• [SALAH] Ellen DeGeneres Membagikan Bantuan Untuk Virus Corona di Facebook

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 24/05/2020

    Berita

    Beredar postingan dari akun Mam Ellen’s yang menyatakan dirinya adalah Ellen DeGeneres, pembawa acara ternama dari Amerika Serikat, dan berkeinginan membagi-bagikan uang kepada 10 ribu pengguna Facebook yang beruntung.

    Berikut kutipan narasinya:

    “✅MY NAME "ELLEN DEGENERES" BECAUSE BRONZE CORONA VIRUS I WANT TO HELP 10,000 FACEBOOK FIRST USER MEMBERS ...
    Tell me, how much money do you need now? Choose the first letter of your name and you will receive a gift of your choice.
    Do it now with faith ... !!!
    [A] 3. $ 3,000,000
    [B] 2,000 $ 2,000,000
    [C] 800 $ 800,000
    [D] 1,000 $ 1,000,000
    [E] 3. $ 3,000,000
    [F] 1,000 $ 1,000,000
    [G] ???????? $ 200,000
    [H] 1,000 $ 1,000,000
    [I] 6 $ 6,000,000
    [J] 7 $ 7,000,000
    [K] 800 $ 800,000
    [L] ???????? $ 3,000,000
    [M] 2,000 $ 2,000,000
    [N] 5,000 $ 5,000,000
    [O] 1,000 $ 1,000,000
    [P] 4 $ 4,000,000
    [Q] 600 $ 600,000
    [R] 1,000 $ 1,000,000
    [S] ???????? $ 300,000
    [T] 8 $ 8,000,000
    [U] 3. $ 3,000,000
    [V] 1,000 $ 1,000,000
    [W] 6 $ 6,000,000
    [X] 900 $ 900,000
    [S] 7 $ 7,000,000
    [Z] 10,000 $ 10,000,000
    Share this post in 5-7 groups now. The more action the more chances to win. Your money will be sent 30 minutes after you send us a message, please don't ignore this, this might be your chance. Your time starts now. Good luck and God bless you!
    Prepare $ 1,000,000.00 million for you today”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa akun tersebut bukan milik Ellen DeGeneres. Konten postingan semacam itu sudah sering muncul dan diperiksa faktanya oleh snopes.com. Dalam lamannya, Snopes menyatakan bahwa modus semacam itu bertujuan untuk membangun pengikut (follower) atas akun yang mengatasnamakan selebriti.

    Setelah mendapatkan banyak “like” atau komentar maka akun tersebut akan dijual kepada pihak lain. Modus seperti juga berpotensi digunakan sebagai user data mining oleh para penipu dan di beberapa kasus tertentu ada konten yang menyebarkan malware.

    Untuk mengetahui perbedaan akun Ellen DeGeneres yang asli dapat dilihat dari label centang biru di sebelah namanya. Di Facebook, akun Ellen DeGeneres yang terverifikasi ialah Ellen DeGeneres (https://web.facebook.com/ellentv/). Bila ada akun lain mengatasnamakan pembawa acara ternama tersebut tanpa centang biru maka dapat dipastikan akun tersebut palsu.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut merupakan akun palsu. Dengan demikian, konten tersebut masuk ke dalam kategori Imposter Content atau Konten Tiruan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Liputan 6
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “PENJELASAN AHLI VIRUS BAHWA CORONA TIDAK MEMBUNUH”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 23/05/2020

    Berita

    Akun Ditaleni Rafia (fb.com/slankcooters.jombang) mengunggah video dengan narasi sebagai berikut:

    “DENGARKAN DAN SIMAK BAIK BAIK PENJELASAN AHLI VIRUS
    TENTANG COVID 19
    *BAHWA CORONA TIDAK MEMBUNUH*”

    Video yang diunggah adalah wawancara Jawa Pos TV dengan Mohammad Indro Cahyono. Wawancara itu membahas seputar virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.

    Narasi “virus Corona tidak membunuh” memang berasal dari pernyataan Indro dalam wawancara tersebut, terutama pada bagian akhir segmen, mulai menit 7:18. Pernyataan itu dilontarkan Indro untuk menjawab presenter yang bertanya mengenai prediksi darinya soal kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

    Indro menjawab bahwa virus Corona sebenarnya tidak tahan lama. Apabila masyarakat melakukan gerakan massal untuk hidup bersih, minum vitamin, dan cuci tangan, pandemi akan selesai dalam 2-3 minggu. Namun, dia menganggap permasalahan pandemi Covid-19 ini bergeser ke persoalan lockdown.

    “Sebenarnya, intinya kan di virusnya. Kalau kita tahu virusnya tidak berbahaya. Ya, (virus) ini memang akan menimbulkan penyakit, tapi tidak menimbulkan kematian. Belum tentu menimbulkan kematian bagi manusia normal. Nah, kalau ini terjadi ini, tidak ada kehebohan itu semua,” katanya.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2 tidak membunuh adalah klaim yang menyesatkan.

    Hingga 22 Mei 2020, jumlah kematian akibat Covid-19 di dunia telah mencapai 323.256 orang dan di Indonesia 1.326 orang. Pasien yang meninggal karena Covid-19 bukan saja mereka yang memiliki penyakit penyerta dan berusia tua, melainkan juga kelompok usia muda dan tanpa penyakit penyerta.

    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, wawancara Jawa Pos TV dengan Mohammad Indro Cahyono dilakukan pada 7 April 2020. Jawa Pos TV memberikan keterangan bahwa Indro adalah seorang ahli virus atau virolog. Namun, dalam video itu, tidak dijelaskan bahwa Indro sebenarnya merupakan dokter hewan.

    Indro adalah lulusan Universitas Gajah Mada. Sejak 2006, ia bekerja di Badan Penelitian Veteriner (Balitvet), sebuah unit yang berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian. Di Balitvet, Indro bertugas sebagai peneliti di Laboratorium Virologi. Pada 2018, Indro keluar dari Balitvet dan menjadi peneliti di kantor swasta.

    Dilihat dari latar belakang tersebut, Indro sebenarnya adalah ahli kesehatan atau ahli virus pada hewan, bukan ahli virus pada manusia. Ia juga tidak terlibat dalam penanganan klinis pasien yang terinfeksi Covid-19. Dengan alasan ini, Tempo perlu memeriksa klaim Indro dalam wawancaranya dengan Jawa Pos TV di atas.

    Untuk memverifikasi klaim Indro itu, Tempo mewawancarai ahli epidemiologi Universitas Padjajaran, Panji Fortuna Hadisoemarto, dan dokter spesialis paru sekaligus juru bicara Tim Penanganan Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan. Tempo juga menggunakan data-data dari pemberitaan terkait.

    Saat dihubungi pada 22 Mei 2020, Panji mengatakan bahwa pernyataan Indro itu bertolak belakang dengan fakta yang ada. SARS-CoV-2 telah menyebabkan kematian pasien di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kasus kematian tidak hanya menimpa pasien di kelompok usia tua, melainkan juga di kelompok usia lainnya. “Faktanya, sudah banyak kematian di mana-mana, tingkat kematian sudah cukup tinggi,” kata Panji.

    Orang berusia tua dan yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas, kata Panji, memang menjadi kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Covid-19. Akan tetapi, mereka yang berusia lebih muda dan tanpa penyakit penyerta juga punya risiko untuk terinfeksi. Kelompok ini, meski tanpa gejala, juga berisiko menularkan kepada sesama.

    Menurut Panji, virus Corona memang memiliki banyak jenis, yang mana beberapa di antaranya menyebabkan flu biasa. Namun, beberapa jenis virus Corona juga menyebabkan kematian, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS), pun SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. “SARS-CoV-2 ini adalah jenis virus Corona baru, bukan virus Corona yang menyebabkan flu biasa,” katanya.

    Panji juga menyatakan bahwa pandemi Covid-19 tidak mungkin selesai dalam waktu 2-3 minggu. Merujuk kasus pertama yang dilaporkan di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, infeksi Covid-19 masih terus terjadi sampai hari ini. Itu berarti pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung hampir tiga bulan.

    Erlina menjelaskan hal serupa. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan kematian dengan risiko terbesar pada orang tua dan yang memiliki penyakit penyerta. Meskipun begitu, sekitar 15-20 persen pasien yang tidak memiliki penyakit penyerta bisa terinfeksi SARS-CoV-2.

    Menurut Erlina, mereka yang tidak memiliki penyakit penyerta bisa terinfeksi saat imunitasnya turun, sebagai dampak dari stres atau kurang istirahat. Saat SARS-CoV-2 menginfeksi dan terjadi replikasi virus yang cukup besar pada organ tubuh, hal ini dapat memicu badai sitokin. “Ini yang bisa merusak sistem organ lain dan bisa menyebabkan kematian,” kata Erlina.

    Sitokin adalah protein kecil yang dilepaskan oleh banyak sel berbeda di dalam tubuh, termasuk sistem kekebalan tubuh tempat mereka mengkoordinasikan respons terhadap infeksi. Reaksi yang berlebihan memicu peradangan. Pada beberapa pasien, tingkat sitokin tidak terkontrol yang kemudian mengaktifkan lebih banyak sel imun menghasilkan hiperinflamasi. Pada akhirnya, hal itu dapat membahayakan atau bahkan membunuh pasien.

    Tingkat kematian Covid-19 di dunia 6,6 persen
    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus Covid-19 di seluruh dunia per 22 Mei 2020 mencapai 4.893.186 kasus dengan 323.256 orang meninggal. Tingkat kematian Covid-19 di dunia sebesar 6,6 persen. Adapun tingkat kematian Covid-19 di Indonesia mencapai 6,4 persen, dengan jumlah kematian sebanyak 1.326 orang.

    Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengumumkan bahwa kasus meninggal akibat Covid-19 di Indonesia paling banyak dialami oleh kelompok rentang usia 30-59 tahun, yakni sebanyak 351 orang dari total kematian sebesar 773 orang per 28 April 2020. Jumlah kasus kematian terbanyak kedua adalah pada kelompok rentang usia 60-79 tahun, yaitu 302 orang. Kemudian, pada rentang usia 0-4 tahun dua orang, rentang usia 5-14 tahun tiga orang, dan rentang usia 15-29 tahun 19 orang.

    Mencuplik data kasus Covid-19 di New York dalam Worldometers, kasus kematian Covid-19 di sana juga terjadi pada seluruh rentang usia, yakni usia 0-17 tahun (0,06 persen), 18-44 tahun (3,9 persen), 45-64 tahun (22,4 persen), 65-74 tahun (24,9 persen), dan 75 tahun ke atas (48,7 persen).

    Erlina pun mengingatkan bahwa kasus kematian tidak bisa hanya dilihat sebagai angka statistik. Sebab, setiap kematian memiliki dampak sosial, baik terhadap keluarga terdekat ataupun lingkungan sekitarnya.

    Kesimpulan

    Pernyataan bahwa virus Corona baru penyebab Covid-19, SARS-CoV-2 tidak membunuh itu bertolak belakang dengan fakta yang ada. Hingga 22 Mei 2020, jumlah kematian akibat Covid-19 di dunia telah mencapai 323.256 orang dan di Indonesia 1.326 orang. Pasien yang meninggal karena Covid-19 bukan saja mereka yang memiliki penyakit penyerta dan berusia tua, melainkan juga kelompok usia muda dan tanpa penyakit penyerta.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video Bimbim Slank Komunisme/PKI

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 23/05/2020

    Berita

    Akun NyaiBack (@CintaNKRI08) mengunggah sebuah video Bimbim Slank mengucapkan selamat ulang tahun. Dalam narasi penyertanya akun tersebut mengaitkan video Bimbim dengan komunisme dan PKI.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Selama Dirimu Mimpin Jow @jokowi. Semua Terang Benderang Ttg Komunisme , Salah Satu Pndukung setia mu Mantan pemakai Narkoba ,ternyata Saya Tahu siapa dia sekarang ? #RakyatKompakTumpasPKI”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Pencarian dilakukan dengan melihat ada logo bertuliskan “Boedoet” di video tersebut. Dari hasil pencarian ditemukan video serupa dari akun Boedoet 40 (@Boedoetcus).

    Pada twit akun tersebut tanggal 21 Mei 2020 jam 4.30 terdapat narasi Bimbim mengucapkan ulang tahun kepada sekolah Boedi Oetomo. “Masih suasana #Boedoet112tahun. Kali ini ucapan selamat ulang tahun dari Bimbim slank,” twit akun @Boedoetcus.

    Selain itu, akun Slank Band (@slankdotcom) memberikan klarifikasi terkait isi video tersebut. Dalam twitnya, akun tersebut menyatakan bahwa video tersebut ucapan selamat ulang tahun dari Bimbim Slank kepada sekolah Boedi Oetomo yang ke 112.

    “Kita lurusin ya guys, di video ini #Bim2x ngucapin selamat hari jadi Boedoet yang diakhiri kalimat ‘peace always.’ Coba dengerin pelan-pelan, pakai headphone biar jelas. Nggak baik nyebarin fitnah/hoax, apalagi di bulan suci,” cuit akun @slankdotcom.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim narasi tidak benar dan menyesatkan. Oleh sebab itu, konten twit Twitter tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Medcom.id
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Daftar Virus yang Berasal dari China

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 23/05/2020

    Berita

    Akun Facebook Mark Alexander White mengunggah gambar yang diikuti narasi pada tanggal 8 Maret 2020, yang isi narasinya mengklaim daftar beberapa virus yang berasal dari China.

    Berikut narasinya:

    “MORE LEFT WING FACEBOOK CENSORSHIP
    As famously said “a picture says it all”

    Hasil Cek Fakta

    Dilansir dari factcheck.afp.com, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), virus Influenza H2N2 dan H3N2 pertama kali dilaporkan di Singapura pada tahun 1957 dan di Amerika Serikat pada tahun 1968, sedangkan virus H5N1 yang menyebabkan penyakit pernapasan parah yang sangat menular pada burung atau dikenal sebagai "Flu Burung" pertama kali dilaporkan pada angsa di provinsi Guangdong, China pada tahun 1996, sedangkan kasus pertama manusia yang terinfeksi H5N1 dilaporkan di Hong Kong pada tahun 1997.

    Kemudian SARS, penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh Coronavirus yang berhubungan dengan SARS-CoV pertama kali terdeteksi di provinsi Guangdong, China Selatan pada tahun 2002.

    Berikutnya Flu Babi, disebabkan oleh virus Influenza H1N1 yang pertama kali dilaporkan di AS pada tahun 2009, juga Pestivirus Porcine, yaitu virus hewan yang secara resmi dikenal sebagai Atypical Porcine Pestivirus (APPV) yang pertama kali terdeteksi di antara anak babi di Austria pada tahun 2013, yang terakhir COVID-19, adalah penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus, virus ini pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, Cina pada Desember 2019, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Kesimpulan

    Atas penjelasan tersebut informasi yang mengklaim daftar virus yang berasal dari China adalah tidak benar dan masuk ke dalam kategori konten yang salah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • AFP
    • ANTARA News
    • 3 media telah memverifikasi klaim ini