• Hoaks! Purbaya sebut agar investor CCCI cari negara lain untuk investasi

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial TikTok mengeklaim bahwa Purbaya Yudhi Sadewa meminta investor yang mengeluhkan pungutan liar (pungli) dan birokrasi di Indonesia untuk mencari negara lain sebagai tujuan investasi.

    Unggahan tersebut menampilkan kutipan seolah-olah Purbaya mengatakan, “Kalau tidak cocok dengan kebijakan kita, silakan cari negara lain”.

    Narasi itu kemudian disertai klaim bahwa pemerintah tidak peduli terhadap keluhan investor mengenai iklim investasi di Indonesia.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Kalau tidak cocok dengan kebijakan kita, silahkan cari negara lain

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Saat Investor Mengeluh Pungli, Jawabannya Justru “Cari Negara Lain

    Pernyataan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang mempersilahkan investor asing mencari negara lain jika tidak cocok dengan kebijakan Indonesia menuai sorotan. Respons ini muncul setelah Kamar Dagang China di Indonesia (CCCI) mengeluhkan sejumlah hambatan investasi, termasuk dugaan pungli, birokrasi berbelit, dan perubahaan aturan yang mendadak.”

    Namun, benarkah Purbaya meminta investor mencari negara lain jika mengeluhkan pungli dan birokrasi?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan pernyataan resmi dari Purbaya Yudhi Sadewa maupun pemerintah yang meminta investor meninggalkan Indonesia karena mengeluhkan pungli dan birokrasi.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Faktanya, kutipan dalam unggahan tersebut merupakan hasil manipulasi atau potongan informasi yang tidak utuh.

    Dalam berbagai kesempatan, pemerintah justru menegaskan komitmennya untuk memperbaiki iklim investasi, menyederhanakan regulasi, dan memberantas praktik pungutan liar.

    Selain itu, melalui laman resmi Kementerian Keuangan, pemerintah menegaskan bahwa informasi yang beredar terkait pernyataan Purbaya tersebut tidak benar dan tidak sesuai dengan konteks pernyataan aslinya.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Purbaya Yudhi Sadewa meminta investor mencari negara lain karena mengeluhkan pungli dan birokrasi merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

    Klaim: Hoaks

    Rating: Purbaya sebut agar investor CCCI cari negara lain untuk investasi

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Prabowo segel Selat Malaka, picu kemarahan Malaysia

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Facebook mengeklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto bersama TNI menutup atau memblokade Selat Malaka sehingga memicu kemarahan Amerika Serikat serta membuat Malaysia dan Singapura terancam bangkrut.

    Unggahan tersebut juga menarasikan bahwa langkah itu membuat Amerika Serikat panik dan menyebabkan negara-negara tetangga mengalami krisis ekonomi akibat terganggunya jalur perdagangan internasional di Selat Malaka.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “AMERIKA MARAH BESAR, PRABOWO TNI SEGEL MALAKA”

    MALAYSIA NANGIS KELAPARAN DAN TAK PERCAYA

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    PRABOWO BERANI!!!! SEGEL SELAT MALAKA YANG NOTABENE SINGAPURA DAN MALAYSIA JADI BANGKRUT TOTAL”

    Namun, benarkah Prabowo blokade Selat Malaka dan memicu kemarahan Anwar Ibrahim?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah dan media kredibel yang menyatakan bahwa Indonesia memblokade atau menutup Selat Malaka.

    Thumbnail dalam video tersebut merupakan hasil gabungan dari beberapa gambar yang diambil dari sumber berbeda. Foto Prabowo Subianto berasal dari pemberitaan CNN Indonesia terkait kegiatan Presiden Prabowo, sedangkan foto Donald Trump berasal dari pemberitaan ABC News mengenai dinamika politik Amerika Serikat.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Sementara itu, foto Anwar Ibrahim merupakan unggahan Astro AWANI yang membahas agenda pemerintahan Malaysia. Ketiga gambar tersebut tidak berkaitan dengan klaim bahwa Indonesia memblokade Selat Malaka.

    Faktanya, Selat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional yang diatur oleh hukum laut internasional dan tetap dibuka untuk aktivitas pelayaran global.

    Hingga saat ini, tidak ada kebijakan resmi dari pemerintah Indonesia maupun TNI terkait penutupan atau blokade di kawasan tersebut.

    Selain itu, pemerintah Indonesia justru menegaskan komitmennya untuk menjaga kebebasan navigasi dan kelancaran jalur perdagangan internasional di Selat Malaka.

    Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut juga terpantau berjalan normal tanpa adanya penutupan maupun gangguan akibat kebijakan Indonesia.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Presiden Prabowo Subianto dan TNI memblokade Selat Malaka sehingga membuat Amerika Serikat panik dan negara tetangga bangkrut merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Klaim: Hoaks

    Rating: Prabowo segel Selat Malaka dan memicu kemarahan Anwar Ibrahim

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Foto bus jemaah haji Indonesia terjun ke jurang pada Mei 2026

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media Facebook menarasikan bahwa sebuah bus yang mengangkut rombongan jemaah haji mengalami kecelakaan hingga terjun ke jurang pada Mei 2026.

    Unggahan tersebut menampilkan foto bus berwarna merah dalam kondisi terguling dengan sejumlah orang berada di sekitar lokasi kejadian.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Bus rmb0ngan hji masuk jvr4ng, Siapa tau ada yg kenal!!! Trjadi Kec...Lihat selengkapnya”

    Namun, benarkah bus rombongan jemaah haji Indonesia terjun ke jurang pada Mei 2026?



    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah dan media kredibel yang menyatakan bahwa bus rombongan jemaah haji mengalami kecelakaan terjun ke jurang pada Mei 2026.

    Hasil penelusuran menggunakan Google Lens menunjukkan bahwa foto dalam unggahan tersebut identik dengan pemberitaan Kompas.com berjudul “Detik-detik Bus Rombongan Peziarah Terjun ke Sungai di Guci Tegal, Saksi: Tidak Ada Sopirnya”.

    Peristiwa itu terjadi pada Mei 2023 dan melibatkan bus rombongan wisata ziarah asal Tangerang, Banten.

    Dalam kejadian tersebut, bus mengalami kecelakaan hingga terjun ke sungai di kawasan Objek Wisata Pemandian Air Panas Guci, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Bus diketahui mengangkut 38 penumpang. Satu orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka-luka, dan enam penumpang lainnya selamat tanpa cedera.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut bus rombongan jemaah haji terjun ke jurang pada Mei 2026 merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

    Klaim : Hoaks

    Rating : Foto bus jemaah haji jatuh masuk jurang pada Mei 2026

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Purbaya pangkas gaji ke-13 PNS, PPPK, TNI, dan Polri

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial TikTok mengeklaim bahwa Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan terkait pemangkasan gaji ke-13 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), TNI, dan Polri.

    Unggahan tersebut menarasikan bahwa pemerintah melakukan pemangkasan gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara dan aparat keamanan sebagai upaya penghematan anggaran.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Gaji ke-13 PNS dan PPPK hingga TNI-Polri 2026 Dipangkas, Begini Penjelasan resmi Purbaya”

    Namun, benarkah pemerintah memangkas gaji ke-13 PNS, PPPK, TNI, dan Polri?

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah dan media kredibel yang menyatakan bahwa pemerintah memangkas gaji ke-13 bagi PNS, PPPK, TNI, dan Polri.

    Melalui akun Instagram resminya, Kementerian Keuangan Republik Indonesia menegaskan bahwa informasi mengenai pemangkasan gaji ke-13 tersebut merupakan berita bohong atau hoaks.

    Selain itu, dilansir melalui ANTARA, foto Purbaya Yudhi Sadewa dalam unggahan tersebut diambil saat wawancara di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa (21/10/2025).

    Dalam wawancara itu, Purbaya membahas sistem agar pemerintah daerah tidak lagi mengendapkan dana di perbankan, bukan mengenai pemangkasan gaji ke-13.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Faktanya, pemerintah justru memastikan bahwa gaji ke-13 akan dibayarkan penuh kepada ASN, TNI, Polri, pejabat negara, dan pensiunan. Ketentuan tersebut tercantum dalam PP Nomor 9 Tahun 2026 yang menyebutkan bahwa gaji ke-13 dijadwalkan dibayarkan paling cepat pada Juni 2026.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut pemerintah memangkas gaji ke-13 PNS, PPPK, TNI, dan Polri merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

    Klaim : Hoaks

    Rating : Purbaya pangkas gaji ke-13 PNS, PPPK, TNI, dan Polri

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini