[DISINFORMASI] Seorang Anak Menjadi Buta Setelah Membuka Bungkus Silica Gel
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/09/2019
Berita
Sebuah pesan berantai di WhatsApp menjadi viral setelah menampilkan foto seorang anak yang matanya menjadi buta disertai gambar dari sebuah bungkusan berisi butiran transparan kecil. Dalam narasi yang menyertai foto ini, disebutkan bahwa butiran tersebut merupakan pelastik kecil yang didapatkan di barang-barang baru. Pelastik ini disebut berbahaya dikarenakan bisa meledak jika tercampur atau direndam air. Seorang anak disebut telah menjadi korbannya setelah anak tersebut membuka bungkus pelastik tersebut yang menyebabkan biji pelastik itu melompat ke matanya. Ketika sang anak mencuci mukanya dengan air, biji pelastik tersebut kemudian meledak dan menyebabkan matanya menjadi buta.
Hasil Cek Fakta
Adapun zat yang disebut pelastik tersebut sebenarnya merupakan dessicant yang memang diperuntukkan sebagai pengawet produk agar lebih tahan lama dan tahan lembab. Dessicant biasanya mengandung silica gel yang relatif tidak terlalu berbahaya. Namun terdapat jenis lain dari dessicant yang terbuat dari kapur, atau kalsium oksida. Jenis ini dapat bereaksi secara kimia bila dikombinasikan dengan air, dimana proses tersebut dapat menghasilkan panas dengan cepat dan membentuk kalsium hiroksida yang sangat basa dengan nilai pH 12.4. Apabila wadah tidak mampu menampung uap, maka akan terjadi ledakan. Dalam kejadian yang sebenarnya, dessicant yang dipercaya digunakan dalam kejadian ini adalah dessicant dari kapur tersebut.
Pada narasi yang tersebar, dikatakan bahwa anak yang menjadi korban terkena dessicant setelah membuka bungkus dessicant sehingga menyebabkan zat dessicant melompat ke matanya. Ledakan sendiri terjadi ketika korban mencuci mukanya dengan air sehingga memicu zat dessicant meledak di matanya. Namun pada kejadian yang sebenarnya, korban tidak terkena zat dessicant yang melompat dari bungkusnya. Korban terlebih dahulu menuangkan dessicant ke dalam botol berisi air yang kemudian meledak. Cairan dari ledakan tersebut kemudian masuk kematanya dan menyebabkan kebutaan. Perbedaan informasi ini berpotensi menyebabkan kebingungan bagi publik. Meskipun demikian, ada baiknya bagi para orang tua dan orang dewasa lebih berhati-hati dalam menjaga anak kecil untuk menjauhi benda-benda yang berpotensi berbahaya seperti dessicant.
Pada narasi yang tersebar, dikatakan bahwa anak yang menjadi korban terkena dessicant setelah membuka bungkus dessicant sehingga menyebabkan zat dessicant melompat ke matanya. Ledakan sendiri terjadi ketika korban mencuci mukanya dengan air sehingga memicu zat dessicant meledak di matanya. Namun pada kejadian yang sebenarnya, korban tidak terkena zat dessicant yang melompat dari bungkusnya. Korban terlebih dahulu menuangkan dessicant ke dalam botol berisi air yang kemudian meledak. Cairan dari ledakan tersebut kemudian masuk kematanya dan menyebabkan kebutaan. Perbedaan informasi ini berpotensi menyebabkan kebingungan bagi publik. Meskipun demikian, ada baiknya bagi para orang tua dan orang dewasa lebih berhati-hati dalam menjaga anak kecil untuk menjauhi benda-benda yang berpotensi berbahaya seperti dessicant.
Rujukan
- httpLink Counter :
- https://id.theasianparent.com/bahaya-silica-gel
- http://style.tribunnews.com/2017/12/14/bocah-ini-mainan-pakai-silica-gel-saat-dimasukkan-ke-botol-air-malah-meledak-bikin-buta-ternyata
- https://nakita.grid.id/read/02928524/masukkan-pengawet-dalam-botol-minuman-bocah-ini-mengalami-kebutaan-permanen
- https://www.asiaone.com/china/boy-8-blinded-one-eye-after-playing-desiccant-packet-snack Sumber:
- https://www.kominfo.go.id/content/detail/17068/disinformasi-seorang-anak-menjadi-buta-setelah-membuka-bungkus-silica-gel/0/laporan_isu_hoaks
PLN Jelaskan Sebab Listrik Padam di Jakarta dan Sekitarnya
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/09/2019
Berita
narasi:
apakah benar pukul 10.40pht 150kv kdiri-jaktas di padamkan(karena ada orang slah panjat) benar atau hoax
apakah benar pukul 10.40pht 150kv kdiri-jaktas di padamkan(karena ada orang slah panjat) benar atau hoax
Hasil Cek Fakta
Liputan6.com, Jakarta - Pelaksana tugas Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani menjelaskan pemadaman listrik sejak Minggu siang, 4 Agustus kemarin.
Menurut Sripeni, pemadaman listrik harus dilakukan karena ada sejumlah gangguan pada transmisi saluran udara tegangan ekstra di Ungaran dan Pemalang.
Akibat pemadaman listrik tersebut, seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Senin (5/8/2019), terjadilah black out pada jaringan di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang berdampak pada aliran listrik sejumlah gardu listrik.
Sementara, aliran listrik di Jawa Tengah masih terpantau normal kecuali Brebes. (Rio Audhitama Sihombing)
Menurut Sripeni, pemadaman listrik harus dilakukan karena ada sejumlah gangguan pada transmisi saluran udara tegangan ekstra di Ungaran dan Pemalang.
Akibat pemadaman listrik tersebut, seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Senin (5/8/2019), terjadilah black out pada jaringan di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang berdampak pada aliran listrik sejumlah gardu listrik.
Sementara, aliran listrik di Jawa Tengah masih terpantau normal kecuali Brebes. (Rio Audhitama Sihombing)
Rujukan
Edy Rahmayadi Pisah dari Rombongan Jokowi: Masa Nempel Terus
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/09/2019
Berita
narasi:
Edy rahmayadi terpisah dari rombongan jokowi
Edy rahmayadi terpisah dari rombongan jokowi
Hasil Cek Fakta
Medan, CNN Indonesia -- Presiden Jokowi beserta rombongan telah mengunjungi destinasi wisata Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut), 29 Juli-31 Juli. Beberapa hari usai kunjungan itu, foto Gubernur Sumut Edy Rahmayadi yang tengah menyendiri terpisah dari rombongan Presiden viral di media sosial.
Ada dua foto yang beredar. Foto pertama saat Presiden beserta rombongan beserta Gubernur Edy berkunjung ke situs Batu Persidangan di Desa Siallagan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir pada 31 Juli 2019. Saat itu rombongan presiden tengah duduk.
Rombongan mendengarkan penjelasan Gading Jansen Siallagan selaku Generasi ke-17 Huta Siallagan soal batu persidangan yang menjadi tempat musyawarah menentukan kebijakan baik itu hukuman atau pun pengumuman kerajaan.
Dalam foto yang beredar, Jokowi beserta para menteri dan sejumlah pejabat tampak tertawa bercanda. Begitu juga Ibu Negara Iriana Jokowi yang mengenakan ulos merah muda tersenyum. Namun, Edy yang mengenakan kemeja putih duduk menyendiri di ujung menjauh dari rombongan itu dengan ekspresi wajah yang kaku.
Kemudian foto kedua juga menampilkan pemandangan yang serupa. Saat itu rombongan Presiden mengunjungi The Kaldera Toba Nomadic Escape di Desa Sibisa, Tobasa. Presiden tampak berdiskusi dengan Menteri Pariwisata dan sejumlah pejabat yang berdiri membelakangi Gubernur Edy. Dalam foto Edy lagi-lagi berdiri menyendiri dengan mimik wajah serius.
Kedua foto itu menuai reaksi beragam dari netizen. Ada yang menyindir dengan satir dan tak sedikit pula yang memuji sikap Edy yang dianggap memegang prinsip lantaran tak mau bergabung dengan rombongan.
Edy Rahmayadi lantas menanggapi foto yang viral itu. Ia menilai masyarakat tidak perlu menanggapi foto yang seolah-olah memperlihatkan dia enggan bergabung dengan rombongan presiden.
"Kamu tanya aja sama yang nulis. Masa berpisah [dengan rombongan]," tepisnya, Jumat (2/8).
Mantan Ketua Umum PSSI itu mengatakan posisi Gubernur Sumut merupakan wakil pusat di daerah. "Kalau saya sama presiden itu, saya adalah wakil pusat di daerah," jelasnya.
Edy menambahkan dirinya tak mungkin terus bersama Presiden dalam kunjungannya ke Sumut. "Kalau duduk di situ, terus saya paling ujung, masa harus nempel terus," bebernya.
Diketahui, Edy, yang berpasangan dengan Musa Rajeksah pada Pilkada Sumut 2018, diusung oleh lima partai, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Hanura, PKS, PAN, dan Partai NasDem.
Saat itu, ia berhadapan dengan pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus yang diusung oleh PDIP, yang merupakan partainya Jokowi, dan PPP.
Ada dua foto yang beredar. Foto pertama saat Presiden beserta rombongan beserta Gubernur Edy berkunjung ke situs Batu Persidangan di Desa Siallagan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir pada 31 Juli 2019. Saat itu rombongan presiden tengah duduk.
Rombongan mendengarkan penjelasan Gading Jansen Siallagan selaku Generasi ke-17 Huta Siallagan soal batu persidangan yang menjadi tempat musyawarah menentukan kebijakan baik itu hukuman atau pun pengumuman kerajaan.
Dalam foto yang beredar, Jokowi beserta para menteri dan sejumlah pejabat tampak tertawa bercanda. Begitu juga Ibu Negara Iriana Jokowi yang mengenakan ulos merah muda tersenyum. Namun, Edy yang mengenakan kemeja putih duduk menyendiri di ujung menjauh dari rombongan itu dengan ekspresi wajah yang kaku.
Kemudian foto kedua juga menampilkan pemandangan yang serupa. Saat itu rombongan Presiden mengunjungi The Kaldera Toba Nomadic Escape di Desa Sibisa, Tobasa. Presiden tampak berdiskusi dengan Menteri Pariwisata dan sejumlah pejabat yang berdiri membelakangi Gubernur Edy. Dalam foto Edy lagi-lagi berdiri menyendiri dengan mimik wajah serius.
Kedua foto itu menuai reaksi beragam dari netizen. Ada yang menyindir dengan satir dan tak sedikit pula yang memuji sikap Edy yang dianggap memegang prinsip lantaran tak mau bergabung dengan rombongan.
Edy Rahmayadi lantas menanggapi foto yang viral itu. Ia menilai masyarakat tidak perlu menanggapi foto yang seolah-olah memperlihatkan dia enggan bergabung dengan rombongan presiden.
"Kamu tanya aja sama yang nulis. Masa berpisah [dengan rombongan]," tepisnya, Jumat (2/8).
Mantan Ketua Umum PSSI itu mengatakan posisi Gubernur Sumut merupakan wakil pusat di daerah. "Kalau saya sama presiden itu, saya adalah wakil pusat di daerah," jelasnya.
Edy menambahkan dirinya tak mungkin terus bersama Presiden dalam kunjungannya ke Sumut. "Kalau duduk di situ, terus saya paling ujung, masa harus nempel terus," bebernya.
Diketahui, Edy, yang berpasangan dengan Musa Rajeksah pada Pilkada Sumut 2018, diusung oleh lima partai, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Hanura, PKS, PAN, dan Partai NasDem.
Saat itu, ia berhadapan dengan pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus yang diusung oleh PDIP, yang merupakan partainya Jokowi, dan PPP.
Rujukan
Polisi Usut Kematian Calon Paskibraka di Tangerang Selatan
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/09/2019
Berita
narasi:
Gadis meningal penbawa bendera merah putih di istana negara
Gadis meningal penbawa bendera merah putih di istana negara
Hasil Cek Fakta
Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Polres Tangerang Selatan (Tangsel) tengah menyelidiki kematian Aurellia Qurratuaini, calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Penyelidikan tetap dilakukan meski pihak keluarga belum membuat laporan resmi.
"Untuk pihak Polres Tangsel masih mengumpulkan informasi-informasi terkait permasalahan ini," kata Kasat Reskrim Tangsel Polresta Tangsel AKP Muharram Wibisono kepada Merdeka.com, Minggu (4/8/2019).
Saat ini, polisi tengah mencari bukti-bukti kematian siswa bernama Aurellia Qurratuaini (16). Diduga, pelajar SMA Al Azhar BSD, Tangsel itu mengalami kekerasan saat menjalani pelatihan Paskibraka.
"Kita kumpulkan dulu fakta-faktanya ya, apakah ada unsur pidananya atau tidak. Ini masih kita dalami, betul atau tidaknya (dugaan kekerasan hingga akhirnya meninggal dunia)," ujarnya.
Sebelumnya, calon Paskibraka Kota Tangerang Selatan bernama Aurellia Qurratuaini dikabarkan meninggal dunia. Keluarga menemukan sejumlah bekas luka di tubuh almarhumah.
Belum Berencana Bawa ke Ranah Hukum
Faried Abdurrahman, ayah dari Aurellia mengaku belum berniat membawa persoalan kematian anaknya ke ranah hukum.
"Statemen yang saya sampaikan bahwa saya dan keluarga sampai saat ini tidak berencana untuk melakukan langkah hukum terhadap yang berwenang, baik Pemkot Tangsel dalam hal ini Dispora maupun pelatih dan para senior purna paskibraka untuk melanjutkan mereka ke proses hukum," kata Faried di rumah duka, Perumahan Taman Royal 2, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Sabtu 3 Agustus 2019.
Meski diakuinya, ada sejumlah luka lebam pada tubuh putri pertamanya itu, yang disebabkan dari pelatihan calon Paskibraka yang diikuti selama 22 hari, sejak tanggal 9-31 Juli 2019.
Hal tersebut, lanjut Faried dengan mempertimbangkan kecintaan keluarga dan orang tua terhadap putrinya itu. "Dengan pertimbangan bahwa kami sangat cinta dengan anak kami," ucap dia.
Namum begitu, Faried berharap adanya evaluasi menyeluruh dalam proses latihan calon Paskibraka tingkat Kota Tangsel yang saat ini tengah berlangsung hingga 17 Agustus mendatang.
"Kami hanya ingin adanya perubahan pola yang diterapkan, yang menurut kami harusnya itu tidak sewajarnya untuk dilakukan kepada seorang Paskibraka pengibar bendera Indonesia tingkat Pelajar," ucapnya.
"Untuk pihak Polres Tangsel masih mengumpulkan informasi-informasi terkait permasalahan ini," kata Kasat Reskrim Tangsel Polresta Tangsel AKP Muharram Wibisono kepada Merdeka.com, Minggu (4/8/2019).
Saat ini, polisi tengah mencari bukti-bukti kematian siswa bernama Aurellia Qurratuaini (16). Diduga, pelajar SMA Al Azhar BSD, Tangsel itu mengalami kekerasan saat menjalani pelatihan Paskibraka.
"Kita kumpulkan dulu fakta-faktanya ya, apakah ada unsur pidananya atau tidak. Ini masih kita dalami, betul atau tidaknya (dugaan kekerasan hingga akhirnya meninggal dunia)," ujarnya.
Sebelumnya, calon Paskibraka Kota Tangerang Selatan bernama Aurellia Qurratuaini dikabarkan meninggal dunia. Keluarga menemukan sejumlah bekas luka di tubuh almarhumah.
Belum Berencana Bawa ke Ranah Hukum
Faried Abdurrahman, ayah dari Aurellia mengaku belum berniat membawa persoalan kematian anaknya ke ranah hukum.
"Statemen yang saya sampaikan bahwa saya dan keluarga sampai saat ini tidak berencana untuk melakukan langkah hukum terhadap yang berwenang, baik Pemkot Tangsel dalam hal ini Dispora maupun pelatih dan para senior purna paskibraka untuk melanjutkan mereka ke proses hukum," kata Faried di rumah duka, Perumahan Taman Royal 2, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Sabtu 3 Agustus 2019.
Meski diakuinya, ada sejumlah luka lebam pada tubuh putri pertamanya itu, yang disebabkan dari pelatihan calon Paskibraka yang diikuti selama 22 hari, sejak tanggal 9-31 Juli 2019.
Hal tersebut, lanjut Faried dengan mempertimbangkan kecintaan keluarga dan orang tua terhadap putrinya itu. "Dengan pertimbangan bahwa kami sangat cinta dengan anak kami," ucap dia.
Namum begitu, Faried berharap adanya evaluasi menyeluruh dalam proses latihan calon Paskibraka tingkat Kota Tangsel yang saat ini tengah berlangsung hingga 17 Agustus mendatang.
"Kami hanya ingin adanya perubahan pola yang diterapkan, yang menurut kami harusnya itu tidak sewajarnya untuk dilakukan kepada seorang Paskibraka pengibar bendera Indonesia tingkat Pelajar," ucapnya.
Rujukan
Halaman: 7701/8485

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2215290/original/007512400_1526452094-Garis-Polisi11.jpg)