• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Tocilizumab adalah Obat yang 90 Persen Bisa Sembuhkan Covid-19 Meski Pasien Kritis?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/05/2020

    Berita


    Klaim bahwa para ilmuwan telah menemukan obat baru yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19, meskipun pasien dalam kondisi kritis, beredar di media sosial. Menurut klaim itu, obat tersebut adalah Tocilizumab, dengan nama dagang Actemra.
    Di Facebook, klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Teng Teng, yakni pada 30 Maret 2020. Klaim tersebut berasal dari artikel di situs Goodmothers.raulaz.com yang berjudul "Alhamdulillah,Ilmuan Temukan Obat Baru Untuk Virus C0R0NA, Sembuhkan 90% Meski Kondisi Pasien Kritis".
    Artikel yang terbit pada 28 Maret 2020 ini menyebut bahwa sumber dari informasi itu adalah Tribunnewswiki.com. Menurut artikel tersebut, Tocilizumab diproduksi oleh perusahaan farmasi Swiss Roche dan biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi.
    Dalam artikel itu, disebutkan pula bahwa uji coba pertama obat tersebut hasilnya efektif. Terdapat pasien Covid-19 di dua rumah sakit di Anhui, Cina, yang kondisinya kritis. Mereka pun diberi Tocilizumab secara rutin pada 5-14 Februari 2020. Keduanya diklaim bisa disembuhkan. Lima belas dari 20 pasien yang terlibat dalam percobaan obat itu juga dapat menurunkan asupan oksigen.
    Uji coba obat ini menyimpulkan, "Tocilizumab adalah pengobatan yang efektif pada pasien Covid-19 yang parah." Di Cina, penelitian terkait obat tersebut masih terus berjalan. Dalam uji klinis, obat itu sudah diujicobakan pada 188 pasien dan terus berjalan hingga 10 Mei 2020. Perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, Genetech, juga menguji coba obat ini, apakah bisa digunakan di AS.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Teng Teng.
    Apa benar Tocilizumab adalah obat yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19 meskipun pasien dalam kondisi kritis?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo memeriksa pemberitaan di media-media kredibel serta penelitian di berbagai jurnal ilmiah mengenai penggunaan Tocilizumab atau Actemra untuk menyembuhkan pasien Covid-19.
    Dilansir dari FiercePharma, pada akhir Februari 2020, ilmuwan di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina memang menemukan hasil yang menjanjikan pada 14 pasien Covid-19 yang parah dan kritis yang dirawat dengan obat-obatan yang tersedia, termasuk Actemra, di rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Sains dan Teknologi Cina (USTC).
    Para ilmuwan di sana telah memulai uji klinis acak untuk mengevaluasi pengaplikasian obat tersebut. Berdasarkan laporan Regitrasi Uji Klinis Cina, para ilmuwan tersebut mendaftarkan 188 pasien, yang setengahnya menggunakan Actemra.
    Meskipun begitu, Actemra tidak secara langsung membunuh virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Actemra berfungsi menghambat reseptor interleukin 6 (IL-6), sebuah sitokin proinflamasi. Ilmuwan USTC dan kelompok penelitian lain menduga IL-6 adalah penyebab utama dalam reaksi berlebihan kekebalan tubuh atau badai sitokin pada pasien Covid-19.
    Saat terjangkit Covid-19, tubuh dapat merespons patogen dengan memproduksi sel-sel kekebalan secara berlebihan dalam sebuah fenomena berbahaya yang disebut badai sitokin. Peradangan paru-paru serupa terjadi pada pasien SARS selama wabah di tahun 2003, terutama di Cina. Pada awal Maret 2020, otoritas Cina merekomendasikan penggunaan Actemra terbatas bagi pasien Covid-19 yang mengalami badai sitokin yang berpotensi merusak jaringan paru-paru.
    Di AS, Tocilizumab juga sedang diuji klinis kepada pasien Covid-19. Pada akhir April 2020, uji klinis oleh University of California (UC) San Diego Health ini telah memasuki fase ketiga. Uji klinis tersebut bertujuan untuk menilai apakah obat itu dapat digunakan sebagai terapi bagi pasien Covid-19 yang memiliki kerusakan paru-paru serius.
    Pada uji klinis ketiga ini, UC San Diego Health melakukan percobaan intervensi acak dengan mendaftarkan sekitar 330 peserta di hampir 70 lokasi di seluruh dunia. Peserta harus berusia 18 tahun ke atas dan dirawat di rumah sakit dengan diagnosis pneumonia Covid-19. Studi ini diperkirakan selesai pada 30 September 2020.
    Namun, menurut penelitian lain yang diterbitkan pada 22 Mei 2020 di European Journal of Internal Medicine berjudul "Efficacy and safety of tocilizumab in severe Covid-19 patients: a single-centre retrospective cohort study", tidak terdapat peningkatan klinis dan kematian yang signifikan secara statistik antara pasien dengan pengobatan Tocilizumab dan pasien dengan perawatan standar.
    Penelitian yang dilakukan terhadap 65 pasien ini, yang 32 di antaranya dirawat dengan Tocilizumab, juga mencatat infeksi bakteri atau jamur pada 13 persen pasien dengan Tocilizumab serta pada 12 persen pasien perawatan standar. "Konfirmasi kemanjuran dan keamanan membutuhkan uji coba terkontrol yang berkelanjutan," demikian kesimpulan dalam studi tersebut.
    Menurut dokumen Penilaian Bukti untuk Perawatan Terkait Covid-19 yang diterbitkan oleh ASHP (American Society of Health-System Pharmacists) Advancing Healthcare, penggunaan Tocilizumab di Cina memang menjanjikan. Tapi, di Italia, dua dari enam (33 persen) pasien Covid-19 yang memiliki pneumonia dan dirawat dengan Tocilizumab meninggal.
    Mengutip panel National Institutes of Health dalam panduan perawatan Covid-19, tidak terdapat data klinis yang cukup untuk merekomendasikan atau menentang penggunaan Tocilizumab sebagai pengobatan Covid-19. Peran pengukuran sitokin rutin dalam menentukan tingkat keparahan dan pengobatan Covid-19 masih membutuhkan studi lebih lanjut.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Tocilizumab adalah obat yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19 meskipun pasien dalam kondisi kritis belum bisa dibuktikan. Penelitian mengenai efektivitas obat nyeri sendi ini dalam perawatan pasien Covid-19 masih dilakukan oleh sejumlah ilmuwan, baik di Cina maupun di AS.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesan Berantai Soal Virus Hanya Bisa Dikalahkan Antibodi Ini Berasal dari Dekan IPB?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/05/2020

    Berita


    Pesan berantai yang diklaim bersumber dari Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Sri Nurdiati, beredar di media sosial. Pesan berantai yang beredar di tengah pandemi Covid-19 ini memuat narasi bahwa virus hanya bisa dikalahkan oleh antibodi.
    Berikut ini isi lengkap pesan berantai tersebut:
    "Inilah nasihat pakar yg benar. Memberikan pencerahan dan harapan, tidak menakut-nakuti tapi menguatkan.
    sumber:DR. Ir. Hj. Sri Nurdiati (Dekan FMIPA IPB dan Dosen Biokimia IPB):
    Banyak orang nggak sadar pentingnya "ANTIBODI" stoknya harus selalu ada. Orang lebih panik masker atau hand sanitizer hilang di pasaran. Harusnya kita lebih panik kalau "ANTIBODI" hilang di tubuh, karena virus tidak mungkin dihindari.
    Point penting dari diskusi:1. Virus itu hanya bisa dikalahkan oleh "ANTIBODI"2. "Antibodi" yg di dlm tubuh itu kyk pabrik, kadang banyak kadang sedikit.3. Supaya produksi "anti bodi" banyak, sering konsumsi vitamin C dan E setiap hari serta berjemur Sinar Matahari Pagi.`Jangan remehkan pentingnya Olahraga rutin.4. Virus itu ngga mungkin dihindari, jadi pasti selalu ada, contohnya kalau bersin, bisa dipastikan ada virus disitu. Bersin indikasi tubuh menolak.5. Kalau berhasil tembus ke hidung dekat tenggorokan, tubuh akan batuk, tanda menolak.6. Kalau masih tembus juga, baru demam. Kalau masih tembus juga, barulah "antibodi" keluar dr pabrik utk melawan perang dgn virus.7. Kelemahan virus itu sm sabun. Kalau ngga ada hands sanitizer, pake sabun apa saja bisa bahkan sabun cuci piring jg bisa. Dlm 3-5 menit, virus akan mati sama sabun.8. Selama 14 hari "antibodi" kita akan merekam virus ini dan disimpan dlm sel memori di otak.9. Jadi kalau kita sembuh dan suatu saat kena corona lagi, sel memori ini akan aktif dlm 24 jam (ngga perlu menunggu 14 hari lagi).
    Jadi, mari kita lebih fokus ke dalam tubuh dgn meyakinkan "STOCK ANTIBODI" cukup alias vitamin C/E rutin dikonsumsi dan Berjemur Sinar Matahari yg paling mudah.
    Catatan tambahan dari Redaksi:Sumber vitamin C dan E terdapat pada Buah2an, kacang2an dan sayur2an, antara lain:Jeruk Manis/nipisTomat, Buah NagaJambu Biji, ManggaKacang Tanah, MaduKacang Hijau, BayamJahe dan rempah2Pucuk MelinjoPucuk Kates
    Semoga bermanfaat untk kita semua & masyarakat...Terus semangat berusaha melawan Virus Covid 19 & jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar di beri kesehatan,kekuatan,dan keselamatan kita sekeluarga, segenap bangsa Indonesia."
    Gambar tangkapan layar pesan berantai tentang virus dan antibodi yang beredar di WhatsApp yang diklaim bersumber dari salah satu dekan IPB.
    Apa benar pesan berantai di atas bersumber dari Dekan FMIPA IPB, Sri Nurdiati?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dengan plagiarism checker tool, pesan berantai yang identik telah beredar sebelumnya di media sosial pada pertengahan April 2020. Di Facebook, sebagian isi pesan tersebut diunggah oleh akun Jobs in Indonesia. Akun ini menulis bahwa informasi itu berasal dari situs Beritanow.com.
    Dalam artikelnya pada 16 April 2020 yang berjudul "Banyak Yang Tidak Tahu: Ini Rahasia Imunitas Tubuh", situs Beritanow.com memang memuat pesan berantai yang isinya sama dengan pesan berantai yang beredar saat ini.
    Namun, dilansir dari situs resmi IPB, Sri Nurdiati membantah bahwa ia pernah menulis pesan berantai itu. "Bukan saya yang menulisnya. Akibatnya, saya harus mengklarifikasi pertanyaan yang datang bertubi-tubi ke saya, bahwa itu bukan tulisan saya," kata Sri pada 20 April 2020.
    Meskipun begitu, Sri menyatakan bahwa pesan berantai itu berisi informasi yang positif, tentang bagaimana memperkuat antibodi di dalam tubuh manusia. "Namun sayang, artikel itu mencantumkan nama saya, lengkap dengan jabatan dan institusi saya," ujarnya.
    Dalam pernyataan itu, Sri juga menambahkan tips tentang bagaimana menjaga hidup agar tetap sehar di tengah pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya adalah stay at home, menerapkan social distancing, menggunakan masker, rajin mencuci tangan, istirahat dan olahraga yang cukup, makan makanan sehat dan bergizi, serta mengkonsumi vitamin dan mineral.
    Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo pada 19 Februari 2020, dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Iris Rengganis, mengatakan bakteri dan virus, termasuk virus Corona Covid-19, memang rentan masuk saat daya tahan atau imunitas tubuh melemah.
    Menurut Iris, imunitas tubuh bisa dijaga dan diperbaiki dengan pola hidup sehat, yakni konsumsi makanan bernutrisi, beraktivitas fisik secara rutin, tidur yang cukup, dan rajin minum air putih untuk mendetoksifikasi racun. "Kurang tidur dan stres bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi," tuturnya.
    Imunitas bukan satu-satunya kunci melawan pandemi
    Peneliti epidemiologi Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Henry Surendra, mengatakan, secara epidemiologi, pandemi bisa dikendalikan dengan tiga cara, yaitu menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi, memutus rantai penularan, dan melindungi kelompok populasi yang berisiko terinfeksi. “Aspek imunitas individu ataupunherd immunity(imunitas kawanan) masuk ke dalam salah satu upaya melindungi populasi berisiko,” kata Henry kepada Tim CekFakta Tempo  pada 13 Mei 2020.
    Namun, imunitas sendiri cukup kompleks dan spesifik. Untuk mencegah penularan pada level individu saat pandemi Covid-19, jalannya adalah melalui vaksinasi. Tapi, sampai saat ini, belum ada vaksin untuk memberikan imunitas pada seseorang dalam melawan virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
    Vaksinasi juga sangat bermanfaat untuk mencegah penularan pada level populasi, yakni dengan memvaksin sebagian besar populasi. Untuk Covid-19, diperkirakan memerlukan 70 persen populasi yang divaksin agar tercapaiherd immunity.Peningkatan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi atau suplemen tidak serta-merta bisa membuat seseorang terhindar dari penyakit ketika terpapar virus Corona. “Tentu ini keliru,” kata Henry.
    Tanpa vaksin, menurut Henry, seseorang yang terpapar virus Corona bakal terinfeksi. Pasca infeksi, kondisi tubuh kemungkinan bisa membantu mempercepat respons terhadap virus dengan cara memproduksi antibodi. Karena belum ada vaksin untuk Covid-19 dan pandemi memerlukan respons cepat, tindakan yang paling tepat adalah memutus rantai penularan dengan menjaga jarak aman, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan sebagainya.
    Aspek psikologi pun berperan. Sebab, saat seseorang khawatir berlebihan, kesehatan mentalnya dapat terganggu, kemudian mengakibatkan daya tahan tubuh menurun. Namun, Henry mengingatkan bahwa aspek psikologi hanya satu dari sekian banyak aspek dalam pandemi. “Untuk saat ini, upaya-upaya memutus rantai penularanlah yang paling signifikan dampaknya dalam penanggulangan pandemi,” kata Henry.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai soal virus hanya bisa dikalahkan oleh antibodi di atas bukan berasal dari Dekan FMIPA IPB, Sri Nurdiati. Dalam pernyataan tertulisnya, Sri menjelaskan bahwa ia tidak pernah membuat pesan berantai tersebut.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekf akta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Mamah Dedeh Meninggal Dunia

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 27/05/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyatakan bahwa Ustazah kenamaan yang karib disapa Mamah Dedeh meninggal dunia. Ustazah bernama asli Dedeh Rosidah dikabarkan meninggal tanggal 26 Mei 2020 pukul 22.28 WIB di Eka Hospital Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Innaa lillaahi wa inna illaihi Roojiuun..
    Telah berpulang ke Rahmatullah Ustazdah tercinta panutan muslim tanah air, MAMAH DEDEH pada hari selasa tanggal 26 Mei 2020 , pukul 22.28 WIB ,karena sakit di EKA HOSPITAL BUMI SERPONG DAMAI TANGERANG BANTEN.????????”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Dilansir dari wartakota.tribunnews.com, Abdel Achrian atau dikenal dengan Cing Abdel yang pernah menjadi pendamping di acara Mamah dan AA di Indosiar menuliskan pada Instastory akunnya bahwa kabar tersebut tidak benar.

    “Banyak yang nanya kabar lewat WA soal Mamah Dedeh, Alhamdulillah sudah ditelpon beliau sehat saja. Gak bener tuh kabar meninggal," tulis Abdel pada Instastory akun (@abdelachrian).

    Senada dengan Abdel, Ustaz Yusuf Mansyur pun menyatakan hal yang sama. Ia menyatakan bahwa dirinya baru saja berkomunikasi dengan Mamah Dedeh. “Masih hidup, barusan saya ngebel diangkat,” ungkap Yusuf Mansyur (27/5) kepada beepdo.com.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pesan berantai yang menyatakan Mamah Dedeh meninggal pada 26 Mei 2020 tidak benar. Konten pesan berantai itu masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Dokter Italia Temukan Sebab Kematian Covid-19 adalah Bakteri Bukan Virus?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/05/2020

    Berita


    Pesan berantai yang menyebut dokter di Italia menemukan bahwa penyebab kematian pada pasien Covid-19 adalah bakteri, bukan virus, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Menurut narasi itu, hal ini menyebabkan penggumpalan darah yang disebut koagulasi intravaskular diseminata (DIC) atau trombosis sehingga bisa disembuhkan dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan.
    Di bagian awal pesan berantai itu, terdapat judul yang berbunyi "Di Italia Obat untuk Coronavirus Akhirnya Ditemukan". Kemudian, terdapat narasi, "Dokter Italia, tidak mematuhi hukum kesehatan dunia WHO, untuk tidak melakukan otopsi pada kematian Coronavirus dan mereka menemukan bahwa BUKANLAH VIRUS, tetapi BAKTERIlah yang menyebabkan kematian. Ini menyebabkan gumpalan darah terbentuk dan menyebabkan kematian pasien."
    Pesan berantai tersebut juga memuat klaim, "Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah 'Koagulasi intravaskular diseminata' (Trombosis). Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan 'antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan'. Menurut ahli patologi Italia. 'Ventilator dan unit perawatan intensif tidak pernah dibutuhkan.'"
    Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp.
    Bagaimana kebenaran klaim-klaim dalam pesan berantai di atas?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi isi dari pesan berantai tersebut, Tim CekFakta Tempo melakukan riset di situs-situs kredibel, baik dalam maupun luar negeri, lewat mesin pencarian Google.
    Klaim 1: Covid-19 disebabkan oleh bakteri, bukan virus, sehingga bisa disembuhkan dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan
    Fakta:
    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis virus Corona baru yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Virus Corona adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis virus Corona diketahui menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia, mulai dari batuk dan pilek hingga yang lebih serius, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus Corona jenis baru yang menyebabkan Covid-19 diberi nama SARS-CoV-2.
    Dilansir dari India Today, ahli pulmonologi dari Max Hospital India, Sharad Joshi, juga menyatakan bahwa klaim "Covid-19 disebabkan oleh bakteri, bukan virus" keliru. Menurut Joshi, Covid-19 adalah infeksi virus. Infeksi bakteri sekunder, sepsis, dan koagulasi intravaskular diseminata (DIC) memang bisa terjadi. Namun, sebagai akibat dari komplikasi yang umum ditemukan pada semua penyakit virus.
    Karena itu, pemberian antibiotik kepada pasien Covid-19 ditujukan untuk melawan infeksi bakteri sekunder. Menurut Direktur Rumah Sakit Lok Nayak Jai Prakash Narayan India, Suresh Kumar, secara ilmiah, tidak ada peran antibiotik untuk mengobati Covid-19. "Antibiotik diberikan untuk melawan infeksi bakteri sekunder atau kolateral," ujarnya.
    Dikutip dari artikel cek fakta FullFact, Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menyatakan bahwa anti-inflamasi non-steroid dengan dosis rendah, seperti ibuprofen, bisa digunakan untuk menurunkan demam atau rasa nyeri akibat Covid-19. NHS merekomendasikan, "Cobalah paracetamol terlebih dahulu, karena memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang ibuprofen dan merupakan pilihan yang lebih aman bagi kebanyakan orang."
    Adapun antikoagulan, obat untuk mencegah pembekuan darah, telah dikaitkan dengan hasil yang lebih baik pada pasien Covid-19 tertentu. British Thoracic Society telah mempublikasikan panduan tentang dosis yang direkomendasikan dari heparin dengan berat molekul rendah pada pasien Covid-19 yang terkonfirmasi atau diduga mengalami trombosis.
    Klaim 2: Penyebab kematian pada pasien Covid-19 adalah koagulasi intravaskular diseminata (DIC) atau trombosis, bukan pneumonia
    Fakta:
    Dilansir dari The Journal Irlandia, sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara Covid-19 dengan trombosis. Ada pula pemeriksaan yang menghubungkan Covid-19 dengan DIC. Namun, keliru jika mengklaim bahwa pasien Covid-19 telah salah didiagnosa mengidap pneumonia. Faktanya, pasien dengan Covid-19 yang parah sering mengalami pneumonia.
    Dikutip dari FullFact, pneumonia merupakan komplikasi yang paling umum terjadi pada pasien Covid-19 yang parah. Menurut sebuah penelitian, baik pneumonia maupun DIC bisa dialami pada waktu yang sama oleh pasien Covid-19. "Trombosis paru-paru merupakan faktor yang bisa mempersulit jalannya pneumonia pada pasien Covid-19," demikian penjelasan FullFact.
    Dilansir dari artikel cek fakta Correctiv, memang terdapat penelitian oleh dokter di Italia pada 22 April 2020, namun belum menjalanipeer-reviewatau tinjauan sejawat, yang menemukan pasien Covid-19 dengan trombosis. Karena itu, mereka mengusulkan penggunaan antikoagulan. Namun, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis.
    Selain pneumonia, WHO telah mendaftarkan trombositopenia sebagai kemungkinan komplikasi dalam kasus kritis Covid-19 sejak akhir Januari. Trombositopenia adalah penurunan jumlah trombosit yang meningkatkan risiko trombosis. Karena itu, WHO juga menyarankan penggunaan antikoagulan heparin dengan berat molekul rendah pada pasien remaja dan dewasa yang tidak memiliki kontraindikasi. Jika memiliki kontraindikasi, WHO menyarankan untuk menggunakan alat kompresi pneumatik intermiten.
    Klaim 3: Ventilator dan unit perawatan intensif (ICU) tidak pernah dibutuhkan oleh pasien Covid-19
    Fakta:
    Menurut WHO, sekitar 80 persen penderita Covid-19 akan sembuh tanpa memerlukan perawatan rumah sakit. Tapi satu dari enam penderita bakal mengalami sakit yang parah. Dikutip dari BBC, dalam kasus yang parah ini, virus akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru sehingga kadar oksigen dalam tubuh menurun dan membuat penderita sulit bernapas. Untuk meringankan kasus ini, ventilator digunakan untuk mendorong udara, dengan meningkatkan kadar oksigen, ke paru-paru.
    Selain itu, ventilator memiliki pelembab udara, yang menambah panas dan kelembaban pada pasokan udara sehingga sesuai dengan suhu tubuh pasien. Pasien pun diberi obat untuk mengendurkan otot-otot pernapasan sehingga napas mereka dapat sepenuhnya diatur oleh mesin. Pasien dengan gejala lebih ringan dapat diberi corong yang dikenal sebagai ventilasi non-invasif, karena tidak memerlukan pipa internal. Bentuk ventilasi lainnya adalah tekanan saluran napas positif kontinyu (CPAP).
    Dilansir dari India Today, berdasarkan penjelasan para praktisi kesehatan senior, tidak semua pasien Covid-19 membutuhkan ventilator dan ICU. Mereka yang membutuhkan ventilator dan ICU adalah pasien Covid-19 dengan kondisi kritis atau mengalami kegagalan multi-organ. Sergio Harasi, Direktur Unit Operasi Pneumologi Rumah Sakit San Giuseppe Italia, mengatakan, "Sebagian besar kematian Covid-19 disebabkan oleh pneumonia interstisial dan gagal napas. Klaim bahwa pasien tidak seharusnya diintubasi patut dipertanyakan."

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim-klaim dalam pesan berantai di atas keliru. Covid-19 disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Antibiotik diberikan kepada pasien Covid-19 yang mengalami infeksi bakteri sekunder. Anti-inflamasi diberikan untuk menurunkan demam atau rasa nyeri akibat Covid-19. Adapun antikoagulan direkomendasikan bagi pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Beberapa penelitian memang menemukan pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Namun, menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis keliru. Selain trombosis, pasien Covid-19 kebanyakan meninggal karena pneumonia dan gagal napas. Terkait klaim ventilator dan ICU tidak dibutuhkan oleh pasien Covid-19, juga keliru.
    IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini