• [SALAH] Kandungan Alumunium pada Vaksin Berbahaya bagi Otak

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/12/2020

    Berita

    Beredar di Facebook akun dengan nama Rahayu Lestari memposting sebuah narasi terkait bahaya penggunaan vaksin bagi otak manusia.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, informasi tersebut tidak benar. Hal ini dibantah oleh Bimo A. Tejo PhD, Associate Professor dan Peneliti Kimia Farmasi Universiti Putra Malaysia.

    Menurut Bimo A. Tejo selaku perwakilan dari asosiasi profesor menyatakan virus yang menyerang otak memang ada. Namun bukan karena vaksin atau kandungan aluminium, Semua vaksin yang sudah mendapat izin edar berarti sudah lolos uji klinis. Adapun Kandungan garam aluminium dalam vaksin kecil sekali sehingga tidak berbahaya bagi otak. Serta, hingga saat ini belum ada yang bisa membuktikan vaksin yang mengandung aluminium bisa menyerang otak manusia.

    Dengan demikian Informasi yang beredar di Facebook tersebut tidak benar. Sehingga pernyataan tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Gedung Gereja Pos Pelayanan Lembantongoa Dibakar Habis di Sulawesi Tengah

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/12/2020

    Berita

    Beredar postingan dari akun Facebook Susandi Sudiro dengan berupa tangkapan layar berisikan klaim bahwa adanya gedung gereja yang dibakar habis di Sulawesi Tengah pada 27 November 2020 lalu. Postingan ini disukai sebanyak 98 kali dan dikomentari sebanyak 11 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan dari akun Facebook Susandi Sudiro dengan berupa tangkapan layar berisikan klaim bahwa adanya gedung gereja yang dibakar habis di Sulawesi Tengah pada 27 November 2020 lalu. Postingan ini disukai sebanyak 98 kali dan dikomentari sebanyak 11 kali.

    Berdasarkan artikel periksa fakta medcom.id, kejadian pembunuhan dengan korban jiwa 4 orang dan 7 rumah warga yang dibakar pada 27 November 2020 yang berlokasi di Sigi, Sulawesi Tengah namun beredarnya laporan kejadian tersebut di media sosial hingga terjadinya konflik isu SARA tentang adanya pembakaran gedung gereja di Sulawesi Tengah. Irjen Rakhman Baso selaku Kapolda Sulteng menjelaskan bahwa objek pembakaran hanya rumah biasa yang biasa dipakai untuk tempat pelayanan umat dan menegaskan tidak ada gedung gereja yang dibakar.

    Melihat dari penjelasan tersebut, klaim gedung gereja yang habis terbakar di Sulawesi Tengah adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Sesat, Narasi yang Samakan Sertifikat Vaksin Covid-19 dengan Libellus di Kerajaan Romawi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/12/2020

    Berita


    KLAIM
    Narasi yang menyamakan sertifikat bagi masyarakat yang sudah diberi vaksin Covid-19 dengan sertifikat di era pemerintahan Raja Romawi Trajan beredar di Facebook. Narasi itu dibagikan oleh akun Ivan Al Qonuni, tepatnya pada 28 November 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 323 reaksi dibagikan 152 kali.
    Unggahan akun tersebut berisi berita yang pernah dimuat oleh Tempo, tentang alur yang telah disiapkan oleh PT Bio Farma bagi masyarakat yang akan melakukan vaksinasi Covid-19 secara mandiri. Akhir dari alur itu, masyarakat yang sudah divaksin akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini pun akan disebar ke berbagai pihak, seperti kementerian atau layanan transportasi.
    Di akhir unggahannya, akun itu meminta warganet membandingkan sertifikat vaksin Covid-19 itu dengan sertifikat di era Raja Trajan, yang ditulis dalam unggahan lain pada 27 November 2020. "Pada masa itu, terjadi sebuah pemaksaan teologi di mana para pengikut Isa dipaksa oleh Raja Romawi untuk memberikan kurban kepada berhala (pagan) yang dipertuhan oleh raja."
    Menurut tulisan itu, siapa pun yang telah memberikan kurban akan dianggap murtad dari agama yang dibawa Isa. Karena itu, mereka akan ditandai dengan libellus. Di masa berikutnya, tulisan itu menyebut bahwa libellus dikeluarkan oleh pihak Istana sebagai sertifikat indulgensi atau pengampunan dosa bagi orang-orang Kristen yang murtad.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ivan Al Qonuni pada 28 November 2020 (kiri) dan 27 November 2020 (kanan).

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, berita tentang rencana pemberian sertifikat bagi masyarakat yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 secara mandiri memang pernah dimuat oleh Tempo pada 25 November 2020. Berita itu berjudul "Bio Farma Sebut 7 Tahapan untuk Dapat Vaksinasi Covid-19 Mandiri". Sertifikat ini berguna untuk mengetahui siapa saja yang sudah mendapatkan vaksinasi. Nantinya, data vaksinasi mandiri dan data vaksinasi bantuan pemerintah akan terhubung dalam basis data nasional.
    Dalam berita Tempo lainnya disebutkan bahwa Bio Farma akan menerima 15 juta dosis bulk vaksin Covid-19 dari perusahaan biofarmasi Sinovac Biotech Ltd di Cina pada November 2020. Dosis bulk tersebut merupakan bahan baku yang akan diolah oleh Bio Farma di Indonesia menjadi vaksin siap guna bagi masyarakat. Namun, izin penggunaan vaksin ini harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
    Sementara itu, vaksin Covid-19 produk jadi dari Sinovac akan dikirim masing-masing 1,5 juta dosis untuk November dan Desember 2020. Penyuntikan vaksin Covid-19 produk jadi ini pun mesti menunggu persetujuan dari BPOM terlebih dahulu.
    Tentu saja sertifikat vaksin Covid-19 tersebut tidak sama atau berkaitan dengan libellus yang dikeluarkan di masa Romawi. Dalam situs ensiklopedia Katolik, libelli (bentuk jamak dari libellus) adalah sertifikat yang dikeluarkan bagi orang Kristen pada abad ke-3. Libelli terdiri atas dua jenis, yakni sertifikat untuk membuktikan bahwa pemegangnya telah sesuai dengan tes agama yang disyaratkan oleh dekrit Decius dan sertifikat bagi para lapsi atau mereka yang telah murtad.
    Sertifikat untuk para lapsi juga dibedakan menjadi tiga jenis yakni murtad, atau yang telah sepenuhnya meninggalkan agama mereka; korban atau thurificati, yang telah mengambil bagian dalam ritual pagan; dan libellatici, yang telah mendapatkan sertifikat (libelli) kesesuaian dari otoritas sipil yang sesuai.
    Dengan demikian, libellus sebenarnya berkaitan dengan urusan teologi. Sementara pemberian sertifikat vaksin Covid-19 oleh Bio Farma dimaksudkan untuk mengetahui siapa saja yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 dari jalur mandiri.
    Vaksinasi pun bukan bentuk pengorbanan seperti ritual pagan. Dikutip dari Pusat Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat ( CDC ), vaksin Covid-19 bertujuan untuk membangun sistem kekebalan dengan mengajari tubuh mengenali dan melawan virus yang menyebabkan Covid-19. Terkadang, proses ini bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun kekebalan.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi yang menyamakan pemberian sertifikat vaksin Covid-19 dengan libellus di era Raja Romawi Trajan, menyesatkan. Berita yang digunakan untuk melengkapi narasi itu memang berasal dari Tempo. Namun, kesimpulan yang ditarik, yang menyamakan pemberian sertifikat vaksin Covid-19 dengan pemberian sertifikat di era Raja Trajan, tidak tepat. Pasalnya, libellus berkaitan dengan urusan teologi, di mana diberikan kepada umat Kristen pada abad ke-3.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Foto Bocah yang Tidur di Atas Lukisan Ibu yang Disebut Korban Perang Irak

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/12/2020

    Berita


    KLAIM
    Foto yang memperlihatkan bocah perempuan tengah tertidur di atas lukisan sosok ibu beredar di media sosial. Foto itu diklaim sebagai foto bocah perempuan yang kehilangan keluarganya akibat perang di Irak, yang tidur di atas lukisan sosok ibunya yang telah meninggal. Lukisan itu dibikin di lantai panti asuhan tempat bocah tersebut tinggal.
    Di Facebook, salah satu akun yang membagikan foto itu adalah akun KataKita, tepatnya pada 1 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 4.600 reaksi dan 217 komentar serta dibagikan sebanyak 436 kali. Berikut sebagian narasi dalam unggahan akun KataKita:
    "Foto ini menggambarkan situasi dampak perang di Irak. Seorang gadis kecil yang kehilangan keluarga akibat perang, melukis sosok ibunya yang telah meninggal di lantai panti asuhan anak yatim piatu tempat tinggalnya. Sebelum tidur, gadis kecil ini dengan hati-hati melepaskan sepatunya, meletakkan tubuhnya di atas lukisan, tepat di dada "ibu" untuk kemudian tertidur."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook KataKita.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto itu dengan reverse image tool Source, Google, dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut telah beredar di internet sejak 2014 dan tidak ada kaitannya dengan perang di Irak.
    Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Iroon.com pada 17 Agustus 2014 dengan judul “Unreality: Bahareh Bisheh's photography”. Foto yang sama juga pernah dimuat oleh situs Childreninfamilies.org pada 26 Februari 2016. Situs ini menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan karya fotografer sekaligus seniman Iran yang bernama Bahareh Bisheh.
    Dikutip dari Childreninfamilies.org, bocah perempuan dalam foto tersebut merupakan salah satu saudara sepupu Bisheh. Foto itu diambil ketika saudara sepupu Bisheh itu tertidur di trotoar di luar rumah mereka. Namun, foto ini kemudian menghebohkan media sosial karena dibagikan bersama kisah tentang anak yatim-piatu yang merindukan ibunya.
    Foto tersebut pertama kali diunggah oleh Bisheh di situs stok foto Flickr pada 15 Juli 2012. Foto tersebut diberi keterangan "I Have a Mother... photo By: Baharer bisheh from iran". Foto itu pun banyak mendapatkan komentar. Dalam kolom komentar, Bisheh menjawab beberapa pertanyaan tentang kisah di balik foto tersebut.
    Bisheh memastikan bahwa gadis kecil dalam foto itu adalah sepupunya. Bocah ini, menurut dia, benar-benar tertidur di aspal tepat di luar rumah Bisheh. "Dia pasti bermain selama beberapa waktu dan hanya berbaring untuk beristirahat, tapi kemudian tertidur. Saya menggunakan kursi untuk mengambil foto ini sembari berdiri,” katanya.
    Bisheh juga menyatakan bahwa foto tersebut tidak ada hubungannya dengan panti asuhan. “Tidak ada panti asuhan yang terkait dan tidak ada kisah tragis di balik ini. Saya mengambil kesempatan ini untuk menjadi kreatif. Ini adalah gaya fotografi,” ujar Bisheh.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah foto bocah perempuan yang kehilangan keluarganya akibat perang di Irak, yang tidur di atas lukisan sosok ibunya yang telah meninggal, keliru. Foto tersebut diabadikan oleh fotografer sekaligus seniman asal Iran yang bernama Bahareh Bisheh. Menurut Bisheh, bocah dalam foto tersebut adalah sepupunya yang tengah tertidur di aspal di depan rumahnya.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini