Beredar sebuah unggahan di Facebook, unggahan tersebut menyebutkan jika foto yang diunggah merupakan foto Jalan Tol CISUMDAWU (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Berikut kutipan narasinya:
“Biar para kampreet pda kejang kejang.”
Narasi pada gambar:
“Jokowi Hebat
Jalan Tol terkeren di Indonesia, CISUMDAWU(CILEUNYI-SUMEDANG-DAWUAN), yang membelah gunung dan masuk gunung, memungkinkan Bandung<>Tegal ditempuh hanya dalam 2 jam, Bandung<>Semarang hanya 3.5 jam.”
[SALAH] CISUMDAWU Jalan Tol Terkeren Di Indonesia
Sumber: facebook.comTanggal publish: 10/05/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, isu tersebut sudah pernah beredar dan sudah dibahas dalam artikel periksa fakta berjudul “[SALAH] Foto penampakan tol Cisumdawu, Cileunyi-Sumedang-Dawuan yang memangkas dan menerobos bukit” pada 25 Maret 2019 di turnbackhoax.id. Diketahui bahwa, gambar jalan itu merupakan Jalan Raya D400 Mersin-Antalya di Turki.
Selain itu video yang memperlihatkan jalan tersebut juga sempat diunggah dalam akun youtube Mesut Aygar pada 20 September 2017.
Selain itu video yang memperlihatkan jalan tersebut juga sempat diunggah dalam akun youtube Mesut Aygar pada 20 September 2017.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, foto yang diunggah tersebut merupakan foto jalanan di D400 Mersin-Antalaya, Turki. Maka informasi tersebut masuk ke dalam Konten Yang Salah.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/05/10/salah-cisumdawu-jalan-tol-terkeren-di-indonesia/
- http://turnbackhoax.id/2019/03/25/salah-foto-penampakan-tol-cisumdawu-cileunyi-sumedang-dawuan-yang-memangkas-dan-menerobos-bukit/
- https://www.youtube.com/watch?v=CT1g3JBzUhQ
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/165/fakta-atau-hoaks-benarkah-jalan-yang-membelah-gunung-ini-adalah-jalan-tol-cileunyi-sumedang-dawuan
- https://jabar.idntimes.com/news/jabar/rochmanudin-wijaya/foto-jokowi-unggah-foto-tol-cisumdawu-ini-penampakan-dari-satelit-regional-jabar
[SALAH] Berdamai dengan Corona yang Dimaksud Jokowi adalah Pemerintah Telah Kalah dan Menyerah
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/05/2020
Berita
Akun Facebook Ichwan Bettaer Rais II memposting narasi pada 8 Mei 2020 yang isi narasinya mengklaim berdamai dengan virus Corona yang dimaksud Jokowi adalah pemerintah telah kalah dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Postingan itu diikuti dengan tangkapan layar milik portal media tribunkaltim.co juga postingan twitter milik beritasatu dan detikcom.
Berikut kutipan narasinya:
“ASTAGHFIRULLAH, KEMARIN
"BERSAMA KITA LAWAN VIRUS CORONA" SEKARANG "AYO KITA BERDAMAI DNGN
VIRUS CORONA" ARTINYA PEMERINTAH TELAH KALAH DAN MENGIBARKAN BENDERA PUTIH TANDA MENYERAH.” Unggah akun Facebook Ichwan Bettaer Rais II, Jumat (8/4).
Berikut kutipan narasinya:
“ASTAGHFIRULLAH, KEMARIN
"BERSAMA KITA LAWAN VIRUS CORONA" SEKARANG "AYO KITA BERDAMAI DNGN
VIRUS CORONA" ARTINYA PEMERINTAH TELAH KALAH DAN MENGIBARKAN BENDERA PUTIH TANDA MENYERAH.” Unggah akun Facebook Ichwan Bettaer Rais II, Jumat (8/4).
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri tidak ditemukan pernyataan dalam artikel tersebut bahwa yang dimaksud Jokowi berdamai dengan virus Corona adalah pemerintah yang telah kalah dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dalam melawan virus Corona.
Dikutip dari cnnindonesia.com, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus Corona adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19.
"Bahwa Covid itu ada dan kita berusaha agar Covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena Covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan," kata Bey melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5).
Bey juga menambahkan, saat ini Covid-19 memang belum ada antivirusnya, namun masyarakat bisa mencegah tertular dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak. Menurut Bey, hal ini adalah hidup normal dengan cara baru.
"Ya, artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal. Tatanan kehidupan baru," ujarnya.
Dikutip dari cnnindonesia.com, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus Corona adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19.
"Bahwa Covid itu ada dan kita berusaha agar Covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena Covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan," kata Bey melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5).
Bey juga menambahkan, saat ini Covid-19 memang belum ada antivirusnya, namun masyarakat bisa mencegah tertular dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak. Menurut Bey, hal ini adalah hidup normal dengan cara baru.
"Ya, artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal. Tatanan kehidupan baru," ujarnya.
Kesimpulan
Atas penjelasan tersebut klaim yang menyebutkan bahwa yang dimaksud Presiden Joko Widodo berdamai dengan virus Corona adalah pemerintah telah kalah dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dalam melawan virus Corona adalah tidak benar dan masuk ke dalam kategori konten yang salah.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/05/09/salah-berdamai-dengan-corona-yang-dimaksud-jokowi-adalah-pemerintah-telah-kalah-dan-menyerah/
- https://news.detik.com/berita/d-5005575/jokowi-selama-belum-ditemukan-vaksin-kita-harus-berdamai-dengan-covid-19
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200508093126-20-501191/istana-luruskan-maksud-jokowi-hidup-berdamai-dengan-corona
- https://nasional.kompas.com/read/2020/05/08/06563101/jokowi-sebut-hidup-berdamai-dengan-covid-19-apa-maksudnya
- https://nasional.okezone.com/read/2020/05/08/337/2210889/presiden-jokowi-ajak-berdamai-dengan-corona-apa-maksudnya
- https://news.detik.com/berita/d-5005575/jokowi-selama-belum-ditemukan-vaksin-kita-harus-berdamai-dengan-covid-19
[SALAH] Cara Ganti Background Facebook Jadi Foto Sendiri
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/05/2020
Berita
Beredar postingan yang mengenai tata cara mengganti background atau latar belakang Facebook menjadi foto sendiri. Dalam narasi postingan tersebut, cara untuk mengganti latar belakang tersebut melalui lima langkah, yakni mengirimkan spam huruf “P” di komentar lima kali, membagikan postingan tersebut ke lima grup, masuk ke grup ‘Made In +62,’ dan menuliskan ‘sudah’ di komentar.
Berikut kutipan narasinya:
“Mau tau cara ganti background Facebook jadi Poto sendiri ?
Nih caranya ???? No Hoax????
1. Spam ⏩P⏪ di komentar 5 kali
2. Share postingan ini ke 5 Grup
3. Lalu masuk grup ⏩ ===Made In +6262 <=== ⏪
4. Komen "sudah" “
Berikut kutipan narasinya:
“Mau tau cara ganti background Facebook jadi Poto sendiri ?
Nih caranya ???? No Hoax????
1. Spam ⏩P⏪ di komentar 5 kali
2. Share postingan ini ke 5 Grup
3. Lalu masuk grup ⏩ ===Made In +6262 <=== ⏪
4. Komen "sudah" “
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Mengacu kepada hasil temuan tim Cek Fakta Liputan6 dengan mengontak Juru Bicara Facebook Indonesia, diketahui bahwa Facebook belum ada fitur mengganti latar belakang.
"Belum ada fitur seperti ini," demikian keterangan Juru Bicara Facebook Indonesia, Jumat (8/5/2020) kepada tim Cek Fakta Liputan6.
Lalu, penelusuran dilakukan melalui mesin pencarian, diketahui bahwa pengubahan latar belakang Facebook harus menggunakan aplikasi lain atau menggunakan ekstensi pada peramban. Sebab, di dalam Facebook tidak terdapat fitur untuk mengganti tampilan latar belakang. Adapun, fitur yang ada pada tampilan Facebook terbaru ialah fitur dark mode.
"Belum ada fitur seperti ini," demikian keterangan Juru Bicara Facebook Indonesia, Jumat (8/5/2020) kepada tim Cek Fakta Liputan6.
Lalu, penelusuran dilakukan melalui mesin pencarian, diketahui bahwa pengubahan latar belakang Facebook harus menggunakan aplikasi lain atau menggunakan ekstensi pada peramban. Sebab, di dalam Facebook tidak terdapat fitur untuk mengganti tampilan latar belakang. Adapun, fitur yang ada pada tampilan Facebook terbaru ialah fitur dark mode.
Kesimpulan
Dari hasil pencarian tersebut, dapat dikatakan bahwa pengubahan latar belakang Facebook bisa dilakukan namun harus menggunakan aplikasi atau program lain yang tidak berasal dari Facebook. Berdasarkan hal itu, maka klaim bahwa penggantian latar belakang Facebook dengan mengikuti tata cara yang tersebar itu tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1180316525634214/
- https://turnbackhoax.id/2020/05/09/salah-cara-ganti-background-facebook-jadi-foto-sendiri/
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4248642/cek-fakta-hoaks-tutorial-mengganti-background-facebook
- https://www.dream.co.id/techno/cek-fakta-hoax-tutorial-ganti-background-facebook-2005085.html
- https://www.tweakandtrick.com/2010/10/change-facebook-theme.html
- https://www.theverge.com/21252289/facebook-desktop-redesign-web-dark-mode-how-to-available
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Klaster Penyebaran Corona Terbesar di Indonesia adalah 10 ribu Pendeta GBI dan GPIB?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 09/05/2020
Berita
Narasi bahwa klaster penyebaran virus Corona Covid-19 terbesar di Indonesia adalah 10 ribu pendeta GBI (Gereja Bethel Indonesia) dan GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) beredar di media sosial. Narasi itu juga menuding bahwa para pendeta tersebut membawa virus Corona dari Italia dan Israel.
Salah satu akun di Facebook yang membagikan narasi tersebut adalah akun Rae Chandra, yakni pada 5 Mei 2020. Narasi ini disertai dengan sejumlah gambar tangkapan layar berita media online tentang sejumlah pendeta dari berbagai gereja yang menularkan Covid-19 kepada jemaatnya. Gereja-gereja itu adalah Gereja Bethel Bandung, Gereja Shinceonji, dan gereja di Korea Selatan.
"Ternyata Klaster penyebar Covid-19 terbanyak dgn jejaring terbesar di Indonesia adalah 10.000 lebih pendeta GBI & GPIB dari seluruh Indonesia yang bawa covid-19 dari Itali dan Israel. Itu laporan ke pekerja medis pemerintah, tapi kenapa itu tak diberitakan melalui media agar semua jadi waspada demi mengurangi penyebaran lebih lanjut dari kelompok terpapar?" demikian bunyi narasi tersebut.
Dalam narasinya, akun itu kemudian menuding bahwa ada diskriminasi dari media karena hanya mengekspos kelompok Islam Jamaah Tabligh sebagai klaster penyebar Covid-19. "Yang di-'blow up' di media nasional malah kelompok Islam 'jamaah tabligh' yang hanya beberapa orang, diwajib kan semua kyai untuk di Rapid Test (semuanya terbukti negatif) dan digaungkannya perintah menutup mesjid dan larangan sholat jamaah di mesjid termasuk di daerah2 yg bukan zona beresiko. Tak hanya aneh, tapi juga ngeri."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Rae Chandra.
Apa benar klaster penyebaran Corona terbesar di Indonesia adalah 10 ribu pendeta GBI dan GPIB?
Hasil Cek Fakta
Klaim bahwa 10 ribu pendeta GBI dan GPIB menjadi klaster terbesar penyebaran virus Corona Covid-19 tidak memiliki dasar. Sebab, dari total kasus positif Covid-19 di Indonesia per 8 Mei 2020 yang mencapai 13.112 kasus, jumlah pendeta GBI dan GPIB yang positif Covid-19 tidak mencapai 10 ribu orang.
Dua kegiatan GBI dan GPIB memang menjadi salah satu klaster awal penyebaran Covid-19 di Jawa Barat, yakni Persidangan Sinode Tahunan GPIB di Hotel Aston, Bogor, pada 28-29 Februari 2020 dan seminar keagamaan GBI di Lembang, Bandung, pada 3-5 Maret 2020.
Dilansir dari Kompas.com, dari Persidangan Sinode Tahunan GPIB yang dihadiri 600 perserta itu, terdapat satu peserta dari Bandar Lampung dan empat jemaat dari Bogor yang dinyatakan positif Covid-19. Wali Kota Bogor Bima Arya juga dinyatakan positif Covid-19 usai menghadiri acara itu.
Adapun dari seminar keagamaan GBI tersebut, salah satu pimpinan GBI yang menghadiri seminar itu dinyatakan positif Covid-19 dan meninggal dunia. Kemudian, dari hasil rapid test terhadap 637 jemaat GBI, 226 di antaranya dinyatakan positif Covid-19.
Beragamnya klaster penularan Covid-19
Meskipun begitu, dua kegiatan GBI dan GPIB itu bukan satu-satunya klaster penularan Covid-19 di Jawa Barat. Klaster lainnya di Jawa Barat adalah Seminar Masyarakat Tanpa Riba di Hotel Darmawan Park, Sentul, pada 25-28 Februari 2020 yang dihadiri oleh 200 orang serta Musyawarah Daerah Hipmi Jawa Barat di Hotel Swiss-Belinn, Karawang, pada 9-10 Maret 2020.
Episentrum Covid-19 pun sudah menyebar hampir ke semua provinsi dengan klaster beragam. Di Jawa Timur misalnya, pada pekan pertama April 2020, terdapat sedikitnya 21 klaster penularan Covid-19. Klaster terbesar adalah kegiatan pelatihan petugas haji di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 8-19 Maret 2020. Hingga 25 April 2020, dari kegiatan itu, terdapat 81 orang yang tertular. Adapun klaster terbaru di Jawa Timur adalah pabrik rokok Sampoerna di Surabaya di mana terdapat 65 karyawan yang positif Covid-19.
Klaster Ijtima Gowa menjadi salah satu klaster penularan Covid-19 terbesar di Jawa Tengah. Diperkirakan, terdapat 1.500 warga Jawa Tengah yang mengikuti Ijtima Gowa di Sulawesi Selatan. Meskipun acara itu dibatalkan, sejumlah peserta terlanjur datang ke lokasi.
Dilansir dari Solopos.com, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut jumlah kasus Covid-19 dari klaster tersebut mencapai lebih dari 50 orang. Mereka tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Sukoharjo, Karanganyar, Wonosobo, Banjarnegara, dan lain-lain.
Di Kalimantan Selatan, dari 199 kasus positif Covid-19 per 5 Mei 2020, 137 di antaranya berasal dari klaster Ijtima Gowa tersebut. Adapun di Kalimantan Timur, kasus positif Covid-19 yang berasal dari klaster Ijtima Gowa mencapai 112 orang dari total kasus Covid-19 di Kalimantan Timur yang sebanyak 168 kasus.
Tidak terkait agama tertentu
Penularan Covid-19 sejatinya tidak terkait ataupun dibawa oleh agama tertentu. Adanya klaster GBI dan GPIB serta klaster Ijtima Gowa menunjukkan bahwa kerumunan orang dalam jumlah besar, termasuk di acara keagamaan, menyebabkan semakin cepatnya penularan Covid-19.
Beberapa ahli menyarankan masyarakat untuk menjaga jarak sosial atau social distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona Covid-19. Jarak sosial untuk individu, menurut Harvard Health, adalah jarak yang cukup antara satu orang dengan orang lainnya untuk mengurangi risiko terpaparnya droplet dari orang terinfeksi yang batuk atau bersin. Penelitian menunjukkan virus flu dapat menyebar sejauh 182-243 centimeter lewat batuk atau bersin.
William Schaffner, profesor dari Universitas Vanderbilt dan penasihat untuk Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), mengingatkan bahwa Covid-19 harus menjadi perhatian utama bagi orang di atas 60 tahu dan mereka yang memiliki masalah kesehatan bawaan, seperti penyakit jantung atau paru-paru, diabetes, dan sebagainya. "Satu-satunya hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk menghindari virus adalah mengurangi kontak langsung dengan orang lain," ujar Schaffner.
Menurut kepala koresponden medis CBS News Jon LaPook, meskipun mungkin tidak cukup untuk menghentikan virus sepenuhnya, menjaga jarak sosial telah terbukti membantu memperlambat penyebaran penyakit di masa lalu, termasuk saat pandemi flu 1918. "Kota-kota yang melakukan jaga jarak sosial bertahan lebih baik daripada yang tidak," katanya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa klaster penyebaran virus Corona Covid-19 terbesar di Indonesia adalah 10 ribu pendeta GBI dan GPIB adalah klaim yang keliru. Dari total kasus positif Covid-19 di Indonesia per 8 Mei 2020 yang mencapai 13.112 kasus, jumlah pendeta GBI dan GPIB yang positif Covid-19 tidak mencapai 10 ribu orang. Klaster GBI dan GPIB pun bukan satu-satunya klaster yang dominan dalam penularan Covid-19.
Selain itu, penularan virus Corona Covid-19 sebenarnya tidak terkait dengan agama tertentu. Klaster-klaster itu terjadi karena kegiatan keagamaan yang menjadi klaster-klaster tersebut melibatkan banyak orang atau kerumunan, yang rentan akan penularan Covid-19. Para ahli telah merekomendasikan jaga jarak aman minimal 1 meter dan menghindari kerumunan sebagai salah satu pencegahan Covid-19.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/MlGZt
- https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/11/193000565/mengetahui-sejumlah-klaster-awal-penyebaran-virus-corona-di-indonesia?page=3
- https://majalah.tempo.co/read/nasional/160062/penelusuran-korban-covid-19-dari-bogor-menyebar-ke-berbagai-penjuru
- https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2020/diperkirakan-ada-21-klaster-penularan-covid-19-di-jatim-disertai-transmisi-baru/
- https://www.solopos.com/50-an-alumni-ijtima-gowa-di-jateng-positif-covid-19-ganjar-meradang-1059932
- https://kaltim.prokal.co/read/news/371037-sudah-112-orang-dari-klaster-gowa-yang-positif-corona
- https://cantik.tempo.co/read/1318047/cegah-penyebaran-virus-corona-ahli-sarankan-jaga-jarak-sosial/full&view=ok
Halaman: 7475/8506



