• [Fakta atau Hoaks] Benarkah PSBB Jakarta Jilid II Bagian dari Skenario Desak Jokowi Mundur?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 14/09/2020

    Berita


    Klaim bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB Jakarta Jilid II adalah bagian dari skenario untuk mendesak Presiden Joko Widodo atau Jokowi mundur beredar di Facebook. Klaim ini beredar setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan kembali memberlakukan PSBB secara ketat pada 14 September 2020.
    Klaim ini terdapat dalam gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Anna Belova. Menurut klaim itu, skenario tersebut merupakan instruksi dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) kepada Anies. Menurut unggahan itu, informasi tentang PSBB Jakarta Jilid II adalah skenario untuk mendesak Jokowi mundur berasal dari kajian intelijen.
    "Anies dapat instruksi dari 'KAMI' agar lakukan PSBB total beberapa bulan," demikian narasi dalam unggahan itu. Tujuannya, perekonomian Jakarta lumpuh sehingga Indonesia mengalami resesi pada Oktober 2020. "Dikarenakan tidak adanya pekerjaan, pendapatan cash, dan tabungan, berakibat pada kemiskinan yang menjadi-jadi di DKI sehingga bisa memicu demo dan penjarahan."
    "Bila itu terjadi, maka KAMI dan antek kadrun lainnya akan push provokasi kepada rakyat tentang Jokowi harus mundur karena gagal selamatkan rakyat. Ada misi jahat sedang dijalankan oleh Wan Abut, kadrun, dan KAMI bin Gatot Cendana," demikian narasi di bagian akhir unggahan tersebut.
    Salah satu akun yang membagikan gambar tangkapan layar unggahan ini adalah akun Sidik Purnomo. Akun itu pun menulis, "Semua dikondisikan sesuai skenario para pengkhianat bangsa." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 138 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Sidik Purnomo.
    Apa benar PSBB Jakarta Jilid II adalah bagian dari skenario untuk mendesak Jokowi mundur?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, PSBB Jakarta Jilid II dan skenario untuk mendesak Jokowi mundur adalah dua hal yang tidak berkaitan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan kembali PSBB untuk menurunkan kurva kasus Covid-19 dan menghindari kolapsnya layanan kesehatan. Penerapan PSBB tersebut dibuat berdasarkan data Indikator Pantau Pandemi serta masukan para ahli epidemiologi.
    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan indikator utama dalam keputusan memberlakukan kembali PSBB adalah tingkat kematian (Case Fatality Rate) dan tingkat keterisian rumah sakit (Bed Occupancy Ratio), baik untuk tempat tidur isolasi maupun Intensive Care Unit (ICU), yang semakin tinggi, yang menunjukkan bahwa Jakarta berada dalam kondisi darurat.
    Anies menuturkan sebanyak 1.347 orang di Jakarta meninggal akibat Covid-19. Meskipun tingkat kematian Covid-19 di Jakarta berada di angka 2,7 persen dan lebih rendah dari tingkat kematian Covid-19 nasional yang berada di angka 4,1 persen, bahkan lebih rendah dari tingkat kematian Covid-19 global yang berada di angka 3,3 persen, jumlah kematian terus bertambah. Hal ini disertai dengan peningkatan angka pemulasaran jenazah dengan protokol Covid-19.
    Selain itu, saat ini, sebanyak 4.053 tempat tidur isolasi di 63 rumah sakit rujukan di Jakarta sudah terpakai sekitar 77 persen. Berdasarkan kalkulasi Pemprov DKI, jika tidak diberlakukan pembatasan secara ketat dan kondisi seperti saat ini terus berlangsung, seluruh tempat tidur isolasi akan terisi penuh pada 17 September 2020. Adapun sebanyak 528 tempat tidur ICU untuk merawat pasien dengan gejala berat sudah terpakai sekitar 83 persen. "“Bila trennya akan naik terus maka 15 September 2020 akan penuh," ujar Anies.
    Penerapan kembali PSBB ini pun didukung oleh sejumlah pihak. Dilansir dari IDN Times, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla atau JK menilai PSBB yang diberlakukan oleh Pemprov DKI mulai 14 September 2020 adalah suatu keharusan, sebab PSBB transisi terbukti tidak menurunkan kurva penyebaran Covid-19 di ibukota.Padahal, kasus Covid-19 saat pemberlakuan PSBB periode awal sempat mengalami penurunan. Untuk itu, JK beranggapan bahwa PSBB merupakan langkah tegas yang harus diambil demi menghindari penularan yang semakin masif. Bahkan, menurut JK, untuk memulihkan ekonomi, Indonesia harus menyudahi pandemi Covid-19 ini dengan menangani virusnya terlebih dahulu.
    Dikutip dari Kompas.com, ahli epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menuturkan pengetatan kegiatan masyarakat melalui rencana PSBB seperti awal pandemi Covid-19 di Jakarta sudah tepat. Hal itu dikarenakan jumlah kasus Covid-19 di ibukota terus meningkat belakangan serta tempat tidur untuk pasien Covid-19 mulai penuh.
    Pandu mengatakan rencana penerapan PSBB tersebut dibuat berdasarkan data Indikator Pantau Pandemi serta masukan dari para ahli epidemiologi. Indikator itu terdiri dari epidemiologi, kesehatan publik, serta kesiapan pelayanan kesehatan. Menurut dia, langkah pengetatan kembali sudah terencana, apabila terjadi peningkatan kasus Covid-19.
    Pemberlakuan karantina ulang di negara lain
    Bukan hanya Jakarta yang memberlakukan kembali pembatasan aktivitas masyarakat karena meningkatnya kasus Covid-19. Sejumlah kota di beberapa negara juga memutuskan pembatasan sosial ulang untuk menekan kurva kasus. Berikut ini empat negara yang kembali memberlakukan karantina wilayah, seperti dikutip dari Channel News Asia.
    Bangalore, pusat teknologi informasi di India, kembali menerapkan karantina wilayah pada 14 Juli 2020 setelah menjadi hotspot baru penularan Covid-19. Kota tersebut memberlakukan operasional transporasi hanya dalam kondisi darurat, serta toko yang menjual barang-barang penting saja yang diizinkan buka. Pada awal Juni 2020, Bangalore hanya memiliki sekitar 1.000 kasus Covid-19. Namun, setelah karantina wilayah dicabut, kasus melonjak hingga 20 ribu pada Juli 2020.
    Australia kembali memberlakukan karantina wilayah, yang dilakukan terhadap sekitar lima juta penduduk Melbourne, negara bagian Victoria, pada Juli 2020. Upaya ini dilakukan untuk menahan wabah baru Covid-19. Negara bagian itu melaporkan rekor 428 kasus infeksi dan tiga kasus kematian baru sehari setelah mencatatkan rekor sebelumnya, yaitu 317 kasus infeksi baru.
    Pemerintah Filipina memberlakukan lockdown selama dua minggu terhadap sekitar 250 ribu penduduk Kota Navotas setelah melonjaknya kasus Covid-19 dalam dua minggu terakhir pada Juli 2020. Karantina dilakukan setelah kota pelabuhan di Manila itu melaporkan sebanyak 931 kasus positif dan 59 kasus kematian akibat Covid-19. Penerapan kebijakan ini akan menjadi perintah tetap di rumah terbesar sejak Manila menginstruksikan penguncian menyeluruh pada pertengahan Maret 2020 lalu.
    Hong Kong kembali melakukan pembatasan sosial pada Juli 2020 setelah mencatatkan lebih dari 200 kasus infeksi lokal dalam dua pekan terakhir. Hongkong sebelumnya dielu-elukan sebagai negara yang berhasil menangani pandemi. Namun, kelompok infeksi baru mulai muncul pada awal Juli di perumahan dan panti jompo.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "PSBB Jakarta Jilid II adalah bagian dari skenario untuk mendesak Presiden Jokowi mundur" keliru, sebab kedua hal itu tidak berkaitan satu sama lain. Karantina wilayah, seperti penerapan PSBB Jakarta, adalah upaya untuk menurunkan kurva kasus Covid-19 dan menghindari kolapsnya layanan kesehatan. Pemberlakuan kembali pembatasan sosial juga ditempuh oleh kota di dunia, mulai dari Bangalore, Melbourne, Manila, hingga Hong Kong.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Ibunda Cak Nun Meninggal Dunia

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 14/09/2020

    Berita

    “Ibunda cak nun meninggal dunia malam ini ,dan di makam kan mlm ini di sumo bito jombang, innalillahi wainnailahirojiun ,semoga di ampuni dosa nya dan diterima amal ibadah nya dan husnul khotimah aamiin”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar di media sosial perihal ucapan belasungkawa atas meninggalnya ibunda Cak Nun yang disertai foto dirinya bersama seorang perempuan lanjut usia. Dalam narasi yang beredar perempuan tersebut meninggal kemarin malam dan dimakamkan di sumo bito jombang.

    Berdasarkan penelusuran, Klaim bahwa wanita lanjut usia yang ada dalam foto tersebut adalah ibunda dari Cak Nun adalah salah. Dilansir dari kabarjombang.com, diketahui bahwa Chalimah, ibunda Cak Nun telah meninggal 8 tahun yang lalu.

    Sementara itu, perempuan paruh baya di foto tersebut adalah Mamak Cammana, pegiat kebudayaan asal Sulawesi, Demikian dikatakan adik kandung Cak Nur, Nasrul Ilahi.

    “Teman-taman jemaah maiyah memang memanggil beliau ibunda. Beliau meninggal awal September, sama dengan bulan meninggalnya ibu. Jadi banyak yang salah informasi,” kata Nasrul Ilahi, Sabtu (12/9/2020).

    Mamak Cammana, pria yang biasa dipanggil Cak Nas itu menuturkan, adalah Parrawana Towaine (penabuh rebana perempuan) dalam seni tradisional Mandar. Dia sering berproses bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

    “Beliau memang seniman yang kerap tampil di panggung nasional. Sering bersama Emha Ainun Najib atau Cak Nun dan grup Kiai Kanjeng,” jelas Cak Nas.

    Mamak Camma meninggal di Sulawesi pada Senin (7/9/2020) sekitar pukul 15.15 WITA.

    Sekedar informasi, dilansir dari Wikipedia.org, Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Lahir dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Chalimah. Ayahnya adalah petani dan tokoh agama (kyai) yang sangat dihormati masyarakat Desa Menturo, Sumobito, Jombang.

    Kesimpulan

    Bukan Ibunda Cak Nun. Sebab, Chalimah, ibunda Cak Nun telah meninggal 8 tahun yang lalu. Adapun perempuan lansia bersama Cak Nun tersebut adalah Mamak Cammana, pegiat kebudayaan asal Sulawesi.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video Teknik Menahan Napas Untuk Deteksi Covid-19

    Sumber: WhatsApp.com
    Tanggal publish: 14/09/2020

    Berita

    “Jika anda dapat menahan nafas hingga titik merah berpindah dari A ke B anda saat ini bebas COVID-19. Tes sederhana versi uji coba gratis membantu menyelamatkan hidup. Tunggu titik merah berpindah ke A sebelum mulai menahan nafas”.

    Jika anda dpt menahan nafas dr A ke B anda saat ini bebas covid 19. Ini tes sederhana utk me ngetahui kita terenfeksi covid 19 atau tdk versi uji coba gratis tanpa biaya. Tunggu sampai ttk merah berada di A baru menahan nafas. Silahkan dicoba 🙏

    lambung corona

    Hasil Cek Fakta

    Beredar pada pesan berantai whatsapp sebuah informasi berupa video dengan klaim tes teknik menahan napas untuk mengidentifikasi apakah seseorang terpapar covid-19 atau tidak.

    Video disertai keterangan dalam bahasa India yang berarti: “Jika Anda dapat menahan napas sampai titik merah bergerak dari A ke B maka Anda resisten terhadap penyakit. Tes sederhana Covid.”

    Dalam video terdapat gambar kotak dengan keterangan di sebelah kiri kotak bertuliskan “ambil napas” dan di sebelah kanan kotak “embuskan napas.”

    Berdasarkan penelusuran, dilansir dari factcheck.afp.com, badan kesehatan dunia WHO mengatakan bahwa teknik dalam video itu tidak menyatakan seseorang mengidap Covid-19.

    “Tampaknya ini adalah aplikasi sederhana yang mengukur waktu dan bukan aliran udara. Orang dengan penyakit paru-paru (dari merokok, polusi, asma, COPD atau infeksi paru, termasuk tetapi tentu saja tidak terbatas pada Covid-19) akan lebih sulit melakukannya. Tampaknya tidak berbahaya, tetapi tidak terlalu informatif, ukuran kasar dari fungsi paru-paru,” kata WHO kepada AFP Fact Check.

    Dr Amba Lal Salve, pengawas medis di Rumah Sakit Ananta, mengatakan bahwa Ananta Hospital tidak berada di balik pesan video itu, termasuk nomor telepon dan harga tes Covid-19.

    Untuk mendiagnosis virus corona, masyarakat dianjurkan untuk melakukan tes PCR di Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), yang sudah diakreditasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasil dari tes tersebut akurat dan terpercaya, serta dapat diketahui dalam waktu kurang dari 12 jam sejak sampel diterima.

    Polymerase chain reaction (PCR) atau yang kadang disebut sebagai “fotokopi molekuler” adalah teknik yang digunakan untuk memperkuat salinan segmen kecil DNA. Hal ini karena untuk dapat melakukan analisis molekuler dan genetik, diperlukan sejumlah besar sampel DNA. Setelah diperkuat, DNA yang dihasilkan oleh PCR dapat digunakan dalam berbagai prosedur laboratorium yang berbeda, salah satunya adalah untuk mendeteksi virus.

    Kesimpulan

    Klaim video yang bisa menganalisa adanya covid-19 di tubuh kita hanya melalui tes menahan napas adalah tidak benar. badan kesehatan dunia WHO mengatakan bahwa teknik dalam video itu tidak menyatakan seseorang mengidap Covid-19.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto Menteri Agama di Kabinet Jokowi sebagai Pendeta Kristen

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 13/09/2020

    Berita

    “ANJING MILIK JOKOWI AMAT SANGAR
    Sosok asli Menteri Agama di kabinet Presiden Joko Widodo, beliau Ngaku beragama Islam tetapi perbuatannya selalu menyingkirkan Norma-Norma ajaran Agama Islam.
    Kelakuannya persis seperti Pendeta Kristen yang memusuhi agama islam.”
    jokowi agama

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Aisyah Cha Cha mengunggah narasi dengan disertai foto yang di dalamnya terdapat wajah Menteri Agama Indonesia periode 2019-2024, Fachrul Razi, pada 10 September 2020. Unggahan tersebut telah mendapat respon sebanyak 292 reaksi, 230 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 40 kali.

    Berdasarkan hasil penelusuran, foto tersebut merupakan hasil suntingan/editan. Ditemukan foto asli dari unggahan tersebut di sebuah situs penyedia stok fotografi, Getty Images. Foto asli unggahan itu merujuk pada foto Pope Francis atau Paus Fransiskus yang menghadiri misa Paskah di Lapangan Santo Petrus, Kota Vatikan pada 21 April 2019.

    Dengan demikian, foto yang diunggah akun Facebook Aisyah Cha Cha di laman pribadinya dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi karena foto tersebut telah melalui proses penyuntingan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)

    Foto tersebut hasil suntingan/editan. Foto asli dari unggahan akun Facebook itu merupakan foto Pope Francis atau Paus Fransiskus yang menghadiri misa Paskah di Lapangan Santo Petrus, Kota Vatikan pada 21 April 2019.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini