• [SALAH] Foto Yosi Mokalu Mengenakan Kaos Bertuliskan “BADAN ARAHAN BUZZERP ISTANA”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 04/09/2020

    Berita

    Melalui media sosial Facebook, akun @TariNissaX membagikan foto yang memperlihatkan sosok Yosi Mokalu mengenakan kaos bertuliskan “BADAN ARAHAN BUZZERP ISTANA”. Unggahan tersebut ditanggapi oleh 156 dan dibagikan sebanyak 18 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Coba melakukan penelusuran dengan mesin pencari gambar milik google, diketahui bahwa foto serupa pernah diunggah dalam laman kapanlagi.com. Dalam foto tersebut, Yosi terlihat mengenakan kaos berwarna putih, namun BUKAN bertuliskan “BADAN ARAHAN BUZZERP ISTANA” melainkan “GOLDEN STATE WARRIORS”.

    Jika merujuk pada fakta yang ada, unggahan @TariNissaX masuk ke dalam kategori manipulated content atau konten yang dimanipulasi. Konten jenis ini biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “getah daun kemangi obat gatal-gatal”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 04/09/2020

    Berita

    Akun Irma Chairun Nisa (fb.com/100035922171665) mengunggah postingan dengan narasi sebagai berikut:

    “Assalamualaikum……..
    Pasti Ada yang pernah mengalami gatal2 seperti ini ???
    Gatalnya minta ampuuuun
    kadang ngegaruknya sampai berdarah
    Alhamdulillah ketemu sama obatnya
    Harganya sangat murah dan gampang dapatnya
    Daun Kemangi/serawung..
    Cukup gosokkan daun kemangi ditempat yang gatal usahakan gosok sampai air daun kemanginya keluar ya karna yang jadi obatnya itu getah daunnya
    Indahnya berbagi..”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Liputan6, klaim bahwa getah daun kemangi bisa menajdi obat gatal-gatal adalah klaim yang leiru.

    Faktanya, klaim tersebut belum terbukti. Dokter kulit Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, dr Melyawati Hermawan, Sp. KK menyebut belum ada riset yang membuktikan daun kemangi dapat mengobati gatal pada kulit.

    “Belum ada riset daun kemangi (mengobati gatal),” kata dokter Melyawati kepada Liputan6.com, Selasa (1/9/2020).

    Dilansir dari Liputan6.com, daun kemangi memang memiliki manfaat bagi kulit. Tapi tidak dijelaskan bisa mengobati gatal pada kulit. Daun kemangi segar juga memiliki sejumlah khasiat untuk kulit wajah dan tubuh. Hal ini terutama karena sifat antibakteri, antimikroba, dan antiinflamasi yang dimilikinya.Berikut ini kami uraikan beberapa khasiat kecantikan yang bisa didapatkan dari segenggam daun kemangi segar dari berbagai sumber.

    1. Mencegah kanker kulit
    Dilansir Spiceography, citral dan limonene yang terkandung di dalam kemangi memiliki khasiat antiinflamasi. Begitu juga dengan kandungan vitamin K tinggi yang dimilikinya. Tak hanya ampuh mengatasi peradangan pada jerawat, tetapi juga berkhasiat untuk mencegah kanker kulit.

    2. Mencegah jerawat
    Seperti dilansir Specialty Produce, kemangi mengandung beberapa jenis minyak esensial. Beberapa di antaranya adalah linalool, nerol dan citral. Ketiganya memiliki fungsi antimikroba dan antibakteri, jadi bisa melindungi kulit dari bakteri dan kuman pemicu jerawat.
    Jika ingin memanfaatkan kemangi untuk mengatasi jerawat, ambil segenggam daunnya yang masih segar. Tumbuk dengan peralatan yang higienis, kemudian terapkan pada wajah.
    Jika wajah berminyak, tambahkan sedikit air perasan lemon. Sementara bagi kulit kering perlu ditambahkan madu.

    3. Meringankan penyakit kulit
    Fungsi antimikroba dan antibakteri yang dimiliki kemangi juga efektif untuk mengobati beberapa jenis penyakit kulit, antara lain psoriasis dan panu. Cukup balurkan kemangi segar yang sudah ditumbuk halus pada kulit yang bermasalah, kemudian diamkan selama kurang lebih tiga puluh menit.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Air Rebusan Pepaya Muda Bisa Sembuhkan Kanker Kelenjar Getah Bening

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 04/09/2020

    Berita

    Melalui media sosial Facebook, akun @RimaRahmani mengunggah informasi seputar klaim air rebusan buah papaya muda dapat menyembuhkan kelenjar getah bening. Hingga saat ini unggahan @RimaRahmani telah mendapat 52 tanggapan dan dibagikan sebanyak 542 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, belakangan diketahui jika klaim tersebut tidak tepat adanya. Melansir dari liputan6.com, dokter spesialis hematologi dan onkologi Ronald Alexander Hukom menuturkan jika klaim meminum air rebusann buah papaya muda dapat menyembuhkann penyakit kanker getah bening belum terbukti.

    “Perlu bukti lebih kuat,” pungkas Ronald.

    Ronald turut menjelaskan jika kelernjar getah bening jika sudah menjadi kanker, tidak bisa disembuhkan dengan meminum air rebusan papaya.

    “Setahu saya untuk kanker tak ada buktinya. Itu tidak benar,” jelasnya.

    Penelusuran lain juga tertuju pada artikel milik tirto.id berjudul “6 Obat Alami Atasi Masalah Pembengkakan Kelenjar Getah Bening”. Mengutip dari pemberitaan tersebut, dijelaskan obat alami yang dapat dijadikan pengobatan gejala pembengkakan kelenjar getah bening menurut dokter kiropraktik, dokter obat alami bersertifikat dan ahli gizi klinis Josh Axe.

    Beberapa obat alami yang dimaksud Josh Axe terdiri dari bawang putih, madu manuka, cuka apel, vitamin c, minyak oregano dan kompres dengan es batu. Dari paparan Josh Axe, tidak ditemukan informasi adanya buah papaya ataupun air rebusan buah papaya yang bisa mengobati kelenjar getah bening.

    Jika mengacu pada referensi yang ada, tidak ditemukan adanya bukti kuat terkait dengan klaim air rebusan buah papaya muda mampu sembuhkan kelenjar getah bening. Klaim tersebut masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Drama Korea My Secret Terrius Prediksi Pandemi Covid-19 Sejak 2018?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 04/09/2020

    Berita


    Klaim bahwa serial drama Korea yang tayang di Netflix, My Secret Terrius, telah memprediksi pandemi Covid-19 sejak 2018 beredar di media sosial. Klaim ini dilengkapi dengan potongan video dari serial televisi tersebut yang memperlihatkan seorang dokter sedang menjelaskan karakteristik virus Corona.
    "Virus Corona menyerang sistem pernapasan. Yang lebih serius, virus Corona memiliki masa inkubasi 2-14 hari," demikian kata seorang dokter dalam video itu. Menurut tulisan panjang yang memuat klaim tersebut, potongan video itu berasal dari episode ke-10 serial drama My Secret Terrius.
    Tulisan ini juga mencantumkan sumber, yakni The Independent. Menurut tulisan tersebut, dokter dalam video itu juga menyebut virus Corona menyerang paru-paru dalam waktu 5 menit setelah terpapar. Belum ada obat atau vaksin yang ditemukan untuk menyembuhkan pasien.
    Di Instagram, klaim beserta video itu dibagikan salah satunya oleh akun @unexplnd, yakni pada 29 Maret 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 307 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @unexplnd.
    Apa benar serial drama Korea My Secret Terrius memprediksi pandemi Covid-19 sejak 2018?

    Hasil Cek Fakta


    Dilansir dari The Sun, My Secret Terrius merupakan serial drama Korea Selatan yang ditayangkan pada September-November 2018 di saluran MBC dan saat ini dapat ditonton di Netflix. Serial televisi ini berkisah tentang seorang wanita bernama Go Ae-rin yang kehilangan suaminya dan kemudian menemukan bahwa dia adalah bagian dari sebuah konspirasi besar.
    Namun, para ilmuwan sebenarnya telah mengetahui berbagai jenis virus Corona sejak pertengahan abad ke-20. Beberapa jenis virus Corona di antaranya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Selain itu, berbeda dengan virus Corona fiksi di My Secret Terrius yang punya tingkat kematian hingga 90 persen, Covid-19 diperkirakan memiliki tingkat kematian sekitar 1 persen.
    Organisasi cek fakta Amerika Serikat Snopes, yang telah memverifikasi klaim "serial drama Korea My Secret Terrius memprediksi pandemi Covid-19" dan menyatakannya sebagai keliru, memberikan penjelasan yang serupa. Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi virus Corona pada manusia pada 1960-an. Sejak saat itu, teridentifikasi beberapa wabah virus Corona, seperti wabah MERS pada 2012 dan wabah SARS pada 2002.
    Dalam potongan video yang lebih panjang, dokter dalam serial televisi itu menjelaskan bahwa semua penyakit ini berasal dari kelompok virus yang sama. Virus Corona dalam tayangan itu pun tidak memiliki sifat yang sama dengan virus Corona Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia pada awal 2020. Dengan kata lain, meskipun Covid-19 disebabkan oleh virus Corona, tidak semua virus Corona menyebabkan Covid-19.
    Virus Corona dalam serial televisi itu memiliki angka kematian mencapai 90 persen. Adapun Covid-19 tidak memiliki angka kematian hingga 90 persen. Tingkat kematian kasus berbeda dari satu negara dengan negara yang lain dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ketersediaan pasokan di rumah sakit. Di negara-negara seperti Italia, di mana wabah cukup parah, tingkat kematian mencapai 11 persen. Sementara di negara-negara seperti Korea Selatan, di mana wabah dapat diatasi dengan tes besar-besaran, tingkat kematian hanya sekitar 1 persen.
    Teori Konspirasi Covid-19
    Dilansir dari organisasi cek fakta AS FactCheck, setelah virus Corona Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019, memang tersebar berbagai rumor palsu tentang misteri asal-usul virus. Salah satunya adalah bahwa virus Corona Covid-19 merupakan senjata biologi yang bocor dari laboratorium di Wuhan. Namun, seluruh versi teori ini tidak memiliki pijakan bukti dan penjelasan secara sains.
    Bukti-bukti yang ada justru menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan menular ke manusia dari hewan yang belum teridentifikasi, seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada jenis virus Corona lain. SARS-CoV pada 2002-2003 misalnya, diperkirakan berasal dari kelelawar dan menyebar ke manusia melalui musang. Pada 2012, muncul pula MERS-CoV yang kemungkinan berasal dari kelelawar, dan menyebar ke manusia melalui unta.
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Maret 2020, hasil studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute, California, AS, pun telah membantah rumor bahwa virus Corona Covid-19 sengaja dibuat atau produk rekayasa laboratorium. Menurut studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, virus Corona Covid-19 adalah buah dari proses evolusi alami.
    Andersen menjelaskan, sejak awal pandemi Covid-19, para peneliti telah menguliti asal-usul SARS-CoV-2 tersebut dengan menganalisis data urutan genomnya. "Dengan membandingkan data urutan genom jenis-jenis virus Corona yang sudah diketahui, kami dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," ujarnya.
    Peneliti mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra, mengutip data terbaru dalam Journal of Medical Virology tentang virus Corona Covid-19, tiga jenis virus Corona yang bersifat mematikan terhadap manusia berasal dari jenis hewan yang sama sebagai perantara alaminya, yakni kelelawar.
    Menurut Sugiyono, walaupun memungkinkan, interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sebenarnya sangatlah jarang. "Tapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia," ujarnya pada 24 Januari 2020.
    Dalam kasus SARS pada 2002-2003, Sugiyono menjelaskan bahwa hewan perantaranya adalah musang dan rakun, selain kelelawar itu sendiri. Dalam kasus MERS pada 2012, hewan perantaranya adalah unta. Sedangkan dalam kasus saat ini, material genetik virus Corona Wuhan merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa serial drama Korea My Secret Terrius memprediksi pandemi Covid-19 sejak 2018 keliru. Virus Corona dalam tayangan itu tidak memiliki sifat yang sama dengan virus Corona penyebab Covid-19. Meskipun Covid-19 disebabkan oleh virus Corona, tidak semua virus Corona menyebabkan Covid-19. Virus Corona dalam serial televisi itu juga memiliki angka kematian 90 persen. Adapun Covid-19 tidak memiliki angka kematian hingga 90 persen. Selain itu, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan Covid-19 sengaja dibuat oleh manusia.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini