatkan artikel periksa fakta di turnbackhoax.id pada artikel berjudul “[SALAH] Narasi “Presiden Korea Utara menghukum pejabatnya yang korupsi”
Video yang dibagikan adalah suntingan video acara pertemuan Kim Jong-un dengan Moon Jae-in di zona DMZ perbatasan Korea untuk merundingkan perdamaian yang berasal dari situs hiburan Funmoments[dot]nl, yang diunggah di kanal Youtube Funmoments.nl – Video’s pada 30 April 2018 dengan judul “Kim’s welcome surprise”
Video yang identik pernah diunggah oleh CNN pada 27 April 2018 dengan judul “The moment Kim Jong Un crossed to the South”. Video itu merupakan video ketika Kim Jong Un bersama Presiden Korea Selatan Moon Jae In bertemu untuk mendiskusikan perjanjian perdamaian Korea dan denuklirisasi.
Tempo pun pernah mengunggah video peristiwa bersejarah tersebut di kanal YouTube Tempodotco dengan judul “Kim Jong Un Genggam Tangan Moon Jae In Lewati Perbatasan Korea” dan keterangan “Kim juga mengundang Moon untuk melangkah sebentar melintasi garis demarkasi ke Korea Utara, sebelum mereka kembali ke Korea Selatan”.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 27 April 2018, Kim Jong Un menjadi pemimpin Korea Utara pertama yang masuk ke wilayah Korea Selatan sejak berakhirnya perang Korea pada 1953 guna menghadiri pertemuan bersejarah antar kedua negara.
Moon Jae In secara pribadi menyambut Kim Jong Un dengan jabatan tangan di desa perbatasan Panmunjom di wilayah demiliterasi (DMZ) antar kedua negara. Keduanya berfoto bersama sebelum kemudian melintas batas demarkasi sambil bergandengan tangan, guna memulai pertemuan antar kedua negara yang dilakukan pertama kali dalam lebih dari 10 tahun terakhir.
Klaim dan video tersebut adalah Hoaks Lama Beredar Kembali. Pada September 2019, klaim ini sudah pernah dibuatkan artikel periksa fakta di turnbackhoax.id pada artikel berjudul “[SALAH] Narasi “Presiden Korea Utara menghukum pejabatnya yang korupsi”
Video yang dibagikan adalah suntingan video acara pertemuan Kim Jong-un dengan Moon Jae-in di zona DMZ perbatasan Korea untuk merundingkan perdamaian yang berasal dari situs hiburan Funmoments[dot]nl, yang diunggah di kanal Youtube Funmoments.nl – Video’s pada 30 April 2018 dengan judul “Kim’s welcome surprise”
Video yang identik pernah diunggah oleh CNN pada 27 April 2018 dengan judul “The moment Kim Jong Un crossed to the South”. Video itu merupakan video ketika Kim Jong Un bersama Presiden Korea Selatan Moon Jae In bertemu untuk mendiskusikan perjanjian perdamaian Korea dan denuklirisasi.
Tempo pun pernah mengunggah video peristiwa bersejarah tersebut di kanal YouTube Tempodotco dengan judul “Kim Jong Un Genggam Tangan Moon Jae In Lewati Perbatasan Korea” dan keterangan “Kim juga mengundang Moon untuk melangkah sebentar melintasi garis demarkasi ke Korea Utara, sebelum mereka kembali ke Korea Selatan”.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 27 April 2018, Kim Jong Un menjadi pemimpin Korea Utara pertama yang masuk ke wilayah Korea Selatan sejak berakhirnya perang Korea pada 1953 guna menghadiri pertemuan bersejarah antar kedua negara.
Moon Jae In secara pribadi menyambut Kim Jong Un dengan jabatan tangan di desa perbatasan Panmunjom di wilayah demiliterasi (DMZ) antar kedua negara. Keduanya berfoto bersama sebelum kemudian melintas batas demarkasi sambil bergandengan tangan, guna memulai pertemuan antar kedua negara yang dilakukan pertama kali dalam lebih dari 10 tahun terakhir.
Kesimpulan
Hoaks Lama Beredar Kembali. Video yang dibagikan adalah suntingan video acara pertemuan Kim Jong-un dengan Moon Jae-in di zona DMZ perbatasan Korea untuk merundingkan perdamaian yang berasal dari situs hiburan Funmoments[dot]nl.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2019/09/19/salah-narasi-presiden-korea-utara-menghukum-pejabatnya-yang-korupsi/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/843/fakta-atau-hoaks-benarkah-ini-video-kim-jong-un-yang-eksekusi-mati-koruptor-di-korea-utara
- https://edition.cnn.com/videos/world/2018/04/27/kim-jong-un-moon-meet-moment-lon-orig-bks.cnn/video/playlists/north-south-koreas-summit/
- https://www.youtube.com/watch?v=I4YQsPpBAq0
- https://www.tempo.co/abc/1727/pemimpin-korea-utara-dan-korea-selatan-bertemu-di-panmunjom
Halaman: 7400/8518





