• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Jumlah Anggaran Penanganan Corona di Jakarta, Jateng, Jabar, dan Musi Banyuasin?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita


    Sebuah infografis yang memperlihatkan perbandingan jumlah anggaran penanganan pandemi virus Corona Covid-19 di empat wilayah beredar di media sosial. Empat wilayah itu terdiri dari Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Barat, serta Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
    Dalam infografis itu, tertulis bahwa anggaran penanganan Covid-19 DKI Jakarta paling kecil dibandingkan tiga wilayah lainnya, yakni Rp 130 miliar. Padahal, DKI Jakarta memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) paling tinggi ketimbang tiga wilayah lainnya, yakni Rp 87,9 triliun.
    Menurut infografis itu, anggaran penanganan Covid-19 paling besar dikeluarkan oleh Jawa Tengah, yakni Rp 1,4 triliun dari APBD sebesar Rp 28,3 triliun. Sementara itu, anggaran penanganan Covid-19 Jawa Barat dan Musi Banyuasin sama, yakni Rp 50 miliar. APBD Jawa Barat mencapai Rp 46 triliun dan APBD Musi Banyuasin sebesar Rp 4,1 triliun.
    Salah satu akun di Facebook yang membagikan infografis itu adalah akun Yusuf Muhammad, yakni pada 2 April 2020. Akun ini pun menulis narasi, "Kenapa banyak pendukung pak Abas yang terkejut dan mendadak bergetar melihat info grafis ini? Padahal ini masih sementara, siapa tahu nanti pak Abas berubah pikiran dan anggarkan 20 Triliun utk penanganan corona di DKI. Pak Abas kan sangat peduli warganya, betul?"
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yusuf Muhammad.
    Bagaimana kebenaran data anggaran penanganan Covid-19 dalam infografis di atas?

    Hasil Cek Fakta


    Karena tidak dicantumkan sumber yang dirujuk oleh infografis tersebut, Tim CekFakta Tempo membandingkan data dalam infografis di atas dengan jumlah anggaran penanganan pandemi virus Corona Covid-19 di keempat wilayah itu yang dipublikasikan oleh situs resmi mereka ataupun media arus utama per 2 April 2020.
    1. DKI Jakarta
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang mengucurkan anggaran penanganan Covid-19 tahap pertama sebesar Rp 130 miliar melalui Instruksi Sekretaris Daerah DKI Nomor 24 Tahun 2020 pada 17 Maret 2020. Namun, sampai 2 April 2020, DKI Jakarta telah menambah anggaran penanganan Covid-19 hingga Rp 1,3 triliun. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun berjanji akan menambah anggaran sebesar Rp 2 triliun untuk digunakan hingga akhir Mei.
    Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Edi Sumantri, menjelaskan alokasi anggaran tersebut berasal dari pemanfaatan belanja tidak terduga, penundaan sejumlah Penanaman Modal Daerah khususnya anggaran infrastruktur pelaksanaan Formula E, dan penundaan pembelian tanah. Dengan begitu, anggaran tersebut dapat dimanfaatkan dalam penanggulangan pandemi Covid-19.
    Sumber: Situs resmi DKI Jakarta, Tempo, dan Media Indonesia
    2. Musi Banyuasin
    Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin benar menyiapkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk penanganan pandemi Covid-19 dari realokasi 30 persen APBD 2020. Anggaran itu ditujukan untuk bantuan tunai, bantuan sembako, pembelian alat pelindung diri (APD) serta alat kesehatan, penanganan Covid-19, dan jaring pengaman sosial lainnya.
    Sumber: Bisnis.com dan IDN Times
    3. Jawa Tengah
    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah benar menyiapkan anggaran Rp 1,4 triliun untuk penanganan pandemi Covid-19. Sekitar Rp 1 triliun akan digunakan sebagai bantuan sosial bagi masyarakat masing-masing sebesar Rp 200 ribu per bulan dalam bentuk barang atau kebutuhan pokok selama tiga bulan berturut-turut. Sedikitnya terdapat 1,8 juta warga yang belum masuk dalam daftar masyarakat miskin dan akan menerima bantuan langsung tunai. Selama ini, mereka tidak terdaftar dalam Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Sehat, maupun kelompok rentan.
    Sumber: Situs resmi Jawa Tengah dan Tempo
    4. Jawa Barat
    Pada tahap pertama, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pergeseran alokasi anggaran sebesar Rp 48 miliar. Dana itu dialokasikan untuk memberikan sekitar 20 ribu alat pelindung diri (APD) dan 20 ribu alat rapid testl serta menambah fasilitas di berbagai rumah sakit rujukan. Pada pekan ketiga Maret 2020, Pemprov Jawa Barat kembali melakukan realokasi anggaran sebesar Rp 500 miliar untuk penanganan Covid-19. Namun, pada 3 April 2020, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan bahwa daerahnya menganggarkan Rp 16 triliun untuk mengatasi Covid-19. Jumlah tersebut terdiri dari Rp 3,2 triliun anggaran tunai dan pangan yang akan dibagikan kepada masyarakat terdampak serta Rp 13 triliun untuk proyek-proyek padat karya.
    Sumber: Detik.com, Kompas.com, dan Liputan6.com

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, data jumlah anggaran penanganan pandemi virus Corona Covid-19 DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Musi Banyuasin dalam infografis di atas sebagian benar.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Merokok Menghadang Virus Corona Masuk Ke Paru-Paru

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita

    Beredar postingan yang menyebutkan bahwa merokok dapat menghadang virus Corona atau COVID-19 menjangkiti seseorang. Disebutkan dalam postingan tersebut hal itu dikarenakan virus tersebut terhalang oleh nikotin yang ada di dalam rokok. Berikut kutipan narasinya:

    “*BERUNTUNGLAH PARA PEROKOK BERAT DI DUNIA.*

    Pentingnya merokok untuk melawan corona.
    Dibaca sampai selesai ????????????

    Mengunngkap fakta penelitian yang bilang merokok membunuhmu.Dan mengungkap fakta baru tentang pencegahan Virus Corona dengan asap rokok.

    Dilansir dari halaman peneliti paru-paru Dr. Prof. Ali bolgana dari Mesir.
    Bahwa kandungan nikotin rokok menempel di paru-paru yang dimana,virus yang masuk ke paru-paru lewat udara dapat terhalang karena adanya nikotin rokok tersebut,Makanya saat ini wabah virus corona yang menyerang ke negara-negara besar kebanyakan orang yang terdampak virus tersebut dan meninggal dunia di karenakan tidak ada nikotin yang menyelimuti paru-paru mereka,Walau pun kita tahu nikotin tersebut juga merusak paru-paru tetapi dalam jangka waktu lama dan panjang,sedangkan virus corona ini merusak paru-paru kita dalam hanya beberapa hari saja,jadi pernyataan merokok ini sudah di angkat di mesir dan sekarang penduduk mesir sudah melakukan prakteknya dan virus corona di mesir sudah bisa di tanggulangi karena mereka merokok sesuai anjuran Dr. Prof. Ali Bolgana seorang Dr. yang ahli dalam mencegah kerusakan paru-paru.
    Pada saat ini yang kita tahu bahwa orang yang terkena virus corona adalah orang yang tidak merokok, mengapa karena di dalam paru-paru mereka tidak ada getah nikotin yang mengikat virus atau kuman yang masuk ke dalam paru-paru mereka,yang menyebabkan virus tersebut bisa menggerogoti paru-paru mereka seperti virus corona ini.

    Mari saling berbagi,saling mengingatkan karena 1x kamu share kamu sudah menyelamatkan Masyarakat Indonesia sebanyak 10 orang.

    Di terbitkan dari perusahaan buku ternama di mesir dan Halaman artikel google linknya ada di bawah ini

    https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/قرناء/

    والله اعلم”

    BERUNTUNGLAH PARA PEROKOK DI DUNIA.

    Pentingnya merokok untuk melawan corona.
    Dibaca sampai selesai 👇👇👇

    Mengunngkap fakta penelitian yang bilang merokok membunuhmu. Dan mengungkap fakta baru tentang pencegahan Virus Corona dengan asap rokok.

    Dilansir dari halaman peneliti paru-paru Dr. Prof. Ali bolgana dari Mesir.
    Bahwa kandungan Nikotin rokok menempel di paru-paru yang dimana, virus yang masuk ke paru-paru lewat udara dapat terhalang karena adanya nikotin rokok tersebut. Makanya saat ini wabah virus corona yang menyerang ke negara-negara besar kebanyakan orang yang terdampak virus tersebut dan meninggal dunia di karenakan tidak ada nikotin yang menyelimuti paru-paru mereka, walau pun kita tahu nikotin tersebut juga merusak paru-paru tetapi dalam jangka waktu lama dan panjang, sedangkan virus corona ini merusak paru-paru kita dalam hanya beberapa hari saja, jadi pernyataan merokok ini sudah di angkat di mesir dan sekarang penduduk mesir sudah melakukan prakteknya dan virus corona di mesir sudah bisa di tanggulangi karena mereka merokok sesuai anjuran Dr. Prof. Ali Bolgana seorang Dr. yang ahli dalam mencegah kerusakan paru-paru.
    Pada saat ini yang kita tahu bahwa orang yang terkena virus corona adalah orang yang tidak merokok, mengapa karena di dalam paru-paru mereka tidak ada getah nikotin yang mengikat virus atau kuman yang masuk ke dalam paru-paru mereka,yang menyebabkan virus tersebut bisa menggerogoti paru-paru mereka seperti virus corona ini.

    Mari saling berbagi, saling mengingatkan karena 1x kamu share kamu sudah menyelamatkan Masyarakat Indonesia sebanyak 10 orang.

    Di terbitkan dari perusahaan buku ternama di mesir dan Halaman artikel google linknya ada di bawah ini

    https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/قرناء/

    paru-paru

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut keliru. Sebab, menurut sejumlah pakar merokok justru dapat membuat seseorang rentan terpapar COVID-19.

    Praktisi kesehatan dan dosen Warwick Medical School, Dr. James Gill, menyatakan merokok adalah faktor risiko yang signifikan terkait risiko terinfeksi COVID-19.

    “Ada banyak faktor yang saling terkait mengapa merokok mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dari kemampuan untuk mendapatkan oksigen dari darah ke jaringan, hingga peningkatan kadar karbon monoksida dalam darah,” jelasnya.

    Salah satu alasan terbesar yang memungkinkan risiko infeksi pernapasan pada perokok terus meningkat adalah kerusakan dan kematian yang terjadi pada silia (bulu-bulu halus) di saluran udara dan paru-paru. Silia bertugas melapisi saluran udara, sehingga memiliki peran yang sangat vital dalam membersihkan lendir dan kotoran serta menyaring partikel-partikel yang dihirup.

    Dengan begitu, silia berperan dalam mencegah virus dan bakteri masuk ke paru-paru. Gill menjelaskan bahan kimia yang terkandung dalam rokok memiliki dua efek serius pada silia ketika dihirup. Pertama adalah mengurangi gerakan silia, yang berarti akan lebih sulit untuk memindahkan lendir dan kotoran agar bisa keluar dari paru-paru.

    Seiring waktu, asap yang dihirup dari rokok lama-kelamaan juga dapat membunuh silia, hingga akhirnya meningkatkan risiko infeksi virus secara drastis. Karena itu, dia mengimbau agar perokok segera berhenti merokok untuk memperbaiki fungsi silia yang tersisa.

    Lalu, Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Feni Fitriani, membantah bahwa merokok dapat menangkal COVID-19. "Itu tidak benar kalau mengatakan bahwa merokok malah melindungi," kata Feni yag dikutip dari liputan6.com.

    Bahkan, menjadi perokok sesungguhnya membuat seseorang lebih mudah menjadi sakit. Bukan hanya virus corona namun juga penyakit lainnya seperti kanker paru. Feni mengatakan, tanpa COVID-19 saja, seorang perokok sesungguhnya sudah memiliki kerusakan pada saluran napasnya.

    "Tapi karena efeknya merokok jangka panjang setelah 20 tahun, 30 tahun, tidak secepat COVID-19, jadi abai," kata Feni.

    Prof. Dr. Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman Kementerian Ristekdikti mengatakan bahwa merokok meningkatkan reseptor ACE 2, yang oleh para peneliti, ditemukan menjadi reseptor bagi virus corona penyebab COVID-19.

    Dia mengibaratkan, reseptor tersebut seperti sebuah pelabuhan yang jika menjadi lebih banyak tempat berlabuhnya, maka kapal yang akan datang akan semakin banyak pula.

    "Karena ACE 2 ekspresinya meningkat, otomatis dalam data menyebutkan sel paru perokok itu menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran napas. Jadi memfasilitasi masuknya virus," kata Amin dalam kesempatan yang sama.

    Lalu, dalam postingan menyertakan sebuah tautan. Bila tautan itu dibuka maka akan mengarahkan kepada laman kamus bahasa Arab beralamatkan di almaany.com. Sehingga, bila diklaim bahwa penelitian merokok dapat menangkal atau menghadang COVID-19 tidak ada dalam laman tersebut.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa klaim pada postingan tidak benar. Konten dalam postingan tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Merdeka.com
    • Liputan 6
    • 3 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Tidak Benar PLN Naikkan Tarif Listrik Non Subsidi di Tengah Pandemi COVID-19

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita

    Beredar kabar tentang Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menaikkan tarif listrik non subsidi secara diam-diam di tengah pandemi virus corona COVID-19 beredar di media sosial.

    Kabar ini disebarkan akun Facebook En Wahyu Ningsih pada 5 April 2020. Akun Facebook En Wahyu Ningsih mengunggah gambar tangkapan layar cuitan akun Twitter @podoradong yang menyebut bahwa PLN menaikkan tarif listrik.

    Hasil Cek Fakta

    Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka mengungkapkan bahwa kabar pihaknya menaikkan tarif listrik pelanggan non subsidi tidak benar.

    "Tidak benar," ungkap I Made Suprateka kepada Liputan6.com, Selasa (7/4/2020).

    Hal yang sama juga disampaikan General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya, Ikhsan Asaad. Ikhsan mengatakan, informasi tersebut adalah hoaks.

    "Hoax. Enggak ada kenaikan tarif non subsidi," kata Ikhsan kepada Liputan6.com, Selasa (7/4/2020).

    Kesimpulan

    Kabar tentang Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang diam-diam menaikkan tarif listrik non subsidi di tengah pandemi virus corona COVID-19 ternyata tidak benar.

    PLN hingga kini belum memutuskan menaikkan tarif listrik bagi pelanggan non subsidi. Narasi yang disebarkan akun Facebook En Wahyu Ningsih tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Corona Jihad: Seorang Pedagang Sengaja Meludahi Bungkus Makanan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita

    Beredar unggahan video melalui Facebook mengenai seorang pedagang sengaja meludahi makanan yang sedang dia bungkus. Unggahan video menyebutkan aksi tersebut dengan judul “Corona Jihad.” Berikut kutipan narasinya:

    “Corona jihad
    This guy is spitting into the food he's packing for you.”

    Terjemahan:

    “Corona jihad
    Orang ini meludah ke makanan yang dia bungkus untukmu.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, melalui pencarian reverse image yandex.com, video yang diunggah Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 berjudul “Viral!! MenjijikKan..Cara kedai mamak bungkus papadem” yang diunggah oleh akun “Yusuf Studio”.

    Dalam penelusuran lain, melansir dari thequint.com, artikel tersebut merujuk ke laman feedme.com.my dengan artikel yang berjudul “Watch: Mamak Staff Blows Air and Saliva into Papadum Bags, Enrages Netizens” (terjemahan: “Tonton: Staf Mamak Meniupkan Udara dan Air Liur ke dalam bungkusan berisi Papadum, Memicu amarah Netizens”) terbit pada 1 Mei 2019.

    Unggahan video Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 dan sudah pernah dibahas pada 1 Mei 2019 dalam artikel laman feedme.com.my, dan membuktikan bahwa video Facebook itu tidak ada kaitannya dengan virus Corona, bahkan pada April 2019 virus Corona belum terjadi.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, video Facebook mengenai seorang pedagang yang sengaja meludahi bungkus makanan tidak ada kaitannya dengan virus Corona. Oleh sebab itu, video masuk dalam Misleading Content atau Konten Yang Menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini