• [SALAH] Terlibat Pembuatan COVID-19 di China, FBI Menangkap Profesor Harvard

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 04/04/2020

    Berita

    Hasil Periksa Fakta Helmi Fadillah Dwi Putra (Anggota Komisariat MAFINDO IISIP)

    Setelah ditelusuri, Lieber ditangkap karena masalah visa dan membuat pernyataan palsu. Sehingga tidak ada kaitannya dengan klaim pembuatan COVID-19 di China.

    NARASI: “FBI Mengumumkan Penangkapan Profesor Harvard dan Ketua Biologi Kimia yang Tertangkap Bekerja dengan Universitas Cina di Wuhan, Cina”

    FBI menahan seorang profesor dari Universitas Bostin yang berhubungan dengan Universitas China dan laboratorium penelitian di Wuhan

    "Betul.ato tidak,tertangkapnya pembuat dan penjual virus corona"

    FBI menahan seorang profesor dari Universitas Bostin yang berhubungan dengan Universitas China dan laboratorium penelitian di Wuhan

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN:Akun Timothy Simamora memposting video berdurasi 2 menit 20 detik berisi konferesi pers FBI terkait penangkapan Profesor Kimia Biologi dari Universitas Harvard dengan dua orang warga negara China. Disebutkan pula dalam narasi bahwa orang-orang yang ditangkap tersebut bekerja untuk perguruan tinggi di Wuhan, China. Postingan Facebook tersebut sudah dibagikan 155 kali dan 105 penyuka.

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa ketiga orang yang ditangkap dengan kasus yang berbeda. Hal itu diketahui setelah melakukan penelusuran dengan mesin pencari “FBI Arrested Harvard Professor.”

    Dari hasil pencarian, ditemukan informasi resmi pada 28 Januari 2020 dari Departemen Kehakiman AS mengenai penangkapan Charles Lieber. Menurut Departemen Kehakiman, Charles Lieber dan dua warga negara Cina, Yanqing Ye dan Zaosong Zheng, didakwa dalam tiga kasus yang berbeda dan tidak terkait dengan perguruan tinggi di Wuhan.

    Dalam dakwaannya, justru Charles Lieber didakwa akibat membuat pernyataan salah dan data fiktif serta pemalsuan visa. Sedangkan warga Negara China didakwa akibat menyeludupkan 21 vial bahan penelitian biologi kedalam kaus kaki dan membuat data fiktif serta pernyataan palsu. Sehingga informasi mengenai penangkapan profesor dari Universitas Harvard dan dua warga China menyesatkan, padahal dalam kasusnya ketiganya ditangkap dengan beda kasus.

    Lieber dikaitkan dengan COVID-19 hanya karena kebetulan bekerja di sebuah universitas di Wuhan, kota di mana virus tersebut pertama kali muncul. Departemen Kehakiman Amerika telah membantah, bahwa mereka mendakwa Lieber atas tuduhan telah terlibat dalam pembuatan COVID-19. Jadi informasi yang diunggah akun Facebook Timothy Simamora merupakan sesat, dan masuk kategori Misleading Content atau konten yang menyesatkan.

    ==

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Pembunuhan Massal Berkedok Corona

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 04/04/2020

    Berita

    “Hindari Pembunuhan masal
    berkedok Virus Corona. #Viralkan!! #BebasRepost, selama tulisan dibawah dicantumkan.

    Intelijen dan TNI wajib baca!! #TeoriKonspirasi:

    1.Dokter tidak dilengkapi standar keamanan yang memadai,sangat rentan tertular oleh virus corona (#VirusCina) beberapa sudah meninggal.

    2.Timbul rasa ketakutan dikalangan dokter, dan bisa saja terjadi kematian atau mogok kerja.

    3.Dokter Indonesia dianggap tidak mampu lagi menangani pasien virus corona.

    4.Pemerintah terpaksa menginport Dokter dari Cina. Pengendalian wabah virus corona dikomandoi oleh Cina Komunis.

    5.Akan dilakukan #TesMasalCorona oleh dokter Cina, merekalah yang akan mempastikan positif atau negatif Virus Corona, dia bisa nemfonis positif atau nrgatif, Walau keadaan negatif, Ruang Isolasi dikuasainya, org lain dn keluarga tdk bs Mendekat. > nasib TOKOH2 PENTING Indonesia tergantung CINA, hidup atau mati. Sdh di alami oleh SOEKARNO.



    6.Vaksin Anti virus, negatif apa positif,

    7.Target CINA KOMUNIS :

    A.Tokoh penting negara.
    B.Tokoh Agama.
    C. Petinggi TNI.
    D.Aktivis Anti Komunis.
    E.Dosen, Ilmuwan, pemikir dsb.

    Solusi:

    1.Penunggulangan wabah virus corona
    Harus diawasi oleh #TniMerahPutih!!

    2.Tolak Komunis Cina dengan alasan apapun, bentuk apapun, Cina Komunis masuk Indonesia.

    3.Pastikan Vaksin tidak berbahaya.

    4.Mencegah lebih baik daripada mengobati. Patuhi cara2 pencegahan yang sudah ditentukan pemerintah.

    5.TNI,Tokoh Negara, Tokoh Agama, Dosen, Tokoh penting dan aktivis, sebaiknya dirumah sakit khusus TNI. Karena cuma tinggal satu2nya cuma INSTITUSI TNI yang masih bisa dipercaya.

    6.Jika petinggi TNI sudah banyak yang meninggal, maka TNI akan lemah, SESAMA TNI diadu domba, #TniPecah, Omnibuslaw disahkan.

    7.Setelah TNI PECAH, rakyat Indonesia Perang Saudara.Indonesia jadi Negara Komunis Cina.

    8.Dengan terang2an menggembangkan Virus Corana, Cina sudah melanggar HAK Azazi manusia se Dunia, Ajukan Cina ke Mahkamah Internasional !!.
    Bentuk #KoalisiLintasNegara dan #KoalisiLintasAgama untuk menggugat dan EMBARGO Cina.

    #UsirCinaKomunis dari NKRI.

    sekian, trims.
    Komisi Penjernihan dan Pemurnian Pancasila. #UyungPancasilaKppp.

    @mabestni @mabes_ad @kodamsiliwangi @puspentni”

    Alat Test Corona Asal China Berbahaya

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah video melalui akun instagram @uyungpancasila yang diberi judul pembunuhan massal berkedok corona pada 04 Februari 2020, video tersebut viral dan sudah disaksikan oleh lebih dari 1.500 pengguna instagram. Isi dari video tersebut adalah narasi-narasi tidak benar yang dituliskan oleh pemilik akun.

    Namun setelah ditelusuri video tersebut tidak benar, serta pelaku pengunggah video juga telah diamankan oleh Satreskim Polres Bogor pada Minggu 22 Maret 2020 di daerah Pamijahan, Kabupaten Bogor. Melansir dari iNews.id pelaku dikenai Pasal 14 dan atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 01 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman di atas tiga tahun penjara.

    “Barangsiapa menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat dan atau barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat,” tutur Benny, dikutip dari iNews.id.

    Klaim yang menyebutkan tes massal akan dilakukan dokter yang diimpor dari China tidak benar. Faktanya, Pemerintah Indonesia melakukan tes massal atau rapid test menggunakan alat tes dari China, bukan dokter dari China. Alat tersebut dipesan melalui PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI atas instruksi dari Kementerian BUMN. Selain itu Presiden Joko Widodo meminta tim satuan gugus tugas COVID-19 untuk melakukan tes massal atau rapid test kepada masyarakat.

    Mengutip dari suara.com Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi, Arya Sinulingga mengatakan, alat tersebut seperti alat tes kehamilan. Sehingga, untuk memastikan positif atau negatif virus corona bisa ditentukan secara cepat.

    “RNI lagi kerja sama dari China itu masuk produksi rapid test covid-19. Ini kerja sama dengan pabrik China. Kami sedang pesan sekitar 500 ribu. Jadi, hasilnya bisa keluar hanya berapa menit 15 menit maksimal 3 jam,” ujar Arya kepada wartawan lewat teleconfernce di Jakarta, Rabu (17/3/2020).

    Arya juga menyebutkan jika RNI saat ini sedang menunggu izin dari Kementerian Kesehatan untuk mengedarkan alat tersebut. Nantinya, alat tersebut bakal didistribusikan ke Rumah Sakit.

    “Kalau dikasih izin oleh Kemenkes kami bisa kirim pakai Garuda dari Hangzhou jadi kebutuhan kita ini bisa dicukupi dengan cepat,” jelas dia, dikutip dari suara.com

    Berdasarkan penjelasan tersebut, video yang diunggah oleh @uyungpancasila tidak benar, selain itu Indonesia juga tidak pernah mengimpor Dokter dari China untuk menangani pasien corona dan melakukan tes massal. Berdasarkan semua penjelasan tersebut informasi ini masuk ke dalam Konten Yang Menyesatkan atau Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Indri Pramesti Widyaningrum (Anggota Komisariat MAFINDO Gunadarma)

    Video berjudul “Pembunuhan Massal Berkedok Corona” yang beredar di Instagram berisikan informasi tidak benar. Indonesia tidak pernah mengimpor dokter dari China, selain itu pelaku pengunggah video telah diamankan Satreskim Polres Bogor pada Minggu (22/3/2020).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Uang yang Dibuang oleh Warga Italia di Tengah Pandemi Corona?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/04/2020

    Berita


    Dua foto yang memperlihatkan ribuan lembar uang kertas yang berserakan di jalanan beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertai foto-foto itu, uang-uang tersebut merupakan uang yang dibuang oleh warga Italia di tengah pandemi virus Corona Covid-19.
    Salah satu akun Facebook yang membagikan foto-foto itu adalah akun Anda Arl-khafie, yakni pada 1 April 2020. Akun ini menulis narasi, "Ini baru kiamat kecil. Harta yg selama ini mereka kumpulkan tiada artinya bagi mereka. Ini di Itali dimana masyarakat disana merasa kecewa karena hartanya (uang) tidak bisa menyelamatkan orang2 yg di cintainya. Maka dari itu mereka membuang uang2nya."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Anda Arl-khafie yang memuat narasi keliru mengenai foto yang diunggahnya.
    Apa benar kedua foto di atas merupakan foto uang yang dibuang oleh warga Italia ke jalanan di tengah pandemi virus Corona Covid-19?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto kedua yang diunggah akun Anda Arl-khafie pernah beredar sebelumnya di Facebook pada 22 Maret 2019. Saat itu, virus Corona Covid-19 belum muncul. Virus tersebut pertama kali dilaporkan pada Desember 2019. Foto itu dibagikan oleh akun Steve Hullet. Menurut akun ini, foto tersebut diambil di jalanan di Venezuela.
    Berbekal petunjuk itu, Tempo pun menelusuri pemberitaan dari media kredibel dengan memasukkan kata kunci "money in the street of Venezuela". Hasilnya, ditemukan artikel di situs cek fakta Snopes yang berisi verifikasi atas foto tersebut.
    Menurut temuan Snopes, foto tersebut diambil di Venezuela, kemungkinan pada 11 Maret 2019 dan menunjukkan hasil penjarahan di sebuah bank di Kota Merida. Media lokal di kota itu, Maduradas.com, pernah memuat beberapa foto lain dari insiden tersebut dan melaporkan bahwa para pelaku menebar uang-uang lama di jalanan dan membakarnya.
    "Fakta ini dikonfirmasi oleh Wakil Majelis Nasional Venezuela William Davila serta koresponden El Nacional (salah satu surat kabar Venezuela) di Merida, Leonardo Leon. Melalui Twitter, mereka melaporkan bahwa warga menyebarkan tumpukan uang lama di jalanan, yang kemudian dibakar," demikian laporan yang ditulis oleh Snopes.
    Adapun foto pertama yang diunggah akun Anda Arl-khafie juga merupakan foto dari peristiwa yang sama. Foto tersebut pernah dimuat oleh akun Twitter CNW dan Descifrando la Guerra pada 12 Maret 2019. Keduanya sama-sama menulis keterangan bahwa sebuah bank di Kota Merida, Venezuela, dijarah. Para pelaku menyebarkan uang itu di jalanan dan membakarnya.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter CNW.
    Dilansir dari Snopes, ekonomi Venezuela memang mulai runtuh sejak 2013 lalu. Terdapat berbagai masalah yang menyebabkan negara tersebut mengalami krisis ekonomi hingga kini, seperti jatuhnya harga minyak, korupsi oleh pejabat pemerintah, kerusuhan politik, serta kebijakan yang sosialis.
    Seperti yang dilaporkan oleh Washington Post pada Januari 2018, kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan itu pun melahirkan inflasi besar-besaran yang membuat mata uang Venezuela mengalami devaluasi. Devaluasi merupakan turunnya nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang luar negeri.
    Meskipun hiperinflasi membuat mata uang Venezuela tidak berharga, uang yang terlihat dalam kedua foto di atas merupakan mata uang lama Venezuela, Bolivar Fuerte. Pada Agustus 2018, mata uang ini digantikan oleh mata uang baru, Bolivar Soberano, sehingga mata uang Bolivar Fuerte dengan nominal lebih kecil dari 1.000 tidak lagi menjadi alat pembayaran yang sah.
    Pada 5 Desember 2018, seluruh mata uang Bolivar Fuerte baru ditarik sepenuhnya. Oleh karena itu, uang yang dibuang dalam foto-foto di atas, yang diambil pada Maret 2019, tidak berharga bukan karena tidak memiliki nilai, melainkan karena telah sepenuhnya diganti oleh mata uang baru.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi yang menyertai kedua foto di atas, bahwa foto-foto tersebut adalah foto uang yang dibuang oleh warga Italia ke jalanan di tengah pandemi virus Corona Covid-19, keliru. Foto itu diambil di Venezuela pada Maret 2019 di mana terdapat sebuah bank yang dijarah, kemudian pelaku menyebarkan uang-uang lama Venezuela, Bolivar Fuerte, di jalanan dan membakarnya.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesan Berantai tentang Penjelasan Ilmiah Corona Ini dari Ahli Virus Indro Cahyono?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/04/2020

    Berita


    Berbagai pesan berantai yang berisi penjelasan soal virus Corona Covid-19 hingga cara mengatasinya terus beredar di tengah pandemi Corona. Salah satu pesan berantai yang dalam beberapa hari terakhir ini ramai dibagikan di grup-grup percakapan WhatsApp adalah pesan yang berjudul "Penjelasan Ilmiah terkait Covid-19".
    Isi pesan tersebut diklaim berasal dari seorang ahli virus, Mohammad Indro Cahyono. Pesan berantai ini berisi sembilan poin mengenai virus Corona, yakni:
    Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp yang mengatasnamakan ahli virus Mohammad Indro Cahyono.
    Apa benar pesan berantai di atas berasal dari ahli virus Indro Cahyono?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penjelasan dari ahli virus Indro Cahyono di akun Facebook -nya pada 31 Maret 2020, pesan berantai di atas hanya mencatut namanya dan bukan berasal dari dirinya. "Pesan ini seolah-olah memberikan pesan positif padahal isinya sangat menyesatkan," kata dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada tersebut.
    Indro pun menulis perbaikan terhadap pesan berantai itu. Berikut ini perbandingan antara pesan berantai di atas dengan perbaikan dari Indro:
    Pesan berantai poin 1: Virus (termasuk Covid-19) adalah benda mati yang dapat hidup di media hidup. Namun, ada catatannya. Kalau misalnya ada orang yang sudah terinfeksi mengeluarkan droplet (cairan flu atau ludah), lalu kena di baju, kain, atau meja, maka dia tetap hidup selama droplet itu belum mengering. Kalau baju dicuci atau setidak-tidaknya mengering sendiri karena pengaruh lingkungan, misalnya karena panas atau hembusan angin, maka virusnya akan mati. Begitu pun di meja, kursi, lantai, karpet, dan sejenisnya. Kalau sudah mengering, ya sudah virusnya akan mati.
    Revisi dari Indro: Virus (termasuk Covid-19) hanya bisa bertahan hidup di media yang gelap, basah, dan dingin. Dia tidak bisa bertahan hidup lama tanpa perantara media tersebut. Jika misalnya ada orang yang sudah terinfeksi mengeluarkan droplet (cairan lendir atau ludah), lalu kena di baju, kain, atau meja, maka dia tetap hidup selama droplet itu belum mengering. Jika baju dicuci atau setidak-tidaknya mengering sendiri karena pengaruh lingkungan, misalnya karena panas atau disinfektan, maka virusnya akan mati. Begitu pun di meja, kursi, lantai, karpet, dan sejenisnya. Jika sudah mengering, ya sudah virusnya akan mati.
    ---
    Pesan berantai poin 2: Virus ini tidak bisa hidup di udara. Dia hanya jadi butir-butir kristal saja. Semua jenis virus, mau virus flu, TB, paru, dan lain-lain. Bagaimana dengan berjabat tangan? Sama seperti penjelasan nomor satu. Walau tangan ini termasuk bagian hidup, tapi selama dropletnya kering, dibersihkan, maka virus pun akan mati. Karena virus hanya bisa masuk lewat tiga jalur yakni mata, hidung, dan mulut. Maka, jika selesai berjabat tangan, dianjurkan membasuhnya dengan Antis, sabun, air panas, asing, atau cairan cuka/asam.
    Revisi dari Indro: Virus ini tidak bisa hidup di udara. Dia hanya bisa hidup di droplet dan kemudian jatuh ke bawah. Semua jenis virus, mau virus flu, atau virus lain, sifatnya sama. Bagaimana dengan berjabat tangan? Sama seperti penjelasan nomor satu. Walau tangan ini termasuk bagian hidup, tapi selama dropletnya kering, dibersihkan dengan sabun atau hand sanitizer, maka virus pun akan hacur. Karena virus hanya bisa masuk lewat dua jalur, yakni hidung, dan mulut. Maka, jika selesai berjabat tangan, dianjurkan membasuhnya dengan sabun atau hand sanitizer.
    ---
    Pesan berantai poin 3: Virus tidak bisa hidup di air panas, air asin, cuka, atau cairan asam. Maka, jika sudah terinfeksi, segera konsumsi vitamin E (brokoli, kelor) dan vitamin C (jeruk, mangga, dan lain-lain).
    Revisi dari Indro: Virus bisa dinetralkan oleh antibody dari dalam tubuh dan antibody bisa dinaikan produksinya dengan konsumsi vitamin E dan C. Budayakan untuk mengkonsumsi vitamin E (brokoli, kelor) dan vitamin C (jeruk, mangga, dan lain-lain) selama masa wabah Covid-19.
    ---
    Pesan berantai poin 4: Yang terinfeksi atau dinyatakan positif berpeluang sembuh total bagi mereka yang ketahanan tubuhnya kuat, tidak memiliki riwayat penyakit bawaan seperti paru, TB, hippertensi, asma, kanker, dan tumor.
    Revisi dari Indro: Yang terinfeksi atau dinyatakan positif berpeluang sembuh. Jika memiliki riwayat penyakit bawaan seperti paru, TB, hippertensi, asma, kanker, dan tumor, sebaiknya berkonsultasi ke dokter.
    ---
    Pesan berantai poin 5: Bagi anak-anak muda atau yang ketahanan tubuhnya kuat yang sudah dinyatakan positif, cukup treatment (perlakuan) mandiri di rumah. Karena usia produktif, antibodinya berproduksi 2-3 kali lipat dibandingkan dengan manula. Antibodi pada hari ke 4-5 akan keluar untuk menyerang virus. Untuk menekan rasa stres, bagi yang sudah positif, cukup mengonsumsi vitamin dan antibiotik. Jangan ke RS yang sudah ditentukan karena itu diperuntukan bagi mereka yang produksi antibodinya rendah.
    Revisi dari Indro: Bagi manusia yang ketahanan tubuhnya normal dan kemudian dinyatakan positif, dapat melakukan treatment (perlakuan) mandiri di rumah dengan cukup beristirahat, konsumsi vitamin E dan C dan madu, karena dengan asupan vitamin yang bagus, maka produksi antibodi bisa meningkat 2-3 kali lipat dari standard. Antibodi pada hari ke-7 akan diprodukai tubuh untuk menetralkan virus dan mencapai puncaknya pada hari 14. Jangan panik dan stress karena stress akan menekan siatem kekebalan kita. RS sebaiknya dikhususkan untuk kelompok risiko tinggi (lansia, pasien dengan komplikasi penyakit dan gangguan pernafasan kronis) sehingga RS tidak terlalu penuh dan membuat para pejuang kesehatan menjadi kerepotan dan kelelahan.
    ---
    Pesan berantai poin 6: Jangan stres dan panik. Karena, jika stres dan panik, maka antibodinya akan lambat berproduksi. Dengan itulah kita mudah terserang. Apalagi, stres itu hanya membuat psikosomatik (kondisi jiwa yang tersugesti), lalu membuat tubuh lemah.
    Revisi dari Indro: Jangan stres dan panik. Karena, jika stres dan panik, memicu reaksi psikosomatis yang berakibat pada menurunnya produksi antibodi dari dalam tubuh.
    ---
    Pesan berantai poin 7: Virus yang dikatakan bertahan hidup di tempat basah lebih dari 9 jam itu hoaks. Di panci, di kardus, di udara, di gagang pintu, di aluminium, dan lainnya, itu hoaks. Sekali lagi, virus tidak dapat hidup di benda-benda mati. Jika dicurigai ada droplet di sana, maka cukup dibersihkan saja.
    Revisi dari Indro: Virus tidak bisa bertahan hidup di tempat kering, terang, dan panas. Jika dicurigai ada droplet di perabot rumah, maka cukup dibersihkan saja dengan disinfektan atau cairan pembersih.
    ---
    Pesan berantai poin 8: Pasien yang terinfeksi berpeluang sembuh seperti orang yang kena flu karena status positif itu sementara.
    Revisi dari Indro: Pasien yang terinfeksi berpeluang sembuh dalam 14 hari jika rajin mengkonsumsi vitamin E dan C dan cukup istirahat.
    ---
    Pesan berantai poin 9: Mantan pasien positif atau yang sudah sembuh berpeluang kecil untuk terinfeksi kembali. Asumsinya, di dalam tubuh kita ini, ada yang namanya sel memori. Jika dia terinfeksi kembali, maka masa inkubasinya tidak selama waktu awal terifeksi, hanya 24 jam (1 hari). Karena sel memorinya akan menampilkan data bawah orang ini pernah terinfeksi. Sehingga, sehari kena, besok atau paling lambat dua hari sudah sembuh lagi.
    Revisi dari Indro: Manusia yang sudah pernah terinfeksi dan sembuh masih bisa terkena infeksi ulangan dari lapang, tapi sel memory tubuh akan mengeluarkan antibody lebih cepat (bukan 7 hari seperti infeksi pertama), tapi langsung keluar dalam waktu 1 hari (24 jam).
    Penjelasan dari Indro Cahyono juga dimuat di situs media Detik.com. Menurut Indro, terdapat sebagian informasi yang benar dalam pesan berantai itu. "Tapi banyak fakta yang sengaja dipelintir sehingga akan memicu polemik," kata Indro.
    Dilansir dari Suara.com, Indro Cahyono juga menyatakan bahwa bukan dia yang membuat dan menyebarkan pesan berantai tersebut. "Itu hoaks. Pesan inis eolah-olah memberikan pesan positif padahal isinya sangat menyesatkan," ujar Indro.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai yang berisi penjelasan ilmiah terkait Covid-19 di atas bukan berasal dari dokter hewan dan ahli virus Mohammad Indro Cahyono. Indro telah memastikan bahwa pembuat pesan yang disebarkan di WhatsApp itu telah mencatut namanya. Namun, ia juga telah membuat revisi terhadap poin-poin yang tercantum dalam pesan berantai tersebut.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini