(DISINFORMASI): Ustadz AA Gym Pimpin Ribuan Umat Bela Islam Se Jawa Barat Pada 30 November ke Jakarta
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 30/11/2016
Berita
Beredar info disertai foto yang menyebutkan bahwa pada tanggal 30 november 2016, KH Gymastiar atau AA Gym melakukan konsolidasi dengan memimpin keberangkatan puluhan ribu umat Islam se Jawa Barat untuk aksi bela Islam jilid 3 yang tergabung dengan para mujahid pejalan kaki ciamis.
Hasil Cek Fakta
Faktanya, foto-foto tersebut merupakan rombongan santri yang mengiringi AA Gym untuk turut serta mengikuti apel nusantara bersatu di Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Rabu, 30 November 2016.
Kehadiran Aa Gym dalam kegiatan bertajuk Indonesia Milikmu, Milikku, Milik Kita Bersama Bhinneka Tunggal Ika itu menarik perhatian peserta apel karena datang menunggangi kuda.
Aa Gym disambut Gubernur Ahmad Heryawan, Kepala Kejaksaan Tinggi Setia Untung Arimuladi, Kepala Polda Inspektur Jenderal Polisi Bambang Waskito; dan Panglima Kodam Siliwangi, Mayor Jenderal TNI Muhamad Herindra.
Kehadiran Aa Gym dalam kegiatan bertajuk Indonesia Milikmu, Milikku, Milik Kita Bersama Bhinneka Tunggal Ika itu menarik perhatian peserta apel karena datang menunggangi kuda.
Aa Gym disambut Gubernur Ahmad Heryawan, Kepala Kejaksaan Tinggi Setia Untung Arimuladi, Kepala Polda Inspektur Jenderal Polisi Bambang Waskito; dan Panglima Kodam Siliwangi, Mayor Jenderal TNI Muhamad Herindra.
Rujukan
[ISU] VAKSIN KANKER SERVIKS SEBABKAN MENOPOUSE DINI
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 29/11/2016
Berita
NARASI : INFO DARI KAWAN-KAWAN : VAKSIN KANKER SERVIKS YANG DITUJUKAN KEPADA ANAK-ANAK SD INI AKAN MENYEBABKAN MENOPOUSE DINI.
Hasil Cek Fakta
Kementerian Kesehatan angkat bicara terkait isu yang menyebar di media sosial bahwa pemberian vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks (leher rahim) bisa menyebabkan menopause dini atau kemandulan.
“Sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan Premature Ovarian Failure (POF) dengan penggunaan vaksin HPV,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Oscar Primadi dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Minggu, 27 November 2016.
Oscar menjelaskan Premature Ovarian Failure (POF), sekarang disebut oleh komunitas ilmiah sebagai Primary Ovarian Insufficiency (POI), adalah istilah yang digunakan oleh praktisi medis ketika ovarium seorang wanita berhenti bekerja normal sebelum dia berusia 40 tahun. “Hal ini jarang terjadi pada remaja,” katanya.
Kementerian Kesehatan menyampaikan, hingga saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan kejadian menopouse dini dengan penggunaan vaksin HPV. Justru menggunakan vaksin HPV dapat mencegah terjadinya kanker serviks.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus kanker di Indonesia terjadi sebanyak lebih kurang 330.000 orang dengan kasus terbesar adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Sementara itu, data dari WHO Information Centre on HPV and Cervical Cancer menyatakan bahwa 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks. Diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena penyakit berbahaya ini.
Imunisasi HPV, menurut Kementerian Kesehatan, merupakan pencegahan primer kanker serviks. Tingkat keberhasilannya dapat mencapai 100% jika diberikan sebanyak 2 kali pada kelompok umur wanita naif atau wanita yang belum pernah terinfeksi HPV yaitu pada populasi anak perempuan umur 9-13 tahun yang merupakan usia sekolah dasar.
Hasil penelitian selama 14 tahun menunjukkan setelah mendapat imunisasi HPV, penerima vaksin masih terproteksi 100 persen terhadap HPV tipe 16 dan 18 sehingga tidak diperlukan imunisasi ulang (booster).
Sejak pertama kali mendapat izin edar pada tahun 2006, lebih dari 200 juta dosis vaksin HPV telah dipakai di seluruh dunia. WHO merekomendasikan agar vaksin HPV masuk dalam program imunisasi nasional.
Badan WHO yaitu Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) mengumpulkan data post marketing surveilans dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan dari manufaktur. Data dikumpulkan dari tahun 2006, sejak pertama kali vaksin HPV diluncurkan sampai tahun 2014. Pada 12 Maret 2014, GACVS menyatakan tidak menemukan isu keamanan yang dapat merubah rekomendasi vaksinasi HPV.
Center for Disease Control and Prevention ( US CDC) yang memantau keamanan pasca-lisensi dari Juni 2006 hingga Maret 2013 menunjukkan tidak ada masalah keamanan vaksin HPV. Atas dasar hasil ini, di Amerika Serikat, vaksin HPV tetap direkomendasikan dan digunakan sebagai vaksinasi rutin.
Berdasarkan data WHO per September 2016, saat ini baru 67 dari 194 negara di dunia yang sudah mengimplementasikan program imunisasi HPV di negaranya. Sudah banyak hasil dari penelitian yang valid dari negara-negara tersebut terkait manfaat yang bermakna untuk menurunkan beban penyakit kanker serviks. Termasuk penyakit terkait infeksi HPV lainnya.
“Program nasional pencegahan kanker leher rahim yang sudah dilaksanakan saat ini dengan deteksi dini menggunakan metode IVA dan dibarengi vaksin HPV,” kata Oscar. Pemerintah merencanakan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi nasional yaitu vaksin HPV dengan pemberian imunisasi HPV kepada siswi perempuan kelas 5 SD untuk dosis pertama dan kelas 6 SD untuk dosis kedua, melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Kegiatan pemberian imunisasi HPV melalui program BIAS ini diawali dengan pemberian imunisasi di lokasi percontohan yang memiliki angka prevalensi kanker serviks yang tinggi dan dipandang memiliki kesiapan dalam melaksanakan imunisasi HPV, yaitu provinsi DKI Jakarta mulai bulan Oktober 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun depan di dua kabupaten di provinsi DIY yaitu kabupaten Kulonprogo dan Gunung Kidul.
Pelaksanaan imunisasi HPV dalam Kegiatan BIAS di DKI Jakarta sudah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).
“Sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan Premature Ovarian Failure (POF) dengan penggunaan vaksin HPV,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Oscar Primadi dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Minggu, 27 November 2016.
Oscar menjelaskan Premature Ovarian Failure (POF), sekarang disebut oleh komunitas ilmiah sebagai Primary Ovarian Insufficiency (POI), adalah istilah yang digunakan oleh praktisi medis ketika ovarium seorang wanita berhenti bekerja normal sebelum dia berusia 40 tahun. “Hal ini jarang terjadi pada remaja,” katanya.
Kementerian Kesehatan menyampaikan, hingga saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan kejadian menopouse dini dengan penggunaan vaksin HPV. Justru menggunakan vaksin HPV dapat mencegah terjadinya kanker serviks.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus kanker di Indonesia terjadi sebanyak lebih kurang 330.000 orang dengan kasus terbesar adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Sementara itu, data dari WHO Information Centre on HPV and Cervical Cancer menyatakan bahwa 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks. Diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena penyakit berbahaya ini.
Imunisasi HPV, menurut Kementerian Kesehatan, merupakan pencegahan primer kanker serviks. Tingkat keberhasilannya dapat mencapai 100% jika diberikan sebanyak 2 kali pada kelompok umur wanita naif atau wanita yang belum pernah terinfeksi HPV yaitu pada populasi anak perempuan umur 9-13 tahun yang merupakan usia sekolah dasar.
Hasil penelitian selama 14 tahun menunjukkan setelah mendapat imunisasi HPV, penerima vaksin masih terproteksi 100 persen terhadap HPV tipe 16 dan 18 sehingga tidak diperlukan imunisasi ulang (booster).
Sejak pertama kali mendapat izin edar pada tahun 2006, lebih dari 200 juta dosis vaksin HPV telah dipakai di seluruh dunia. WHO merekomendasikan agar vaksin HPV masuk dalam program imunisasi nasional.
Badan WHO yaitu Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) mengumpulkan data post marketing surveilans dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan dari manufaktur. Data dikumpulkan dari tahun 2006, sejak pertama kali vaksin HPV diluncurkan sampai tahun 2014. Pada 12 Maret 2014, GACVS menyatakan tidak menemukan isu keamanan yang dapat merubah rekomendasi vaksinasi HPV.
Center for Disease Control and Prevention ( US CDC) yang memantau keamanan pasca-lisensi dari Juni 2006 hingga Maret 2013 menunjukkan tidak ada masalah keamanan vaksin HPV. Atas dasar hasil ini, di Amerika Serikat, vaksin HPV tetap direkomendasikan dan digunakan sebagai vaksinasi rutin.
Berdasarkan data WHO per September 2016, saat ini baru 67 dari 194 negara di dunia yang sudah mengimplementasikan program imunisasi HPV di negaranya. Sudah banyak hasil dari penelitian yang valid dari negara-negara tersebut terkait manfaat yang bermakna untuk menurunkan beban penyakit kanker serviks. Termasuk penyakit terkait infeksi HPV lainnya.
“Program nasional pencegahan kanker leher rahim yang sudah dilaksanakan saat ini dengan deteksi dini menggunakan metode IVA dan dibarengi vaksin HPV,” kata Oscar. Pemerintah merencanakan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi nasional yaitu vaksin HPV dengan pemberian imunisasi HPV kepada siswi perempuan kelas 5 SD untuk dosis pertama dan kelas 6 SD untuk dosis kedua, melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Kegiatan pemberian imunisasi HPV melalui program BIAS ini diawali dengan pemberian imunisasi di lokasi percontohan yang memiliki angka prevalensi kanker serviks yang tinggi dan dipandang memiliki kesiapan dalam melaksanakan imunisasi HPV, yaitu provinsi DKI Jakarta mulai bulan Oktober 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun depan di dua kabupaten di provinsi DIY yaitu kabupaten Kulonprogo dan Gunung Kidul.
Pelaksanaan imunisasi HPV dalam Kegiatan BIAS di DKI Jakarta sudah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).
Rujukan
[HOAX] JUTAAN BURUNG KERUMUNI PANTAI DI DUBAI
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 29/11/2016
Berita
Bismillah…
Jutaan burung ini tiba-tiba saja berkumpul memenuhi pantai di Dubai (Uni Emirate Arab) bbrapa hari ini. Hewan-hewan biasanya keluar dari habitatnya dalam keadaan bahaya, semisal harimau, monyet, kijang dan penghuni hutan lain yang keluar gunung sesaat sebelum gunung meletus. Burung, dari laut?
Barangkali ini pertanda tsunami dahsyat yang melumat keserakahan dubai ataukah pangkalan militer dari tentara langit yang akan ikut serta melumat habis tentara-tentara syaitan di israel, syam dan palestina. Maka tidak bergunalah seluruh strategi dan teknologi mereka menghadapi milyaran burung dari langit ini.
Allahuakbar!!!
Bersiaplah kaum muslimin. Hutan ghorqod, rumah-rumah, kota, gudang peluru dan pertahanan Israel sedang Allah bakar seminggu ini nonstop. Ada hal-hal besar yang sedang terjadi dibumi Allah ini.
Jutaan burung ini tiba-tiba saja berkumpul memenuhi pantai di Dubai (Uni Emirate Arab) bbrapa hari ini. Hewan-hewan biasanya keluar dari habitatnya dalam keadaan bahaya, semisal harimau, monyet, kijang dan penghuni hutan lain yang keluar gunung sesaat sebelum gunung meletus. Burung, dari laut?
Barangkali ini pertanda tsunami dahsyat yang melumat keserakahan dubai ataukah pangkalan militer dari tentara langit yang akan ikut serta melumat habis tentara-tentara syaitan di israel, syam dan palestina. Maka tidak bergunalah seluruh strategi dan teknologi mereka menghadapi milyaran burung dari langit ini.
Allahuakbar!!!
Bersiaplah kaum muslimin. Hutan ghorqod, rumah-rumah, kota, gudang peluru dan pertahanan Israel sedang Allah bakar seminggu ini nonstop. Ada hal-hal besar yang sedang terjadi dibumi Allah ini.
Hasil Cek Fakta
The Al Murjan Island beach in the emirate of Ras Al Khaimah Police was in the spotlight on social media over the last few days after hundreds of thousands of migrating birds were seen there.
Dr Saif Al Ghais, Director of the Authority, RAK, said the seabirds, locally known as Al Lawa birds, were mistakenly described as millions of crows either dead or gathering on the RAK beaches.
“The Lawa birds were just migrating in big numbers up to hundreds of thousands at a time to the UAE in search for warm weather, as they always do on the same time every year.”
The Lawa birds, scientifically known as Cormorant birds, are always seen on the UAE warm beaches in winter as part of their annual migration from the freezing European continent, the marine biology professor added.
“Phalacrocoracidae is a family of about 40 species of aquatic birds commonly known as cormorants and shags. However, several different classifications of the family have been proposed recently.”
Indicating, he said migrating birds create their own colonies on the Al Siniya Island in the emirate of Umm Al Quwain for breeding. “They build up numerous nests for hatching their young.”
These medium-to-large seabirds, known for their super skills of deep diving in search for food and fish, weigh around 0.35-5kg each and have a wing span of 45-100cm, Dr Ghais elaborated.
“The young Lawa birds, familiar to Emirati fishermen and nukhaza or captains with their long, thin and hooked bills, are born with pure white feathers, but these turn into black when they grow older and bigger.”
Their feet have webbing between all four toes, he explained. “All species are fish-eaters, catching the prey by diving from the surface. They are excellent divers, and underwater they propel themselves with their feet with help from their wings.”
Some Cormorant species have been found to dive as deep as 45m, he pointed out. “They have relatively short wings due to their need for economical movement underwater, and consequently have the highest flight costs of any bird.”
Cormorants nest in colonies around the shore, on trees, islets or cliffs. They are coastal rather than oceanic birds, and some have colonised inland waters, Dr Ghais stated. “Indeed, the original ancestor of cormorants seems to have been a fresh-water bird. They range around the world, except for the central Pacific islands.”
Dr Ghais said these birds have no problem building their nests individually or close to other species. “Both male and female birds help each other build these nests where each female lay three to four eggs at a time.”
The couple also shares the 27 to 33 day period of incubation, he said. “Though the chicks can flay at the age of 50 days, they only become adult at the age of three to five years old.”
Dr Saif Al Ghais, Director of the Authority, RAK, said the seabirds, locally known as Al Lawa birds, were mistakenly described as millions of crows either dead or gathering on the RAK beaches.
“The Lawa birds were just migrating in big numbers up to hundreds of thousands at a time to the UAE in search for warm weather, as they always do on the same time every year.”
The Lawa birds, scientifically known as Cormorant birds, are always seen on the UAE warm beaches in winter as part of their annual migration from the freezing European continent, the marine biology professor added.
“Phalacrocoracidae is a family of about 40 species of aquatic birds commonly known as cormorants and shags. However, several different classifications of the family have been proposed recently.”
Indicating, he said migrating birds create their own colonies on the Al Siniya Island in the emirate of Umm Al Quwain for breeding. “They build up numerous nests for hatching their young.”
These medium-to-large seabirds, known for their super skills of deep diving in search for food and fish, weigh around 0.35-5kg each and have a wing span of 45-100cm, Dr Ghais elaborated.
“The young Lawa birds, familiar to Emirati fishermen and nukhaza or captains with their long, thin and hooked bills, are born with pure white feathers, but these turn into black when they grow older and bigger.”
Their feet have webbing between all four toes, he explained. “All species are fish-eaters, catching the prey by diving from the surface. They are excellent divers, and underwater they propel themselves with their feet with help from their wings.”
Some Cormorant species have been found to dive as deep as 45m, he pointed out. “They have relatively short wings due to their need for economical movement underwater, and consequently have the highest flight costs of any bird.”
Cormorants nest in colonies around the shore, on trees, islets or cliffs. They are coastal rather than oceanic birds, and some have colonised inland waters, Dr Ghais stated. “Indeed, the original ancestor of cormorants seems to have been a fresh-water bird. They range around the world, except for the central Pacific islands.”
Dr Ghais said these birds have no problem building their nests individually or close to other species. “Both male and female birds help each other build these nests where each female lay three to four eggs at a time.”
The couple also shares the 27 to 33 day period of incubation, he said. “Though the chicks can flay at the age of 50 days, they only become adult at the age of three to five years old.”
Rujukan
[HOAX] Gempa myanmar balasan dari doa muslim Rohingnya
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 29/11/2016
Berita
Lihatlah kedahsyatan sebuah DOA!!!
DOA orang2 teraniaya Insya Allah akan diijabah oleh ALLAH SWT…disaat yang TEPAT!!!
Dahsyatnya gempa bumi di myanmar adalah jawaban atas segala penderitaan saudara muslim kita di Rohingya….semoga kejadian ini dijadikan pelajaran OLEH SEMUA PIHAK…yang berusaha MELUKAI UMAT ISLAM!!!!
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
DOA orang2 teraniaya Insya Allah akan diijabah oleh ALLAH SWT…disaat yang TEPAT!!!
Dahsyatnya gempa bumi di myanmar adalah jawaban atas segala penderitaan saudara muslim kita di Rohingya….semoga kejadian ini dijadikan pelajaran OLEH SEMUA PIHAK…yang berusaha MELUKAI UMAT ISLAM!!!!
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
Hasil Cek Fakta
Gambar 1 : Gempa Nepal 2015 http://azamm.org/?p=22836
Gambar 2 : Gempa Myanmar 2011 https://girlservesworld.wordpress.com/2011/03/31/6-8-earthquake-hits-myanmar/
Gambar 3 : Gempa di Italia https://www.smithsonianmag.com/smart-news/geology-behind-italys-catastrophic-quake-180960233/
Gambar 2 : Gempa Myanmar 2011 https://girlservesworld.wordpress.com/2011/03/31/6-8-earthquake-hits-myanmar/
Gambar 3 : Gempa di Italia https://www.smithsonianmag.com/smart-news/geology-behind-italys-catastrophic-quake-180960233/
Rujukan
Halaman: 8275/8351




