• [DISINFORMASI] Luhut Melarang Anies Merombak Pejabat DKI

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/10/2017

    Berita

    Narasi pertama: […] Punya kewenangan apa si mantan jendral yang sengak ini ? […]
    Narasi kedua: […] Gubernur DKI yang baru dilarang rombak pejabat? […]

    Hasil Cek Fakta

    Cuplikan gambar tersebut merupakan screenshot dari fanpage Facebook milik Kompas.com yang diambil setengah. Padahal, postingan pada fanpage tersebut mengacu kepada pemberitaan dengan judul “Luhut Ingatkan Anies Baswedan Wajib Lanjutkan Reklamasi.”
    Isi berita dalam postingan tersebut tidak ada kaitannya dengan larangan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan kepada Gubernur DKI terpilih Anies Baswedan untuk merombak pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Isi berita lebih kepada komentar Luhut Binsar Pandjaitan terhadap isu reklamasi di bibir pantai DKI Jakarta.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [HOAX] Mobil Pemuda yang Berkelahi dengan Lettu TNI AL, Terbakar

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 16/10/2017

    Berita

    Laporan Kebakaran Mobil
    Pada hari Sabtu tgl 14 Okt 2017 Skp. 03.15 wib telah terjadi kebakaran sebuah mobil Mazda warna merah nopol B 1599 PVH di Jl Harapan 1 Nomor 3 Kodamar yang diparkir didepan rumah Nama pemilik Sdr Bimantoro Prasetiyo Hp. 081316009694 Tempat tanggal lahir Jakarta 22 Okteber 1999 Pekejaan musisi. Adapun penyebab kebakaran dikarenakan akibat arus pendek. korban jiwa nihil, korban materiil mengalami kerugian di taksir sekitar Rp. 125 jt. api dapat di padamkan skp. 04.00 wib oleh BPK setempat.

    Hasil Cek Fakta

    Konflik atau perkelahian antara pemuda Bimantoro Prasetiyo dan Lettu Satrio Fitriandi yang terjadi di Jalan Pemuda, Rawa Mangun, beberapa waktu lau telah berakhir damai. Namun hal ini tidak menghentikan respon netizen di media sosial terhadap Bimantoro. Setelah sempat dibuli netizen di akun media sosial facebook, kini beredar kabar di media whatsapp bahwa mobilnya terbakar.
    Namun setelah ditelisik, informasi yang beredar tersebut adalah bohong. Kapolsek Kelapa Gading Kompol Arif Fazlurrahman menyatakan telah menelusuri kejadian kebakaran mobil itu ke lokasi, Sabtu (14/10) pukul 18.00 Wib. Namun tidak menemukan peristiwa yang ada dalam broadcast itu.
    “Pada hari Sabtu telah pengecekan adanya berita terjadi kebakaran sebuah mobil Mazda warna merah nopol B 1599 PVH di Jl Harapan 1 Nomor 3 Kodamar yang diparkir didepan rumah Nama pemilik Sdr Bimantoro Prasetiyo hasil pengecekan tidak benar (Hoax),” ujar Kompol Arif Fazlurrahman, Sabtu (14/10/2017).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [BERITA] “Tahun Lalu, Media Sosial Digunakan untuk Mempengaruhi Pemilu di Sedikitnya 18 Negara”

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 15/10/2017

    Berita

    “Tahun Lalu, Media Sosial Digunakan untuk Mempengaruhi Pemilu di Sedikitnya 18 Negara
    Media sosial bukan hanya untuk foto anak kucing dan meme politik paman Anda lagi. Ini semakin merupakan alat yang digunakan pemerintah untuk mempengaruhi pemilihan dan menumbangkan demokrasi, menurut sebuah laporan baru oleh kelompok advokasi demokrasi Freedom House.
    Laporan tersebut menemukan bahwa setidaknya 18 negara, termasuk Amerika Serikat, melakukan pemilihan mereka dimanipulasi melalui media sosial selama setahun terakhir. Penyebaran disinformasi juga berkontribusi terhadap keseluruhan penurunan kebebasan Internet di seluruh dunia selama tahun ketujuh berjalan, dan berkontribusi pada serangan kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia dan wartawan, menurut laporan tersebut.
    Campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun lalu dan pemungutan suara Brexit sekarang telah didokumentasikan dengan baik, namun laporan Freedom House menemukan bahwa bukan hanya kekuatan asing yang mencoba mempengaruhi pemilihan. Turki, Venezuela, Filipina, dan lebih dari dua lusin negara lain menggunakan “pembentuk opini” yang menyebarkan poin pembicaraan pemerintah dan menutup kritik di dalam perbatasan mereka sendiri. Jumlah negara yang mencoba membentuk diskusi online dengan cara ini telah meningkat setiap tahun sejak Freedom House mulai melacaknya di tahun 2009 (gambar di atas adalah gambar Freedom House tentang kebebasan internet global untuk tahun ini).
    Laporan tersebut menunjukkan bahwa sementara negara-negara seperti China dan Rusia telah mempekerjakan tentara online untuk menyebarkan propaganda atau menutup situs selama setidaknya satu dekade, sistem otomatis seperti bot dan algoritma semakin menciptakan cara baru untuk mengganggu demokrasi yang sulit untuk dilacak, namun untuk sepenuhnya dipahami
    Beberapa negara tampaknya memperhatikan. Uni Eropa meminta bantuan dalam memerangi disinformasi dan telah menciptakan sebuah kelompok ahli untuk memerangi berita palsu. Jerman mendapat perhatian khusus sebelum pemilihannya awal tahun ini untuk memastikan sistemnya aman dari campur tangan.
    Dalam ukuran yang agak drastis, Somaliland, republik yang mendeklarasikan diri di Somalia barat laut, memblokir selusin situs media sosial selama pemilihan yang akan datang. Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa media sosial diperlukan untuk pemilihan yang bebas dan adil – namun Somaliland yakin bahwa taktik tersebut diperlukan setelah serangkaian cerita palsu menyebar secara verbal online.
    SUMBER: Rumah kebebasan KREDIT GAMBAR: Rumah kebebasan
    Diposting oleh Jackie Snow
    14 November 2017 4:05 PM” (Google Translate, https://goo.gl/7Q7cjf).

    “Last Year, Social Media Was Used to Influence Elections in at Least 18 Countries
    Social media isn’t just for photos of kittens and your uncle’s political memes anymore. It’s increasingly a tool governments use to influence elections and subvert democracy, according to a new report by the democracy advocacy group Freedom House.
    The report found that at least 18 countries, including the United States, had their elections manipulated through social media over the last year. The spread of disinformation also contributed to the overall decline of Internet freedom across the world for the seventh year running, and contributed to violent attacks on human-rights activists and journalists, according to the report.
    Russian meddling in last year’s U.S. presidential election and the Brexit vote is by now well-documented, but the Freedom House report found that it wasn’t just foreign forces that were trying to sway elections. Turkey, Venezuela, the Philippines, and more than two dozen other countries employed “opinion shapers” that spread government talking points and shut down critics within their own borders. The number of countries trying to shape online discussions in this way has risen every year since Freedom House began tracking it in 2009 (the image above is Freedom House’s graphic of global Internet freedom for this year).
    The report points out that while countries like China and Russia have employed online armies to spread propaganda or shut down sites for at least a decade, automated systems like bots and algorithms are increasingly creating new ways of disrupting democracy that are harder to track, and yet to be fully understood.
    Several countries seem to be taking note. The EU is asking for help in fighting disinformation and has created an expert group to combat fake news. Germany took special care before its election earlier this year to make sure its systems were safe from meddling.
    In a somewhat more drastic measure, Somaliland, the self-declared republic in northwest Somalia, is blocking a dozen social-media sites during its upcoming election. Human Rights Watch has cautioned that social media is necessary for a free and fair election—but Somaliland believes the tactic is necessary after a rash of fake stories spread virally online.
    SOURCE: FREEDOM HOUSE IMAGE CREDIT: FREEDOM HOUSE
    Posted by Jackie Snow

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [BERITA] “Tahun Lalu, Media Sosial Digunakan untuk Mempengaruhi Pemilu di Sedikitnya 18 Negara”

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 15/10/2017

    Berita

    “Tahun Lalu, Media Sosial Digunakan untuk Mempengaruhi Pemilu di Sedikitnya 18 Negara
    Media sosial bukan hanya untuk foto anak kucing dan meme politik paman Anda lagi. Ini semakin merupakan alat yang digunakan pemerintah untuk mempengaruhi pemilihan dan menumbangkan demokrasi, menurut sebuah laporan baru oleh kelompok advokasi demokrasi Freedom House.
    Laporan tersebut menemukan bahwa setidaknya 18 negara, termasuk Amerika Serikat, melakukan pemilihan mereka dimanipulasi melalui media sosial selama setahun terakhir. Penyebaran disinformasi juga berkontribusi terhadap keseluruhan penurunan kebebasan Internet di seluruh dunia selama tahun ketujuh berjalan, dan berkontribusi pada serangan kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia dan wartawan, menurut laporan tersebut.
    Campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun lalu dan pemungutan suara Brexit sekarang telah didokumentasikan dengan baik, namun laporan Freedom House menemukan bahwa bukan hanya kekuatan asing yang mencoba mempengaruhi pemilihan. Turki, Venezuela, Filipina, dan lebih dari dua lusin negara lain menggunakan “pembentuk opini” yang menyebarkan poin pembicaraan pemerintah dan menutup kritik di dalam perbatasan mereka sendiri. Jumlah negara yang mencoba membentuk diskusi online dengan cara ini telah meningkat setiap tahun sejak Freedom House mulai melacaknya di tahun 2009 (gambar di atas adalah gambar Freedom House tentang kebebasan internet global untuk tahun ini).
    Laporan tersebut menunjukkan bahwa sementara negara-negara seperti China dan Rusia telah mempekerjakan tentara online untuk menyebarkan propaganda atau menutup situs selama setidaknya satu dekade, sistem otomatis seperti bot dan algoritma semakin menciptakan cara baru untuk mengganggu demokrasi yang sulit untuk dilacak, namun untuk sepenuhnya dipahami
    Beberapa negara tampaknya memperhatikan. Uni Eropa meminta bantuan dalam memerangi disinformasi dan telah menciptakan sebuah kelompok ahli untuk memerangi berita palsu. Jerman mendapat perhatian khusus sebelum pemilihannya awal tahun ini untuk memastikan sistemnya aman dari campur tangan.
    Dalam ukuran yang agak drastis, Somaliland, republik yang mendeklarasikan diri di Somalia barat laut, memblokir selusin situs media sosial selama pemilihan yang akan datang. Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa media sosial diperlukan untuk pemilihan yang bebas dan adil – namun Somaliland yakin bahwa taktik tersebut diperlukan setelah serangkaian cerita palsu menyebar secara verbal online.
    SUMBER: Rumah kebebasan KREDIT GAMBAR: Rumah kebebasan
    Diposting oleh Jackie Snow
    14 November 2017 4:05 PM” (Google Translate, https://goo.gl/7Q7cjf).

    “Last Year, Social Media Was Used to Influence Elections in at Least 18 Countries
    Social media isn’t just for photos of kittens and your uncle’s political memes anymore. It’s increasingly a tool governments use to influence elections and subvert democracy, according to a new report by the democracy advocacy group Freedom House.
    The report found that at least 18 countries, including the United States, had their elections manipulated through social media over the last year. The spread of disinformation also contributed to the overall decline of Internet freedom across the world for the seventh year running, and contributed to violent attacks on human-rights activists and journalists, according to the report.
    Russian meddling in last year’s U.S. presidential election and the Brexit vote is by now well-documented, but the Freedom House report found that it wasn’t just foreign forces that were trying to sway elections. Turkey, Venezuela, the Philippines, and more than two dozen other countries employed “opinion shapers” that spread government talking points and shut down critics within their own borders. The number of countries trying to shape online discussions in this way has risen every year since Freedom House began tracking it in 2009 (the image above is Freedom House’s graphic of global Internet freedom for this year).
    The report points out that while countries like China and Russia have employed online armies to spread propaganda or shut down sites for at least a decade, automated systems like bots and algorithms are increasingly creating new ways of disrupting democracy that are harder to track, and yet to be fully understood.
    Several countries seem to be taking note. The EU is asking for help in fighting disinformation and has created an expert group to combat fake news. Germany took special care before its election earlier this year to make sure its systems were safe from meddling.
    In a somewhat more drastic measure, Somaliland, the self-declared republic in northwest Somalia, is blocking a dozen social-media sites during its upcoming election. Human Rights Watch has cautioned that social media is necessary for a free and fair election—but Somaliland believes the tactic is necessary after a rash of fake stories spread virally online.
    SOURCE: FREEDOM HOUSE IMAGE CREDIT: FREEDOM HOUSE
    Posted by Jackie Snow
    November 14th, 2017 4:05PM”

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini