[KLARIFIKASI] Pejabat Pemkot Parepare Injak Sajadah Pakai Sepatu
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 24/06/2016
Berita
Oknum pejabat sekarang injak injak sejadah dengan sepatu dari rakyat..luar biasa.#edisiramadhanpenuhberkah#
Hasil Cek Fakta
Pejabat Pemerintah Kota Parepare yang menuai sejumlah sorotan di media sosial karena menginjak sajadah menggunakan sepatu. Walikota Pare-Pare Taufan Pawe dan sejumlah staff yang kedapatan menginjak sajadah dengan sepatu akhirnya minta maaf. Permintaan maaf resmi disampaikan oleh Pemerintah Kota Pare-Pare melalui Kepala Bagian Humas Pemkot Parepare Amarun Agung Hamka.
Dikutip dari tribunnews.com, Kepala Bagian Humas Pemkot Parepare, Amarun Agung Hamka menjelaskan, masalah adanya foto tersebut bukan faktor kesengajaan karena konsentrasi persiapan masalah nuluzul quran membuat hal ini tidak terlalu diperhatikan apalagi ada permintaan langsung dari salah satu channel tv untuk wawancara.
“Karena banyak dipikirkan sekaligus dadakan diminta wawancara hal ini lubuk dari perhatian, kami minta maaf tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya,”katanya.
Kepala Bagian Humas Pemkot Parepare Amarun Agung Hamka mengatakan, Walikota Taufan Pawe dan beberapa kepala dinas terpaksa berdiri di atas sajadah dan karpet shalat pada saat tim News Ve Channel TV mengadakan acara live.
Wawancara live itu dilakukan sebelum acara Nuzulul Quran tingkat Sulsel, yang diselenggarakan di alun-alun kota Lapangan Andi Makkasau Parepare.
“Jadi, ini lebih kepada perbedaan pandangan dimana orang yang menilai foto itu negatif. Pada saat itu memang kondisi kita harus berada di atas alas karpet untuk visual gambar TV. Tim TV mengarahkan segera naik karena dikejar waktu program Live harus segara dilakukan,” ujar Hamka, dikutip dari pojoksatu.id.
Hamka menambahkan, karpet itu memang sengaja dibentang di atas rumput lapangan untuk nantinya digunakan jemaah mendengar ceramah pada kegiatan Nuzulul Quran.
“Karena mungkin karpetnya identik dengan gambar islamik makanya dinilai itu negatif. Padahal kami tidak ada kesengajaan untuk melakukan seperti apa yang beritakan. Kami mohon maaf jika ada yang merasa itu adalah hal yang tidak wajar,” terangnya.
Sementara itu, Tim News Ve Channel TV Makasar, Andi Muh Rizaldi yang dikonfirmasi, mengaku terkejut dengan pemberitaan tersebut.
Foto itu, kata dia, seharusnya tidak menjadi persoalan karena memang lokasi live timnya bukan di rumah ibadah atau pun tempat ibadah, melainkan itu hanya rencana untuk dijadikan tempat ibadah.
“Karena kebetulan saja karpet yang digunakan itu identik dengan nuansa tempat ibadah. Kami juga kaget kenapa hal seperti ini dibesarkan, mungkin tidak ada yang salah, ini untuk kebutuhan live, jadi kami minta maaf juga kalau ada yang merasa tersinggung,” ungkap Ical, sapaan Rizaldi.
Bahkan kata dia, pihak tim Ve Channel sudah berusaha mengklarifikasi pemberitaan tersebut ke media online Makasar yang memposting foto tersebut
Dikutip dari tribunnews.com, Kepala Bagian Humas Pemkot Parepare, Amarun Agung Hamka menjelaskan, masalah adanya foto tersebut bukan faktor kesengajaan karena konsentrasi persiapan masalah nuluzul quran membuat hal ini tidak terlalu diperhatikan apalagi ada permintaan langsung dari salah satu channel tv untuk wawancara.
“Karena banyak dipikirkan sekaligus dadakan diminta wawancara hal ini lubuk dari perhatian, kami minta maaf tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya,”katanya.
Kepala Bagian Humas Pemkot Parepare Amarun Agung Hamka mengatakan, Walikota Taufan Pawe dan beberapa kepala dinas terpaksa berdiri di atas sajadah dan karpet shalat pada saat tim News Ve Channel TV mengadakan acara live.
Wawancara live itu dilakukan sebelum acara Nuzulul Quran tingkat Sulsel, yang diselenggarakan di alun-alun kota Lapangan Andi Makkasau Parepare.
“Jadi, ini lebih kepada perbedaan pandangan dimana orang yang menilai foto itu negatif. Pada saat itu memang kondisi kita harus berada di atas alas karpet untuk visual gambar TV. Tim TV mengarahkan segera naik karena dikejar waktu program Live harus segara dilakukan,” ujar Hamka, dikutip dari pojoksatu.id.
Hamka menambahkan, karpet itu memang sengaja dibentang di atas rumput lapangan untuk nantinya digunakan jemaah mendengar ceramah pada kegiatan Nuzulul Quran.
“Karena mungkin karpetnya identik dengan gambar islamik makanya dinilai itu negatif. Padahal kami tidak ada kesengajaan untuk melakukan seperti apa yang beritakan. Kami mohon maaf jika ada yang merasa itu adalah hal yang tidak wajar,” terangnya.
Sementara itu, Tim News Ve Channel TV Makasar, Andi Muh Rizaldi yang dikonfirmasi, mengaku terkejut dengan pemberitaan tersebut.
Foto itu, kata dia, seharusnya tidak menjadi persoalan karena memang lokasi live timnya bukan di rumah ibadah atau pun tempat ibadah, melainkan itu hanya rencana untuk dijadikan tempat ibadah.
“Karena kebetulan saja karpet yang digunakan itu identik dengan nuansa tempat ibadah. Kami juga kaget kenapa hal seperti ini dibesarkan, mungkin tidak ada yang salah, ini untuk kebutuhan live, jadi kami minta maaf juga kalau ada yang merasa tersinggung,” ungkap Ical, sapaan Rizaldi.
Bahkan kata dia, pihak tim Ve Channel sudah berusaha mengklarifikasi pemberitaan tersebut ke media online Makasar yang memposting foto tersebut
Rujukan
(EDUKASI) : Panduan Mencerna Berita Agar Tidak Termakan & Sebarkan Hoax
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 21/06/2016
Berita
Sekarang orang bisa mendapatkan informasi dari mana saja, mulai televisi, koran, radio, situs media online, hingga media sosial. Internet membuat semua lini bisa mengakses informasi yang sama tentang segala hal. Tapi, apakah kamu sudah tahu informasi itu valid atau hoax?
Berita hoax sendiri bukan sekadar masalah nasional, melainkan isu global yang pencegahannya tak semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menuntut ketelitian masyarakat sebelum menyebarkan informasi tersebut.
setiap orang sejatinya bisa mendeteksi informasi yang diterimanya hoax atau tidak. Beberapa ciri informasi hoax antara lain memicu kecemasan, kebencian, dan permusuhan. Informasi hoax, ujar dia, juga menggunakan sumber yang tidak jelas dan tak ada yang bertanggung jawab atau sulit dicari klarifikasinya.
Nah, berikut ini merupukan diagram panduan dalam menerima suatu informasi atau berita sebelum menyebarkannya.
Berita hoax sendiri bukan sekadar masalah nasional, melainkan isu global yang pencegahannya tak semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menuntut ketelitian masyarakat sebelum menyebarkan informasi tersebut.
setiap orang sejatinya bisa mendeteksi informasi yang diterimanya hoax atau tidak. Beberapa ciri informasi hoax antara lain memicu kecemasan, kebencian, dan permusuhan. Informasi hoax, ujar dia, juga menggunakan sumber yang tidak jelas dan tak ada yang bertanggung jawab atau sulit dicari klarifikasinya.
Nah, berikut ini merupukan diagram panduan dalam menerima suatu informasi atau berita sebelum menyebarkannya.
Hasil Cek Fakta
Rujukan
Nenek Sepuh Yang Butuh Donasi
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 20/06/2016
Berita
Beredar foto di medsos berikut, foto seorang ibu yang bersandar di dinding sebuah pasar, dengan prolog seolah-olah beliau butuh dibantu.
Hasil Cek Fakta
“Beliau bernama Mbah Muthmainah. Beliau mendapatkan perhatian dari anak-anak beliau dengan baik, namun beliau tidak mau sekedar berpangku tangan dari anak-anak beliau sehingga beliau masih tetap berusaha dari tangan beliau sendiri dengan cara berjualan sayur mayur yg berasal dari kebun beliau.
Anak-anak beliau sdh meminta beliau untuk berhenti berjualan namun beliau tetap bersikeras untuk tetap berjualan.”
Anak-anak beliau sdh meminta beliau untuk berhenti berjualan namun beliau tetap bersikeras untuk tetap berjualan.”
Rujukan
Skandal Keuangan Tersebar, Gubernur Tokyo Mengundurkan Diri
Sumber:Tanggal publish: 19/06/2016
Berita
Gubernur Tokyo Yoichi Masuzoe mengundurkan diri 1 minggu sejak isu skandal keuangannya menyebar.
Sejak Maret 2016 sudah ada ratusan telpon yang melaporkan penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Mei 2016, Masuzoe membuat pernyataan pers kalau dia menyalahgunakan 370.000 Yen pada 2013 hingga 2014.
Selanjutnya pengacara menyatakan yang bersangkutan menyalahgunakan total 4.4juta Yen, dan akan mengembalikan uang tersebut, tetapi yang bersangkutan tidak mau mengundurkan diri.Pada bulan Juni 2016, ketidakpuasan masyarakat meningkat, 70% yang menginginkannya mundur dari jabatannya sebagai gubernur.
Desakan terkuat muncul dari partai pengusungnya, LDP dan Kometio, yang tidak lagi mendukungnya. Dan menjelang mosi tidak percaya diluncurkan, termasuk oleh partai pendukungnya, Mr Masuzoe barulah kemudian mengundurkan diri.
Sejak Maret 2016 sudah ada ratusan telpon yang melaporkan penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Mei 2016, Masuzoe membuat pernyataan pers kalau dia menyalahgunakan 370.000 Yen pada 2013 hingga 2014.
Selanjutnya pengacara menyatakan yang bersangkutan menyalahgunakan total 4.4juta Yen, dan akan mengembalikan uang tersebut, tetapi yang bersangkutan tidak mau mengundurkan diri.Pada bulan Juni 2016, ketidakpuasan masyarakat meningkat, 70% yang menginginkannya mundur dari jabatannya sebagai gubernur.
Desakan terkuat muncul dari partai pengusungnya, LDP dan Kometio, yang tidak lagi mendukungnya. Dan menjelang mosi tidak percaya diluncurkan, termasuk oleh partai pendukungnya, Mr Masuzoe barulah kemudian mengundurkan diri.
Hasil Cek Fakta
Letak disinformasinya adalah:
1. Mundur lebih dari 2 bulan sejak isu skandal menyebar (bukan 1 minggu seperti yang diklaim)
2. Tidak menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Tokyo marah dan menginginkannya segera mundur
3, Tidak menyebutkan bahwa mundurnya ybs karena tekanan masyarakat dan juga tekanan dari partai politik termasuk rencana mosi tidak percaya yang hendak diluncurkan.
Banyak yang terjebak menganggap yang bersangkutan sangat ksatria seperti tokoh Jepang lain, dan menggunakan contoh ini untuk mengkritik politisi Indonesia.
Yaa betul, banyak politisi Indonesia yang memang harus belajar sikap ksatria, tapi bukan yang ini. Kita sendiri juga ada beberapa pejabat yang mundur sukarela karena targetnya gagal seperti Dirjen Pajak (Sigid Priadi) atau Dirjen Perhubungan Darat (Djoko Sasono).
1. Mundur lebih dari 2 bulan sejak isu skandal menyebar (bukan 1 minggu seperti yang diklaim)
2. Tidak menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Tokyo marah dan menginginkannya segera mundur
3, Tidak menyebutkan bahwa mundurnya ybs karena tekanan masyarakat dan juga tekanan dari partai politik termasuk rencana mosi tidak percaya yang hendak diluncurkan.
Banyak yang terjebak menganggap yang bersangkutan sangat ksatria seperti tokoh Jepang lain, dan menggunakan contoh ini untuk mengkritik politisi Indonesia.
Yaa betul, banyak politisi Indonesia yang memang harus belajar sikap ksatria, tapi bukan yang ini. Kita sendiri juga ada beberapa pejabat yang mundur sukarela karena targetnya gagal seperti Dirjen Pajak (Sigid Priadi) atau Dirjen Perhubungan Darat (Djoko Sasono).
Rujukan
Halaman: 8295/8350




