[SALAH] Klaster Supermarket Sendy’s, 28 Pegawai dan Pemilik Swab
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 17/12/2020
Berita
Beredar informasi di media sosial Whatsapp yang berisi pesan agar masyarakat tidak berkunjung ke Supermarket Sendys, Palangka Raya, Kalimantan Tengah karena terdapat klaster Sendys. Disebutkan 28 pegawainya melakukan swab test dan pemiliknya tengah menjalani rawat inap di RS Awal Bros Betang Pambelum.
Hasil Cek Fakta
Menanggapi hal tersebut Kapolresta Palangka Raya, Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri, bersama Kapolsek Pahandut Kompol Edia Sutaata, mengunjungi Swalayan Sendy’s untuk memastikan kabar tersebut. Hasilnya tidak ditemukan satupun karyawan Sendy’s yang terkonfirmasi positif Covid-19.
“Kegiatan tersebut dilakukan untuk melakukan klarifikasi dan berdialog dengan karyawan Sendy’s guna mencegah terjadinya keresahan di tengah masyarakat akibat beredarnya informasi hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri dilansir dari beritasampit.co.id pada Rabu, 16 Desember 2020.
Humas Polda Kalteng melalui akun Instagram resminya (@humaspoldakalteng) juga mengabarkan informasi tersebut sebagai hoaks dan telah mengamankan empat orang pelaku penyebar hoaks klaster Sendy’s 28 orang positif Covid-19. Dari penelusuran di atas, informasi 28 orang klaster Sendy’s masuk Konten Palsu.
“Kegiatan tersebut dilakukan untuk melakukan klarifikasi dan berdialog dengan karyawan Sendy’s guna mencegah terjadinya keresahan di tengah masyarakat akibat beredarnya informasi hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri dilansir dari beritasampit.co.id pada Rabu, 16 Desember 2020.
Humas Polda Kalteng melalui akun Instagram resminya (@humaspoldakalteng) juga mengabarkan informasi tersebut sebagai hoaks dan telah mengamankan empat orang pelaku penyebar hoaks klaster Sendy’s 28 orang positif Covid-19. Dari penelusuran di atas, informasi 28 orang klaster Sendy’s masuk Konten Palsu.
Rujukan
[SALAH] Foto “4 Orang Alami Kelumpuhan Wajah Setelah Disuntik Vaksin Corona”
Sumber: Instagram.comTanggal publish: 17/12/2020
Berita
Akun Instagram @geloranews mengunggah gambar tangkapan layar artikel di situs Gelora News yang berjudul “4 Orang Alami Kelumpuhan Wajah Setelah Disuntik Vaksin Corona” pada tanggal 10 Desember 2020.
Berikut kutipan narasi yang disertakan di unggah tersebut:
“Empat sukarelawan uji coba yang menerima vaksin Covid-19 dari Pfizer mengalami kelumpuhan wajah. Kasus ini tengah ditangani oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.”
Lumpuh setelah suntik vaksin
vaksin lumpuh
lumpuh
vaksin menyebabkan lumpuh
Vaksin bikin lumpuh
Abis vaksin lumpuh
Vaksin buat lumpuh
Vaksin membuat lumpuh
Berikut kutipan narasi yang disertakan di unggah tersebut:
“Empat sukarelawan uji coba yang menerima vaksin Covid-19 dari Pfizer mengalami kelumpuhan wajah. Kasus ini tengah ditangani oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.”
Lumpuh setelah suntik vaksin
vaksin lumpuh
lumpuh
vaksin menyebabkan lumpuh
Vaksin bikin lumpuh
Abis vaksin lumpuh
Vaksin buat lumpuh
Vaksin membuat lumpuh
Hasil Cek Fakta
Berdsarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim adanya foto tiga orang yang dimuat di situs Gelora News adalah foto relawan yang mengalami bell’s palsy setelah menerima vaksin Covid-19 Pfizer adalah klaim yang salah.
Faktanya, foto itu tidak terkait dengan vaksin Covid-19. Foto itu adalah foto lama yang muncul sebelum adanya uji coba vaksin Covid-19 Pfizer pada manusia.
Dilansir dari Tempo.co, foto itu kerap digunakan dalam artikel kesehatan tentang bell’s palsy. Beberapa artikel pun terbit sebelum vaksin Pfizer menjalani uji klinis tahap 3. Artikel-artikel ini umumnya tidak menyebut bahwa bell’s palsy yang dialami tiga orang itu diakibatkan oleh vaksin Covid-19. Di situs kesehatan BMJ Best Practice misalnya, foto itu digunakan dalam artikel yang membahas diagnosis klinis bell’s palsy. Artikel ini terbit pada 20 November 2019.
Foto tersebut juga pernah digunakan oleh situs kesehatan NCCMED pada Juni 2020 dalam artikelnya berjudul “What are the causes of Bell’s palsy?”. Dalam artikel ini, tidak ada penjelasan bahwa bell’s palsy disebabkan oleh vaksin Covid-19. Sebaliknya, artikel itu menjelaskan bahwa Bell’s paralysis, atau facial palsy, adalah lumpuh atau lemahnya otot wajah yang parah di satu sisi wajah. Hal ini diduga karena peradangan saraf yang mengontrol otot wajah.
Dikutip dari jurnal sains Nature edisi 11 Desember 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer bersama BioNTech. Keputusan ini didasarkan pada data lebih dari 43 ribu relawan yang telah menerima suntikan vaksin kedua.
Analisis terhadap 170 kasus pertama Covid-19 dalam kelompok tersebut menunjukkan bahwa vaksin ini 95 persen efektif mencegah infeksi SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, yang bergejala. Hasil uji coba tersebut telah dipublikasikan pada 10 Desember 2020 di The New England Journal of Medicine.
Vaksin itu disebut aman, di mana uji coba menemukan efek samping yang umum terjadi, seperti kelelahan, sakit kepala, dan demam. Ditemukan pula empat kasus bell’s palsy, suatu kondisi yang secara sementara melemahkan beberapa otot di wajah, di antara mereka yang menerima vaksin. Tapi FDA tidak bisa secara pasti mengaitkan kondisi tersebut dengan vaksin.
Petugas medis FDA, Susan Wollersheim, mengatakan kepada komite bahwa frekuensi bell’s palsy ini tidak biasa terjadi pada populasi umum. Menurut dia, salah satu peserta penelitian yang terkena dampaknya memang memiliki riwayat kondisi tersebut.
Menurut Jason Hinman, asisten profesor neurologi dari Bell’s Palsy David Geffen School of Medicine, University of California Los Angeles, bell’s palsy disebabkan oleh kerusakan pada saraf kranial ketujuh, salah satu saraf wajah. “Ini bisa terjadi akibat trauma, tapi lebih sering terjadi karena infeksi virus pada saraf itu sendiri,” katanya dikutip dari situs Health.
Dia menegaskan bahwa bell’s palsy bukan disebabkan oleh SARS-CoV-2. Menurut dia, bell’s palsy bisa disembuhkan dalam waktu singkat, hitungan minggu. Meskipun, dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan kelumpuhan wajah permanen. Satu dari empat relawan penerima vaksin yang mengalami bell’s palsy pun telah pulih.
Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin Covid-19 dan bell’s palsy. Insiden ini bisa menimpa 20 orang dalam 100 ribu populasi. “Saya tidak bisa membuat koneksi langsung dengan vaksin, dan menduga ini adalah kebetulan. Insiden normal bell’s palsy kira-kira 20 dari 100 ribu orang. Studi vaksin Pfizer memeriksa 38 ribu pasien. Jadi, empat kasus akan berada dalam insiden normal bell’s palsy yang diamati.”
Masalah serupa pernah muncul beberapa dekade lalu, ketika beberapa orang mengalami bell’s palsy setelah mendapatkan vaksin influenza. Namun, tidak ada penelitian yang pernah menemukan hubungan antara vaksin flu dan bell’s palsy.
Faktanya, foto itu tidak terkait dengan vaksin Covid-19. Foto itu adalah foto lama yang muncul sebelum adanya uji coba vaksin Covid-19 Pfizer pada manusia.
Dilansir dari Tempo.co, foto itu kerap digunakan dalam artikel kesehatan tentang bell’s palsy. Beberapa artikel pun terbit sebelum vaksin Pfizer menjalani uji klinis tahap 3. Artikel-artikel ini umumnya tidak menyebut bahwa bell’s palsy yang dialami tiga orang itu diakibatkan oleh vaksin Covid-19. Di situs kesehatan BMJ Best Practice misalnya, foto itu digunakan dalam artikel yang membahas diagnosis klinis bell’s palsy. Artikel ini terbit pada 20 November 2019.
Foto tersebut juga pernah digunakan oleh situs kesehatan NCCMED pada Juni 2020 dalam artikelnya berjudul “What are the causes of Bell’s palsy?”. Dalam artikel ini, tidak ada penjelasan bahwa bell’s palsy disebabkan oleh vaksin Covid-19. Sebaliknya, artikel itu menjelaskan bahwa Bell’s paralysis, atau facial palsy, adalah lumpuh atau lemahnya otot wajah yang parah di satu sisi wajah. Hal ini diduga karena peradangan saraf yang mengontrol otot wajah.
Dikutip dari jurnal sains Nature edisi 11 Desember 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer bersama BioNTech. Keputusan ini didasarkan pada data lebih dari 43 ribu relawan yang telah menerima suntikan vaksin kedua.
Analisis terhadap 170 kasus pertama Covid-19 dalam kelompok tersebut menunjukkan bahwa vaksin ini 95 persen efektif mencegah infeksi SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, yang bergejala. Hasil uji coba tersebut telah dipublikasikan pada 10 Desember 2020 di The New England Journal of Medicine.
Vaksin itu disebut aman, di mana uji coba menemukan efek samping yang umum terjadi, seperti kelelahan, sakit kepala, dan demam. Ditemukan pula empat kasus bell’s palsy, suatu kondisi yang secara sementara melemahkan beberapa otot di wajah, di antara mereka yang menerima vaksin. Tapi FDA tidak bisa secara pasti mengaitkan kondisi tersebut dengan vaksin.
Petugas medis FDA, Susan Wollersheim, mengatakan kepada komite bahwa frekuensi bell’s palsy ini tidak biasa terjadi pada populasi umum. Menurut dia, salah satu peserta penelitian yang terkena dampaknya memang memiliki riwayat kondisi tersebut.
Menurut Jason Hinman, asisten profesor neurologi dari Bell’s Palsy David Geffen School of Medicine, University of California Los Angeles, bell’s palsy disebabkan oleh kerusakan pada saraf kranial ketujuh, salah satu saraf wajah. “Ini bisa terjadi akibat trauma, tapi lebih sering terjadi karena infeksi virus pada saraf itu sendiri,” katanya dikutip dari situs Health.
Dia menegaskan bahwa bell’s palsy bukan disebabkan oleh SARS-CoV-2. Menurut dia, bell’s palsy bisa disembuhkan dalam waktu singkat, hitungan minggu. Meskipun, dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan kelumpuhan wajah permanen. Satu dari empat relawan penerima vaksin yang mengalami bell’s palsy pun telah pulih.
Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin Covid-19 dan bell’s palsy. Insiden ini bisa menimpa 20 orang dalam 100 ribu populasi. “Saya tidak bisa membuat koneksi langsung dengan vaksin, dan menduga ini adalah kebetulan. Insiden normal bell’s palsy kira-kira 20 dari 100 ribu orang. Studi vaksin Pfizer memeriksa 38 ribu pasien. Jadi, empat kasus akan berada dalam insiden normal bell’s palsy yang diamati.”
Masalah serupa pernah muncul beberapa dekade lalu, ketika beberapa orang mengalami bell’s palsy setelah mendapatkan vaksin influenza. Namun, tidak ada penelitian yang pernah menemukan hubungan antara vaksin flu dan bell’s palsy.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1147/keliru-klaim-ini-foto-relawan-yang-alami-bells-palsy-akibat-vaksin-covid-19-pfizer
- https://bestpractice.bmj.com/topics/en-us/118
- https://nccmed.com/what-are-the-causes-of-bells-palsy/
- https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/covid-vaccine-bells-palsy
[SALAH] “Tulisan Boss JNE di akun instagram nya (@hannykristianto)”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 17/12/2020
Berita
Akun Twitter @Lady_Zeebo (twitter.com/Lady_Zeebo) mengunggah beberapa gambar tangkapan layar beberapa postingan akun Instagram @hannykristianto dengan narasi sebagai berikut:
“Tulisan Boss JNE di akun instagram nya dlm postingan berlatar foto IB menyiratkan pesan bahwa Polri, TNI, dan pemerintah nasibnya akan sama seperti kaum Nuh, kaum Luth, Namrud, Firaun dan pasukan Abrahah ditenggelamkan/dimusnahkan oleh Allah. #BoikotJNE #JNEKadrun”
“Tulisan Boss JNE di akun instagram nya dlm postingan berlatar foto IB menyiratkan pesan bahwa Polri, TNI, dan pemerintah nasibnya akan sama seperti kaum Nuh, kaum Luth, Namrud, Firaun dan pasukan Abrahah ditenggelamkan/dimusnahkan oleh Allah. #BoikotJNE #JNEKadrun”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa akun Instagram @hannykristianto adalah akun milik bos JNE adalah klaim yang keliru.
Faktanya, bukan bos JNE. Hanny Kristianto adalah Direktur IKHLAAS Foundation dan Sekjen Mualaf Center Indonesia (MCI). Hanny tidak termasuk dalam enam orang yang kini memegang saham JNE.
Dilansir dari Tempo.co, Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi, juga telah mengklarifikasi bahwa Hanny bukan bagian dari JNE. Feriadi mengatakan Hanny tidak termasuk dalam enam orang yang kini memegang saham JNE. Menurut dia, Hanny merupakan Direktur Ikhlaas Foundation dan Sekretaris MCI.
Dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Foto Bos JNE Bersama Rizieq Shihab”, dalam beberapa kali kesempatan memang Hanny Kristianto bersama lembaganya bekerjasama dengan jasa pengiriman JNE untuk pendistribusian santunan.
Dalam situs resmi JNE, memang tercantum bahwa Mohamad Feriadi merupakan Presiden Direktur JNE. Selain Feriadi, terdapat dua direktur JNE lainnya, yakni Edi Santoso dan Chandra Fireta.
Dikutip dari Bisnis.com, Feriadi menjabat sebagai Presiden Direktur JNE sejak 2015. Sebelumnya, posisi ini ditempati oleh Djohari Zein. Djohari merupakan pendiri JNE pada 26 November 2020. Saat ini, seperti tertulis dalam situs pribadinya, Djohari menjabat sebagai Komisaris Utama JNE.
Faktanya, bukan bos JNE. Hanny Kristianto adalah Direktur IKHLAAS Foundation dan Sekjen Mualaf Center Indonesia (MCI). Hanny tidak termasuk dalam enam orang yang kini memegang saham JNE.
Dilansir dari Tempo.co, Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi, juga telah mengklarifikasi bahwa Hanny bukan bagian dari JNE. Feriadi mengatakan Hanny tidak termasuk dalam enam orang yang kini memegang saham JNE. Menurut dia, Hanny merupakan Direktur Ikhlaas Foundation dan Sekretaris MCI.
Dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Foto Bos JNE Bersama Rizieq Shihab”, dalam beberapa kali kesempatan memang Hanny Kristianto bersama lembaganya bekerjasama dengan jasa pengiriman JNE untuk pendistribusian santunan.
Dalam situs resmi JNE, memang tercantum bahwa Mohamad Feriadi merupakan Presiden Direktur JNE. Selain Feriadi, terdapat dua direktur JNE lainnya, yakni Edi Santoso dan Chandra Fireta.
Dikutip dari Bisnis.com, Feriadi menjabat sebagai Presiden Direktur JNE sejak 2015. Sebelumnya, posisi ini ditempati oleh Djohari Zein. Djohari merupakan pendiri JNE pada 26 November 2020. Saat ini, seperti tertulis dalam situs pribadinya, Djohari menjabat sebagai Komisaris Utama JNE.
Rujukan
- https://www.instagram.com/hannykristianto/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1149/keliru-klaim-unggahan-instagram-berisi-gambar-rizieq-shihab-ini-berasal-dari-bos-jne
- https://turnbackhoax.id/2020/12/15/salah-foto-bos-jne-bersama-rizieq-shihab/
- https://www.jne.co.id/id/perusahaan/profil-perusahaan/jajaran-direktur
- https://www.djoharizein.com/kisah-membangun-tiki-jne/
Keliru, Klaim Unggahan Instagram Berisi Gambar Rizieq Shihab Ini Berasal dari Bos JNE
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 17/12/2020
Berita
Gambar tangkapan layar sebuah unggahan di Instagram yang berisi gambar pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab beredar di Twitter. Akun Instagram yang mengunggah gambar itu adalah akun @hannykristianto. Akun ini diklaim sebagai akun milik bos PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE. Gambar ini beredar di tengah munculnya seruan boikot JNE.
Salah satu akun yang membagikan gambar tangkapan layar beserta klaim tersebut adalah akun @Lady_Zeebo, tepatnya pada 14 Desember 2020. Akun ini menulis narasi, "Tulisan Boss JNE di akun instagram nya dlm postingan berlatar foto IB menyiratkan pesan bahwa Polri, TNI, dan pemerintah nasibnya akan sama seperti kaum Nuh, kaum Luth, Namrud, Firaun dan pasukan Abrahah ditenggelamkan/dimusnahkan oleh Allah. #BoikotJNE #JNEKadrun."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @Lady_Zeebo.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri akun Instagram @hannykristianto itu. Hasilnya, ditemukan bahwa akun ini memang pernah mengunggah gambar Rizieq Shihab tersebut beberapa hari yang lalu. Namun, pemilik akun ini, Hanny Kristianto, bukanlah bos JNE.
Gambar tangkapan layar akun Instagram milik Hanny Kristianto.
Klaim bahwa Hanny merupakan bos JNE pernah beredar sebelumnya. Klaim itu disertai dengan foto yang memperlihatkan Hanny tengah bersama Rizieq. Namun, berdasarkan penelusuran Tempo di situs resmi JNE, tidak ada nama Hanny dalam jajaran direksi. Pendiri JNE pun bukan Hanny, melainkan Djohari Zein.
Saat ini, Hanny menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Mualaf Center Indonesia (MCI). Informasi itu tercantum dalam situs resmi MCI, mualaf.com. Kisah Hanny sebagai mualaf hingga menjadi Sekretaris MCI pun pernah dimuat oleh situs media Detik.com pada 23 Juni 2015.
Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi, juga telah mengklarifikasi bahwa Hanny bukan bagian dari JNE. Dilansir dari Jawapos.com, Feriadi mengatakan Hanny tidak termasuk dalam enam orang yang kini memegang saham JNE. Menurut dia, Hanny merupakan Direktur Ikhlaas Foundation dan Sekretaris MCI.
Dalam situs resmi JNE, memang tercantum bahwa Mohamad Feriadi merupakan Presiden Direktur JNE. Selain Feriadi, terdapat dua direktur JNE lainnya, yakni Edi Santoso dan Chandra Fireta. Dilansir dari Konta n, Feriadi merupakan anak dari Soeprapto Suparno, pemilik PT Titipan Kilat (TIKI).
Dikutip dari Bisnis.com, Feriadi menjabat sebagai Presiden Direktur JNE sejak 2015. Sebelumnya, posisi ini ditempati oleh Djohari Zein. Djohari merupakan pendiri JNE pada 26 November 2020. Saat ini, seperti tertulis dalam situs pribadinya, Djohari menjabat sebagai Komisaris Utama JNE.
Seruan Boikot JNE
Berdasarkan arsip berita Tempo, seruan boikot bermula saat akun Twitter JNE mengunggah ucapan selamat ulang tahun ke-30 dari juru bicara Persaudaraan Alumni 212 Haikal Hassan. JNE pun disebut sebagai salah satu pendukung Haikal, yang juga merupakan Sekretaris Jenderal HRS Center, lembaga bentukan Rizieq Shihab.
Merespons isu ini, pada 11 Desember 2020, Mohamad Feriadi mengatakan, "JNE sebagai perusahaan pengiriman ekspres dan logistik bersifat netral." Ia menyebut perusahaannya merangkul semua golongan dan tidak memandang latar belakang agama, suku, ras, dan pandangan politik apa pun.
Akun Twitter JNE memang tidak hanya mengunggah ucapan selamat ulang tahun dari Haikal. Akun ini juga membagikan ucapan selamat dari tokoh lain, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 11 Desember 2020. Tahun ini, JNE tepat berumur 30 tahun setelah didirikan pada 1990.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa unggahan di Instagram yang berisi gambar pemimpin FPI Rizieq Shihab tersebut berasal dari bos JNE, keliru. Akun yang mengunggah gambar itu adalah akun milik Hanny Kristianto. Namun, Hanny bukan bos JNE. Saat ini, Hanny menjabat sebagai Direktur Ikhlaas Foundation dan Sekretaris MCI. Sementara itu, Presiden Direktur JNE kini dijabat oleh Mohamad Feriadi. Adapun pendiri JNE adalah Djohari Zein, yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama JNE.
CHRISSTELLA EFIVANIA ROSALINE | ANGELINA ANJAR SAWITRI
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/jne
- https://archive.vn/5CrtR
- https://www.instagram.com/hannykristianto/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1146/keliru-klaim-ini-foto-rizieq-shihab-bersama-bos-jne
- http://mualaf.com/pengurus/
- https://news.detik.com/berita/d-2949735/lika-liku-hanny-kristianto-jadi-mualaf-ditipu-hingga-diancam
- https://www.jawapos.com/nasional/16/12/2020/presdir-jne-tegaskan-hanny-kristianto-bukan-bagian-dari-perusahaan/
- https://www.jne.co.id/id/perusahaan/profil-perusahaan/jajaran-direktur
- https://peluangusaha.kontan.co.id/news/kisah-mohammad-feriadi-merintis-karir-di-jne-1
- https://ekonomi.bisnis.com/read/20170930/98/694498/ini-jasa-kurir-dan-pos-yang-pernah-ingin-ipo-tapi-batal
- https://www.djoharizein.com/#about-me-2
- https://bisnis.tempo.co/read/1413900/trending-topik-boikotjne-di-twitter-ini-klarifikasi-bos-jne
- https://www.tempo.co/tag/rizieq-shihab
- https://www.tempo.co/tag/jne
- https://www.tempo.co/tag/fpi
Halaman: 6989/8546




