Tengah malam tadi saya menerima tiga keping gambar tentang nasib malang yang diterima etnik Rohingya di Myanmar.
Gambar berkenaan memperlihatkan seorang lelaki yang dibakar teruk, al-Quran cuba dibakar dan kampung dalam kebakaran.
[HOAX] Pembakaran Al-Quran & Etnis Rohingnya oleh Tentara Myanmar
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 21/11/2016
Berita
Hasil Cek Fakta
Kejadian yang tergambar lewat beberapa foto yang tersebar itu adalah tidak benar adanya. pembakaran al-quran sendiri terjadi di Maroko dan salam sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian di myanmar.
Rujukan
(HOAX) : Logo Bank Indonesia Pecahan Seratus Ribu Terdapat Pada Bendera Tentara Komunis
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 18/11/2016
Berita
Beredar Foto yang menunjukkan seorang tentara sedang mengibarkan bendera dengan lambang palu dan arit. namun yang menjadi kontroversi dalam gambar itu adalah logo Bank Indonesia pada pecahan uang seratus ribu yang ada dibendera tersebut.
Hasil Cek Fakta
si penyebar foto memang nampaknya ingin memperkeruh suasana bernuansa politis saat ini. dari foto yang beredar, faktanya itu adalah hasil sebuah olah digital atau editan semata. karena di foto yang asli si tentara memang memegang bendera dengan logo palu dan arit.
Rujukan
Kiprah
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 17/11/2016
Hasil Cek Fakta
“BAGI yang sudah bosan kebanjiran berita hoax, fitnah, dan provokasi (hasutan), silakan bergabung. Mari bersama kita berbagi berita yang benar di forum ini. Terima kasih.”
Itu adalah ajakan kepada masyarakat Indonesia pengguna media sosial. Diawali dengan kepedulian akan maraknya berita fitnah, hasut, hoax, kepada para tokoh, institusi negara, aparat, organisasi, beberapa aktivis media sosial mendirikan grup dan Fanpage di Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran di media sosial.
Akivitas tersebut pada umumnya murni dari panggilan hati, karena tidak tega melihat kawannya, saudaranya, termakan issue hoax yang mengakibatkan saling berdebat atau bahkan saling bertengkar, tidak hanya di dunia maya, namun ada yang sampai menyebabkan hubungan mereka terputus di dunia nyata.
Penyebaran hoax di media sosial ini memang unik, karena ternyata level pendidikan seseorang tidak membuatnya kebal terhadap hoax. Ada yang pendidikan dosen alumni perguruan tinggi luar negeri ternama, meski dia sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoax dalam bidang lain.
Ada yang merupakan tokoh agama, sangat alim, disegani oleh jama’ahnya, namun ada kalanya ia terjebak menyebarkan berita hoax. Apalagi masyarakat umum yang kadang belum paham kaidah untuk mengkonfirmasi kebenaran sebuah berita.
Penyebaran hoax di media sosial Indonesia, mulai marak sejak media sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis.
Beberapa orang yang tidak bertanggungjawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
Hal ini semakin parah ketika musim pemilu. Media sosial, di satu sisi digunakan untuk ajang kampanye positif, namun banyak yang menggunakannya untuk kampanye negatif. Bahwa kampanye negatif termasuk yang dibolehkan, tapi ada yang terjatuh dalam kampanye hitam, yaitu menggunakan fitnah dan hoax untuk menyerang lawan politiknya.
Fenomena ini mulai tampak pada Pilgub DKI 2012, dan mencapai puncak tertinggi sementara, yaitu ketika Pilpres 2014. Netizen menyaksikan sendiri, betapa brutalnya penyebaran fitnah kepada tokoh-tokoh yang berlaga di ajang pemilihan. Bahkan merembet ke insitusi seperti KPU, MK, dan aparat keamanan.
Tidak ingin penyebaran hoax menjadi sarana mudah untuk kerusakan bangsa, mulailah netizen secara sporadis melakukan perlawanan terhadap penyebaran hoax. Banyak netizen yang dengan panggilan hati, mulai mengcounter setiap hoax yang berseliweran. Dan perlawanan itu berkembang menjadi pembentukan grup atau Fanpage.
Saat ini beberapa grup atau fanpage mendedikasikan untuk perlawanan terhadap fitnah, hasut dan hoax. Diantaranya adalah:
1. Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (FAFHH).
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/fafhh/. Group ini sifatnya crowdsourcing, member bisa membuat topik klarifikasi/bantahan terhadap hoax/fitnah/hasut yang beredar, atau member bisa mencari klarifikasi tentang sebuah berita yang diragukan, dan member lain yang akan mencarikan jawabannya.
Admin hanya bertugas untuk mengatur supaya diskusi berjalan lancar, tidak ada yang saling serang ad hominem, dan ada kalanya admin turut berkontribusi mencarikan jawaban. Group ini berdiri sejak September 2015, dan saat ini ada sekitar 7800 member.
2. Fanpage Indonesian Hoax Buster.
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndoHoaxBuster. Fanpage ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 2700 orang yang menjadi follower FP ini.
3. Fanpage Indonesian Hoaxes
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndonesianHoaxes/?fref=ts. Fanpage ini juga dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 80.000 orang yang menjadi followernya.
4. Group Sekoci
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/icokes/ dengan Fanpage di https://www.facebook.com/sekoci.indo/?fref=ts. Group ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang rutin berdiskusi membahas hoax dan membuat publikasi berkalan di Fanpage-nya. Saat ini ada sekitar 2200 orang follower di FP-nya dan 2800 member di grup diskusinya.
Selain aktivitas di media sosial, beberapa relawan membuat perkumpulan, dengan tujuan khusus memberantas hoax di media sosial, sekaligus mengajak netizen Indonesia cerdas bermedia sosial dan turut berkontribusi terhadap pembangunan yang sedang marak dilakukan pemerintah.
Salah satunya adalah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Perkumpulan ini merupakan lembaga non-profit yang diharapkan bisa sinergi dengan pemerintah, ormas, tokoh masyarakat, sekolah, dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya cerdas bermedia sosial.
Perlawanan terhadap hoax ini membutuhkan keseriusan, karena penyebaran hoax tidak bisa dianggap sepele. Beberapa negara mengalami kerusakan dan kehancuran, karena diperparah penyebaran hoax yang tidak terkendali seperti di Suriah dan negara konflik lainnya.
Harapan dari komunitas Masyarakat Anti Hoax di Indonesia adalah:
1. Masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial, lebih bijak dalam menerima berita, terlatih untuk melakukan cross-check, dan berhati-hati ketika menyebarluaskannya.
2. Tokoh agama dan budaya, ikut aktif menyampaikan bahwa budaya fitnah, hasut, dan hoax, adalah bertentangan dengan ajaran agama serta budaya Indonesia.
3. Aparat hukum, khususnya Kepolisian, turut aktif mensosialisasikan bahaya penyebaran hoax, serta konsekusensi hukumnya bagi pelaku penyebaran hoax. Jika dibutuhkan, proses hukum pelaku penyebaran hoax yang memiliki dampak luas, khususnya yang memiliki pengikut cukup banyak di Facebook ataupun Twitter.
4. Kementrian Komunikasi dan Informatika, turut aktif menjelaskan kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya secara positif media sosial digunakan. Serta menjadi pintu gerbang lalu lintas Internet, termasuk jika harus menghentikan situs atau akun yang dianggap merusak kebersamaan.
Semoga upaya komunitas anti hoax untuk memerangi hoax di media sosial Indonesia, mendapat kemudahan dari Allah SWT, dan mendapat dukungan dari institusi pemerintah, ormas, media dan masyarakat pada umumnya.
Itu adalah ajakan kepada masyarakat Indonesia pengguna media sosial. Diawali dengan kepedulian akan maraknya berita fitnah, hasut, hoax, kepada para tokoh, institusi negara, aparat, organisasi, beberapa aktivis media sosial mendirikan grup dan Fanpage di Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran di media sosial.
Akivitas tersebut pada umumnya murni dari panggilan hati, karena tidak tega melihat kawannya, saudaranya, termakan issue hoax yang mengakibatkan saling berdebat atau bahkan saling bertengkar, tidak hanya di dunia maya, namun ada yang sampai menyebabkan hubungan mereka terputus di dunia nyata.
Penyebaran hoax di media sosial ini memang unik, karena ternyata level pendidikan seseorang tidak membuatnya kebal terhadap hoax. Ada yang pendidikan dosen alumni perguruan tinggi luar negeri ternama, meski dia sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoax dalam bidang lain.
Ada yang merupakan tokoh agama, sangat alim, disegani oleh jama’ahnya, namun ada kalanya ia terjebak menyebarkan berita hoax. Apalagi masyarakat umum yang kadang belum paham kaidah untuk mengkonfirmasi kebenaran sebuah berita.
Penyebaran hoax di media sosial Indonesia, mulai marak sejak media sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis.
Beberapa orang yang tidak bertanggungjawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
Hal ini semakin parah ketika musim pemilu. Media sosial, di satu sisi digunakan untuk ajang kampanye positif, namun banyak yang menggunakannya untuk kampanye negatif. Bahwa kampanye negatif termasuk yang dibolehkan, tapi ada yang terjatuh dalam kampanye hitam, yaitu menggunakan fitnah dan hoax untuk menyerang lawan politiknya.
Fenomena ini mulai tampak pada Pilgub DKI 2012, dan mencapai puncak tertinggi sementara, yaitu ketika Pilpres 2014. Netizen menyaksikan sendiri, betapa brutalnya penyebaran fitnah kepada tokoh-tokoh yang berlaga di ajang pemilihan. Bahkan merembet ke insitusi seperti KPU, MK, dan aparat keamanan.
Tidak ingin penyebaran hoax menjadi sarana mudah untuk kerusakan bangsa, mulailah netizen secara sporadis melakukan perlawanan terhadap penyebaran hoax. Banyak netizen yang dengan panggilan hati, mulai mengcounter setiap hoax yang berseliweran. Dan perlawanan itu berkembang menjadi pembentukan grup atau Fanpage.
Saat ini beberapa grup atau fanpage mendedikasikan untuk perlawanan terhadap fitnah, hasut dan hoax. Diantaranya adalah:
1. Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (FAFHH).
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/fafhh/. Group ini sifatnya crowdsourcing, member bisa membuat topik klarifikasi/bantahan terhadap hoax/fitnah/hasut yang beredar, atau member bisa mencari klarifikasi tentang sebuah berita yang diragukan, dan member lain yang akan mencarikan jawabannya.
Admin hanya bertugas untuk mengatur supaya diskusi berjalan lancar, tidak ada yang saling serang ad hominem, dan ada kalanya admin turut berkontribusi mencarikan jawaban. Group ini berdiri sejak September 2015, dan saat ini ada sekitar 7800 member.
2. Fanpage Indonesian Hoax Buster.
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndoHoaxBuster. Fanpage ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 2700 orang yang menjadi follower FP ini.
3. Fanpage Indonesian Hoaxes
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndonesianHoaxes/?fref=ts. Fanpage ini juga dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 80.000 orang yang menjadi followernya.
4. Group Sekoci
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/icokes/ dengan Fanpage di https://www.facebook.com/sekoci.indo/?fref=ts. Group ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang rutin berdiskusi membahas hoax dan membuat publikasi berkalan di Fanpage-nya. Saat ini ada sekitar 2200 orang follower di FP-nya dan 2800 member di grup diskusinya.
Selain aktivitas di media sosial, beberapa relawan membuat perkumpulan, dengan tujuan khusus memberantas hoax di media sosial, sekaligus mengajak netizen Indonesia cerdas bermedia sosial dan turut berkontribusi terhadap pembangunan yang sedang marak dilakukan pemerintah.
Salah satunya adalah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Perkumpulan ini merupakan lembaga non-profit yang diharapkan bisa sinergi dengan pemerintah, ormas, tokoh masyarakat, sekolah, dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya cerdas bermedia sosial.
Perlawanan terhadap hoax ini membutuhkan keseriusan, karena penyebaran hoax tidak bisa dianggap sepele. Beberapa negara mengalami kerusakan dan kehancuran, karena diperparah penyebaran hoax yang tidak terkendali seperti di Suriah dan negara konflik lainnya.
Harapan dari komunitas Masyarakat Anti Hoax di Indonesia adalah:
1. Masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial, lebih bijak dalam menerima berita, terlatih untuk melakukan cross-check, dan berhati-hati ketika menyebarluaskannya.
2. Tokoh agama dan budaya, ikut aktif menyampaikan bahwa budaya fitnah, hasut, dan hoax, adalah bertentangan dengan ajaran agama serta budaya Indonesia.
3. Aparat hukum, khususnya Kepolisian, turut aktif mensosialisasikan bahaya penyebaran hoax, serta konsekusensi hukumnya bagi pelaku penyebaran hoax. Jika dibutuhkan, proses hukum pelaku penyebaran hoax yang memiliki dampak luas, khususnya yang memiliki pengikut cukup banyak di Facebook ataupun Twitter.
4. Kementrian Komunikasi dan Informatika, turut aktif menjelaskan kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya secara positif media sosial digunakan. Serta menjadi pintu gerbang lalu lintas Internet, termasuk jika harus menghentikan situs atau akun yang dianggap merusak kebersamaan.
Semoga upaya komunitas anti hoax untuk memerangi hoax di media sosial Indonesia, mendapat kemudahan dari Allah SWT, dan mendapat dukungan dari institusi pemerintah, ormas, media dan masyarakat pada umumnya.
Rujukan
[ISU] Masjid Keramat Luar Batang Tolak Pemberian Sapi Kurban dari Ahok
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/11/2016
Berita
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memberikan bantuan hewan kurban ke Masjid Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Sayangnya, sapi dari Ahok itu ditolak oleh pengurus masjid.
Dewan Keluarga Masjid (DKM) Masjid Luar Keramat Luar Batang Mansur Amin mengatakan, pihak masjid sengaja menolak bantuan sapi kurban dari Ahok. Alasannya Ahok dinilai berperilaku tidak baik bagi warga Jakarta.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, ada syarat atau ketentuan mengenai kurban. Dan selama ini, Ahok banyak menyakiti dan menzalimi umat, rakyat, baik berupa kebijakan serta ucapannya,” kata Mansur saat dikonfirmasi detikcom, Senin (12/9/2016).
Penolakan itu, lanjut Mansur, dilakukan demi harga diri. Dua ekor sapi pemberian ahok itu sudah dipulangkan ke Ahok.
“Demi harga diri umat Islam, maka kami menolak sumbangan sapi tersebut dan sudah dibawa kembali oleh pengantarnya,” kata Mansur.
Sapi itu pemberian Ahok itu tiba di Masjid Luar Batang pada Minggu (11/9). Ada dua ekor sapi dari Ahok untuk dikurbankan di masjid tersebut, namun langsung ditolak oleh pengurus masjid.
Dewan Keluarga Masjid (DKM) Masjid Luar Keramat Luar Batang Mansur Amin mengatakan, pihak masjid sengaja menolak bantuan sapi kurban dari Ahok. Alasannya Ahok dinilai berperilaku tidak baik bagi warga Jakarta.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, ada syarat atau ketentuan mengenai kurban. Dan selama ini, Ahok banyak menyakiti dan menzalimi umat, rakyat, baik berupa kebijakan serta ucapannya,” kata Mansur saat dikonfirmasi detikcom, Senin (12/9/2016).
Penolakan itu, lanjut Mansur, dilakukan demi harga diri. Dua ekor sapi pemberian ahok itu sudah dipulangkan ke Ahok.
“Demi harga diri umat Islam, maka kami menolak sumbangan sapi tersebut dan sudah dibawa kembali oleh pengantarnya,” kata Mansur.
Sapi itu pemberian Ahok itu tiba di Masjid Luar Batang pada Minggu (11/9). Ada dua ekor sapi dari Ahok untuk dikurbankan di masjid tersebut, namun langsung ditolak oleh pengurus masjid.
Hasil Cek Fakta
Informasi sapi kurban yang disumbangkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengalami simpang siur.
Awalnya, Dewan Keluarga Masjid (DKM) Masjid Luar Keramat Luar Batang Mansur Amin mengatakan, pihak masjid sengaja menolak bantuan sapi kurban dari Ahok. Alasannya Ahok dinilai berperilaku tidak baik bagi warga Jakarta.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, ada syarat atau ketentuan mengenai kurban. Dan selama ini, Ahok banyak menyakiti dan menzalimi umat, rakyat, baik berupa kebijakan serta ucapannya,” kata Mansur, Senin (12/9/2016).
Namun, tokoh masyarakat Luar Batang yang juga penjaga makam Habib Husin Luar Batang, yaitu Habib Umar bin Islamil Alaydrus mengatakan dua ekor sapi dari Ahok telah diterima dengan baik. Tetapi penyembelihannya tidak dilakukan di Masjid Luar Batang.
“Jadi sapi itu sudah diterima. Namun informasinya, karena di sana (Masjid Luar Batang) sudah kepenuhan, maka sapi itu dialihkan ke Pekojan. Kedua ekor sapinya sudah dialihkan,” ujar Habib Umar, Senin (12/9/2016).
Habib Umar pun menambahkan penolakan hanya klaim sebagian orang kampung Luar Batang. “Jadi (penolakan) itu hanya klaim beberapa orang kampung di sana saja,” katanya.
Penjelasan Habib Umar tersebut berbeda dengan keterangan dari Anggota Panitia Kurban Masjid Keramat Luar Batang, M Dasin yang menjelaskan alasan dia menandatangani tanda terima dua ekor sapi, karena dianggap dari PD Dharma Jaya. Dan baru diketahui kemudian bahwa dua ekor sapi itu berasal dari sumbangan Gubernur Ahok melalui tulisan “Ir. Basuki’ di badan sapi tersebut.
“Secara Islam, karena Pak Gubernur non-Muslim, kami tidak bisa menerima. Jadi, dua sapi itu semalam sudah dibawa sama Habib Umar, tidak kami terima.” jelas Dasin.
Awalnya, Dewan Keluarga Masjid (DKM) Masjid Luar Keramat Luar Batang Mansur Amin mengatakan, pihak masjid sengaja menolak bantuan sapi kurban dari Ahok. Alasannya Ahok dinilai berperilaku tidak baik bagi warga Jakarta.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, ada syarat atau ketentuan mengenai kurban. Dan selama ini, Ahok banyak menyakiti dan menzalimi umat, rakyat, baik berupa kebijakan serta ucapannya,” kata Mansur, Senin (12/9/2016).
Namun, tokoh masyarakat Luar Batang yang juga penjaga makam Habib Husin Luar Batang, yaitu Habib Umar bin Islamil Alaydrus mengatakan dua ekor sapi dari Ahok telah diterima dengan baik. Tetapi penyembelihannya tidak dilakukan di Masjid Luar Batang.
“Jadi sapi itu sudah diterima. Namun informasinya, karena di sana (Masjid Luar Batang) sudah kepenuhan, maka sapi itu dialihkan ke Pekojan. Kedua ekor sapinya sudah dialihkan,” ujar Habib Umar, Senin (12/9/2016).
Habib Umar pun menambahkan penolakan hanya klaim sebagian orang kampung Luar Batang. “Jadi (penolakan) itu hanya klaim beberapa orang kampung di sana saja,” katanya.
Penjelasan Habib Umar tersebut berbeda dengan keterangan dari Anggota Panitia Kurban Masjid Keramat Luar Batang, M Dasin yang menjelaskan alasan dia menandatangani tanda terima dua ekor sapi, karena dianggap dari PD Dharma Jaya. Dan baru diketahui kemudian bahwa dua ekor sapi itu berasal dari sumbangan Gubernur Ahok melalui tulisan “Ir. Basuki’ di badan sapi tersebut.
“Secara Islam, karena Pak Gubernur non-Muslim, kami tidak bisa menerima. Jadi, dua sapi itu semalam sudah dibawa sama Habib Umar, tidak kami terima.” jelas Dasin.
Rujukan
Halaman: 8405/8475


