[Fakta atau Hoaks] Benarkah Hasil Quick Count Pilpres 2019 Diubah dengan Kemenangan Pasangan Jokowi-Ma'ruf?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/07/2020
Berita
Akun Facebook Taufik Bule mengunggah gambar berisi dua foto terkait Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 ke halaman Manusia Merdeka pada 13 Juli 2020. Foto pertama memperlihatkan infografis hasil hitung cepat atau quick count dari enam lembaga survei yang ditayangkan oleh MetroTV.
Dalam gambar itu, terlihat bahwa quick count pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dari setiap lembaga survei menunjukkan hasil yang lebih tinggi ketimbang pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Namun, dalam hasil akhirnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf lebih unggul dengan suara sebesar 54,81 persen.
Adapun foto kedua memperlihatkan Jokowi yang sedang duduk bersama Ma’ruf serta beberapa tokoh pendukungnya, seperti Erick Thohir, Jusuf Kalla, dan Megawati Soekarnoputri. Jokowi-Ma'ruf memakai pakaian berwarna putih. Di depannya, terlihat beberapa air minum yang kemasannya berwarna hijau.
Oleh akun Taufik Bule, gambar itu ia beri narasi sebagai berikut: “Viralkan lagi. Menolak lupa, wajah sedih diubah menjadi gembira oleh kebohongannya.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Taufik Bule.
Unggahan ini beredar setelah Mahkamah Agung (MA) mengunggah Putusan MA Nomor 44 Tahun 2019 di situs resminya yang isinya mengabulkan permohonan pengujian hak materiil dari tujuh pemohon, salah satunya politikus Partai Gerindra Rachmawati Soekarnoputri.
Di poin ketiga, MA menyatakan ketentuan Pasal 3 Ayat 7 Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 5 Tahun 2019 entang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Namun, putusan MA ini tidak mempengaruhi hasil Pilpres 2019. Putusan itu tidak berlaku surut, di mana terbit setelah Jokowi-Ma'ruf dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Hasil Pilpres 2019 pun telah sesuai dengan Pasal 6A UUD 1945.
Apa benar hasil quick count Pilpres 2019 diubah dengan kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf?
Hasil Cek Fakta
Terkait foto pertama, Tim CekFakta Tempo pernah menurunkan artikel terkait hasil quick count di MetroTV tersebut. Infografis hasil quick count itu ditampilkan saat MetroTV menggelar talkshow yang berjudul “Live Event Presiden Pilihan Kita” pada 17 April 2019.
Dalam talkshow itu, MetroTV sempat menampilkan infografis hasil quick count yang memenangkan pasangan Prabowo-Sandi. Namun, beberapa menit kemudian, MetroTV memberikan klarifikasi bahwa terdapat kesalahan teknis pada infografis hasil quick count yang menampilkan kemenangan Prabowo-Sandi.
“Terdapat kesalahan teknis dalam penayangan grafis data hasil sementara penghitungan cepat Pilpres 2019 pada pukul 15.12 WIB. Di dalam tayangan tersebut, terdapat perbedaan data grafis dengan election ticker yang muncul di layar,” tulis MetroTV dalam video klarifikasinya saat itu.
Dalam video klarifikasi itu, MetroTV juga telah menampilkan infografis hasil quick count yang benar di mana pasangan Jokowi-Ma'ruf lebih unggul ketimbang pasangan Prabowo-Sandi.
Sementara terkait foto kedua, foto tersebut diambil saat Jokowi-Ma’ruf beserta tim kampanyenya memantau jalannya hitung cepat di Djakarta Theater pada 17 April 2019. Foto itu identik dengan foto yang pernah dimuat oleh IDN Times dalam beritanya yang berjudul "Jokowi-Ma'ruf dan Tokoh TKN Pantau Quick Count di Djakarta Theater".
Beberapa tokoh hadir dalam acara pemantauan quick count sore ini, seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Staf Presiden Moeldoko, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, serta Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto.
Adapun ketua umum partai pendukung Jokowi yang hadir antara lain adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Perindo Harry Tanoesoedibjo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono.
Hasil quick count bukan hasil resmi pemilu
Meskipun hasil quick count tidak berbeda jauh dengan hasil pemilu, yang perlu dicatat adalah hasil quick count bukanlah hasil resmi yang menjadi penentu hasil pilpres. Pemenang pilpres ditentukan oleh penghitungan manual (real count) oleh KPU berdasarkan data yang dihitung dan direkap secara berjenjang dari tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) sampai tingkat nasional.
Sementara quick count dilakukan dengan mengumpulkan hasil penghitungan suara pada beberapa sampel TPS. Penetapan sampel tidak dilakukan secara asal, melainkan dengan kajian matang agar hasil quick count bisa memberikan gambaran keseluruhan TPS dengan akurasi yang tinggi. Karena dilakukan tidak di semua TPS, quick count bisa lebih cepat dari real count KPU. Quick count dilakukan oleh lembaga survei independen. Jadi, hasilnya pun tidak ada hubungannya dengan penghitungan yang dilakukan oleh KPU.
Melalui hasil real count, KPU telah menetapkan pasangan Jokowi-Ma'ruf sebagai pemenang Pilpres 2019 pada 21 Mei 2019. Berdasarkan rekapitulasi KPU, pasangan Jokowi-Ma'ruf mendapatkan 85.607.362 suara atau sebesar 55,50 persen. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandi mendapatkan 68.650.239 suara atau sebesar 44,50 persen.
Kemenangan Jokowi-Ma’ruf itu pun telah dikukuhkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyidangkan sengketa hasil Pilpres 2019 yang diajukan oleh kubu Prabowo-Sandi. MK menyatakan klaim kemenangan Prabowo-Sandi dengan perolehan 52 persen suara tidak dilengkapi dengan bukti yang lengkap.
"Selain dalil pemohon tidak lengkap dan tidak jelas karena tidak menunjukkan secara khusus di mana ada perbedaan, pemohon juga tidak melampirkan bukti yang cukup untuk meyakinkan mahkamah," ujar Hakim MK Arief Hidayat dalam sidang di Gedung MK, Jakarta, pada 27 Juni 2019.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa hasil quick count Pilpres 2019 diubah dengan kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf keliru. Infografis hasil quick count di MetroTV yang digunakan untuk menyebarkan klaim itu, yang berasal dari enam lembaga survei, sempat mengalami kesalahan teknis. Hal ini telah diklarifikasi oleh MetroTV yang kemudian menunjukkan hasil quick count yang benar di mana pasangan Jokowi-Ma'ruf lebih unggul ketimbang pasangan Prabowo-Sandi. Selain itu, hasil quick count bukanlah hasil resmi yang menjadi penentu pemenang pilpres. Hasil pilpres ditentukan oleh penghitungan manual (real count) oleh KPU. Berdasarkan hasil real count, KPU telah menetapkan pasangan Jokowi-Ma'ruf sebagai pemenang Pilpres 2019. Kemenangan ini juga telah dikukuhkan oleh MK.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/244/fakta-atau-hoaks-benarkah-metro-tv-dan-indosiar-sengaja-mengubah-hasil-quick-count-pilpres-2019-yang-semula-memenangkan-prabowo
- https://www.idntimes.com/news/indonesia/teatrika/jokowi-maruf-dan-tokoh-tkn-pantau-quick-count-di-djakarta-theater/full
- https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/pq3ry3384/ketua-kpu-emquick-countem-bukan-hasil-resmi-pemilu-2019
- https://katadata.co.id/berita/2019/04/24/memahami-quick-count-dan-real-count-beda-kerja-tapi-hasil-identik
- https://pilpres.tempo.co/read/1207533/kpu-tetapkan-jokowi-menang-tkn-terima-kasih-rakyat-indonesia/full&view=ok
- https://pilpres.tempo.co/read/1218958/mahkamah-konstitusi-tolak-permintaan-prabowo-menang-52-persen/full&view=ok
[SALAH] “Semboyan Pesindo “Bekerdja, bekerdja, bekerdja” adalah semboyan PKI”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 15/07/2020
Berita
“PKI KOMUNIS………AYO BONG CEBONG TOGOG
KALO MASIH PUNYA OTAK” (di post).
“Semboyan “Bekerdja, bekerdja, bekerdja” adalah semboyan PKI di tahun 1946
Ini adalah foto dari majalah Revolusioner, majalah resmi Pesindo (Pemoeda Socialis Indonesia) edisi tahun 1946.
HMMMM… KOK MIRIP YA?”
KALO MASIH PUNYA OTAK” (di post).
“Semboyan “Bekerdja, bekerdja, bekerdja” adalah semboyan PKI di tahun 1946
Ini adalah foto dari majalah Revolusioner, majalah resmi Pesindo (Pemoeda Socialis Indonesia) edisi tahun 1946.
HMMMM… KOK MIRIP YA?”
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan pelintiran yang sebelumnya sudah pernah diklarifikasi. SUMBER menhubung-hubungkan Pesindo dengan PKI dengan kesimpulan yang keliru.
“Tercatat sebagai ormas pemuda terbesar di masanya, Pesindo bernasib tragis karena dikaitkan Peristiwa Madiun 1948. Bagaimanapun, jejak Pesindo pernah mewarnai sejarah Republik Indonesia
…
Norman sendiri adalah cucu Fransisca Fanggidaej, salah satu pimpinan Pesindo waktu itu. Ia mengatakan, Pesindo tidak berada di bawah salah satu partai politik, tetapi pernah menyampaikan pernyataan resmi bahwa satu-satunya organisasi politik yang mampu memimpin revolusi Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Penyataan itu agak mengherankan, sebab Pesindo dan PKI tidak saling terkait. Ditambah lagi Pesindo berhaluan sosialis, bukan komunis. Itu sebabnya, Pesindo sejak awal dirancang sebagai organisasi pemuda yang bisa merangkul seluruh organisasi pemuda lain. Semacam front nasional.”
MUSABAB.COM: “Ideologi Komunisme dan Sosialisme sering disamakan, padahal keduanya berbeda. Mereka yang berfaham sosialis belum tentu komunis, tapi berideologi komunis sudah pasti sosialis.
…
Perbedaan Sosialisme dan Komunisme.
Dibawah komunisme, tidak ada yang namanya milik pribadi, semua properti dimiliki bersama, dan setiap orang menerima bagian berdasarkan apa yang mereka butuhkan. Pemerintah pusat memgendalikan semua aspek produksi ekonomi, dan menyediakan kebutuhan dasar warga negara, termasuk makanan, perumahan, perawatan medis, dan pendidikan. Sebaliknya, di bawah sosialisme, individu masih dapat memiliki properti, tetapi produksi industri, atau sarana utama untuk menghasilkan kekayaan, dimiliki dan dikelola secara komunal oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis.”
“Tercatat sebagai ormas pemuda terbesar di masanya, Pesindo bernasib tragis karena dikaitkan Peristiwa Madiun 1948. Bagaimanapun, jejak Pesindo pernah mewarnai sejarah Republik Indonesia
…
Norman sendiri adalah cucu Fransisca Fanggidaej, salah satu pimpinan Pesindo waktu itu. Ia mengatakan, Pesindo tidak berada di bawah salah satu partai politik, tetapi pernah menyampaikan pernyataan resmi bahwa satu-satunya organisasi politik yang mampu memimpin revolusi Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Penyataan itu agak mengherankan, sebab Pesindo dan PKI tidak saling terkait. Ditambah lagi Pesindo berhaluan sosialis, bukan komunis. Itu sebabnya, Pesindo sejak awal dirancang sebagai organisasi pemuda yang bisa merangkul seluruh organisasi pemuda lain. Semacam front nasional.”
MUSABAB.COM: “Ideologi Komunisme dan Sosialisme sering disamakan, padahal keduanya berbeda. Mereka yang berfaham sosialis belum tentu komunis, tapi berideologi komunis sudah pasti sosialis.
…
Perbedaan Sosialisme dan Komunisme.
Dibawah komunisme, tidak ada yang namanya milik pribadi, semua properti dimiliki bersama, dan setiap orang menerima bagian berdasarkan apa yang mereka butuhkan. Pemerintah pusat memgendalikan semua aspek produksi ekonomi, dan menyediakan kebutuhan dasar warga negara, termasuk makanan, perumahan, perawatan medis, dan pendidikan. Sebaliknya, di bawah sosialisme, individu masih dapat memiliki properti, tetapi produksi industri, atau sarana utama untuk menghasilkan kekayaan, dimiliki dan dikelola secara komunal oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis.”
Kesimpulan
Hoaks daur ulang. TIDAK terkait PKI, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) adalah ormas yang berperan aktif ketika revolusi fisik periode 1945-1949.
Rujukan
- httpfirstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. koransulindo.com: “Jejak Pesindo Dalam Revolusi”
- http://bit.ly/2RhsuVF /
- https://archive.md/BxYFp (arsip cadangan). musabab.com: “Perbedaan Ideologi Komunis dan Sosialis”
- https://bit.ly/2CbCdu7 /
- https://archive.md/kfWlB (arsip cadangan). kompas.com: “Seputar G30S/ PKI : Apa Sih Bedanya PKI, Sosialisme, Komunisme, Marxisme, dan Leninisme?”
- https://bit.ly/398n2OB /
- https://archive.md/hRTfR (arsip cadangan). turnbackhoax.id: “[SALAH] “Pesindo (Organ PKI)””
- https://bit.ly/2AXpDxU.
Pembuat Video Hoax Rombongan TKA China Corona Masuk Kendari Diamankan!
Sumber:Tanggal publish: 14/07/2020
Berita
Kendari - Video berisi narasi rombongan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China tiba di Bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), di tengah wabah virus Corona atau Covid-19 viral. Pembuat video hoax itu ditangkap!
"TKA cina Gak lagi masuk polewali mandar lewat bandara. Mereka masuk lewat kapal kecil turun di pelabuhan kecil,somprettt...Ini gila kopernye saja besar2 di atas kapal gimana kalau itu senjata tampangnye aje seperti tentara TKA turun dari kapal kecil saja masa seperti udeh terlatih. Gimana ini Rakyat yg ada di Sulawesi......??? Yaa Alloh. Kemana kalian......???"
"TKA cina Gak lagi masuk polewali mandar lewat bandara. Mereka masuk lewat kapal kecil turun di pelabuhan kecil,somprettt...Ini gila kopernye saja besar2 di atas kapal gimana kalau itu senjata tampangnye aje seperti tentara TKA turun dari kapal kecil saja masa seperti udeh terlatih. Gimana ini Rakyat yg ada di Sulawesi......??? Yaa Alloh. Kemana kalian......???"
Hasil Cek Fakta
Hardiono (39) warga Desa Onewila, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menyampaikan permohonan maafnya atas video viral dengan durasi 52 detik. Dalam video itu, Hardiono tampak berada di kantor polisi.
"Saya pembuat rekaman video yang viral pada 15 Maret terkait kedatangan warga China di Kendari dalam video itu saya mengomentari 'Itu e satu pesawat corona semua' hal itu saya ucapkan secara spontan dan hanya untuk main-main," terangnya, Senin (16/3/2020).
"Saya pembuat rekaman video yang viral pada 15 Maret terkait kedatangan warga China di Kendari dalam video itu saya mengomentari 'Itu e satu pesawat corona semua' hal itu saya ucapkan secara spontan dan hanya untuk main-main," terangnya, Senin (16/3/2020).
Rujukan
[SALAH] “Polisi telah menangkap wanita Filipina berusia 29 tahun karena membunuh dan memakan manusia.”
Sumber: FACEBOOK.COMTanggal publish: 14/07/2020
Berita
“Polisi telah menangkap seorang wanita Filipina berusia 29 tahun karena membunuh dan memakan manusia. Wanita ini telah membunuh dan memakan lebih dari 30 gadis dan banyak manusia lainnya termasuk suaminya dan menyimpan daging mereka di kulkas. Dia sudah lama menikmati makan daging manusia.Wanita kanibal ini mengatakan, bahwa ia mengatur banyak pihak untuk teman dan kerabatnya, yang telah ia masak dan menyajikan daging manusia, tanpa sepengetahuan mereka. Tamunya mengatakan bahwa makanannya sangat lezat.Wanita ini mengatakan bahwa ia telah memakan korban karena keinginan batinnya dan jika ia diberi kesempatan lain, ia akan mengulangi tindakan ini lagi tanpa gangguan.Bahkan di penjara, ia telah menyerang seorang penjaga wanita, menggigit tangan kanannya dan menelan salah satu jari tangannya.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa foto wanita berpakaian biru di dekat sebuah kulkas yang terbuka yang di dalamnya tersimpan banyak potongan daging adalah seorang wanita Filipina berusia 29 tahun karena membunuh dan memakan manusia adalah klaim yang salah.
Faktanya, kejadian di foto itu bukan di FIlipina. Foto itu terkait dengan kasus mutilasi terhadap Diao Aiqing, seorang mahasiswa Universitas Nanjing, Jiangsu, Cina, yang terkuak pada 19 Januari 1996. Hingga kini, pelaku pembunuhan Diao belum ditemukan.
Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Listverse pada 23 Januari 2020 dalam artikelnya yang berjudul “10 Lesser-known Murder Mysteries That Remain Unsolved”. Menurut artikel itu, foto tersebut terkait dengan kasus pembunuhan seorang mahasiswa di Cina bernama Diao Aiqing.
Dalam artikel itu tertulis, pada 19 Januari 1996, seorang petugas kebersihan jalan di Nanjing, Cina, menemukan sebuah kantong berisi daging di pinggir jalan. Dia pun membawanya pulang, namun ketika membersihkan daging itu, dia menemukan tiga jari manusia di dalam kantong tersebut.
Petugas wanita itu kemudian memberi tahu polisi. Lalu, polisi melakukan pencarian dan menemukan kantong-kantong berisi potongan tubuh manusia di dua lokasi lain. Terdapat lebih dari 2 ribu bagian tubuh, termasuk kepala dan lengan yang telah direbus, yang ditemukan polisi.
Akhirnya, diketahui bahwa bagian-bagian tubuh itu adalah milik seorang mahasiswa berusia 19 tahun, Diao Aiqing. Diao hilang pada 10 Januari 1996 setelah bertengkar dengan mahasiswa lain di kampusnya atas penggunaan peralatan listrik. Hingga kini, pembunuh Diao masih belum diketahui.
Foto yang sama pernah dimuat oleh situs Whatsonweibo pada 16 Mei 2018 dalam artikelnya yang berjudul “China’s Unsolved (Murder) Mysteries: 10 Most Notorious Cold Cases Still Discussed in China Today”. Isi artikel ini serupa dengan artikel yang dimuat oleh situs Listverse.
Dilansir dari Zyxiao, kasus mutilasi Diao Aiqing lebih dikenal sebagai kasus “1.19” karena terjadi pada 19 Januari 1996 di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, Cina. Sementara Diao Aiqing merupakan mahasiswa baru di Universitas Nanjing.
Faktanya, kejadian di foto itu bukan di FIlipina. Foto itu terkait dengan kasus mutilasi terhadap Diao Aiqing, seorang mahasiswa Universitas Nanjing, Jiangsu, Cina, yang terkuak pada 19 Januari 1996. Hingga kini, pelaku pembunuhan Diao belum ditemukan.
Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Listverse pada 23 Januari 2020 dalam artikelnya yang berjudul “10 Lesser-known Murder Mysteries That Remain Unsolved”. Menurut artikel itu, foto tersebut terkait dengan kasus pembunuhan seorang mahasiswa di Cina bernama Diao Aiqing.
Dalam artikel itu tertulis, pada 19 Januari 1996, seorang petugas kebersihan jalan di Nanjing, Cina, menemukan sebuah kantong berisi daging di pinggir jalan. Dia pun membawanya pulang, namun ketika membersihkan daging itu, dia menemukan tiga jari manusia di dalam kantong tersebut.
Petugas wanita itu kemudian memberi tahu polisi. Lalu, polisi melakukan pencarian dan menemukan kantong-kantong berisi potongan tubuh manusia di dua lokasi lain. Terdapat lebih dari 2 ribu bagian tubuh, termasuk kepala dan lengan yang telah direbus, yang ditemukan polisi.
Akhirnya, diketahui bahwa bagian-bagian tubuh itu adalah milik seorang mahasiswa berusia 19 tahun, Diao Aiqing. Diao hilang pada 10 Januari 1996 setelah bertengkar dengan mahasiswa lain di kampusnya atas penggunaan peralatan listrik. Hingga kini, pembunuh Diao masih belum diketahui.
Foto yang sama pernah dimuat oleh situs Whatsonweibo pada 16 Mei 2018 dalam artikelnya yang berjudul “China’s Unsolved (Murder) Mysteries: 10 Most Notorious Cold Cases Still Discussed in China Today”. Isi artikel ini serupa dengan artikel yang dimuat oleh situs Listverse.
Dilansir dari Zyxiao, kasus mutilasi Diao Aiqing lebih dikenal sebagai kasus “1.19” karena terjadi pada 19 Januari 1996 di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, Cina. Sementara Diao Aiqing merupakan mahasiswa baru di Universitas Nanjing.
Kesimpulan
Bukan di FIlipina. Foto itu terkait dengan kasus mutilasi terhadap Diao Aiqing, seorang mahasiswa Universitas Nanjing, Jiangsu, Cina, yang terkuak pada 19 Januari 1996. Hingga kini, pelaku pembunuhan Diao belum ditemukan.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/879/fakta-atau-hoaks-benarkah-ini-foto-wanita-filipina-yang-mutilasi-dan-makan-puluhan-korbannya
- https://listverse.com/2020/01/23/10-lesser-known-murder-mysteries-that-remain-unsolved/
- https://www.zyxiao.com/p/38016
- https://www.whatsonweibo.com/chinas-unsolved-murder-mysteries-10-most-notorious-cold-cases-still-discussed-in-china-today/2/
Halaman: 7520/8694


