Merdeka.com - Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, pihaknya siap mempekerjakan masyarakat yang melakukan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pasalnya Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah diduga dilakukan manusia.
BNPB: 99 Persen Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Adalah Manusia
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/10/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
"Kami BNPB mengatakan kalau ada masyarakat yang dibayar untuk membakar ladang, kami siap menampung mereka, kami pekerjakan sebagai bagian dari satgas pemadaman api. Kita bayar, lebih baik kita membayar rakyat, dari pada rakyat dibayar orang lain untuk membakar," katanya di Kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (14/9).
"Saya bilang tadi, 99 persen penyebab kebakaran adalah manusia," sambungnya.
Menurutnya, tak menutup kemungkinan kebakaran ini akan terjadi tiap tahun. Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat lebih aktif untuk mencegah kebakaran.
"Masalah kebakaran hutan dan lahan bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi seluruh bangsa kita, harus timbul memahami dan ikut bertanggung jawab. Tahun depan bisa ada lagi," tutupnya. [fik]
Rujukan
Kisah Mengerikan Perantau di Wamena yang Diselamatkan Penduduk Setempat
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/10/2019
Berita
Suara.com - Aksi damai yang berujung ricuh kembali terjadi di Wamena, Jayawijaya, Papua pada Senin (23/9/2019) lalu. Sejumlah kantor pemerintahan, fasilitas umum dan rumah warga dibakar.
Tercatat puluhan orang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. Tak hanya penduduk asli, masyarakat dari luar Papua pun turut menjadi korban.
Bahkan tak sedikit masyarakat dari luar kota tersebut sementara waktu diungsikan untuk kemudian dipulangkan ke kampung halamannya.
Ketika berada di pengungsian, para pengungsi pun menceritakan peristiwa mengerikan yang dialami.
Nani Susongki, asal Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur merupakan satu dari sekian warga yang memilih mengungsi.
Wanita paruh baya yang sudah 17 tahun merantau ke Wamena itu, mengaku selamat dari aksi beberapa pekan lalu karena pertolongan seorang masyarakat asli setempat yang biasa disapa Mama Manu.
Letak rumah Mama Manu di Kota Wamena, tepat berada di belakang rumah Nani.
Tercatat puluhan orang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. Tak hanya penduduk asli, masyarakat dari luar Papua pun turut menjadi korban.
Bahkan tak sedikit masyarakat dari luar kota tersebut sementara waktu diungsikan untuk kemudian dipulangkan ke kampung halamannya.
Ketika berada di pengungsian, para pengungsi pun menceritakan peristiwa mengerikan yang dialami.
Nani Susongki, asal Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur merupakan satu dari sekian warga yang memilih mengungsi.
Wanita paruh baya yang sudah 17 tahun merantau ke Wamena itu, mengaku selamat dari aksi beberapa pekan lalu karena pertolongan seorang masyarakat asli setempat yang biasa disapa Mama Manu.
Letak rumah Mama Manu di Kota Wamena, tepat berada di belakang rumah Nani.
Hasil Cek Fakta
“Kalau kami sembunyi di Honai (rumah) Mama Manu. Kami disembunyikan di situ,” kata Nani Susongki di Aula Lanud Jayapura yang dijadikan lokasi pengungsian sementara.
Ia menceritakan, sebelum aksi amuk massa terjadi di pusat Kota Wamena, sekitar pukul 07.30, anak perempuannya yang bekerja di salah satu toko gadget, menelponnya. Mengingatkan agar Nani tidak keluar rumah.
Tak berapa lama, informasi menyebar jika daerah Homhom sudah terbakar. Situasi di dalam Kota Wamena mulai bergejolak.
Nani bersama beberapa anggota keluarganya meninggalkan rumah. Menuju ke bagian belakang rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu tiga orang yang memegang senjata tajam.
“Kami mundur pelan-pelan. Saya pikir bagian dari orang yang rusuh, ternyata mereka menolong kami. Mereka suruh kami masuk ke rumah Mama Manu. Hampir satu jam kami bersembunyi tak bersuara, bersama beberapa warga lain,” ujar wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat itu.
Saat Nani, keluarganya dan beberapa warga lain bersembunyi, sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi rumah Mama Manu. Pemilik rumah berupaya melindungi warga yang berada dalam rumahnya.
Mama Manu meminta massa tidak membakar mobil yang sehari-harinya dijadikan mata pencaharian suami Nani.
“Mama Manu bilang tolong jangan dibakar. Itu saya punya anak. Jangan bakar mobil nanti merembet ke rumah saya. Akhirnya massa meninggalkan lokasi. Kami sendiri sudah lemas, seperti tidak bisa berdiri lagi,” ucapnya.
Nani menyatakan tidak pernah menyangka Mama Manu nekad berhadapan dengan sekelompok orang bersenjata tajam untuk mempertahankan warga yang berlindung dalam rumahnya.
“Penduduk asli di sana, kalau kita baik sama mereka, pasti mereka juga baik sama kita,” katanya.
Setelah bersembunyi hampir satu jam, Nani Susongki dan beberapa warga yang berlindung di rumah Mama Manu dievakuasi polisi ke Polres Jawijaya. Setelah tiga hari di Polres, Nani bersama keluarganya memilih mengungsi ke Jayapura, dan berencana kembali ke kampung halaman.
“Mobilnya dan rumah kami tidak dibakar, akan tetapi hancur. Kami juga berterimakasih kepada AU RI di Jayapura yang telah menampung kami dan memenuhi kebutuhan kami selama di sini,” ucapnya.
Pengungsi lainnya, Abdullah Sihanudin (40) yang sejak 2014 lalu merantau ke Wamena, sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek dan agen tiket pesawat mengatakan, saat demonstrasi pecah, istrinya terlebih dahulu telah menyelamatkan diri bersama warga lain.
Ketika Abdullah bersama anak perempuannya yang masih balita akan menyelamatkan diri, ada yang bertanya kepadanya akan bersembunyi di mana. Ia pun menjawab mau bersembunyi sementara waktu di Honai, hingga ada polisi yang menolongnya.
Abdullah bersembunyi di rumah salah satu warga asli setempat yang biasa disapa Mama Lani.
“Seorang ibu di belakang rumah saya yang menyelamatkan saya. Anak saya langsung dirangkaul dan Mama Lani berteriak jangan dibunuh, pak de ini yang setiap hari membantu saya,” kata Abdullah.
Ketika demonstrasi berujung rusuh pecah di Wamena, sejumlah bangunan dibakar, termasuk kios milik istri Abdullah.
“Ketika itu sudah ada 10 orang yang pesan tiket pesawat, tapi karena kejadian itu akhirnya tiket semua hangus. Hingga kini uang orang yang sudah pesan tiket saya belum bisa ganti. Totalnya Rp 3,5 juta,” ucapnya.
Seperti Nani Susongki, Abullah juga berencana kembali ke kampung halamannya di Probolinggo. Ia merasa khawatir karena hingga kini sebagian besar warga Wamena mengungsi.
“Sudah tiga hari kami di Jayapura. Di Jayapura saya tidak punya keluarga. Saya ingin pulang secepatnya ke kampung halaman,” ujarnya.
Ia menceritakan, sebelum aksi amuk massa terjadi di pusat Kota Wamena, sekitar pukul 07.30, anak perempuannya yang bekerja di salah satu toko gadget, menelponnya. Mengingatkan agar Nani tidak keluar rumah.
Tak berapa lama, informasi menyebar jika daerah Homhom sudah terbakar. Situasi di dalam Kota Wamena mulai bergejolak.
Nani bersama beberapa anggota keluarganya meninggalkan rumah. Menuju ke bagian belakang rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu tiga orang yang memegang senjata tajam.
“Kami mundur pelan-pelan. Saya pikir bagian dari orang yang rusuh, ternyata mereka menolong kami. Mereka suruh kami masuk ke rumah Mama Manu. Hampir satu jam kami bersembunyi tak bersuara, bersama beberapa warga lain,” ujar wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat itu.
Saat Nani, keluarganya dan beberapa warga lain bersembunyi, sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi rumah Mama Manu. Pemilik rumah berupaya melindungi warga yang berada dalam rumahnya.
Mama Manu meminta massa tidak membakar mobil yang sehari-harinya dijadikan mata pencaharian suami Nani.
“Mama Manu bilang tolong jangan dibakar. Itu saya punya anak. Jangan bakar mobil nanti merembet ke rumah saya. Akhirnya massa meninggalkan lokasi. Kami sendiri sudah lemas, seperti tidak bisa berdiri lagi,” ucapnya.
Nani menyatakan tidak pernah menyangka Mama Manu nekad berhadapan dengan sekelompok orang bersenjata tajam untuk mempertahankan warga yang berlindung dalam rumahnya.
“Penduduk asli di sana, kalau kita baik sama mereka, pasti mereka juga baik sama kita,” katanya.
Setelah bersembunyi hampir satu jam, Nani Susongki dan beberapa warga yang berlindung di rumah Mama Manu dievakuasi polisi ke Polres Jawijaya. Setelah tiga hari di Polres, Nani bersama keluarganya memilih mengungsi ke Jayapura, dan berencana kembali ke kampung halaman.
“Mobilnya dan rumah kami tidak dibakar, akan tetapi hancur. Kami juga berterimakasih kepada AU RI di Jayapura yang telah menampung kami dan memenuhi kebutuhan kami selama di sini,” ucapnya.
Pengungsi lainnya, Abdullah Sihanudin (40) yang sejak 2014 lalu merantau ke Wamena, sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek dan agen tiket pesawat mengatakan, saat demonstrasi pecah, istrinya terlebih dahulu telah menyelamatkan diri bersama warga lain.
Ketika Abdullah bersama anak perempuannya yang masih balita akan menyelamatkan diri, ada yang bertanya kepadanya akan bersembunyi di mana. Ia pun menjawab mau bersembunyi sementara waktu di Honai, hingga ada polisi yang menolongnya.
Abdullah bersembunyi di rumah salah satu warga asli setempat yang biasa disapa Mama Lani.
“Seorang ibu di belakang rumah saya yang menyelamatkan saya. Anak saya langsung dirangkaul dan Mama Lani berteriak jangan dibunuh, pak de ini yang setiap hari membantu saya,” kata Abdullah.
Ketika demonstrasi berujung rusuh pecah di Wamena, sejumlah bangunan dibakar, termasuk kios milik istri Abdullah.
“Ketika itu sudah ada 10 orang yang pesan tiket pesawat, tapi karena kejadian itu akhirnya tiket semua hangus. Hingga kini uang orang yang sudah pesan tiket saya belum bisa ganti. Totalnya Rp 3,5 juta,” ucapnya.
Seperti Nani Susongki, Abullah juga berencana kembali ke kampung halamannya di Probolinggo. Ia merasa khawatir karena hingga kini sebagian besar warga Wamena mengungsi.
“Sudah tiga hari kami di Jayapura. Di Jayapura saya tidak punya keluarga. Saya ingin pulang secepatnya ke kampung halaman,” ujarnya.
Rujukan
Demo Mahasiswa 26 September, Siswa di Surabaya Diliburkan
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 22/10/2019
Berita
SURABAYA, KOMPAS.com - Dinas Pendidikan Kota Surabaya mendadak mengeluarkan surat pemberitahuan agar kepala sekolah se-Surabaya meliburkan seluruh peserta didik pada Kamis (26/9/2019). Hal itu menyusul rencana aksi demo mahasiswa di Surabaya. Surat pemberitahuan itu dikeluarkan pada Rabu (25/9/2019), dan berlaku untuk kepala sekolah pendidikan TK, SD/MI, dan SMP/MTS baik negeri maupun swasta. Dalam surat pemberitahuan yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan, dan ditembuskan ke Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dijelaskan bahwa kepala sekolah diminta mengarahkan peserta didik untuk belajar dan menyelesaikan tugas di rumah masing-masing. Surat pemberitahuan itu dibenarkan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Swasta Wilayah Surabaya Timur, Dicky Syadqomullah.
Hasil Cek Fakta
Dia mengaku menerima surat resmi dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada Rabu malam dan diminta menyosialisasikan kepada wali murid. "Semula pemberitahuan hanya berupa catatan, kemudian menyusul surat resmi dari dinas dan sekolah-sekolah serentak meliburkan," kata dia saat dikonfirmasi, Rabu malam. Libur sekolah hanya berlaku untuk peserta didik, sementara kegiatan tenaga pendidik tetap masuk. Libur sekolah ini hanya berlaku satu hari saja. Jumat lusa para siswa kembali masuk sekolah. Massa mahasiswa pada Kamis besok dijadwalkan akan kembali menggelar aksi demo. Aksi yang sama sudah digelar sejak Selasa kemarin di depan gedung negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, dan depan Gedung DPRD Jatim di Jalan Indrapura Surabaya.
Rujukan
[KLARIFIKASI] KPAI: Siswa yang Meninggal Bukan Mau ataupun Pulang Aksi di DPR
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 22/10/2019
Berita
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menegaskan, Bagus Putra Mahendra (15) siswa salah satu SMA yang tewas di Jakarta Utara, bukan bagian dari massa aksi pelajar di DPR RI. Siswa yang meninggal karena kecelakaan itu tengah pulang ke rumah seusai bersekolah.
Di media sosial, beredar viral foto seorang pelajar yang terbaring di sebuah rumah sakit. Siswa tersebut diklaim meninggal dunia karena bentrok dengan aparat saat mengikuti aksi unjuk rasa pelajar di Jakarta 25 September 2019.
Salah satu akun yang mengunggah klaim tersebut adalah akun Menara Hati (fb.com/menara.hati.961).
Sumber : https://perma.cc/P8MR-QCWY (Arsip) – Sudah dibagikan 725 kali saat tangkapan layar diambil.
Di media sosial, beredar viral foto seorang pelajar yang terbaring di sebuah rumah sakit. Siswa tersebut diklaim meninggal dunia karena bentrok dengan aparat saat mengikuti aksi unjuk rasa pelajar di Jakarta 25 September 2019.
Salah satu akun yang mengunggah klaim tersebut adalah akun Menara Hati (fb.com/menara.hati.961).
Sumber : https://perma.cc/P8MR-QCWY (Arsip) – Sudah dibagikan 725 kali saat tangkapan layar diambil.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menegaskan, Bagus Putra Mahendra (15) siswa salah satu SMA yang tewas di Jakarta Utara, bukan bagian dari massa aksi pelajar di DPR RI.
Anggota Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menegaskan, siswa yang meninggal karena kecelakaan itu tengah pulang ke rumah seusai bersekolah.
Hal itu diketahui setelah KPAI berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan pihak sekolah siswa.
“Terkonfirmasi, anak itu betul meninggal. Dia pulang sekolah naik motor dan terlibat kecelakaan di Pademangan. Yang bersangkutan sama sekali tidak menuju DPR atau tidak pulang dari DPR,” kata Retno di kantor KPAI, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Pernyataan Retno itu sekaligus membantah informasi di media sosial dan polisi soal ihwal tewasnya siswa SMA tersebut.
“Jadi betul-betul memang ingin pulang ke rumah dari sekolah dan mengalami kecelakaan di daerah Pademangan. Jadi informasi yang beredar bahwa dia meninggal karena aksi adalah hoaks,” ujar Retno.
Sebelumnya, pihak kepolisian menyebutkan pelajar tersebut tewas saat hendak mengikuti aksi unjuk rasa ke Gedung DPR RI.
Kapolsek Tanjung Priok Kompol Budi Cahyono saat dimintai konfirmasi membenarkan soal meninggalnya bocah tersebut. Budi mengatakan bocah tersebut meninggal karena tertabrak truk kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu (25/9).
“Memang kemarin dari Terminal Tanjung Priok anak-anak sekolah long march ke Pademangan mau ke DPR,” kata Kompol Budi saat dihubungi detikcom, Kamis (26/9/2019).
Menurut Budi, korban meninggal dunia setelah tertabrak kontainer dalam perjalanan menuju DPR dari Pademangan, Jakarta Utara.
“Salah satu anak sekolah SMK Al-Jihad tertabrak kontainer di Pademangan, ditangani lalu lintas Jakut,” tuturnya.
Namun polisi membantah jika korban sempat dikejar aparat sebelum tewas. “Tidak ada aparat yang mengejar saat kejadian,” ujar Plt Kanit Lakalantas Polres Jakarta Utara, Ipda Farmal saat dikonfirmasi di waktu yang sama.
Farmal mengatakan peristiwa itu berawal ketika sebuah mobil truk trailer kontainer sedang melaju di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara.
“Trailer B 9417 QZ pengemudi saudara Ruhendi melaju dari arah barat ke timur di Jalan RE Martadianata tepatnya sebelum jembatan goyang wilayah Pademangan, Jakarta Utara,” kata dia.
Diduga karena kurang hati-hati, kendaraan tersebut menabrak Bagus yang sedang berjalan dari arah selatan menuju utara. Akibatnya, Bagus mengalami luka parah di bagian pinggang. Korban pun sempat dibawa ke RS Sulianti Saroso untuk penanganan lebih lanjut. Namun, nyawa Bagus sudah tidak bisa ditolong lagi dan dinyatakan tewas pukul 16.30 WIB.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menegaskan, Bagus Putra Mahendra (15) siswa salah satu SMA yang tewas di Jakarta Utara, bukan bagian dari massa aksi pelajar di DPR RI.
Anggota Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menegaskan, siswa yang meninggal karena kecelakaan itu tengah pulang ke rumah seusai bersekolah.
Hal itu diketahui setelah KPAI berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan pihak sekolah siswa.
“Terkonfirmasi, anak itu betul meninggal. Dia pulang sekolah naik motor dan terlibat kecelakaan di Pademangan. Yang bersangkutan sama sekali tidak menuju DPR atau tidak pulang dari DPR,” kata Retno di kantor KPAI, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Pernyataan Retno itu sekaligus membantah informasi di media sosial dan polisi soal ihwal tewasnya siswa SMA tersebut.
“Jadi betul-betul memang ingin pulang ke rumah dari sekolah dan mengalami kecelakaan di daerah Pademangan. Jadi informasi yang beredar bahwa dia meninggal karena aksi adalah hoaks,” ujar Retno.
Sebelumnya, pihak kepolisian menyebutkan pelajar tersebut tewas saat hendak mengikuti aksi unjuk rasa ke Gedung DPR RI.
Kapolsek Tanjung Priok Kompol Budi Cahyono saat dimintai konfirmasi membenarkan soal meninggalnya bocah tersebut. Budi mengatakan bocah tersebut meninggal karena tertabrak truk kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu (25/9).
“Memang kemarin dari Terminal Tanjung Priok anak-anak sekolah long march ke Pademangan mau ke DPR,” kata Kompol Budi saat dihubungi detikcom, Kamis (26/9/2019).
Menurut Budi, korban meninggal dunia setelah tertabrak kontainer dalam perjalanan menuju DPR dari Pademangan, Jakarta Utara.
“Salah satu anak sekolah SMK Al-Jihad tertabrak kontainer di Pademangan, ditangani lalu lintas Jakut,” tuturnya.
Namun polisi membantah jika korban sempat dikejar aparat sebelum tewas. “Tidak ada aparat yang mengejar saat kejadian,” ujar Plt Kanit Lakalantas Polres Jakarta Utara, Ipda Farmal saat dikonfirmasi di waktu yang sama.
Farmal mengatakan peristiwa itu berawal ketika sebuah mobil truk trailer kontainer sedang melaju di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara.
“Trailer B 9417 QZ pengemudi saudara Ruhendi melaju dari arah barat ke timur di Jalan RE Martadianata tepatnya sebelum jembatan goyang wilayah Pademangan, Jakarta Utara,” kata dia.
Diduga karena kurang hati-hati, kendaraan tersebut menabrak Bagus yang sedang berjalan dari arah selatan menuju utara. Akibatnya, Bagus mengalami luka parah di bagian pinggang. Korban pun sempat dibawa ke RS Sulianti Saroso untuk penanganan lebih lanjut. Namun, nyawa Bagus sudah tidak bisa ditolong lagi dan dinyatakan tewas pukul 16.30 WIB.
Rujukan
Halaman: 7672/8485





