[Fakta atau Hoaks] Benarkah Campuran Air Kelapa, Jeruk Nipis, dan Garam Bisa Matikan Virus Corona Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 03/09/2020
Berita
Klaim bahwa campuran air kelapa muda, jeruk nipis, dan garam bisa mematikan virus Corona Covid-19 beredar di media sosial. Menurut klaim itu, meminum campuran air satu biji kelapa muda, satu biji jeruk nipis, dan satu sendok makan garam bisa menghilangkan virus Corona dalam waktu satu jam.
Di Facebook, klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Ita Yurita pada 31 Agustus 2020. Berikut ini isi unggahan akun tersebut:
“Yth Bapak / Ibu, Mhn izin Kami Share informasi, semoga bermanfaat..??Tolong bantu dikasih tahu ke saudara² kita yg kena covid 19..Ini obat pemberian dari TUHAN yg mudah didapat yg sangat manjur..1 biji air kelapa muda 1 biji jeruk nipis diperas1 sendok makan garamSemuanya diaduk dan diminum airnya... dijamin 1 jam kemudian virusnya akan hilang....Mudah mudahan semua dalam keadaan sehat walafiat..Info dari teman yg kakaknya di kota Bau Bau Sulawesi Tenggara.. obat herbal ini sangat manjur.....Bisa di infokan ke saudara,teman atau keluarga kita terima kasih.....Indahnya Berbagi”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ita Yurita.
Apa benar campuran air kelapa, jeruk nipis, dan garam bisa membunuh virus Corona Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari Liputan6.com, farmakolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati mengatakan campuran air kelapa, jeruk nipis, dan garam belum terbukti secara klinis dapat mematikan virus Corona Covid-19. Zullies pun meminta masyarakat tidak mudah menerima informasi yang belum terbukti kebenarannya semacam itu. "Jika ada kabar-kabar begitu, yang belum ada buktinya, sebaiknya tidak langsung diterima," kata Zullies.
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM ini mengatakan menemukan obat Covid-19 bukanlah hal yang mudah, harus dilakukan penelitian mendalam untuk membuktikannya. "Jika kebetulan saja sembuh ketika minum air kelapa, ya mungkin saja. Tapi apakah bisa lebih cepat sembuh dari pada yang tidak minum? Apakah sudah ada buktinya?" tutur Zulies.
Menurut Zullies, untuk memastikan efek suatu terapi atau obat, harus ada desain dan pembandingnya. "Jika hanya sekelompok orang yang minum air kelapa bisa sembuh, apakah sekelompok orang lain yang tidak minum juga sembuh? Ada perbedaan kecepatan sembuhnya tidak?" papar Zullies.
Saat ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, beberapa pengujian obat Covid-19 sedang berlangsung. Namun, hingga kini, tidak ada obat yang berlisensi untuk mengobati ataupun mencegah Covid-19. Tidak ada pula bukti bahwahydroxychloroquinebisa menyembuhkan atau mencegah Covid-19.
Menurut ahli epidemiologi, Dicky Budiman, klaim bahwa air garam dapat membunuh virus Corona pun merupakan klaim yang salah. Dia menjelaskan, ketika virus menempel pada reseptor ACE2 di tubuh manusia, virus tersebut akan masuk ke dalam sel. "Artinya, mau minum air garam atau alkohol tidak akan berpengaruh," katanya.
Serupa dengan pernyataan WHO, Deputi Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Rita Endang mengatakan, hingga saat ini, belum ada obat atau vaksin definitif untuk Covid-19. Dilansir dari Kompas.com, Rita menuturkan bahwa obat atau vaksin Covid-19 masih dalam tahap pengujian.
Endang mengatakan, per 25 Agustus 2020, ada 31 kandidat vaksin Covid-19 yang sudah masuk tahap uji klinis. Dari puluhan kandidat tersebut, BPOM mendampingi tiga kandidat vaksin Covid-19 untuk Indonesia, yaitu yang dikerjakan oleh Bio Farma dengan Sinovac, Kimia Farma dengan G42, dan Kalbe Farma dengan Genexine.
"Kedua produsen (Bio Farma-Sinovac dan Kimia Farma-G42) menggunakan platform inactivated virus. Kemudian, satu lagi adalah Kalbe Farma-Genexine, menggunakan platform DNA. Ini adalah ketiga vaksin yang sedang dikawal BPOM. Lainnya ada 142 yang masih dalam tahap pra-klinik dengan binatang percobaan," ujar Endang.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa campuran air kelapa, jeruk nipis, dan garam bisa membunuh virus Corona Covid-19 keliru. Menurut WHO dan BPOM, hingga kini, belum ada obat definitif untuk mengobati ataupun mencegah Covid-19. Menurut ahli epidemiologi, klaim bahwa air garam dapat membunuh virus Corona pun salah. Ketika menempel pada reseptor ACE2 di tubuh manusia, virus akan masuk ke dalam sel. Artinya, minum air garam tidak akan berpengaruh.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://archive.ph/w2NJ9
- https://bit.ly/31QtnvX
- https://www.tempo.co/tag/obat-covid-19
- https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
- https://bit.ly/3lKAY71
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
[SALAH] “Wapres Amerika Mike Pence meminta umat Islam yang menuntut hukum syariah meninggalkan Amerika”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 02/09/2020
Berita
Akun Laksmono Hendro Purwanto (fb.com/elha.p.schwarz) membagikan postingan akun Kesaksian MISI (fb.com/250427832154597) yang berisi klaim sebagai berikut:
“PIDATO WAPRES AMERIKA MIKE PENCE, SEMUA ORANG MUSLIM YANG BERCITA-CITA MENUNTUT HUKUM SYARIAH UNTUK MENINGGALKAN AMERIKA PADA HARI RABU INI!!
AMERIKA TIDAK BUTUH MUSLIM FANATIK, JIKA MEREKA DATANG KE AMERIKA MEREKA HARUS MENGHORMATI BUDAYA KAMI DAN BERADAPTASI DENGAN KAMI, BUKAN KAMI BERADAPTASI DENGAN MEREKA!!”
“PIDATO WAPRES AMERIKA MIKE PENCE, SEMUA ORANG MUSLIM YANG BERCITA-CITA MENUNTUT HUKUM SYARIAH UNTUK MENINGGALKAN AMERIKA PADA HARI RABU INI!!
AMERIKA TIDAK BUTUH MUSLIM FANATIK, JIKA MEREKA DATANG KE AMERIKA MEREKA HARUS MENGHORMATI BUDAYA KAMI DAN BERADAPTASI DENGAN KAMI, BUKAN KAMI BERADAPTASI DENGAN MEREKA!!”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim adanya pidato Wapres Amerika Mike Pence yang meminta muslim yang menuntut hukum syariah meninggalkan Amerika adalah klaim yang salah.
Faktanya, klaim itu adalah modifikasi dari hoaks serupa yang pernah menimpa mantan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, pada 2011. Baik Pence dan Gillard tidak pernah melontarkan pernyataan seperti narasi yang beredar tersebut.
Dilansir dari Tempo.co, hoaks soal pidato Pence ini pernah beredar di media sosial Indonesia pada 2017. Tempo mendapatkan dokumentasi penyebaran pidato palsu itu dari situs Detik.com. Pada 25 Januari 2017, Detik menurunkan artikel berjudul “Pidato Wapres AS Hoax, Jangan Disebarkan!”. Artikel tersebut memuat pernyataan analis keamanan siber Alfons Tanujaya bahwa pidato tersebut adalah terjemahan dari hoaks berbahasa Inggris. Sebelumnya, hoaks tersebut menyerang mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard dengan beberapa teks yang telah dimodifikasi.
Organisasi pemeriksa fakta Amerika, Snopes, mencatat hoaks pidato Gillard tersebut telah beredar sejak 2011. Tiga paragraf pertama pidato palsu yang beredar dalam bahasa Inggris berbunyi:
“Prime Minister Julia Gillard – Australia
Muslims who want to live under Islamic Sharia law were told on Wednesday to get out of Australia, as the government targeted radicals in a bid to head off potential terror attacks.
Separately, Gillard angered some Australian Muslims on Wednesday by saying she supported spy agencies monitoring the nation’s mosques.”
Faktanya, menurut Snopes, Gillard tidak pernah membuat pernyataan sebagaimana yang termuat dalam pidato tersebut. Beberapa paragraf pertama yang mengklaim “muslim yang ingin hidup di bawah hukum Syariah Islam diminta untuk keluar dari Australia” sebenarnya merujuk pada isi debat politik terkait masalah terorisme domestik di Australia setelah pengeboman London Tube, Inggris, pada Juli 2005. Perdebatan itu terjadi ketika yang menjabat sebagai PM Australia adalah John Howard, bukan Julia Gillard.
Pada 2020, informasi palsu yang mencatut nama Gillard tersebut kembali beredar, seperti yang didokumentasikan oleh Reuters dalam artikel cek faktanya yang berjudul “Fact check: Anti-immigration remarks wrongly attributed to former Australian PM Julia Gillard”.
Setelah Gillard, hoaks serupa juga menimpa Wapres Amerika Mike Pence sejak 2017. Hoaks itu menyebar setelah warganet Amerika membagikan ulang cuitan Pence di Twittwe pada 8 Desember 2015 saat ia masih menjabat sebagai Gubernur Indiana. Cuitan tersebut berisi ketidaksetujuan Pence atas pelarangan warga Muslim ke Amerika.
“Calls to ban Muslims from entering the U.S. are offensive and unconstitutional. — Governor Mike Pence (@GovPenceIN) December 8, 2015”
Dilansir dari Snopes, cuitan Pence ini beredar setelah Presiden Amerika Donald Trump menandatangani perintah eksekutif berjudul “Perlindungan Bangsa dari Masuknya Teroris Asing ke Amerika Serikat”. Perintah tersebut melarang semua orang dari negara-negara tertentu yang rawan teror memasuki Amerika selama 90 hari dan menangguhkan Program Penerimaan Pengungsi Amerika selama 120 hari sampai program tersebut dipulihkan.
Negara-negara yang terkena dampak dari kebijakan itu adalah Iran, Irak, Suriah, Sudan, Libya, Yaman dan Somalia, menurut seorang pejabat Gedung Putih. Saat Trump menandatangani perintah tersebut, Pence berdiri di belakangnya dan bertepuk tangan.
Faktanya, klaim itu adalah modifikasi dari hoaks serupa yang pernah menimpa mantan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, pada 2011. Baik Pence dan Gillard tidak pernah melontarkan pernyataan seperti narasi yang beredar tersebut.
Dilansir dari Tempo.co, hoaks soal pidato Pence ini pernah beredar di media sosial Indonesia pada 2017. Tempo mendapatkan dokumentasi penyebaran pidato palsu itu dari situs Detik.com. Pada 25 Januari 2017, Detik menurunkan artikel berjudul “Pidato Wapres AS Hoax, Jangan Disebarkan!”. Artikel tersebut memuat pernyataan analis keamanan siber Alfons Tanujaya bahwa pidato tersebut adalah terjemahan dari hoaks berbahasa Inggris. Sebelumnya, hoaks tersebut menyerang mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard dengan beberapa teks yang telah dimodifikasi.
Organisasi pemeriksa fakta Amerika, Snopes, mencatat hoaks pidato Gillard tersebut telah beredar sejak 2011. Tiga paragraf pertama pidato palsu yang beredar dalam bahasa Inggris berbunyi:
“Prime Minister Julia Gillard – Australia
Muslims who want to live under Islamic Sharia law were told on Wednesday to get out of Australia, as the government targeted radicals in a bid to head off potential terror attacks.
Separately, Gillard angered some Australian Muslims on Wednesday by saying she supported spy agencies monitoring the nation’s mosques.”
Faktanya, menurut Snopes, Gillard tidak pernah membuat pernyataan sebagaimana yang termuat dalam pidato tersebut. Beberapa paragraf pertama yang mengklaim “muslim yang ingin hidup di bawah hukum Syariah Islam diminta untuk keluar dari Australia” sebenarnya merujuk pada isi debat politik terkait masalah terorisme domestik di Australia setelah pengeboman London Tube, Inggris, pada Juli 2005. Perdebatan itu terjadi ketika yang menjabat sebagai PM Australia adalah John Howard, bukan Julia Gillard.
Pada 2020, informasi palsu yang mencatut nama Gillard tersebut kembali beredar, seperti yang didokumentasikan oleh Reuters dalam artikel cek faktanya yang berjudul “Fact check: Anti-immigration remarks wrongly attributed to former Australian PM Julia Gillard”.
Setelah Gillard, hoaks serupa juga menimpa Wapres Amerika Mike Pence sejak 2017. Hoaks itu menyebar setelah warganet Amerika membagikan ulang cuitan Pence di Twittwe pada 8 Desember 2015 saat ia masih menjabat sebagai Gubernur Indiana. Cuitan tersebut berisi ketidaksetujuan Pence atas pelarangan warga Muslim ke Amerika.
“Calls to ban Muslims from entering the U.S. are offensive and unconstitutional. — Governor Mike Pence (@GovPenceIN) December 8, 2015”
Dilansir dari Snopes, cuitan Pence ini beredar setelah Presiden Amerika Donald Trump menandatangani perintah eksekutif berjudul “Perlindungan Bangsa dari Masuknya Teroris Asing ke Amerika Serikat”. Perintah tersebut melarang semua orang dari negara-negara tertentu yang rawan teror memasuki Amerika selama 90 hari dan menangguhkan Program Penerimaan Pengungsi Amerika selama 120 hari sampai program tersebut dipulihkan.
Negara-negara yang terkena dampak dari kebijakan itu adalah Iran, Irak, Suriah, Sudan, Libya, Yaman dan Somalia, menurut seorang pejabat Gedung Putih. Saat Trump menandatangani perintah tersebut, Pence berdiri di belakangnya dan bertepuk tangan.
Kesimpulan
Modifikasi dari hoaks serupa yang pernah menimpa mantan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, pada 2011. Baik Pence dan Gillard tidak pernah melontarkan pernyataan seperti narasi yang beredar tersebut.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/970/fakta-atau-hoaks-benarkah-mike-pence-minta-muslim-yang-tuntut-hukum-syariah-tinggalkan-amerika
- https://inet.detik.com/cyberlife/d-3404870/pidato-wapres-as-hoax-jangan-disebarkan
- https://www.snopes.com/fact-check/like-it-or-leave-it/
- https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-gillard/fact-check-anti-immigration-remarks-wrongly-attributed-to-former-australian-pm-julia-gillard-idUSKBN24830D
- https://www.snopes.com/fact-check/mike-pence-muslim-ban-offensive/
[SALAH] Video Komplek Perumahan Angker dan Rawan Rampok
Sumber: twitter.comTanggal publish: 02/09/2020
Berita
“gue yakin lo semua bisa liat jelas ada siapa di rumah orange yang terakhir please jelas banget gue sampe cuma bisa ketawa.”
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter 紅良律桜 (@furisouru) mengunggah narasi dan video dari akun TikTok milik @nabilaziruss yang menyatakan Komplek Bumi Landasan Ulin, Banjarbaru Barat, terlihat angker dan seperti tak berpenghuni pada 28 Agustus 2020. Unggahan tersebut telah dilihat sebanyak 1.2 juta kali serta mendapatkan 34.9 ribu likes, 11 ribu retweets dan 2.1 ribu komentar.
Berdasarkan hasil penelusuran, dikutip dari portal berita Kalsel Pos, Bhabinkamtibmas Polsek Banjarbaru Barat, Bripka Setiya Pramono membantah unggahan akun tersebut. Menurutnya, komplek tersebut selalu dilakukan Patroli Rutin dengan para warga yang bertempat tinggal disana.
“Disini ada sekitar 15 sampai 20 Kepala Keluarga, aktivitas warga pun juga masih ada. Jadi video yang menyatakan tidak berpenghuni itu tidak benar,” ucap Bripka Setiya Pramono.
Ia juga menegaskan, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan video yang belum tentu kebenarannya.
“Saya berharap agar masyarakat luas tidak mudah terpengaruh, sebab video itu tidak benar. Karena di kawasan sini ada aktivitas warga nya, dan saya pribadi melakukan Patroli Rutin, serta selalu bersilaturahmi dengan warga,” tambahnnya.
Sebagai tambahan, Polres Banjarbaru melalui akun Instagram resminya (@polres_banjarbaru) mengkonfirmasi bahwa video TikTok tersebut tidak benar adanya. Dalam narasi unggahan konfirmasi tersebut, pernyataan berupa tulisan yang dimuat dalam video TikTok itu hanya berdasarkan asumsi diri sendiri yang berlebihan. Dikonfirmasi juga bahwa benar ada beberapa rumah yang tidak berpenghuni, namun yang dimasukkan oleh si pembuat video hanya rumah-rumah yang memang tidak berpenghuni, padahal masih terdapat banyak rumah yang berpenghuni di sekitar komplek dan komplek tersebut juga tidak rawan rampok atau banyak hantu.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter 紅良律桜 (@furisouru) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan. Hal ini dikarenakan komplek perumahan yang diduga tidak berpenghuni dan angker tidak benar adanya.
Berdasarkan hasil penelusuran, dikutip dari portal berita Kalsel Pos, Bhabinkamtibmas Polsek Banjarbaru Barat, Bripka Setiya Pramono membantah unggahan akun tersebut. Menurutnya, komplek tersebut selalu dilakukan Patroli Rutin dengan para warga yang bertempat tinggal disana.
“Disini ada sekitar 15 sampai 20 Kepala Keluarga, aktivitas warga pun juga masih ada. Jadi video yang menyatakan tidak berpenghuni itu tidak benar,” ucap Bripka Setiya Pramono.
Ia juga menegaskan, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan video yang belum tentu kebenarannya.
“Saya berharap agar masyarakat luas tidak mudah terpengaruh, sebab video itu tidak benar. Karena di kawasan sini ada aktivitas warga nya, dan saya pribadi melakukan Patroli Rutin, serta selalu bersilaturahmi dengan warga,” tambahnnya.
Sebagai tambahan, Polres Banjarbaru melalui akun Instagram resminya (@polres_banjarbaru) mengkonfirmasi bahwa video TikTok tersebut tidak benar adanya. Dalam narasi unggahan konfirmasi tersebut, pernyataan berupa tulisan yang dimuat dalam video TikTok itu hanya berdasarkan asumsi diri sendiri yang berlebihan. Dikonfirmasi juga bahwa benar ada beberapa rumah yang tidak berpenghuni, namun yang dimasukkan oleh si pembuat video hanya rumah-rumah yang memang tidak berpenghuni, padahal masih terdapat banyak rumah yang berpenghuni di sekitar komplek dan komplek tersebut juga tidak rawan rampok atau banyak hantu.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter 紅良律桜 (@furisouru) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan. Hal ini dikarenakan komplek perumahan yang diduga tidak berpenghuni dan angker tidak benar adanya.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia).
Narasi yang salah. Faktanya, Komplek Perumahan Bumi Landasan Ulin Banjarbaru masih berpenghuni dan tidak angker maupun rawan rampok seperti yang dikonfirmasi oleh Bhabinkamtibmas Polsek Banjarbaru Barat, Bripka Setiya Pramono.
Narasi yang salah. Faktanya, Komplek Perumahan Bumi Landasan Ulin Banjarbaru masih berpenghuni dan tidak angker maupun rawan rampok seperti yang dikonfirmasi oleh Bhabinkamtibmas Polsek Banjarbaru Barat, Bripka Setiya Pramono.
Rujukan
[SALAH] “nama negara kita *”I N D O N E S I A”* diberi nama sesuai dgn.Akronim Para *”WALI SONGO “*?”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 02/09/2020
Berita
Akun Fahri Petruxs Jamers (fb.com/tyopetruxs.selaluterseyum) mengunggah sebuah gambar dengan narasi yang berisi klaim bahwa nama Indonesia berasal dari akronim inisial para Wali Songo.
1. *I* *Ibrahim Malik*
_*(Sunan Gresik)*_
2. *N* *Nawai Macdhum*
_*(Sunan Bonang)*_
3. *D* *Dorojatun R Khosim*
_*(Sunan Drajat)*_
4. *O* *Oesman R Djafar Sodiq*
_*(Sunan Kudus)*_
5. *N* *Ngampel R Rahmat*
_*(Sunan Ampel)*_
6. *E* *Eka Syarif Hidayatullah*
_*(Sunan Gunung Jati)*_
7. *S* *Syaid Umar*
_*(Sunan Muria)*_
8. *I* *Isyhaq Ainul Yaqin*
_*(Sunan Giri)*_
9. *A* *Aburahman R Syahid*
_*(Sunan Kalijaga)*_
Jumlah huruf *INDONESIA = 9*
sesuai dgn. jumlah Wali/Alim Ulama dikala itu =
*WaliSongo*= *9 Wali*
1. *I* *Ibrahim Malik*
_*(Sunan Gresik)*_
2. *N* *Nawai Macdhum*
_*(Sunan Bonang)*_
3. *D* *Dorojatun R Khosim*
_*(Sunan Drajat)*_
4. *O* *Oesman R Djafar Sodiq*
_*(Sunan Kudus)*_
5. *N* *Ngampel R Rahmat*
_*(Sunan Ampel)*_
6. *E* *Eka Syarif Hidayatullah*
_*(Sunan Gunung Jati)*_
7. *S* *Syaid Umar*
_*(Sunan Muria)*_
8. *I* *Isyhaq Ainul Yaqin*
_*(Sunan Giri)*_
9. *A* *Aburahman R Syahid*
_*(Sunan Kalijaga)*_
Jumlah huruf *INDONESIA = 9*
sesuai dgn. jumlah Wali/Alim Ulama dikala itu =
*WaliSongo*= *9 Wali*
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa nama Indonesia berasal dari akronim inisial para Wali Songo adalah klaim yang keliru.
Faktanya, menurut para sejarawan, istilah Indonesia baru muncul pada abad ke-19. Nama yang berasal dari kata “Indus” (Hindia) dan “nesia” (kepulauan). Adapun para Wali Songo hidup pada abad ke-15 hingga ke-16, di mana nama Indonesia belum dikenal.
Dilansir dari Tempo.co, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait klaim tersebut. Selain itu, Tempo menghubungi sejarawan asal Inggris yang fokus pada sejarah modern Indonesia, Peter Carey, serta sejarawan Indonesia, Didi Kwartanada.
Dilansir dari Okezone.com, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), Agus Sunyoto, nama Indonesia tidak ada kaitannya sama sekali dengan Wali Songo. Menurut dia, nama Indonesia sejatinya berasal dari bahasa Yunani Kuno, “Indo” dan “Nesos”, yang berarti “Hindia” dan “Kepulauan”.
“Saya rasa itu hanya akal-akalan sejumlah oknum saja. Sudah jelas kok nama negara kita diambil dari bahasa Yunani Kuno. Jadi akronim-akronim itu tidak ada benarnya,” tutur Agus pada 17 Agustus 2018.
Saat dihubungi, Peter Carey menjelaskan bahwa istilah “Indonesia” ditemukan pada pertengahan abad ke-19, sekitar 1850-an, oleh pengacara Inggris yang berbasis di Pinang, James Richardson Logan (1819-1869), dan koleganya yang ahli geografi, George Windsor Earl (1813-1865).
Mereka kemudian mempopulerkan nama tersebut dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia yang diterbitkan di Singapura pada 1847-1863. Istilah itu juga dipopulerkan di Asia sebagai istilah akademik oleh etnografer Jerman, Adolf Philipp Wilhelm Bastian (1826-1905).
Dikutip dari buku Earl, Logan, and “Indonesia” karya Russell Jones, kaum nasionalis Indonesia menolak nama resmi “Nederlandsch-Indie” (Hindia Belanda). “Dapat dimengerti jika mereka menolak nama ‘Hindia’ (Indie atau Indische). ‘Indonesia’ menjadi sebuah pilihan yang wajar, tidak ambigu dan tidak memiliki asosiasi kolonialis,” ujar Jones.
Pada saat yang sama, terdapat gerakan menuju adopsi kata “Indonesia” untuk menggambarkan penduduk non-Belanda di Hindia Belanda. Mereka tidak ingin disebut “Belanda”. Mereka pun tidak ingin dikenal dengan nama etnis mereka, seperti Jawa, Sunda, Minangkabau, dan sebagainya. Kata dalam bahasa Belanda, “inlander” (pribumi), pun dihindari karena memiliki arti yang merendahkan.
Kemudian, muncul gagasan dari Earl tentang nama “Indus-nesia”. “Indus” berarti Hindia, dan “nesia” berarti nusa yang berasal dari kata “nesos”, bahasa Yunani, yang berarti kepulauan. Menurut Jones, baik Earl maupun Logan menjadi yang terdepan dalam mempopulerkan penggunaan istilah “Indonesia” ketimbang “Hindia Belanda” atau “Nusantara”.
Menurut Peter, nama Indonesia pertama kali digunakan secara politik pada 1920-an. Pada 23 Mei 1920, Indische Sociaal Democratische Vereeeniging (ISDV) atau Perhimpunan Demokratis Sosial Hindia mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis Indonesia Hindia, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia pada akhir 1920.
Pada 1922, organisasi pelajar Indonesia di Belanda yang berdiri pada 1908, Indische Vereeniging, juga berganti nama menjadi Perhimpoenan Indonesia. Menurut Jones, Mohammad Hatta pernah menulis artikel pada 1929 yang menyebut, “Dengan semangat yang tak kenal lelah, sejak 1918, kami telah menjalankan propaganda untuk ‘Indonesia’ sebagai nama tanah air kami.”
Peter menuturkan, sebelum populernya nama Indonesia, perairan di sekitar kepulauan dan Pulau Jawa dikenal oleh para navigator Cina, India, dan Arab sebagai “Nan-hai”, atau pulau-pulau di laut selatan; Dwipantara, atau pulau luar; dan Jazair al-Jawi, atau Pulau Jawa. Sebelum abad ke-15, dikenal istilah Suvarnabhumi, atau pulau emas dalam bahasa Sansekerta, untuk menggambarkan Semenanjung Melayu dan Sumatera.
Penjelasan serupa dilontarkan oleh Didi Kwartanda. Menurut Didi, nama Indonesia baru digagas baru pada abad ke-19. “Kemudian, founding father kita membaca buku dan jurnal yang memuat tulisan-tulisan Earl dan Bastian. Jadi, di masa Wali Songo, belum ada nama Indonesia,” ujar Didi.
Seperti diketahui, menurut berbagai sumber, Wali Songo hidup pada abad ke-15 hingga ke-16. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) wafat pada 1419. Sunan Ampel (Raden Rahmat) wafat pada 1481. Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim) wafat pada 1525. Sunan Drajat (Raden Qasim) wafat sekitar 1522.
Kemudian, Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan) wafat pada 1550-an. Sunan Giri (Raden Paku) wafat pada abad ke-16. Sunan Kalijaga (Raden Said) wafat pada abad ke-15. Sunan Muria (Raden Umar Said) wafat pada 1551. Adapun Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) wafat pada 1570-an.
Faktanya, menurut para sejarawan, istilah Indonesia baru muncul pada abad ke-19. Nama yang berasal dari kata “Indus” (Hindia) dan “nesia” (kepulauan). Adapun para Wali Songo hidup pada abad ke-15 hingga ke-16, di mana nama Indonesia belum dikenal.
Dilansir dari Tempo.co, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait klaim tersebut. Selain itu, Tempo menghubungi sejarawan asal Inggris yang fokus pada sejarah modern Indonesia, Peter Carey, serta sejarawan Indonesia, Didi Kwartanada.
Dilansir dari Okezone.com, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), Agus Sunyoto, nama Indonesia tidak ada kaitannya sama sekali dengan Wali Songo. Menurut dia, nama Indonesia sejatinya berasal dari bahasa Yunani Kuno, “Indo” dan “Nesos”, yang berarti “Hindia” dan “Kepulauan”.
“Saya rasa itu hanya akal-akalan sejumlah oknum saja. Sudah jelas kok nama negara kita diambil dari bahasa Yunani Kuno. Jadi akronim-akronim itu tidak ada benarnya,” tutur Agus pada 17 Agustus 2018.
Saat dihubungi, Peter Carey menjelaskan bahwa istilah “Indonesia” ditemukan pada pertengahan abad ke-19, sekitar 1850-an, oleh pengacara Inggris yang berbasis di Pinang, James Richardson Logan (1819-1869), dan koleganya yang ahli geografi, George Windsor Earl (1813-1865).
Mereka kemudian mempopulerkan nama tersebut dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia yang diterbitkan di Singapura pada 1847-1863. Istilah itu juga dipopulerkan di Asia sebagai istilah akademik oleh etnografer Jerman, Adolf Philipp Wilhelm Bastian (1826-1905).
Dikutip dari buku Earl, Logan, and “Indonesia” karya Russell Jones, kaum nasionalis Indonesia menolak nama resmi “Nederlandsch-Indie” (Hindia Belanda). “Dapat dimengerti jika mereka menolak nama ‘Hindia’ (Indie atau Indische). ‘Indonesia’ menjadi sebuah pilihan yang wajar, tidak ambigu dan tidak memiliki asosiasi kolonialis,” ujar Jones.
Pada saat yang sama, terdapat gerakan menuju adopsi kata “Indonesia” untuk menggambarkan penduduk non-Belanda di Hindia Belanda. Mereka tidak ingin disebut “Belanda”. Mereka pun tidak ingin dikenal dengan nama etnis mereka, seperti Jawa, Sunda, Minangkabau, dan sebagainya. Kata dalam bahasa Belanda, “inlander” (pribumi), pun dihindari karena memiliki arti yang merendahkan.
Kemudian, muncul gagasan dari Earl tentang nama “Indus-nesia”. “Indus” berarti Hindia, dan “nesia” berarti nusa yang berasal dari kata “nesos”, bahasa Yunani, yang berarti kepulauan. Menurut Jones, baik Earl maupun Logan menjadi yang terdepan dalam mempopulerkan penggunaan istilah “Indonesia” ketimbang “Hindia Belanda” atau “Nusantara”.
Menurut Peter, nama Indonesia pertama kali digunakan secara politik pada 1920-an. Pada 23 Mei 1920, Indische Sociaal Democratische Vereeeniging (ISDV) atau Perhimpunan Demokratis Sosial Hindia mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis Indonesia Hindia, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia pada akhir 1920.
Pada 1922, organisasi pelajar Indonesia di Belanda yang berdiri pada 1908, Indische Vereeniging, juga berganti nama menjadi Perhimpoenan Indonesia. Menurut Jones, Mohammad Hatta pernah menulis artikel pada 1929 yang menyebut, “Dengan semangat yang tak kenal lelah, sejak 1918, kami telah menjalankan propaganda untuk ‘Indonesia’ sebagai nama tanah air kami.”
Peter menuturkan, sebelum populernya nama Indonesia, perairan di sekitar kepulauan dan Pulau Jawa dikenal oleh para navigator Cina, India, dan Arab sebagai “Nan-hai”, atau pulau-pulau di laut selatan; Dwipantara, atau pulau luar; dan Jazair al-Jawi, atau Pulau Jawa. Sebelum abad ke-15, dikenal istilah Suvarnabhumi, atau pulau emas dalam bahasa Sansekerta, untuk menggambarkan Semenanjung Melayu dan Sumatera.
Penjelasan serupa dilontarkan oleh Didi Kwartanda. Menurut Didi, nama Indonesia baru digagas baru pada abad ke-19. “Kemudian, founding father kita membaca buku dan jurnal yang memuat tulisan-tulisan Earl dan Bastian. Jadi, di masa Wali Songo, belum ada nama Indonesia,” ujar Didi.
Seperti diketahui, menurut berbagai sumber, Wali Songo hidup pada abad ke-15 hingga ke-16. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) wafat pada 1419. Sunan Ampel (Raden Rahmat) wafat pada 1481. Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim) wafat pada 1525. Sunan Drajat (Raden Qasim) wafat sekitar 1522.
Kemudian, Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan) wafat pada 1550-an. Sunan Giri (Raden Paku) wafat pada abad ke-16. Sunan Kalijaga (Raden Said) wafat pada abad ke-15. Sunan Muria (Raden Umar Said) wafat pada 1551. Adapun Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) wafat pada 1570-an.
Kesimpulan
Menurut para sejarawan, istilah Indonesia baru muncul pada abad ke-19. Nama yang berasal dari kata “Indus” (Hindia) dan “nesia” (kepulauan). Adapun para Wali Songo hidup pada abad ke-15 hingga ke-16, di mana nama Indonesia belum dikenal.
Rujukan
Halaman: 7412/8703



